ACARA TELEVISI PRIME TIME
Literasi media merupakan melek media atau cerdas media. Definisi literasi media telah banyak dikemukakan oleh para ahli dalam berbagai batasan. Salah satu definisi literasi media mengacu pada definisi umum yang dikemukakan pada National Leadership Conference on Media Education adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan pesan dalam berbagai bentuknya (Hobbs 1999 diacu Juditha 2013). Literasi media yang diidentifikasi pada masyarakat Desa Cibanteng, diwakili oleh responden, lewat akses, analisis, evaluasi, dan peringkat mereka mengomunikasikan acara-acara prime time. Jumlah responden berdasarkan keempat komponen literasi media adalah sebagai berikut:
Mengakses Acara Prime Time
Mengakses adalah pemahaman dan pengetahuan menggunakan dan mengakses media dan mampu memahami isi pesan. Mengakses media disini dikaitkan dengan acara televisi prime time yang menjadi pilihan responden dan memiliki empat indikator, yaitu media televisi yang digunakan, frekuensi menonton acara prime time, tujuan menonton acara prime time, dan dapat memahami isi pesan yang disampaikan pada acara prime time tersebut. Berikut data jumlah responden berdasarkan tingkat mengakses acara prime time:
Tabel 26 Jumlah dan persentase responden RT 04 RW 04 Desa Cibanteng berdasarkan tingkat mengakses acara prime time Tahun 2014
No. Tingkat mengakses acara prime time Jumlah Persentase 1 Rendah 4 6.7 2 Sedang 19 31.7 3 Tinggi 37 61.7 Total 60 100.0
Data pada Tabel 26 menunjukkan bahwa responden cenderung memiliki tingkat mengakses acara prime time yang tinggi dengan jumlah 37 orang atau sebesar 61.7%. Meskipun banyak responden yang tidak memiliki televisi, mereka dapat menikmati acara prime time pilihan mereka dengan mudah karena mayoritas televisi sudah menjadi milik bersama di rumah yang dihuni mereka bersama beberapa keluarga lain. Selain itu, banyak responden yang sering menonton acara prime time pilihannya karena memilih untuk meluangkan waktu di rumah dengan menonton televisi.
Acara prime time tontonan responden adalah acara informasi dan acara hiburan. Mayoritas responden sudah mengetahui tujuan menonton acara pilihan mereka. Seperti pada responden Ibu T yang setiap malam menonton acara-acara informasi di TV One. Responden berusia 44 tahun ini memilih acara-acara
40
informasi dengan tujuan ingin mengetahui berita-berita dan peristiwa hangat sekarang ini. Menurutnya, dengan menonton berita dapat menambah pengetahuan yang lebih luas. Lain lagi dengan Bapak MR yang memilih acara kontes musik “Dangdut D’Academy” dengan tujuan mencari hiburan dan sebagai penyalur hobi dalam bernyanyi dangdut.
Mayoritas tingkat mengakses acara prime time responden memang tinggi, tetapi terdapat empat orang atau sebesar 6.7% yang memiliki tingkat mengakses acara prime time yang rendah. Salah satunya adalah Ibu M yang cukup sering menonton acara hiburan “Yuk Keep Smile” di Trans TV tetapi tidak mengetahui tujuan menonton acara tersebut. “Nonton mah asal liat aja, nggak tau deh acara apaan tuh” tutur Ibu M.
Literasi media responden yang dilihat dari kemampuan mengakses acara prime time sudah baik. Semua responden yang memiliki televisi maupun tidak sama-sama memiliki akses yang cukup mudah pada acara prime time pilihan mereka. Frekuensi menonton acara tersebut pun cukup sering, terutama dalam seminggu terakhir ini. Sebagian besar responden sudah mengetahui tujuan menonton acara pilihannya, yaitu untuk mencari hiburan dan mencari informasi atau keduanya. Selain itu, mereka cukup mampu memahami isi acara yang ditayangkan.
Menganalisis Acara Prime Time
Menganalisis adalah mampu memahami tujuan pesan media dan dapat mengidentifikasi pengirim pesan melalui media dan apa isi pesan tersebut. Berdasarkan setiap acara prime time pilihan responden, dilihat kemampuan menganalisis responden pada acara tersebut melalui empat indikator, yaitu kemampuan mengingat pesan pada acara prime time, kemampuan menjelaskan maksud pesan pada acara prime time, kemampuan mengidentifikasi pengirim pesan pada acara prime time, dan kemampuan menilai acara prime time tersebut bagi dirinya. Berikut jumlah responden berdasarkan tingkat menganalisis acara prime time:
Tabel 27 Jumlah dan persentase responden RT 04 RW 04 Desa Cibanteng berdasarkan tingkat menganalisis acara prime time Tahun 2014
No. Tingkat menganalisis acara prime time
Jumlah Persentase
1 Rendah 9 15.0 2 Sedang 33 55.0
3 Tinggi 18 30.0
Total 60 100.0
Data pada Tabel 27 menunjukkan bahwa responden cenderung memiliki tingkat menganalisis acara prime time yang cukup tinggi dengan jumlah 33 orang atau sebesar 55%. Dari keempat indikator pada kemampuan menganalisis acara prime time, banyak responden yang tidak mampu menjelaskan sepenuhnya maksud pesan pada acara prime time yang ditontonnya. Selain itu, banyak
41 responden yang tidak mampu mengindentifikasi sepenuhnya pengisi acara prime time tersebut. Seperti Bapak K yang setiap malamnya menonton acara “Yuk Keep Smile” di Trans TV. Beliau mampu mengingat isi acara dalam seminggu terakhir dan mampu menilai bahwa acara tersebut menarik. Namun, beliau tidak dapat menjelaskan konten acara “Yuk Keep Smile” secara pasti dan tidak mampu menyebutkan cukup banyak pengisi acaranya.
“Pokoknya itu acara lucu-lucuan aja. .. yang paling saya inget mah cuma si Wendy soalnya cuma dia yang paling lucu” jawab Bapak K saat diwawancara. Begitu pun dengan Bapak AS yang tidak mampu menjelaskan konten acara kontes musik “Dangdut D’Academy” di Indosiar yang merupakan acara prime time pilihannya. Meskipun begitu beliau masih mampu mengingat acara tersebut dalam seminggu terakhir dan mampu menilai bahwa acara tersebut menarik bagi dirinya. Tidak banyak responden yang memiliki tingkat menganalisis acara prime time yang tinggi. Salah satu responden yang memiliki tingkat menganalisis acara prime time yang tinggi adalah Bapak WN. Beliau memilih acara “Super Deal” di ANTV untuk tontonan prime time bersama keluarga. Bapak WN mampu mengingat acara dalam seminggu terakhir, cukup mampu menjelaskan konten acara “Super Deal”, mengetahui semua pengisi acaranya, dan dapat menilai bahwa acara tersebut menarik bagi dirinya. Hal ini karena beliau mengaku merupakan penonton setia acara tersebut.
Literasi media responden dilihat dari kemampuan menganalisis acara prime time sudah cukup baik. Bahkan, mereka sering mengeluhkan suatu acara prime time yang kadang mereka tonton, seperti sinetron. Mereka sependapat bahwa sinetron-sinetron yang ada saat ini kurang baik untuk ditonton karena lebih banyak memiliki sisi negatif dilihat dari segi isi cerita, bahasa, dan budaya.
Dari segi isi, hampir seluruh sinetron menayangkan cerita masa kini yang bersifat negatif, seperti percintaan anak sekolah, permusuhan, dan kekerasan. Dari segi bahasa, semua responden menyayangkan penggunaan bahasa dalam sinetron yang kasar dan terkesan kotor sedangkan dari segi budaya, sinetron lebih menampilkan budaya modern yang serba mewah sehingga para responden khawatir putra-putri mereka akan menirunya. Oleh karena itu, banyak responden yang mencoba mengawasi tontonan anak-anak mereka, khususnya saat prime time.
Mengevaluasi Acara Prime Time
Mengevaluasi adalah mampu menilai pesan yang diterima kemudian dibandingkan dengan perspektif sendiri. Acara prime time pilihan responden dievaluasi dengan dua indikator, yaitu dengan kemampuan responden dalam menilai atau menggambarkan kepuasan terhadap isi acara yang mereka tonton dan kemampuan responden dalam menyarankan acara tersebut kepada orang lain. Berikut jumlah responden berdasarkan tingkat mengevaluasi acara prime time:
42
Tabel 28 Jumlah dan persentase responden RT 04 RW 04 Desa Cibanteng berdasarkan tingkat mengevaluasi acara prime time Tahun 2014 No. Tingkat mengevaluasi
acara prime time
Jumlah Persentase
1 Rendah 32 53.3
2 Sedang 22 36.7
3 Tinggi 6 10.0
Total 60 100.0
Data pada Tabel 28 menunjukkan bahwa responden cenderung memiliki tingkat mengevaluasi acara prime time yang rendah dengan jumlah 32 orang atau sebesar 53.3%. Menurut sebagian responden, mereka puas dengan acara-acara prime time, terutama acara hiburan. Meski dirasa acaranya bagus, sebagian besar responden tidak pernah menyarankan acara tersebut pada orang lain, termasuk kepada keluarganya. “Kan orang punya selera masing-masing, teh” ucap Ibu MS. Ada beberapa responden yang pernah bahkan sering menyarankan acara prime time pilihannya pada orang lain. Salah satunya Ibu R yang biasa menyarankan acara kontes musik “Dangdut D’Academy” pada tetangga- tetangganya. Hal ini dilakukan karena beliau puas dengan acara tersebut sehingga ingin para tetangganya juga ikut menonton. Ibu R melakukannya saat sedang berkumpul bersama para tetangganya yang mayoritas ibu-ibu rumah tangga. Saat mereka berkumpul, beberapa dari tetangganya yang sudah menonton saling bercerita tentang kehebohan acara tersebut sedangkan yang belum menonton akan ikut mendengarkan. Sekarang lebih banyak ibu-ibu rumah tangga sekitar rumahnya yang menonton acara tersebut bersama keluarga maupun tetangga.
Literasi media responden yang dilihat dari kemampuan mengevaluasi acara prime time kurang baik. Banyak responden yang kurang mampu menilai dan menggambarkan kepuasan mereka terhadap suatu acara prime time yang mereka tonton meskipun beberapa responden ada yang mengaku kurang puas. Banyak responden yang tidak dapat menjelaskan kepuasan yang dirasakan dari suatu acara prime time dengan jawaban seperti kutipan berikut, “ya gitu deh, namanya juga nonton tv ya nonton aja”. Selain itu, banyak responden yang tidak menyarankan acara prime time yang mereka tonton kepada orang terdekat padahal mereka yakin acara tersebut menarik dan bagus untuk ditonton bersama. Hal ini karena mereka yakin bahwa orang lain juga tahu tentang acara tersebut, setidaknya pernah melihatnya.
Mengomunikasikan Acara Prime Time
Mengomunikasikan adalah mampu mengomunikasikan pesan yang diterima dari acara prime time dalam bentuk apa saja kepada orang lain. Berbeda dengan indikator menyarankan acara pada kemampuan responden mengevaluasi acara prime time, mengomunikasikan lebih kepada kemampuan responden menceritakan dan berbagi informasi mengenai acara prime time pilihannya kepada orang lain. Bentuk komunikasi acara prime time tersebut dapat berupa apa saja,
43 seperti lisan dan tulisan. Berikut jumlah responden berdasarkan tingkat mengomunikasikan acara prime time:
Tabel 29 Jumlah dan persentase responden RT 04 RW 04 Desa Cibanteng berdasarkan tingkat mengomunikasikan acara prime time Tahun 2014
No. Tingkat mengomunikasikan acara prime time Jumlah Persentase 1 Rendah 44 73.3 2 Sedang 13 21.7 3 Tinggi 3 5.0 Total 60 100.0
Data pada Tabel 29 menunjukkan bahwa responden cenderung memiliki tingkat mengomunikasikan acara prime time yang rendah dengan jumlah 44 orang atau sebesar 73.3%. Sebagian besar responden tidak mampu menceritakan atau berbagai informasi mengenai acara prime time pilihannya kepada orang lain karena tidak pernah melakukannya. Mereka tidak biasa untuk menceritakan suatu acara yang mereka tonton. Menurut mereka, orang lain juga pasti pernah menonton acara yang mereka tonton biarpun hanya sekilas karena menganggap hampir semua orang di desa melihat televisi.
Bagi responden yang memiliki tingkat mengomunikasikan acara prime time yang cukup tinggi, mereka terkadang menceritakan dan berbagi informasi mengenai acara prime time pilihannya kepada orang lain sehingga mereka cukup mampu mengomunikasikannya. Biasanya mereka bercerita hanya mengenai bagian-bagian acara yang menurut mereka berbeda dari biasanya dan menarik untuk diperbincangkan. Seperti saat acara grand final kontes musik “Dangdut D’Academy" di Indosiar, beberapa responden mengaku membicarakan hal tersebut dengan tetangga terdekat sambil mendukung peserta pilihan mereka. Meskipun begitu, mereka jarang bercerita mengenai acara prime time.
Berbeda dengan tiga responden yang mampu mengomunikasikan acara prime time pilihan mereka dengan baik karena mereka sering berbagi cerita dengan orang lain. Ketiga responden tersebut sering menceritakan acara hiburan yang biasa mereka tonton saat prime time, yaitu acara kontes musik “Dangdut D’Academy” di Indosiar dan sinetron “Tukang Bubur Naik Haji” di RCTI kepada teman-teman mereka. Alasannya karena teman-teman mereka juga menonton acara yang sama hampir setiap malam. Salah satu responden berinisial I hampir setiap hari berbagai cerita sinetron “Tukang Bubur Naik Haji” di RCTI bersama teman-teman di pangkalan ojek jika sedang tidak ada penumpang.
Menurut I dan teman-temannya, acara tersebut menarik diceritakan karena menghibur mereka ketika menunggu penumpang di pangkalan ojek. Secara keseluruhan, literasi media responden yang dilihat dari kemampuan mengomunikasikan acara prime time memang masih kurang baik karena sebagian besar responden tidak pernah menceritakan acara pilihannya. Bagi beberapa responden yang jarang maupun sering menceritakan acara prime time pilihannya, bentuk komunikasi yang mereka lakukan adalah secara lisan.
44
Hubungan Karakteristik Masyarakat Desa Cibanteng dengan Literasi Media pada Acara Televisi Prime Time
Literasi media acara prime time masyarakat Desa Cibanteng yang diwakili masyarakat di RT 04 RW 04, dilihat dari kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan pesan pada acara prime time. Secara keseluruhan, berikut jumlah masyarakat Desa Cibanteng yang diwakili responden berdasarkan literasi media acara televisi prime time:
Tabel 30 Jumlah dan persentase responden RT 04 RW 04 Desa Cibanteng berdasarkan kategori literasi media acara prime time Tahun 2014 No. Kategori literasi media acara
prime time Jumlah Persentase 1 Rendah 25 41.7 2 Tinggi 35 58.3 Total 60 100.0
Berdasarkan Tabel 30, masyarakat Desa Cibanteng yang diwakili responden memiliki literasi media acara prime time yang tinggi dengan jumlah 35 orang atau sebesar 58.3%. Masyarakat Desa Cibanteng sebagian besar memiliki kemampuan mengakses acara prime time yang tidak terlalu tinggi karena banyak masyarakat yang tidak mengetahui tujuan mereka menonton dan tidak memahami isi acara tersebut. Meskipun begitu, hampir seluruh masyarakat mampu mengakses acara prime time dengan mudah. Masyarakat Desa Cibanteng juga tidak cukup mampu untuk menganalisis acara prime time pilihannya. Sebagian besar masyarakat tidak cukup mampu untuk menjelaskan maksud acara dan mengidentifikasi seluruh pengisi acara yang ditontonnya.
Kemampuan mengevaluasi dan mengomunikasikan acara prime time masyarakat cenderung rendah karena mereka tidak biasa menyarankan apalagi menceritakan acara prime time yang mereka tonton kepada orang lain. Salah satu faktor yang memengaruhi literasi media prime time masyarakat adalah karakteristik masyarakat yang terdiri dari umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, ras, dan status ekonomi. Berikut hubungan masing-masing karakteristik masyarakat Desa Cibanteng dengan literasi media acara prime time: Tabel 31 Hubungan kelompok umur masyarakat Desa Cibanteng dengan literasi
media acara prime time Tahun 2014
Kelompok umur Literasi media acara prime time Total
Rendah Tinggi
Dewasa awal 13 (21.7) 16 (26.7) 29 (48.3) Dewasa pertengahan 4 (6.7) 17 (28.3) 21 (35.0) Dewasa tua 8 (13.3) 2 (3.3) 10 (16.7) Total 25 (41.7) 35 (58.3) 60 (100.0) Keterangan: ( ) menunjukkan persentase
45 Berdasarkan Tabel 31, masyarakat Desa Cibanteng yang cenderung memiliki literasi media acara prime time yang tinggi adalah masyarakat pada kelompok umur dewasa pertengahan (31-50 tahun) dengan jumlah 17 orang atau sebesar 28.3%. Sebagian besar masyarakat pada kelompok umur tersebut memiliki kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan acara prime time pilihan mereka dengan cukup baik. Apalagi masyarakat pada kelompok umur tersebut sebagian besar sudah memiliki anak sehingga mereka berusaha memahami suatu acara prime time yang biasa ditonton keluarganya agar dapat mengawasi tontonan keluarga, termasuk anak-anaknya.
Salah satu responden pada kelompok umur tersebut yang sudah memiliki anak memiliki literasi media acara prime time yang baik. Beliau biasa menonton film-film keluarga di Global TV bersama keluarganya dan memperhatikan dengan baik film tersebut sambil mengawasi putranya. Beliau sengaja memilihkan acara film untuk anaknya karena dirasa film keluarga seperti itu lebih pantas ditonton oleh semua umur. Menurutnya, film-film yang ditayangkan sudah disortir mana bagian yang baik dan yang buruk. Berbeda dengan sinetron-sinetron, seperti di SCTV dan RCTI yang dianggap tidak pantas ditonton terutama oleh anak-anak. Beliau melarang anaknya menonton sinetron karena menganggap sinetron memiliki cerita dan bahasa yang kurang baik.
Masyarakat pada kelompok umur tersebut lebih mengerti tujuan mereka menonton suatu acara prime time dan sebagian besar masyarakat lebih sering berada di rumah sehingga sangat sering menonton televisi saat prime time sebagai alternatif kegiatan. Mereka juga memperhatikan dan mengikuti dengan baik acara prime time yang mereka tonton. Berbeda dengan masyarakat pada kelompok umur dewasa tua (51-55 tahun ke atas) yang cenderung memiliki literasi media acara prime time yang rendah. Masyarakat pada kelompok umur tersebut biasanya kurang memperhatikan acara prime time yang ditonton karena bagi mereka menonton televisi hanya sekedar hiburan untuk dilihat dan tidak perlu diperhatikan seksama sehingga mereka kurang memahami isi acara tersebut.
Karakteristik umur masyarakat Desa Cibanteng tidak memiliki hubungan dengan literasi media acara prime time. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman, diperoleh nilai hubungan antara kedua variabel tersebut sebesar 0.555 > 0.1. Artinya, setelah dilakukan uji statistik pun tidak menunjukkan bahwa umur masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan dengan literasi media acara prime time.
Tabel 32 Hubungan jenis kelamin masyarakat Desa Cibanteng dengan literasi media acara prime time Tahun 2014
Jenis kelamin Literasi media acara prime time Total
Rendah Tinggi
Perempuan 9 (15.0) 21 (35.0) 30 (50.0) Laki-laki 16 (26.7) 14 (23.3) 30 (50.0) Total 25 (41.7) 35 (58.3) 60 (100.0) Keterangan: ( ) menunjukkan persentase
Berdasarkan Tabel 32, masyarakat Desa Cibanteng yang cenderung memiliki literasi media acara prime time yang tinggi adalah perempuan dengan
46
jumlah 21 orang atau sebesar 35%. Masyarakat perempuan memang lebih memperhatikan dan mengikuti dengan baik acara prime time yang mereka tonton. Mereka juga ikut menyarankan dan menceritakan acara yang ditontonnya kepada orang lain, seperti saat sedang berkumpul bersama tetangga terdekat. Menurut sebagian masyarakat perempuan, apabila mereka sudah menyukai satu acara prime time, mereka akan menyimak dan berusaha mengikuti acara tersebut setiap hari.
Salah satu masyarakat perempuan dengan antusias mampu menceritakan acara “Yuk Keep Smile” di Trans TV. Beliau sangat menyukai acara tersebut sehingga dengan cermat menjelaskan maksud acara dan menyebutkan seluruh pemain dalam acara. Setiap malam, beliau selalu berada di rumah dan memilih menonton televisi untuk menghilangkan kejenuhan. Menurutnya, perempuan- perempuan lain juga memiliki kebiasaan yang sama dalam menonton televisi saat prime time. Acara yang sudah ditonton akan diperbincangkan keesokan harinya ketika berkumpul dengan para tetangga.
Berbeda dengan masyarakat laki-laki yang cenderung memiliki literasi media acara prime time yang rendah. Sebagian besar masyarakat menonton suatu acara prime time karena anggota keluarga lain menonton acara tersebut. Mereka tidak begitu memahami isi acara yang ditonton tetapi sering menontonnya. Seperti Bapak H yang menjawab sinetron “Diam-Diam Suka” di SCTV ketika ditanya acara prime time pilihan yang beliau tonton. Beliau kurang mengerti cerita pada sinetron tersebut tetapi hampir setiap hari menontonnya. “Saya nonton asal nonton aja, sih, nggak merhatiin. Soalnya itu pilihan istri jadi saya ikut aja daripada berebut, tv kan cuma satu” tutur Bapak H.
Responden lain, Bapak K yang setiap malam menonton acara “Yuk Keep Smile” di Trans TV juga kurang memahami maksud acara tersebut. Beliau tahu bahwa acara itu merupakan acara hiburan tetapi tidak tahu inti acaranya dan tidak dapat menyebutkan seluruh pengisi acaranya. Beliau menonton acara tersebut hanya karena menyukai guyonan dan joget yang dilakukan para pemain.
Karakteristik jenis kelamin masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan dengan literasi media acara prime time. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji korelasi Chi Square, diperoleh nilai hubungan antara kedua variabel tersebut sebesar 0.067 < 0.1. Artinya, setelah dilakukan uji statistik pun menunjukkan bahwa jenis kelamin masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan nyata dengan literasi media acara prime time.
Tabel 33 Hubungan tingkat pendidikan masyarakat Desa Cibanteng dengan literasi media acara prime time Tahun 2014
Tingkat pendidikan Literasi media acara prime time Total
Rendah Tinggi
Rendah 22 (36.7) 22 (36.7) 44 (7.3) Sedang 0 (0.0) 9 (15.0) 9 (15.0) Tinggi 3 (5.0) 4 (6.7) 7 (11.7) Total 25 (41.7) 35 (58.3) 60 (100.0) Keterangan: ( ) menunjukkan persentase
47 Berdasarkan Tabel 33, masyarakat Desa Cibanteng yang cenderung memiliki literasi media acara prime time yang tinggi adalah masyarakat dengan tingkat pendidikan sedang (tamat SMP) dan tingkat pendidikan tinggi (tamat SMA). Salah satu masyarakat berinisial N yang merupakan tamatan SMP, setiap malam menonton sinetron “Diam-Diam Suka” dan “Tiba-Tiba Cinta” di SCTV. Beliau menonton untuk mencari hiburan dan beliau mengerti isi cerita sinetron tersebut secara keseluruhan.
Responden Ibu T yang tamatan SMA setiap malam menonton acara-acara informasi di TV One. Tujuan menonton acara tersebut saat prime time adalah untuk memperoleh informasi dan menambah wawasan. Ibu T mampu memahami setiap informasi yang disajikan dan kadang menceritakan kembali kepada keluarga atau tetangga terdekat, misalnya mengenai bencana dan politik. Berbeda dengan masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah (tidak tamat SD dan tamat SD), mereka menonton acara prime time hanya sekedar menonton tanpa tahu tujuannya, tidak mampu memahami dan menjelaskan isi acara tersebut.
Karakteristik tingkat pendidikan masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan dengan literasi media acara prime time. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman, diperoleh nilai hubungan antara kedua variabel tersebut sebesar 0.061 < 0.1 dan nilai koefisien korelasi sebesar +0.243. Artinya, setelah dilakukan uji statistik pun menunjukkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan nyata dengan literasi media acara prime time. Semakin rendah tingkat pendidikan masyarakat Desa Cibanteng maka semakin rendah literasi media acara prime time dan