• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Teknik Analisis Data

Data kemampuan menghafal do‟a sehari-hari permulaan didapatkan melalui skor pada masing-masing instrumen berdasarkan kriteria penilaian yang telah dibuat. Kemudian skor yang diperoleh akan diubah menjadi bentuk presentase dengan rumus sebagai berikut:

Adapun pada penelitian eksperimen subjek tunggal ini akan menggunakan teknik statistik deskriptif sederhana dengan metode analisis visual untuk melakukan analisis data60. Analisis visual dalam penelitian desain subjek tunggal dibagi menjadi dua yaitu analisis visual dalam kondisi

60 Sunanto, Takeuchi, And Nakata, Pengantar Penelitian Dengan Subjek Tunggal.

45

dan analisis visual antar kondisi. Analisis visual dalam kondisi maksudnya adalah menganalisis perubahan data dalam satu kondisi saja, yaitu hanya dalam kondisi baseline atau hanya kondisi intervensi. Sedangkan yang dimaksud analisis visual antar kondisi adalah menganalisis perubahan data pada dua kondisi61.

Adapun dalam melakukan analisis visual dalam kondisi terdapat enam komponen yang harus diperhatikan peneliti yaitu sebagai berikut62:

1. Panjang kondisi

Panjangnya kondisi didalam analisis visual dapat dilihat dari banyaknya skor didalam setiap kondisi. Banyaknya data yang harus ada tergantung pada masalah penelitian dan intervensi yang diberikan. Secara umum, kondisi baseline menggunakan tiga sampai lima data skor.

Meskipun demikian, didalam pengukuran tidak terfokus pada banyaknya data skor melainkan lebih terfokus kepada kestabilan data dan level yang ingin dicapai.

Sedangkan dalam kondisi intervensi, panjangnya kondisi ditentukan oleh jenis intervensi yang diberikan. Dampak intervensi kepada subjek juga berpengaruh pada panjangnya kondisi intervensi dikarnakan ketika intervensi memiliki dampak buruk pada subjek maka diperlukan kondisi intervensi yang lebih panjang. Tidak ada ketentuan untuk menentukan panjang pendeknya kondisi. Meskipun demikian, penetapannya harus dipertimbangkan secara teoritis dan juga praktis.

2. Estimasi kecendrungan arah

Data kecendrungan arah pada suatu grafik sangat diperlukan untuk melihat gambaran perubahan perilaku subjek yang sedang diteliti.

Terdapat tiga macam kecendrungan arah grafik (trend) yaitu meningkat, mendatar dan menurun yang masing-masing memilki makna sesuai dengan tujuan intervensinya.

61 Ibid.

62 Ibid.

46

Terdapat dua cara untuk menentukan kecendrungan arah grafik (trend) yaitu metode freehand dan metode split-middle. Metode freehand yaitu mengamati data skor secara langsung dalam suatu kondisi dan menarik garis lurus sehingga data skor terbagi menjadi dua bagian.

Sedangkan metode split-middle adalah menentukan kecendrungan arah grafik berdasarkan median data skor nilai ordinatnya. Metode split-middle ini dinilai lebih reliable sehingga lebih disarankan untuk digunakan.

3. Kecendrungan stabilitas

Dalam menentukan kecendrungan tingkat stabilitas biasanya digunakan presentase penyimpangan dari mean (sebanyak 5,10,12, dan 15%). Presentase penyimpangan mean yang digunakan untuk menghitung tingkat stabilitas yaitu menggunakan presentase kecil 10% jika data yang mengelompok ada dibagian atas dan menggunakan presentase besar 15%

jika data yang mengelompok berada di tengah ataupun dibawah. Berikut ini adalah contoh cara menentukan kecendrungan stabilitas dengan menggunakan presentas 15%:

a. Menentukan rentang stabilitas dengan mengalihkan skor tinggi dan kriteria stabilitas.

b. Menghitung mean level (jumlah data dibagi banyaknya data).

c. Menentukan batas atas dengan cara: mean level + setengah dari rentang stabilitas.

d. Menghitung presentase stabilitas data skor pada kondisi baseline 1( ) dalam rentang stabilitas dengan cara membagi banyaknya data skor dalam rentang dengan data skor. Jika presentase stabilitasnya sebesar 85%-90% maka data dapat dikatakan stabil. Sedangkan jika presentase stabilitasnya dibawah 85% maka dapat dikatakan tidak stabil.

4. Jejak data

Jejak data ditentukan sama dengan kecendrungan arah yang telah dibuat sebelumnya akan tetapi lebih detail perincian waktunya seperti

47

waktu terjadinya peningkatan, penurunan ataupun terjadinya keadaan mendatar.

5. Level stabilitas dan rentang

Level stabilitas dapat dikatakan stabil atau tidak stabil ketika sesuai dengan perhitungan kecendrungan stabilitas yang telah dilakukan sebelumnya. Sedangkan rentang dapat ditentukan dari banyaknya data terendah dan data tertinggi.

6. Level perubahan

Level perubahan akan menunjukkan seberapa besar terjadinya perubahan data dari setiap kondisi. Cara menentukan level perubahan yaitu dengan menghitung selisih antara data hari pertama dengan data dari hari terakhir dari masing-masing kondisi kemudian tentukan levelnya menaik atau menurun dan berikan tanda plus (+) jika membaik, tanda minus (-) jika memburuk dan tanda sama dengan (=) jika tidak terjadi perubahan.

Analisis visual antar kondisi memiliki lima komponen yang harus diperhatikan oleh peneliti yang akan dijabarkan sebagai berikut63:

1. Jumlah variabel yang diubah

Pada analisis visual antar kondisi ini hal pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi jumlah variabel yang akan diubah dalam penelitian. Misalnya dalam penelitian ini jumlah variabel yang diubah adalah satu yaitu kemampuan berhitung permulaan pada anak.

2. Perubahan kecenderungan dan efeknya

Setiap kecenderungan yang sebelumnya telah dibuat dari masing-masing kondisi (baseline dan intervensi) di bandingkan hasilnya dan diidentifikasi bagaimana efeknya.

3. Perubahan stabilitas

Sama seperti perubahan kecendrungan, stabilitas dari masing-masing kondisi yang sebelumnya telah didapatkan dibandingkan hasilnya.

4. Perubahan level

63 Ibid.

48

Dalam melakukan perubahan level terdapat tiga langkah yang harus dilakukan yaitu:

a. Menentukan berapa besar skor pertama dan terakhir dalam satu kondisi.

b. Mengurangi data yang berjumlah besar dengan data yang berjumlah kecil.

c. Menentukan kearah mana selisih berjalan. Apakah selisih menujukkan kea rah yang baik atau buruk sesuai dengan tujuan dari intervensi dan pengajarannya.

5. Data overlap

Dalam menentukan adanya data overlap dalam kondisi baseline dan intervensi juga memerlukan tiga langkah yang dijabarkan seperti dibawah ini:

a. Melihat dengan seksama data atas dan data bawah pada kondisi baseline 1 ( )

b. Menghitung berapa banyak data skor dari intervensi (B) yang berada didalam rentang kondisi baseline 2 ( ).

c. Banyak data yang didapat dari langkah nomor 2 dibagi dengan banyaknya data skor dalam kondisi intervensi (B) lalu dikalikan 100.

Hasilnya akan menentukan bagaimana pengaruh intervensi kepada target behavior. Semakin kecil presentase dari data overlap maka semakin baik pengaruh intervensi untuk targer behavior.

F. Instrumen penelitian