METODE PENELITIAN
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian .1 .1
Jalan : Rambai Timur No. 1 Kelurahan : Guntung Paikat Kecamatan : Banjarbaru Selatan Kota : Banjarbaru
Provinsi : Kalimantan Selatan 3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian di Puskesmas Banjarbaru pada tanggal 11 Nopember 2015.
BAB IV ISI 4.1 Hasil
Berdasarkan survei oleh Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, rata-rata menangani 1.225 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) selama satu bulan sejak Januari-Agustus 2015. Disebutkan, kasus ISPA yang ditangani bulan Januari sebanyak 629 kasus, dan mulai melewati angka 1000 pada Februari 1.427 kasus, Maret 1.059 kasus, April 1.549 kasus, Mei 1.026 kasus, Juni 1.479 kasus, Juli 959 kasus, dan Agustus 679 kasus. Berikut tabel pasien ispa resmi dari data Dinas Kesehatan Banjarbaru;
Tabel 3. 1 Laporan Januari Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)
No PUSKES MAS Jml Pnddk Jml. Penddk Usia Balita (10% peddk)
REALISASI PENEMUAN PENDERITA ISPA <1-4 th ISPA > 5th Pneumo nia Bukan Pneumo nia Bukan 1 Pkm Sei. Ulin 17,421 1,742 0 73 0 0 2 Pkm Bjb 27,436 2,744 18 165 0 0 3 Pkm SB 19,465 1,947 8 32 1 77 4 Pkm CPK 31,035 3,104 6 94 0 111 5 Pkm GP 56,746 5,675 0 0 0 0 6 Pkm LU 24,962 2,496 15 106 2 209 7 Pkm LA 13,310 1,331 3 51 2 80 8 Pkm BBU 29,793 2,979 2 63 2 145 Jumlah 220,168 22,017 52 584 7 622
Dari data diatas pada bulan Januari penderita Pneumonia usia kurang dari 4 tahun berjumlah 52, sedangkan penderita bukan Pneumonia usia kurang dari 4 tahun jauh lebih tinggi yaitu 584 pasien. Penderita Pneumonia diatas 5 tahun berjumlah 7 dan penderita bukan Pneumonia berjumlah 622. Angka tersebut membuktikan bahwa dibulan Januari sudah terdapat total pasien ISPA mencapai 1.265 dari total penduduk 220.168 orang.
Tabel 3. 2 Laporan Februari Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)
No PUSKESMAS PnddkJml Jml. Penddk Usia Balita (10% peddk)
REALISASI PENEMUAN PENDERITA ISPA <1-4 th ISPA > 5th Pneumo
nia Bukan Bukan Pneumonia 1 Pkm Sei. Ulin 17,421 1,742 0 0 0 0 2 Pkm Bjb 27,436 2,744 41 190 403 0 3 Pkm SB 19,465 1,947 11 78 229 1 4 Pkm CPK 31,035 3,104 15 162 131 0 5 Pkm GP 56,746 5,675 0 0 0 0 6 Pkm LU 24,962 2,496 14 156 233 2 7 Pkm LA 13,310 1,331 6 82 175 2 8 Pkm BBU 29,793 2,979 14 118 249 2 Jumlah 220,168 22,017 101 786 1,420 7
Pada bulan Februari penderita Pneumonia pada anak kurang dari 4 tahun meningkat dua kali lipat menjadi 101, dan penderita bukan Pneumonia juga meningkat menjadi 786. Penderita Pneumonia berusia diatas 5 tahun berjumlah sama dengan sebelumnya, sedangkan penderita bukan Pneumonia meningkat jauh menjadi 1.420 orang. Dalam sebulan, pasien meningkat jauh dengan total Februari ada 2.314 orang.
Tabel 3. 3 Laporan Maret Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)
No PUSKES MAS Jml Pnddk Jml. Penddk Usia Balita (10% peddk)
REALISASI PENEMUAN PENDERITA ISPA <1-4 th ISPA > 5th Pneumo nia Bukan Pneumo nia Bukan 1 Pkm Sei. Ulin 17,421 1,742 10 85 0 54 2 Pkm Bjb 27,436 2,744 0 195 0 30 3 Pkm SB 19,465 1,947 5 82 0 229 4 Pkm CPK 31,035 3,104 20 190 0 116 5 Pkm GP 56,746 5,675 0 0 0 0 6 Pkm LU 24,962 2,496 15 167 3 303 7 Pkm LA 13,310 1,331 11 98 0 117
8 Pkm BBU 29,793 2,979 11 79 2 205
Jumlah 220,168 22,017 72 896 5 1,054
Pada bulan Maret penderita Pneumonia dibawah 4 tahun mengalami penurunan menjadi 72 orang akan tetapi penderita bukan Pneumonia meningkat menjadi 896 orang. Begitu pula dengan terjadinya penurunan pada pasien Pneumonia diatas 5 tahun mengalami penurunan menjadi 5, dan penderita bukan pneumonia menjadi 1.054 orang. Total bulan Maret menjadi 2.027 orang. Pada bulan Maret pun masih belum terjadi kabut asap, diperkirakan peningkatan sejak Februari karena cuaca yang berubah-ubah.
Tabel 3. 4 Laporan April Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)
No PUSKES MAS Jml Pnddk Jml. Penddk Usia Balita (10% peddk)
REALISASI PENEMUAN PENDERITA ISPA <1-4 th ISPA > 5th Pneumo nia Bukan Pneumo nia Bukan 1 Pkm Sei. Ulin 17,421 1,742 14 162 0 35 2 Pkm Bjb 27,436 2,744 24 180 0 307 3 Pkm SB 19,465 1,947 9 49 0 119 4 Pkm CPK 31,035 3,104 15 168 100 0 5 Pkm GP 56,746 5,675 1 206 1 329 6 Pkm LU 24,962 2,496 13 215 2 339 7 Pkm LA 13,310 1,331 11 93 2 125 8 Pkm BBU 29,793 2,979 19 83 1 189 Jumlah 220,168 22,017 106 1,156 106 1,443
Pada bulan April pasien kembali meningkat. Penderita pneumonia umur dibawah 4 dan diatas 5 tahun sama-sama mengalami peningkatan. Begitu juga dengan pasien bukan Pneumonia di kedua kategori tersebut. Total pasien penderita ISPA pada April menjadi 2.811 orang. Karena kabut asap akibat dari pembakaran lahan pada bulan April belum terjadi, maka lonjakan pasien masih terjadi diduga karena perubahan cuaca yang masih tidak menentu. Diduga pula bahwa lingkungan sekitar menjadi faktor pendukung meningkatnya pasien.
Tabel 3. 5 Laporan Mei Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)
No PUSKESMAS PnddkJml Jml. Penddk Usia Balita (10% peddk)
REALISASI PENEMUAN PENDERITA ISPA <1-4 th ISPA > 5th Pneumo
nia Bukan Pneumonia Bukan 1 Pkm Sei. Ulin 17,421 1,742 5 85 0 41 2 Pkm Bjb 27,436 2,744 20 147 0 212 3 Pkm SB 19,465 1,947 8 61 0 109 4 Pkm CPK 31,035 3,104 13 158 0 68 5 Pkm GP 56,746 5,675 0 0 0 0 6 Pkm LU 24,962 2,496 16 213 3 336 7 Pkm LA 13,310 1,331 9 66 0 78 8 Pkm BBU 29,793 2,979 12 87 4 175 Jumlah 220,168 22,017 83 817 7 1,019
Di bulan Mei terjadi penurunan angka pasien dengan total 2.026 pasien. Masih belum terjadi kabut asap akibat dari pembakaran lahan.
Tabel 3. 6 Laporan Juni Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)
No PUSKES MAS Jml Pnddk Jml. Penddk Usia Balita (10% peddk)
REALISASI PENEMUAN PENDERITA ISPA <1-4 th ISPA > 5th Pneumo nia Bukan Pneumo nia Bukan 1 Pkm Sei. Ulin 17,421 1,742 3 66 1 17 2 Pkm Bjb 27,436 2,744 19 146 0 351 3 Pkm SB 19,465 1,947 9 70 0 82 4 Pkm CPK 31,035 3,104 12 164 0 73 5 Pkm GP 56,746 5,675 6 198 1 343 6 Pkm LU 24,962 2,496 17 221 2 326 7 Pkm LA 13,310 1,331 8 70 1 120 8 Pkm BBU 29,793 2,979 8 93 1 161 Jumlah 220,168 22,017 82 1,028 6 1,473
Pada bulan Juni pasien ISPA mencapai 2.589 orang. Masih belum terjadi kabut asap akibat dari pembakaran lahan.
Tabel 3. 7 Laporan Juli Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)
No PUSKES MAS Jml Pnddk Jml. Penddk Usia Balita (10% peddk)
REALISASI PENEMUAN PENDERITA ISPA <1-4 th ISPA > 5th Pneumo nia Bukan Pneumo nia Bukan 1 Pkm Sei. Ulin 17,421 1,742 6 58 1 21 2 Pkm Bjb 27,436 2,744 38 155 0 384 3 Pkm SB 19,465 1,947 0 0 0 0 4 Pkm CPK 31,035 3,104 10 140 0 55 5 Pkm GP 56,746 5,675 0 0 0 0 6 Pkm LU 24,962 2,496 12 172 3 287 7 Pkm LA 13,310 1,331 6 68 5 99 8 Pkm BBU 29,793 2,979 5 60 0 104 Jumlah 220,168 22,017 77 653 9 950
Pada bulan Juli pasien ISPA mencapai 1.689. mengalami penurunan jumlah pasien yang lumayan pesat .
Tabel 3. 8 Laporan Agustus Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)
No PUSKES MAS Jml Pnddk Jml. Penddk Usia Balita (10% peddk)
REALISASI PENEMUAN PENDERITA ISPA <1-4 th ISPA > 5th Pneumo nia Bukan Pneumo nia Bukan 1 Pkm Sei. Ulin 17,421 1,742 0 0 0 0 2 Pkm Bjb 27,436 2,744 0 0 0 0 3 Pkm SB 19,465 1,947 0 0 0 0 4 Pkm CPK 31,035 3,104 20 204 0 87 5 Pkm GP 56,746 5,675 0 212 1 66 6 Pkm LU 24,962 2,496 15 169 3 280
7 Pkm LA 13,310 1,331 10 75 1 106
8 Pkm BBU 29,793 2,979 7 94 0 136
Jumlah 220,168 22,017 52 754 5 675
Pada bulan Agustus pasien ISPA berjumlah 1.486 pasien. Meskipun mengalami penurunan jumlah pasien, tetapi asap sudah mulai muncul di kawasan Banjarbaru. Ditambah dengan cuaca ekstrim dimana siang hari sangat terik dan malam hari sangat dingin walaupun tidak ada hujan.
4.2 Pembahasan
Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2012), ISPA masih merupakan masalah kesehatan mayarakat di Indonesia. Secara nasional berdasarkan Riskesdas 2007, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor dua pada balita (13,2%) setelah diare (17,2%) (Kemenkes RI, 2013).
Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya tinggi, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat, Kananda, dan negara-negara Eropa. Pneumonia di Indonesia, merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. Pada tahun 2006 di Indonesia, WHO melaporkan sebanyak enam juta anak meninggal. Sehingga, untuk negara-negara berkembang perlu mewaspadai, sebab hampir setiap harinya terdapat 300 anak yang meregang nyawa karenanya (Siswono, 2006)
Sebuah kegiatan skrining dapat mencakup seluruh penduduk (skrining massal) dan dapat pula mentarget kelompok terpilih untuk mengantisipasi adanya peningkatan prevalensi dari penyakit yang diskrining (skrining tertarget) (Bailey et al., 2005). Adapun contoh penggunaan skrining pada kasus sebagai berikut:
Proses Skrining ISPA pada Balita dan Pengaruh Kabut Asap Terhadap Peningkatan Jumlah Pasien ISPA di daerah Banjarbaru.
Istilah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mengandung tiga unsur, yaitu infeksi saluran pernafasan akut. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga dapat menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernafasan adalah organ yang dimulai
dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus, rongga telinga dan pleura. Dengan demikian ISPA secara otomatis mencakup saluran nafas yang dimulai dari hidung termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga dan pleura. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi pada saluran pernafasan; mulai dari rongga hidung sampai alveoli beserta organ adneksanya (sinus, rongga telinga dan pleura) yang disebabkan oleh mikroorganisme yang berlangsung selama 14 hari ditandai dengan batuk pilek, sakit tenggorokan disertai dengan demam atau tidak (Rasmaliah, 2004).
Pendataan para pasien ISPA di wilayah Banjarbaru dilakukan selama delapan bulan (Januari sampai Agustus). Dalam penentuan klasifikasi penyakit dibedakan atas dua kelompok, yaitu kelompok untuk umur 2 bulan kurang dari 5 tahun dan kelompok untuk umur kurang dari 2 bulan. Pada klasifikasi kelompok umur 2 bulan kurang dari 5 tahun klasifikasi dibagi atas Pneumonia berat, Pneumonia dan bukan Pneumonia. Sementara pada kelompok umur kurang dari 2 bulan klasifikasi dibagi atas Pneumonia berat dan bukan Pneumonia. Pada pelaksanaan klasifikasi pasien pada anak usia 2 bulan kurang dari 5 tahun meliputi infeksi bawah ke dalam (chest indrawing). Sedangkan pada kelompok umur kurang dari 2 bulan diagnosis pneumonia berat ditandai dengan adanya nafas cepat (fast breathing), dengan kriteria antara lain frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam (severe chest indrawing). Pada klasifikasi bukan Pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Dengan demikian klasifikasi bukan Pneumonia mencakup penyakit-penyakit ISPA lain di luar Pneumonia. Pola tatalaksana ISPA hanya dimaksudkan untuk tatalaksana penderita Pneumonia berat, pneumonia dan batuk bukan pneumonia. Sedangkan penyakit ISPA lain seperti pharyngitis, tonsilitis dan otitis belum termasuk pada cakupan program.
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dikenal sebagai salah satu penyebab kematian utama pada bayi dan anak balita di negara berkembang. Sebagian besar penelitian di negara berkembang menunjukkan bahwa 20 – 35% kematian anak dan balita disebabkan oleh ISPA. Diperkirakan bahwa 2 – 5 juta bayi dan anak balita di berbagai Negara setiap tahun meninggal karena ISPA,
dua per tiga terjadi pada kelompok usia bayi, terutama bayi usia dua bulan pertama sejak kelahiran. Banyak penyakit yang sebenarnya tidak berbahaya, tetapi dapat mendatangkan kematian bila didukung oleh keadaan – keadaan yang kurang menguntungkan, seperti misalnya pada status gizi buruk, memadai atau pada keadaan lain.
Seorang anak berumur 2 bulan - <5 tahun diklasifikasikan menderita pneumonia berat apabila dari pemeriksaan ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (TDDK).Anak yang diklasifikasikan menderita pneumonia berat harus dirujuk segera ke rumah sakit. Sebelum anak meninggalkan Puskesmas, petugas kesehatan dianjurkan memberi pengobatan pra rujukan, (misal atasi demam, wheezing, kejang dan sebagainya).
Sebagian besar anak yang menderita pneumonia tidak akan menderita pneumonia berat kalau cepat diberi pengobatan yang tepat. Seorang anak berumur 2 bulan - <5 tahun diklasifikasikan menderita pneumonia apabila dari pemeriksaan:
• Tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam • Adanya napas cepat:
50 x/menit atau lebih pada anak umur 2 - <12 bulan 40 x/menit atau lebih pada umur 12 bulan - <5 tahun
Penderita pneumonia cukup diberikan pengobatan antibiotik di rumah. Petugas kemudian harus menasihati ibu untuk memberikan obat sesuai anjuran petugas kesehatan dan membawa kembali jika keadaan anak bertambah buruk serta jelaskan cara pemberian antibiotik. Petugas menganjurkan untuk kembali kontrol dalam 2 hari (48 jam) atau lebih cepat bila keadaan anak:
Pernapasan menjadi cepat atau sesak Tidak dapat minum
Sakitnya bertambah parah
Sebagian besar penderita batuk-pilek tidak disertai tanda-tanda bahaya atau tanda-tanda pneumonia (TDDK dan napas cepat). Hal ini berarti anak ini hanya menderita batuk-pilek dan diklasifikasikan sebagai “batuk bukan pneumonia”. Seorang anak berumur 2 bulan - <5 tahun diklasifikasikan menderita batuk bukan pneumonia apabila dari pemeriksaan:
• Tidak ada napas cepat, frekuensi napas:
Kurang dari 50 x/menit pada anak umur 2 - <12 bulan Kurang dari 40 x/menit pada umur 12 bulan - <5 tahun
Pengobatan anak yang menderita “batuk bukan pneumonia” bisa dirawat di rumah tanpa antibiotik. Jangan berikan antibiotik kepada anak dengan batuk atau pilek tanpa tanda-tanda pneumonia. Sebagian anak dengan batuk pilek bisa juga mempunyai masalah lain seperti:
Anak dengan batuk akan sembuh sesudah satu atau dua minggu, tetapi anak dengan batuk kronis (batuk lebih dari 3 minggu) mungkin menderita TB, asma, batuk rejan atau yang lain–lain.
Grafik 3. 1 Grafik penemuan penderita pneumonia per bulan kota Banjarbaru tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru
Dari data pada tabel pasien tahun 2015, angka terendah ada pada bulan Januari yaitu sebanyak 629 kasus dan terbanyak ada pada bulan April sebanyak 1.549 kasus. Pasien cenderung meningkat dari bulan Januari sampai Juni, tetapi pasien menurun kembali pada Juli dan Agustus yaitu dibawah angka 1000 pasien. Untuk memastikan ada-tidaknya peningkatan jumlah pasien yang signifikan pada saat terjadi pembakaran hutan, kami melakukan observasi lebih lanjut di salah satu Puskesmas yang ikut terdata dalam hasil rekapitulasi pasien ISPA dari Dinas Kesehatan Banjarbaru yaitu Puskesmas Bajarbaru yang
bertempat di Jalan Rambai Timur No. 1 Kelurahan Guntung Paikat, Kecamatan Banjar Baru Selatan pada Rabu, 11 Nopember 2015.
Berdasarkan hasil pengumpulan data pasien yang berobat di Puskesmas Banjarbaru, rata-rata menangani 405 pasien setiap bulannya, dengan total 3.245 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) selama Januari-Agustus 2015. Data tersebut diperoleh dari 7 Kelurahan, yaitu Kemuning, Guntung Paikat, Loktabat Selatan, Banjarbaru Selatan, Sei. Ulin, Sei. Besar, Guntung Payung, Landasan Ulin, Liang Anggang, Cempaka. Pengelompokan pederita ISPA dibagi menjadi Pneumonia, Penumonia berat, dan Batuk bukan Pneumonia.
Pada bulan Januari, penderita Pneumonia pada bayi dan balita mencapai 12 kasus, penderita batuk bukan Pneumonia pada pasien balita juga terbilang tinggi, yakni 176 kasus, sedangkan penderita ISPA diatas usia 5 tahun sebanyak 367 kasus, sehingga total kunjungan Puskesmas dengan kasus ISPA pada bulan Januari mencapai 367 kasus. Pada bulan Februari, penderita pneumonia pada bayi dan balita meningkat menjadi 24 kasus, penderita batuk bukan Pneumonia pada pasien balita menjadi 206 kasus,dan penderita ISPA bukan Pneumonia diatas usia 5 tahun mencapai 403 kasus. Total kunjungan Puskesmas menjadi total 443 kasus. Puncaknya ada pada bulan April, yaitu dengan total kunjungan puskesmas sebanyak 473 kasus, dengan jumlah pasien Pneumonia pada bayi dan balita ada 25 kasus, dan penderita batuk bukan Pneumonia pada pasien balita tertinggi sebanyak 223 kasus.
Berdasarkan keterangan dari Ibu Endah Setiyani,AMK selaku pengelola P2 ISPA di Puskesmas Banjarbaru, mengenai proses skrining yang dilakukan untuk kasus ISPA memang tidak sulit, yaitu hanya dengan memperhatikan ritme pernafasan dari pasien. Berbeda dengan skrining penyakit lain, HIV misalnya. Pada HIV cenderung tertutup dan luas, juga tergantung dari individu masing-masing. Proses skrining yang dilakukan pada pasien ISPA kategori Pneumonia hanya dengan memperhatikan kecepatan nafas dari pasien. Jika pasien mengalami kesulitan bernafas yang parah, maka bisa dikategorikan sebagai Pneumonia. Akan tetapi, Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Debu, panas, faktor usia, dan faktor kebersihan lingkungan tempat tinggal memiliki pengaruh.
Sekarang sedang terjadi peningkatan penyebaran kabut asap dan tentunya memiliki pengaruh juga. Menghirup udara yang tercemar setiap hari tentu bukanlah sesuatu yang baik bagi kesehatan tubuh. Faktor pembakaran lahan yang terjadi akhir-akhir ini merupakan suatu faktor yang memiliki andil besar dengan meningkatnya penderita ISPA di Banjarbaru. Udara penuh dengan partikel dan gas yang dihasilkan dari pembakaran hutan. Partikel dan gas yang terkandung diantaranya adalah nitrogendioksida, sulfurdioksida, dan ozon yang terkandung dalam kabut asap. Jika partikel dan gas tersebut terhirup, maka bisa menyebabkan iritasi di saluran pernapasan. Akibatnya, terjadi pembengkakan atau peradangan saluran napas yang merangsang produksi dahak. Produksi dahak normal terjadi, ketika iritasi untuk membersihkan saluran napas ketika dahak dibuang. Namun, kabut asap yang terjadi berhari-hari dan terus terhirup membuat produksi dahak berlebihan. Inilah yang kemudian menyebabkan akumulasi dahak, kuman masuk, dan terjadilah ISPA. Ketika ISPA tidak diatasi dan terus terpapar kabut asap, kuman akan menyebar ke saluran pernapasan bawah dan terjadilah pneumonia. Pneumonia ditandai dengan sulit bernapas, batuk berdahak, hingga demam. Kabut asap juga bisa memperburuk kesehatan orang-orang yang telah mengidap penyakit kronis. Pada bayi umur 0 hari sangat dijaga karena masih lemah, setelah seminggu bayi harus diberi imunisasi untuk pencegahan berbagai penyakit.
Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin. Tetapi ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia sering terjadi pada anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygienes. Risiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik.
Membuat Klasifikasi & Menentukan Tindakan Sesuai Untuk 2 Kelompok Umur Balita
Membuat klasifikasi berarti membuat sebuah keputusan mengenai kemungkinan tingkat keparahannya. Klasifikasi merupakan suatu kategori untuk menentukan tindakan yang akan diambil oleh tenaga kesehatan dan bukan
sebagai diagnosis spesifik penyakit. Klasifikasi ini memungkinkan seseorang dengan cepat menentukan apakah kasus yang dihadapi adalah suatu penyakit serius atau bukan, apakah perlu dirujuk segera atau tidak. Dalam membuat klasifikasi harus dibedakan menjadi 2 (dua):
Kelompok umur <2 bulan
Kelompok umur 2 bulan - <5 tahun.
Menentukan tindakan berarti mengambil tindakan pengobatan terhadap infeksi bakteri yang secara garis besar dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:
Rujuk segera ke rumah sakit Beri antibiotik di rumah Beri perawatan di rumah
Pemilihan pengobatan dengan antibiotik disini lebih bersifat empiris, bukan berdasarkan diagnosis etiologis.
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Skrining merupakan suatu pemeriksaan asimptomatik pada satu atau sekelompok orang untuk mengklasifikasikan mereka dalam kategori yang diperkirakan mengidap atau tidak mengidap penyakit.
2. Tujuan utama skrining adalah menemukan orang terkena penyakit sedini mungkin, mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat, membiasakan masyarakat untuk memeriksakan diri sedini mungkin, dan mendapatkan keterangan epodemiologis yang berguna bagi klinis dan peneliti
3. Syarat yang harus diperhatikan dalam proses skrining adalah penyakit yang dituju harus merupakan masalah kesehatan yang berarti, tersediannya obat yang potensial, fasilitas dan biaya untuk diagnosis, ditujukan pada penyakit kronis seperti kanker, adanya suatu nilai standar yang telah disepakati bersama tentang mereka yang dinyatakan menderita penyakit tersebut.
4. Proses skrining dilakukan dengan mengacu pada kriteria sensitivitas dan spesifisitas.
5. Contoh penerapan skrining misalnya pada Proses Skrining ISPA pada Balita dan Pengaruh Kabut Asap Terhadap Peningkatan Jumlah Pasien ISPA di Daerah Banjarbaru.
4.2 Saran
Langkah termudah adalah menjaga pola hidup bersih dan sehat disekitar tempat tinggal, biasakan buang sampah di tempatnya agar tidak menjadi sarang penyakit. Memperbanyak tanaman bunga dan pepohonan, agar udara sekitar lebih segar dan bebas polusi. Jemur bantal, guling, dan tempat tidur serta bersihkan debu dari kipas angin maupun pendingin ruangan lain. Serta yang terpenting adalah mengenakan masker jika berpergian.