1 Kekuatan 0,506 0,506 1
2 Kelemahan 0,252 0,252 2
3 Peluang 0,092 0,092 4
4 Ancaman 0,150 0,150 3
Sumber : Hasil Analisis
Tabel 31 memperlihatkan bahwa 4 (empat) faktor yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan prioritas pengelolaan sampah tersebut memiliki bobot prioritas lokal dan global yang sama besar. Bobot lokal merupakan besarnya konstribusi faktor-faktor di dalam levelnya terhadap 1 level di atasnya, sedangkan bobot global merupakan besarnya konstribusi faktor-faktor terhadap level utamanya (level 0). Hal ini menunjukkan bahwa faktor yang terdapat pada level 1 memiliki bobot yang memberikan pengaruh kepada goal sebagai elemen tunggal
di level 0 yang memiliki bobot sama dengan 1. Oleh karena itu jumlah bobot total kriteria dalam satu hierarki sama dengan jumlah bobot yang dimiliki oleh goal yang berada pada hierarki di atasnya.
Bobot terbesar atau rangking yang tertinggi berdasarkan hasil analisis ditujukan pada faktor kekuatan (0,506), selanjutnya faktor kelemahan (0,252), kemudian faktor threats (0,150) dan rangking terakhir adalah faktor peluang (0,092). Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa dalam analisis prioritas pengelolaan sampah di kota Bandung, faktor yang menjadi prioritas utama sebagai dasar pertimbangan pengelolaan sampah adalah faktor kekuatan, mencakup kekuatan yang didasarkan pada sumberdaya keuangan, citra, sarana dan prasarana yang tersedia serta faktor-faktor lainnya.
Sedangkan bobot yang terendah terlihat bahwa faktor peluang tidak dijadikan acuan prioritas dalam pengelolaan sampah. Hal ini menunjukkan bahwa peluang dalam pengelolaan sampah di kota Bandung secara umum tidak terlihat adanya hubungan dengan pelaksanaan kebijakan sampah yang merupakan perkembangan identifikasi perubahan kualitas lingkungan, peraturan serta kebutuhan masyarakat dan swasta yang dapat memberikan peluang bagi pelaksanaan kebijakan.
Perhitungan bobot kriteria pengelolaan sampah bertujuan untuk mengetahui seberapa besar konstribusi nilai dari setiap kriteria pengelolaan (level 2) terhadap bobot dari faktor yang berada pada hierarki di atasnya (level 1). Bobot tiap kriteria pengelolaan sampah diperoleh melalui proses perbandingan dengan operasi penskalaan, sehingga diperoleh nilai bobot yang dinormalisasi (nilai total bobot = 1). Normalisasi bobot yang dilakukan ini bertujuan untuk mendapatkan nilai prioritas secara global yang mengandung arti bahwa jumlah total bobot dari seluruh elemen tiap hierarki adalah sama dengan 1, sehingga dapat ditunjukkan skala prioritas secara keseluruhan dalam satu hierarki. Masing-masing bobot faktor pada level 1 yang memiliki 4 (empat) kriteria pada level 2 memiliki hasil pembobotannya disajikan dalam Tabel 32
Tabel 32 Bobot Kriteria terhadap Faktor
NO Kriteria BOBOT RANKING
LOKAL GLOBAL 1 Kekuatan Mengurangi 0,203 0,370 1 Menggunakan Kembali 0,125 0,198 4 Mendaur Ulang 0,039 0,111 9 Memberdayakan 0,139 0,321 3 Jumlah 0,506 1,000 2 Kelemahan Mengurangi 0,143 0,365 2 Menggunakan Kembali 0,041 0,233 8 Mendaur Ulang 0,020 0,116 14 Memberdayakan 0,048 0,286 7 Jumlah 0,252 1,000 3 Peluang Mengurangi 0,052 0,273 6 Menggunakan Kembali 0,021 0,233 12 Mendaur Ulang 0,008 0,094 16 Memberdayakan 0,011 0,400 15 Jumlah 0,092 1,000 4 Ancaman Mengurangi 0,075 0,374 5 Menggunakan Kembali 0,028 0,106 10 Mendaur Ulang 0,020 0,187 13 Memberdayakan 0,027 0,333 11 Jumlah 0,150 1,000 TOTAL 1.000 4.000
Perankingan yang dilakukan dalam menentukan prioritas pengelolaan sampah dilakukan berdasarkan bobot global, yang merupakan konstribusi faktor-faktor pengelolaan yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan kebijakan sampah. Hasil pembobotan pada Tabel 32, masing-masing komponen kriteria pada level 2, memiliki bobot kepentingan terhadap sasaran faktor-faktor penilaian pengelolaan sampah. Berikut ini ditampilkan penilaian pengelolaan sampah yang termasuk 3 (tiga) prioritas utama.
- Rangking pertama adalah faktor kekuatan berdasarkan kriteria mengurangi dengan bobot sebesar 0,203.
- Rangking kedua adalah faktor kelemahan berdasarkan kriteria mengurangi dengan bobot sebesar 0,143.
- Rangking ketiga adalah faktor kekuatan berdasarkan kriteria memberdayakan dengan bobot sebesar 0,139.
Konstribusi terbesar pertama pengelolaan sampah berupa mengurangi termasuk faktor kekuatan, namun ranking kedua termasuk pula ke dalam kelemahan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pengelolaan sampah dengan mengupayakan pengurangan sampah dari sumbernya, merupakan faktor yang menjadi prioritas utama yang dapat dijadikan kekuatan dalam pengelolaan sampah di Kota Bandung. Banyaknya kendala-kendala dalam melaksanakan kebijakan Pengelolaan Sampah berupa pengurangan sampah dari sumbernya, terlihat pada faktor kelemahan dalam mengurangi sampah dari sumbernya. Hal ini memperlihatkan bahwa salah satu kendala utama mengurangi sampah dari sumbernya sehingga menjadi faktor kelemahan disamping karena budaya masyarakat yang masih berperilaku memproduksi sampah yang banyak, juga dengan mengurangi sampah dari sumbernya akan mengurangi produksi sampah yang dapat dimanfaatkan kembali.
Perhitungan bobot sub-kriteria pengelolaan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar konstribusi nilai dari setiap sub-kriteria pengelolaan (level 3) terhadap bobot dari kriteria yang berada pada hierarki di atasnya (level 2). Bobot tiap kriteria pengelolaan diperoleh melalui proses perbandingan dengan operasi penskalaan, sehingga diperoleh nilai bobot yang dinormalisasi (nilai total bobot = 1). Normalisasi bobot yang dilakukan ini bertujuan untuk mendapatkan nilai prioritas secara global yang mengandung arti bahwa jumlah total bobot dari seluruh elemen tiap hierarki adalah sama dengan 1, sehingga dapat ditunjukkan skala prioritas secara keseluruhan dalam satu hierarki. Masing-masing bobot kriteria pada level 2 yang memiliki 4 (empat) sub-kriteria pada level 3 memiliki hasil pembobotannya dapat dilihat pada Tabel 33.
Hasil pembobotan pada Tabel 33, masing-masing komponen sub-kriteria pada level 3, memiliki bobot kepentingan terhadap sasaran kriteria-kriteria penilaian pengelolaan sampah. Berikut ini ditampilkan penilaian pengelolaan
sampah yang termasuk 4 (empat) prioritas utama berdasarkan kriteria penilaian pelaksanaan kebijakan Pengelolaan Sampah dalam mengurangi.
- Rangking pertama sub-kriteria komunikasi dengan bobot lokal sebesar 0,171. - Rangking kedua sub-kriteria sumberdaya dengan bobot lokal sebesar 0,119. - Rangking ketiga sub-kriteria birokrasi dengan bobot lokal sebesar 0,101. - Rangking keempat sub-kriteria disposisi dengan bobot lokal sebesar 0,082.
Tabel 33 Bobot Sub-Kriteria terhadap Kriteria
No Sub-Kriteria BOBOT RANKING LOKAL GLOBAL (thd Kriteria)
1 Kriteria Mengurangi - Komunikasi 0,171 0,370 1 - Sumberdaya 0,119 0,298 2 - Disposisi 0,082 0,141 4 - Birokrasi 0,101 0,191 3 Jumlah 0,473 1,000 2
Kriteria Menggunakan Kembali
- Komunikasi 0,091 0,401 1 - Sumberdaya 0,065 0,387 2 - Disposisi 0,031 0,131 3 - Birokrasi 0,028 0,081 4 Jumlah 0,215 1,000 3
Kriteria Mendaur Ulang
- Komunikasi 0,038 0,428 1 - Sumberdaya 0,028 0,297 2 - Disposisi 0,011 0,188 3 - Birokrasi 0,010 0,087 4 Jumlah 0,087 1,000 4 Kriteria Memberdayakan - Komunikasi 0,033 0,328 2 - Sumberdaya 0,102 0,338 1 - Disposisi 0,032 0,148 4 - Birokrasi 0,058 0,186 3 Jumlah 0,225 1,000 TOTAL 1,000 4,000
Sumber : Hasil Analisis
Hasil perhitungan lengkap bobot prioritas pengelolaan sampah di Kota Bandung dengan mempergunakan metoda Analityc Hierarchy Process dengan alat bantu software Expert Choice disajikan beserta hasil pembobotan alternatif penanganan pengelolaan sampah di Kota Bandung ditampilkan dalam Gambar 9.
Level 0 GOAL Level 1 FAKTOR Level 2 KRITERIA Level 3 SUB KRITERIA Level 4