BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di beberapa industri konveksi di kota Makassar meliputi kecamatan mamajang, bontoala, dan panakkukang. Adapun rencana waktu penelitian ini yaitu pada bulan oktober sampai bulan november 2020.
C. Devinisi Operasional Variabel dan Pengukuran
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variabel nilai produksi, upah dan tingkat pendidikan sebagai variabel bebas dan penyerapan tenaga kerja sebagai variabel terikat.
a. Nilai Produksi (X1) adalah tingkat produksi atau keseluruhan jumlah barang yang dihasilkan. Naik turunnya permintaan pasar akan hasil produksi dari perusahaan yang bersangkutan, akan berpengaruh apabila permintaan hasil produksi barang perusahaan meningkat, maka produsen cenderung untuk menambah kapasitas produksinya. Untuk maksud tersebut produsen akan menambah penggunaan tenaga kerjanya (Sumarsono, 2003). Nilai produksi dipengaruhi oleh
33
produktivitas tenaga kerja atau jumlah output yang dihasilkan serta tingkat harga yang berlaku.
b. Upah (X2) adalah pembayaran yang disediakan oleh pengusaha atas jasa fisik ataupun mental yang disediakan oleh tenaga kerja. Sebagai salah satu kesepakatan kerja yang diatur oleh perusahaan dan disepakati oleh pekerja sebagai haknya atas pekerjaan yang dilakukan.
Tingkat upah bisa saja di tentukan oleh besar atau kecilnya modal perusahaan, regulasi pemerintah, ataupun produktivitas kerja.
c. Pendidikan (X3) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kelompok ataupun individu untuk mencapai pengetahuan tertentu yang akan dimanfaatkan baik dalam dunia sosial ataupun dunia kerja.
d. Penyerapan Tenaga Kerja (Y) penyerapan tenaga kerja didefinisikan sebagai jumlah tenaga kerja yang terserap pada suatu sektor dalam waktu tertentu. Penyerapan tenaga kerja terjadi akibat adanya permintaan tenaga kerja atau adanya ketersediaan kesempatan kerja oleh perusahaan dan adanya penawaran tenaga kerja oleh pencari kerja, serta berdasar pada tingkat upah dan faktor-faktor produksi lainnya..
sehingga penyerapan tenaga kerja ialah jumlah pekerja yang diserap dari penawaran tenaga kerja untuk mengisi ketersediaan lapangan kerja pada perusahaan.
D. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya oleh peneliti. dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian yakni Industri Konveksi yang ada di kota makassar.
34
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah yang dimiliki oleh populasi tersebut. Adapun jumlah sampel diambil sebanyak 15 unit usaha konveksi yang tersebar di tiga kecamatan yakni kecamatan Bontoala, panakkukang, dan kecamatan mamajang.
E. Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini data yang digunakan merupakan data primer yang diperoleh melalui metode pengumpulan data langsung yang sesuai dengan data yang dibutuhkan. Dengan demikian metode yang digunakan yaiatu:
1. Metode Angket/Kuesioner. Kuesioner adalah alat pengumpul data yang berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang kemudian akan diisi oleh responden untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian.
2. Metode Wawancara, wawancara adalah metode pengumpulan data dengan mengajukan daftar pertanyaan kepada narasumber untuk memperoleh informasi dengan tujuan memenuhi data penelitian.
3. Metode Observasi, ialah pengamatan langsung terhadap objek yang sedang diteliti meliputi aktivitas perhatian terhadap kajian objek dengan menggunakan pengindraan.
F. Teknik Analisis
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik analisis regresi berganda yaitu metode analisis yang menggunakan lebih dari satu variabel.
Dalam hal ini terdapat tiga variabel bebas dan satu variabel terikat. Dengan menggunakan model . Adapun rumus yang digunakan adalah:
35
Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + e Keterangan:
Y = Penyerapan Tenaga Kerja β0 = Konstanta
X1 = Nilai Produksi X2 = Upah
X3 = Tingkat Pendidikan
β = Parameter Variabel Terkait e = Error
Untuk mengetahui pengaruh variabel independen dan variabel dependen maka dilakukan penelitian terhadap hipotesis pada penelitian ini. sebagai alat analisis data, penggunaan regresi memerlukan beberapa pengujian serta analisis sehingga penggunaan regresi dan hasil regresi dapat digunakan sebagai alat prediksi. Berikut beberapa pengujian dan analisis yang dimaksud:
1. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik Adalah persyaratan statistik dalam penelitian yang harus dipenuhi pada analisis regresi linear berganda yang berbasis ordinary least square (OLS).
a. Uji Normalitas
Uji Normalitas sebagai salah satu bentuk pengujian sebelum melakukan analisis yang sebenarnya. Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model yang baik adalah ketika memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. Berikut dasar pengambilan keputusan dalam memenuhi
36
normalitas atau tidak:
1. jika Sig > 0,05 maka data tersebut berdistribusi normal, sehingga model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika Sig < 0,05 maka data tersebut tidak berdistribusi normal, sehingga model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
b. Uji Multikoliniertas
Uji multikoniliertas bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan atau korelasi yang terdapat pada variabel-variabel bebas dalam model regresi linear berganda. Regresi yang baik adalah tidak terjadinya korelasi diantara variabel bebas. Dan ketika terdapat korelasi antara variabel bebas maka hubungan variabel bebas dengan variabel terikat menjadi terganggu.
Dasar pengambilan keputusan pada uji Multikolonieritas dapat dilakukan dengan melihat nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor). Melihat nilai tolerance yaitu:
1. Jika nilai Tolerance lebih besar dari 0,10 maka artinya tidak terjadi Multikolinieritas terhadap data yang diuji.
2. Jika nilai Tolerance Lebih kecil dari 0,10 maka artinya terjadi Multikolinieritas terhadap data yang diuji.
Melihat nilai VIF (Variance Inflation Factor) adalah:
1. Jika nilai VIF lebih kecil dari 10,00 maka artinya tidak terjadi Multikolinieritas terhadap data yang diuji.
2. Jika nilai VIF lebih dari 10,00 maka artinya terjadi Multikolinieritas terhadap data yang diuji.
3.
37
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas digunakan dengan tujuan untuk melihat apakah dalam sebuah modeh regresi terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain.
2. Uji Hipotesis
Dalam Uji hipotesis penulis menggunakan Analisis Regresi Berganda.
a. Uji t Statistik
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh yang terjadi antara variabel independen secara individual terhadap variabel dependen.
Pengujian ini dapat dilakukan dengan melakukan perbandingan hasil t hitung dengan t-table dan uji t juga dapat dilihat dari tingkat signifikannya. Jika tingkat signifikannya lebih rendah dari 0,05 atau t hitung lebih besar dari t tabel maka artinya H0 ditolak dan Ha diterima sehingga variabel independen secara parsial berpengaruh terhadap variabel dependen secara signifikan. Berikut uji hipotesis:
a. Jika Hipotesis Positif H0 : βi ≤ 0
H1 : βi > 0
b. Jika hipotesis negative H0 : βi ≥ 0
Ha : βi < 0
Jika t-tabel ≥ t-hitung atau nilai propabilitas t-statistik > 0,05 maka H0 diterima artinya variabel independen secara individual tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.
Dan sebaliknya jika t-tabel < t-hitung maka H0 ditolak artinya
38
variabel independen secara individu memiliki pengaruh terhadap variabel dependen secara signifikan.
b. Uji Signifikan Simultan (Uji F)
Uji F digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel independen, apakah variabel Nilai Produksi (X1), Upah (X2), dan Modal (X3) benar-benar berpengaruh secara simultan (bersama-sama) terhadap variabel dependen Y (Penyerapan Tenaga Kerja).
Uji F dilakukan dengan membandingkan nilai F-hitung dan F- tabel. Untuk menghitung nilai F statistik dapat digunakan dengan rumus:
Mencari nilai F hitung dengan formulasi persamaan dan nilai F kritis dari tabel distribusi F. Nilai F kritis berdasarkan besarnya α dan df di mana besarnya ditentukan oleh numerator (k-1) dan df untuk denominator (n-k). Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji simultan (uji F) yaitu:
a. Jika F hitung < F tabel maka H0 diterima dan Ha ditolak yang artinya variabel independen secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
b. Jika F-hitung > F tabel maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi (negatif/positif) variabel dependen secara signifikan.
c. Koefisien Determinasi (R2)
semakin besar R2 pengaruh model dalam menjelaskan variabel dependen. Nilai R2 terletak antara 0 dan 1. Semakin mendekati angka satu maka semakin baik garis regresi dan sebaiknya jika
39
mendekati angka 0 maka garis regresi kurang baik. Koefisien determinasi (R2) berfungsi untuk mengetahui berapa persen pengaruh yang diberikan variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen.
39 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian Industri Konveksi di Kota Makassar
Kota Makassar merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia dan sebagai ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Kota makassar juga merupakan kota terbesar keempat di Indonesia serta menjadi kota terbesar di kawasan Indonesia bagian timur dengan luas wilayah total 175,77 km2.. Kota Makassar merupakan pusat pelayanan untuk perdagangan dan jasa, juga sebagai pusat dari aktivitas atau kegiatan industri, kegiatan pemerintahan, pendidikan, kesehatan hingga pusat jasa angkutan barang ataupun penumpang baik darat maupun laut di Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Secara administrasi terdapat 14 kecamatan yang ada di kota makassar yakni kecamatan Tamalanrea, biringkanaya, manggala, panakkukang, tallo, ujung tanah, bontoala, wajo, ujung pandang, makassar, rappocini, tamalate, mamajang, serta kecamatan mariso. hampir seluruh kecamatan memiliki peran dalam pengembangan industri khususnya industri konveksi
Industri konveksi memiliki peran dalam pembangunan ekonomi serta penyerapan tenaga kerja. Kota makassar adalah pusat kegiatan industri di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Salah satu industri yang menjadi objek penelitian yaitu industri konveksi. Berikut penyebaran industri konveksi di berbagai kecamatan yang ada di Kota Makassar,
40
Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Makassar 2020 B. Gambaran Umum Sampel Penelititan
sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti ataupun orang-orang atau objek yang mewakili dan memberi respon berupa informasi jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan ataupun pernyataan yang telah diajukan oleh peneliti.
1. Responden Menurut Tingkat usia Tabel 4.2
Responden Berdasarkan Tingkat Usia
No Usia Responden Frekuensi
Orang Persentase
41
Berdasarkan tabel diatas, maka dapat diketahui bahwa berdasarkan usia, Responden yang berusia sekitar 31 – 35 tahun sebanyak 2 orang atau jumlah persentase 13,3%, responden yang berusia sekitar 36 – 40 tahun sebanyak 2 orang atau jumlah persentase 13,3%, responden yang berusia sekitar 41 – 45 sebanyak 5 orang atau jumlah persentase 33,3%, respondeng dengan usia sekitar 46 – 50 tahun sebanyak 4 orang atau jumlah persentase 26,6%, responden dengan usia 51 – 55 tahun sebanyak 1 orang atau jumlah persentase 6,6%, dan responden dengan usia sekitar 56 – 60 tahun juga terdapat 1 orang dengan jumlah persentase 6,6%.
2. Responden Berdasar Tingkat Pendidikan
Tabel 4.3
Responden Berdasar Tingkat Pendidikan
No Tingkat Pendidikan
Frekuensi
Orang Persentase
1 SD 1 6,6 %
2 SMP 4 26,6 %
3 SMA 5 33,3 %
4 SARJANA 5 33,3 %
Jumlah 15 100 %
Berdasarkan tabel diatas, maka dapat diketahui bahwa berdasar tingkat pendidikan, responden dengan tingkat pendidikan SD sebanyak 1
42
orang dengan persentase 6,6%, responden dengan tingkat pendidikan SMP sebanyak 4 orang dengan persentase 26,6%, responden dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 5 orang dengan persentase 33.3%, dan responden dengan tingkat pendidikan sarjana sebanyak 5 orang dengan persentase 33,3%.
3. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.4
Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin
Frekuensi
Orang Persentase
1 Laki-Laki 11 73,3 %
2 Perempuan 4 26,6 %
Jumlah 15 100 %
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa berdasar jenis kelamin, responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 11 orang dengan persentase 73,3% dan responden dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 4 orang dengan persentase 26,3%.
C. Hasil Penelitian 1. Data Penelitian
A. Nilai Produksi Industri Konveksi
Nilai produksi adalah keseluruhan jumlah barang hasil produksi yang kemudian ditentukan nilainya berdasar tingkat penawaran harga barang yang berlaku di pasaran. Nilai produksi industri konveksi yang
43
dimaksud ialah total jumlah barang yang telah diproduksi dalam kurung waktu tertentu yang kemudian di hitung berdasar harga yang telah berlaku atau harga yang telah ditentukan atau disepakati oleh pihak industri sebagai penyedia barang dan konsumen sebagai penawar harga.
Data yang diperoleh untuk nilai produksi pada beberapa konveksi di kota makassar dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.5
Nilai Produksi Industri Konveksi di kecamatan Bontoala, Panakkukang, dan Mamajang
No Interval Nilai Produksi Frekuensi Persentase
1 Rp. 10,000,000 – 30,000,000 5 33,3%
2 Rp. 31,000,000 - 50,000,000 4 26,6%
3 Rp. 51,000,000 - 70,000,000 2 13,3%
4 Rp. 100,000,000 - 200,000,000 2 13,3%
Jumlah 40 100%
Rata-Rata Rp. 48,100,00
Minimal Rp. 10,000,000
Maksimal Rp. 200,000,000
Berdasarkan tabel diatas, maka dapat diketahui bahwa terdapat 5 unit usaha industri konveksi atau dengan persentase 33,3% yang mampu menghasilkan nilai produksi dengan interval Rp. 10,000,000 – 30,000,000. Terdapat 4 unit usaha industri konveksi atau dengan persentase 26,6% yang mampu menghasilkan nilai produksi dengan interval Rp. 31,000,000 - 50,000,000. Terdapat 2 unit usaha industri konveksi atau 13,3% yang mampu menghasilkan nilai produksi dengan
44
interval Rp. 51,000,000 - 70,000,000. Dan terdapat 2 unit usaha industri konveksi atau 13,3% yang mampu memnghasilkan nilai produksi dengan interval Rp. 100,000,000 - 200,000,000.
B. Tingkat Upah Industri Konveksi
Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang- undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.
Konsep upah yang diterapkan dalam industri konveksi umumnya terhitung dari setiap atau jumlah lembaran pakaian yang dapat dihasilkan oleh masing-masing pekerja, pembayaran upah pun bisa di akumulasikan dan diberikan setiap bulannya dan hal tersebut telah disepakati terlebih dahulu oleh pihak industri dan tenaga kerja.
45
Berikut data mengenai tingkat upah yang diperoleh dari beberapa industri konveksi di kota Makassar:
Tabel 4.6
Tingkat Upah Industri Konveksi di kecamatan Bontoala, Panakkukang, dan Mamajang
No Interval Upah Frekuensi Persentase
1 Rp. 450,000 – 500,000 4 26,6%
2 Rp. 510,000 – 600,000 8 53,3%
3 Rp. 610,000 – 700,000 1 6,6%
4 Rp. 710,000 – 800,000 2 13,3%
Jumlah 15 100%
Rata-Rata Rp. 595,000
Minimal Rp. 450,000
Maksimal Rp. 800,000
Berdasarkan tabel diatas, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 4 unit usaha industri konveksi atau 26,6% memberikan upah kepada tenaga kerja dengan interval upah Rp. 450,000 – 500,000. Terdapat 8 unit industri konveksi atau 53% yang memberikan upah kepada tenaga kerja dengan interval upah Rp. 510,000 – 600,000. Terdapat 1 unit industri konveksiatau 6,6% saja yang memberikan upah kepada tenaga kerja dengan interval upah Rp. 610,000 – 700,000. Juga terdapat 2 unit industri atau 13,3% yang memberikan upah kepada tenaga kerja dengan interval upah Rp. 710,000 – 800,000.
C. Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mendukung pencari
46
kerja untuk bisa memasuki lapangan pekerjaan, dan bagi penyedia lapangan kerja, pendidikan menjadi bagian dari sarana pengetahuan untuk kemudian mampu menyerap banyak tenaga kerja untuk dipekerjakan. Berikut data mengenai tingkat pendidikan pemilik konveksi yang telah didata:
Tabel 4.7
Tingkat pendidikan pemilik Industri Konveksi di kecamatan Bontoala, Panakkukang, dan Mamajang
Berdasarkan tabel diatas, maka dapat diketahui bahwa berdasar tingkat pendidikan, pemilik konveksi dengan tingkat pendidikan SD sebanyak 1 orang dengan persentase 6,6%, pemilik konveksi dengan tingkat pendidikan SMP sebanyak 4 orang dengan persentase 26,6%, pemilik konveksi dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 5 orang dengan persentase 33.3%, dan pemilik konveksi dengan tingkat pendidikan sarjana sebanyak 5 orang dengan persentase 33,3%.
D. Penyerapan Tenaga Kerja
Penyerapan tenaga kerja adalah upaya yang dilakukan oleh pihak penyedia lapangan kerja untuk memperoleh tenaga kerja dalam kegiatan
47
produksi ataupun jasa, fungsi utama penyerapan tenaga kerja adalah upaya mengurangi angka pengangguran ditengah pertumbuhan penduduk yang cukup besar. Perusahaan yang melakukan penyerapan tenaga kerja tidak serta merta menyerap tenaga kerja tanpa adanya alasan atau faktor-faktor yang telah dipertimbangkan, seperti faktor tingkat upah nilai produksi, hingga faktor pendidikan.
Berikut gambaran umum daftar tenaga kerja yang dapat diserap oleh beberapa konveksi yang ada di kota makassar.
1. Tenaga Kerja berdasarkan Jenis Kelamin
Banyaknya tenaga kerja dapat dikelompokkan berdasar jenis kelamin, sebagai berikut:
Tabel 4.8
Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Konveksi di kecamatan Bontoala, Panakkukang, dan Mamajang Berdasarkan Jenis
Kelamin
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
1 Perempuan 47 44%
2 Laki-Laki 60 56%
Jumlah 107 100%
Sumber Data : Dinas Perindustrian Kota Makassar 2019
Berdasarkan Tabel di atas dapat diketahui bahwa, terdapat 47 perempuan atau 44% tenaga kerja perempuan yang dapat diserap oleh 15 konveksi yang ada di Kota Makassar. Terdapat 60 laki-laki atau 56% tenaga kerja laki-laki yang dapat diserap oleh 15 konveksi
48
yang ada di kota makassar. Sehingga dapat diketahui bahwa jumlah keseluruhan tenaga kerja yang mampu diserap sebanyak 107 Tenaga Kerja.
2. Tenaga Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tenaga Kerja yang diserap dapat dikelompokkan berdasar tingkat pendidikan terakhir yang telah ditempuh oleh masing-masing pekerja, berikut gambaran umum rata-rata tingkat pendidikan terakhir yang ditempuh oleh tenaga kerja pada industri konveksi di kota makassar;
Tabel 4.9
Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Konveksi di kecamatan Bontoala, Panakkukang, dan Mamajang Berdasarkan Tingkat
Pendidikan
No Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase
1 SD 6 40%
2 SMP 9 60%
Jumlah 15 100%
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, dari 15 unit usaha industri konveksi terdapat 6 konveksi atau sebanyak 40% konveksi yang memiliki tenaga kerja dengan rata-rata tingkat pendidikan SD. Juga diketahui bahwa dari 15 unit usaha industri konveksi terdapat 6 konveksi diantaranya atau 60% konveksi yang memiliki tenaga kerja dengan rata-rata tingkat pendidikan SMP.
2. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik memiliki tujuan untuk mengetahui dan memberi
49
kepastian bahwa persamaan regresi yang didapat memiliki ketepatan estimasi. Tidak bias dan konsisten. Adapun bentuk pengujian uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
a. Uji Normalitas
Uji Normalitas digunakan agar bisa mengetahui data penelitian berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan program SPSS. Pengujian ini dilakukan terhadap seluruh variabel penelitian yaitu variabel Nilai Produksi (X1), Tingkat Upah (X2), Tingkat Pendidikan (x3), dan
Penyerapan Tenaga Kerja (Y). Berikut adalah hasil analisisnya:
Gambar 4.1
Berdasarkan apa yang terlihat dari grafik Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual, bahwasanya penyebaran titik-titik terjadi di sekitar garis diagonal, dan juga arah penyebarannya
50
mengikuti garis diagonal tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa data yang diolah berdistribusi normal dan model regresi layak dipakai untuk menganalisis penyerapan tenaga kerja berdasarkan variabel-variabel bebasnya.
b. Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas digunakan untuk mengetahui apakah masing- masing variabel independen terdapat suatu hubungan satu sama lain di dalam model regresi Multikolinearitas, untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dengan melihat nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor). Berikut hasil Uji
a. Dependent Variable: Penyerapan TK
Berdasarkan hasil uji pada tabel 4.12 maka diketahui bahwa nilai tolerance pada variabel Nilai Produksi (X1) sebesar 0,151 lebih besar dari 0,10, serta nilai FIV yakni 6,635 lebih kecil dari 10,00. Sementara variabel Upah (X2) memiliki nilai tolerance 0,703 lebih besar dari 0,10, serta nilai FIV yakni 1,421 lebih kecil dari 10,00. Dan variabel Pendidikan (X3) memiliki nilai tolerance 0,137 lebih besar dari 0,10, serta nilai FIV yakni 7,285 lebih kecil dari 10,00. Sehingga dengan hasil tersebut dapat disimpulkan
51
bahwa pada data tersebut tidak terjadi multikolinearitas berdasarkan nilai tolerance dan VIF pada hasil uji Multikolinearitas.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah sebuah model regresi, terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, hal tersebut disebut Homoskedastisitas, sedangkan apabila varians berbeda, maka disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadinya heteroskedastisitas. Berikut hasil pengujiannya.
Gambar 4.2
Berdasarkan grafik scatterplot diatas dapat dilihat bahwa terdapat penyebaran titik-titik secara acak dan tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas,serta tersebar diatas maupun dibawah dari angka 0 pada sumbu Y. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga
52
model regresi ini layak untuk dipakai menganalisis penyerapan tenaga kerja berdasar variabel-variabel independennya.
3. Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi digunakan sebagai alat untuk mengetahui pengaruh antar variabel independen dengan variabel dependen pada penelitian ini, sehingga dapat disusun kedalam bentuk fungsi sebagai berikut:
Tabel 4.11 Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
t Sig.
a. Dependent Variable: Penyerapan TK
Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3
Y = 0,854 + 0,003 X1 + -1,795 X2 + 1,269 X3 Keterangan:
Y = Penyerapan Tenaga Kerja X1 = Nilai Produksi
X2 = Upah X3 = Pendidikan
Persamaan regresi linear berganda tersebut menunjukkan bahwasanya nilai pada konstanta sebesar 0,854, yang berarti jika variabel jumlah nilai produksi, upah dan pendidikan sama dengan nol, maka besarnya penyerapan tenaga kerja yakni 0.858. variabel nilai produksi memiliki pengaruh terhadap jumlah penyerapan tenaga kerja di kota
53
makassar. Selain itu nilai koefisien nilai produksi sebesar 0.003 maka hubungannya jika terjadi perubahan nilai produksi sebesar satu persen maka akan mengubah jumlah penyerapan tenaga kerja sebesar 0.003 persen. Adapun variabel upah memiliki nilai koefisien sebesar -1.795, maka hubungannya jika terjadi perubahan nilai upah sebesar satu persen maka akan mengurangi penyerapan tenaga kerja sebesar -1,795 persen.
Selain itu juga nilai koefisien variabel pendidikan memiliki nilai sebesar 1,269 maka hubungannya jika terjadi perubahan tingkat pendidikan sebesar satu persen makan akan mengubah jumlah penyerapan tenaga kerja sebesar 1,269 persen.
4. Uji Hipotesis secara parsial (Uji-t)
Uji-t digunakan sebagai alat analisis untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen diantaranya variable, nilai produksi, upah dan pendidikan secara parsial memilik pengaruh terhadap variabel dependen yaitu penyerapan tenaga kerja. Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut: a. Dependent Variable: Penyerapan TK
a) Diketahui nilai Sig. Untuk pengaruh X1 terhadap Y adalah sebesar 0,021 pada tingkat signifikansi 0,05 sehingga dapat disimpulkan
54
bahwa 0,021 < 0,05 dan nilai t hitung 2,700 > t tabel 2,132, sehingga dapat diketahui bahwa H0 di tolak dan H1 diterima yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh X1 terhadap Y. sehingga hipotesis (H1) yang di uji dalam penelitian ini yaitu “ Nilai Produksi berpengaruh Positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri konveksi di kota makassar” diterima.
b) Diketahui nilai Sig. untuk pengaruh X2 terhadap Y sebesar 0,545 pada tingkat signifikansi 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa 0,545 >
0,05 dan nilai t hitung -0,624 < t tabel 2,132, sehingga dapat diketahui bahwa H0 diterima dan H2 ditolak yang menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh X2 terhadap Y. sehingga hipotesis (H2) yang di uji dalam penelitian ini yaitu “upah memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri konveksi di Kota Makassar” ditolak.
c) Diketahui nilai Sig. untuk pengaruh X3 terhadap Y sebesar 0,000
c) Diketahui nilai Sig. untuk pengaruh X3 terhadap Y sebesar 0,000