• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab VI Kesimpulan dan Saran

KAJIAN LITERATUR

2.4 Penataan Ruang Luar Koridor

2.5.2 Linkage Struktural

Merupakan lingkage yang digunakan untuk menyempurnakan sebuah penyerasian dari dua kawasan yang memiliki sifat sebagai stabilisator dalam meredam kesan kawasan yang kacau.

Linkage stuktural juga merupakan linkage yang menggabungkan dua atau lebih bentuk struktur suatu kota kedalam satu kesatuan tatanan. Menyatukan kawasan kota melalui suatu bentuk jaringan yang struktural atau lebih dikenal dengan sistem kolase (collage) atau disebut juga atau disebut dengan istilah pattern atau pola pada struktur kota. Tidak semua kawasan memiliki arti struktural yang sama dalam sebuah kota, sehingga cara menghubungkannya bisa dengan cara hierarkis yang berbeda.

Pada dasarnya linkage structural bertujuan untuk :

 Menggabungkan dua atau lebih kawasan dan sesuai dengan pola yang diinginkan.

Universitas Sumatera Utara 26

 Menggabungkan dua buah kawasan dengan menonjolkan salah satu kawasan tertentu

Adapun fungsi linkage struktural dalam sebuah kota adalah, untuk stabilisator serta koordinator di dalam lingkungannya, karena di setiap kolase akan memerlukan stabilitas tertentu serta distabilisasikan lingkungannya. Ini dapat dilakukan dengan memprioritaskan suatu daerah yang menjelaskan lingkungannya dengan sebuah struktur, bentuk, wujud, atau fungsi yang memberikan susunan tertentu didalam prioritas penataan suatu kawasan.

Gambar 2.5.8 Manhattan – New York ( Sumber : google gambar)

Universitas Sumatera Utara 27

Gambar 2.5.9 Manhattan – New York ( Sumber : google gambar)

Dapat dilihat jika dalam penataan kota Manhattan, New York, menggunakan sistem grid yang sangat kuat. Namun, jika dilihat secara struktural kawasan ini kurang jelas, sehingga cenderung dapat membuat pengunjung tersesat, karena tidak adanya hirarki yang memberikan stabilitas dengan menghubungkan sebuah kawasan dengan kawasan yang lainnya.

Gambar 2.5.10 Elemen linkage struktural ( Sumber : google gambar)

Universitas Sumatera Utara 28

Ada tiga jenis elemen linkage struktural yang dapat mencapai hubungan secara arsitektural, yaitu:

1. Menambah/Tambahan: melanjutkan suatu pola pembangunan yang sudah ada sebelumnya. Dengan bentuk massa dan ruang yang boleh berbeda, tetapi harus tetap dipahami sebagai bagian dari suatu kawasan tersebut.

Gambar 2.5.11 Elemen tambahan untuk Kota Goteborg, Swedia ( Sumber : google gambar)

2. Menyambung/Sambungan : dengan mengenalkan atau memasukkan unsur atau pola baru dari elemen - elemen yang ada di sekitar lingkungan atau yang berada di luar kawasan.

Universitas Sumatera Utara 29

Gambar 2.5.12 Elemen sambungan untuk Kota Goteborg, Swedia ( Sumber : google gambar)

3. Menembus/Tembusan : ada dua atau lebih pola yang sudah tersedia di sekitarnya dan akan disatukan sebagai pola - pola yang sekaligus dapat menembus di dalam suatu kawasan, sehingga dapat memberikan kesan sebagai campuran dari wujud lingkungan yang ada di sekitarnya.

Universitas Sumatera Utara 30

Gambar 2.5.13 Elemen tembusan; studi untuk Kota Roma dan Firenze, Italia ( Sumber : google gambar)

Gambar 2.5.14 Market Street – San Francisco ( Sumber : google gambar)

Market Street – San Francisco merupakan sebuah jalan yang berfungsi sebagai sebuah linkage struktural. Jalan ini mampu berfungsi sebagai penghubung yang memadukan antara dua buah tipe grid yang berbeda, mampu berperan sebagai stabilisator atau penyeimbangan Market Street – San Francisco dalam membentuk sebuah struktur lingkungan.

Universitas Sumatera Utara 31 2.5.3 Linkage Kolektif

Adalah teori linkage yang memperhatikan suatu susunan dari hubungan yang terjalin antara bagian - bagian kota yang satu dengan kota yang lainnya. Dalam teori linkage ini, sirkulasi menjadi penekanan pada suatu hubungan pergerakan yang dimana merupakan sebuah kontribusi yang sangat penting. Linkage juga memperhatikan serta mempertegaskan suatu hubungan - hubungan dan juga pergerakan - pergerakan (dinamika) pada sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric).

Linkage kolektif akan menunjukkan sebuah hubungan secara menyeluruh yang bersifat kolektif dari ciri khas serta organisasi dari wujud fisik (spatial) sebuah kota. Hal ini disebabkan karena sebuah perkotaan memiliki banyak sekali wilayah yang mempunyai makna terhadap hubungan, baik itu dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal), yaitu dari dirinya sendiri maupun dari lingkungannya. Dan di dalam tipe ini, linkage akan dikembangkan secara organis.

Gambar 2.5.15 Elemen linkage Kolektif ( Sumber : google gambar)

Menurut Fumuhiko Maki, Linkage adalah berupa perekat kota yang sederhana, serta suatu bentuk upaya dalam mempersatukan seluruh tingkatan kegiatan yang akan menghasilkan bentuk fisik suatu kota. Teori linkage ini terbagi kedalam tiga jenis linkage urban space yaitu:

Universitas Sumatera Utara 32

1. Compositional form: bentuk ini tercipta dari suatu bangunan yang berdiri sendiri secara dua dimensi. Dalam jenis ini hubungan ruang jelas walaupun tidak secara langsung.

Gambar 2.5.16 Super Blok – Le Corbusier ( Sumber : google gambar)

Contoh untuk compositional form: Super Blok karya Le Corbusier.

Dimana bangunan yang ada akan menciptakan linkage berupa sebuah ruang yang berdasarkan susunan secara dua dimensi. Hal ini juga akan banyak ditemukan di kota Chandigard – India, yang juga merupakan kawasan yang dirancang oleh Le Corbusier.

Gambar 2.5.17 Kota Chandigard – India ( Sumber : google gambar)

Universitas Sumatera Utara 33

Gambar 2.5.18 Kompleks apartemen di Berlinn, Swiss.

( Sumber : google gambar)

Gambar 2.5.19 Perspektif udara kompleks apartmen di Brasilia, Brasil.

( Sumber : google gambar)

2. Mega form: berbagai susunan yang akan dihubungkan kedalam sebuah kerangka yang berbentuk garis lurus dan hirarkis.

Universitas Sumatera Utara 34

Gambar 2.5.20 New-Brasilia ( Sumber : google gambar)

Contoh untuk Mega form : Kota New – Brasilia ( Costa / Niemayer ). Yang menghubungkan struktur - struktur berupa bingkai yang linier maupun sebagai grid.

Adanya penghubung yang berupa garis lengkung (warna ungu) yang akan menghubungkan kota secara makro.

Gambar 2.5.21 Kenzo Tange, Tokyo Bay Project, Japan, Tokyo, 1960 ( Sumber : google gambar)

3. Group form: merupakan sebuah bentuk yang berupa sebuah akumulasi tambahan pada struktur di sepanjang ruang terbuka. Kota-kota tua serta bersejarah dan daerah – daerah pedesaan menerapkan pola ini.

Universitas Sumatera Utara 35

Gambar 2.5.22 Bern – Swiss ( Sumber : google gambar)

Contoh untuk group form : adalah pada kawasan Bern – Swiss di sepanjang ruang terbuka, yang berupa garden dan sungai. Bern sendiri adalah ibu kota dari swiss, yang juga merupakan kota tua serta bersejarah di swiss. Kota historis Bern merupakan sebuah warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO mulai dari tahun 1983.

Gambar 2.5.23 Bern –Switzerland ( Sumber : google gambar)

Universitas Sumatera Utara 36 2.6 Teory Kevin Lych

Citra kota dapat didefenisikan sebagai kesan atau persepsi antara pengamat dengan lingkungannya. Citra kota menjadi sesuatu yang penting untuk memperkuat identitas dan wajah kota sehingga membuat kota tersebut terlihat menarik dan memiliki daya tarik. Citra itu sendiri sebenarnya hanya menunjukan suatu

“gambaran” (image) (Mangunwijaya,1988).

Kevin Lynch Andrew (1918 Chicago, Illinois - 1984 Vineyard Martha, Massachusetts) ialah seorang penulis dan juga perencana perkotaan Amerika.

Lynch merupakan perencana perkotaan paling terkenal, pada bukunya yang berjudul “image of the city” yang diterbitkan pada tahun 1960, merupakan hasil dari penelitiannya selama lima tahun, dengan menggunakan tiga kota yang berbeda sebagai contoh (Boston, Jersey City, dan Los Angeles), ketika ia melihat dan mengatur informasi spasial karena mereka menavigasi melalui kota-kota.

Menurut Kevin Lynch, terdapat lima elemen yang digunakan orang untuk menyusun kesadaran atas image kawasan yaitu: paths, edges, districts, nodes, dan landmarks.

2.6.1 Path (Jalur)

Path (Jalur) merupakan elemen yang paling penting dalam sebuah citra kota. Path merupakan suatu jalur yang digunakan oleh pengamat untuk bergerak dan berpindah tempat. Path merupakan jalur sirkulasi yang digunakan masyarakat untuk menuju atau meninggalkan lingkungannya. Menjadi elemen utama karena pengamat bergerak melaluinya pada saat mengamati suatu kota dan disepanjang jalur tersebut elemen-elemen lingkungan lainnya tersusun dan dihubungkan.

Path menunjukkan rute-rute sirkulasi yang biasanya digunakan orang untuk melakukan pergerakan secara umum, seperti : jalan, gang-gang utama, jalan transit, lintasan kereta api, saluran dan sebagainya. Umumnya path berupa jalur atau lorong

Universitas Sumatera Utara 37

berbentuk pedestrian dan jalan raya yang menjadi penghubung dan jalur sirkulasi manusia serta kendaraan dari sebuah ruang ke ruang lain di dalam kota.

Path bisa mempunyai identitas yang lebih baik kalau memiliki tujuan yang besar (misalnya alun-alun, stasiun, taman, dan lain-lain), serta memiliki penampakan yang kuat (misalnya fasad, pohon, dan lain-lain), atau ada belokan yang jelas.

Wujud Path bisa berupa pedestrian ways, jalur jalan, jalur sengai dan jalur kereta api. Secara umum path akan dilengkapi dengan elemen peneduh, pengarah, pembentuk estetika, serta elemen pembatas lingkungan. Path meliputi jalan – jalan di jalur udara, darat, dan laut. Namum pathways untuk koridor jalan K.H. Wahid Hasyim hanya memiliki jalur darat.

Pada kategori jalur darat ath dapat berupa jalur pedestrian, jalan yang dapat dilalui kendaraan, maupun jalur yang menghubungkan keduanya.

Jaringan sirkulasi atau pathways terbagi menjadi dua macam yaitu : a. Pathways Mayor

Pathways mayor merupakan jalan-jalan utama yang ada di kawasan atau wilayah tertentu dengan frekuensi kendaraan tinggi.

b. Pathways Minor

Pathways minor merupakan kebalikan dari pathways mayor yaitu jalan dengan frekuensi kendaraan rendah

Gambar 2.6.1 Path ( Sumber : google gambar)

Universitas Sumatera Utara 38

Gambar 2.6.2 Path ( Sumber : google gambar)

2.6.2 Edge (Tepian)

Edge (Tepian) merupakan elemen linear yang tidak digunakan atau dianggap sebagai jalan (path) oleh pengamat. Edge identik dengan pembatas yang membawa suatu kontinuitas identitas. Edge dapat berupa batas alam seperti sungai, gunung, pantai, tebing, pohon atau dapat juga berupa batas buatan seperti tembok, pagar, dinding, saluran maupun lalu lintas yang padat atau sesuatu yang berfungsi membatasi. Edge merupakan penghalang walaupun terkadang ada tempat untuk masuk, dan lebih bersifat referensi daripada misalnya elemen sumbu yang bersifat koordinasi (linkage).

Edge merupakan pengakhiran atau tepian dari sebuah district. Edge juga merupakan batasan dari sebuah district dengan yang lainnya. Edge akan memiliki identitas yang lebih baik jika kontinuitas batasnya tampak jelas. Demikian pula fungsi batasnya harus jelas: menyatukan atau membagi.

Universitas Sumatera Utara 39

Gambar 2.6.3 Edge ( Sumber : google gambar)

Gambar 2.6.4 Edge ( Sumber : google gambar)

2.6.3 District (Kawasan)

District (Kawasan) merupakan bagian kota yang memiliki aktivitas khusus atau karakter yang akan dikenali bagi pengamatnya. District memiliki wujud dan pola khas begitupun pada batasannya, sehingga pengamat akan mengetahui awal atau akhir dari suatu kawasan tersebut.

District merupakan daerah yang ada di dalam kota yang memiliki kesamaan karakteristik bagi wilayah yang bersangkutan. Sebuah kawasan district akan memiliki ciri khas yang mirip (pola, bentuk dan wujudnya) serta khas pula dalam batasannya, di mana pengamat akan merasa harus mengakhiri ataupun memulainya.

District akan memiliki karakteristik serta ciri kawasan yang berbeda dengan kawasan lain disekitarnya. District akan mempunyai identitas lebih baik jika

Universitas Sumatera Utara 40

batasannya terbentuk dengan jelas tampilannya dan bisa dilihat homogen, serta dengan fungsi dan komposisinya jelas (berupa introver atauekstrover, berdiri sendiri atau dikaitkan dengan yang lainnya).

Sebuah district akan bisa dirasakan apabila pengamat memasuki kawasannya atau bisa juga dirasakan dari luar kawasan apabila district tersebut memiliki kesan visual. Hal ini berarti sebuah district bisa dikenali karena adanya sebuah karakteristik kegiatan dalam suatu wilayah, misalnya sebuah kawasan pusat kota, kawasan pinggiran kota, kawasan niaga, kawasan perkantoran dan lain sebagainya.

Gambar 2.6.5 District ( Sumber : google gambar)

Gambar 2.6.6 District ( Sumber : google gambar)

2.6.4 Node (Simpul)

Node (Simpul) merupakan sebuah pertemuan antara beberapa jalan maupun lorong yang ada pada sebuah kota, sehingga membentuk suatu ruang tersendiri.

Masing – masing dari simpul ini akan memiliki ciri yang berbeda, baik itu bentuk maupun pola aktivitas yang terjadi. Pada umumnya bangunan yang berada pada simpul akan dirancang secara khusus untuk memberikan citra tertentu sebagai identitas ruang. Nodes ialah titik – titik pada kegiatan kota yang memiliki peran sebagai titik orientasi bentuk aktivitas maupun kegiatan rutin masyarakat.

Universitas Sumatera Utara 41

Node merupakan sebuah simpul atau lingkaran daerah yang strategis di mana arah dan aktivitasnya akan saling bertemu serta bisa diubah ke arah dan aktivitas lainnya. Selain itu node juga merupakan tempat di mana pengamat akan memiliki perasaan “masuk” maupun “keluar” pada kawasan yang sama. Node akan memiliki karakteristik dan identitas yang lebih baik apabila tempatnya memiliki sebuah bentuk yang jelas agar mudah diingat, dan juga tampilan yang berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Gambar 2.6.7 Node ( Sumber : google gambar)

Gambar 2.6.8 Node ( Sumber : google gambar)

2.6.5 Landmark (Tengeran)

Landmark (Tengeran) secara visual merupakan sebuah simbol yang menarik dan struktur fisiknya ditekannya kepada fungsi sebagai titik orientasi bagi pengamat maupun masyarakat sekitar. Umumnya landmark akan memiliki sebuah bentuk yang unik dengan skala yang berbeda terhadap lingkungannya.

Landmark merupakan struktur fisik yang memberikan citra atau kesan tertentu dan kemudian menjadi ciri khas pada sebuah kawasan, sehingga dapat dengan mudah diingat dan dikenali serta memberikan orientasi bagi pengamat

Universitas Sumatera Utara 42

maupun kendaraan yang bersirkulasi. Landmark ialah sebuah elemen eksternal dengan bentuk visual yang menonjol di suatu kawasan.

Landmark merupakan elemen penting dari bentuk sebuah kota yang dapat membantu pengamat mengenali sebuah kawasan. Selain itu landmark juga bisa menjadi titik yang merupakan ciri di suatu kawasan.

Gambar 2.6.9 Landmark ( Sumber : google gambar)

Gambar 2.6.10 Landmark ( Sumber : google gambar)

Universitas Sumatera Utara 43 2.7 Studi Banding

Dokumen terkait