• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.8 Literature Review dan Pengembangan

dilakukan oleh Buzby (1975), Chow dan Wong-Buren (1987), Botosan (1997), Sengupta (1998), Ali (2004), Muhammad (2009), Htay, Said dan Salman (2013), dan Khiari (2013). Di Indonesia, penelitian tentang pengungkapan informasi dilakukan oleh Na’im dan Rakhman (2000), Sabeni (2002), Hidayah (2008), Suryani (2012), Yunita (2012) dan Fauziyah (2015). Penelitian-penelitian tersebut menguji kualitas pengungkapan yang dikaitkan dengan kinerja, karakteristik industri, leverage, listing status, ukuran dan profitabilitas perusahaan. Penelitian tentang kualitas pengungkapan yang dilakukan di Indonesia pada umumnya dikaitkan dengan

mandatory disclosure, voluntary disclosure, social disclosure, intellectual capital disclosure, dan environmental disclosure.

Kualitas pengungkapan tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan CG secara umum. Menurut Tsui dan Gul (2000) bahwa pelaksanaan CG meningkatkan transparansi peru-sahaan. Transparansi perusahaan dikaitkan dengan kualitas pengungkapan. Beberapa penelitian yang telah me neliti tentang CG dan kualitas pengungkapan adalah Forker (1992),

(1992) menemukan bahwa mekanisme CG berpengaruh pada kualitas pengungkapan. Ho dan Wong (2000) di Hongkong menemukan bahwa keberadaan komite audit dan struktur dewan berpengaruh terhadap kualitas pengungkapan. Sabeni (2002) meneliti pada perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa keberadaan komite audit tidak berpengaruh pada kualitas pengungkapan. Htay et. al. (2013) meneliti pada perbankan di Malaysia. Htay et. al. (2013) menemukan bahwa kualitas pengungkapan akan meningkat ketika kepemilikan board, kepemilikan mayoritas, dan kepemilikan institusi lebih kecil, ukuran board yang lebih besar dan proporsi komisaris independen yang lebih tinggi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya inkonsistensi. Inkonsistensi hasil ini memberikan peluang untuk dilakukan penelitian kembali tentang CG dan kualitas pengungkapan.

Posisi penelitian ini dibandingkan dengan peneliti-an lainnya tentpeneliti-ang kualitas pengungkappeneliti-an adalah:

pertama, penelitian ini menggunakan konsep ICG dengan mamasukkan variabel karakteristik dewan pengawas syariah sebagai variabel independen yang berpengaruh pada kualitas pengungkapan. Kedua, karena konsep yang digunakan adalah ICG maka penelitian ini dilakukan pada perbankan syariah yang ada di Indonesia. Ketiga, pengukuran kualitas pengungkapan merujuk pada ketepatan waktu dalam menyampaikan laporan perusahaan pada publik.

Komisaris independen diasosiasikan dengan tang-gung jawab melakukan fungsi pengawasan pada manajer dan karenanya dapat mengurangi biaya keagenan (Brennan dan McDermott, 2004). Semakin tinggi proporsi Komisaris

Independen berarti semakin baik fungsi monitoring Dewan Komisaris. Karena Komisaris Independen berasal dari luar pe rusahaan, sehingga independensi Dewan Komisaris dalam hal melakukan monitoring lebih baik. Barnhart dan Rosenstain (1998) menyatakan bahwa semakin tinggi per-wakilan dari outside director, maka semakin tinggi inde-pendensi dan efektivitas board of director dalam men jalankan perannya. Bujaki dan Mcconomy (2002) menya takan bah wa semakin tinggi proporsi Komisaris Inde penden maka semakin banyak informasi yang diungkapkan. Hal ini didukung oleh Cheng dan Courteney (2004). Studi sebelumnya menunjukkan bahwa komisaris independen me rupakan penjaga fungsi pengawasan yang efektif (Alza-oubi dan Selamat, 2012). Hipotesis pene litian nya adalah:

H1: Proporsi komisaris independen berpengaruh po sitif pada kualitas pengungkapan laporan peru sahaan.

Salah satu tanggung jawab Dewan Komisaris adalah menghadiri meeting dan mereka dapat menyalurkan hak suaranya melalui meeting tersebut (Ronen dan Yaari, 2008). Suhardjanto dan Anggitarani (2010) menyatakan bahwa semakin sering rapat Dewan Komisaris, maka ke kurang-sesuaian pelaksanaan perusahaan akan semakin cepat ter-deteksi. Hal ini sejalan dengan apa yang di ungkapkan oleh Chen dan Zhou (2006) yang menyatakan bahwa frekuensi

meeting Dewan komisaris mengurangi kemungkinan terjadi nya fraud karena meeting yang teratur memungkinkan

board untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang ada. Ntim dan Osei (2011) membuktikan dan

men-Komisaris perusahaan yang lebih sering melakukan rapat akan meningkatkan kapasitasnya dalam menyarankan dan memantau manajemen. Menurut Conger, Finegold, dan Lawler (1998) semakin sering Dewan Komisaris melakukan

meeting maka semakin baik efektifitas board-nya. Menurut Vafeas (1999) bahwa meeting merupakan dimensi utama operasional Dewan Komisaris. Xie, Davidson, dan DaDalt (2003) berpendapat bahwa Dewan Komisaris yang jarang menghadiri meeting hanya memiliki waktu untuk menyetujui perencanaan manajemen dan mendengarkan presentasi sehingga waktunya sangat terbatas untuk memperhatikan isu-isu perusahaan lainnya. Fungsi monitoring yang lebih baik dari Dewan Komisaris diduga berpengaruh pada kualitas pengungkapan. Hipotesis penelitiannya adalah:

H2: Jumlah meeting Dewan Komisaris berpengaruh po-sitif pada kualitas pengungkapan laporan peru sahaan.

Menurut Vafeas (2005) bahwa ukuran Komite Audit merupakan karakteristik utama efektifitas Komite Audit. Jika ukuran komite Audit terlalu kecil, akan mengurangi efek tifitas kerja Komite Audit karena ketidakcukupan ukuran Komite Audit akan menyebabkan kurangnya dalam mo nitoring direksi. Menurut Jensen (1993) hal ini da pat di sebab kan oleh tugas yang meningkat sementara ukuran Komite Auditnya kecil, sehingga tugas kurang dapat ter-selesaikan dengan baik. Namun, jika ukuran Komite Audit ter lalu besar juga akan menyebabkan efektifitasnya ber-kurang karena kesulitan koordinasi, sehingga mem per-lemah proses monitoring.

Rata-rata ukuran Komite Audit yang dianggap tepat oleh peneliti sebelumnya adalah 3-4 orang (Abbott, 2004). Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa semakin besar ukuran Komite Audit maka akan semakin baik efektifitas monitoring-nya. Yang dan Khrisnan (2005) menyatakan bahwa jumlah anggota Komite Audit yang cukup meningkatkan efisiensi fungsi monitoring kaitannya dengan financial reporting integrity. Penelitian lainnya me-nyatakan bahwa perusahaan yang perhatian pada ukuran Komite Audit yang besar juga sangat perhatian pada reputasi auditor terutama Big4 auditors (Chen dan Zhou, 2007).

Ho dan Wong (2001) menemukan bahwa keberadaan komite audit meningkatkan kualitas pengungkapan. Kuali-tas pengungkapan dalam penelitian Ho dan Wong (2001) me rujuk pada voluntary disclosure. Hasil penelitian ini se-jalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuen, Liu, dan Lu (2009), Goodwin dan Seow (2002) dan Beasley (2000). Yuen et. al. (2009) menyatakan bahwa komposisi, kom petensi, dan jumlah Komite Audit berpengaruh pada bagaimana Komite Audit menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya, salah satunya adalah transparansi. Hipotesis penelitiannya adalah:

H3: Ukuran Komite Audit berpengaruh positif pada kualitas pengungkapan laporan perusahaan.

Komite Audit menjalankan tugasnya melalui meeting

dan aktivitas auditing perusahaan. Semakin sering meeting, berarti semakin sering melakukan monitoring in ternal

berpengaruh positif terhadap pengungkapan. Semakin tinggi intensitas pertemuan yang diadakan me mung kinkan komite audit secara intens membahas ten tang hal-hal penting pada penyusunan laporan ke uangan. Alzoubi (2012) menyatakan bahwa Komite Audit yang melakukan meeting secara reguler pada tahun fiskal di asosiasi kan de ngan monitoring yang efektif. Semakin sering mereka bertemu semakin efisien mereka dalam men jalankan tanggungjawabnya.

Menurut Krishnan dan Vishvanathan (2009) ada korelasi positif jumlah meeting Komite Audit dan fee untuk Komite Audit. Hal ini disebabkan oleh semakin sering

meeting, semakin membutuhkan jaminan dan kepastian serta kualitas yang tinggi pada proses audit yang dilakukan. Untuk memberikan jaminan dan kualitas yang lebih tinggi dari proses audit tersebut, dibutuhkan pekerjaan audit tambahan untuk memperluas scope dan meningkatkan tingkat pengujian auditing. Frekuensi meeting diduga ber-pengaruh pada kualitas pengungkapan laporan perusahaan, sehingga hipotesisnya adalah:

H4: Jumlah meeting Komite Audit berpengaruh positif pada kualitas pengungkapan laporan perusahaan

Menurut Rahman dan Bukhair (2013) semakin besar jumlah anggota shariah supervisory board (SSB) maka akan semakin efektif monitoring dan konsistensi pada prinsip syariah. Semakin besar ukuran DPS maka akan semakin besar kemampuannya dalam mengontrol transaksi pada perbankan syariah dengan melihat kesesuaiannya dengan prinsip syariah sehingga berpengaruh pada kualitas pengungkapan. Hipotesis penelitiannya adalah:

H5: Ukuran Dewan Pengawas Syariah berpengaruh pada kualitas pengungkapan laporan perusahaan.

Pengetahuan dan pengalaman merupakan elemen yang signifikan untuk memastikan efektivitas fungsi

monitoring board (Alzaubi, 2012). Menurut Farook (2011) bahwa latar belakang pendidikan berpengaruh pada praktek pengungkapan. Selain itu, pendidikan menentukan ting kat profesionalitas (Grace, Ireland, dan Dunstan, 1995). Be berapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan

sha riah supervisory board meningkatkan pengungkapan perusahaan (Farook, 2011). Menurut Rahman dan Bukhair (2013) anggota Shariah Supervisory Board harus memiliki penge tahuan hukum Islam, ekonomi, keuangan dan akuntansi. Jenjang pendidikan doktoral memiliki implikasi yang lebih baik pada pengungkapan. Alzaubi (2012) me-nyatakan pula bahwa pengetahuan tentang akuntansi dan keuangan berguna bagi board untuk memahami laporan keuangan yang lebih baik. Hipotesis penelitiannya adalah:

H6: Latar belakang pendidikan Dewan Pengawas Sya-riah berpengaruh pada kualitas pengungkapan laporan perusahaan.

Menurut Bukair (2014) efektifitas shariah supervisory board berpengaruh pada pengungkapan informasi. Bukair (2014) meneliti pada Bank Islam di Malaysia pada tahun 2008. Semakin sering rapat maka fungsi pengawasan yang dilakukan DPS kaitannya dengan kesesuaian syariah dan kualita pengungkapan akan semakin baik. Hipotesis

H7: Jumlah meeting Dewan Pengawas Syariah ber-pengaruh pada kualitas pengungkapan laporan perusahaan.

Dokumen terkait