• Tidak ada hasil yang ditemukan

PADA ACARA TELEVISI PRIME TIME

Acara prime time merupakan acara-acara yang ditayangkan televisi yang dimulai pukul 19.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Pada jam tersebut, lebih banyak masyarakat yang menonton televisi karena jam tersebut diasumsikan sebagai waktu santai sehingga seluruh stasiun televisi saling bersaing untuk menghadirkan program acara yang dapat menarik perhatian penonton sebanyak- banyaknya. Perilaku menonton masyarakat pada prime time dilihat dari tiga hal yang dijadikan sebagai alat ukurnya. Mengacu konsep perilaku menonton De Fleur, alat ukur tersebut adalah durasi, pilihan acara, dan frekuensi menonton acara tertentu (Asmar 2009). Pada penelitian yang mengambil sampel di RT 04 RW 04 Desa Cibanteng ini, ketiga alat ukur tersebut dianalisis sebagai berikut:

Durasi Menonton Acara Prime Time

Durasi merupakan total waktu rata-rata yang digunakan responden untuk menonton televisi pada acara prime time. Acara prime time tayang pada pukul 19.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB yang artinya tayang selama dua jam. Mayoritas masyarakat di RT 04 sudah menghidupkan televisi sejak sore hari sebelum prime time dimulai hingga larut malam setelah prime time selesai. Namun, total waktu yang mereka gunakan untuk menonton acara prime time berbeda-beda. Durasi menonton acara prime time dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Tabel 15 memperlihatkan data jumlah responden berdasarkan durasi menonton acara prime time selama seminggu terakhir sebelum penelitian dimulai:

Tabel 15 Jumlah dan persentase responden RT 04 RW 04 Desa Cibanteng berdasarkan durasi dan kategori menonton acara prime time Tahun 2014

No. Durasi menonton acara prime time

Kategori Jumlah Persentase

1 1-5 jam Rendah 7 11.7

2 6-9 jam Sedang 15 25.0

3 10-14 jam Tinggi 38 63.3

Total 60 100.0

Berdasarkan Tabel 15, responden cenderung memiliki durasi menonton acara prime time yang tinggi dengan jumlah 38 orang atau sebesar 63.3%. Mereka mampu menonton acara prime time selama dua jam setiap hari sehingga durasi menonton dalam seminggu adalah 10-14 jam. Menurut mereka, pada jam tersebut acaranya banyak yang menarik dan tayang disaat mereka tidak sedang sibuk beraktivitas. Sebagian besar responden memang sudah berada di rumah saat prime time dan memilih menonton televisi untuk menghilangkan rasa jenuh berada di rumah. “Daripada iseng, mending nonton teh. Nonton sampe malem malah

30

kadang sampe jam 12” ungkap Ibu R. “Jangankan malem, pagi, siang, sore juga nonton tv. Biar nggak bete gitu”. Tambah Ibu M.

Ada beberapa responden yang hanya meluangkan waktu untuk menonton acara prime time sekitar satu jam bahkan kurang dari satu jam per hari. Mereka menyatakan sangat menyukai acara-acara prime time namun terkadang ada hal lain yang harus dikerjakan pada saat jam tersebut. Bahkan ada responden yang tidak dapat menonton acara prime time berlama-lama. Salah satunya adalah Bapak M yang berusia 65 tahun, “bapak mah nggak bisa nonton terlalu malem soalnya paginya suka pusing terus kalo kerja siang nanti ngantuk”. Namun, secara keseluruhan responden memiliki durasi menonton acara prime time yang tinggi, yaitu sekitar dua jam per hari.

Pilihan Acara Prime Time

Pilihan acara merupakan kategori progam acara pilihan responden pada acara prime time. Kategori program acara menurut jenisnya terbagi menjadi dua, yaitu program informasi dan program hiburan (Morissan 2008 diacu Masitoh 2013). Berikut daftar nama dan jenis acara prime time yang mayoritas ditonton oleh masyarakat di RT 04:

Tabel 16 Daftar nama dan jenis acara prime time di stasiun TV pilihan masyarakat RT 04 RW 04 Desa Cibanteng Tahun 2014

No. Nama acara Jenis acara Stasiun TV

1 Anak-anak manusia Hiburan RCTI

2 Apa kabar Indonesia malam Informasi TV One

3 Big movies Hiburan Global TV

4 Dangdut D’academy Hiburan Indosiar

5 Diam-diam suka Hiburan SCTV

6 Detak cinta Hiburan SCTV

7 On the spot Informasi Trans 7

8 Super deal Hiburan ANTV

9 Tukang bubur naik haji Hiburan RCTI

10 Yuk keep smile Hiburan Trans TV

Data pada Tabel 16 menunjukkan bahwa pilihan acara prime time oleh masyarakat RT 04 cukup beragam karena tersebar di beberapa stasiun televisi. Mayoritas masyarakat RT 04 memilih jenis acara hiburan sebagai pilihan acara prime time mereka. Menurut mereka, acara hiburan sangat menarik dan cocok untuk ditonton bersama anggota keluarga. Acara yang paling sering ditonton oleh responden ketika diwawancara adalah kontes musik “Dangdut D’Academy” di Indosiar, “Yuk Keep Smile” di Trans TV, dan beberapa sinetron di SCTV dan RCTI. Acara-acara tersebut memiliki rating acara yang tinggi di kalangan masyarakat RT 04. Namun, ada juga masyarakat yang memilih acara informasi saat prime time meskipun tidak banyak. Berikut data jumlah responden berdasarkan pilihan acara prime time:

31 Tabel 17 Jumlah dan persentase responden RT 04 RW 04 Desa Cibanteng

berdasarkan kategori pilihan acara prime time Tahun 2014 No. Kategori pilihan acara prime

time

Jumlah Persentase

1 Informasi 3 5.0

2 Hiburan 57 95.0

Total 60 100.0

Data pada Tabel 17 menunjukkan bahwa responden lebih banyak memilih jenis acara hiburan sebagai tontonan pilihan mereka pada prime time dengan jumlah 57 orang atau sebesar 95%. Menurut mereka, acara hiburan merupakan acara yang menarik, dapat membuat tertawa, dan membuat gembira. Bagi sebagian responden, menonton acara hiburan saat prime time karena banyak artis yang mereka sukai ada di acara yang mereka tonton tersebut. Intinya, menurut mereka acara hiburan saat prime time merupakan acara yang paling ditunggu- tunggu dan menjadi pilihan mereka maupun keluarga. “Pokoknya mah Yu Kes Smal (Yuk Keep Smile) nomor hiji (satu), teh!” Jawab Ibu MR dengan antusias ketika ditanya acara prime time pilihannya.

Jenis acara informasi kurang begitu diminati responden karena menurut sebagian responden yang memilih acara hiburan, saat prime time lebih menarik jika melihat tontonan yang menghibur. Bagi beberapa responden yang memilih jenis acara infomasi saat prime time, dikarenakan mereka kurang suka dengan acara hiburan yang dianggap tidak bermanfaat. Bagi mereka, acara hiburan prime time saat ini tidak jelas tema dan arah ceritanya. Namun, secara keseluruhan responden lebih memilih menonton acara hiburan pada saat prime time.

Frekuensi Menonton Acara Prime Time Tertentu

Frekuensi menonton merupakan tingkat keseringan responden menonton kategori program acara prime time tertentu. Kategori program acara tersebut adalah acara informasi dan hiburan. Frekuensi menonton acara informasi dan hiburan dilihat dari berapa kali responden menonton acara pilihannya selama seminggu terakhir, sebelum penelitian dilakukan, dan kemudian dikategorikan menjadi tiga, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Berikut data jumlah responden berdasarkan frekuensi menonton acara prime time selama seminggu terakhir: Tabel 18 Jumlah dan persentase responden RT 04 RW 04 Desa Cibanteng

berdasarkan kategori frekuensi menonton acara prime time Tahun 2014

No. Kategori frekuensi menonton prime time Jumlah Persentase 1 Rendah 9 15.0 2 Sedang 48 80.0 3 Tinggi 3 5.0 Total 60 100.0

32

Berdasarkan Tabel 18, frekuensi menonton acara prime time responden cenderung sedang dengan jumlah 48 orang atau sebesar 80%. Mereka adalah responden yang hanya menonton salah satu kategori acara prime time sebanyak 5- 7 kali dalam seminggu terakhir. Responden dengan frekuensi menonton acara prime time yang rendah sebanyak sembilan orang atau sebesar 15%. Mereka adalah responden yang hanya menonton salah satu kategori acara prime time sebanyak 1-4 kali dalam seminggu terakhir. Hampir seluruh acara prime time yang mereka tonton tersebut adalah acara hiburan. Menurut mereka, saat prime time acara-acara hiburan lebih menyenangkan dan menarik daripada acara-acara informasi yang kebanyakan hanya ada di dua stasiun TV, yaitu TV One dan Metro TV. Sebenarnya mereka menyukai acara-acara informasi, seperti berita dan infotainment, tetapi pada waktu selain malam hari.

Frekuensi menonton acara prime time yang tinggi hanya sebanyak tiga orang atau sebesar 5%. Mereka adalah responden yang menonton kedua kategori acara prime time dalam seminggu terakhir sebanyak 1-4 kali pada salah satu program dan 5-7 kali pada program lainnya. Acara yang paling sering mereka tonton adalah acara informasi karena menurut mereka acara informasi sangat bermanfaat menambah pengetahuan. Selain sering menonton acara informasi, mereka juga cukup sering menonton acara hiburan saat prime time sebagai selingan informasi. Menurut mereka acara hiburan saat prime time ada kalanya menarik untuk ditonton karena menghibur dan membuat suasana keluarga menjadi ramai saat sedang menonton. Namun, secara keseluruhan responden memiliki frekuensi menonton acara prime time yang cukup tinggi.

Hubungan Karakteristik Masyarakat Desa Cibanteng dengan Perilaku Menonton pada Acara Televisi Prime Time

Perilaku menonton acara prime time masyarakat Desa Cibanteng yang diwakili masyarakat di RT 04 RW 04, dilihat dari durasi, pilihan acara, dan frekuensi menonton acara prime time. Secara keseluruhan, berikut jumlah masyarakat Desa Cibanteng yang diwakili responden berdasarkan perilaku menonton acara televisi prime time:

Tabel 19 Jumlah dan persentase responden RT 04 RW 04 Desa Cibanteng berdasarkan kategori perilaku menonton acara prime time Tahun 2014 No. Kategori perilaku menonton

acara prime time

Jumlah Persentase

1 Rendah 22 36.7

2 Tinggi 38 63.3

Total 60 100.0

Berdasarkan Tabel 19, masyarakat Desa Cibanteng cenderung memiliki perilaku menonton acara prime time yang tinggi dengan jumlah 38 orang atau sebesar 63.3%. Masyarakat Desa Cibanteng sebagian besar memiliki durasi menonton acara prime time rata-rata dua jam setiap hari. Hal ini karena banyak masyarakat yang menjadikan televisi sebagai alternatif pengisi waktu luang

33 mereka. Selain itu, menurut mereka acara-acara saat prime time sangat menarik untuk ditonton apalagi sambil berkumpul bersama keluarga pada jam tersebut.

Pilihan acara prime time mayoritas masyarakat Desa Cibanteng adalah acara hiburan, seperti acara kontes musik “Dangdut D’Academy” di Indosiar, “Yuk Keep Smile” di Trans TV, dan sinetron yang ada di SCTV dan RCTI. Keempat stasiun televisi yang menghadirkan acara hiburan saat prime time tersebut merupakan yang paling banyak dipilih masyarakat. Namun, frekuensi menonton masyarakat Desa Cibanteng sebagian besar masih belum terlalu tinggi selama satu minggu terakhir karena tidak semua masyarakat menonton acara hiburan dan informasi secara bersamaan setiap hari. Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku menonton acara prime time masyarakat adalah karakteristik masyarakat sendiri yang terdiri dari umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, ras, dan status ekonomi. Berikut hubungan masing-masing karakteristik masyarakat Desa Cibanteng dengan perilaku menonton acara prime time:

Tabel 20 Hubungan kelompok umur masyarakat Desa Cibanteng dengan perilaku menonton acara prime time Tahun 2014

Kelompok umur Perilaku menonton acara prime time Total

Rendah Tinggi

Dewasa awal 15 (25.0) 14 (23.3) 29 (48.3) Dewasa pertengahan 2 (3.3) 19 (31.7) 21 (35.0) Dewasa tua 5 (8.3) 5 (8.3) 10 (16.7) Total 22 (36.7) 38 (63.3) 60 (100.0) Keterangan: ( ) menunjukkan persentase

Berdasarkan Tabel 20, masyarakat Desa Cibanteng dengan kelompok umur dewasa pertengahan (31-50 tahun) cenderung memiliki perilaku menonton acara prime time yang tinggi dibandingkan kelompok umur lain dengan jumlah 19 orang atau sebesar 31.7%. Masyarakat pada kelompok umur dewasa pertengahan mayoritas lebih sering berada di rumah, termasuk saat prime time. Mereka memilih menonton televisi karena tidak ada aktivitas lain yang biasa dilakukan pada jam tersebut. Selain itu, masyarakat pada kelompok umur yang umumnya sudah memiliki anak tersebut menuntut mereka untuk menemani dan mengawasi anak-anak menonton acara televisi.

Berbeda dengan masyarakat pada kelompok umur dewasa awal (18-30 tahun) yang cenderung memiliki perilaku menonton acara prime time yang rendah. Hal ini karena kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk bermain atau berkumpul bersama teman-teman mereka di luar rumah. Mereka lebih suka pergi ke luar daripada menonton televisi di rumah bersama keluarga yang rata-rata hanya memiliki satu unit televisi dalam satu rumah. Begitu pun dengan masyarakat pada kelompok umur dewasa tua (51-55 tahun ke atas). Meskipun mereka lebih sering berada di rumah saat prime time, tidak semuanya menonton televisi karena banyak masyarakat yang lebih memilih pergi ke tempat ibadah atau istirahat lebih cepat.

Karakteristik umur masyarakat Desa Cibanteng tidak memiliki hubungan dengan perilaku menonton acara prime time. Berdasarkan hasil uji statistik dengan

34

menggunakan uji korelasi Rank Spearman, diperoleh nilai hubungan antara kedua variabel tersebut sebesar 0.140 > 0.1. Artinya, setelah dilakukan uji statistik pun tidak menunjukkan bahwa umur masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan dengan perilaku menonton acara prime time.

Tabel 21 Hubungan jenis kelamin masyarakat Desa Cibanteng dengan perilaku menonton acara prime time Tahun 2014

Jenis kelamin Perilaku menonton acara prime time Total

Rendah Tinggi

Perempuan 6 (10.0) 24 (40.0) 30 (50.0) Laki-laki 16 (26.7) 14 (23.3) 30 (50.0)

Total 22 (36.7) 38 (63.3) 60 (100.0)

Keterangan: ( ) menunjukkan persentase

Berdasarkan tabel 21, masyarakat perempuan cenderung memiliki perilaku menonton acara prime time yang tinggi dibandingkan laki-laki dengan jumlah 24 orang atau sebesar 40%. Menurut Ibu S, perempuan-perempuan di desa rata-rata hanya mengurus rumah tangga sehingga lebih sering di rumah, terutama saat prime time. Oleh karena itu, biasanya tidak ada lagi hal yang dikerjakan pada jam tersebut sehingga lebih memilih untuk menonton televisi. Pilihan acara yang mayoritas ditonton oleh para perempuan adalah acara hiburan.

Berbeda dengan perempuan, masyarakat laki-laki memiliki perilaku menonton acara prime time yang rendah dengan jumlah 16 orang atau 26.7%. Hal ini karena laki-laki tidak lebih sering menonton televisi dibanding perempuan, terutama saat prime time. Laki-laki tidak meluangkan banyak waktunya untuk menonton televisi dibanding perempuan karena sering sibuk bekerja, menyiapkan pekerjaan untuk esok hari, dan lebih memilih untuk bermain atau bertemu teman- temannya di luar rumah selama seminggu terakhir.

Karakteristik jenis kelamin masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan dengan perilaku menonton acara prime time. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji korelasi Chi Square, diperoleh nilai hubungan antara kedua variabel tersebut sebesar 0.007 < 0.1. Artinya, setelah dilakukan uji statistik pun menunjukkan bahwa jenis kelamin masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan nyata dengan perilaku menonton acara prime time.

Tabel 22 Hubungan tingkat pendidikan masyarakat Desa Cibanteng dengan perilaku menonton acara prime time Tahun 2014

Tingkat pendidikan Perilaku menonton acara prime time Total

Rendah Tinggi

Rendah 14 (23.3) 30 (50.0) 44 (73.3) Sedang 3 (5.0) 6 (10.0) 9 (15.0) Tinggi 5 (8.3) 2 (3.3) 7 (11.7) Total 22 (36.7) 38 (63.3) 60 (100.0) Keterangan: ( ) menunjukkan persentase

Berdasarkan Tabel 22, masyarakat Desa Cibanteng dengan tingkat pendidikan rendah (tidak tamat SD dan tamat SD) cenderung memiliki perilaku

35 menonton acara prime time yang tinggi dibandingkan kategori tingkat pendidikan lain dengan jumlah 30 orang atau sebesar 50%. Meski begitu, banyak juga dari masyarakat dengan pendidikan rendah yang memiliki perilaku menonton acara prime time yang rendah. Masyarakat dengan tingkat pendidikan sedang (tamat SMP) juga memiliki perilaku menonton acara prime time yang tinggi sedangkan masyarakat dengan tingkat pendidikan tinggi (tamat SMA) cenderung memiliki perilaku menonton acara prime time yang rendah. Namun, secara keseluruhan tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan masyarakat Desa Cibanteng dengan perilaku menonton acara prime time. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman, diperoleh nilai hubungan antara kedua variabel tersebut sebesar 0.134 > 0.1. Artinya, setelah dilakukan uji statistik pun tidak menunjukkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan dengan perilaku menonton acara prime time.

Tabel 23 Hubungan status pekerjaan masyarakat Desa Cibanteng dengan perilaku menonton acara prime time Tahun 2014

Status pekerjaan Perilaku menonton acara prime time Total

Rendah Tinggi

Tidak bekerja 9 (15.0) 24 (40.0) 33 (55.0) Bekerja tidak tetap 10 (16.7) 14 (23.3) 24 (40.0) Bekerja tetap 3 (5.0) 0 (0.0) 3 (5.0) Total 22 (36.7) 38 (63.3) 60 (100.0) Keterangan: ( ) menunjukkan persentase

Berdasarkan Tabel 23, masyarakat Desa Cibanteng yang tidak bekerja cenderung memiliki perilaku menonton acara prime time yang tinggi dengan jumlah 24 orang atau sebesar 40%. Mayoritas masyarakat dalam kategori ini adalah kaum perempuan yang tidak bekerja dan lebih sering berada di rumah. Mereka dapat meluangkan banyak waktu untuk menonton acara prime time karena menurut mereka tidak banyak bahkan tidak ada yang harus dikerjakan pada jam tersebut sehingga menonton televisi menjadi alternatif bagi mereka untuk menghilangkan kejenuhan.

Masyarakat yang bekerja tidak tetap pun demikian. Mayoritas masyarakat dalam kategori ini bekerja sebagai buruh dan pedagang yang jam kerjanya tidak menentu dan biasanya sudah berada di rumah sejak sore hari. Selama seminggu terakhir ini, 14 orang atau sebesar 23.3% diantaranya sudah berada di rumah saat prime time sehingga mereka dapat menonton televisi pada jam tersebut bahkan lewat dari prime time. Berbeda dengan masyarakat yang memiliki pekerjaan tetap, mereka cenderung memiliki perilaku menonton acara prime time yang rendah.

Salah satu masyarakat yang bekerja tetap sebagai karyawan di suatu perusahaan pakaian ternama di Bogor jarang menonton acara prime time, seperti dalam seminggu terakhir ini. Hal ini karena beliau lebih sering mendapat giliran (shift) siang hingga malam sehingga melewatkan acara prime time. Kalaupun menonton saat prime time, hanya pada hari sabtu atau minggu dan biasanya tidak terlalu lama karena lebih memilih untuk istirahat.

Karakteristik status pekerjaan masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan dengan perilaku menonton acara prime time. Berdasarkan hasil uji

36

statistik dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman, diperoleh nilai hubungan antara kedua variabel tersebut sebesar 0.045 < 0.1 dan nilai koefisien korelasi sebesar -0.259. Artinya, setelah dilakukan uji statistik pun menunjukkan bahwa status pekerjaan masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan nyata yang negatif dengan perilaku menonton acara prime time. Semakin rendah status pekerjaan masyarakat Desa Cibanteng maka semakin tinggi perilaku menonton acara prime time dan semakin tinggi status pekerjaan masyarakat Desa Cibanteng maka semakin rendah perilaku menonton acara prime time.

Tabel 24 Hubungan ras masyarakat Desa Cibanteng dengan perilaku menonton acara prime time Tahun 2014

Ras Perilaku menonton acara prime time Total

Rendah Tinggi

Luar Sunda 2 (3.3) 4 (6.7) 6 (10.0) Sunda campuran 1 (1.7) 0 (0.0) 1 (1.7) Sunda asli 19 (31.7) 34 (56.7) 53 (88.3) Total 22 (36.7) 38 (63.3) 60 (100.0) Keterangan: ( ) menunjukkan persentase

Berdasarkan Tabel 24, masyarakat Desa Cibanteng yang berasal dari Sunda asli cenderung memiliki perilaku menonton acara prime time yang tinggi dibandingkan kategori ras lain dengan jumlah 34 orang atau sebesar 56.7%. Masyarakat asli di desa tersebut memang lebih sering berada di rumah saat prime time dan sering mengikuti acara prime time pilihan mereka yaitu acara hiburan. Mereka senang menonton bersama keluarga, terutama acara kontes musik “Dangdut D’Academy”, yang menurut mereka merupakan acara kegemaran mayoritas masyarakat sekitar karena musik dangdut merupakan musik khas yang menghibur.

Masyarakat luar Sunda pun ternyata cenderung memiliki perilaku menonton acara prime time yang tinggi dengan jumlah empat orang atau sebesar 6.7%. Hal ini karena mayoritas masyarakat luar Sunda berprofesi sebagai pedagang dan wirausaha yang lebih sering berada di rumah pada jam prime time. Ada juga masyarakat luar Sunda yang memang hanya berada di rumah karena tidak bekerja sehingga dapat meluangkan waktu banyak untuk menonton televisi saat prime time. Mereka juga tidak ingin melewatkan acara prime time pilihan mereka dan keluarga, seperti sinetron dan acara lawakan yang menurut mereka sangat menghibur.

Berbeda dengan masyarakat Sunda campuran yang diwakili satu responden yang memiliki perilaku menonton acara prime time yang rendah karena beliau lebih senang berada di luar rumah bersama teman-temannya daripada menonton televisi pada jam tersebut. Secara keseluruhan, tidak ada hubungan antara karakteristik ras masyarakat Desa Cibanteng dengan perilaku menonton acara prime time. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji korelasi Chi Square, diperoleh nilai hubungan antara kedua variabel tersebut sebesar 0.412 > 0.1. Artinya, setelah dilakukan uji statistik pun tidak menunjukkan bahwa ras masyarakat Desa Cibanteng memiliki hubungan dengan perilaku menonton acara prime time.

37 Tabel 25 Hubungan status ekonomi masyarakat Desa Cibanteng dengan perilaku

menonton acara prime time Tahun 2014

Status ekonomi Perilaku menonton acara prime time Total

Rendah Tinggi

Rendah 9 (15.0) 23 (38.3) 32 (53.3) Sedang 8 (13.3) 11 (18.3) 19 (31.7) Tinggi 5 (8.3) 4 (6.7) 9 (15.0) Total 22 (36.7) 38 (63.3) 60 (100.0) Keterangan: ( ) menunjukkan persentase

Berdasarkan Tabel 25, masyarakat Desa Cibanteng dengan status ekonomi rendah cenderung memiliki perilaku menonton acara prime time yang tinggi dengan jumlah 26 orang atau sebesar 43.3%. Hal ini karena masyarakat yang memiliki pendapatan di bawah rata-rata biasanya sudah berada di rumah saat prime time sehingga banyak meluangkan waktu mereka untuk menonton televisi. Selain itu, masyarakat dengan status ekonomi rendah biasanya tinggal bersama keluarga lain dalam satu rumah dengan kepemilikan satu unit televisi sehingga apabila ada anggota keluarga yang menonton televisi maka mereka akan ikut menonton. Begitu pun dengan masyarakat dengan status ekonomi sedang. “Kalau malem kan disini rame teh. TV-nya ini aja satu disini, pada nonton ramean, seru!” Tutur Ibu M.

Berbeda dengan masyarakat dengan status ekonomi yang tinggi cenderung memiliki perilaku menonton acara prime time yang rendah. Hal ini karena mereka hanya meluangkan sedikit waktunya untuk menonton televisi saat prime time. Banyak masyarakat yang berstatus ekonomi tinggi lebih memilih mencari kegiatan menyenangkan lainnya, seperti bermain ponsel dan gadget saat jam tersebut. Seperti Bapak AR yang memiliki penghasilan Rp2 juta per bulan yang menyatakan bahwa dirinya tidak banyak meluangkan waktu menonton acara prime time tetapi lebih sering bermain gadget yang dimilikinya. Menurutnya, bermain gadget setelah lelah bekerja lebih seru dibanding menonton acara-acara

Dokumen terkait