BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.5 Lokasi Hutan Kota dan Persentase Luasannya
Berdasarkan kriteria-kriteria untuk menentukan lokasi hutan kota yang telah dipaparkan pada subbab-subbab sebelumnya, diperoleh 8 lokasi hutan kota yang telah memenuhi semua kriteria tersebut, yaitu memiliki luasan lebih dari 0,25 ha pada lahan yang kompak, diutamakan berada pada tanah Negara, lahan tidak memiliki fungsi ganda, memiliki fungsi dan manfaat yang maksimal, serta menjawab permasalahan dan kebutuhan kota Selatpanjang. Letak kedelapan lokasi tersebut disajikan dalam Gambar 4. Kedelapan lokasi tersebut yaitu:
1. Hutan mangrove sempadan Sungai Suir
Lokasi hutan mangrove sepanjang Sungai Suir memiliki kondisi hutan mangrove yang terancam kelestariannya. Tumbuhan mangrove di lokasi ini didominasi oleh jenis Rhizopora sp. Penebangan kayu sering dilakukan oleh masyarakat tertentu yang memiliki kepentingan menebang kayu mangrove sebagai bahan bangunan, kayu bakar, bahan pembuatan arang dan untuk keperluan tambak. Pembukaan lahan mangrove sering ditemukan di lokasi tambak dan lahan milik masyarakat. Kerusakan hutan bakau tersebut perlu mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Penetapannya sebagai hutan kota akan memperkuat status hukum kawasan tersebut dan akan lebih terjaga kelestariannnya.
2. Hutan mangrove Jalan Pemuda Setia
Lokasi hutan mangrove di Jalan Pemuda Setia juga memiliki ekosistem mangrove yang juga didominasi Rhizopora sp. Sering ditemukan penebangan kayu bakau oleh masyarakat sekitar untuk kayu bakar maupun dijual sebagai
bahan baku arang. Di lokasi ini juga ditemukan pembibitan dan penanaman pohon di petak lahan milik masyarakat. Hal tersebut dilakukan untuk keperluan memanen kayu bakau ketika sudah dapat dipanen. Untuk keperluan ekologis, masyarakat sekitar memang kurang memperhatikannya karena kondisi ekonomi dan pendidikan yang masih rendah yang menyebabkan ketergantungan kehidupan mereka dari hasil hutan bakau dan perikanan. Lokasi ini juga dapat dijadikan sarana rekreasi bagi masyarakat Kota Selatpanjang tentunya dengan pembangunan dan penataan lokasi rekreasi tersebut agar menarik untuk dikunjungi.
3. Rumah adat melayu
Lokasi rumah adat melayu sebagai lokasi penting yang menandai ciri khas budaya Kota Selatpanjang seharusnya didukung dengan taman-taman dan hutan kota yang memiliki nilai estetika. Saat ini kondisi rumah adat melayu tersebut dikelilingi oleh semak belukar dan terlihat panas. Pembangunan hutan kota di lokasi ini dengan vegetasi yang memiliki nilai estetika tertentu akan memberikan keindahan tersendiri bagi rumah adat melayu sehingga akan menarik wisatawan. 4. Stadion Dorak
Stadion Dorak merupakan stadion olahraga yang terhenti proses pembangunannya. Lokasi ini diisi oleh puing-puing bangunan dan beton sisa pembangunan stadion. Lapangan stadion ditumbuhi rerumputan tinggi dan tergenang air gambut. Sekitar stadion hanya ditumbuhi semak belukar. Pemanfaatan lokasi ini untuk keperluan hutan kota akan memberikan banyak keuntungan terutama di bidang olahraga. Pembangunan hutan kota untuk sarana olahraga dapat dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan masyarakat sebagai sarana menjaga kesehatan dan membangun kreatifitas. Lapangan yang telah ada ditimbun dengan pasir dan tanah. Di lokasi sekeliling lapangan ditanami pepohonan yang dapat menguapkan air dengan cepat sehingga mengurangi bahaya penggenangan lokasi olahraga.
5. Gedung Gerakan Pramuka
Gedung Gerakan Pramuka saat ini hanya digunakan untuk mengadakan kegiatan kepramukaan siswa-siswa sekolah di kota Selatpanjang. Lokasi ini terlihat kurang terurus dan hanya digunakan ketika dilakukan acara-acara besar. Lokasi ini dapat dikembangkan lebih jauh dengan pembangunan hutan kota agar
lebih hijau dan menciptakan iklim mikro bagi lokasi sekitarnya. Selain itu adanya hutan kota akan mendorong pemuda untuk melakukan berbagai kegiatan di lokasi ini dan menarik bagi dikunjungi.
6. Lahan terbuka kosong Jalan Rintis
Lokasi untuk pelestarian plasma nutfah perlu dibangun untuk keperluan pelestarian alam. Lahan kosong Jalan Rintis merupakan tanah milik Negara yang belum digunakan secara efektif. Lokasi ini ditumbuhi semak belukar dan memiliki struktur tanah yang kering. Lokasi ini cocok digunakan untuk pelestarian plasma nutfah tipe ekosistem hutan dataran rendah. Hutan kota tersebut berbentuk arboretum yang nantinya dapat digunakan untuk keperluan pendidikan dan penelitian.
7. Lapangan Gelora
Lokasi lapangan Gelora merupakan lokasi yang terletak bersebelahan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Polusi yang disebabkan pembangkit listrik ini perlu mendapat perhatian dan perlu diatasi. Lapangan Gelora juga berdekatan dengan sarana sekolah dan sering digunakan untuk kegiatan olahraga. Hal tersebut menjadikan lokasi ini kurang sehat untuk dijadikan sebagai sarana olahraga. Letaknya yang berdekatan dengan sarana pendidikan menyebabkan perlu dibangunnya hutan kota di Lapangan Gelora untuk mengurangi polusi udara yang dihasilkan pembangkit listrik agar kegiatan pendidikan dan kehidupan masyarakat sekitar tidak terganggu. Pihak PLN perlu diikutsertakan dalam pembangunan hutan kota di Lapangan Gelora agar pengelolaanya memudahkan pemerintah dan lebih maksimal.
8. Tepi Jalan Dorak dan Banglas
Jalan Dorak dan Banglas merupakan jalan yang penting bagi Kota Selatpanjang. Jalan Banglas menghubungkan pusat ekonomi ke pusat pemerintahan. Penanaman pepohonan telah dilakukan di sepanjang Jalan Dorak yaitu berupa penanaman mahoni, trembesi, cemara laut, jati, dan tanjung. Namun demikian, tanaman tersebut tidak tertata dengan rapi dan tidak terlihat adanya pemeliharaan tanaman. Pembangunan hutan kota bentuk jalur di sepanjang Jalan Banglas, Jalan Dorak dan Jalan lain di sekitarnya dapat menambah keindahan kota serta mengurangi polusi yang disebabkan oleh transportasi. Luasan hutan kota
yang dapat dibangun di sepanjang Jalan Banglas, Jalan Dorak dan Jalan lainnya dihitung dari lebar kanan kiri jalan yang dapat ditanami pohon yaitu 2x5 meter dan panjang jalan yaitu 30 Km.
Menurut PP No. 63 tahun 2002, Hutan kota adalah suatu hamparan lahan yang ditumbuhi pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. Menurut ketentuan ini luasan hutan kota minimal 10% dari luas total kota. Sampai saat ini Kota Selatpanjang belum memiliki hutan kota yang telah dikukuhkan (ditetapkan) oleh Bupati atau Walikota. Untuk itu, perlu dilaksanakannya pengukuhan dan penetapan kawasan yang berfungsi sebagai kawasan hutan kota.
Delapan lokasi hutan kota yang telah memenuhi fungsi dan manfaatnya secara maksimal seperti yang telah disebutkan sebelumnya memiliki luasan yang diharapkan dapat mencapai 10% dari luas wilayah Kota Selatpanjang. Pencapaian luasan 10% tersebut bukan hanya untuk memenuhi kriteria dari Peraturan Perundang-undangan, tetapi juga agar luasan hutan kota tersebut sesuai dengan kebutuhan Kota Selatpanjang terhadap hutan kota dan lokasi hijau. Kota Selatpanjang belum memiliki industri yang berkembang pesat, juga belum dipenuhi oleh penduduk yang padat. Oleh karena itu, luasan 10% ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hutan kota dan untuk menunjang berbagai kegiatan masyarakat Kota Selatpanjang. Tabel 8 menyajikan luasan hutan kota dan persentase luasannya dari luas Wilayah Kota Selatpanjang.
Tabel 8 Luasan hutan kota dan persentasenya dari luas wilayah Kota Selatpanjang
No Lokasi Luas* Persentase Luasan (%)
1 Hutan Mangrove Sempadan Sungai Suir 399,88 ha 8.80 2 Hutan Mangrove Jalan Pemuda Setia 13,59 ha 0.30
3 Rumah Adat Melayu 6,60 ha 0.15
4 Stadion Dorak 3,97 ha 0.09
5 Gedung Gerakan Pramuka 0,65 ha 0.01
6 Lahan Terbuka Kosong Jalan Rintis 0,66 ha 0.01 7 Lapangan bola Jalan Gelora 1,89 ha 0.04 8 Tepi Jalan Dorak dan Banglas 30,0 ha 0,66
Jumlah 457,24 ha 10,06
* Luasan ini merupakan hasil perhitungan GPS Navigasi dan perkiraan batas bidang tanah oleh masyarakat. Untuk luas sepanjang Jalan Dorak dan Banglas dihitung dari lebar kanan kiri jalan dikalikan panjang jalan tersebut.
Gambar 3 Letak lokasi-lokasi Hutan Kota Selatpanjang.
2
1
3
6 7 84
5 Keterangan Lokasi:1 Hutan Mangrove Sempadan Sungai Suir
2 Hutan Mangrove Jalan Pemuda Setia
3 Rumah Adat Melayu 4 Stadion Dorak
5 Gedung Gerakan Pramuka 6 Lahan Terbuka Kosong Jalan
Rintis
7 Lapangan Gelora 8 Tepi Jalan Dorak dan
Berdasarkan tabel 8 terlihat bahwa jumlah luasan hutan kota mencapai 457,24 ha atau setara dengan 10,06 % dari luas wilayah Kota Selatpanjang. Luasan tersebut telah mencapai kriteria PP Nomor 63 Tahun 2002 yaitu luas hutan kota seluas minimal 10% dari luas wilayah kota. Luasan hutan kota 10% tersebut bukan merupakan luasan ideal bagi suatu kota, namun untuk Kota Selatpanjang luasan tersebut telah cukup untuk memenuhi kota akan kebutuhan hutannya.