BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Location Quotient Analysis (LQ)
Menurut Warpani (1984) analisis ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat spesialisasi sektor-sektor ekonomi di suatu daerah atau sektor-sektor apa saja yang merupakan sektor basis atau leading sektor. Pada dasarnya teknik ini menyajikan perbandingan relatif antara kemampuan suatu sektor di daerah yang diselidiki dengan kemampuan sektor yang sama pada daerah yang menjadi acuan. Satuan yang digunakan sebagai ukuran untuk menghasilkan koefisien LQ tersebut nantinya dapat berupa jumlah tenaga kerja per-sektor ekonomi, jumlah produksi atau satuan lain yang dapat digunakan sebagai kriteria. Teknik analisis ini belum bisa memberikan kesimpulan akhir dari sektor-sektor yang teridentifikasi sebagai sektor strategis. Namun untuk tahap pertama sudah cukup memberi gambaran akan kemampuan suatu daerah dalam sektor yang teridentifikasi.
15 E. Analisis Shift-Share
Shift-share merupakan alat analis yang membandingkan laju pertumbuhan berbagai sektor (industri) di daerah kita dengan wilayah nasional. Akan tetapi, metode ini lebih tajam dibanding dengan metode LQ. Metode LQ tidak memberikan penjelasan atas faktor penyebab perubahan sedangkan metode shift-share memperinci penyebab perubahan atas beberapa variabel. Analisis ini menggunakan metode pengisolasian berbagai faktor yang menyebabkan perubahan struktur industri suatu daerah dalam pertumbuhannya dari satu kurun waktu ke kurun waktu berikutnya. Hal ini meliputi penguraian faktor penyebab pertumbuhan berbagai sektor di suatu daerah dalam kaitannya dengan ekonomi nasional. Ada juga yang memakai model analisis ini sebagai industrial mix analysis, karena komposisi industri yang ada sangat mempengaruhi laju pertumbuhan wilayah tersebut. Artinya apakah industri berlokasi di wilayah tersebut termasuk kedalam kelompok industri yang secara nasional memang berkembang pesat dan bahwa industri tersebut cocok berlokasi diwilayah itu atau tidak. Analisis shift-share dapat menggunakan variabel lapangan kerja atau nilai tambah. Akan tetapi, yang terbanyak digunakan adalah variabel lapangan kerja karena datanya lebih mudah diperoleh. Apabila menggunakan nilai tambah maka sebaiknya menggunakan data harga konstan dengan tahun dasar yang sama.
Karena apabila tidak maka bobotnya (nilai riilnya) bisa tidak sama dan perbandingan itu menjadi tidak valid (Tarigan, 2009).
16 F. Penelitian Terdahulu
Fatmasari (2007), menganalisis tentang “Potensi Pertumbuhan Ekonomi di Kota Tangerang (Pendekatan Model Basis Ekonomi)”. Alat analisis yang digunakan adalahLQ dan shift share, penelitian ini menggunakan variabel PDRB, pertumbuhan sektor ekonomi, laju pertumbuhan ekonomi, sektor-sektor ekonomi, komponen share, komponen net shift, komponen deferential shift, komponen proportional shift. Menurut penelitian Fatmasari sektor basis di Kota Tangerang adalah sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor angkutan dan komunikasi. Sedangkan menurut penelitian ini yang menjadi sektor basis di kabupaten Kabupaten Pati adalah sektor pertanian, sektor Perdagangan, Restoran dan Hotel , Industri Pengolahan. Berarti penelitian yang dilakukan oleh Fatmasari mendukung penelitian ini, karena terdapat kesamaan yaitu pengembangan sektor basis.
Selain itu Prishardoyo (2008) juga menganalisis tentang” Analisis Tingkat Pertumbuhan Ekonomi dan Potensi Ekonomi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pati Tahun 2000-2005 ”. Alat analisis yang digunakan Location Quotient (LQ), Shift-Share, dan Analisis keterkaitan wilayah (Gravitasi).
Berdasarkan hasil analisis location quotient sektor-sektor potensial yang dapat diandalkan di kabupaten selama tahun analisis 2000-2005 adalah sektor pertanian, sektor listrik, gas dan air minum, sektor bangunan, sektor keuangan, sewa dan jasa perusahaan. Berdasarkan hasil analisis keterkaitan wilayah (Gravitasi) selama tahun analisis 2000-2005 menunjukkan bahwa kabupaten yang paling kuat
17 interaksinya dengan Kabupaten Pati adalah Kabupaten Kudus dengan, sedangkan yang paling sedikit interaksinya adalah Kabupaten Jepara.
Kemudian Ropingi, jurnal Soca, Vol. 6 No. 1 Edisi Februari 2006.
”Aplikasi Analisis Shift Share Esteban-Marquillas Pada Sektor Pertanian Di Kabupaten Boyolali”. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan antara tahun 1998-2002 berdasarkan nilai efek alokasi sektor perekonomian di Kabupaten Boyolali sektor pertanian dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif dan tersepesialisasi. Sedangkan sektor listrik, air, dan gas serta bangunan dan kontruksi serta jasa-jasa termasuk sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif namun tidak terspesialisasi. Sektor pembangunan, penggalian, dan sektor industri pengolahan merupakan sektor yang tidak memiliki keunggulan kompetitif dan juga tidak terspesialisasi. Sektor perdagangan, restoran, hotel, dan sektor transportasi, komunikasi termasuk sektor yang tidak memiliki keunggulan kompetitif namun terspesialisasi. Sektor pertanian yang memiliki keunggulan kopentitif adalah sektor tanaman bahan makanan dan sektor tanaman perkebunan.
18
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif. Metode deskriptif kuantitatif pada penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis potensi ekonomi dengan cara mengukur variabel-variabel ekonomi yang terkait berdasarkan pada PDRB sektoral. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kecenderungan serta membuktikan secara matematis sederhana berbagai data yang bersifat kuantitatif (Sangadji, 2010).
B. Metode Pengumpulan Data
Mengingat adanya faktor pembatas seperti waktu, tenaga, biaya dan setelah mempertimbangkan sifat masalah yang diteliti, maka metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode khusus yaitu metode penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literature (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian dari penelitidahulu (Nazir, 2011).
C. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder bisa diartikan sebagai data pendukung yang diperoleh dari buku-buku
19 yang berkaitan dengan penelitian atau dengan mengambil dari sumber lain yang diterbitkan oleh lembaga yang dianggap kompeten berupa data PDRB NTB selama 15 tahun, data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia selama 15 tahun.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang merupakan jenis data yang diperoleh dan digali melalui hasil pengolahan pihak kedua dari hasil penelitian lapangan baik berupa data kualitatif dan kuantitatif. Dalam hal ini lembaga yang dijadikan sebagai sumber data sekunder adalah Badan Pusat Statistik (BPS) seperti data pertumbuhan PDRB, kontribusi masing-masing sektor, dan lain sebagainya.
D. Metode Analisis Data
Untuk menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian maka digunakan dua alat analisis yaitu Location Quotien (LQ) digunakan untuk menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian pada poin pertama, dan Shift Share analisis digunakan untuk menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian pada poin kedua. Penjelasan tentang alat analisis yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Analisis Location Quotient (LQ)
Location Quotient atau biasa disingkat LQ adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor/industri disuatu daerah terhadap besarnya peranan sektor/industri tersebut secara nasional (Taringan, 2009). Hasil analisis ini digunakan untuk mengetahui sektor unggulan dan sektor non unggulan di
20 Provinsi NTB. Metode ini umum di gunakan dalam model ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan dari PDRB Provinsi NTB yang menjadi pemacu pertumbuhan ekonomi.
Nilai LQ sering digunakan untuk menentukan sektor unggulan yang dapat digunakan sebagai sektor yang akan mendorong tumbuhnya sektor lain yang nantinya akan berdampak pada penciptaan tenaga kerja. Formula LQ dapat dirumuskan sebagai berikut:
PDRBi : Total PDRB di Provinsi NTB pada tahun tertentu.
Xi : PDB sektor i di tingkat nasional pada tahun tertentu.
PDBi : Total PDB di tingkat nasional pada tahun tertentu.
Berdasarkan formula diatas maka Kriteria pengujian LQ dapat dibagi kedalam tiga kelompok yaitu:
1. LQ = 1. Hal ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di Provinsi NTB sama dengan sektor yang sama dalam perekonomian di tingkat nasional
2. Nilai LQ > 1. Hal ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di Provinsi NTB lebih besar dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian ditingkat Nasional.
21 3. Nilai LQ < 1. Hal ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di Provinsi NTB lebih kecil dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian ditingkat nasional.
Apabila nilai LQ>1, maka dapat disimpulkan bahwa sektor tersebut merupakan sektor unggulan dan potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Provinsi NTB. Sebaliknya apabila nilai LQ<1, maka sektor tersebut bukan merupakan sektor unggulan dan kurang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Provinsi NTB (Kuncoro dalam Riswan, 2013).
2. Analisis Shift-Share
Untuk menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian tentang pergeseran struktur ekonomi digunakan alat analisis shift-share. Alat analisis ini membandingkan laju pertumbuhan berbagai sektor/industri di provinsi NTB dengan wilayah nasional. Hasil analisis ini nantinya akan memberikan gambaran tentang kinerja sektor-sektor dalam PDRB provinsi NTB dibandingkan dengan PDB Nasional. Langkah selanjutnya yaitu melakukan analisis terhadap penyimpangan yang terjadi sebagai hasil perbandingan tersebut. Bila penyimpangan tersebut positif, maka dikatakan suatu sektor dalam PDRB Provinsi NTB memiliki keunggulan kompetitif atau sebaliknya. Data yang diperlukan dalam analisis ini adalah PDRB Provinsi NTB dan PDB Nasional menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan pada tahun tertentu.
22 Data yang digunakan dalam analisis shift-share ini adalah data PDRB Provinsi NTB tahun 2000-2015 dan data PDB nasional tahun 2000-2015 menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan tahun 2010. penggunaan data harga konstan dengan tahun dasar yang sama agar bobotnya (nilai riilnya) bisa sama dengan perbandingan menjadi valid (Tarigan, 2009).
Menurut Arsyad (2005), teknik analisis shift share membagi pertumbuhan (Dij) kedalam tiga komponen yaitu:
1. Pengaruh pertumbuhan ekonomi diatasnya (Nij), yang diukur dengan cara melihat perubahan pengerjaan agregat secara sektoral dibandingkan dengan perubahan pada sektor yang sama pada perekonomian yang dijadikan acuan. Hasil ini menunjukkan bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi nasional terhadap perekonomian Provinsi NTB.
2. Pengaruh bauran industi (Mij) atau pergeseran proporsional, yaitu mengukur pertumbuhan atau penurunan pada daerah studi dibandingkan dengan perekonomian yang dijadikan acuan. Hal ini memungkinkan untuk mengetahui apakah perekonomian daerah studi terkonsentrasi pada industri-industri yang tumbuh lebih cepat ketimbang perekonomian yang menjadi acuan.
3. Pengaruh keunguulan kompetitif (Cij) atau pergeseran diferensial, yang menentukan seberapa jauh daya saing industri lokal (daerah) dengan perekonomian yang dijadikan acuan, dimana jika pergeseran diferensial dari suatu sektor adalah positif, maka sektot tersebut lebih tinggi daya
23 saingnya ketimbang sektor yang sama pada perekonomian yang dijadikan acuan.
Menurut Soepomo (1993) dalam HRiswan, bentuk umum persamaan analisis shift share adalah:
Dij = Nij + Mij + Cij
Nij = Eij . rn Mij = Eij (rin-rn) Cij = Eij (rij-rin)
Keterangan:
i : Sektor-sektor ekonomi yang diteliti
j : Variabel wilayah yang diteliti (Provinsi NTB) Dij : Perubahan sektor i di daerah j (Provinsi NTB) Nij : Pertumbuhan sektor i di daerah j (Provinsi NTB) Mij : Bauran industri sektor i di daerah j (Provinsi NTB)
Cij : Keunggulan kompetitif sektor i di daerah j (Provinsi NTB) Eij : PDRB sektor i di daerah j (Provinsi NTB)
rij : laju pertumbuhan sektor i di daerah j (Provinsi NTB) rin : laju pertumbuhan sektor i di daerah n (Nasional) rn : laju pertumbuhan PDB di daerah n (Nasional)
Masing-masing pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai berikut:
1. rij = (e*ij-eij) / eij. Untuk mengukur laju pertumbuhan sektor i di wilayah j (Provinsi NTB).
24 2. rin = (e*in-ein) / ein. Untuk mengukur laju pertumbuhan sektor i perekonomian Nasional.
3. rn = (e*n-en) / en. Untuk mengukur laju pertumbuhan Nasional.
Keterangan:
e*in : PDRB sektor i di tingkat nasional pada tahun akhir analisis.
ein : PDRB sektor i ditingkat nasional pada tahun dasar tertentu.
e*ij : PDRB sektor i di wilayah j pada tahun akhir analisis.
eij : PDRB sektor i di wilayah j pada tahun dasar tertentu.
e*n : PDRB nasional pada tahun akhir analisis.
en : PDRB nasional pada tahun dasar tertentu.
25
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Sektor Unggulan
Location Quotient (LQ) merupakan analisis yang umum digunakan dalam model ekonomi unggulan sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan dari PDRB Provinsi NTB yang memacu pertumbuhan. Alat analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi keunggulan komparatif kegiatan ekonomi di Provinsi NTB dengan membandingkannya pada tingkat nasional.
Tarigan (2009) menuliskan bahwa metode (LQ) adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor/industri disuatu daerah terhadap besarnya peranan sektor/industri tersebut secara nasional. Dengan menggunakan alat analisis LQ maka dapat diidentifikasi sektor-sektor mana saja yang dapat dikembangkan untuk mensuplai kebutuhan lokal dan kebutuhan daerah lain, sehingga sektor yang potensial dapat dijadikan leading sektor atau sektor prioritas utama dalam merencanakan pembangunan ekonomi.
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metode LQ di Provinsi NTB tahun 2000-2009 dapat diketahui bahwa terdapat 5 sektor unggulan yang memiliki keunggulan komparatif atau yang memiliki nilai LQ>1, diantaranya: 1.
pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, 2. pertambangan dan penggalian, 3. bangunan, 4. pengangkutan dan komunikasi, dan 5. jasa – jasa.
26 Berikut merupakan penjelasan dari masing-masing sektor unggulan yang ada di Provinsi NTB tahun 2000-2009:
1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
Gambar 1. Diagram Hasil LQ Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan dari Tahun 2000-2009
Dari diagram (Gambar 1) diatas dapat di ketahui bahwa dari tahun 2000-2009 LQ sektor pertanian konsisten berada diatas angka 1 atau LQ >1 yang berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor ini lebih tinggi dibanding sektor yang sama pada tingkat nasional. Nilai LQ tertinggi adalah pada tahun 2008 dengan nilai LQ sebesar 1,88 dan yang paling rendah adalah pada tahun 2002 yaitu sebesar 1,71.
Tetapi walaupun demikian masih lebih unggul dibanding sektor yang sama di tingkat nasional. Sub sektor yang paling dominan dalam memberikan konstribusinya terhadap sektor pertanian sehingga tetap menjadi sektor unggulan adalah sub sektor tanaman bahan pangan khususnya tanaman padi dan
27 jagung.Luas lahan panen padi pada tahun 2008 adalah seluas 12.606 ha, meningkat 30,6% menjadi 16.459 ha pada tahun 2009. Selain lahan padi, luas panen komoditas jagung juga mengalami peningkatan sebesar 22,77% dimana pada tahun 2008 luas lahannya sebesar 7.146 ha kemudian naik menjadi 8.916 ha pada tahun 2009 (Bank Indoneisa, 2009). Selain komoditas padi dan jagung NTB juga memiliki komoditas unggulan lain seperti komoditas tembakau, sapi, ikan, rumput laut dan lain-lain. Dengan beragam potensi sumber daya alam yang dimiliki NTB maka tidak heran apabila sektor pertanian termasuk kedalam sektor unggulan. Pertanian sebagai sektor unggulan menunjukkan bahwa Provinsi NTB masih tertinggal seperti teori yang dikemukakan oleh Rostow dalam Jhingan (2007) dimana sektor pertanian memegang peranan penting dalam tahap pertama pertumbuhan ekonomi tetapi semakin berkembang suatu perekonomian maka posisi pertanian dan peranannya sebagai sektor primer akan semakin berkurang.
2. Sektor Pertambangan dan Penggalian
Sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor unggulan yang memiliki nilai rata-rata LQ tertinggi dari tahun 2000-2009 dibanding sektor lainnya. Berdasarkan diagram berikut (Gambar 2) nilai LQ sektor ini pada tahun 2000 adalah sebesar 2,18, tahun 2004 sebesar 3,02 dan pada tahun 2007 sebesar 2,93 kemudian pada tahun 2008 turun menjadi 2,73. Tingginya nilai LQ sektor ini menunjukkan bahwa tingkat spesialisasi sektor ini lebih besar dibanding sektor yang sama di tingkat nasional. Unggulnya nilai sektor pertambangan ini dikarenakan adanya penambangan aktif yang dilakukan PT Newmont Nusa Tenggaga (NNT) yang terletak di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Hasil dari
28 eksploitasi PT NTT ini baik berupa emas, mineral dan sumber daya lainnya di ekspor ke luar negeri dalam keadaan mentah tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Walaupun demikian kegiatan ekspor ini memberikan konstribusi pendapatan yang cukup besar bagi Provinsi NTB khususnya KSB.
Gambar 2. Diagram hasil LQ sektor Pertambangan dan Penggalian dari tahun 2000-2009
Distribusi presentase PDRB atas dasar harga konstan sektor pertambangan tahun 2008 adalah 22,65% dan pada tahun 2009 adalah 26,00% (BPS NTB, 2017). Mulai membaiknya kondisi ekonomi global pada tahun 2009 menyebabkan permintaan dunia akan konsentrat tembaga diyakini menjadi faktor yang memicu peningkatan produksi di sektor pertambangan di mana hal ini sejalan dengan peningkatan produktivitas sektor pertambangan yang terus meningkat. Data produksi konsentrat tembaga PT. NNT menunjukkan
29 peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2008 ke tahun 2009 dimana produksi konsentrat pada 2008 tercatat 168,9 ribu metric ton menjadi 257,3 ribu metric ton pada tahun 2009 (Bank Indonesia, 2009). Aktivitas pertambangan merupakan kegiatan yang dilakukan berdasarkan sumber daya alam yang dimiliki, dan tidak semua daerah memiliki sumber daya alam tersebut sehingga tidak heran jika di beberapa daerah sektor pertambangan ini tidak termasuk ke dalam sektor unggulan.
3. Bangunan
Gambar 3. Diagram hasil LQ sektor Bangunan dari tahun 2000-2009
Berdasarkan diagram di atas (gambar 3) nilai LQ>1 menunjukkan bahwa sektor ini juga termasuk kedalam sektor unggulan atau salah satu sektor yang memiliki tingkat spesialisasi lebih tinggi dibanding sektor yang sama di tingkat
30 nasional. Nilai LQ sektor ini tahun 2004 sebesar 1,09, kemudian 2005 1,11 di tahun 2007 1,13 dan puncaknya pada tahun 2009 yaitu sebesar 1,23. Percepatan realisasi belanja pemerintah dan kegiatan investasi membuat kinerja sektor bangunan pada tahun 2009 mampu tumbuh dengan positif. Kegiatan ekonomi sektor bangunan diperkirakan tumbuh 7,76% (yoy), meningkat dibanding pada tahun 2008 yang mencapai 4,87%. Meningkatnya kinerja sektor bangunan dapat dilihat dari kemajuan pembangunan sejumlah infrastruktur seperti Bandara Internasional Lombok yang pembagunan fisiknya mencapai 83% dan pembangunan PLTU Jeranjang (1x 25MW) yang mencapai 54% serta bangunan- bangunan pendukung kegiatan usaha (ruko). Berdasarkan data Prompt indicator konsumsi semen di NTB pada tahun 2009 mencapai 206,66 ribu ton meningkat 45,32% dibanding tahun 2008 yang hanya mencapai 142,21 ribu ton. Selain itu distribusi presentase PDRB sektor bangunan pada tahun 2009 adalah sebesar 7,73 (Bank Indonesia, 2009). Selain itu jumlah penduduk yang terus bertambah juga menjadi salah satu alasan mengapa sektor bangunan menjadi sektor unggulan.
Banyaknya jumlah penduduk secara tidak langsung akan mepengaruhi bertambahnya jumlah bangunan baik itu tempat tinggal atau perumahan, taman hiburan maupun pembangunan lainnya.
4. Pengangkutan dan Komunikasi
Nilai rata-rata LQ dari tahun 2000-2009 sektor pengangkutan dan komunikasi tergolong kedalam sektor unggulan kerena memiliki nilai rata-rata LQ>1 yaitu sebesar 1,17. Berdasarkan diagram di bawah ini (Gambar 4) nilai LQ sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun 2000 adalah sebsar 1, 44,
31 kemudian pada tahun 2007 sebesar 1,07 dan terus menurun menjadi 0,99 pada tahun 2008 dan 0,85 pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa spesialisasi sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun 2000 hingga 2007 lebih tinggi dibandingkan sektor yang sama pada tingkat nasional. Namun pada tahun 2008 hingga 2009 tingkat spesialisasi sektor pengangkutan dan komunikasi lebih rendah dibanding sektor yang sama pada tingkat nasional. Sektor transportasi dan komunikasi tumbuh sebesar 7,31% pada tahun 2009 lebih tinggi dibanding pada tahun 2008 yang tumbuh mencapai 4,58%. Pertumbuhan pada sektor ini dapat dilihat pada arus penumpang dan bongkar muat, dimana pada akhir tahun 2009 aktivitas bongkar muat mencapa 179.448 ton/m3, naik 12,89% dibanding tahun 2008 yang mencapai 158.965 ton/m3.
Gambar 4. Diagram hasil LQ sektor Pengangkutan dan komunikasi dari tahun 2000-2009
32 Selain itu arus penumpang juga menunjukkan peningkatan yang signifikan tumbuh sebesar 84,65% menjadi 11.899 orang dibanding tahun 2008 yang tercatat sebesar 6.444 orang. Selain momen liburan akhir tahun baru, penambahan kapal ferry baru juga diprediksi sebagai pendongkrak pengingkatan penumpang tersebut (Bank Indonesia, 2009). Sub sektor komunikasi juga turut memberikan sumbangan terhadap peningkatan sektor ini dimana pada tahun 2009 jasa pengguna POS untuk terima surat kilat khusus adalah 171.643 dan untuk kirim surat adalah sebanyak 192.593 (BPS NTB, 2009).
5. Jasa – Jasa
Gambar 5. Diagram hasil LQ sektor jasa-jasa dari tahun 2000-2009
33 Berdasarkan diagram di atas (Gambar 5) sektor jasa-jasa merupakan sektor unggulan dengan nilai rata-rata LQ sebesar 1,12. Pada tahun 2000 nilai LQ sektor ini adalah sebesar 1,20 ditahun 2005 adalah sebesar 1,09 dan di tahun 2009 sebesar 1,12. Nilai LQ diatas 1 menunjukkan bahwa tingkat spesialisasi sektor ini lebih tinggi dibanding sektor yang sama pada tingkat nasional. Sub sektor yang paling dominan konstribusinya terhadap sektor jasa adalah subsektor pemerintahan umum yang mencakup jasa pelayan pendidikan, kesehatan, hiburan dan unit kegiatan lainnya seperti sekolah, perpustakaan, rumah sakit, museum dan lain lain. Sub sektor jasa diatas merupakan sesuatu yang berhungan langsung dengan kebutuhan masyarakat sehingga tidak heran jika menjadi sektor unggulan.
Contohnya sub sektor pendidikan, pentingnya pendidikan bagi masyarakat membuat pemerintah membuat beberapa program khusus yang tujuanya untuk memudahkan dan membantu masyarakat merasakan bangku sekolah. Salah satunya adalah program wajib belajar 9 tahun. Program wajib belajar 9 tahun ini merupakan program sekolah bagi anak-anak sekolah dasar (SD) dan seekolah menengah pertama (SMP) dimana mereka dibebaskan dari kewajiban membayar uang sekolah baik itu komite maupun SPP. Di Provinsi NTB sendiri jumlah sekolah dari tahun ke tahun terus meningkat dimana pada tahun 2007/2008 jumlah TK di Provinsi NTB adalah 1.033 unit dengan jumlah murid 49.466 orang, sedangkan untuk SD sebanyak 2.927 unit dengan jumlah murid 548.733 orang.
Angka tersebut terus mengalami peningkatan dimana ditahun 2008/2009 jumlah TK meningkat menjadi 1.102 unit dengan jumlah murid sebanyak 53.789 orang
34 dan untuk SD meningkat menjadi 2.927 unit sekolah dengan jumlah murid 548.797 orang.
Sedangkan empat sektor lain merupakan sektor non unggulan karena memiliki nilai LQ<1 yang berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor tersebut lebih rendah di banding sektor yang sama pada tingkat nasional. Empat sektor tersebut diantaranya: industri pengolahan dengan nilai rata-rata LQ 0,16 sektor listrik, gas dan air bersih dengan nilai rata-rata LQ 0,45 kemudian sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dengan nilai rata-rata LQ 0,47 dan sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan nilai rata-rata LQ 0,85. Berikut merupakan sedikit penjelasan tentang sektor no unggulan provinsi NTB tahun 2000-2009.
6. Sektor Industri pengolahan
Sektor industri pengolahan merupakan sektor non unggulan. Hal ini dikarenakan nilai rata-rata LQ<1 yaitu sebesar 0,16 dan merupakan yang terendah
Sektor industri pengolahan merupakan sektor non unggulan. Hal ini dikarenakan nilai rata-rata LQ<1 yaitu sebesar 0,16 dan merupakan yang terendah