EFEKTIVITAS PROGRAM BEASISWA DALAM
MENINGKATKAN PRESTASI MAHASISWA
MARDIYANTI
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Efektivitas Program Beasiswa dalam Meningkatkan Prestasi Mahasiswa adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Februari 2014
Mardiyanti NIM I351090051
RINGKASAN
MARDIYANTI. Efektivitas Program Beasiswa dalam Meningkatkan Prestasi Mahasiswa. Dibimbing oleh NINUK PURNANINGSIH dan PRABOWO TJITROPRANOTO
Beasiswa dalam sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia memiliki peran yang strategis. Khususnya pada upaya pemenuhan hak pendidikan bagi seluruh warga negara. Hingga kini beasiswa masih menjadi program unggulan dalam upaya pemerataan pendidikan. Hal tersebut terlihat pada banyaknya beasiswa bermunculan, baik yang berasal dari pemerintah, swasta, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Program beasiswa yang berasal dari swasta dan LSM memiliki strategi pemberian beasiswa yang berbeda dengan pemerintah. Program beasiswa dari swasta dan LSM tidak hanya memberikan bantuan biaya, tetapi juga memberikan pembinaan.
Penelitian Utomo dan Sudji (2010) pada penerima beasiswa Program Pengembangan Akademik di Universitas Negeri Yogyakarta menemukan bahwa beasiswa yang diberikan tidak berpengaruh terhadap prestasi mahasiswa. Antoni (2012) pada penelitian terhadap penerima Bidik Misi di Institut Pertanian Bogor menemukan bahwa proporsi penyaluran Bidik Misi kepada mahasiswa yang berprestasi (58.4%) hampir sama dengan proporsi penyaluran Bidik Misi kepada mahasiswa yang tidak berprestasi (41.6%). Hasil penelitian Utomo dan Sudji (2010) serta Antoni (2012) menggambarkan bahwa beasiswa dan bantuan pendidikan tidak berpengaruh terhadap prestasi mahasiswa.
Tujuan penelitian ini adalah : (1) mendeskripsikan karakteristik individu penerima beasiswa; (2) menganalisis efektivitas program beasiswa, (3) mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas program beasiswa. Penelitian dilakukan pada mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos daerah Bogor dan Jakarta sebagai responden. Pemilihan Beastudi Etos sebagai tempat penelitian berdasar pada alasan bahwa Beastudi Etos telah sepuluh tahun memberikan beasiswa dengan pembinaan dan pendampingan kepada mahasiswa penerima beasiswa. Responden penelitian ini berjumlah 41 orang. Penelitian dilakukan pada bulan November-Desember 2013.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik individu responden adalah : (1) berusia antara 18 – 22 tahun; (2) mayoritas anak sulung; (3) berasal dari sembilan provinsi di Indonesia; (4) berkuliah di Institut Pertanian Bogor dan Universitas Indonesia; (5) berkuliah di 29 program studi dengan mayoritas berkuliah pada program studi bidang ilmu sosial; (6) memiliki motivasi yang tinggi untuk kuliah; (6) memiliki interaksi yang baik dengan lingkungan akademik, lingkungan kemahasiswaan, dan lingkungan asrama.
keluarga rata-rata Rp 1.474.000,00; (5) pengeluaran terbesar untuk makan; dan (6) memiliki kemampuan pemenuhan kebutuhan primer yang tinggi.
Efektivitas program beasiswa memperlihatkan bahwa : (1) responden memiliki tingkat kepastian penyelesaian studi yang baik, (2) prestasi akademik responden berada pada kategori baik. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efektivitas program beasiswa adalah : (1) motivasi untuk kuliah; (2) lingkungan asrama; dan (3) jumlah anggota keluarga. Efektivitas program beasiswa bisa ditingkatkan dengan cara : (1) memperhatikan ketepatan sasaran penerima beasiswa dengan tidak hanya mempertimbangkan kemiskinan keluarga tetapi perlu melihat motivasi penerima beasiswa untuk kuliah; (2) pengelolaan beasiswa perlu melakukan pendampingan intensif kepada penerima beasiswa. Pendampingan pada kasus penelitian ini lebih efektif dibanding dengan pembinaan karena pendampingan lebih bersifat partisipatif dibandingkan dengan pembinaan yang bersifat top down.
SUMMARY
MARDIYANTI. Effectiveness of Scholarship Program to Improve Student Achievement. Supervised by NINUK PURNANINGSIH and PRABOWO TJITROPRANOTO
Scholarship in the history of education in Indonesia has a strategic role. Particularly in the effort to fullfil the right of education for all citizens. Until now, the scholarship is still the flagship program in educational equity efforts. This is evident in the number of scholarships, whether from government, private, and Non Governmental Organization (NGO). Scholarship program that come from the private sector and NGOs have different strategi from government. The scholarship program of the private sector and NGO’s not only provide financial assistante, but also provide guidance.
Utomo and Sudji (2010) found that Program Pengembangan Akademik (PPA) scholarships at Universitas Negeri Yogyakarta has not effect to student achievement. Antoni (2012) in a research to Bidik Misi recipients in Bogor Agricultural University found that the proportion of the distribution Bidik Misi Program to excellent student (58.4%) is almost equal to the proportion of the distribution Bidik Misi Program to students who do not perform (41.6%). Both of Utomo and Sudji’s result (2010) dan Antoni result (2012) show that scholarships and education assistance has no effect on student achievement.
The purposes of this study are: (1) descript the individual characteristic of grantee; (2) analyze the effectiveness of the scholarship program; (3) measure the factors that influence the effectiveness of the scholarship program. The study was conducted on grantees Beastudi Etos Bogor and Jakarta as respondents. Selection Beastudi Etos due the fact that Beastudi Etos has been ten years provided scholarships with guidance and mentoring to grantees. Respondents of this study amounted to 41 people. The study was conducted in November-December 2013.
The results showed that the individual characteristic of respondents are: (1) aged between 18-22 years, (2) a majority of the eldest son, (3) derived from nine provinces in Indonesia, (4) study at Bogor Agricultural University and the University of Indonesia; (5 ) enrolled in 29 courses with the majority enrolled in social science courses, (6) highly motivated to go to college, (6) have a good interaction with the academic environment, student environment, and the halls of residence.
Family characteristic of the respondents are: (1) the amount of the average family of six persons, (2) the average of father's level education is senior high school, (3) the average of mother's education level is junior high school, (3) the type of work most of the fathers are self-employed (income is not fixed but is independent of the others), (4) the majority of the work mothers are housewives; (5) the average of family income Rp 1,474,000.00; (5) largest expenditures for eating; (6) has the ability to fullfil the primary needs.
the study, (2) boarding environment, and (3) the number of family members. The effectiveness of the scholarship program could be improved by: (1) an accurate portrayal of target recipients by not only considering the poverty of the family but need to see the motivation for college, (2) management of scholarships need to do intensive support to scholarship recipients. Mentoring in the case of this study is more effective than guidance because mentoring is more participatory than the top-down guidance.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
EFEKTIVITAS PROGRAM BEASISWA DALAM
MENINGKATKAN PRESTASI MAHASISWA
MARDIYANTI
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Alloh SWT atas segala karunia-Nya sehingga penyusunan tesis ini berhasil diselesaikan. Tesis ini berjudul efektivitas program beasiswa dalam meningkatkan prestasi mahasiswa. Penelitian dilaksanakan terhadap mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos daerah Bogor, dan Jakarta pada bulan November sampai dengan Desember 2013.
Terimakasih penulis ucapkan kepada :
1. Ibu Dr. Ir. Ninuk Purnaningsih, M.Si dan Bapak Dr. Prabowo Tjitropranoto, M.Sc selaku pembimbing yang telah memberikan motivasi dan mencurahkan banyak waktu dan perhatian kepada penulis untuk penyelesaian tesis ini. 2. Bapak Prof. Sumardjo selaku Ketua Program Studi Ilmu Penyuluhan
Pembangunan, dan Dr. Siti Amanah, M.Sc selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat.
3. Dr. Basita Ginting Sugihen, M.Sc selaku penguji luar komisi dan Dr. Ana Fatchiya, M.Si selaku penguji dari Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan.
4. Bapak Dr. Pudji Mulyono, dan Ibu Irma Febrianis yang telah membantu penulis untuk mempublikasikan hasil penelitian di Jurnal Penyuluhan
5. Mahasiswa penerima Beastudi Etos daerah Bogor dan Jakarta yang telah menjadi responden penelitian ini.
6. Penghargaan juga penulis sampakan kepada pengelola beasiswa Beastudi Etos, dan segenap Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa yang telah banyak membantu penulis selama penyusunan tesis ini.
7. Ibu Desiar (bagian administrasi prodi Ilmu Penyuluhan Pembangunan), segenap bagian administrasi di Fakultas Ekologi Manusia, dan Sekolah Pascasarjana IPB atas bantuan yang diberikan kepada penulis.
8. Penghargaan dan terimakasih juga penulis haturkan kepada Ahmad Sumarta (suami), anak-anak, serta segenap keluarga atas doa dan dukungan yang tidak pernah henti.
9. Segenap pengurus dan rekan kerja di Koperasi Insan Sejahtera atas kesempatan cuti yang diberikan.
Semoga tesis ini memberikan kemanfaatan bagi banyak pihak.
Bogor, Februari 2014
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xii
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 4
Tujuan 4
2 TELAAH PUSTAKA 5
Pemberdayaan 5
Efektivitas Program Beasiswa 7
Proses Belajar 11
Perkembangan Remaja 15
Prestasi Belajar 17
3 KERANGKA PEMIKIRAN 19
Kerangka Pemikiran 19
Hipotesis 20
4 METODE PENELITIAN 21
Desain Penelitian 21
Lokasi dan Waktu Penelitian 21
Populasi dan Sampel 21
Jenis Data 22
Definisi Oprasional 22
Matrik Pengembangan Instrumen 23
Uji Instrumen 27
Analisis Data 28
5 HASIL DAN PEMBAHASAN 30
Deskripsi Program Beastudi Etos Bogor dan Jakarta 30 Bentuk-Bentuk Beasiswa yang Diberikan oleh Beasiswa
Beastudi Etos
33
Karakteristik Individu Mahasiswa Penerima Beasiswa 39 Karakteristik Keluarga Mahasiswa Penerima Beasiswa
Beastudi Etos
42
Motivasi Untuk Kuliah 47
Pengelolaan Program Beasiswa 48
Karakteristik Sosial Responden 54
Analisis Efektivitas Program Beasiswa 57
Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Efektivitas Beasiswa
DAFTAR ISI (Lanjutan)
Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kepastian Penyelesaian Studi
60
Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Prestasi Akademik Responden
66
6 SIMPULAN DAN SARAN 72
Simpulan 72
Saran 72
DAFTAR PUSTAKA 73
DAFTAR TABEL
Halaman 1 Contoh beasiswa dan jenis bantuan yang diberikan 8 2 Sub peubah, indikator, dan pengukuran, peubah karakteristik
individu
24
3 Sub peubah, indikator, dan pengukuran peubah pengelolaan beasiswa
25
4 Sub peubah, indikator, dan pengukuran peubah karakteristik sosial
26
5 Sub peubah, indikator, dan pengukuran peubah efektivitas program beasiswa
27
6 Hasil uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian 28 7 Pendidikan dan profesi utama koordinator dan pendamping
Beastudi Etos Bogor dan Jakarta
33
8 Jumlah dan persentase responden menurut umur 39
9 Jumlah dan persentase responden menurut jenis kelamin 40 10 Jumlah dan persentase responden menurut program studi 40 11 Jumlah dan persentase responden menurut provinsi asal 41 12 Jumlah dan persentase responden menurut urutan kelahiran 42 13 Jumlah dan persentase responden menurut besar keluarga 42 14 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat pendidikan
orang tua
43
15 Jumlah dan persentase responden menurut jenis pekerjaan ayah 44 16 Jumlah dan persentase responden menurut pekerjaan ibu 44 17 Jumlah dan persentase responden menurut jumlah pendapatan
keluarga
45
18 Jumlah dan persentase responden menurut jenis pengeluaran keluarga
46
19 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat kemampuan pemenuhan kebutuhan primer keluarga
46
20 Jumlah dan persentase responden menurut motivasi untuk kuliah
47
21 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat motivasi 47 22 Jumlah dan persentase responden menurut sumber motivasi 48 23 Jumlah dan persentase responden menurut kemudahan
persyaratan beasiswa
49
24 Jumlah dan persentase responden menurut jenis bantuan beasiswa
50
25 Jumlah dan persentase responden menurut jumlah pengeluaran untuk biaya hidup per bulan
50
26 Jumlah dan persentase responden menurut keteraturan penerimaan beasiswa
DAFTAR TABEL (Lanjutan)
27 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat kompetensi pendamping
53
28 Jumlah dan persentase responden menurut lingkungan akademik
54
29 Jumlah dan persentase responden menurut lingkungan kemahasiswaaan
55
30 Jumlah dan persentase responden menurut lingkungan asrama 56 31 Jumlah dan persentase responden menurut efektivitas program
beasiswa
57
32 Jumlah dan persentase responden menurut performa kuliah 59 33 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepastian
penyelesaian studi
60
34 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prestasi akademik 66 35 Jumlah dan persentase responden menurut manfaat pemberian
dana beasiswa
68
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1 Pandangan teori belajar sosial tentang interaksi 11
2 Model ego ideal bagi pendidikan remaja 13
3 Kerangka pemikiran penelitian 20
4 Rumus korelasi Product Moment 27
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1 Hasil uji regresi untuk peubah terikat kepastian penyelesaian
studi
79
2 Hasil uji regresi untuk peubah terikat prestasi akademik
81
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Beasiswa dalam sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia memiliki peran yang strategis. Khususnya pada upaya pemenuhan hak pendidikan bagi seluruh warga negara. Pada masa orde baru, beasiswa telah mulai diberikan. Pemerintah melalui Undang-Undang No 2 Tahun 1989 mengeluarkan kebijakan-kebijakan sebagai upaya memberikan kesempatan pendidikan seluas-luasnya kepada masyarakat. Kebijakan tersebut adalah: (1) membebaskan pembayaran uang sekolah di tingkat Sekolah Dasar, (2) pemberian bantuan kepada siswa yang miskin namun berprestasi cemerlang. Pemberian beasiswa sebagai strategi pemerataan pendidikan sudah mulai muncul pada saat itu.
Hingga kini beasiswa masih menjadi program pilihan dalam upaya pemerataan pendidikan. Hal tersebut terlihat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2013 (Departemen Keuangan 2013). Salah satu alokasi anggaran di bidang pendidikan adalah untuk menyediakan beasiswa terhadap sekitar 9.4 juta siswa/mahasiswa miskin. Hariyanto (2004) menyatakan bahwa tujuan utama beasiswa adalah membantu ketersediaan biaya pendidikan bagi penerima beasiswa.
Bank Dunia (2006) dalam ikhtisar laporan tentang kemiskinan di Indonesia menyebutkan bahwa salah satu masalah dan kendala utama pendidikan di Indonesia adalah keterjangkauan. Uang sekolah dan biaya lain-lain yang harus dibayarkan menjadi hambatan bagi masyarakat miskin untuk mengakses pendidikan. Tindakan khusus yang direkomendasikan oleh Bank Dunia adalah melaksanakan program beasiswa yang terarah atau bantuan langsung tunai untuk meningkatkan angka bersekolah.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (2011) memberikan pembedaan antara bantuan biaya pendidikan dan beasiswa. Bantuan biaya pendidikan adalah dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang orang tua/walinya tidak mampu membiayai pendidikan. Beasiswa adalah bantuan dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang berprestasi. Contoh program pemerintah yang termasuk bantuan biaya pendidikan adalah Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM), dan program Bidik Misi. Contoh beasiswa adalah beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA). Beasiswa PPA diberikan kepada mahasiswa strata satu dari semua prodi dengan Indeks Prestasi minimal 3.0.
2
Meningkatnya gagasan tentang modal sosial dan masyarakat madani membuat tidak hanya pemerintah yang berperan aktif memberikan beasiswa. Lembaga pemberi beasiswa yang dibiayai oleh organisasi non pemerintah banyak bermunculan. Gagasan modal sosial adalah bahwa seseorang dapat melakukan investasi secara sosial yang kemudian dapat dilihat sebagai perekat masyarakat. Gagasan masyarakat madani ditandai dengan berdirinya badan-badan non pemerintah untuk menolong memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu, keluarga dan masyarakat (Ife dan Tesoriero 2006).
Badan-badan non pemerintah yang memberikan beasiswa antara lain Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan perusahaan swasta. LSM yang memberikan beasiswa antara lain Dompet Dhuafa (Beastudi Etos, dan beasiswa Aktivis), serta Yayasan Karya Salemba Empat. Perusahaan swasta yang memberikan beasiswa antara lain PT. Djarum. Persamaan dalam pemberian beasiswa Beastudi Etos, beasiswa regular Yayasan Karya Salemba Empat, dan Djarum Beasiswa Plus (Beswan Djarum) yaitu adanya pelatihan softskill (pembinaan) bagi penerima beasiswa selain pemberian bantuan dana.
Pemberian beasiswa bertujuan memberikan kesempatan pada mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi agar bisa mendapatkan pendidikan, maka beasiswa pada hakikatnya merupakan suatu upaya pemberdayaan di bidang pendidikan. Hal tersebut berdasarkan pada tujuan pemberdayaan yaitu meningkatkan keberdayaan dari kelompok yang kurang beruntung (the disadvantaged) (Ife dan Toseriero 2006).
Pemerintah dan lembaga non pemerintah memiliki tujuan yang sama dalam pemberikan beasiswa, namun ada perbedaan strategi pengelolaan beasiswa. Pemerintah cenderung memberikan beasiswa hanya dalam bentuk bantuan dana. Hal tersebut bisa dipahami karena pemerintah sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 30 (1), pemerintah perlu memberikan hak pendidikan kepada seluruh warga negara. LSM/swasta memandang perlunya pembinaan bagi penerima beasiswa untuk mengembangkan kemampuan softskill agar selaras dengan kemampuan akademis.
Paradigma pemberdayaan memandang bahwa program-program pembangunan seharusnya mampu meningkatkan keberdayaan masyarakat sasaran. Keberdayaan masyarakat sasaran dibentuk dengan menjadikan masyarakat sasaran sebagai aktor utama yang aktif membangun dan mengembangkan potensi dirinya. Beasiswa sebagai program pemberdayaan seharusnya juga mampu meningkatkan keberdayaan penerima beasiswa.
Hasil penelitian terhadap 230 mahasiswa angkatan 2006 – 2009 Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta yang dilakukan oleh Utomo dan Sudji (2010) menunjukkan bahwa secara umum beasiswa belum mampu meningkatkan prestasi akademik mahasiswa penerima beasiswa. Penelitian yang dilakukan kepada mahasiswa penerima beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) ini juga menemukan bahwa kontribusi pemberian beasiswa belum dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang kegiatan akademik.
3
sebesar 41.6 persen. Kondisi ini diduga karena dalam proses seleksi penerimaan beasiswa Bidik Misi, faktor penghasilan orang tua merupakan syarat yang lebih diutamakan dibandingkan faktor kepemilikan prestasi.
Hasil penelitian Utomo dan Sudji (2010) serta Antoni (2012) menggambarkan bahwa baik beasiswa maupun bantuan biaya pendidikan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap prestasi mahasiswa. Kedua hasil penelitian tersebut menimbulkan pertanyaan besar tentang alasan yang mendasari beasiswa tidak berpengaruh terhadap prestasi mahasiswa.
Bandura (1977) menyatakan hasil belajar dipengaruhi oleh interaksi timbal balik yang berkelanjutan antara personal, perilaku, dan lingkungan. Interaksi individu dengan lingkungan sosial tempat belajar sangat menentukan hasil belajar yang akan dicapai. Mahasiswa penerima beasiswa merupakan individu yang memiliki karakteristik pribadi. Pada proses menuntut ilmu di perguruan tinggi, mahasiswa penerima beasiswa berinteraksi dengan lingkungan sosial di kampus. Lingkungan sosial tersebut antara lain dosen, tenaga kependidikan, sistem pendidikan di kampus, teman kuliah, organisasi kemahasiswaan, maupun kegiatan-kegiatan pengembangan keilmuan yang diselenggarakan di kampus. Sejalan dengan proses menuntut ilmu, beasiswa diberikan sebagai stimulus agar penerima beasiswa mampu berprestasi.
Kelompok masyarakat miskin menjadi salah satu kelompok yang perlu ditingkatkan kekuaasannya (power) (Ife 1995). Kondisi kemiskinan keluarga menjadi salah satu yang dipersyaratkan pada proses seleksi beasiswa. Lippit et al (1958) menambahkan perlunya mempertimbangkan motivasi masyarakat sasaran untuk melakukan perubahan berencana. Jenis motivasi yang paling kuat mendorong perubahan menurut Lippit (1958) adalah kebutuhan internal atau sering disebut sebagai dorongan alamiah yang berhubungan dengan perkembangan biologis maupun psikologis manusia. Karakteristik individu penerima beasiswa yang digunakan sebagai peubah bebas pada penelitian ini adalah kondisi keluarga dan motivasi untuk kuliah.
Proses pemberdayaan mulai dijalankan oleh lembaga pemberi beasiswa. Beasiswa yang menjadi lokasi penelitian ini adalah beasiswa Beastudi Etos. Beasiswa Beastudi Etos merupakan beasiswa yang dikelola oleh LSM Dompet Dhuafa. Alasan utama pemilihan beasiswa Beastudi Etos pada penelitian ini adalah karena beasiswa Beastudi Etos sejak berdiri tahun 2003 telah menjalankan program pembinaan dan pendampingan terhadap penerima beasiswa. Pembinaan dijalankan melalui pembinaan rutin pekanan, sedangkan pendampingan dijalankan di asrama yang diberikan oleh beasiswa Beastudi Etos kepada penerima beasiswa.
Peran dukungan kelembagaan pemberi beasiswa menjadi faktor penting penentu efektivitas program. Dukungan kelembagaan beasiswa bisa dilihat dari segi ketersediaan dana, dan sistem pengelolaan. Ketersediaan dana menjadi jaminan ketercukupan beasiswa. Sistem pengelolaan khususnya yang berkaitan dengan pembinaan dan pendampingan menggambarkan proses yang menentukan tingkat efektivitas program beasiswa.
4
kemahasiswaan; dan (3) lingkungan asrama. Lingkungan menjadi faktor eksternal penerima beasiswa yang menurut Winkel (1996) dapat mempengaruhi prestasi mahasiswa.
Efektivitas program beasiswa menjadi tema yang ingin dikaji pada penelitian ini. Kajian tentang efektivitas program akan dilakukan dengan melakukan analisis pada tiga hal yaitu : (1) ketepatan sasaran program beasiswa; (2) pengelolaan program beasiswa yang efektif; (3) kemampuan penerima beasiswa sebagai hasil dari proses yang dilaksanakan. Pengukuran efektivitas program beasiswa pada penelitian ini mengacu pada Boyle (1981). Efektivitas program pembangunan (developmental) diukur dari : (1) kualitas solusi atas permasalahan yang dihadapi, dan (2) tingkat kemampuan individu, kelompok atau masyarakat mengembangkan kemampuan penyelesaian masalah.
Perumusan Masalah
Perumusan masalah penelitian ini adalah :
1. Bagaimana karakteristik individu penerima beasiswa? 2. Bagaimana efektivitas program beasiswa?
3. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi efektivitas program beasiswa dalam meningkatkan prestasi mahasiswa?
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mendeskripsikan karakteristik individu penerima beasiswa. 2. Menganalisis tingkat efektivitas program beasiswa.
5
TELAAH PUSTAKA
Pemberdayaan
Suharto (2005) mengemukakan bahwa pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuasaaan atau kemampuan dalam (a) memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasan (freedom), dalam arti bukan saja bebas mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan; (b) menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang dan jasa yang mereka perlukan; (c) berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.
Menurut Dahl (Prijono dan Pranarka 1996), menyatakan pemberdayaan sebagai kemampuan pelaku untuk mempengaruhi pelaku ke-2 untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan oleh pelaku ke-2. Pemberdayaan menurut Dahl berorientasi pada pemberdayaan individu. Konsep tersebut banyak mendapatkan kritik. Freire (Prijono dan Pranarka 1996) menyatakan bahwa pemberdayaan perlu dipikirkan dalam konteks sosial.
Hulme dan Thurner (Prijoko dan Pranarka 1996) berpendapat bahwa pemberdayaan mendorong terjadinya suatu proses perubahan sosial yang memungkinkan orang-orang pinggiran yang tidak berdaya untuk memberikan pengaruh yang lebih besar di arena politik secara lokal maupun nasional. Oleh karena itu pemberdayaan sifatnya individual sekaligus kolektif.
Sasaran pemberdayaan bisa berupa individu maupun kolektif. Ife (1995) menyatakan bahwa kelompok lemah yang perlu mendapat pemberdayaan adalah mereka yang masuk dalam kelompok di bawah ini :
(1) Kelompok lemah secara struktural, baik lemah secara kelas, gender, maupun etnis. Contoh yang masuk pada kategori lemah secara struktural adalah kelompok miskin.
(2) Kelompok lemah khusus, seperti manula, anak-anak dan remaja, penyandang cacat, gay, lesbian, dan masyarakat terasing.
(3) Kelompok lemah secara personal, yakni mereka yang mengalami masalah pribadi dan/atau keluarga.
Sennet dan Cabb (Suharto 2005) dan Conway (Suharto 2005) menyatakan bahwa ketidakberdayaan disebabkan beberapa faktor antara lain: ketiadaan jaminan ekonomi, ketiadaan pengalaman dalam arena politik, ketiadaan akses terhadap informasi, ketiadaan dukungan finansial, ketiadaan pelatihan-pelatihan, dan adanya ketegangan fisik maupun emosional. Seligman dan Larner (Suharto 2005) meyakini bahwa ketidakberdayaan yang dialami oleh sekelompok masyarakat merupakan proses internalisasi yang dihasilkan dari interaksi mereka dengan masyarakat. Mereka menganggap diri mereka lemah dan tidak berdaya, karena masyarakat menganggapnya demikian.
6
dengan jalan melakukan aksi sosial dan politis; (3) pemberdayaan melalui pendidikan dan peningkatan kesadaran. Pemberdayaan melalui kebijakan dan perencanaan dilakukan dengan cara mengembangkan atau mengubah struktur dan kelembagaan yang memungkinkan kelompok lemah untuk mengakses sumberdaya atau pelayanan, sehingga membuka kesempatan kepada kelompok lemah untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Pemberdayaan melalui aksi sosial dan politis dijalankan dengan cara membentuk kekuasaan yang efektif untuk memperjuangkan kelompok lemah. Pemberdayaan melalui pendidikan dan peningkatan kesadaran menekankan pada perlunya proses edukasi sehingga kelompok lemah mampu meningkatkan kekuasaannya. Peningkatan kesadaran dalam hal ini dimaksudkan untuk membantu kelompok lemah untuk memahami masyarakat dan tekanan-tekanan dalam struktur masyarakat, memberikan kosakata dan kemampuan untuk bekerja lebih efektif di masa yang akan datang.
Rappaport (Lord dan Hutchison 1993) menjabarkan ada tiga tingkatan pemberdayaan. Pertama, pemberdayaan pada tingkat individu. Pemberdayaan pada tingkat individu yaitu kemampuan untuk meningkatkan kontrol pribadi dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan berpartisipasi pada komunitas yang diikuti. Kedua adalah pemberdayaan di tingkat kelompok kecil. Pemberdayaan pada tingkat ini ditandai dengan adanya saling berbagi pengalaman, analisis bersama, dan adanya pengaruh kelompok dalam menjalankan usaha bersama. Ketiga, pemberdayaan di tingkat masyarakat yang ditandai dengan penggunaan sumber daya dan strategi untuk mengatur sumber daya tersebut.
Program beasiswa merupakan suatu bentuk upaya pemberdayaan. Ciri beasiswa sebagai pemberdayaan adalah : (1) sasaran program beasiswa adalah kelompok lemah yaitu mahasiswa dari keluarga miskin; (2) program beasiswa bertujuan meningkatkan kekuasaan (power) dengan cara memberikan bantuan baik biaya, fasilitas, dan pembinaan kepada sasaran program beasiswa selama kuliah ke pendidikan tinggi; (3) ada proses pembinaan dan pendampingan yang diberikan dalam program beasiswa. Program beasiswa menjalankan pemberdayaan di tingkat individu karena fokus pada peningkatan kemampuan individu mahasiswa penerima beasiswa untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan berpartisipasi pada komunitas yang diikuti mahasiswa. Jalur pemberdayaan program beasiswa adalah melalui pendidikan dan peningkatan kesadaran mahasiswa. Upaya peningkatan kesadaran mahasiswa penerima beasiswa dilakukan melalui pembinaan dan pendampingan. Sasaran, tujuan, dan proses beasiswa mencirikan adanya proses pemberdayaan.
Hasil yang diharapkan dari pemberdayaan adalah masyarakat sasaran memiliki kemampuan menyelesaikan masalahnya sendiri. Program beasiswa memberikan bantuan kepada penerima beasiswa agar dapat kuliah. Kualitas hasil kuliah dilihat dari capaian indeks prestasi akademik yang menggambarkan penilaian kemampuan mahasiswa dalam penguasaan aspek kognitif dan keterampilan materi kuliah.
7
kebutuhan lain. Mahasiswa yang menerima bantuan beasiswa penuh tidak akan mendapatkan masalah terkait ketersediaan biaya-biaya karena seluruh kebutuhan biaya telah dipenuhi oleh program beasiswa. Kondisi yang berbeda terjadi pada mahasiswa yang menerima beasiswa tidak penuh. Mahasiswa penerima beasiswa tidak penuh perlu berusaha untuk memenuhi kekurangan biaya yang terjadi. Kualitas hasil belajar melalui capaian prestasi akademik, dan kemampuan memenuhi biaya selama kuliah merupakan dua hal yang menjadi indikator hasil pemberdayaan sekaligus menjadi indikator efektivitas program beasiswa dalam penelitian ini.
Efektivitas Program Beasiswa
Beasiswa adalah tunjangan yang diberikan kepada pelajar atau mahasiswa sebagai bantuan biaya belajar. Bentuk bantuan yang diberikan inipun bisa bermacam-macam, sehingga secara umum beasiswa dapat dikelompokkan sebagai berikut:
(1) Beasiswa Pendidikan, dapat berupa beasiswa penuh atau hanya sebagian dari biaya pendidikan yang meliputi biaya SPP, alat tulis, fotokopi, dan buku.
(2) Beasiswa biaya hidup, bantuan untuk kehidupan sehari-hari.
(3) Beasiswa perjalanan, adalah bantuan biaya untuk melakukan perjalanan, misalkan perjalanan ke luar negeri.
(4) Beasiswa pelatihan, merupakan bantuan biaya yang diberikan untuk pelatihan atau berupa pelatihan itu sendiri.
(5) Beasiswa penelitian, beasiswa yang digunakan untuk melakukan riset/penelitian.
(6) Beasiswa magang, merupakan sarana untuk melatih keterampilan siswa/mahasiswa dalam mempraktikkan ilmu yang didapat di sekolah/kuliah.
(7) Beasiswa kerja, beasiswa yang diberikan kepada siswa/mahasiswa untuk bekerja secara paruh waktu.
(8) Beasiswa pertukaran pelajar, biasa dilakukan antar negara yang bersahabat (Hariyanto 2004).
8
Tabel 1 Contoh beasiswa dan jenis bantuan yang diberikan Deskripsi
Satu tahun Satu tahun dan dapat
Beasiswa PPA adalah beasiswa Pengembangan Prestasi Akademik
Beasiswa Djarum memberikan beasiswa sebesar Rp 750.000,00 per bulan selama satu tahun. Beasiswa Beastudi Etos memberikan bantuan biaya sebesar Rp 500.000 per bulan selama tiga tahun. Beasiswa PPA memberikan bantuan biaya Rp 350.000 per bulan selama satu tahun dan setelahnya dapat diperpanjang kembali. Sedangkan beasiswa Karya Salemba Empat memberikan bantuan biaya sebesar Rp 600.000,00 per bulan selama satu tahun dan beasiswa dapat diperpanjang.
9
beasiswa Karya Salemba Empat maupun Beastudi Etos disebut sebagai pembinaan.
Tujuan pembinaan beasiswa Beswan Djarum adalah agar kelak penerima beasiswa Beswan Jarum bisa menjadi manusia Indonesia yang disiplin, mandiri dan berwawasan masa depan sebagai calon pemimpin bangsa. Sedangkan pembinaan beasiswa Karya Salemba Empat bertujuan untuk mendorong dan turut mempersiapkan penerima beasiswa menjadi lulusan yang memiliki integritas, berwawasan kebangsaan, cinta kepada tanah air, nusa, dan bangsa. Tujuan pembinaan Beastudi Etos bertujuan agar mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos menjadi generasi yang unggul dan mandiri.
Metode pembinaan yang dilakukan antara beasiswa Beswan Djarum dan beasiswa Karya Salemba Empat hampir serupa yaitu melalui kegiatan pelatihan, seminar, workshop. Pembinaan beasiswa Beastudi Etos menggunakan metode yang hampir serupa dengan beasiswa Beswan Djarum dan beasiswa Karya Salemba Empat. Perbedaan yang dimiliki oleh beasiswa Beastudi Etos adalah adanya pendampingan di asrama. Pendampingan asrama dilakukan dengan dibimbing oleh pendamping Beastudi Etos.
Pembinaan maupun pemdampingan pada hakekatnya sejalan dengan paradigma pemberdayaan yaitu melibatkan penerima beasiswa untuk menjalankan proses belajar dengan tujuan untuk merubah perilaku. Perubahan perilaku yang diharapkan menjadi hasil proses belajar meliputi perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Perbedaan antara pembinaan dan pendampingan adalah pada pendekatan proses belajar. Pembinaan cenderung menggunakan pendekatan top down. Penerima beasiswa hadir sebagai peserta pembinaan yang mendapatkan materi dari narasumber. Pendampingan menggunakan pendekatan bottom up atau disebut pendekatan partisipasi dengan cara penerima beasiswa merumuskan bersama pendamping tentang program-program yang akan dijalankan di asrama.
FAO (Mikkelsen 2011) , partisipasi mengandung arti :
(1) Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat kepada proyek tanpa ikut dalam pengambilan keputusan
(2) Partisipasi adalah pemekaan (membuat peka) pihak masyarakat untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan unttuk menanggapi proyek-proyek pembangunan
(3) Partisipasi adalah suatu proses yang aktif yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu
(4) Partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, dan monitoring agar supaya memperoleh informasi mengenai konteks local dan dampak-dampak social
(5) Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri
(6) Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan, dan lingkungan mereka.
10
Proses belajar pada mahasiswa penerima beasiswa dilakukan melalui pembinaan atau dengan pendidikan non formal. Pendidikan non formal menekankan pada upaya menunjukkan arah perubahan, merangsang terjadinya perubahan, dan mengembangkan perubahan yang diharapkan berdasarkan potensi warga belajar. Pendidikan non formal pada pelaksanaanya perlu memperhatian hal-hal sebagai berikut: (1) dilandasi oleh suasana demokratis, (2) komunikasi dan interaksi yang akrab baik antar warga belajar maupun warga belajar dengan agen perubahan.
Hasil yang didapat dari proses belajar adalah perubahan perilaku. Perubahan perilaku jangka pendek dilihat dari adanya peningkatan pengetahuan, sikap mental dan keterampilan. Peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat sasaran tersebut kemudian diharapkan mampu meningkatkan kemandirian pada masyarakat sasaran.
Perubahan perilaku yang diharapkan muncul pada penerima beasiswa berbeda-beda, tergantung pada tujuan pembinaan yang dilakukan lembaga pemberi beasiswa. Prijono dan Pranarka (1996) mengemukakan bahwa pemberdayaan memandang perubahan perilaku yang terjadi diharapkan relevan untuk memenuhi kebutuhan sasaran pemberdayaan. Kebutuhan mahasiswa penerima beasiswa adalah dapat lulus dengan prestasi akademik yang baik. Syarat kelulusan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga kemampuan menyediakan dana pendidikan. Beasiswa yang diterima tidak memberikan bantuan penuh, maka penerima beasiswa juga membutuhkan sumber pendapatan selain beasiswa.
Rogers (2003) menyatakan bahwa efektivitas adalah tingkat kemampuan suatu program mencapai tujuannya. Boyle (1981) telah menjabarkan beberapa standar efektivitas berdasarkan jenis program. Efektivitas program pembangunan (developmental) diukur dari : (1) kualitas solusi atas permasalahan yang dihadapi; dan (2) tingkat kemampuan individu, kelompok atau masyarakat mengembangkan kemampuan penyelesaian masalah. Efektivitas program yang bersifat institusional diukur dari: (1) kompetensi yang dimiliki; dan (2) penilaian konsumen atau pihak yang memanfaatkan lembaga tersebut. Efektivitas program yang bersifat informatif diukur dari: (1) keterjangkauan program; dan (2) berapa banyak informasi tersebar.
11
Proses Belajar
Belajar adalah rangkaian kegiatan seseorang dalam rangka merubah perilakunya melalui pengalaman belajar. Setiap individu memiliki pengalaman belajar yang didapat dari interaksi keseharian. Pengalaman belajar dimaknai sebagai interaksi seseorang dengan materi belajar sehingga memiliki kesempatan untuk bereaksi. Pengalaman belajar seseorang tidak selalu identik dengan isi ajaran. Seorang individu dipenuhi oleh pengalaman belajar yang didapatkannya dari interaksi sehari-hari.
Rogers (1969) menyampaikan ada 10 prinsip belajar yaitu (1) setiap manusia memiliki potensi untuk belajar; (2) belajar menjadi bermakna jika selaras dengan tujuan yang ingin dicapai warga belajar; (3) belajar melibatkan adanya perubahan dalam diri individu; (4) belajar akan lebih mudah jika disesuaikan dengan kondisi diri warga belajar; (5) kenyamanan belajar akan menentukan keberlanjutan proses belajar; (6) belajar dengan praktek langsung akan memberikan hasil yang lebih signifikan; (7) belajar pada hakikatnya adalah memfasilitasi respon dari warga belajar; (8) belajar yang berdasarkan inisiatif warga belajar akan lebih efekti;, (9) evaluasi hasil belajar dilakukan secara mandiri, kreatif, dan berdasar pada kondisi warga belajar; dan (10) manfaat terbesar belajar adalah keberlanjutan dari perubahan perilaku seseorang. Hubungan antara individu dengan pengalaman belajar yang didapatkannya dari kehidupan sangat erat, sehingga proses belajar tidak bisa mengabaikan peran lingkungan belajar untuk mendukung capaian hasil belajar.
Salah satu teori belajar yang melihat belajar sebagai proses yang tidak bisa dilepaskan dari keterkaitan antara subjek belajar dan lingkungan adalah Teori Belajar Sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Teori belajar sosial melihat fungsi psikologis sebagai interaksi timbal balik yang berkelanjutan antara personal, perilaku, dan lingkungan. Bandura (1977) menyatakan bahwa faktor pribadi, perilaku, dan lingkungan beroperasi pada hubungan yang saling mempengaruhi.
P
B E
Gambar 1 Pandangan Teori Belajar Sosial tentang Interaksi
12
Kemampuan belajar dengan pengamatan akan memungkinkan seseorang untuk mendapatkan pengalaman yang lebih banyak, menghubungkan pola perilaku tanpa perlu mencoba benar dan salah yang membosankan. Bahkan beberapa perilaku yang komplek bisa dihasilkan hanya melalui peniruan. Salah satu sumbangan teori belajar sosial terhadap pendidikan adalah perlunya penyusunan dorongan lingkungan, memberikan dukungan kognitif secara umum, dan menghasilkan konsekuensi dari setiap tindakan sehingga setiap orang memiliki kemampuan untuk melatih beberapa ukuran kontrol dari perilaku mereka.
Bandura (Yusuf 2001) mengungkapkan bahwa proses kognitif yang mengantarkan perubah perilaku dipengaruhi oleh pengalaman yang mengarahkan untuk menuntaskan keterampilan. Mekanisme sosial yang memfasilitasi harapan-harapan pribadi remaja dipengaruhi oleh empat sumber, yaitu :
(1) Pengembangan keterampilan yang kondusif bagi perubahan tingkah laku, yaitu remaja diberi kesempatan berperilaku, mengobservasi orang lain yang menampilkan perilaku yang layak secara berhasil, atau diberikan pengalaman instruksi/mengajar sendiri.
(2) Pengalaman yang beragam, yang mana remaja mendapat kesempatan untuk memandang model-model simbolis yang memberikan sumber informasi penting yang dapat meningkatkan harapan-harapan dirinya.
(3) Persuasi verbal, seperti sugesti, dan teguran.
(4) Penciptaan situasi yang dapat mengurangi dorongan emosional yang mempunyai nilai-nilai informatis bagi kompetensi pribadi.
Pengamatan terhadap model, akan memberikan dampak berupa: (1) Pola-pola respon baru, ketika dia berfungsi sebagai pengamat.
(2) Memperkuat atau memperlemah respon-respon yang tidak diharapkan. (3) Mengamati tingkah laku orang lain dapat mendorong remaja untuk
melakukan kegiatan yang sama.
Sumbangan teori belajar sosial terhadap pendidikan adalah menyatakan perlunya penyusunan dorongan lingkungan dalam pendidikan. Ketika lingkungan disusun untuk memberikan dorongan positif, maka akan memberikan hasil belajar yang positif. Sebaliknya jika lingkungan tidak memberikan dorongan positif, maka akan memberikan hasil belajar yang negatif pula.
Senada dengan Bandura yang menyatakan perlunya model simbolis yang memungkinkan terjadinya belajar dengan peniruan, Boyd (tahun tidak diketahui) memaparkan lebih rinci tentang metode belajar yang bisa dikembangkan bagi warga belajar pada usia remaja. Boyd (tahun tidak diketahui) menyebutnya sebagai model ego – ideal. Model ego-ideal adalah metode belajar dengan terlebih dulu memaparkan profil yang ingin dicapai dari suatu proses belajar. Profil tersebut memiliki standar performa yang diinginkan sebagai hasil belajar. Keberadaan profil model akan memudahkan remaja untuk membayangkan tujuan yang ingin dicapai dari proses belajar. Jika guru atau fasilitator mampu menampilkan diri sebagai sosok profil model ideal bagi warga belajar remaja, maka proses belajar akan menjadi lebih mudah.
13
dengan terlebih dahulu menghadirkan persepsi visual tentang seperti apa profil yang akan dicapai dari proses belajar yang dijalani. Setelah itu barulah materi-materi belajar disampaikan. Gambar model ego-ideal dapat dilihat pada gambar berikut :
Youth
Identifies with
Gambar 2 Model Ego-Ideal Bagi Pendidikan Remaja
Remaja mulai melepaskan ketergantungan kepada orang tua. Kedekatan remaja akan beralih kepada teman sebaya ataupun orang dewasa yang berada di lingkungan tempat dia berada. Teman sebaya bagi mahasiswa antara lain teman mahasiswa di kampus, teman dalam organisasi, maupun teman di tempat tinggal baik berupa asrama, kos, ataupun rumah sewa. Orang dewasa yang berada di lingkungan kampus antara lain dosen, asisten dosen, petugas laboratorium, dan petugas di layanan akademik.
Mahasiswa penerima beasiswa juga berinteraksi dengan teman sebaya. Mahasiswa penerima beasiswa akan mengamati perilaku teman sebaya secara langsung. Pengamatan akan diikuti dengan pemilahan, perilaku apa yang baik atau buruk, cocok atau tidak cocok dengan dirinya. Pada akhirnya akan ada proses peniruan terhadap perilaku yang sesuai dengan individu mahasiswa penerima beasiswa.
Interaksi mahasiswa penerima beasiswa dengan orang dewasa di kampus diantaranya dengan dosen, asisten dosen, ataupun petugas-petugas di lingkungan kampus. Orang dewasa berperan penting dalam pengembangan keterampilan dan pengembangan pengalaman belajar mahasiswa penerima beasiswa. Selain itu, orang dewasa juga dapat melakukan kontrol terhadap perilaku mahasiswa penerima beasiswa. Bentuk kontrol dapat melalui pendekatan persuasif ataupun teguran apabila terjadi perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di kampus.
Lembaga pemberi beasiswa merupakan salah satu lingkungan bagi mahasiswa penerima beasiswa. Pemberian beasiswa dijalankan menurut prosedur yang ditetapkan oleh lembaga pemberi beasiswa. Termasuk di dalamnya adalah
Subject matter
a model provides standar of performance
Teacher amploys and
14
interaksi antara lembaga pemberi beasiswa dengan mahasiswa penerima beasiswa, dan hak serta kewajiban penerima beasiswa.
Pada pengelolaan beasiswa Beastudi Etos, proses belajar disebut sebagai pembinaan dan pendampingan. Pembinaan (coaching) merupakan proses pembelajaran untuk mengembangkan kapasitas seseorang (Thorne, 2005). Pada sebuah organisasi, pengembangan individu memiliki arti yang sama penting dengan mengembangkan organisasi itu sendiri. Pembinaan digunakan sebagai langkah awal menularkan pengetahuan (berbagi pengetahuan), kearifan, dan pengalaman untuk membantu mengembangkan perilaku, sikap, dan keterampilan yang baru. Pengembangan pembinaan lebih lanjut akan menghasilkan kondisi yang mana pembinaan dapat membantu proses perubahan, dapat diterima dan dihargai (Thorne, 2005).
Pembinaan (coaching) tidak semata merupakan upaya pemecahan masalah. Pembinaan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas. Pembinaan juga mengandung upaya pencarian, kesadaran, dan pilihan-pilihan yang akan diambil. Pembinaan menjadi salah satu upaya pemberdayaan yang efektif bagi seseorang untuk menemukan sendiri jawaban-jawaban, membangkitkan keingintahuan, dan mendorong mereka untuk memilih pilihan-pilihan penting dalam hidupnya (Whitworth et al, 2007).
Pembinaan (coaching) merupakan suatu cara membangun hubungan. Pembina (coach) adalah seseorang yang peduli yang kemudian mampu membuat orang mengatakan apa yang dia inginkan, dan kemudian mampu menggerakkan mereka untuk menempuh jalan seperti pilihan yang mereka buat (Whitworth et al, 2007). Pembina merupakan salah satu jenis agen perubahan yang mampu menjadi katalis yang mempercepat proses perubahan yang terjadi.
Thorne (2005) mengungkapkan ada lima prinsip yang diperlukan untuk mengubah performa seseorang yaitu : (1) menilai secara akurat kesiapan untuk berubah; (2) menyatakan dengan jelas arah strategi keseluruhan; (3) mengidentifikasi tahapan-tahapan kunci dari perjalanan yang akan dilalui dalam melakukan perubahan; (4) mendapatkan komitmen terhadap tujuan umum; (5) membangun proses untuk belajar dan berkembang.
Sebagaimana proses belajar, pembinaan juga memiliki kurikulum yang disusun sebagai panduan pembelajaran. Kurikulum adalah suatu proses mengorganisasikan pengalaman belajar untuk membentuk beberapa jenis program yang memiliki kesatuan sehingga menghasilkan efek perubahan pada orang yang belajar (Tyler, 1949).
Tyler (1949) mengungkapkan tiga kriteria dalam membentuk bangunan kurikulum yaitu keberlanjutan (continuity), urutan (sequence), dan integrasi. Keberlanjutan menunjukkan adanya pengulangan elemen-elemen kurikulum pada tingkatan yang semakin tinggi. Urutan adalah adanya pemecahan dari elemen-elemen kurikulum utama tetapi masih pada tingkat yang sama sehingga bisa mengembangkan pemahaman atau kemampuan atau sikap atau beberapa factor lain. Integrasi menunjukkan adalah hubungan horizontal atau sejajar antara berbagai pengalaman.
15
pelajaran dan urutan pokok-pokok bahasan yang memuat isi dan prosesnya; dan (4) rencana evaluasi.
Whitworth (2007) mengungkapkan bahwa terdapat empat pondasi dalam membangun pembinaan adalah : (1) kelayan pada dasarnya kreatif, banyak akal; (2) agenda datang dari kelayan; (3) pembina berdansa pada saat berlangsungnya pembinaan (setiap respon dari kelayan mengandung informasi tentang kemana arah pembinaan selanjutnya); (4) pembinaan ditujukan kepada kehidupan kelayan.
Proses belajar yang terjadi pada mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos meliputi kegiatan pembinaan dan pendampingan yang dilakukan dengan cara :
(1) Pembinaan merujuk pada kegiatan pertemuan berkala dengan materi yang sudah ditentukan dan menghadirkan nara sumber untuk menyampaikan materi. Narasumber tersebut bisa berasal dari internal Beastudi Etos maupun eksternal Beastudi Etos
(2) Pendampingan merujuk pada kegiatan rutin sehari-hari yang terorganisir dan melibatkan pendamping asrama dan mahasiswa penerima beasiswa. Kegiatan yang terorganisir memiliki arti bahwa kegiatan tersebut disusun berdasarkan perencanaan, adanya pembagian tugas, adanya laporan pelaksanaan, dan adanya monitoring dan evaluasi.
Perkembangan Remaja
Konopka (Yusuf 2001) membagi remaja menjadi tiga tahap yaitu remaja awal (12-15 tahun), remaja madya (15-18 tahun), dan remaja akhir (18-22 tahun). Remaja mulai mengembangkan kebebasan dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Remaja mulai belajar untuk bekerja sama pada minat-minat tertentu, dan menjaga jarak dengan orang yang berbeda (Havighurst 1974). Salzman (Yusuf 2001) mengemukakan bahwa remaja merupakan fase perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.
Havighurst (1974) menjabarkan tugas-tugas perkembangan pada remaja meliputi :
(1) Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya
16
(2) Menerima dan belajar memposisikan diri pada peran maskulin dan feminin; Remaja dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Indikator bahwa remaja berhasil menjalankan tugas perkembangan ini adalah : (1) remaja pria matang seksualnya, menyenangi acara yang diadakan kelompok, menyenangi lawan jenis, aktif berolah raga, memiliki minat untuk mempersiapkan diri dalam pekerjaan, mencari pengalaman kerja, dan menampilkan sisi maskulin; (2) remaja wanita memiliki fisik yang matang dan bersifat feminin dalam penampilan, menunjukkan sikap mau menerima pernikahan, menunjukkan minat dan sikap untuk memelihara bayi.
(3) Memberikan penilaian secara fisik
Pada tugas perkembangan ini remaja merasa bangga, atau bersikap toleran terhadap fisiknya, menggunakan dan memelihara fisiknya secara efektif dan merasa puas dengan fisiknya. Indikator remaja berhasil pada tugas perkembangan ini adalah : (1) mampu mengarahkan diri dalam memelihara kesehatan secara rutin; (2) memiliki keterampilan dalam berolahraga; (3) merasa senang untuk menerima dan memanfaatkan fisiknya; (4) memiliki pengetahuan tentang reproduksi; dan (5) memelihara dirinya secara hati-hati. (4) Melepaskan ketergantungan emosional dari orang tua maupun orang dewasa
lainnya
Hakikat tugas remaja pada bidang ini adalah : (1) membebaskan diri dari sikap dan perilaku kekanak-kanakan atau tergantung kepada orang tua; (2) mengembangkan afeksi (cinta kasih) kepada orang tua dan tanpa bergantung kepada orang tua; (3) mengembangkan sikap respek kepada orang dewasa lainnya tanpa merasa bergantung kepadanya. Ketika remaja mampu memenuhi tugas ini ditunjukkan dengan : (1) memiliki tujuan hidup yang realistik; (2) mengembangkan persepsi positif kepada orang lain; (3) mengembangkan kemampuan berpendapat dan mempertahankan pendapat; (4) ikut berpartisipasi dengan orang dewasa dalam kegiatan kemasyarakatan; (5) menerima konsekuensi dari perbuatan tanpa mengeluh; (6) berani bepergian sendiri; (7) meminta nasehat dari orang tua/orang dewasa hanya ketika mengalami masalah yang rumit.
(5) Mencapai jaminan kemandirian ekonomi
Remaja mampu menciptakan suatu mata pencaharian. Tugas ini sangat penting bagi remaja pria namun tidak begitu penting bagi remaja wanita. (6) Mempersiapkan pernikahan dan kehidupan keluarga
Remaja pada tugas ini mulai mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan serta mendapat pengetahuan tentang keluarga dan pemeliharaan anak.
(7) Memilih dan mempersiapkan pekerjaan (karir)
17
(8) Menunjukkan perilaku tanggung jawab sosial.
Hakikat tugas perkembangan ini adalah : (1) berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab sebagai masyarakat, (2) memperhitungkan nilai-nilai sosial dalam tingkah laku dirinya. Beberapa kegiatan sosial remaja yang umum dilakukan adalah perkumpulan permainan olah raga, perkumpulan sosial, dan perkumpulan sosial.
(9) Mengembangkan seperangkat nilai dan sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam bertingkah laku
Hakikat tugas ini adalah : (1) membentuk seperangkat nilai yang mungkin dapat direalisasikan; (2) mengembangkan kesadaran untuk merealisasikan nilai; (3) mengembangkan kesadaran akan hubungan dengan sesama manusia, memiliki gambaran hidup dan nilai-nilai yang dimilikinya sehingga dapat hidup selaras dengan orang lain. Konopka (Yusuf 2001) memandang masa remaja sebagai fase yang sangat penting bagi pembentukan nilai karena pembentukan nilai ini merupakan suatu proses emocional dan intelektual tingkat tinggi yang dipengaruhi oleh interaksi manusiawi. Nilai (value) pada diri individu berkembang dengan cara : (1) kepuasan pemenuhan dorongan fisiologis; (2) kepuasan pengalaman emosional; (3) pengalaman nyata dalam mendapatkan reward dan punishment; (4) pemberian cinta kasih dan persetujuan terhadap perbuatan yang diharapkan; (5) otoritas seseorang. (6) berpikir reflektif.
Prestasi Belajar
Proses belajar akan menghasilkan perubahan perilaku. Perubahan perilaku meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Opit 1996 dan Hawadi 2001 (Simanjuntak 2010) menyatakan bahwa prestasi belajar merupakan output sekolah yang sangat penting dan merupakan alat pengukur kemampuan kognitif siswa. Prestasi belajar menggambarkan penguasaan siswa terhadap materi belajar yang diberikan.
Menurut Hawadi (Simanjuntak 2010), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat berasal dari dalam dirinya (faktor internal) maupun dari faktor eksternal. Faktor internal meliputi :
(1) Kemampuan intelektual, berdasarkan penelitian ditemukan adanya korelasi positif dan cukup kuat antara taraf intelegensi dengan prestasi seseorang, yaitu berkisar 0.70.
(2) Minat.
Seseorang akan merasa senang melakukan sesuatu jika sesuai dengan minatnya.
(3) Bakat merupakan kapasitas untuk belajar dan karena itu baru terwujud jika sudah mendapat latihan
(4) Sikap
18
(5) Motivasi berprestasi
Semakin tinggi motivasi berprestasi seseorang, maka akan semakin baik prestasi yang diraihnya.
(6) Konsep diri,
Konsep diri menunjukkan bagaimana seseorang memandang dirinya serta kemampuan yang dimiliki.
(7) Sistem nilai.
Sistem nilai merupakan keyakinan yang dimiliki seseorang tentang cara bertingkah laku dan kondisi akhir yang diinginkannya. Sistem nilai yang dianut dapat mempengaruhi dan menentukan motivasi, gaya hidup, dan tindakan seseorang.
19
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran
Pemberian beasiswa bertujuan memberikan kesempatan pada mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi agar bisa mendapatkan pendidikan. Penerima beasiswa secara personal memiliki faktor internal berupa umur, kondisi keluarga dan motivasi untuk kuliah.
Beasiswa melalui pemberian bantuan biaya, pembinaan, dan pendampingan berupaya meningkatkan keberdayaan mahasiswa penerima beasiswa. Dukungan kelembagaan beasiswa terhadap mahasiswa penerima beasiswa terlihat dari sistem pengelolaan beasiswa. Pengelolaan beasiswa yang diukur dalam penelitian ini meliputi : (1) kemudahan persyaratan; (2) ketercukupan beasiswa; (3) keteraturan beasiswa; dan (4) kompetensi pendamping.
20
Kerangka pemikiran penelitian ini adalah :
Gambar 3 Kerangka Pemikiran Penelitian
Hipotesis
Efektivitas program beasiswa dalam meningkatkan prestasi mahasiswa dipengaruhi oleh karakteristik individu penerima beasiswa (X1), pengelolaan program beasiswa (X2), dan karakteristik sosial penerima beasiswa (X3).
Pengelolaan Program Beasiswa (X )
X2.1 Kemudahan persyaratan beasiswa
X2.2 Ketercukupan beasiswa X2.3 Keteraturan beasiswa X2.4 Kompetensi pendamping
Efektivitas Program Beasiswa (Y) Y1 Kepastian penyelesaian studi Y2 Prestasi akademis
Karakteristik social penerima beasiswa (X )
X3.1 Lingkungan akademik X3.2 Lingkungan kemahasiswaan X3.3 Lingkungan asrama
Karakteristik Mahasiswa Penerima Beasiswa (X )
X1.1 Umur
X1.2 Kondisi keluarga
21
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dengan metode deskriptif. Metode deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang situasi sosial dan kemungkinan adanya pengaruh yang signifikan antar variabel (Nasution, 2007).
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan kepada mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos Bogor dan Beastudi Etos Jakarta sebagai responden. Mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos Bogor berkuliah di Institut Pertanian Bogor, sedangkan mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos Jakarta berkuliah di Universitas Indonesia.
Pengambilan data dilakukan di asrama tempat tinggal penerima beasiswa Beastudi Etos. Asrama mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos Bogor beralamat Jl Babakan Raya, Dramaga. Asrama mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos Jakarta di Kukusan, dan Beji Depok.
Pengambilan data primer dilakukan selama bulan November – Desember 2013. Sedangkan pengambilan data sekunder dilakukan selama bulan Desember 2013 sampai dengan Januari 2014.
Populasi dan Sampel
Populasi adalah unit tempat diperolehnya informasi. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa penerima Beastudi Etos di Jabodetabek yang meliputi mahasiswa Universitas Indonesia (Depok), dan Institut Pertanian Bogor (Bogor). Populasi penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria mahasiswa yang telah menerima indeks prestasi (IP). Kriteria pemilihan tersebut dilakukan untuk kebutuhan analisis data prestasi mahasiswa.
22
Jenis Data
Jenis data adalah data primer dan sekunder. Data primer yang didapat berupa data hasil kuesioner dan wawancara dengan pengelola beasiswa. Data primer menjelaskan tentang karakteristik mahasiswa penerima beasiswa, karakteristik keluarga mahasiswa penerima beasiswa, pengelolaan program beasiswa, dan lingkungan sosial yang menjadi tempat interaksi mahasiswa penerima beasiswa.
Data sekunder berupa dokumen-dokumen pendukung yang memberikan informasi terkait kurikulum belajar mahasiswa penerima beasiswa, pelaksanaan proses belajar mahasiswa penerima beasiswa, dan gambaran kondisi asrama.
Definisi Operasional
Penelitian ini membatasi konsep peubah dan sub peubah sebagaimana di bawah ini :
(1) Karakteristik mahasiswa penerima beasiswa adalah ciri yang melekat pada responden yang menggambarkan kondisi responden pada saat penelitian dilakukan.
(2) Umur adalah usia responden yang dihitung dari pertama responden dilahirkan hingga penelitian ini dilakukan.
(3) Kondisi keluarga adalah gambaran kondisi keluarga responden saat penelitian ini dilakukan. Kondisi keluarga meliputi : (1) jumlah pendapatan keluarga; (2) jumlah anggota keluarga; (3) pekerjaan orang tua responden; dan (4) kemampuan keluarga responden untuk memenuhi kebutuhan primer. (4) Motivasi untuk kuliah merupakan alasan yang mendasari mahasiswa
penerima beasiswa untuk kuliah. Kuatnya motivasi dalam penelitian ini dilihat dari berapa banyak alasan responden untuk kuliah.
(5) Kemudahan persyaratan beasiswa adalah persepsi responden tentang persyaratan-persyaratan beasiswa Beastudi Etos yang dianggap mudah oleh responden. Hal ini berkaitan dengan konsep kemudahan akses program pemberdayaan bagi kelompok sasaran.
(6) Ketercukupan beasiswa adalah penilaian responden tentang jenis dan jumlah beasiswa yang diberikan oleh beasiswa Beastudi Etos dalam memenuhi kebutuhan penerima beasiswa.
(7) Keteraturan beasiswa adalah persepsi mahasiswa penerima beasiswa tentang ketepatan waktu dan jumlah beasiswa yang diterima.
(8) Kompetensi pendamping adalah persepsi responden tentang sikap pendamping dalam menjalankan fungsi dan peran pendampingan.
(9) Karakteristik sosial adalah kondisi eksternal di sekitar mahasiswa penerima beasiswa yang menjadi tempat interaksi responden selama kuliah.
23
(11) Lingkungan kemahasiswaan adalah kondisi interaksi mahasiswa penerima beasiswa dengan mahasiswa lain secara personal maupun dalam organisasi kemahasiswaan.
(12) Lingkungan asrama adalah kondisi fisik asrama dan interaksi responden dengan sesama mahasiswa penerima beasiswa Beastudi Etos dan pendamping
(13) Kepastian penyelesaian studi pada penelitian ini dilihat dari kemampuan responden memenuhi kebutuhan biaya-biaya baik biaya pendidikan, maupun biaya hidup selama menjalani perkuliahan. Dasar penentuan sub peubah ini adalah karena beasiswa yang diterima responden adalah beasiswa tidak penuh, sehingga ketersediaan biaya bisa menjadi indikator peluang kepastian penyelesaian studi lebih besar.
(14) Prestasi akademik adalah capaian hasil belajar responden yang ditandai dengan Indeks Prestasi dan prestasi di bidang karya ilmiah.
(15) Efektivitas program beasiswa merupakan tingkat kemampuan program beasiswa membentuk penerima beasiswa yang berprestasi baik secara akademik, dan kepastian penyelesaian studi.
Matriks Pengembangan Instrumen
24
Tabel 2 Sub peubah, indikator, dan pengukuran peubah karakteristik individu
Sub peubah Indikator Pengukuran
Analisis Deskriptif Uji Regresi Umur 1. Sangat rendah (tidak
25
Tabel 3 Sub peubah, indikator, dan pengukuran peubah pengelolaan beasiswa
Sub peubah Indikator Pengukuran
Analisis Deskriptif Uji Regresi
Kemudahan 1. Rendah : kesenjangan
> Rp 250.000
26
Tabel 4 Sub peubah, indikator, dan pengukuran peubah karakteristik sosial penerima beasiswa
Sub peubah Indikator Pengukuran
27
Tabel 5 Sub peubah, indikator, pengukuran efektivitas program beasiswa
Sub peubah Indikator Pengukuran
Analisis Deskriptif Uji Regresi Kepastian
Validitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan validitas sejalan (concuren validity). Validitas sejalan mempertanyakan apakah kemampuan dan atau karakteristik subjek penelitian dalam suatu bidang sesuai dengan kemampuan dan atau karakteristiknya terhadap bidang-bidang lain yang sejenis (Nurgiantoro et al 2004). Validitas sejalan dianalisis dengan teknik korelasi product moment.
N (∑XY) –(∑X ∑Y) r =
√ [N∑X2–
(∑�)2] [N∑Y2–(∑Y)2]
Gambar 4 Rumus Korelasi Product Moment
28
Reliabilitas instrumen adalah ketetapan alat evaluasi dalam mengukur atau ketetapan dalam menjawab. Jika alat tes reliabel, maka hasil dari dua kali atau lebih pengevaluasian dengan dua atau lebih alat evaluasi yang ekivalen pada masing-masing pengetasan akan sama (Ruseffendi, 1994). Pengukuran reliabilitas instrument menggunakan Alpha Cronbach. Reliabilitas Alpha Cronbach dapat dipergunakan dapat dipergunakan baik untuk instrument yang jawabannya berskala maupun yang bersifat dikotomis (Nurgiantoro et al 2004). Analisis dengan Alpha Cronbach menggunakan program SPSS 16.
Pada penelitian ini, validitas diukur dengan cara melakukan uji kuesioner terlebih dahulu terhadap 27 orang mahasiswa penerima Beastudi Etos daerah Semarang. Angka kritis yang digunakan dalam uji reliabilitas instrumen ini adalah angka kritis untuk taraf nyata sepuluh persen dan n = 27 yaitu sebesar 0.311.
Tabel 6 Hasil uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian
No Peubah penelitian Validitas
(r-hitung) 2 Keteraturan penerimaan beasiswa
(X2.3)
1 Kepastian penyelesaian studi (Y1) 0.897
2 Prestasi akademik (Y2) 0.638 0.466
Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan tiga metode, yaitu : (1) analisis deskriptif; (2) analisis pengaruh melalui uji regresi; dan (3) analisis kualitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan peubah-peubah yang digunakan dalam penelitian ini. Peubah-peubah-peubah pada penelitian ini terdiri dari karakteristik individu responden, pengelolaan program beasiswa, lingkungan sosial, kepastian penyelesaian studi, dan prestasi akademis.
29
terhadap peubah terikat. Penelitian ini menggunakan tiga peubah bebas dan satu peubah terikat. Oleh karena itu analisis data menggunakan analisis regresi berganda. Analisis regresi berganda digunakan jika peubah bebas yang digunakan lebih dari satu. Analisis regresi berganda pada penelitian ini menggunakan tingkat kepercayaan yang diharapkan sebesar 90 persen.
Analisis regresi mensyaratkan bahwa data harus berskala interval atau rasio. Data-data penelitian yang masih berupa data ordinal ditransformasi terlebih dahulu agar menjadi data interval dengan menggunakan method of successive interval (MSI). Penghitungan MSI menggunakan program excel khususnya program tambahan stat97.xla.