• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIANDAN PEMBAHASAN

A. Sektor Unggulan

Location Quotient (LQ) merupakan analisis yang umum digunakan dalam model ekonomi unggulan sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan dari PDRB Provinsi NTB yang memacu pertumbuhan. Alat analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi keunggulan komparatif kegiatan ekonomi di Provinsi NTB dengan membandingkannya pada tingkat nasional.

Tarigan (2009) menuliskan bahwa metode (LQ) adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor/industri disuatu daerah terhadap besarnya peranan sektor/industri tersebut secara nasional. Dengan menggunakan alat analisis LQ maka dapat diidentifikasi sektor-sektor mana saja yang dapat dikembangkan untuk mensuplai kebutuhan lokal dan kebutuhan daerah lain, sehingga sektor yang potensial dapat dijadikan leading sektor atau sektor prioritas utama dalam merencanakan pembangunan ekonomi.

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metode LQ di Provinsi NTB tahun 2000-2009 dapat diketahui bahwa terdapat 5 sektor unggulan yang memiliki keunggulan komparatif atau yang memiliki nilai LQ>1, diantaranya: 1.

pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, 2. pertambangan dan penggalian, 3. bangunan, 4. pengangkutan dan komunikasi, dan 5. jasa – jasa.

26 Berikut merupakan penjelasan dari masing-masing sektor unggulan yang ada di Provinsi NTB tahun 2000-2009:

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan

Gambar 1. Diagram Hasil LQ Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan dari Tahun 2000-2009

Dari diagram (Gambar 1) diatas dapat di ketahui bahwa dari tahun 2000-2009 LQ sektor pertanian konsisten berada diatas angka 1 atau LQ >1 yang berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor ini lebih tinggi dibanding sektor yang sama pada tingkat nasional. Nilai LQ tertinggi adalah pada tahun 2008 dengan nilai LQ sebesar 1,88 dan yang paling rendah adalah pada tahun 2002 yaitu sebesar 1,71.

Tetapi walaupun demikian masih lebih unggul dibanding sektor yang sama di tingkat nasional. Sub sektor yang paling dominan dalam memberikan konstribusinya terhadap sektor pertanian sehingga tetap menjadi sektor unggulan adalah sub sektor tanaman bahan pangan khususnya tanaman padi dan

27 jagung.Luas lahan panen padi pada tahun 2008 adalah seluas 12.606 ha, meningkat 30,6% menjadi 16.459 ha pada tahun 2009. Selain lahan padi, luas panen komoditas jagung juga mengalami peningkatan sebesar 22,77% dimana pada tahun 2008 luas lahannya sebesar 7.146 ha kemudian naik menjadi 8.916 ha pada tahun 2009 (Bank Indoneisa, 2009). Selain komoditas padi dan jagung NTB juga memiliki komoditas unggulan lain seperti komoditas tembakau, sapi, ikan, rumput laut dan lain-lain. Dengan beragam potensi sumber daya alam yang dimiliki NTB maka tidak heran apabila sektor pertanian termasuk kedalam sektor unggulan. Pertanian sebagai sektor unggulan menunjukkan bahwa Provinsi NTB masih tertinggal seperti teori yang dikemukakan oleh Rostow dalam Jhingan (2007) dimana sektor pertanian memegang peranan penting dalam tahap pertama pertumbuhan ekonomi tetapi semakin berkembang suatu perekonomian maka posisi pertanian dan peranannya sebagai sektor primer akan semakin berkurang.

2. Sektor Pertambangan dan Penggalian

Sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor unggulan yang memiliki nilai rata-rata LQ tertinggi dari tahun 2000-2009 dibanding sektor lainnya. Berdasarkan diagram berikut (Gambar 2) nilai LQ sektor ini pada tahun 2000 adalah sebesar 2,18, tahun 2004 sebesar 3,02 dan pada tahun 2007 sebesar 2,93 kemudian pada tahun 2008 turun menjadi 2,73. Tingginya nilai LQ sektor ini menunjukkan bahwa tingkat spesialisasi sektor ini lebih besar dibanding sektor yang sama di tingkat nasional. Unggulnya nilai sektor pertambangan ini dikarenakan adanya penambangan aktif yang dilakukan PT Newmont Nusa Tenggaga (NNT) yang terletak di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Hasil dari

28 eksploitasi PT NTT ini baik berupa emas, mineral dan sumber daya lainnya di ekspor ke luar negeri dalam keadaan mentah tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Walaupun demikian kegiatan ekspor ini memberikan konstribusi pendapatan yang cukup besar bagi Provinsi NTB khususnya KSB.

Gambar 2. Diagram hasil LQ sektor Pertambangan dan Penggalian dari tahun 2000-2009

Distribusi presentase PDRB atas dasar harga konstan sektor pertambangan tahun 2008 adalah 22,65% dan pada tahun 2009 adalah 26,00% (BPS NTB, 2017). Mulai membaiknya kondisi ekonomi global pada tahun 2009 menyebabkan permintaan dunia akan konsentrat tembaga diyakini menjadi faktor yang memicu peningkatan produksi di sektor pertambangan di mana hal ini sejalan dengan peningkatan produktivitas sektor pertambangan yang terus meningkat. Data produksi konsentrat tembaga PT. NNT menunjukkan

29 peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2008 ke tahun 2009 dimana produksi konsentrat pada 2008 tercatat 168,9 ribu metric ton menjadi 257,3 ribu metric ton pada tahun 2009 (Bank Indonesia, 2009). Aktivitas pertambangan merupakan kegiatan yang dilakukan berdasarkan sumber daya alam yang dimiliki, dan tidak semua daerah memiliki sumber daya alam tersebut sehingga tidak heran jika di beberapa daerah sektor pertambangan ini tidak termasuk ke dalam sektor unggulan.

3. Bangunan

Gambar 3. Diagram hasil LQ sektor Bangunan dari tahun 2000-2009

Berdasarkan diagram di atas (gambar 3) nilai LQ>1 menunjukkan bahwa sektor ini juga termasuk kedalam sektor unggulan atau salah satu sektor yang memiliki tingkat spesialisasi lebih tinggi dibanding sektor yang sama di tingkat

30 nasional. Nilai LQ sektor ini tahun 2004 sebesar 1,09, kemudian 2005 1,11 di tahun 2007 1,13 dan puncaknya pada tahun 2009 yaitu sebesar 1,23. Percepatan realisasi belanja pemerintah dan kegiatan investasi membuat kinerja sektor bangunan pada tahun 2009 mampu tumbuh dengan positif. Kegiatan ekonomi sektor bangunan diperkirakan tumbuh 7,76% (yoy), meningkat dibanding pada tahun 2008 yang mencapai 4,87%. Meningkatnya kinerja sektor bangunan dapat dilihat dari kemajuan pembangunan sejumlah infrastruktur seperti Bandara Internasional Lombok yang pembagunan fisiknya mencapai 83% dan pembangunan PLTU Jeranjang (1x 25MW) yang mencapai 54% serta bangunan- bangunan pendukung kegiatan usaha (ruko). Berdasarkan data Prompt indicator konsumsi semen di NTB pada tahun 2009 mencapai 206,66 ribu ton meningkat 45,32% dibanding tahun 2008 yang hanya mencapai 142,21 ribu ton. Selain itu distribusi presentase PDRB sektor bangunan pada tahun 2009 adalah sebesar 7,73 (Bank Indonesia, 2009). Selain itu jumlah penduduk yang terus bertambah juga menjadi salah satu alasan mengapa sektor bangunan menjadi sektor unggulan.

Banyaknya jumlah penduduk secara tidak langsung akan mepengaruhi bertambahnya jumlah bangunan baik itu tempat tinggal atau perumahan, taman hiburan maupun pembangunan lainnya.

4. Pengangkutan dan Komunikasi

Nilai rata-rata LQ dari tahun 2000-2009 sektor pengangkutan dan komunikasi tergolong kedalam sektor unggulan kerena memiliki nilai rata-rata LQ>1 yaitu sebesar 1,17. Berdasarkan diagram di bawah ini (Gambar 4) nilai LQ sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun 2000 adalah sebsar 1, 44,

31 kemudian pada tahun 2007 sebesar 1,07 dan terus menurun menjadi 0,99 pada tahun 2008 dan 0,85 pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa spesialisasi sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun 2000 hingga 2007 lebih tinggi dibandingkan sektor yang sama pada tingkat nasional. Namun pada tahun 2008 hingga 2009 tingkat spesialisasi sektor pengangkutan dan komunikasi lebih rendah dibanding sektor yang sama pada tingkat nasional. Sektor transportasi dan komunikasi tumbuh sebesar 7,31% pada tahun 2009 lebih tinggi dibanding pada tahun 2008 yang tumbuh mencapai 4,58%. Pertumbuhan pada sektor ini dapat dilihat pada arus penumpang dan bongkar muat, dimana pada akhir tahun 2009 aktivitas bongkar muat mencapa 179.448 ton/m3, naik 12,89% dibanding tahun 2008 yang mencapai 158.965 ton/m3.

Gambar 4. Diagram hasil LQ sektor Pengangkutan dan komunikasi dari tahun 2000-2009

32 Selain itu arus penumpang juga menunjukkan peningkatan yang signifikan tumbuh sebesar 84,65% menjadi 11.899 orang dibanding tahun 2008 yang tercatat sebesar 6.444 orang. Selain momen liburan akhir tahun baru, penambahan kapal ferry baru juga diprediksi sebagai pendongkrak pengingkatan penumpang tersebut (Bank Indonesia, 2009). Sub sektor komunikasi juga turut memberikan sumbangan terhadap peningkatan sektor ini dimana pada tahun 2009 jasa pengguna POS untuk terima surat kilat khusus adalah 171.643 dan untuk kirim surat adalah sebanyak 192.593 (BPS NTB, 2009).

5. Jasa – Jasa

Gambar 5. Diagram hasil LQ sektor jasa-jasa dari tahun 2000-2009

33 Berdasarkan diagram di atas (Gambar 5) sektor jasa-jasa merupakan sektor unggulan dengan nilai rata-rata LQ sebesar 1,12. Pada tahun 2000 nilai LQ sektor ini adalah sebesar 1,20 ditahun 2005 adalah sebesar 1,09 dan di tahun 2009 sebesar 1,12. Nilai LQ diatas 1 menunjukkan bahwa tingkat spesialisasi sektor ini lebih tinggi dibanding sektor yang sama pada tingkat nasional. Sub sektor yang paling dominan konstribusinya terhadap sektor jasa adalah subsektor pemerintahan umum yang mencakup jasa pelayan pendidikan, kesehatan, hiburan dan unit kegiatan lainnya seperti sekolah, perpustakaan, rumah sakit, museum dan lain lain. Sub sektor jasa diatas merupakan sesuatu yang berhungan langsung dengan kebutuhan masyarakat sehingga tidak heran jika menjadi sektor unggulan.

Contohnya sub sektor pendidikan, pentingnya pendidikan bagi masyarakat membuat pemerintah membuat beberapa program khusus yang tujuanya untuk memudahkan dan membantu masyarakat merasakan bangku sekolah. Salah satunya adalah program wajib belajar 9 tahun. Program wajib belajar 9 tahun ini merupakan program sekolah bagi anak-anak sekolah dasar (SD) dan seekolah menengah pertama (SMP) dimana mereka dibebaskan dari kewajiban membayar uang sekolah baik itu komite maupun SPP. Di Provinsi NTB sendiri jumlah sekolah dari tahun ke tahun terus meningkat dimana pada tahun 2007/2008 jumlah TK di Provinsi NTB adalah 1.033 unit dengan jumlah murid 49.466 orang, sedangkan untuk SD sebanyak 2.927 unit dengan jumlah murid 548.733 orang.

Angka tersebut terus mengalami peningkatan dimana ditahun 2008/2009 jumlah TK meningkat menjadi 1.102 unit dengan jumlah murid sebanyak 53.789 orang

34 dan untuk SD meningkat menjadi 2.927 unit sekolah dengan jumlah murid 548.797 orang.

Sedangkan empat sektor lain merupakan sektor non unggulan karena memiliki nilai LQ<1 yang berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor tersebut lebih rendah di banding sektor yang sama pada tingkat nasional. Empat sektor tersebut diantaranya: industri pengolahan dengan nilai rata-rata LQ 0,16 sektor listrik, gas dan air bersih dengan nilai rata-rata LQ 0,45 kemudian sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dengan nilai rata-rata LQ 0,47 dan sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan nilai rata-rata LQ 0,85. Berikut merupakan sedikit penjelasan tentang sektor no unggulan provinsi NTB tahun 2000-2009.

6. Sektor Industri pengolahan

Sektor industri pengolahan merupakan sektor non unggulan. Hal ini dikarenakan nilai rata-rata LQ<1 yaitu sebesar 0,16 dan merupakan yang terendah dari 9 sektor yang ada. Dari tahun 2000-2009 nilai LQ industri pengolahan tidak pernah lebih dari 0,19. Industri pengolahan merupakan sektor yang mampu memberikan nilai tambah yang cukup besar bagi perekonomian hal ini dikarenakan dia mengolah barang mentah menjadi barang jadi sebelum didistribusikan kepasaran sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Rendahnya nilai LQ ini disebabkan oleh sedikitnya industri yang terdapat di Provinsi NTB. Berdasarkan data BPS Jumlah industri yang ada di NTB berdasarkan golongannya ada Sembilan dengan jumlah perusahaan sebanyak 132

35 (BPS NTB, 2009). Sedikitnya jumlah perusahaan dan golongan industri yang ada membuat sektor ini termasuk kedalam sektor non unggulan.

Tabel 4.1 Jumlah Industri Besar Sedang dan Tenaga Kerja Dirinci Menurut Sektor Industri di NTB tahun 2008-2009

Golongan Industri JumlahPerusahaan Jumlah Tenaga Kerja

Industri Makanan dan Minuman 40 1.473

Industri Pengolahan Tembakau 32 1.418

Industri Pakaian Jadi dan Tenun 15 516

Industri Pengolahan Kayu dan

Industri Pengolahan Batu Apung 5 155

Industri Pengolahan Lainnya 4 132

7. Listrik, Gas, dan Air Bersih

Sektor listrik, gas, dan air bersih merupakan sektor non unggulan dengan nilai rata-rata LQ<1 yaitu sebesar 0,45. Pada tahun 2000 nilai LQ nya adalah 0,44, kemudian pada tahun 2004 adalah sebesar 0,43 dan ditahun 2009 adalah sebesar 0,48. Meskipun memiliki konstribusi yang rendah terhadap pertumbuhan ekonomi tetapi kinerja sektor listrik terus tumbuh di mana pada tahun 2008 tumbuh sebesar 5,56% dan mengalami peningkatan pada tahun 2009 dimana sektor ini tumbuh sebesar 5,90%. Rendahnya nilai LQ tersebut secara tidak langsung dapat

36 mempengaruhi sektor lain yang memiliki keterkaitan baik itu kedepan maupun kebelakang.

8. Perdagangan, Hotel dan Restoran

Sektor perdagangan hotel dan restoran memiliki nilai rata-rata LQ<1 yaitu sebesar 0,81 yang berarti bahwa sektor ini termasuk kedalam sektor non unggulan. Pada tahun 2000 nilai LQ adalah sebesar 0,78 pada tahun 2005 sebesar 0,80 dan pada tahun 2009 sebesar 0,81. Walaupun bukan sektor unggulan, sektor perdangangan hotel dan restoran mampu tumbuh positif pada tahun 2009.

Peningkatan sektor ini diperkirakan didorong oleh kinerja sub sektor hotel dan restoran khususnya diakhir tahun 2009 yang merupakan musim liburan akhir tahun (Natal dan tahun baru). Sub sektor lain yang mendorong kinerja sektor perdagangan hotel dan restoran adalah sub sektor perdagangan dengan peningkatan konsumsi masyarakat dan perdagangan komoditas pertanian seperti beras dan tembakau. Data promptindicator menunjukkan tingkat hunian kamar (TPK) hotel berbintang terjadi peningkatan peningkatan, dimana rata-rata TPK hotel berbintang mencapai 48,78% naik sebesar 1,99 point dibanding tahun 2008 yang mencapai 46,78%. Sedangkan untuk tamu yang menginap mencapai 20.075 orang meningkat 47,5% dibanding tahun 2008 yang mencapai 13.608 orang (Bank Indonesia, 2009).

9. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan termasuk kedalam kategori sektor non unggulan karena memiliki nilai rata-rata LQ<1 yaitu sebesar

37 0,47. Dimana pada tahun 2000 nilai LQ nya adalah 0,38 kemudian pada tahun 2005 sebesar 0,49 dan pada tahun 2009 adalah sebesar 0,55.). Subsektor yang mendominasi sektor ini adalah bank dan sewa bangunan. Jumlah bank yang ada pada tahun 2009 menurut jenis Bank adalah sebanyak 72. Dengan jumlah kredit yang disalurkan oleh bank sebanyak 8,2 trilliun (BPS, 2009). Pertumbuhan sektor tersebut pada tahun 2009 adalah sebesar 10,17% lebih tinggi dari pada tahun 2008 yang mencapai 6,82%. Peningkatan kinerja sub sektor perbankan diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan sektor keuangan, persewaan dan jasa., persewaan dan jasa perusahaan juga termasuk kedalam sektor non unggulan.

Dengan diberlakukannya tahun dasar 2010 pada tahun 2015 oleh BPS maka sektor yang menyusun PDRB sebelumnya yang menggunakan tahun dasar 2000 dan dengan yang menggunakan tahun dasar 2010 mengalami perbedaan.

Pada tahun dasar 2000 terdapat Sembilan sektor penyusun PDRB, sementara pada tahun dasar 2010 terdapat 17 sektor penyusun PDRB. Salah satu alasan penambahan sektor ini adalah banyak perubahan yang terjadi pada tatanan global dan lokal yang sangat berpengaruh pada perekonomian nasional. Krisis finansial global atau penerapan perdagangan bebas merupakan contoh perubahan yang perlu diadaptasi dalam mekanisme pencatatan statistik nasional. Salah satu bentuk adaptasinya adalah mengubah tahun dasar PDB Indonesia dari tahun 2000 ke 2010 (BPS NTB, 2017).

Dari hasil analisis LQ Provinsi NTB atas dasar harga konstan tahun 2010 terdapat 7 sektor unggulan yang memiliki keunggulan komparatif atau yang memiliki nilai LQ>1, yaitu: 1. Sektor pertanian, kehutanan & perikanan 2. Sektor

38 pertambangan & penggalian 3. Sektor transportasi dan pergudangan 4. Sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan 5. Sektor jasa pendidikan 6. Sektor jasa kesehatan dan kegiatan lainnya 7. Sektor jasa lainnya. Dari ketujuh sektor unggulan tersebut yang memiliki nilai LQ tertinggi adalah sektor pertambangan &

penggalian dengan nilai LQ 2,15 yang kedua adalah sektor jasa kesehatan dan kegiatan lainnya dengan nilai LQ 1,86 yang ketiga adalah sektor transportasi dan pergudangan dengan nilai LQ 1,80 dan yang keempat adalah sektor pertanian, kehutanan & perikanan dengan nilai LQ 1,72 diikuti oleh ketiga sektor unggulan lainnya.

Tingginya nilai LQ Sektor pertambangan & penggalian di Provinsi NTB dari tahun 2000-2015 menunjukkan bahwa sektor ini memberikan konstribusi yang besar terhadap pembentukan PDRB. Hal ini disebabkan oleh Undang-Undang No 33 Tahun 2004 pasal 14 (3) hasil dari penerimaan pertambangan umum yang dihasilkan dari wilayah yang bersangkutan, dibagi dengan imbang 20% untuk pemerintah dan 80% untuk daerah.

Sedangkan sepuluh sektor lain termasuk kedalam sektor non unggulan karena memiliki nilai LQ<1, kesepuluh sektor tersebut diantaranya adalah 1.

sektor industri pengolahan 2. pengadaan listrik dan gas 3. pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang 4. konstruksi 5. perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor 6. penyediaan akomodasi dan makan minum 7. informasi dan komunikasi 8. jasa keuangan dan asuransi 9. real estate 10. jasa perusahaan.Berikut merupakan penjelasan dari masing-masing sektor unggulan yang ada di Provinsi NTB:

39 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan

Gambar 6. Diagram Hasil LQ Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan dari Tahun 2010-2015

Berdasarkan diagram diatas (Gambar 6) LQ tertinggi dari sektor ini terjadi pada tahun 2012 dan 2014 dengan nilai LQ 1,83 dan terendah pada tahun 2010 dengan nilai LQ 1,52. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat spesialisasi sektor pertanian dari tahun 2000-2015 memiliki tingkat spesialisasi yang lebih tinggi di banding sektor yang sama pada tingkat nasional. Provinsi NTB merupakan salah satu daerah swasembada beras dan juga daerah penyangga pangan nasional. Hal ini membuktikan bahwa potensi pertanian NTB cukup besar didukung oleh luas wilayah dan potensi sumber daya yang dimiliki. Untuk merealisasikan program pemerintah mengenai ketahanan pangan masyarakat di dorong untuk meningkatkan produksi padi, jagung dan kedelai. Pada tahun 2015 produksi padi

40 mencapai 2.330.865 ton gabah kering giling meningkat dari 2,11 juta ton gabah kering giling dari tahun 2014. Selain padi komoditas jagung dan kedelai juga mengalami peningkatan dimana pada tahun 2014 produksi jagung adalah sebesar 785.864 ton pipilan meningkat menjadi 944.892 ton ton pipilan pada tahun 2015.

Sedangkan untuk komoditas produksi kedelai juga tinggi, pada tahun 2015 produksi kedelai adalah sebanyak 130.564 ton biji kering meningkat sebanyak 33.392 ton atau 34,36% di banding tahun 2014 sebanyak 97.172 ton biji kering.Kebutuhan pangan selain bersumber dari pertanian juga berasal dari peternakan, dan NTB memiliki kondisi alam yang mendukung untuk bernagai jenis sapi. Ditingkat nasional NTB merupakan salah satu daerah sumber ternak bibit dan ternak potong nasional. Pada tahun 2014 produksi padi di NTB mencapai 13.069 ton yang merapakan gabungan dari Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa (Bank Indonesia, 2015).

2. Sektor Pertambangan dan Penggalian

Sektor pertambangan dan penggalian pada tahun 2010-2015 juga tergolong kedalam sektor unggulan dengan nilai rata-rata LQ 2,15. Berdasarkan diagram berikut (Gambar 7) nilai LQ sektor pertambangan dan penggalian mengalami penurunan dari tahun 2010, dimana pada 2010 nilai LQ 2,79, kemudian 2011, turun menjadi 2,11 dan kembali turun pada tahun 2012 menjadi 1,62 yang merupakan nilai terendah dari tahun 2010-2015. Walaupun demikian tingkat spesialisasi sektor ini masih lebih tinggi di bandingkan sektor yang sama pada tingkat nasional dari tahun 2000-2015. Merosotnya nilai LQ pada tahun 2012 disebabkan oleh penurunan produksi konsentrat tembaga dari waktu ke

41 waktu selama 2011 hingga 2012 (BPS NTB, 2016). Dengan diberlakukannya UU Minerba No 4 tahun 2009 diawal tahun 2004 menteri ESDM memberikan relaksasi ekspor tembaga di NTB sebanyak 3 kali,304.000 ton pada september 2014 sampai maret 2015, kemudian 477.788 ton pada april 2015-september 2015dan yang terakhir sebesar 430.000 ton pada November 2015 sampai april 2016.

Gambar 7. Diagram Hasil LQ Sektor Pertambangan dari Tahun 2010-2015

PT NNT telah mamanfaatkan kuota tersebut secara maksimal pada tahun 2015 hingga kinerja sektor tambang mencapai.179%. Dari sisi harga (tembaga, emas dan perak), sepanjang tahun 2015 cenderung menurun, kondisi ini terkait dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang masih lemah seghingga berdampak pada turunnya harga komoditas sumber daya alam. Kedepan produksi sektor

42 pertambangan diperkirankan akan masih tertekan karena dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu ketidakpastian izin ekspor berdasarkan PP Nomor 1 tahun 2014 tentang peningkatan nilai tambah mineral melalui kegiatan pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri, dinyatakan izin ekspor konsentrat diberikan hingga 12 januari 2017. Apabila tidak ada revisi pada peraturan yang dimaksud, maka pada 2017 mendatang ekspor konsentrat tidak dapat dilakukan (Bank Indonesia, 2016).

3. Sektor Transportasi Dan Pergudangan

Gambar 8. Diagram hasil LQ sektor Transportasi dan Pergudangan dari tahun 2010-2015 Dari diagram diatas (Gambar 8) nilai LQ sektor transportasi dan pergudangan pada tahun 2010 sebesar 1,65 kemudian pada tahun 2011 sebesar 1,80 dan pada tahun 2012 naik menjadi 1,93, dan pada tahun 2013-2014 sebesar

43 1,90 dan pada tahun 2015 turun menjadi 1,64. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sektor terssebut memiliki tingkat spesialisasi yang lebih tinggi di banding sektor yang sama pada tingkat nasional selama tahun analisis 2010-2015. Perkembangan jumlah transportasi di Provinsi NTB dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan dimana pada tahun 2010 jumlah total kendaraan bermotor, baik itu mobil penumpang, bus, truk maupun sepeda motor adalah sebesar 1.393.816 unit, kemudian di tahun 2012 jumlah kendaraan tersebut juga terus meningkat menjadi 1.649.466 unit. Selain itu berkembangnya sektor pariwisata di provinsi NTB juga memberikan effect terhadap sektor transportasi dan pergudangan dikarenakan semakin banyaknya pengguna jasa transportasi baik itu jalur darat, laut maupun udara. Salah satu program pemerintah untuk mempromosikan pariwisata tersebut adalah program Visit Lombok Sumbawa yaitu sebagai salah satu upaya untuk menarik minat wisatawan, dan hal tersebut membuahkan hasil karena kunjungan wisatawan ke provinsi NTB dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 2014 kunjungan wisatan ke NTB baik wisatawan mancanegara maupun wisatan domestik adalah sebanyak 1.629.111 kemudian pada tahun 2015 naik menjadi 2.210.527 orang.

4. Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan Dan Jaminan Sosial Wajib

Sektor Administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib termasuk kedalam sektor unggulan yaitu sektor yang memiliki tingkat spesialisasi lebih tinggi di banding sektor yang sama pada tingkat nasional. Pada diagram berikut (Gambar 9) dapat dilihat bahwa nilai LQ pada tahun 2010 dengan nilai

44 1,43 kemudian terus naik menjadi 1,65 pada tahun 2014 dan kemudian pada tahun 2015 turun menjadi 1,42.

Gambar 9. Diagram hasil LQ sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib tahun 2010-2015

Sektor ini merupakan sektor yang menyangkut pelayanan pemerintah kepada masyarakat contohnya adalah pembuatan KTP, Akta Kelahiran, Kartu keluarga, Pasport dan beberapa dokumen pmeerintahan lainnya membuat hampir setiap saat kantor pemerintahan yang berkaitan dngan administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan social wajib selalu ramai dikunjungi masyarakat.

Banyaknya pengguna jasa pelayanan pemerintah tersebut membuat sektor ini trmasuk kedalam sektor unggulan.

Dokumen terkait