BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN
B. Sejarah Pegadaian
Sejarah pegadaian di Indonesia sudah lama terjadi bahkan sebelum belanda dating ke Indonesia. Masyarakat di Indonesia ratusan tahun yang lalu sudah melakukan transaksi hutang dengan jaminan barang tidak bergerak berupa tanah atau melaksankan gadai tanah. Di beberapa daerah, melakukan gadai tanah sudah terbiasa dilakukan oleh masyarakatnya dengan berdasarkan hokum adat yang berlaku dan sedikit berbeda dengan sejarah pegadaian yang disahkan oleh pemerintah.
Tujuan utama adanya pegadaian sebagai lembaga keuangan bukan bank adalah upaya khusus untuk menumpas segala macam praktek pinjam-meminjam yang tidak diinginkan seperti ijon, rentenir atau pihak lain yang memberikan pinjaman tidak wajar dengan bunga yang sangat tinggi dan merugikan rakyat kecil.
Saat ini, sesuai perkembangan waktu, pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat tidak hanya melayani kredit gadai saja. Tetapi juga jasa keuangan lain. Seperti kredit berbasis fudisia, pembiayaan investasi emas, dan jasa financial lainnya.
Selain itu, pegadaian sudah bukan monopoli Negara karena banyak perusahaan swasta yang memberikan layanan gadai. Dengan demikian unsure subjektif pegadaian pinjaman oleh pegadaian jelas menggambarkan sifat kredit bisnis pegdaian yang menciptakan perbedaan pegadaian BUMN dengan swasta.
Kegiatan gadai pada sejarah peradaban manusia sudah terjadi di Negara cina pada tahun 3000 silam yang lalu. Sedangkan di benua eropa dan kawasan laut tengah, gadai sudah dilaksankan pada zaman romawi.
Awalnya bentuk gadai yang dilembagakan (pagadaian) secara formal berkembang di italia yang kemudian di praktekan di wilayah eropa lainnya seperti di inggris dan belanda. Belanda yang dating ke Indonesia mambawa konsep gadai melalui vareenigde oos compagine (VOC) . sejarah lembaga gadai (pegadaian) di
Indonesia dimulai sejak tahun 1746 saat kedatangan gubernur jendral vareendige oos compagine (VOC) van imhoff. VOC sebagai salah satu maskapai perdagangan dari belanda yang dating ke Indonesia didirikan sebagai bentuk usaha untuk memperlancarkan kegiatan ekonomi belanda.
Untuk itu gubernur jendral van imhoff mendirikan bank van leening di Batavia pada tanggal 20 agustus 1746 dengan tujuan sebagai lembaga keuangan yang meberikan kredit dengan sistem gadai. Melalui surat keputusan tertanggal 28 agustus 1746 dengan modal awal sebesar 7.500.000 yang berdiri dari 2/3 modal milik VOC dan sisanya dari swasta.
Ketika VOC bubar tahun 1800 maka usaha pegadaian diambil alih oleh pemerintah hindia belanda. Pada masa pemerintahan daendels, peraturab gadainya dirubah kembali yaitu tentang peraturan barang yang dapat diterima sebagai jaminan gadai seperti perhiasan dan lain-lain.
Kedatangan inggris di Indonesia setelah mengalahkan belanda, kemudian mengambil alih kakuasaan jajahan belanda di Indonesia (1811-1816) termasuk bank van leening dan menggantinya dengan licentie stelsel. Aturan pun diubah yaitu setiap orang boleh mendirikan usaha unit gadai, namun dengan syarat harus adanya ijin dari pemerintah daerah setempat. Dibawah kekuasaan Raffles, ijin dikeluarkan perorangan, khusunya keturunan cina.
Pembubaran bank van leening sebagai monopoli gadai membuat masyarakat Indonesia diberi kebebasan untuk didirikan pegadaian asalkan adanya lisensi dari pemerintah daerah setempat yang dibentuk oleh inggris. Hal ini menimbulkan dampak negative dengan munculnya lintah darat atau tentenir (woeker) yang dapat menyengsarakan Indonesia saat itu sehingga diganti dengan system penyewaan atau pachstestel pada tahun 1814 dimana campur tangan langsung oleh pejabat lebih terasa.
Pada tahun 1901, berdasarkan keputusan pemerintah hindia belanda no 131 tanggal 12 maret 1901 mendirikan rumah gadai pemerintah di sukabumi jawa barat pada tanggal 1april 1901 dengan nama jawatan pegadaian. selanjutnya setiap
tanggal 1 april diperingati sebagai hari ulang tahun pegadaian. hal itu sebagaimana diatur dalam stsstsbland tahub 1901 no.131. isi dari KUHP nya ketika itu adalah sejak saat itu di bagian sukabumi kepada siapapun tidak memperkenankan untuk dengan member gadai atau dalam bentuk jual beli dengan hak membeli kembali, meminjamkan uang tidak melebihi 100 golden. Dengan hukuman tergantung kepada kebangsaan para pelanggar yang diancam dalam pasal 337 KUHP bagi orang-orang eropa dari pasal 339 KUHP bagi orang pribumi. Segala macam pihak pinjam-meminjam yang tidak diinginkan. Artinya, yang dirugikan masyarakat, misalnya suku bunga yang tinggi, lelang yang diatur, barang gadaian yang tidak terawat. Dengan cara ini akhirnya mosi percaya dari masyrakat dapat ditegakkan. Pengawasan langsung oleh pemerintah diberlakukan di seluruh jawa dan Madura pada tahun 1904.
Seiring berjalannya waktu, pegadaian milik pemerintah semakin berkembang dengan baik sehingga pemerintah hindia belanda mengeluarkan peraturan monopoli. Sanksi terhadap pelanggaran peraturan monopoli pun diatur oleh pihak pemerintah hindia belanda dalam kitab undang-undang hokum pidana yang terancam dalam pasal 509 dan staatsblad no.266 tahun 1930. Pada masa pendudukan jepang, tidak banyak perubahan yang terjadi pada kebijakan maupun struktur organisasi jawatan pegadaian, hanya saja gedung kantor pusat yang semula di jalan karamat raya 162 dipindahkan ke jalan kramat jaya 132. Jawatan pegadaian atau sitji elgeikyuku dalam bahasa jepang dipimpin oleh warga jepang yaitu ohno san dengan wakilnya orang pribumi yang bernama M. saubari.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, rumah gadai yang merupakan salah satu bentuk lembaga keuangan bukan bank ini dikuasai pemerintah republic Indonesia namun kantor jawatan pegadaian sempat pindah ke karang anyar kebumen dan mangelang karena situasi agresi perang militer belanda yang kian terus memanas. Kemudian berdasarkan PP. NO. 7/1969 menjadi perusahaan jawatan selanjutnya berdasarkan PP. NO. 10/1990 (yang diperbaharui dengan PP.
NO 103/2000) berubah lagi menjadi perusahaan umum (PERUM). Berdasarkan peraturan pemerintah republik Indonesia nomor 51 tahun 2011 tanggal 13
desember 2011, bentuk badan hukum pegadaian berubah menjadi perusaan perseorangan (Persero).
Kegiatan umum dilakukan PT pegadaian saat ini adalah melakukan aktivitas pembiayaan seperti kredit gadai serta menawarkan produk berupa sejumlah jasa non gadai seperti penitipan barang, penaksiran nilai barang, dan gold counter, namun tetap dalam pengertian pegadaian yang sebenarnya.
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan seperti yang telah disampaikan pada bab sebelumnya maka penulis menganalisis sesuai dengan jawaban dalam penelitian, diambil kesimpulan bahwa pemberdayaan masyarakan melalui bank sampah mutiara program CSR Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru mempunyai tiga indikator yaitu proses penyadaran, proses transformasi, dan peningkatan kemampuan intelektual dan kecakapan.
Pada indikator proses penyadaran dikemukakan bahwa pihak bank sampah melakukan penyadaran kepada masyarakat dan nasabah bank sampah berupa memberikan motivasi dan melakukan sosialisasi dampak sampah terhadap lingkungan serta menjelaskan manfaat dari adanya bank sampah tersebut.
Proses transformasi pemberdayaan masyarakat melalui bank sampah mutiara yaitu dalam memberikan pelatihan dan pembinaan mengenai pengelolaan sampah dan bagaimana fungsi bank sampah tersebut serta cara mengembanghkan bank sampah tersebut.
Sedangkan indikator peningkatan kemampuan intelektual dan kecakapan nasabah bank sampah tersebut dapat dikatakan mandiri karena sudah bisa memilah sampah dan berhasil menjadikan sampah tersebut sebagai penghasilan
B. Saran
Dari paparan diatas, penulis memberikan beberapa saran agar dipertimbangkan oleh berbagai pihak, yaitu:
1. Kepada pihak bank sampah agar terus meningkatkan kualitas anggota nya khususnya nasabah dalam mengelola dan mengumpulkan sampah – sampah agar dapat terus berkembang.
2. Kepada para pekerja untuk tetap meningkatkan loyalitaas dan kualitas dalam pengelolaan, pengolahan hingga proktivitas sampah menjadi barang berguna sehingga bisa semakin maju di pasaran masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Alfitri. 2011, Community Development: teori dan aplikasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ardianto, Elvinaro dan Machfudz, M, Dindin. 2011, Efek Kedermawanan Pebisnis dan CSR, Jakarta : Kompas Gramedia
Almaidah, Intan, Ekiv dkk. 2018, Tinjauan Terhadap Peran Bank Sampah Asri Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Puhsarang Kabupaten Kediri, Jurnal Qawanin, Vol. 2, No. 2,
Aritonang, Esron, Dkk. 2001, Pendampingan Komunikasi Pedesaan, Jakarta:
Sekretariat Bina Desa
Fahmi, Irham. 2015, Etika Bisnis: Teori, Kasus, dan Solusi, Bandung: Alfabeta Ife, Jim. Tesoriero, Frank. 2008, Community Development Alternatif
Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Idrus, Muhammad. 2009, Metode Penelitian Ilmu Sosial, Jakarta: Erlangga
Lestari, Sri. 2019, Kiat Membangun Bank Sampah Dan Cara Pengelolaannya, Yogyakarta: CV. Hijaz Pustaka Mandiri
Muhammad, Arif, Alfiano. 2015, Pemberdayaan Masyarakat Melalui Bank Sampah di Perum Gumuk Indah, Kalurahan Sidoarum, Kecamatan Godean, Sleman, Yogyakarta, Magister Ilmu Sains, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Muslim, Aziz. 2008, Metodologi Pengembangan Masyarakat, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
Muslim, Aziz, 2012, Dasar-dasar Pengembangan Masyarakat, Yogyakarta:
Samudra Biru
Moelijarto. 1996, Pemberdayaan Kelompok Miskin Melalui Program IDT, Jakarta: CSIS
Mudasir, 2012, Desain Pembelajaran, Indragiri Hulu : STAI Nurul Falah
Manajemen-dan-sistem-pemilahan-sampah-bank-sampah, diakses pada tanggal 20 Juni 2019 pukul 13.34 WIB
Mardikanto, Totok. 2014, Csr Corpote Sosial Responsibility “Tanggung Jawab Sosial Korporas, Bandung : Alfabeta
Meo Loeng, J, Lexi, 2005, metode penelitian kuantitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya
Nova, Firsan, 2012, republic relation, jakarta : media bangsa Nova, Firsan, Republic Relation, Op.Cit
Prijono, S, Onny dan Pranaka. 1996, Pemberdayaan Konsep, Pemberdayaan dan Implementasi, Jakarta: CSIS
P, Via, Made, Ni dan Kartika, Nengah, I. 2016, Analisis Pengaruh Program Bank Sampah terhadap Pendapatan Nasabah di Kota Denpasar”, E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Unud, Vol. 7 No. 6
Poerwanto. 2010, corporate social responsibility menjinakkan gejolak sosial di era pornografi, yogyakarta : pustaka pelajar
Rozak, Abdul. 20154, Peran Bank Sampah Warga Peduli Lingkungan (WPL) dalam Pemberdayaan Perekonomian Nasabah, S1 Ekonomi Syariah, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Soim, Muhammad. 2018, Pengorganisasian Dan Pengembangan Masyarakat, Depok: Rajawali Pers
Suharto, Edi. 2005, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, Bandung:
PT. Refika Aditama
Sriharini, Suisyanto, dkk.2005, Islam Dakwah dan Kesejahteraan Sosial, Yogyakarta: JPMI
Sulaeman, Sutina, Endang. 2012, Pemberdayaan Masyarakat Dibidang Kesehatan Teori dan Implementasi, Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Soetomo, Strategi-Strategi Pembangunan Masyarakat
Suti’ah, Muhaimin, dan Prabowo, Listyo, Sugeng. 2009, Manajemen Pendidikan, Jakarta:...Kencana
Sucipto, C.D. 2012, Teknologi Pengolahan Daur Ulang Sampah, Yogyakarta:
Goysen
Suwerda, Bambang. 2012, Bank SampahK, ajian Teori Dan Penerapan, Yogyakarta: Pustaka Rihama
Suwerda, Bambang. 2010, Bank Sampah Buku I, Yogyakarta: Werda Press
Satori, Djaman dan komariah, Ann, 2014, Metodologi Perselinican Kualitats, Bandung Alfabeta
Sugiyono, 2014, Melode Penelitian Pendidikan : Pendekuran Kuantani.
Kualitaris Dan R&D, Bandung : Alfabeta
Sugiyanto. 2017, metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D, bandung::
alfabeta
Sugiono, 2007, metode penelitian kualitatif, bandung: Remaja Rosda Karya Siregar, Sofiyan. 2011, statistic deskriptif untuk peneltian, Jakarta: Rajawali Pers Tambunan, Tulus, 2011. Perekonomian Indonesia”Kajian Teoritis dan Analisis
Empiris,,Bogor: Ghalia Indonesia
Triandanu, Sigit dan Budisantoso, Totok. 2000, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Jakarta: Salemba Empat
Untung, Budi, Hendrik. 2008, Corporate Social Resposibility, Jakarta : Sinar Grafika,
Wintoko, Bambang. 2013, Paduan Praktis Mendirikan Bank Sampah Keuntungan Ganda Lingkungan Bersih dan Kemajuan Finansial Cet.I, Yogyakarta:
Pustaka Baru Press
LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran 1
KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN
Judul Variabel Indikator Sub Indikator Uraian Teknik Pengumpulan
Data Pemberdayaan
Masyarakat Melalui Bank Sampah Mutiara Program CSR Pegadaian Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Pekanbaru
Pemberdayaan Masyarakat
1. Proses Penyadaran 1. Memberikan penyadaran dengan memberikan motivasi
1. Proses penyadaran yang dilakukan kepada masyarakat
2. kendala pihak bank sampah dalam memberikan
penyadaran
3. Dampak yang dirasakan setelah dilakukan penyadaran
Wawancara, Observasi, dan Dokumentasi
2. Memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang kepedulian terhadap sampah
1. pihak bank sampah memberikan penyadaran kepada masyarakat 2. Memberikan kesadaran
kepedulian terhadap sampah kepada masyarakat
2. Proses Transformasi
1. Memberikan pelatihan dan pembinaan kepada masyarakat
1. Memberikan pelatihan yang diberikan kepada
masyarakat
2. Respon masyarakat ketika diberikan pelatihan
3. Dampak yang didapat setelah adanya pelatihan 2. Pelatihan
Keterampilan
1. Memberikan ide baru dalam pengelolaan sampah
3. Peningkatan kemampuan intelektual dan kecakapan
1. Terciptanya kemandirian bagi masyarakat
1. Masyarakat mampu membuat inovasi baru terkait hal yang dapat
meningkatkan pendapatan 2. Bagaimana
masyarakat dikatakan mandiri atau berhasil
LAMPIRAN 2
PEDOMAN OBSERVASI Nama Obsever : Fitra Inalfa
Hari / tanggal : 01 Maret 2022
Objek : Nasabah Bank Sampah
Dalam kegiatan observasi, penulis turun langsung kelapangan untuk melihat dan mengamati secara langsung mengenai Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Bank Sampah Mutiara Program CSR Pegadaian Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru.
A. Tujuan
Untuk memperoleh data informasi yang lebih akurat dan lebih lengkap lagi mengenai Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Bank Sampah Mutiara Program CSR Pegadaian Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Pekanbaru.
B. Aspek yag di Amati
Adapun aspek yang diamati dalam kegiatan observasi ini adalah mengenai bagaimana program yang dilakukan oleh pihak pegadaian dalam memberdayakan masyarakat melalui kegiatan bank sampah di Kelurahan Tuah Karya, Kecamatan Tampan, Pekanbaru
LAMPIRAN 3
PEDOMAN WAWANCARA
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI BANK SAMPAH MUTIARA PROGRAM CSR PEGADAIAN KELURAHAN TUAH KARYA
KECAMATAN TAMPAN PEKANBARU
1. Bagaimana cara bank sampah melakukan penyadaran kepada masyarakat?
2. Apa saja kendala bank sampah dalam memberikan penyadaran kepada masyarakat?
3. Bagaimana dampak setelah dilakukannya penyadaran?
4. Apa saja bentuk kegiatan yang dilakukan oleh bank sampah?
5. Bagaimana pihak bank sampah melakukan penyadaran tentang kepedulian terhadap sampah kepada masyarakat?
6. Apakah masyarakat mendapatkan pelatihan dari bank sampah?
7. Bagaimana respon masyarakat terhadap pelatihan yang diberikan?
8. Apakah setelah dilakukan pelatihan dapat memunculkan ide baru bagi masyarakat?
9. Bagaimana cara nasabah menyampaikan pendapat kepada pengurus bank sampah?
10. Bagaimana inovasi baru yang didapat oleh masyarakat untuk meningkatkan pendapatan?
11. Apakah setelah adanya penyadaran dan pelatihan tersebut masyarakat dapat dikatakan mandiri dan berhasil?
LAMPIRAN 4
HASIL OBSERVASI
Pada observasi pertama, penulis melihat kegiatan bank sampah oleh pihak pegadaian, melihat secara langsung kegiatan pengelolaan sampah di bank sampah, keadaan nasabah dan lain sebagainya. Hasil observasi menunjukkan bahwa para nasabah mengumpulkan sampah di bank sampah kemudian diberikan poin-poin seperti di perbankan, mereka diibaratkan sedang menabung. Bank sampah ini terletak di Jl Tuah Karya Kota Pekanbaru. Penulis juga melihat beberapa fasilitas di bank sampah mutiara seperti:
- 1 unit gedung berupa kantor dan gudang penyimpanan sementara - 1 unit kendaraan sepeda motor becak
- 1 set komputer dan seluruh aktivitas kegiatan dari awal sampai selesai Sejalan dengan itu, ada beberapa bantuan sosial dan operasional yang diterima oleh kelompok-kelompok usaha lain di Kelurahan Tuah karya berupa uang atau peralatan, sebagai berikut:
- 8 unit gerobak untuk pedagang setempat yang pengelolaannya dijalalnkan oleh bank sampah
- Bantuan pembenahan/pemeliharaan sarana olahraga sebesar Rp.
13.000.000-,
- Bantuan peralatan kantor dan operasional harian bank sampah
- Bantuan peralatan/mesin sarana penunjang operasional kelompok usaha bersama (KUBE)
Observasi selanjutnya penulis menemui bapak Edy selaku pejabat di pegadaian yang mengelola bank sampah sekaligus meminta izin secara langsung untuk melakukan kegiatan wawancara. Penulis melihat para nasabah bank sampah mengumpulkan sampah tersebut kemudian ada yang memilah, membersihkan dan mandaur ulangnya.
Observasi terakhir penulis melakukan wawancara sebagai lanjutan dari kegiatan penelitian tersebut, penulis menemui beberapa pejabat dan para nasabah bank sampah untuk meminta data mengenai bank sampah mutiara.
Lampiran 5
HASIL WAWANCARA
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI BANK SAMPAH MUTIARA PROGRAM CSR PEGADAIAN KELURAHAN TUAH KARYA
KECAMATAN TAMPAN PEKANBARU
Nama : Bapak Edi Waktu : 15 Maret 2022 Pewawancara : Fitra Inalfa
Lokasi : Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Pekanbaru
1. Bagaimana cara bank sampah melakukan penyadaran kepada masyarakat ?
Pada dasarnya bank sampah didirikan untuk melanjutkan apa yang dicetuskan oleh kelurahan tetapi masih secara mandiri, kemudian oleh pegadaian dengan
tenaga CSR bekerja sama dengan kelurahan tersebut untuk mengelola bank sampah itu. Kemudian memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat yang diperoleh dengan adanya bank sampah dan melakukan sosialisasi bank sampah kepada masyarakat yang dilakukan di bank sampah mutiara.
2. Apa saja kendala bank sampah dalam meberikan penyadaran kepada masyarakat ?
Kendalanya seperti program ini sering dianggap bukan program pemerintah yang diadakan secara swadaya oleh organisasi non pemerintah sehingga masyarakat sering salah mengerti akhirnya partisipasi masyarakat menjadi minim.
3. Bagaimana dampak setelah dilakukannya penyadaran ?
Semenjak adanya bank sampah ini awalnya dimulai dari diri sendiri bergerak diri sendiri, kemudian mengajak masyarkat untuk menjadi nasabah dari bank sampah, sehingga masyarkat tertarik dan dapat menjadi nasabah. Dengan adanya bank sampah tersebut membuat lingkungan menjadi bersih dan masyarakat paham dengan sampah yang bernilai tinggi 4. Apa saja bentuk kegiatan yang dilakukan oleh bank sampah ?
Kegiatannya berupa, memilah – milah sampah atau membeda – bedakan sampah santara oraganik dan non organik, menimbang – nimbang sampah lalu dicatat dan ditukarkan menjadi emas. Dan sampah tersebut diberikan ke pengepul untuk diolah kembali.
5. Bagaimana pihak bank sampah melakukan penyadaran tentanng kepedulian terhadap sampah kepada masyarakat?
Mereka memberikan motivasi kepada masyarakat dan memberikan contoh apabila masyarakat peduli terhadap sampah sekitar
HASIL WAWANCARA
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI BANK SAMPAH MUTIARA PROGRAM CSR PEGADAIAN KELURAHAN TUAH
KARYA KECAMATAN TAMPAN PEKANBARU
Nama : Bapak Edi Waktu : 17 April 2022 Pewawancara : Fitra Inalfa
Lokasi : Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Pekanbaru
1. Apakah masyrakat mendapatkan pelatihan dari bank sampah ? Bentuk pelatihannya berupa mengumpulkan masyarakat untuk penyadaran akan sampah yang bernilai tinggi tersebut.
2. Bagaimana respon masyarakat terhadap pelatihan yang diberikan oleh pengelola bank sampah ?
Respon masyrakat sangat baik, karena mereka bisa menghasilkan uang dari sampah dan dijadikan tabungan emas.
3. Apakah setelah dilakukannya pelatihan dapat memunculkan ide baru bagi masyarakat ?
Ide baru yang muncul untuk saat ini adalah masyarakat bergotong royong untuk membuat tong sampah dititik tertentu dan disetiap tong sampah tersebut dibedakan menjadi 2 yaitu sampah kering dan sampah basah. Dan disititulah masyarakat semakin mudah untuk mengumpulkan sampah untuk ditabung dan menghasilkan emas.
4. Bagaimana cara nasabah bank sampah menyampaikan pendapat kepada pengurus bank sampah ?
Dengan cara bertatap muka antara nasabah dan pengelola bank sampah dan disitulah mereka bisa menyampaikan pendapat dan disetujui oleh pengelola bank sampah.
5. Bagaimana inovasi baru yang didapat oleh masyarakat untuk meningkatkan pendapatan ?
Inovasinya yaitu sampah-sampah yang berserakan dapat dimanfaatkan dan dapat menghasilkan uang sehingga bisa menambah pendapatan kami dari sampah tersebut
6. Apakah setelah adanya penyadaran dan pelatihan tersebut masyarakat dapat dikatakan mandiri dan berhasil ?
Tentu, masyarakat umumnya bisa berhasil dan mandiri dengan adanya kegiatan bank sampah ini apalagi dengan adanya pelatihan yang diberikan yang membuat masyarakat lebih banyak pengetahuan tentang pengelolaan sampah
HASIL WAWANCARA
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI BANK SAMPAH MUTIARA PROGRAM CSR PEGADAIAN KELURAHAN TUAH
KARYA KECAMATAN TAMPAN PEKANBARU
Nama : Bapak Akhwan Waktu : 15 Maret 2022 Pewawancara : Fitra Inalfa
Lokasi : Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Pekanbaru
1. Bagaimana cara bank sampah melakukan penyadaran kepada masyarakat ?
Dengan menanamkan slogan bahwa kebersihan itu dimulai dari diri sendiri, memulai dari hal kecil hingga menjadi kebiasaan bahwa menjaga kebersihan khususnya lingkungan sangat penting.
2. Apa saja kendala bank sampah dalam memberikan penyadaran kepada masyarakat ?
Kendalanya berupa, masyarakat sering menggangap program ini bukan dari pemerintah. dan masyarakat sulit mengerti sehingga masyarakat salah akhirnya partisipasi mayarakat menjadi minim akan kesadaran ini.
3. Bagaimana dampak setelah dilakukannya penyadaran ?
Dampaknya adalah masyarakat lebih mengetahui bahwa sampah bernilai lebih.
4. Apa saja bentuk kegiatan yang dilakukan oleh bank sampah ?
Dengan mengumpulkan sampah – sampah yang berserakan kemudian dengan membuat tempat sampah berdasarkan jenis sampahnya baik itu organic maupun non organik.
5. Bagaimana pihak bank sampah melakukan penyadaran kepedulian masyarakat terhadap sampah ?
Penyadaran yang dilakukan oleh bank sampah kepada masyarakat setempat agar lebih peduli terhadap sampah yaitu dengan menjelaskan apa dampak yang akan timbul apabila kita terus menerus tidak peduli terhadap sampah dan banyak manfaat yang kita dapatkan apabila peduli terhadap sampah misalnya lingkungan jadi lebih bersih dan sehat, sampah-sampah yang berserakan juga bisa menghasilkan uang dan lain sebagainya.
HASIL WAWANCARA
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI BANK SAMPAH MUTIARA PROGRAM CSR PEGADAIAN KELURAHAN TUAH
KARYA KECAMATAN TAMPAN PEKANBARU
Nama : Bapak Akhwan Waktu : 17 April 2022 Pewawancara : Fitra Inalfa
Lokasi : Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Pekanbaru
1. Apakah masyarakat mendapatkan pelatihan dari bank sampah ? Tentu, dengan bersosialisai kepada masyarakat untuk menyadarkan akan peduli sampah dan bagaimana pengelolaan sampah dengan membuat kerajinan dan sebagainya untuk mendapatkan penghasilan dan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat
2. Bagaimana respon masyarakat terhadap pelatihan yang diberikan
?
Respon masyarakat sangat baik, dan mereka lebih paham akan adanya bank sampah ini, selain itu mereka lebih menjaga lingkungan sekitarnya.
3. Apakah setelah dilakukan pelatihan dapat memunculkan ide baru bagi masyarakat ?
Ide baru yang muncul seperti memperbanyak tong sampah besar di area perumahan. Dan sampah dibedakan antara 2 jenis yaitu organic dan non organic, kemudian sampah-sampah yang dikumpulkan dapat di kelola dan menjadi barang yang bisa dimanfaatkan contohnya membuat kerajinan bunga dari botol dan banyak keterampilan lainnya.
4. Bagaimana cara nasabah bank sampah menyampaikan pendapat kepada pengurus bank sampah ?
Dengan cara mengumpulkan nasabah seperti tatap muka dengan pengurus bank sampah. Pengurus bank sampah akan mendengarkan pendapat dari nasabah bank sampah tersebut.
5. Bagaimana inovasi baru yang didapat masyarakat untuk meningkatkan pendapatan ?
Inovasi yang di dapatkan setelah adanya program bank sampah ini yaitu sampah-sampah yang dikumpulkan dapat didaur ulang, dapat dibuat kerajinan-kerajinan dan lain-lain sehingga dapat meningkatkan pendapatan.
6. Apakah setelah adanya penyadaran dan pelatihan tersebut masyarakat dapat dikatan mandiri dan berhasil ?
Tentu saja, karena dengan adanya pelatihan yang dilakukan kami bisa berhasil meningkatkan pendapatan dan memanfaatkan sampah yang sudah tidak digunakan