• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

E. Analisis Dalam Kondisi

5. Level Stabilitas dan Rentang

Level stabilitas dapat dikatakan stabil atau tidak stabil ketika sesuai dengan perhitungan kecendrungan stabilitas yang telah dilakukan sebelumnya. Sedangkan rentang dapat ditentukan dari banyaknya data terendah dan data tertinggi.

6. Level perubahan

Level perubahan akan menunjukkan seberapa besar terjadinya perubahan data dari setiap kondisi. Cara menentukan level perubahan yaitu dengan menghitung selisih antara data hari pertama dengan data dari hari terakhir dari masing-masing kondisi kemudian tentukan levelnya menaik atau menurun dan berikan tanda plus (+) jika membaik, tanda minus (-) jika memburuk dan tanda sama dengan (=) jika tidak terjadi perubahan.

Analisis visual antar kondisi memiliki lima komponen yang harus diperhatikan oleh peneliti yang akan dijabarkan sebagai berikut63:

1. Jumlah variabel yang diubah

Pada analisis visual antar kondisi ini hal pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi jumlah variabel yang akan diubah dalam penelitian. Misalnya dalam penelitian ini jumlah variabel yang diubah adalah satu yaitu kemampuan berhitung permulaan pada anak.

2. Perubahan kecenderungan dan efeknya

Setiap kecenderungan yang sebelumnya telah dibuat dari masing-masing kondisi (baseline dan intervensi) di bandingkan hasilnya dan diidentifikasi bagaimana efeknya.

3. Perubahan stabilitas

Sama seperti perubahan kecendrungan, stabilitas dari masing-masing kondisi yang sebelumnya telah didapatkan dibandingkan hasilnya.

4. Perubahan level

63 Ibid.

48

Dalam melakukan perubahan level terdapat tiga langkah yang harus dilakukan yaitu:

a. Menentukan berapa besar skor pertama dan terakhir dalam satu kondisi.

b. Mengurangi data yang berjumlah besar dengan data yang berjumlah kecil.

c. Menentukan kearah mana selisih berjalan. Apakah selisih menujukkan kea rah yang baik atau buruk sesuai dengan tujuan dari intervensi dan pengajarannya.

5. Data overlap

Dalam menentukan adanya data overlap dalam kondisi baseline dan intervensi juga memerlukan tiga langkah yang dijabarkan seperti dibawah ini:

a. Melihat dengan seksama data atas dan data bawah pada kondisi baseline 1 ( )

b. Menghitung berapa banyak data skor dari intervensi (B) yang berada didalam rentang kondisi baseline 2 ( ).

c. Banyak data yang didapat dari langkah nomor 2 dibagi dengan banyaknya data skor dalam kondisi intervensi (B) lalu dikalikan 100.

Hasilnya akan menentukan bagaimana pengaruh intervensi kepada target behavior. Semakin kecil presentase dari data overlap maka semakin baik pengaruh intervensi untuk targer behavior.

F. Instrumen penelitian 1. Instrumen Penelitian

Sugiono (2009: 148) menjelaskan bahwa instrumen adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati, secara spesifik semau fenomena ini disebut variable penelitian.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa tes lisan mengenai kemampuan anak dalam menghafal doa sehari-hari. Adapaun tahapan dari penyusuanan isntrumen, yaitu sebagai berikut:

49 a. Penyusun dan penilaian soal tes

Penyusunan butir soal tes berdasarkan hafalan yang dimiliki subjek ketika menguji di TK YASQIN dengan pertimbangan asesmen sebelumnya. Tes yang digunkan yaitu tes lisan hafal do‟sehari-hari dengan materi do‟a masuk mesjid, do‟a keluar mesjid, do‟a naik kendaraan, do‟a masuk kamar mandi, do‟a keluar kamar mandi dan do‟a bercermin..

1) Do‟a masuk masjid, do‟a keluar masjid, do‟a naik kendaraan Tes lisan ini berfungsi untuk mengukur kemampuan menghafal do‟a masuk masjid, do‟a keluar masjid dan do‟a naik kendaraan dengan kriteria, kelancaran hafalan sesuai dengan kaidaah Makhorijul huruf yang benar.

Table 3.2

Kriteria Penilaian Kemampuan Berhitung Permulaan

Indikator Deskriptor Skala Penilaian

1. Do‟a masuk

50

do‟a bercermin dengan bantuan

51

do‟a bercermin tanpa bantuan

3 = Dua deskriptor yang nampak

4 = Semua deskriptor Nampak

Instrumen di atas diisi dengan memberi tanda checklist (√) pada kolom penilaian dengan rentang 1 sampai 4. Berikut ini rentang penilaian untuk setiap butir soal.

Skor 4 : Jika anak mampu menghafal doa dengan lancar disertai dengan Makhorijul huruf yang benar.

Skor 3 : Jika anak mampu menghafal doa namun kurang lancar Skor 2. :Jika anak mampu menghafal doa dengan sedikit bantuan Skor 1 : Jika anak mampu menghafal doa dengan bantuan penuh.

Penilaian secara keseluruhan yang di gunakan yaitu berupa presentase ( percentages correction) dengan ketentuan jika materi tes benar-benar mewakili bahan yang di ajarkan maka nilai yang diperoleh anak menunjukkan besarnya persentase terhadap penguasaan materi tersebut. Berikut ini adalah rumusan penilaian :

Nilai anak = jumlah skor yang diperoleh x 100 Jumlah soal

Untuk kriteria penafsiran nilai yang dicapai anak yaitu sebagai berikut:

91-100 : Sangat baik, anak hafal dengan lancar disertai kaidah Makhorijul huruf yang benar

75-90 : Baik, anak hafal dengan lancar namun kurang memakai Makhorijul huruf

61-75 : Cukup, anak sudah hafal namun kurang lancar

51-60 : Kurang, anak belum hafal dan masih memerlukan sedikit bantuan

≤ 50 : Sangat kurang, anak belum hafal dan masih memerlukan bantuan penuh.

52

53 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Penelitian ini dilaksanakan secara tatap muka yang dilaksanakan pada tanggal 24 maret 2021 dengan sabjek penelitian yang berjumlah dua orang anak usia berumur 5 dan 6 tahun yang beum menghafal do‟a sehari-hari dengan baik. Pelaksanaan penelitian tersebut terdiri atas tiga kondisi yaitu kondisi baseline 1 ( ), intervensi (B), dan baseline 2 ( ). Adapun pelaksanaan penelitian secara keseluruhan dibagi menjadi sembilan sesi. Pada kondisi baseline 1, baseline 2, dan intervensi akan dilakukan menjadi 3 sesi.

Data dari penelitian ini adalah presentase skor dari instrument kemampuan menghafal do‟a sehari-hari yang diberikan kepada subjek penelitian disetiap sesi indikator kemampuan yang akan digunakan pada penelitian ini ada enam indikator. Yaitu kemampuan anak dalam menghafal do‟a sehari-hari yang didalamnya meliputi do‟a masuk masjid, do‟a keluar masjid, do‟a, masuk kamar mandi, do‟a keluar kamar mandi, do‟a naik kendaraan, do‟a bercermin.

Didalam setiap kondisi, masing-masing sesi akan mewakili setiap indikator tersebut. Adapun indikator tersebut disesuaikan dengan instrument kemampuan menghafal do‟a sehari-hari. Berikut adalah data dari hasil penelitian pada setiap kondisi:

1. Kondisi Baseline 1 ( )

a) Kemampuan menghafal do’a permulaan pada kondisi baseline 1 Kondisi baseline 1 ( ) merupakan tahap awal dalam pengambilan data. Dalam kondisi ini anak akan berada didalam keadaan natural yang berfungsi untuk mengidentifikasi presentase kemampuan menghafal do‟a yang dimiliki anak sebelum diberikan permainan Flashcard. Pada kondisi tersebut ada 3 sesi. Materi yang akan diberikan adalah materi-materi yang telah disesuaikan dengan instrument kemampuan menghafal do‟a sehari-hari yang telah dibuat

sesuai dengan indikator

53

menghafal do‟a sehari-hari, yaitu indikator do‟a masuk masjid dan keluar masjid untuk sesi 1, indikator do‟a keluar kamar mandi dan masuk kamar mandi untuk sesi 2, dan indikator do‟a naik kendaraan dan bercermin untuk sesi 3.

Tabel 4.1

Skor kemampuan menghafal do’a sehari-hari pada kondisi baseline 1 ( )

S

Nilai 1 = Tidak ada deskriptor yang nampak Nilai 2 = Satu deskriptor yang nampak Nilai 3 = Dua deskriptor yang nampak Nilai 4 = Semua deskriptor nampak

% Presentase skor subjek

Berdasarkan tabel 4.1 diatas merpakan hasil dari tes kemampuan menghafal do‟a sehari-hari permulaan menunjukkan bahwa subjek mempunyai rata-rata presentase masing-masing 1,18% dan 13,09%.

Dapat dilihat berdasarkan klasifikasi interprestasi, bahwa presentase yang dimiliki NP berada dalam kategori sangat kurang, sama dengan

54

yang dimiliki sabjek MS. Berikut ini pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari permulaan dalam kondisi baseline 1 ( ) a. Pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari kondisi

Baseline ( ) sesi 1

Pada sesi 1 ini peneliti memeberikan materi kegiatan yang diambil dari indikator menghafal do‟a sehari-hari yang telah diberikan kepada anak, dan menyanyakan kepada anak do‟a masuk masjid,do‟a keluar masjid, lalu dapat diukur ketika anak belum mampu menghafal do‟a dan masih dalam bantuan orang lain.

Gambar 4.1 kamampuan menghafal do’a sehari-hari NP kondisi Baseline 1 ( ) Sesi 1

Pada kondisi baseline 1 ( ) sesi 1 ini NP memperlihatkan kemampuan yang kurang baik. NP dapat menghafal do‟a masuk masjid,keluar masjid, melalui bantuan oang lain, NP juga terlihat dapat mengikuti hafalan do‟a yang dicontohkannya. Namun NP kadang terlihat sedikit kebingungan ketika sedang lupa dengan do‟anya.

Gambar 4.2 kemampuan menghafal do’a sehari-hari MS kondisi Baseline 1 ( ) Sesi 1

55

Pada kondisi baseline 1 ( ) sesi 1 ini, meskipun beberapa kali MS terlihat bingung tetapi MS tetap berusaha untuk mengulang do‟a dan memperbaikinya dengan benar yang sesuai dengan ingatannya. Namun seringkali MS meminta bantuan untuk mengingat kembali hafalan do‟a yang ia lupa.

b. Pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari kondisi Baseline 1 ( ) Sesi 2

Indikator pada sesi ini adalah menaanyakan do‟a keluar kamar mandi, dan do‟a naik kendaraan, lalu NP melihat dan sesekali mengucapakan do‟a yang dicontohkan, ketika NP sudah terlihat bisa untuk menghafalkannya sendiri lalu NP diberi kesempatan untuk menghafalkan do‟a tanpa bantuan,tetapi NP sering lupa ketika sedang tidak fokus dengan hafalannya. Pada sesi ini, NP dapat langsung megerti ketika diminta untuk menghafal do‟a sehari-hari sesuai yang diperintahkan sedangkan MS masih terlihat agak kebingungan dan tidak mengerti perintah yang diberikan, akan tetapi tetap dapat menghafal beberapa do‟a yang diminta walau belum semua ia hafal dengan do‟a yang diberikan.

c. Pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari kondisi Baseline 1 ( ) sesi 3

Indikator yang digunakan pada sesi ini adalah menghafal do‟a masuk kamar mandi,dan do‟a bercemin disini NP diminta untuk menghafal do‟anya namun ada beberapa kata yang salah dan tidak sesuai dengan susunan do‟anya, namun disini dapat diukur kemampuan menghafal yang diketahui oleh NP

b) Hasil Pengamatan Subjek Pada Kondisi Baseline 1

Hasil pengamatan dari subjek pertama yaitu MS adalah MS memiliki kemampuan menghafal yang lebih baik dari NP karena MS yang sudah TK B dan NP yang masih berada di TK A.

56

Meskipun ada beberapa kondisi ketika MS tidak mengerti perintah yang diminta, namun MS lambat laun akan mengerti apa yang akan dikerjakan. Secara sikap, MS cenderung lebih lambat menjawab dikarenakan terlihat dia akan memikirkan jawaban yang tepat untuk diberikan dan cenderung terlihat takut salah. Akan tetapi setelah ditunggu dan ditunjuk untuk menjawab MS tidak lagi ragu untuk menjawab.

Sedangkan subjek yang kedua yaitu NP, sering kali terlihat tidak fokus dan kurang memahami apa yang diminta untuk menjawab hafalan do‟anya. Meskipun belum bisa menghafal do‟a sehari-hari terkadang NP sering mengikuti ketika MS sedang ditanya hafalan do‟a sehari-hari. Secara sikap, sedikit agak berbeda dengan MS, NP lebih suka langsung menjawab meskipun terkadang dapat dikatakan jawaban yang asal. Tapi kepercayaan dirinya dalam menjawab cukup bagus dan ketika dibenarkan ia langsung mengulang jawabannya dengan benar seperti ketika dia sedang menghafal do‟a keluar kamar mandi, dan ketika NP salah dalam bacaannya lalu diberi tahu dan dia akan mengulang bacaannya sesuai yang telah di beritahu.

2. Kondisi Intervensi (B)

a) Kemampuan menghafal do’a sehari-hari permulaan kondisi Intervensi (B)

Kondisi intervensi ini merupakan tahap selanjutnya setelah kondisi baseline 1. Pada kondisi ini subjek akan diberikan intervensi untuk mencapai tujuan tertentu. Intervensi yang diberikan pada kondisi ini adalah permainan Flashcard yang telah dirancang kegiatannya melalui instrument kemampuan menghafal do‟a sehari-hari yang dibagi menjadi 3 sesi. Materi didalam intervensi yang akan diberikan adalah materi-materi yang telah disesuaikan dengan instrument kemampuan menghafal do‟a sehari-hari yang telah dibagi disetiap sesinya dengan indikator

57

Berikut data presentase skor kemampuan mengahafal do‟a sehari-hari dari subjek NP dan MS pada kondisi Intervensi (B) yang akan disajikan pada tabel berikut ini:

Tabel 4.2

Skor kemampuan menghafal do’a sehari-hari pada kondisi Intervensi (B)

S

% presentase skor subjek

Berdasarksn tabel 4.2 diatas dapat dilihat NP dan MS mendapatkan rata-rata presentase yang berbeda pada kondisi intervensi.

NP mendapatkan 43,7% dan MS mendapatkan 41,6 %. Dimana didalam klasifikasi interprestasi analisis deskriptif pada Tabel 3.4 dapat dikatakan bahwa NP memiliki klasifikasi yang sangat kurang sedangkan MS memiliki klasifikasi yang sama dengan NP. Berikut ini adalah pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari permulaan pada kondisi intervensi:

a. Pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari permulaan kondisi Intervensi (B) sesi 1

58

Pada sesi 1 ini peneliti memberikan materi kegiatan yang diambil dari indikator mengahafal do‟a naik kendaraan, dan do‟a masuk kamar mandi. Indikator menghafal do‟a sehari-hari dapat diukur dengan melihat kemampuan anak dalam menyusun kalimat kata perkata yang ada di media Flashcard

Gambar 4.6

kemampuan menghafal do’a sehari-hari NP kondisi Intervensi (B) Sesi 1

Pada sesi ini NP memperlihatkan kemampuan yang sangat baik.

Diatas sudah terdapat media yang telah disusunan dari kata perkata dimana NP harus menyusun untuk menjadi satu kalimat sesuai dengan susunan do‟a yang benar dan sudah dihafalkannya

59 Gambar 4.7

Kemampuan menghafal do’a permulaan MS kondisi Intervensi (B) sesi 1

Pada sesi ini MS mengikuti perintah dengan baik. Untuk menghafal do‟a MS sering kali kebalik-balik dalam mengucapkan do‟anya tetapi dia selalu berusaha untuk mengingat kembali apa yang sudah diajarkannya.

b. Pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari permulaan kondisi Intervensi (B) sesi 2

Pada sesi kedua ini materi yang digunakan diambil dari indikator menghafal doa‟a bercermin, dan do‟a keluar kamar mandi. Indikator mnghafal do‟a sehari-hari dapat diukur dari kemampuan anak menghafal dan menyusun kalimat yang sesuai dengan perintahnya.

Pada sesi ini NP dan MS memperlihatkan keampuan yang cukup baik. Ketika diminta untuk menghafal do‟a keluar kamar mandi, dan do‟a bercermin, akan tetapi MS sedikit agak kebingungan ketika ia sedang tidak fokus dengan hafalannya, lalu MS mencoba terus untuk mengulang hafalannya namun pada akhirnya MS meminta bantuan kepada orang lain untuk membantu mengingatkan hafalannya,setelah diberitahu baru ia ingat dan mampu menyelesaikan hafalnnya

60

dengan baik dan lancar. Begitu juga dengan NP ketika ia sedang tidak fokus ia lupa akan hafalan do‟anya dan dia terus berusaha untuk mengingat kembali hafalannya.

c. Pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari permulaan kondisi Intervensi (B) sesi 3

Pada sesi ini indikator yang digunakan adalah menghafal do‟a masuk masjid, do‟a keluar masjid. Indikator menghafal do‟a sehari-hari dapat diukur dengan meminta anak untuk menyusun kata perkata do‟a yang ada dimedia Flashcard agar menjadi satu kalimat.

Pada sesi ini NP terlihat sudah cukup mengerti apa yang diperintah untuk menghafal do‟a dan menyusun kalimat dengan baik dan penuh kesabaran. NP pun ketika diminta untuk menghafal dia tidak ragu lagi ketika salah mengucapkan do‟a lalu ia langsung membenarkan dengan cepat dan tepat kalimat yang salah. Begitu juga dengan MS ia sudah mulai fokus ketika sedang belajar menghafal do‟a dan ketika ia salah ia langsung membenarkannya sendiri tanpa bantuan orang lain.

b) Hasil Pengamatan Subjek Kondisi Intervensi (B)

Hasil pengamatan pada kondisi intervensi untuk subjek pertama yaitu NP adalah, NP terlihat dapat menghafal dengan baik dan benar sesuai dengan kalimat yang ada pada media Flashcard, permainan yang diberikan dapat membantu NP untuk dapat menghafal do‟a dengan mudah. Ada beberapa hal yang awalnya NP kurang hafal dalam mngucapkan kalimat do‟a dan terlihat sedikit agak kebingungan, namun terkadang MS sering membantu untung mengingat kalimat kurang tepat yang diucapkan oleh NP.

Hasil pengamatan subjek kedua yaitu MS adalah, MS sudah mulai memahami hafalan do‟a yang diminta ketika ia salah ia tidak lagi

61

meminta bantuan kapada oranglain ia lebih sering usaha untuk membenarkannya senidiri.

3. Kondisi Baseline 2 ( )

a.) Kemampuan menghafal do’a sehari-hari permulaan kondisi baseline 2 ( )

Kondisi baseline 2 ( ) merupakan kondisi terakhir yang akan diteliti pada penelitian single subject research dengan desain A-B-A.

Kondisi ini dilakukan setelah intervensi diberikan dan dilakukan dngan prosedur yang sama dengan kondisi baseline 1. Sama seperti kondisi-kondisi sebelumnya, Pada kondisi baseline 2 ( ) ini akan diadakan 3 sesi menggunakan materi dari indikator dalam instrument kemampuan menghafal do‟a sehari-hari permulaan. Indikator menghafal do‟a sehari-hari, indikator menyusun media Flashcard yang sesuai dengan yang telah dibuat untuk di sesi 2, dan idnikator menghafal do‟a tanpa bantuan oranglain dan menggunakan media Flashcard untuk sesi 3. Berikut ini adalah data presentase subjek yang didapatkan pada kondisi baseline 2 ( ):

Tabel 4.3

Skor kemampuan menghafal do’a sehari-hari permulaan pada kondisi baseline 2 ( )

S

Anak dapat menghafal Do‟a naik kendaraan

1 1

62 3 Anak dapat menghafal Do‟a naik

keluar masid

1 12,5 2 12,5

Anak dapat menghafal Do‟a masuk kamar mandi

2 1

Keterangan:

% Presentase skor subjek

: Berdasarkan Tabel 4.3 diatas terlihat ada penurunan presentase untuk data milik NP dan MS dikondis terakhir yaitu kondisi baseline 2 ( ). Jika melihat dari tabel klasifikasi interprestasi analisis deskriptif NP memiliki kemampuan yang kurang dengan rata-rata 12,5 % begitu juga dengan MS yang memiliki rata-rata dengan NP.

Berikut pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari kondisi baseline 2 ( )

a. Pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari kondisi baseline 2 ( ) sesi 1

Pada kondisi baseline 2 ( ) sesi 1 digunakan materi dari indikator mengenal do‟a bercermin, dan do‟a masuk masjid melalui media Flashcard. Indikator menghafal do‟a sehari-hari anak diminta untuk menyusun sekaligus menghafal do‟a tanpa terbaata-bata dan tanpa bantuan orang lain sesuai dengan yang telah diberikan. Dapat dilihat kemampuan anak dalam menghafal dengan baik

63

Gambar 4.11 kemampuan menghafal do’a sehari-hari NP dan MS kondisi baseline 2 ( ) sesi 1

Pada sesi ini baik NP dan MS masih berusaha memperlihatkan kemampuan yang baik. Ketika NP sedang menghafal do‟a dan menyusun media Flashcard terlihat ia sangat berusaha untuk menyusun sesuai dengan urutan kata perkatnya,namun ia sesekali lupa dengan urutan kata perkata yang ada di media dan terjadi ketidak fokusan terhadap hafalannya akan tetapi MS seketika membantu NP untuk mengingat hafalan yang telah mereka hafalin.

Sedangkan MS ketika sedang menyusun media Flashcard dia pun sering lupa sama dengan halnya seperti NP, namun ia tetap beruaha untuk mengingat kembali hafalan do‟a yang telah dipelajarinya, dan menyusun kata perkatanya sesuai dengan urutan kalimat do‟a dengan baik dan benar tanpa bantuan oranglain.

b. Pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari kondisi baseline 2 ( ) sesi 2

Pada sesi ini indikator yang digunakan adalah menyusun sebuah kalimat yang beisi do‟a keluar kamar mandi, dan do‟a naik kendaraan yang telah dipelajarinya. Indikator menghafal do‟a sehari-hari dapat diukur dari kemampuan anak dalam menyusun

64

kalimat do‟a yang ada di media Flashcard yang telah anak pilih.

Disini terlihat bagaimana anak mampu menyusun kalimat do‟a sesuai dengan urutannya tanpa bantuan oranglain,dan ada beberapa potongan kalimat yang ia lupa namun ia tetap berusaha untuk menyelesaikannya dengan tenang dan benar.

Pada sesi ini NP sudah dapat terlihat perkembangan kemampuan menghafal doanya dengan baik dan fokus sesuai dengan apa yang diminta, contohnya ketika NP menghafal do‟a naik kendaraan ia terlihat sangat tenang dan fokus dalam menghafalkan doa yang diberikan.

Sedangkan untuk MS tidak berbeda jauh dengan NP.

Meskipun ada beberapa do‟a yang masih sedikit agak bingung tetapi MS terus berusha untuk mengingat kembali.

c. Pembahasan kemampuan menghafal do‟a sehari-hari kondisi baseline 2 ( ) sesi 3

Materi yang digunakan untuk sesi terakhir ini adalah indikator menyusun kata perkata agar menjadi satu kalimat yang benar, dan mengetahui konsep salah dan benar. Indikator menghafal do‟a dan menyusun kata perkata dan sesuai dengan kriteria.

Pada sesi ini NP sudah dapat memperlihatkan kemajuan menghafal do‟a dengan cukup baik. NP dapat menysun kalimat do‟a sesui dengan gambar yang ada. Namun ketika diperlihatkan antara do‟a masuk kamar mandi dan do‟a keluar kamar mandi masih agak sedikit terbalik jika tidak diperlihatkan gambarnya. NP dapat dikatakan sudah mampu untuk menyusun kalimat walaupun masih sedikit agak kurang tapat dengan urutannya.

b.) Hasil Pengamatan Subjek Kondisi Baseline 2 ( )

Hasil pengamatan subjek pertama yaitu NP adalah NP terlihat memiliki kemampuan yang meningkat dibeberapa kondisi. NP dapat

65

menghafal enam do‟a dengan baik dan tidak lagi bingung untuk menyusun kalimat yang ada dimedia Flashcard. NP juga sudah dapat memahami perintah-perintah yang diberikan karna perintahnya kurang lebih sama dengan kondisi laiinya dengan tujuan agar dapat mengulang-ulang dan subjek dapat belajar dari kesalahan sebelumnya.

Sedangkan hasil pengamatan subjek kedua yaitu MS juga sama, yaitu terkihat meningkat. MS yang pada awalnya hanya dapat menghafal tiga do‟a namun setelah beberapa kali mengulang ia mampu mengingat hafalanya sesuai dengan urutan yang baik.

4. Rekapitulasi Perolehan Data

Rekapitulasi perolehan data presentase kemampuan menghafal do‟a sehari-hari dari masing-masing subjek dari kondisi baseline 1, kondisi intervensi dan kondisi baseline 2 memperlihatkan bahwa dari setiap sesi baik NP ataupun MS sama-sama memiliki rata-rata yang beberapa meningkat disetiap kondisinya. Berikut rekapitulasi perolehan data dari kedua subjek:

Tabel 4.4

Rekapitulasi Skor Kemampuan Menghafal Do’a Sehari-hari NP dan MS Dalam Kondisi Baseline 1 ( ),Kondisi Intervensi, dan Kondisi Baseline 2 ( )

S

66

Secara visual presentase skor kemampuan menghafal do‟a sehari-hari

Secara visual presentase skor kemampuan menghafal do‟a sehari-hari