• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

4.3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di perguruan tinggi negeri yang ada di kota Medan. Adapun dua perguruan tinggi negeri tersebut adalah Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Negeri Medan (UNIMED). Penelitian ini akan dilaksanakan pada sekitar pertengahan Januari sampai dengan Maret 2010.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan teknik kuesioner dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan. Teknik kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan cara

menyebarkan daftar pertanyaan yang terdiri pertanyaan tentang kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, gender dan sikap etis kepada responden. Pertanyaan yang digunakan adalah daftar yang bersifat tertutup karena telah disediakan alternatif jawaban yang mungkin dipilih sehingga responden merasa mudah dalam mengisi kuesioner.

Kuesioner didistribusikan dilakukan secara langsung kepada mahasiswa yang bersangkutan, dan sebagian dititipkan pada Ketua Jurusan Akuntansi perguruan tinggi yang bersangkutan untuk didistribusikan pada mahasiswa akuntansi di lingkungan perguruan tinggi masing-masing.

4.4.1. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang terdiri dari 5 bagian. Bagian pertama dari kuesioner ini berisi pertanyaan tentang data diri responden yang berisikan nama responden, nama perguruan tinggi almamater, dan jenis kelamin responden. Bagian kedua dari kuesioner berisi pertanyaan mengenai kecerdasan emosional yang berisi 30 pertanyaan tentang pengenalan diri, pengendalian diri, empati dan keterampilan sosial yang diadaptasi dari Bulo dalam Tikollah dkk (2006). Bagian ketiga dari kuesioner berisi pertanyaan mengenai kecerdasan spiritual yang terdiri dari 20 item tentang pemahaman nilai kehidupan, dan pemaknaan spiritual yang dikembangkan oleh Daly Planet Communications dan dipublikasikan oleh International Institute for Reformation (2001) sebagaimana digunakan oleh Darwis dalam Tikollah dkk (2006). Bagian keempat dari kuesioner berisi pertanyaan mengenai gender yang terdiri dari 12 item pertanyaan tentang peran kesetaraan gender, dan perbedaan nilai dan

perlakuan serta perilaku dalam pekerjaan. Sedangkan bagian kelima dari kuesioner berisi pertanyaan mengenai sikap etis mahasiswa akuntansi yang terdiri dari 20 item pertanyaan tentang moralitas dan perilaku etis yang dikembangkan oleh Ratdke dan telah dimodifikasi oleh Rustiana (2003)

Pertanyaan-pertanyaan ini bersifat tertutup karena telah disediakan alternatif jawaban yang dapat dipilih oleh responden. Untuk pertanyaan bagian dua dan tiga yaitu mengenai kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, alternatif jawaban dikembangkan dengan menggunakan skala likert yang berupa jawaban sangat sesuai (SS), sesuai (S), ragu-ragu (RR), tidak sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS). Adapun ketentuan dalam hal skala likert tersebut untuk mengindikasikan tingkat untuk masing-masing aktivitas adalah sebagai berikut:

a. Skor 1 untuk jawaban sangat tidak sesuai b. Skor 2 untuk jawaban tidak sesuai

c. Skor 3 untuk jawaban ragu-ragu d. Skor 4 untuk jawaban sesuai e. Skor 5 untuk jawaban sangat sesuai

Sedangkan untuk pertanyaan mengenai gender dan sikap etis alternatif jawaban juga dikembangkan dengan menggunakan skala likert namun jawaban yang disediakan berupa sangat setuju (SS), setuju (S), ragu-ragu (RR), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS). Adapun ketentuan dalam hal skala likert tersebut untuk mengindikasikan tingkat untuk masing-masing aktivitas adalah sebagai berikut:

b. Skor 2 untuk jawaban tidak setuju c. Skor 3 untuk jawaban ragu-ragu d. Skor 4 untuk jawaban setuju e. Skor 5 untuk jawaban sangat setuju

4.5. Defenisi Operasional Variabel Penelitian

Untuk memberikan pemahaman yang lebih spesifik terhadap variabel penelitian ini maka variabel-variabel tersebut didefinisikan secara operasional sebagai berikut: 1. Variabel dependen yaitu sikap etis (SE)

Sikap etis adalah persepsi mahasiswa akuntansi mengenai sikap dan perilakunya yang sesuai dengan norma-norma sosial yang diterima secara umum sehubungan dengan tindakan-tindakan yang bermanfaat dan yang membahayakan. Variabel ini diukur dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 23 item pertanyaan tentang moralitas dan perilaku etis yang dikembangkan oleh Ratdke dan telah dimodifikasi oleh Rustiana (2003) dengan menggunakan skala interval. Masing-masing butir pertanyaan berisi mengenai moralitas dan perilaku etis.

2. Variabel independen pertama yaitu kecerdasan emosional (KE)

Kecerdasan emosional adalah persepsi mahasiswa akuntansi mengenai kemampuannya untuk mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, serta mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur variabel kecerdasan emosional ini terdiri dari 30 item pertanyaan tentang pengenalan

diri, pengendalian diri, empati dan keterampilan sosial dengan menggunakan kuesioner yang diadopsi dari Bulo (2002) dengan menggunakan skala interval.

3. Variabel independen kedua yaitu kecerdasan spiritual (KS)

Kecerdasan spiritual adalah persepsi mahasiswa akuntansi mengenai kemampuannya untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai dengan menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks yang lebih luas dan kaya. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur variabel kecerdasan spiritual ini terdiri dari 20 item pertanyaan tentang pemahaman nilai kehidupan, dan pemaknaan spiritual yang dikembangkan oleh Daly Planet Communications dan dipublikasikan oleh International Institute for Reformation (2001) sebagaimana digunakan oleh Darwis (2004) dan menggunakan skala interval.

4. Variabel moderating yaitu gender.

Gender adalah persepsi mahasiswa akuntansi mengenai perbedaan perilaku antara pria dan wanita yang dikontruksi secara sosial, yaitu perbedaan yang bukan ketentuan dari Tuhan melainkan diciptakan oleh manusia melalui proses sosial dan kultural yang panjang. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur variabel gender ini terdiri dari 12 item pertanyaan pertanyaan tentang peran kesetaraan gender, dan perbedaan nilai dan perlakuan serta perilaku dalam pekerjaan dan menggunakan skala interval. Adapun metode pengukuran variabel penelitian sebagai berikut :

Tabel 4.2. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Jenis Variabel

Nama

Variabel Defenisi Parameter Ukuran Skala

Variabel Dependen

Sikap Etis (SE)

Persepsi mahasiswa akuntansi mengenai sikap dan perilakunya yang sesuai dengan norma-norma sosial yang diterima secara umum sehubungan dengan tindakan-tindakan yang bermanfaat dan yang membahayakan. 1. Moralitas 2. Perilaku etis Interval Variabel Independen Kecerdasan Emosional (KE)

Persepsi mahasiswa akuntansi mengenai kemampuannya untuk mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, serta mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

1. Pengenalan diri 2. Pengendalian diri 3. Empati 4. Keterampilan sosial Interval Variabel Independen Kecerdasan Spiritual (KS)

Persepsi mahasiswa akuntansi mengenai kemampuannya untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai dengan menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks yang lebih luas dan kaya.

1. Pemahaman Nilai kehidupan 2. Pemaknaan spiritual Interval Variabel Moderating Gender (G)

Persepsi mahasiswa akuntansi mengenai perbedaan perilaku antara pria dan wanita yang dikontruksi secara sosial, yaitu perbedaan yang bukan ketentuan dari Tuhan melainkan diciptakan oleh manusia melalui proses sosial dan kultural yang panjang. 1. Peran kesetaraan gender 2. Perbedaan nilai dan perlakuan serta perilaku dalam pekerjaan Interval

4.6. Metode dan Teknik Analisis Data

4.6.1. Perumusan Model

Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi linier berganda dan Multiple Regression Analysis (MRA) yang merupakan aplikasi khusus regresi linier berganda dimana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi (perkalian dua atau lebih variabel independen) dengan metode Ordinary Least Square

(OLS) sebagai berikut (Gujarati, 2004) : Persamaan untuk menguji hipotesis I

SE = α + β1 KE + β2 KS + e………...………..(1)

Persamaan untuk menguji hipotesis II

SE = α + β1 KE + β2 KS + β3 G + e………....…..(2)

SE = α + β1 KE + β2 KS + β3 G + β4 (KE . G) + β5 (KS . G) + e ……...(3)

Keterangan :

SE = Sikap Etis α = Konstanta

β = Koefisien regresi KE = Kecerdasan Emosional KS = Kecerdasan Spiritual G = Gender

e = Error Term

4.6.2. Pengujian Instrumen Data

Sebelum data diolah untuk menguji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian instrumen dengan uji validitas dan reliabilitas untuk melihat apakah data yang diperoleh dari responden dapat menggambarkan secara tepat konsep yang diuji.

4.6.2.1. Uji validitas data

Menurut Sekaran (2003) validitas menunjukkan ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan dalam melakukan fungsi ukurnya. Sebuah item dinyatakan valid/sahih apabila r-hitung lebih besar dari r-tabel (Sugiyono, 2006). Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah suatu instrumen alat ukur telah menjalankan fungsi ukurnya. Suatu skala pengukuran disebut valid bila ia melakukan apa yang seharusnya

dilakukan dan mengukur apa yang seharusnya diukur. Bila skala pengukuran tidak valid maka ia tidak bermanfaat bagi peneliti karena tidak mengukur apa yang seharusnya diukur atau melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas konstruk (construct validity) yaitu dengan mengkorelasikan skor tiap-tiap item dengan skor total. Skor total sendiri adalah skor yang didapat dari penjumlahan skor butir untuk instrument tersebut (Sekaran, 2003). Teknik korelasi yang digunakan adalah Pearson’s Correlation Product Moment untuk pengujian dua sisi yang terdapat pada program komputer SPSS (Statistical Package For Social Science) dengan ketentuan dinyatakan valid jika r-hitung > r-tabel (Sugiyono, 2006).

4.6.2.2. Uji reliabilitas data

Uji reliabilitas dilakukan terhadap pernyataan-pernyataan yang sudah valid untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan pengukuran ulang pada kelompok yang sama dengan alat ukur yang sama. Pengujian reliabilitas dianalisis dengan menggunakan Cronbach’s Alpha yang terdapat pada program komputer SPSS (Statistical Package For Social Science). Sekaran (2000) menyatakan bahwa semakin dekat koefisien alpha pada nilai 1 berarti butir-butir pernyataan dalam koefisien semakin reliabel dimana nilai cronbach alpha yang digunakan adalah 0,6.

4.6.3. Pengujian Asumsi Klasik

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer yaitu SPSS (Statistical Package For Social Science). Sebelum data

diolah untuk menguji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian mengenai ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik yang merupakan dasar dalam model regresi linier berganda. Asumsi-asumsi klasik tersebut meliputi sebagai berikut (Gujarati, 2004):

1. Data terdistribusi secara normal (normalitas data).

2. Tidak terdapat multikolinieritas diantara atau semua variabel independen.

3. Tidak terdapat heteroskedastisitas, yaitu ragam error yang tidak konstan pada setiap variabel.

4.6.3.1. Uji normalitas data

Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. Normalitas data dilakukan dengan Uji Kolmogorov-Smirnov Test, di mana apabila nilai signifikansi < 0,05 maka distribusi data tidak normal dan sebaliknya (Santoso dalam Tikollah dkk, 2006).

4.6.3.2. Uji multikoliniearitas

Multikolinieritas adalah gejala terdapatnya lebih dari satu hubungan linier pasti (sempurna), di mana suatu keadaan yang satu atau lebih variabel bebasnya terdapat korelasi dengan variabel bebas lainnya. Adanya multikolinieritas dapat dilihat dari tolerance value atau nilai Variance Inflation Factor (VIF). Batas tolerance value adalah 0,01 dan batas VIF adalah 10. Dengan ketentuan bahwa apabila : tolerance value < 0,01 atau VIF > 10 = terjadi multikolinieritas, sedangkan tolerance value >

0,01 atau VIF < 10 = tidak terjadi multikolinieritas (Aliman dalam Tikollah dkk, 2006).

4.6.3.3. Uji heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas terjadi karena perubahan situasi yang tidak tergambarkan dalam spesifikasi model regresi atau terjadi jika residual tidak memiliki varians yang konstan. Perubahan yang tergambarkan dalam spesifikasi model regresi disebut Homoskedastisitas. Asumsi ini akan di uji dengan uji Glesjer yaitu dilakukan dengan meregresikan variabel-variabel bebas terhadap nilai absolut residualnya untuk menentukan koefesien kemiringan yang signifikan dan melakukan pengujian t, dengan ketentuan sebagaiberikut: Apabila t hitung > t tabel = terjadi heteroskedastisitas t hitung≤ t

tabel = tidak terjadi heteroskedastisitas (Gujarati, 2004). Sebagai pengertian dasar,

residual adalah selisih antara nilai observasi dengan nilai prediksi dan absolut adalah nilai mutlaknya.

4.6.4. Pengujian Hipotesis

4.6.4.1. Uji F dan Uji t-Statistik

Untuk menguji hipotesis 1 dan 2 maka digunakan alat uji sebagai berikut (Sugiyono, 2006) :

1. Uji F, dengan maksud menguji apakah secara simultan variabel bebas berpengaruh terhadap variabel tidak bebas, dengan tingkat keyakinan 95 % (α=0,05).

2. Uji Koefesien Determinasi (R2), melihat berapa proporsi variasi dari variabel bebas secara bersama-sama dalam mempengaruhi variabel tidak bebas.

3. Uji-t statistik, untuk menguji pengaruh secara parsial antara variabel bebas terhadap variabel tidak bebas dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap konstan, dengan tingkat keyakinan 95 % (α = 0,05) dengan kriteria pengujian :

BAB V

Dokumen terkait