• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan sensus pertanian tahun 2003, jumlah penduduk GPP Padaido sebanyak 3.975 jiwa dengan jumlah keluarga sebesar 975 keluarga yang tersebar di 19 desa dalam 8 pulau. Penduduk laki-laki sebanyak 2.097 jiwa dan perempuan sebesar 1.978 jiwa. Distribusi penduduk berdasarkan desa dan pulau disajikan pada Tabel 10.

Berdasarkan tingkat pendidikan, penduduk GPP Padaido yang tamat sekolah menengah umum (SMU) sebesar 9.71%, yang tamat sekolah menengah pertama sebesar 20.13% dan yang tidak tamat sekolah dasar (SD) sebesar 30.79%. Penduduk yang tidak sekolah sebesar 39.20% (Kabupaten Biak Numfor, 2001).

Tabel 11.

Kondisi Penduduk GPP Padaido, Distrik Padaido, Biak Numfor

Penduduk No Pulau Desa Laki-Laki Perempuan Jumlah Keluarga 1 Auki Auki 130 108 238 59 Sandidori 58 50 108 38 2 Wundi Wundi 154 129 283 70 Sorina 83 80 163 36 3 Nusi Nusi 167 156 323 71 Nusi Babaruk 140 89 229 55 4 Pai Pai 157 122 279 69 Imbeyomi 97 78 175 43 5 Padaidori Sasari 147 170 317 79 Mnupisen 51 56 107 29

6 Mbromsi Nyansoren 119 130 249 61 Saribra 124 106 230 49 Mbromsi 131 121 252 63 Karabai 18 14 32 16 7 Pasi Pasi 207 178 385 87 Samber Pasi 85 77 162 35 8 Mangguandi Mangguandi 72 75 147 36 Suprima 98 82 180 45 Jumlah 2097 1878 3975 975

Sumber : Hasil Sensus Pertanian Maret 2003, BPS Biak-Numfor.

3.5.2 Sarana Sosial

Sarana sosial yang terdapat di GPP Padaido, Distrik Padaido, meliputi sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan dan sarana perekonomian. Sarana pendidikan terdiri dari SD Impres sebanyak 2 bangunan terdapat di Pulau Nusi, SD Negeri sebanyak 1 bangunan terletak di Pulau Auki dan SD Swasta sebanyak 9 bangunan terletak di Pulau Wundi, Pulau Nusi, Pulau Pai, Pulau Mangguandi, Pulau Pasi, Pulau Mbromsi dan Pulau Padaidori. Ini menunjukkan bahwa di pulau-pulau berpenduduk terdapat satu sekolah dasar. Sekolah Menegah Pertama (SMP) negeri hanya terdapat di Pulau Mbromsi, sedangkan Sekolah Menegah Umum (SMU) tidak dijumpai di Distrik Padaido.

Sarana kesehatan terdiri dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Puskesmas Pembantu dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Puskesmas sebanyak 2 bangunan terdapat di Pulau Wundi dan Pulau Pasi. Puskesmas pembantu sebanyak 2 bangunan, masing-masing terdapat di Pulau Mangguandi dan Pulau Padaidori, sedangkan Posyandu terdapat di seluruh kampung.

Sarana peribadatan seperti gereja dijumpai di setiap pulau yang berpenduduk, sedangkan sarana peribadatan lain tidak ada. Jumlah gereja yang terdapat di Distrik Padaido sebanyak 12 bangunan.

Sarana perekonomian yang ada di GPP Padaido berupa kios-kios penduduk. Kios-kios ini melayani kebutuhan utama penduduk, seperti supermie, rokok, gula, kopi, beras dan lain-lain. Paling sedikit terdapat satu kios di tiap desa/pulau yang berpenduduk.

Tabel 12.

Tingkat Pendidikan Penduduk GPP Padaido, Distrik Padaido.

Pulau Kampung Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SMP Tamat SMU Auki Auki Sandodori 112 92 60 37 Wundi Wundi Sorina 138 106 86 46 Nusi 110 82 59 27 Nusi Nusi Babaruk 94 71 48 25 Pai Pai Imbeyomi 145 127 73 36 Mangguandi Meomangguandi Supraima 113 89 58 26 Samber Pasi 59 45 22 2 Pasi Pasi 129 108 63 31 Nyansoren 85 63 47 21 Mbromsi Karabai 101 82 51 15 Mbromsi Saribra 78 62 40 18 Mnupisen Yeri 79 60 33 14 Sasari 114 79 57 28 Padaidori Jumlah 1357 1066 697 336 Prosentase 39.20% 30.79% 20.13% 9.71% Sumber : Kabupaten Biak Numfor, 2001.

Selain sarana sosial tersebut di atas, terdapat sarana pariwisata dan sarana angkutan nelayan. Sarana pariwisata berupa pondok wisata sebanyak 3 bangunan terletak di pulau Wundi (1 bangunan) dan pulau Dauwi (2 bangunan). Sarana ini dikelola oleh masyarakat.

Sarana angkutan umum, seperti kapal atau perahu motor yang melayani GPP Padaido dengan pulau Biak pergi-pulang belum tersedia. Penduduk GPP Padaido yang akan ke Biak menumpang perahu motor nelayan pada setiap hari pasar (selasa, kamis dan sabtu) dengan membayar sejumlah uang, rata-rata Rp 20.000 untuk pergi-pulang untuk GPP Padaido Bawah dan rata-rata Rp 40.000 untuk GPP Padaido Atas. Untuk keperluan mendesak ke GPP Padaido, orang menyewa perahu motor nelayan dengan ongkos sewa yang bervariasi, tergantung jarak yang dituju. Untuk pulau-pulau GPP Padaido Bawah biaya sewa rata-rata Rp.300.000-Rp.400.000 dan Rp.600.000 - Rp.800.000 untuk GPP Padaido Atas.

3.5.3 Perekonomian dan Industri

Berdasarkan sensus pertanian 2003, perekonomian penduduk GPP Padaido berasal dari bidang pertanian, yaitu tanaman pangan, perkebunan, peternakan, dan perikanan (penangkap ikan dan budidaya rumput laut). Perekonomian sebagian besar penduduk bertumpu pada perikanan tangkap dan perkebunan (kelapa), sedangkan sebagian kecil berasal dari peternakan (babi, ayam kampung dan itik), pertanian tanaman pangan (ketela pohon dan umbi-umbian) dan budidaya laut (rumput laut). Hanya penduduk di Pulau Padaidori, Pulau Mbromsi dan Pulau Pasi yang berusaha di pertanian tanaman pangan, sementara penduduk di Pulau Wundi dan Pulau Nusi berusaha di perikanan budidaya laut (BPS Biak, 2003).

Tabel 13.

Keadaan Keluarga Pertanian GPP Padaido, Biak Numfor

No Pulau Desa Tanaman

Pangan Perkebu nan Peterna kan Penangkap ikan Budidaya laut 1 Auki Auki - 23 8 30 - Sandidori - 18 8 32 - 2 Wundi Wundi - 42 7 50 14 Sorina - 23 6 32 - 3 Nusi Nusi - 60 14 70 15 Nusi Babaruk - 41 10 50 17 4 Pai Pai - 51 10 56 - Imbeyomi - 32 11 43 - 5 Padaidori Sasari 26 50 13 65 - Mnupisen 25 18 11 20 - Yeri 26 12 10 32 - 6 Mbromsi Nyansoren 12 45 12 55 - Saribra 14 30 12 41 - Mbromsi 21 41 7 76 - Karabai - 10 4 13 - 7 Pasi Pasi 27 62 20 80 - Samber Pasi - 16 7 33 - 8 Mangguandi Mangguandi - 30 8 32 - Suprima - 43 5 34 - Jumlah 151 647 183 844 46 15.49% 66.36% 18.77% 86.56% 4.72%

Sumber : Hasil Sensus Pertanian Maret 2003, BPS Biak-Numfor.

Sarana perikanan tangkap di GPP Padaido terdiri dari perahu tak bermotor dan perahu motor tempel. Perahu tak bermotor memiliki jumlah sebanyak 728 unit, sedangkan perahu motor temperl hanya 78 unit. Ini menunjukkan bahwa 90.3% rumah tangga nelayan masih tradisional. Alat penangkapan ikan yang umum digunakan

adalah jaring insang (gill net), pancing (hook and line) dan alat tangkap lain (panah dan tombak) (Kabupaten Biak Numfor, 2002).

Industri keluarga yang berkembang di GPP Padaido adalah minyak kelapa, ikan asin dan ikan asar/asap. Rata-rata setiap pulau memiliki 2 unit usaha dengan menyerap tenaga kerja rata-rata sebanyak 43 orang. Pada tahun 2000 nilai produksi industri keluarga sebesar Rp 289.945.000 (dua ratus delapan puluh sembilan juta sembilan ratus empat puluh lima ribu rupiah) (Kabupaten Biak Numfor, 2002).

Tabel 14.

Sarana Perikanan Tangkap di Kepulauan Padaido

No Pulau Perahu Tak Bermotor Perahu Motor Tempel Jumlah 1 Auki 67 8 75 2 Wundi 83 7 90 3 Nusi 114 9 123 4 Pai 85 9 94 5 Padaidori 82 11 93 6 Mbromsi 122 18 140 7 Pasi 106 10 116 8 Mangguandi 69 6 75 Jumlah 728 78 806

Sumber : Kabupaten Biak Numfor, 2002.

3.5.4 Sosial Budaya

Penduduk yang mendiami GPP Padaido berasal dari Pulau Biak, beretnis Biak yang termasuk ras Irian dan Melanesia Negroid. Orang Biak bertubuh tipe Pyeknis, yaitu tegap, berotot, serasi dan tinggi. Karena terjadi perang suku, mereka yang berasal dari suku Anobo, yaitu dari Biak Utara-Saba-Mnurwa, pindah dan menetap di Pulau Mbromsi dengan kampung bernama Saribra. Setelah aman di Saribra, mereka menyebar ke pulau-pulau lain untuk berkebun dan menetap. Penduduk pertama ini merasa sebagai pemilik pulau-pulau yang berada di GPP Padaido Atas.

Pada tahap selanjutnya, ketika Belanda berkuasa, mereka mendatangkan penduduk dari desa-desa di Pesisir Timur Biak ke GPP Padaido untuk membuka perkebunan kelapa dengan sistem kerja paksa. Sistem ini dikenal dengan nama

landscap. Penduduk pendatang diharuskan menanam kelapa di Pulau Wundi, Pulau

lagi dan memilih menetap di pulau, yaitu Pulau Pasi, Pulau Mbromsi, Pulau Mangguandi, Pulau Auki, Pulau Wundi, Pulau Nusi dan Pulau Pai. Sebagai pendatang mereka hanya menempati pulau dan mengambil hasilnya tetapi pulau yang ditempati merupakan milik orang-orang Padaidori (Yayasan Rumsram, 2000 dan Laksono, et al, 2001).

Dalam komunikasi sehari-hari masyarakat GPP Padaido menggunakan bahasa Biak dan bahasa Indonesia. Bahasa Biak (wos Biak) termasuk kedalam phylum Melanesia dengan 11 logat/dialek yang relatif tidak berbeda dan digunakan antar sesama orang Biak. Dalam kondisi tertentu seperti ibadah gereja, pertemuan-pertemuan, proses belajar-mengajar di sekolah dan pertemuan dengan orang bukan Biak digunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia telah berkembang dengan baik di GPP Padaido.

Penduduk GPP Padaido memiliki sistem kekerabatan yang dikenal dengan nama “keret” (mata rumah). Sifat-sifat yang menonjol dari sistem ini yaitu perkawinan harus dengan marga lain (eksogam), mengambil garis keturunan ayah/laki-laki (patrilineal) dan tempat tinggal sesudah menikah di lingkungan laki-laki (patrilokal). Keret sebenarnya berarti suatu tempat yang tinggi yang terletak di tengah-tengah perahu besar. Keluarga inti terletak di keret dan memiliki sistem sosial ekonomi dan politik yang berdiri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang paman (saudara laki-laki ibu atau bapak) memainkan peranan penting dalam kehidupan orang-orang biak. Seorang paman menjadi pemimpin dan pelaku upacara insiasi yang merupakan tahapan penting dalam kehidupan masyarakat. Upacara insiasi tersebut antara lain upacara perkawinan adat (yakyaku), upacara mengenakan baju pada anak kecil (farmawas), upacara memberi gelar (sab-sider) sistem kekerabatan dan kepemimpinan tradisional, sistem kepemimpinan yang diwariskan (manseren mau) serta lembaga peradilan adat (kankin

karkara).

Seorang laki-laki yang telah menikah akan mendapatkan bagian tanah sebagai lahan untuk berkebun untuk menghidupi keluarganya. Lahan yang diberikan kepada laki-laki adalah tanah yang dimiliki oleh keret.

Rumsram adalah tempat tinggal bujangan yang berfungsi sebagai tempat atau pusat pendidikan dan pemujaan roh-roh nenek moyang. Di tempat tersebut anak-anak belajar melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kelak akan dilakukan bila sudah dewasa

dan menjadi anggota manyarakat. Mereka dilatih berburu, menangkap ikan, membuat ladang, berperang dan melakukan pekerjaan dengan keahlian khusus, seperti membuat perahu. Di dalam Rumsram juga diadakan pendidikan keagamaan.

Sebelum mengenal agama, orang-orang Biak mempercayai apa yang mereka sebut Manseren Nanggi (Tuhan Langit), yaitu bahwa segala kehidupan di bumi ini berada dibawah wewenang Nanggi. Nanggilah yang dianggap sebagai pusat alam semesta. Selain itu, mereka juga percaya roh nenek moyang (korwar). Korwar dianggap mempunyai kekuatan tertentu yang bisa memberi banyak hasil buruan dan juga ketika berperang.

Agama kristen masuk ke Biak bersamaan dengan kedatangan orang Belanda. Agama kristen masuk di Biak pada 26 April 1908. Masuknya agama kristen di Biak telah memberikan perubahan yang besar dalam sistem kehidupan masyarakat. Agama Kristen Protestan merupakan agama yang terbesar dan untuk penduduk GPP Padaido umumnya beragama kristen protestan (99,62 %). Penduduk yang beragama islam dan budha masing-masing 0,29% dan 0,09% (Kabupaten Biak Numfor, 2002). Dampak perubahan yang dibawa oleh Belanda dan organisasi penyiaran terhadap masyarakat Biak pada umumnya adalah:

(1) Perubahan bentuk pranata sosial dari bentuk pemerintahan lokal dan khusus menjadi pemerintahan yang diatur oleh pusat

(2) Pranata ekonomi dari sistem barter menjadi sistem ekonomi uang

(3) Sistem keyakinan yang semula kepada Manseren Naggi dan roh nenek moyang berubah menjadi kenyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa

(4) Dalam acara-acara adat, seperti orang harus melaksanakan Sababu (upacara turun tanah) menjadi upacara gerejawi, upacara Kapanakniki (pengguntingan rambut) menjadi permandian gerejawi dan acara Kbor menjadi sidi. Dengan demikian peranan rumsram telah diambil oleh peranan gereja.

(5) Peranan Me dalam bidang pendidikan diganti oleh guru atau pendeta.

Dokumen terkait