• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Linguistik Historis Komparatif

Linguistik Historis Komparatif adalah suatu cabang dari ilmu bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu serta perubahan-perubahan unsur bahasa yang terjadi dalam bidang waktu tersebut. Linguistik Bandingan historis pertama-tama merupakan sebuah cabang ilmu bahasa yang membandingkan bahasa-bahasa yang tidak memiliki data-data tertulis atau suatu cabang ilmu bahasa yang lebih menekankan teknik dalam prasejarah bahasa. Bahasa adalah suatu alat pada manusia untuk menyatukan tanggapannya terhadap alam sekitar atau peristiwa-peristiwa yang dialami secara individual atau secara bersama-sama.

Tujuan Linguistik Bandingan Historis adalah untuk mempersoalkan bahasa-bahasa yang serumpun dengan mengadakan perbandingan mengenai unsur-unsur yang menunjukkan kekerabatannya, mengadakan rekonstruksi bahasa yang ada dewasa ini kepada bahasa purba (bahasa proto) bahasa yang

menurunkan bahasa kontemporer dan mengadakan pengelompokan (sub- grouping) atau bahasa-bahasa yang termasuk dalam suatu rumpun bahasa (Keraf 1991:22-23). Selain itu, kajian historis juga membicarakan tingkat kekerabatan bahasa secara fonetis serta perubahan-perubahannya lewat korespondensi bunyi dan variasi bunyi yang terdapat dalam bahasa-bahasa yang berkerabat menetapkan waktu pisah bahasa-bahasa yang dibicarakan, juga memperkirakan waktu pisah kedua bahasa tersebut dan persamaan dan perbedaan leksikon (kosakata) melalui metode-metode tertentu.

2.2.2 Perubahan Bunyi

Perubahan bunyi yang muncul secara teratur disebut korespondensi, sedangkan perubahan bunyi yang muncul secara sporadis disebut variasi (Mahsun, 1995:28). Variasi bunyi dapat berupa perubahan dari yang sama menjadi berbeda, dari yang berbeda menjadi sama. Perubahan bunyi yang tergolong variasi adalah:

1.Asimilasi

Asimilasi merupakan suatu proses perubahan bunyi dari dua fonem yang berbeda dalam bahasa proto yang mengalami perubahan bahasa sekarang menjadi fonem yang sama. Penyamaan kedua fonem itu dapat berwujud fonem yang mendahului disamakan dengan fonem yang menyusulnya atau fonem kedua disamakan dengan fonem yang mendahuluinya. Bila fonem yang mengalami perubahan itu terletak sebelum fonem yang mempengaruhinya, maka perubahan itu disebut asimilasi regresif. Bila fonem berikutnya yang berubah dan

disesuaikan dengan fonem sebelumnya maka asimilasi semacam itu disebut asimilasi progresif.

Melihat sifat penyamaan yang terjadi maka asimilasi dapat dibedakan asimilasi total dan asimilasi parsial. Asimilasi total terjadi bila kedua bunyi disamakan secara identik. Sebaliknya bila hanya sebagian ciri artikulatoris atau fonetis yang disamakan maka akan diperoleh asimilasi parsial. Dalam bahasa Batak Toba dan Batak Simalungun misalnya banyak terjadi asimilasi bunyi.

Contoh:

Glos Batak Toba Batak Simalungun Asimilasinya

Panjang Ganjang Gajjang nj menjadi jj

Sempit Sompit Soppit mp menjadi pp

3. Disimilasi

Verhaar (1996:86) menyatakan bahwa disimilasi adalah perubahan bunyi dari dua bunyi yang sama atau mirip menjadi bunyi yang tidak sama atau berbeda.Disimilasi merupakan kebalikan dari asimilasi. Jika asimilasi perubahan yang tidak sama menjadi sama, dalam disimilasi perubahan bunyi terjadi dari yang sama menjadi tidak sama. Dalam bahasa Proto Austronesia (PAN) Batak Toba dan Batak Simalungun hal ini terjadi:

Contoh: Batak Toba dan Batak Simalungun

Glos Batak Toba Disimilasinya

kapan andingan addigan

sakit hancit haccit

Glos Batak Simalungun Disimilasinya

licin landit laddit

rambut jambulan jabbulan

3. Metatesis

Metatesis merupakan perubahan bunyi yang berkaitan dengan perubahan letak bunyi-bunyi bahasa. Perubahan letak bunyi-bunyi ini akan menghasilkan kata-kata yang berbeda, tetapi masih berada dalam lingkup makna yang sama atau mirip seperti dalam kata-kata Indonesia atau Melayu berikut:

rontal lontar

peluk pekul

beting tebing

2.2.3 Tinjauan Pustaka

Balu (2014) dalam skripsinya “Kekerabatan Bahasa Banggai, Bahasa Saluan, dan Bahasa Balantak di Kota Luwuk Provinsi Sulawesi Tengah” menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Teknik yang dipakai adalah teknik cakap, teknit rekam, dan teknik catat. Teori yang digunakan adalah linguistik historis komparatif dengan menggunakan daftar kosa kata Swades yang

berjumlah dua ratus kata. Hasil penelitian yang telah dilakukan ternyata bahasa Banggai dan bahasa Saluan, bahasa Banggai dan bahasa Balantak serta bahasa Saluan dan bahasa Balantak mempunyai hubungan kekerabatan pada tingkat keluarga bahasa, yang diberi nama keluarga bahasa Banggai Saluan Balantak dan ketiganya memiliki induk (moyang) bahasa yang sama, yang diberi nama Protobahasa Banggai Saluan Balantak. Namun, jika di lihat dari persentase kekerabatan, bahasa Saluan dan bahasa Balantak memiliki hubungan yang lebih dekat daripada hubungan masing masing kedua bahasa itu dengan bahasa Banggai, sehingga secara hipotesis dapat dikatakan bahwa bahasa Saluan dan bahasa Balantak berasal dari satu subkeluarga bahasa, yakni subkeluarga Protobahasa Saluan Balantak. Berpisahnya bahasa Banggai dan bahasa Saluan terjadi 2230 tahun + 230 tahun, artinya di antara ( 2230 + 230) tahun dan (2230-230) tahun yang lalu. Berpisahnya bahasa Banggai dan bahasa Balantak terjadi 2170 tahun + 230 tahun, artinya di antara (2170 + 230) tahun dan ( 2170-230) tahun yang lalu. Berpisahnya bahasa Saluan dan bahasa Balantak terjadi 1780 tahun +190 tahun, artinya di antara (1780+190) tahun dan (1780-190) tahun yang lalu ( 1991:50-51). Tulisan ini memberikan sumbangan bagi penulis dalam memahami cara kerja tingkat kekerabatan bahasa.

Meliana (2013) dalam skripsinya “Kekerabatan Bahasa Batak Toba Dengan Batak Mandailing” menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Teknik yang digunakan adalah teknik leksikostatistik dan glotokonologi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik pancing, teknik lanjut catat, dan teknik rekam. Teori yang digunakan adalah Linguistik Historis Komparatif dengan menggunakan daftar kosakata Swades yang

berjumlah dua ratus kata. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1). Berdasarkan perhitungan teknik leksikostatistik dari dua ratus kosakata Swadesh bahasa Batak Toba dengan bahasa Batak Mandailing terdiri atas 128 kosa kata kerabat dan 78 kosakata tidak berkerabat. Persentase kekerabatan kedua bahasa tersebut adalah 64%. Hubungan antara bahasa Batak Toba dengan bahasa Batak Mandailing dapat ditetapkan sebagai bahasa yang berasal dari satu sub keluarga. (2). Berdasarkan perhitungan teknik glotokronologi, waktu pisah antara bahasa Batak Toba dengan bahasa Batak Mandailing adalah 1.207 tahun yang lalu terhitung dari tahun 2013. Bukti- bukti korespondensi bunyi antara bahasa Batak Toba dengan bahasa Batak Mandailing berdasarkan kosakata Swadesh dapat dilihat dalam beberapa kriteria, 86 kata pasangan identik, 16 kata satu fonem berbeda, 11 kata aferesis, satu kata unpacking, dua kata kluster reduksi, satu kata kompresi, dua kata fusi, dua kata protesis, dua kata kemiripan secara fonetis, dua kata korespondensi fonemis, dua kata ekresence, satu kata disimilasi, dan 72 kata yang tidak berkerabat. Jadi, total kosakata kerabat adalah 128 kata. Penelitian ini memberikan sumbangan bagi penulis tentang kategori – kategori tentang tingkatatan kekerabatan bahasa.

Juliana (2012) dalam tesisnya “Kekerabatan Bahasa Batak, Bahasa Nias, dan Bahasa Melayu” mempunyai kekerabatan bahasa dibahas dalam Linguistik Historis Komparatif. Pada linguistik historis komparatif bahasa-bahasa dibandingkan satu dengan yang lain guna mengetahui tingkat kekerabatannya. Bahasa Nias, bahasa Batak, dan bahasa Melayu merupakan bahasa-bahasa yang hidup berdekatan secara geografi sehingga diasumsikan memiliki kekerabatan yang erat. Pada kenyataannya, ketiga bahasa ini memiliki perbedaan yang cukup

jauh sehingga dilakukan penelitian untuk mengetahui tingkat kekerabatannya. Kekerabatan bahasa dapat diketahui dengan teknik leksikostatistik. Dalam leksikostatistik, kekerabatan bahasa dilihat berdasarkan persamaan bunyi-bunyi yang ada dalam leksikon yang muncul pada bahasa-bahasa tersebut. Kemiripan secara fonetis ini akan menjadi dasar apakah sebuah kata dalam satu bahasa memiliki hubungan dengan bahasa yang lain. Indikator yang digunakan untuk menentukan kata berkerabat adalah kosa kata dasar yang disebut kosa kata dasar Swadesh yang berjumlah dua ratus kosa kata yang dianggap ada pada semua bahasa di dunia. Dengan menggunakan teknik ini diketahui bahwa dari ketiga bahasa yang dibandingkan, hubungan kekerabatan yang paling erat terdapat pada bahasa Batak dengan bahasa Melayu selanjutnya bahasa Batak dengan bahasa Nias, dan hubungan kekerabatan yang paling renggang adalah bahasa Nias dengan bahasa Melayu. Penelitian ini memberikan sumbangan bagi penulis dalam memahami dan mengaplikasikan cara kerja tingkat kekerabatan dilihat dari waktu pisah dan jangka kesalahannya dengan menggunakan rumus leksikostatistik.

Novita (2012) dalam skripsinya “Leksikostatistik bahasa Aceh, bahasa alas ,dan bahasa Gayo: Kajian Linguistik Historis Komparatif” mengkaji bahasa Aceh, bahasa Alas, dan bahasa Gayo yang termasuk ke dalam rumpun Austronesia atau Melayu Polinesia. Asumsi mengenai kekerabatan ketiga bahasa yakni pada kenyataan adanya kesamaan dan kemiripan dalam bentuk dan makna yang merupakan pantulan dari warisan sejarah yang sama. Hubungan kekerabatan dan waktu pisah antara bahasa Aceh, bahasa Alas, dan bahasa Gayo dalam penelitian ini dikaji dengan menggunakan metode pengelompokan bahasa serta teknik leksikostatistik. Tahap pertama mengumpulkan dua ratus kosakata

dasar yang disusun oleh Morris Swades. Metode yang digunakan dalam penyediaan data ini adalah metode referensial sedangkan teknik yang digunakan teknik catat. Kedua, menetapkan pasangan-pasangan mana dari ketiga bahasa tadi yang merupakan bahasa kerabat (cognate). Ketiga, menghitung usia dan waktu pisah ketiga bahasa. Keempat, menghitung jangka kesalahan untuk menetapkan waktu pisah yang lebih tepat. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahasa Aceh, bahasa Alas, dan bahasa Gayo termasuk dalam kategori keluarga (family) bahasa. Persentase kata kerabat bahasa Aceh dan bahasa Alas sebesar 53%, bahasa Aceh dan bahasa Gayo sebesar 57%, bahasa Alas dan bahasa Gayo sebesar 62%. Bahasa Aceh dan bahasa Alas merupakan bahasa tunggal pada 1590-1336 tahun yang lalu, diperkirakan mulai berpisah dari bahasa Proto kira-kira tahun 422-676 M. Bahasa Aceh dan bahasa Gayo merupakan bahasa tunggal pada 1411-1177 tahun yang lalu, diperkirakan mulai berpisah dari bahasa Proto kira-kira tahun 601-835 M. Bahasa Alas dan bahasa Gayo merupakan bahasa tunggal pada 1207-995 tahun yang lalu, diperkirakan mulai berpisah dari bahasa Proto kira-kira tahun 805-1017 M (dihitung pada tahun 2012). Penelitian ini memberikan sumbangan bagi penulis dalam memahami tingkat persentase kekerabatan bahasa.

Nursirwan (2012), dalam skripsinya “Klasifikasi Leksikostatistik Bahasa Melayu Langkat, Bahasa Melayu Deli, dan Bahasa Pakpak Dairi” menggunakan adalah metode leksikostatistik. Adapun teknik-teknik yang digunakan adalah: (1) Mendaftar glos sebanyak tiga ratus kata dalam hal pengumpulan data. (2) Menetapkan kata kerabat yang memiliki hubungan genetis. (3) Membuat presentase kekerabatan. (4) Menghitung jangka kesalahan untuk menetapkan kemungkinan waktu pisah yang tepat. (5) Menghubungkan presentase

kekerabatan dengan kategori tingkat kekerabatan bahasa sebagai satu bahasa, keluarga bahasa, rumpun bahasa, mikrofilium, mesofilium atau makrofilium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis untuk mengetahui usia ketiga bahasa, yaitu bahasa Melayu Langkat dan bahasa Melayu Deli merupakan bahasa tunggal pada 216 ± 48 tahun yang lalu atau berpisah dari bahasa proto antara tahun 1748-1844 Masehi (dihitung dari tahun 2012), bahasa Melayu Langkat dan bahasa Dairi Pakpak merupakan bahasa tunggal pada 2354 ± 184 tahun yang lalu atau berpisah dari bahasa proto antara tahun 526-58 SM (dihitung dari tahun 2012), dan bahasa Melayu Deli dan bahasa Pakpak Dairi merupakan bahasa tunggal pada 2.486 ± 196 tahun yang lalu atau berpisah dari bahasa proto antara tahun 670-278 SM (dihitung dari tahun 2012). Penelitian ini memberikan sumbangan bagi penulis dalam memahami cara kerja kekerabatan bahasa.

Sinaga (2007) dalam skripsinya “Kajian Leksikostatistik Antara Bahasa Simalungun dengan Bahasa Karo” menggunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan metode leksikostatistik, metode wawancara, metode kepustakaan, dan metode observasi dengan teknik rekam dan teknik catat. Teori yang digunakan adalah teori linguistik dengan menggunakan daftar kosakata Swades yang berjumlah 200 kata. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa presentase kata kerabat dihitung dari jumlah pasangan yang sisa yaitu dua ratus kata dikurangi dengan kata atau gloss yang tidak diperhitungkan karena kosong atau pinjaman. Dari dua ratus kata untuk bahasa Simalungun dan bahasa Karo hanya terdapat 197 pasangan yang lengkap, tiga gloss tidak mempunyai pasangan. Dari 197 pasangan yang ada terdapat 116 pasangan kata kerabat, atau hanya 58 % kata kerabat. Penelitian ini

memberikan sumbangan bagi penulis dalam bahasa- bahasa yang tidak berkerabat ditinjau dari leksikostatistik.

Indriani (2007) dalam skripsinya “Leksikostatistik Bahasa Batak Toba dengan Pakpak Dairi” dengan menggunakan teori Linguistik Historis Komparatif dengan menggunakan kosakata Mahsun yang berjumlah 809 kata. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif dengan teknik leksikostatistik. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa bahasa Batak Toba dan bahasa Pakpak Dairi yang diperoleh dari objek penelitian yaitu di daerah Samosir dan Dairi maka, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut: 1) Bahasa merupakan salah satu unsur-unsur kebudayaan yang peranannya sangat penting sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan maksud dan pokok pikiran manusia serta mengekspresikan dirinya di dalam interaksi kemasyarakatan dan pergaulan hidupnya. 2) Bahasa selalu berubah sesuai dengan perkembangan dan pengaruh yang di dapat dari lingkungan. 3) Leksikostatistik adalah suatu teknik dalam pengelompokan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan peneropongan kata - kata (leksikon) secara statistik, kemudian berusaha menetapkan pengelompokan itu berdasarkan presentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain. 4) Dari 809 kosakata untuk bahasa Batak Toba dan bahasa Pakpak Dairi hanya 736 pasangan yang lengkap, 73 tidak mempunyai pasangan, dari 736 terdapat 305 pasangan kata kerabat atau hanya 37,70 % kata kerabat. 5) Bahasa Batak Toba dan bahasa Pakpak Dairi diperkirakan suatu bahasa tunggal sekitar 2,3 ribuan tahun yang lalu. Bahasa Batak Toba dan bahasa Pakpak Dairi diperkirakan mulai pisah dari suatu bahasa proto kira-kira abad III sebelum masehi. 6) Bahasa Batak Toba dan bahasa Pakpak Dairi merupakan bahasa

tunggal pada 2.260 + 60 tahun yang lalu. Bahasa Batak Toba dan bahasa Pakpak Dairi mulai berpisah dari suatu bahasa proto antara 320-200 sebelum masehi (dihitung dari tahun 2000). Hasil penelitian ini bermanfaat dalam memahami cara kerja kekerabatan tersebut dilihat dari menganalisis tingkat kekerabatan bahasa.

Dokumen terkait