• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada tahun 2015-2016, Direktorat Pemulihan Kerusakan Lahan Akses Terbuka menunjukkan fakta bahwa sebanyak 8.386 lokasi dengan luasan sekitar 557.000 hektar terindikasi sebagai kegiatan pertambangan tanpa izin. Fakta ini diperkuat oleh data Lapan yang menunjukkan, 8.386 lokasi bekas tambang, bekas perkebunan, dan kegiatan lain yang pernah dilakukan masyarakat itu kini rusak dan telantar, ditinggalkan begitu saja, tanpa ada yang mengurus.

Kedalamannya 6 hingga dan 30 meter dengan luasan beragam antara satu hektar dan 35 hektar.

Dari 8.386 lokasi yang rusak tersebut, 352 lokasi di antaranya sudah diverifikasi KLHK. Dari hasil verifikasi terhadap 352 lokasi itu diperoleh data. Pertama, 37 persen merupakan lokasi bekas tambang pasir dan batu (sirtu), 25 persen bekas tambang emas, dan 3 persen bekas tambang batu gamping.

Kedua, sebanyak 74 persen merupakan kegiatan tanpa izin dan hanya tiga persen lokasi yang rusak itu bekas pertambangan rakyat yang ditandai dengan perolehan Izin Pertambangan Rakyat.

Untuk penggerak nano bubble, KLHK memanfaatkan solar cell (tenaga surya).

Ditjen PPKL KLHK bekerja sama dengan LIPI menggunakan teknologi nano bubble untuk memperbaiki kadar oksigen di Danau Maninjau, Sumatera Barat.

PeMulihAn keRuSAkAn lingkungAn M.R. KaRliansyah: 30 TAhun Menekuni PengenDAliAn PenceMARAn

3 0 8 3 0 9

Ketiga, sebanyak 14 persen lokasi penambangan berada dalam kawasan hutan. Keempat, sebanyak 84 persen kegiatan penambangan masih aktif dan 16 persen bekas tambang yang ditinggalkan dan tidak direklamasi.

Kerusakan lahan akses terbuka akibat kegiatan penambangan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah penambangan ramah lingkungan menyebabkan perubahan topografi. Di antaranya permukaan tanah bergelombang, bekas lubang tambang dengan jumlah dan kedalaman yang bervariasi, serta erosi dan sedimentasi.

“Kerusakan lahan tersebut apabila tidak segera ditangani maka kerusakan yang terjadi bisa semakin parah,” kata Karliansyah.

Setelah memverifikasi lokasi-lokasi telantar tersebut, Ditjen PPKL menjalin kerja sama dengan masyarakat setempat untuk membenahi dan memperbaikinya. “Setelah kami mereklamasi lokasi tersebut, biasanya kami bertanya kepada pemerintah daerah dan pemerintah desa ihwal kebutuhan masyarakat setempat. Kami menginginkan reklamasi tidak sekadar menata lingkungan, tetapi juga bermanfaat bagi ekonomi masyarakat setempat,” katanya.

Sejak tahun 2015, KLHK melalui Direktorat Pemulihan Lahan Akses Terbuka telah melakukan pemulihan di sembilan lokasi pemulihan bekas tambang rakyat, yaitu di Gunung Kidul, Belitung, Dharmasraya, Bengkulu Tengah, Buton, Paser, Malang, Kuningan dan Belitung Timur.

Selain memperbaiki kerusakan lahan dan fungsi lingkungan hidup, pemulihan lingkungan itu bertujuan meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar lahan pemulihan tersebut.

Model pemulihan lahan yang sudah dikembangkan di antaranya adalah pasar ekologis, agroeduwisata, dan ecogreen wisata.

Kegiatan pemulihan ini bukan kegiatan jangka pendek, tetapi kegiatan jangka menengah, bahkan jangka panjang sampai tujuan kegiatan tercapai. Agar pemulihan berlangsung dengan baik dan berkelanjutan, Ditjen PPKL melakukan pendampingan, pembentukan, dan pengembangan lembaga yang akan menjadi pengelola lahan tersebut.

3 1 1

PeMulihAn keRuSAkAn lingkungAn M.R. KaRliansyah: 30 TAhun Menekuni PengenDAliAn PenceMARAn

3 1 0

Karliansyah menyebutkan, pengelola lahan pasca-pemulihan adalah salah satu kunci keberhasilan pemulihan lingkungan.

Kemampuan pengelola dalam segi manajerial, seperti pengelolaan keuangan, pemasaran, dan segi teknis seperti pemeliharaan lahan agar fungsi lingkungan hidup dan peruntukannya tetap terjaga, peningkatan kondisi lingkungan, sosial dan ekonominya perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan kondisi spesifik lokasi.

Hingga saat ini, KLHK sudah memfasilitasi pembentukan BUMDes/BUMNagari dan unit pengelola lahan pasca-pemulihan di bawah BUMDes di delapan kabupaten, yaitu Gunung Kidul, Belitung, Dharmasraya, Bengkulu Tengah, Malang, Paser, Buton, dan Kuningan.

Salah satu bentuk lembaga yang didirikan untuk mengelola lahan pasca-pemulihan adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yaitu lembaga usaha desa yang dikelola oleh masyarakat untuk memperkuat perekonomian desa dan dibentuk berdasarkan kebutuhan serta potensi desa. Pembentukan lembaga ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan asli desa, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengelola lahan pasca pemulihan.

Untuk meningkatkan peran BUMDes dalam pengelolaan lahan pasca-pemulihan lahan akses terbuka, Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (Ditjen PPKL) KLHK menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai sarana berbagi ilmu dan pengalaman di bidang pengelolaan BUMDes, pengelolaan ekowisata desa, dan pengelolaan lahan bekas tambang berkelanjutan. Salah satu kegiatan ini digelar di Balai Desa Gari, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, 20 Desember 2019 lalu.

BeKaS TaMBaNG Di GuNuNG KiDuL DiuBah MeNJaDi PaSar eKoLoGiS

Salah satu pemulihan lingkungan yang berhasil dilakukan KLHK adalah mengubah lokasi bekas tambang batu gamping seluas 0,7 hektar di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi pasar ekologis yang memberi nilai tambah sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Selain mendesain pasar ekologis, Ditjen PPKL juga mengolah limbah pasar menjadi kompos dan menyiapkan rumah pengomposan untuk sampah organik, mengolah air limbahnya, serta memasang solar cell sebagai penerangan pasar tersebut. “Kami meminta pedagang di pasar ekologis ini menjual bahan-bahan organik,” ungkap Karliansyah.

Saat ini sedikitnya 152 pedagang berjualan di pasar ekologis Gunung Kidul. Tak hanya pagi hari, pasar juga ramai sejak pukul empat sore hingga malam hari.

Kelurahan Gari di Kecamatan (Kapanewun) Wonosori, Kabupaten Gunung Kidul, DIY, memiliki lahan seluas 649,9 hektar dan berpenduduk sekitar 6.800 jiwa. Wilayah yang sebelumnya berstatus desa ini sejak tahun 2020 berganti menjadi kelurahan.

Di lahan seluas 7.000 meter pesegi di Argo Wijil milik Sultan Yogyakarta terdapat bekas tambang batu yang sudah rusak dan tidak diperbaiki. Sampai tahun 1976,

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan, Jawa Timur, melakukan kunjungan dinas ke Pasar Ekologis Argo Wijil di Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

3 1 2 M.R. KaRliansyah: 30 TAhun Menekuni PengenDAliAn PenceMARAn PeMulihAn keRuSAkAn lingkungAn 3 1 3 tidak ada yang berani melakukan kegiatan di Gunung Wijil karena masyarakat

setempat meyakini gunung itu dijaga “penunggu”. Namun, karena tuntutan ekonomi, masyarakat mulai menambang gunung batu itu sejak 1980-an. Lokasi bekas tambang itu ditinggalkan begitu saja dalam kondisi rusak dan hancur. Gunung Wijil terletak di belakang permukiman warga.

Pada 2015, pemerintah desa setempat mengajukan proposal ke KLHK agar lokasi bekas tambang tersebut diperbaiki mengingat bentang alamnya rusak.

“Kubangan di bekas lokasi tambang sedalam 8 meter itu membahayakan.

Tak hanya itu, sumur masyarakat di sekitar lokasi mengering. Ini menimbulkan persoalan,” cerita Widodo Saputro yang menjabat Lurah Gari sejak 2015.2 Proposal Kelurahan Gari disetujui KLHK pada akhir 2016 dan langsung dieksekusi pada saat itu juga.

KLHK meratakan bekas kubangan lahan milik Keraton Yogyakarta tersebut. Setelah mereklamasinya, KLHK membuat survei untuk mengetahui keinginan masyarakat

2 Diolah dari wawancara penulis dengan Widodo Saputro, SiP, lurah gari, kecamatan Wonosari, kabupaten gunung kidul, Daerah istimewa Yogyakarta, melalui Zoom, 25 november 2020.

Pasar Ekologis Gari, Gunung Kidul.

setempat. Hasil survei menunjukkan, masyarakat setempat berharap pemerintah membangun pasar di lokasi tersebut karena di Kelurahan Gari belum terdapat pasar.

Warga setempat berbelanja di pasar kelurahan tetangga yang jaraknya relatif jauh.

Hal ini dikuatkan pula dengan rekomendasi UGM.

Lokasi bekas tambang batu dengan kedalaman 8 meter tersebut diuruk, diratakan, dan direklamasi, kemudian dibangun menjadi pasar rakyat.

Mengapa pasar ekologis? KLHK yang membangun pasar ini menginginkan pasar yang ramah lingkungan. Pedagang makanan menyajikan kuliner tradisional ramah lingkungan yang memanfaatkan hasil pertanian dan perkebunan masyarakat. Kuliner tradisional khas Gunung Kidul di antaranya bonggol pisang, pelepah daun talas, gelinding doro (merpati), legondo (kue khas), dan sambel cabo.

Kehadiran Pasar Ekologis Argowijil ini langsung mendapat perhatian masyarakat Gunung Kidul. Setiap hari Minggu pagi, sekitar 700-800 warga Gunung Kidul dari berbagai tempat mengunjungi pasar tersebut. Yang membanggakan, sebagian pedagang bukan berlatar belakang wirausaha, melainkan kaum ibu yang selama ini di rumah dan hanya mengandalkan penghasilan dari suami. Sejak berdagang di pasar itu, mereka dapat membantu perekonomian keluarga.

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar (ketiga dari kiri) berbincang dengan Gubenur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X (kanan). Tampak Dirjen PPKL M.R. Karliansyah (kiri).

3 1 4 M.R. KaRliansyah: 30 TAhun Menekuni PengenDAliAn PenceMARAn PeMulihAn keRuSAkAn lingkungAn 3 1 5 Pengelola kegiatan ini adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gari. Kegiatan

pemulihan ini tidak hanya merehabilitasi lingkungan bekas tambang, tetapi juga meningkatkan ekonomi masyarakat. “Kami berharap keberhasilan pemulihan di Kelurahan Gari dapat direplikasi daerah-daerah lainnya,” kata Karliansyah.

Keberhasilan Pasar Ekologis Argowijil memberi inspirasi bagi kelurahan-kelurahan lainnya di Gunung Kidul untuk membangun pasar serupa. “Sebelumnya Argo Wijil dianggap seram. Tapi nyatanya bisa diubah menjadi tempat yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. Pasar Ekologis Argowijil ini mercucuar Kelurahan Gari,”

katanya bangga. Sejumlah pejabat Dinas Lingkungan Hidup dari luar DI Yogyakarta dan dari luar Jawa melakukan studi banding ke Kelurahan Gari, mencari tahu kisah sukses reklamasi lokasi bekas tambang batu menjadi pasar ekologis yang memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.

Menurut Widodo Saputro, Lurah Gari, sebelum pasar ekologis itu diresmikan, pihak kelurahan sudah mengedukasi warganya tentang keberadaan pasar tersebut.

Awalnya pasar ini hanya dibuka setiap Minggu pagi mulai pukul 06.00 sampai 09.00 dan menyajikan kuliner khas Gunung Kidul.

Setelah itu, pasar ini juga dibuka setiap hari, mulai pukul 17.00 sampai pukul 24.00. Sekitar sepuluh pedagang menjajakan kuliner khas, di antaranya tahu gimbal dan makanan yang biasa dijajakan di angkringan. Setiap akhir pekan, pasar kuliner ini selalu ramai.

“Kami sedang mengembangkan pasar ekologis ini dengan menjual bibit-bibit tanaman dan produk pertanian,” ungkap Widodo.

Widodo mengatakan, masyarakat Kelurahan Gari menyampaikan terima kasih kepada Karliansyah, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL), serta KLHK yang telah memperbaiki lingkungan wilayah mereka. “Pak Karliansyah selalu mengawal pemulihan bekas tambang ini menjadi pasar ekologis yang sangat bermanfaat bagi masyarakat,” kata Widodo.

Widodo menilai komunikasi yang dijalin Karliansyah sangat terbuka dan responsif.

Dia mengenal Karliansyah pada pertengahan 2016 sebelum KLHK melakukan reklamasi lokasi bekas tambang di kelurahannya. Sampai pada hari peresmian pasar ekologis Argo Wijil, Karliansyah berkomunikasi intens dengan dia untuk memastikan semuanya berjalan baik. “Meskipun jabatannya Dirjen, Pak Karliansyah tetap menghormati saya sebagai lurah. Sampai makan bersama pun beliau ingin kami satu meja,” cerita Widodo yang mengaku empat kali bertemu dengan Karliansyah, dua kali di antaranya di kantor KLHK di Jakarta.

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, dan Dirjen PPKL KLHK M.R. Karliansyah dalam acara peresmian Pasar Ekologis Argo Wijil di Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

PeMulihAn keRuSAkAn lingkungAn M.R. KaRliansyah: 30 TAhun Menekuni PengenDAliAn PenceMARAn

3 1 6 3 1 7