HASIL DAN PEMBAHASAN
Lingkungan akademik
Lingkungan akademik berpengaruh tidak signifikan terhadap kepastian penyelesaian studi (nilai signifikansi 0.527 > 0.10). Lingkungan akademik mengukur hubungan mahasiswa penerima beasiswa dengan dosen, tenaga kependidikan, dan keikutserataan dalam kegiatan pengembangan keilmuan. Lingkungan akademik lebih berkaitan dengan perkuliahan, sedangkan kepastian penyelesaian studi tentang cara mahasiswa penerima beasiswa memenuhi ketersediaan dana untuk biaya kuliah. Hal tersebutlah yang membuat lingkungan akademik tidak berpengaruh terhadap kepastian penyelesaian studi. Aktivitas ekonomi mandiri yang dilakukan oleh mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos sebagian besar dilakukan di luar lingkungan kampus.
Lingkungan kemahasiswaan
Lingkungan kemahasiswaan berpengaruh tidak signifikan terhadap kepastian penyelesaian studi (nilai signifikansi 0.235 > 0.10). Alasan yang mendasarinya adalah karena lingkungan kemahasiswaan tidak berkontribusi dalam upaya mahasiswa penerima beasiswa menyiapkan ketersediaan dana untuk penyelesaian studi. Lingkungan kemahasiswaan yang ditandai dengan keterlibatan organisasi justru bisa menambah pengeluaran responden, misal untuk mobilitas mengikuti acara organisasi maupun iuran-iuran organisasi.
Hasil ini serupa dengan hasil penelitian Nurhayati (2011). Faktor yang mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Institut Pertanian Bogor adalah kecerdasan emosional dan kematangan social. Faktor usia, kegiatan kemahasiswaan, pendapatan keluarga, dan besar keluarga berpengaruh tidak signifikan.
65
Lingkungan asrama
Lingkungan asrama berpengaruh signifikan terhadap kepastian penyelesaian studi dengan nilai signifikansi 0.055 < 0.10. Dua hal yang mendasari lingkungan asrama berpengaruh terhadap kepastian penyelesaian studi yaitu lokasi asrama, dan interaksi di dalam asrama. Berdasarkan data deskriptif, lokasi asrama mahasiswa penerima Beastudi Etos berjarak kurang dari 1 km dari kampus. Jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki bisa memperkecil pengeluaran dana responden.
Interaksi remaja menurut Martin dan Stendler (1959) dalam Maryam terdapat tiga bentuk kelompok teman sebaya, yaitu : (1) bentuk good kid atau remaja kutu buku merupakan kelompok teman sebaya yang datang ke sekolah hanya untuk belajar tanpa melakukan kegiatan lain, (2) bentuk elite yaitu kelompok sebaya yang dipimpin dan dibimbing oleh orang dewasa. Kelompok ini biasanya senang melakukan kegiatan sekolah dan juga senang melakukan kegiatan di luar sekolah (3) bentuk gank yaitu remaja yang dibentuk dan dipimpin oleh remaja sendiri tidak suka beraktivitas yang berhubungan dengan sekolah atau melakukan aktivitas anti sosial.
Kehidupan responden di asrama menunjukkan interaksi bentuk elit. Kehidupan responden di asrama didampingi oleh pendamping asrama. Selain itu juga dipantau oleh korda yang rutin mengunjungi setiap satu pekan sekali. Pendamping dan korda merupakan orang dewasa yang bertugas membimbing mereka. Aktivitas yang dilakukan diarahkan menuju hal yang positif dalam rangka peningkatan kemampuan agama, akademik, pengembangan diri, dan sosial responden.
Aktivitas keagamaan yang dilakukan di asrama memberikan manfaat diantaranya : (1) menambah pengetahuan keagamaan; (2) membuat lebih rajin beribadah; (3) lebih menjaga hubungan baik dengan orang lan; (4) lebih menjaga diri dari perbuatan tidak bermanfaat. Peraturan-peraturan di asrama membuat mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos lebih disiplin dan bertanggung jawab.
Penerima Beastudi Etos memiliki beberapa kegiatan sosial yang berorientasi ke masyarakat. Aktivitas sosial yang dilakukan responden ada yang bersifat berkesinambungan, tapi ada juga yang hanya berupa satu kali kegiatan selesai. Kegiatan sosial berkesinambungan yang dikelola oleh mahasiswa penerima Beastudi Etos adalah Sekolah Desa Produktif. Sekolah Desa Produktif merupakan konsep desa binaan berbasis sekolah yang dikelola oleh mahasiswa penerima Beastudi Etos (sumber : wawancara dengan direktur Beastudi Indonesi).
Kegiatan sosial berupa satu kali kegiatan selesai yang dilakukan oleh mahasiswa penerima Beastudi Etos antara lain : (1) Festival Anak Sholeh; (3) Tebar Hewan Kurban; (3) Etos Expo. Festival Anak Sholeh merupakan acara perlombaan keagamaan untuk anak-anak tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), dan Sekolah Dasar (SD). Tebar Hewan Kurban adalah kegiatan kepanitian yang dibentuk oleh mahasiswa penerima Beastudi Etos untuk membagikan hewan kurban pada saat Idul Adha. Hewan kurban yang dibagikan berasal dari masyarakat melalui program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa. Etos
66
Expo adalah kegiatan try out (percobaan tes masuk) Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Etos Expo dilaksanakan bersamaan dengan seleksi penerimaan mahasiswa Beastudi Etos.
Pendampingan asrama berpengaruh signifikan terhadap efektivitas program beasiswa. Pendampingan asrama yang dilakukan kepada responden secara harian pada penelitian ini terbukti dirasakan bermanfaat oleh responden. Responden terlibat secara aktif pada proses pendampingan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Pendamping yang mampu menunjukkan sikap bersahabat, menunjukkan kesamaan dengan responden, dirasakan kemanfaatannya oleh responden, dan responsif menjadi faktor yang membuat responden merasa nyaman menjalani pendampingan.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prestasi akademik responden
Prestasi akademik dalam penelitian ini dilihat dari nilai indeks prestasi responden serta keterlibatan dan prestasi responden dalam kompetisi ilmiah. Hipotesis : prestasi akademik mahasiswa penerima beasiswa dipengaruhi oleh karakteristik individu (X1), pengelolaan beasiswa (X2), dan karakteristik sosial mahasiswa penerima beasiswa (X3).
Tabel 34 Faktor-Faktor yang berpengaruh terhadap prestasi akademik
No Sub peubah Koefisien Regresi α
1 Konstanta 4.446 0.224
2 Pendapatan -1.831E-7 0.368
3 Jumlah anggota keluarga 0.224 0.064*
4 Pekerjaan ayah 0.298 0.233
5 Pemenuhan kebutuhan primer -0.331 0.116
6 Motivasi untuk kuliah -0.159 0.637
7 Pengelolaan beasiswa 0.083 0.435
8 Lingkungan akademik 0.172 0.141
9 Lingkungan kemahasiswaan 0.105 0.556
10 Lingkungan asrama -0.095 0.742
Pendapatan
Pendapatan berpengaruh tidak signifikan dengan prestasi akademik karena nilai signifikansi yang dihasilkan 0.368 > 0.10. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Widayati (2009) yang menyatakan bahwa pendapatan tidak berhubungan dengan prestasi belajar. Pada penelitian ini, kondisi tersebut dapat
dipahami karena ketergantungan mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos terhadap dukungan dana dari orang tua sudah mulai berkurang. Sumber pendapatan mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos adalah dari beasiswa dan kegiatan ekonomi mandiri yang dilakukan.
67
Jumlah anggota keluarga
Jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap prestasi akademik. Hal tersebut ditandai dengan nilai signifikansi 0.064 < 0.10. Hasil penelitian ini menemukan bahwa rata-rata jumlah anggota keluarga reponden adalah enam orang.
Dugaan bahwa besar keluarga berpengaruh terhadap prestasi akademik adalah karena rasa tanggung jawab dalam diri responden terhadap masa depan keluarga. Rasa tanggung jawab tersebut membuat responden berusaha mencapai prestasi akademik yang baik, agar bisa lulus dengan nilai yang baik. Lulus dengan nilai yang baik akan membuka kesempatan yang lebih luas di dunia kerja. Dugaan ini didasarkan pada salah satu motivasi untuk kuliah pada diri responden adalah agar mendapatkan pekerjaan yang baik setelah lulus. Lepper et al (2005) menyatakan bahwa capaian prestasi akademik dipengaruhi oleh jenis motivasi, tingkat capaian prestasi akademik yang baik kemudian akan mampu membangkitkan motivasi kembali, dan begitu seterusnya. Siswa yang berprestasi akan menikmati proses belajar, merasa mampu untuk menghadapi tantangan, yang pada akhirnya akan mendapat nilai yang baik dan mendapatkan respon yang positif.
Pekerjaan ayah
Pekerjaan ayah berpengaruh tidak signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa penerima beasiswa. Hal itu ditunjukkan dengan nilai signifikansi 0.233 > 0.10. Pekerjaan ayah berhubungan dengan jumlah pendapatan yang akan didapatkan. Kemampuan mahasiswa penerima beasiswa untuk menjalankan kegiatan ekonomi mandiri yang mampu menghasilkan menjadi faktor berkurangnya ketergantungan kepada orang tua. Tempat tinggal yang terpisah dengan orang tua semakin menjauhkan ketergantungan kepada orang tua. Segala aktivitas belajar yang dilakukan lebih didominasi oleh kontrol diri responden.
Pemenuhan kebutuhan primer
Pemenuhan kebutuhan primer berpengaruh tidak signifikan terhadap prestasi akademik karena nilai signifikansi 0.116 > 0.10. Hasil ini bertolakbelakang dengan hasil penelitian Thoha (2006) yang menyatakan bahwa konsumsi protein berpengaruh nyata terhadap prestasi mahasiswa di bidang kemampuan verbal, kemampuan abstraksi, kemampuan kognitif, dan kemampuan keterampilan. Tempat tinggal yang terpisah dengan orang tua semakin menjauhkan ketergantungan kepada orang tua, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan primer. Segala aktivitas belajar yang dilakukan lebih didominasi oleh kontrol diri responden.
68
Motivasi untuk kuliah
Motivasi untuk kuliah berhubungan tidak signifikan dengan prestasi akademik responden (nilai signifikansi 0.637 > 0.10). Hal ini menjadi temuan yang menarik karena mayoritas mahasiswa penerima beasiswa menyatakan motivasi awal kuliah adalah ingin menuntut ilmu (85.4%). Jika motivasi adalah menuntut ilmu, maka prestasi akademik yang baik seharusnya menjadi orientasi utama. Tetapi karena mahasiswa penerima beasiswa membutuhkan dana untuk biaya kuliah, maka motivasi the adjustment-utilitarian function lebih kuat dibanding motivasi the knowledge function. Kondisi tersebut membuat mahasiswa penerima beasiswa mahasiswa penerima beasiswa membagi fokus belajar dengan bekerja mencari sumber pendapatan lain.
Pengelolaan beasiswa
Pengelolaan beasiswa berpengaruh tidak signifikan terhadap prestasi akademik, karena nilai signifikansi 0.435. Hipotesis penelitian ini, pengelolaan beasiswa dengan adanya pembinaan dan pendampingan berpengaruh terhadap prestasi akademik. Hasil uji menunjukkan hipotesis tersebut ditolak.
Beastudi Etos memberikan pembinaan pada empat domain yaitu agama, akademik, pengembangan diri, dan sosial. Dugaan penyebab pengelolaan beasiswa Beastudi Etos tidak berpengaruh signifikan kepada prestasi akademik responden adalah karena pembinaan yang dilakukan tidak fokus pada pencapaian prestasi akademik. Pembinaan Beastudi Etos dilakukan pada empat domain. Materi pembinaan yang diberikan setiap pekan berganti-ganti untuk memenuhi profil yang diharapkan tercapai dari pembinaan. Dugaan kedua, beasiswa tidak secara langsung berpengaruh terhadap prestasi mahasiswa. Menurut Winkel (1996), faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar siswa diantaranya adalah : (1) keadaan sosio ekonomis yang menunjuk pada kemampuan financial dan perlengkapan material yang dimiliki sisiwa, (2) perasaan senang dalam belajar.
Tabel 35 Jumlah dan persentase responden menurut manfaat pemberian dana beasiswa
No Manfaat pemberian dana beasiswa Jumlah (n)
Persentase (%)
1 Membuat jadi tidak minder 15 36.6
2
Menenangkan hati karena ada jaminan
biaya kuliah 22 53.7
3
Bisa membantu orang tua dengan
mengirimkan sebagian dana beasiswa 22 53.7 4
Memenuhi kebutuhan hidup selama
kuliah 40 97.6
5
Bisa membeli sarana penunjang kuliah
seperti laptop, handphone 26 63.4
69
Perasaan senang dalam belajar pada diri penerima beasiswa mampu dibentuk dengan dukungan pengelolaan beasiswa. Misal : beasiswa yang selalu tepat waktu akan mampu menenangkan hati penerima beasiswa karena tidak perlu terlambat membayar iuran-iuran kelas. Keterlambatan membayar iuran kelas bisa memberikan dampak negatif yaitu penerima beasiswa tidak bisa mendapatkan fotokopi materi kuliah. Keterlambatan membayar iuran kelas juga berpotensi membuat mahasiswa penerima beasiswa menjadi minder. Minder/tidak percaya diri merupakan bentuk efikasi yang rendah yang jika tidak didukung dengan lingkungan yang responsif bisa menumbuhkan depresi atau sikap apatis.
Hambatan besar bagi lulusan SMA/sederajat dari keluarga miskin yang telah lolos seleksi penerimaan mahasiswa untuk masuk perguruan tinggi adalah ketika harus membayar biaya masuk perguruan tinggi. Ketika calon mahasiswa tidak sanggup membayar biaya masuk perguruan tinggi, maka akan hilang kesempatan untuk kuliah. Ketika beasiswa mampu memberikan keterjaminan biaya sejak calon mahasiswa dari keluarga miskin harus membayar biaya masuk perguruan tinggi, maka itulah peran pertama program beasiswa yaitu menumbuhkan harapan untuk kuliah.
Berdasarkan dari hasil uji statistik ditemukan fakta bahwa pengelolaan beasiswa tidak menunjukkan pengaruh signifikan baik terhadap kepastian penyelesaian studi maupun prestasi akademik. Pemberian beasiswa dalam bentuk bantuan biaya berperan membangkitkan motivasi untuk kuliah. Peran tersebut sebagaimana ditemukan dalam penelitian ini bahwa manfaat pemberian beasiswa adalah : (1) memenuhi kebutuhan hidup selama kuliah; (2) bisa membeli saran penunjang kuliah; (3) menenangkan hati karena ada jaminan biaya kuliah; (4) bisa membantu orang tua; (5) membuat tidak minder. Manfaat yang dirasakan dengan adanya bantuan besiswa berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan fisiologis dan psikologis yang secara tidak langsung mempengaruhi hasil belajar.
Hal yang menarik dari hasil penelitian tentang pengelolaan beasiswa adalah terkait pembinaan. Pembinaan yang dilakuan oleh lembaga pemberi beasiswa tidak berpengaruh terhadap efektivitas program beasiswa. Terdapat beberapa temuan data lapangan yang bermanfaat untuk menjelaskan penyebab mengapa pengelolaan beasiswa tidak berpengaruh terhadap prestasi mahasiswa. Pertama, berdasarkan data tingkat keaktifan responden mengikuti pembinaan rutin ditemukan data bahwa mayoritas responden (87.8%) tidak hadir dalam pembinaan 1-5 kali dalam satu semester. Tingkat keterlambatan mayoritas responden (80.5%) pada kegiatan pembinaan adalah 1 – 5 kali dalam satu semester. Artinya dari tingkat keaktifan, mayoritas responden hadir lebih dari 75 persen (satu semester = 24 pekan). Kedua adalah 87.8 persen responden menyatakan bahwa pengelola beasiswa yang dominan menyusun rencana pembinaan. Ketiga, pembinaan rutin yang dilakukan beasiswa Beastudi Etos dilakukan pada empat domain yaitu : (1) agama, (2) akademik, (3) pengembangan diri, (4) sosial.
Hasil temuan pertama dan kedua jika dikaitkan dengan teori belajar orang dewasa maka penyebab pengelolaan program beasiswa tidak efektif meningkatkan prestasi mahasiswa adalah diduga karena pembinaan yang dirancang tidak sesuai dengan kebutuhan mahasiswa penerima beasiswa.
Bentuk ideal sebuah program pemberdayaan adalah tingginya tingkat partisipasi masyarakat sasaran. Pretty dan Guijt (Mikkelsen 2011) menjelaskan
70
bahwa pendekatan pembangunan partisipastif harus dimulai dengan orang-orang yang paling mengetahui tentang sistem kehidupan mereka sendiri. Pendekatan ini harus menilai dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka, dan memberikan sarana yang perlu bagi mereka supaya dapat mengembangkan diri.
Kurangnya pelibatan mahasiswa penerima beasiswa pada perencanaan pembinaan juga diakui oleh oleh pendamping. Pada wawancara, pendamping menyatakan bahwa :
…Pernah kami coba untuk memberi kesempatan kepada etoser untuk mengusulkan apa materi yang dibutuhkan dalam pembinaan. Namun hasilnya, usulan terlalu banyak. Karena etoser mengusulkan apa yang mereka inginkan bukan apa yang mereka butuhkan…(sumber : wawancara dengan pendamping, 20 Januari 2014)
Pendekatan ilmu penyuluhan memandang bahwa tahapan pertama proses perubahan berencana adalah kebutuhan untuk berubah (Lippit et al, 1958). Pada tahap ini masyarakat sasaran tidak secara otomatis menyadari masalah yang dihadapinya. Seringkali masyarakat sasaran tidak bisa membedakan kebutuhan dan keinginan.
Tiga hal yang bisa dilakukan agen perubahan adalah : (1) menganalisa kesulitan yang dihadapi kelayan dan memberikan bantuan secara langsung atau bertahap untuk menumbuhkan kesadaran pada masyarakat sasaran (peran agen perubahan lebih dominan; (2) menghubungi kembali kelayan dan merumuskan bersama dengan kelayan, (3) jika masyarakat sasaran telah menyadari kebutuhannya, maka proses perubahan berencana bisa dilakukan.
Perubahan berencana akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sasaran jika agen perubahan memilih cara kedua dan dilanjutkan dengan cara ketiga. Pendamping Beastudi Etos memilih opsi yang pertama, dengan memberikan peran yang lebih dominan pada pendamping. Hal tersebut pada akhirnya mengurangi peran responden untuk menentukan kebutuhannya. Mikkelsen(2011) menyatakan bahwa partisipasi menghasilkan pemberdayaan yakni setiap orang berhak menyatakan pendapat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupannya.
Kesadaran masyarakat sasaran akan kebutuhannya untuk berubah menandakan bahwa tahap pertama perubahan berencana sudah dilakukan. Tahapan perubahan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan agen perubahan. Narasumber pembinaan sesungguhnya dapat berfungsi menjadi profil yang memudahkan proses belajar dengan pengamatan pada responden. Pemilihan narasumber pembinaan penting dilakukan. Narasumber pembinaan seharusnya dipilih orang yang berpengalaman langsung terhadap materi yang disampaikan.
Lingkungan akademik
Nilai signifikansi lingkungan akademik adalah 0.141. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lingkungan akademik tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas program beasiswa untuk meningkatkan prestasi mahasiswa. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Yusniati (2008) yang menyatakan bahwa tidak ada
71
hubungan antara lingkungan sosial (mahasiswa-dosen), (mahasiswa-teman), mahasiswa-keluarga, mahasiswa-komunitas di asrama dengan prestasi akademik mahasiswa.
Lingkungan kemahasiswaan
Lingkungan kemahasiswaan pada penelitian ini tidak berpengaruh signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa penerima beasiswa (nilai signifikansi = 0.556 > 0.1). Soekanto (Widayati 2009) menyatakan model konseptual alokasi waktu remaja meliputi kegiatan pribadi, kegiatan sekolah, kegiatan perjalanan, dan kegiatan waktu luang. Hubungan responden dengan mahasiswa lain di kampus lebih banyak berorientasi pada keterlibatan organisasi mahasiswa dibandingkan dengan kegiatan akademik.
Lingkungan asrama
Lingkungan asrama tidak berpengaruh signifikan terhadap prestasi akademik. Hal tersebut ditandai dengan nilai signifikansi 0.742 > 0.10. Kegiatan di asrama Beastudi Etos yang dominan adalah pelaksanaan kegiatan keagamaan, dan keterampilan hidup. Sejak bangun pagi, mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos melaksanakan kegiatan keagamaan pagi yaitu dimulai dari menjalankan sholat subuh berjamah, dilanjutkan dengan tausiyah (nasihat) pagi, dan dzikir harian. Petugas piket kebersihan akan menjalankan tugas piket setelah aktivitas keagamaan pagi. Responden yang tidak bertugas piket akan menjalankan aktivitas pribadi seperti mencuci, menyetrika, dan mandi.
Responden memiliki aktivitas masing-masing di siang dan sore hari. Aktivitas yang dilakukan responden terutama kuliah, praktikum, aktivitas organisasi, dan aktivitas ekonomi hingga sore hari. Responden akan kembali ke asrama di sore hingga malam hari.
Aktivitas responden yang sudah pulang sebelum petang antara lain : (1) menjalankan sholat Maghrib; (2) membaca Al Qur’an; (3) makan malam bersama yang biasanya dilakukan di ruangan umum; (4) sholat Isya; (5) kadangkala ada beberapa responden yang mengerjakan tugas atau belajar bersama sambil menyaksikan televise, Batas jam malam masuk asrama adalah jam 21.00. Jika responden pulang ke asrama lewat dari jam 21.00, harus mendapat ijin dari pendamping untuk dapat masuk asrama. Pelanggaran jam malam akan masuk ke dalam sanksi pemotongan uang saku (sumber : observasi lapangan di asrama Beastudi Etos).
Aktivitas belajar responden lebih banyak dilakukan di kamar masing-masing dan lebih bersifat pribadi . Sebaran program studi tempat responden berkuliah juga diduga menjadi salah satu penyebab tidak optimalnya pendampingan di bidang akademik. Responden berkuliah di 29 program studi. Keragaman program studi responden yang tinggi membuat pendamping lebih menekankan pada pendampingan yang bersifat dukungan psikologis, dan pendampingan teknis belajar.
72