BAB III. METODE PENELITIAN
B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di PT Tirta Investama, dengan alamat di Desa Wangen, Kecamatan Polanharji, Kabupaten Klaten. di area office yang dilaksanakan selama 2 bulan yang terhitung mulai tanggal 1 Februari sampai dengan 1 April 2011.
C. Obyek dan Ruang Lingkup Penelitian
Mengingat banyaknya dan luasnya permasalahan serta agar tujuan pembahasan lebih terarah, maka dalam penelitian untuk Tugas Akhir ini dilakukan pembatasan obyek dan ruang lingkup penelitian sebagai berikut : 1. Obyek penelitian terbatas pada area office.
2. Ruang lingkup penelitian terbatas mengenai housekeeping di area office di PT. Tirta Investama Klaten.
20
3. Obyek penelitian ini adalah manusia, peralatan, atau mesin di lingkungan sebagai sumber bahaya.
D. Sumber Data 1. Data Primer
Sumber data ini diperoleh dari observasi lapangan dan tanya jawab dengan karyawan PT. Tirta Investama Klaten.
2. Data Sekunder
Sumber ini diperoleh dari data yang ada pada dokumen dan catatan perusahaan yang berhubungan dengan K3.
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi lapangan
Teknik pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung, sekaligus survey ke lapangan untuk mengetahui sistem operasional dan proses produksi, serta mencari potensi dan faktor bahaya yang ada.
2. Wawancara
Suatu teknik pengumpulan data dengan tanya jawab secara langsung dengan karyawan yang berwenang dan berkaitan langsung dengan masalah K3.
3. Kepustakaan
Membaca buku-buku serta laporan-laporan penelitian yang sudah ada dan sumber-sumber lain yang ada kaitannya dengan topik magang.
commit to user 4. Dokumentasi
Dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan mempelajari dokumen-dokumen terkendali maupun yang tidak terkendali serta catatan-catatan perusahaan yang berhubungan dengan obyek penelitian.
F. Pelaksanaan
Magang ini dilakukan mulai tanggal 1 Februari 2011 sampai 1 April 2011 dengan waktu antara pukul 08.00-15.00. Kegiatan yang dilaksanakan adalah observasi lapangan dan wawancara.
G. Analisis Data
Data yang diperoleh akan dilakukan analisis secara deskriptif. Hasil yang didapat akan disajikan dalam bentuk narasi dan akan dianalisis untuk menarik simpulan. Dari semua data yang diperoleh akan dianalisa dan dibandingkan dengan penilaian yang dilakukan PT. Tirta Investama Klaten tahun 2010 dan standar aturan 5R yang dibuat oleh PT. Tirta Investama Klaten.
commit to user BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran umum perusahaan pada area office
PT. Tirta Investama Klaten khususnya pada area office memiliki 21 ruangan yang mana setiap ruangan tersebut memiliki tingkat penerapan 5R yang berbeda-beda. 21 ruangan tersebut adalah: ruang Ka. Pabrik digunakan untuk aktivitas kepala pabrik, ruang adm. Laboratorium digunakan untuk penyimpanan dokumen yang ada di laboratorium, ruang HR digunakan untuk aktivitas karyawan menunjang memajukan pabrik, ruang adm. Gudang material digunakan untuk penyimpanan dokumen tentang bahan yang ada di gudang material, ruang adm. Plant/K3/IF/CSR digunakan untuk penyimpanan dokumen tentang Plant/K3/IF/CSR, ruang makan digunakan untuk menjamu tamu luar seperti auditor, ruang finance digunakan untuk pengolahan semua dana perusahaan, ruang poliklinik sebagai sarana kesehatan, ruang meeting 1/2/3/4 digunakan untuk pertemuan rapat karyawan, lobby sebagai tempat menunggu bagi tamu, toilet sebagai tempat buang air besar dan kecil, ruang pantry digunakan sebagai dapur kecil, janitor sebagai tempat pengawasan mutu produk, loker digunakan untuk penyimpanan tas dan helm, ruang HPU digunakan untuk penyimpanan sampel produk yang sudah dilakukan pemeriksaan,
commit to user
laboratorium mikrobiologi/kemasan/fisika kimia digunakan untuk pemeriksaan kadar kelayakan produk.
Dari 21 area tersebut pada ruang meeting 1 dan ruang HR yang memiliki ruangan terluas dan pada toilet memilki ruang tersempit diarea office.
2. Program Penerapan 5R
Dalam penerapan 5R, PT. Tirta Investama Klaten telah melakukan beberapa metode untuk bisa melakukan dan menerapkan praktek-praktek 5R di pabriknya. Beberapa hal yang telah dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan untuk menuju 5R sesuai dengan Standar 5R yang telah ditetapkan oleh PT. Tirta Investama Klaten adalah sebagai berikut :
a. Yellow Tag atau Label Kuning
Dalam penerapannya, yellow tag yang digunakan untuk mengatur area kerja dapat mengatur dan mengingatkan pengguna area untuk mengembalikan, menempatkan barang yang telah digunakan ke tempat yang semula seperti yang telah dibatasi oleh yellow tag. Akan sangat terlihat jika penempatan barang yang telah selesai digunakan tidak tepat seperti posisi yang telah ditandai oleh marker atau bahkan jika barang atau benda tidak dikembalikan pada tempatnya. Misal pada penggunaan dan pengembalian kursi pada saat setelah digunakan.
Yellow tag di PT. Tirta Investama Klaten pada lantai seperti penempatan tempat sampah, kursi dan meja sedang yellow tag diatas meja biasanya penempatan komputer dan perangkatnya kurangnya
perhatian dan dilaksanakan. Red tag pada lantai digunakan untuk mengatur lalu lintas orang atau barang dengan kendaraan. Sangat ada batas yang jelas dan tegas ketika red tag diterapkan pada area pabrik.
Dimana jalan untuk para pejalan kaki (pedestrian), dimana area untuk penyimpanan atau peletakan barang dan dimana sarana lalu lintas barang dan kendaraan.
Kedua penanda visual ini bisa mengatur siapapun yang berada pada area yang tersentuh atau terdesain dengan penanda visual ini. Kejelasan dan keteraturan bisa sangat tercipta dengan metode ini.
Penanda visual ini juga akan terbaca oleh aspek keselamatan kerja.
Adanya simbol atau penanda tentang fungsi dari sebuah area akan menyampaikan kepada para pengguan area untuk menaatinya. Dimana pengguna area harus menyimpan barang, di sisi mana mereka harus berjalan kaki, dan pada bagian mana sebuah area tidak boleh atau dilarang untuk dimasuki atau diakses oleh sembarangan orang dengan bebas, dimana jika area tersebut tetap diakses dengan bebas maka akan berpotensi menimbulkan bahaya.
Penanda dimana area yang bisa digunakan untuk area penyimpanan barang juga akan sangat membantu upaya keselamatan kerja. Dengan adanya bahan kimia yang digunakan oleh PT. Tirta Investama Klaten, area penyimpanan material pun juga sangat harus diperhatikan. Bahan-bahan kimia ini adalah Bahan-bahan kima yang sangat sensitif terhadap lingkungan yang berada di sekitarnya. Suhu lingkungan, kelembapan
commit to user
ruangan, dan cara perlakuan terhadap bahan kimia akan sangat mempengaruhi. Oleh karena itu dengan adanya pembagian atau pengaturan area diharapkan dapat meminimalisir adanya bahaya yang disebabkan oleh sifat dari bahan kimia yang sangat sensitif. Peledakan atau bahkan kebakaran akan sangat mungkin terjadi jika penyimpanan bahan kimia tidak diperhatikan dengan baik.
Penandaan visual ini juga akan digunakan untuk menunjukkan larangan untuk memasuki suatu area. Area tersebut dinyatakan berbahaya karena adanya potensi bahaya yang besar , baik yang berasal dari bahan kimia, sifat elektrik atau dari mesin yang bertegangan tinggi atau dengan pola operasi yang membutuhkan keahlian untuk mengoperasikannya, oleh karena itu tidak setiap orang bisa dan boleh untuk mengakses area tersebut. Penanda visual sangat berperan dalam hal ini, tanda yang menyatakan ketidakbolehan untuk memasuki area ini akan menjaga keselamatan para pekerja dan bahan produksi serta keamanan pabrik dari bahaya yang dihasilkan dari faktor-faktor bahaya tersebut.
b. Penanda visual berupa tulisan
Penanda visual jenis ini digunakan untuk memudahkan proses identifikasi sebuah barang yang secara visual warna dan gambar belum bisa teridentifikasi dengan jelas, atau digunakan untuk menandai barang-barang yang tidak bisa diperjelas dengan warna atau gambar.
Barang atau tempat yang biasa menggunakan penanda visual berupa
tulisan sangat mudah ditemui. Ketika berada pada area kantor (office area), jika tidak ada keterangan berupa tulisan, maka akan sangat sulit menemukan barang yang kita cari atau yang tersimpan di dalam locker.
Secara sepintas ataupun pada saat pencarian kita tidak akan tahu apa yang sebenarnya berada di dalam locker tersebut, apakah barang yang kita cari berada di locker tersebut atau tidak. Itu adalah contoh kecil ketika kita mencari barang-barang yang sifatnya kecil lalu bagaimana jika kita mencari suatu dokumen perusahaan yang bersifat sangat urgent atau bagaimana jika kita lupa menyimpan bahan kimia berbahaya yang telah kita letakkan pada suatu tempat.
c. Peraturan 5R
Peraturan 5R berisi tentang gambaran pembagian tugas atas benda atau barang yang menjadi tanggung jawab setiap anggota team 5R.
(form team 5R pada lampiran 2).
Apa yang harus dilakukan dengan barang yang menjadi tanggung jawabnya dijelaskan dengan lengkap pada penanda visual ini, sesuai dengan standard yang telah disepakati untuk dilaksanakan. Peraturan ini bukan hanya mengatur tentang responsibilitas benda yang menjadi tanggungan setiap anggota team tetapi juga berisi tentang standard pelaksanaan 5R, seluruh item 5R. Selain itu juga berisi tentang
“punishment” jika salah satu anggota team tidak melaksanakan 5R yang menjadi tanggung jawabnya. Peraturan ini diterapkan pada office area.
Selain itu ada juga peraturan yang ditempel di depan koridor pintu area
commit to user
kerja, peraturan tersebut berisikan tentang bagaimana dan persyaratan masuk area kerja tersebut. (contoh aturan area lampiran 3)
d. Kampanye 5R
Penulis mendapatkan keadaan bahwa semua karyawan khususnya bagian office mengenal dan memahami tentang pelaksanaan 5R. Hal ini akan cukup memperlancar penerapan 5R. Sudah dilakukan pemasangan poster tentang 5R, slogan-slogan 5R yang ditempelkan pada papan pengumuman atau pada tempat yang memungkinkan untuk menempelkan gambar atau tulisan, namun belum aktif dalam kegiatan dokumentasi foto sebelum dan sesudah 5R akan juga memberi informasi setiap orang betapa banyak efek positif yang dihasilkan dari proyek percontohan dari departemen yang telah menerapkan 5R.
e. Training 5R
Training 5R adalah cara yang paling bisa memberi pemahaman baik secara konsep maupun teknis pelaksanaan 5R di area kerja. PT Tirta Investama Klaten memiliki beberapa persiapan training 5R sebagai berikut:
1) Peta area 2) Standar
3) Checklist atau audit sheet seperti tag register lampiran 4 4) Aturan 5R
5) 5R board
3. Penilaian 5R a. Tahap I
Penilaian pada tahap I dilakukan pada bulan Mei 2010 yang dilakukan oleh PT. Tirta Investama Klaten dan penilaian ini dilakukan pada semua area office yaitu 21 ruangan dan hanya melakukan penilaian pada 3R (ringkas, rapi, resik). Hasil penilaian dapat dilihat pada tabel 6 :
Tabel 6. Hasil penilaian area office
S
Sumber : PT. Tirta Investama Klaten, Mei 2010 Keterangan penilaian :
No R1 R2 R3 Total Rata-rata
1 Ruang Ka. Pabrik 4 4 4 12 4
commit to user
Penilaian yang dilakukan didapatkan rata-rata untuk R1=3.6, R2=3.6 dan R3=3,6. Pada penilaian tahap I untuk 3R pada area office mendapatkan hasil sebagai berikut :
1) Ringkas
Pada tahap ringkas di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. gudang material, ruang Adm. plant, K3, IF, CSR, ruang makan, ruang poliklinik, ruang meeting 1/2/3/4, lobby, toilet, pantry laboratorium mikro memiliki tingkat pemilahan yang baik karena “Tidak ada barang yang tidak berhubungan dengan proses, jumlah barang untuk proses tidak terlalu berlebihan, tidak ada perlengkapan pribadi dan makanan di tempat kerja, barang yang tak berguna telah disingkirkan”. Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang finance, loker, janitor, loker memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “Ada perlengkapan pribadi dan makanan di tempat kerja, dan ada barang yang tidak berhubungan dengan proses”.
2) Rapi (R2)
Pada tahap rapi di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. gudang material, ruang Adm. Plant/K3/IF/CSR, ruang makan, ruang finance, ruang poliklinik, ruang meeting 1/2/34, lobby dan toilet memiliki tingkat penataan yang baik karena “Semua tempat penyimpanan barang dan barang yang disimpan diberi tanda yang jelas atau mudah di identifikasi, ada garis batas untuk membedakan
peletakkan, adanya sistem penyimpanan dokumen yang baik jika diperlukan cepat untuk mendapatkannya, ditempatkan yang teratur/berfungsi/berbentuk sebagaimana mestinya tidak dilakban”.
Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang pantry, ruang janitor, loker, janitor, ruang HPU, Lab. Mikro, Lab. Fiskim dan Lab. Kemasan memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “ditempatkan kurang teratur/berfungsi/berbentuk sebagaimana mestinya”.
3) Resik (R3)
Pada tahap resik di ruang Ka. Pabrik, ruang makan, ruang meeting 1/2/34, lobby, toilet, janitor, ruang HPU, Lab. Mikro, Lab fiskim, Lab. Kemasan memiliki tingkat kebersihan yang baik karena
“Bersih tidak ada debu, tidak ada sawang, atap tidak bocor, kaca tidak pecah dan tidak bernoda, tidak ada debu pada jendela, meja, rak, loker barang/alat, ada system tanggung jawab kebersihan yang jelas dan ada tempat sampah yang bersih dan ada plastik penampungan”. Sedangkan pada ruang Adm. Gudang material, ruang Adm Lab, ruang HR, , ruang Adm. Plant, K3, IF, CSR, ruang finance, ruang poliklinik, pantry, loker memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “Ada sedikit debu atau kotoran pada jendela dan loker barang atau alat”.
commit to user
Tabel 7. Hasil penilaian area office
Lokasi
Nilai
No R1 R2 R3 R4 R5 Total Rata-rata
1 Ruang Ka. Pabrik 4 4 4 4 4 20 4
Sumber : Pendataan pada bulan Maret 2011 Keterangan penilaian :
1. Kondisi sangat kurang 2. Kondisi kurang 3. Kondisi cukup 4. Kondisi baik
Penilaian yang dilakukan didapatkan rata-rata untuk R1=3.8, R2=3.6, R3=3.7, R4=3.6 dan R=3.6. Pada penilaian tahap II untuk 5R pada area office mendapatkan hasil sebagai berikut :
a) Ringkas (R1)
Pada tahap ringkas di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. gudang material, ruang Adm. Plant/K3/IF/CSR, ruang makan, ruang poliklinik, ruang meeting 1/2/3/4, lobby, toilet, pantry, ruang HPU, Lab. Mikro, Lab. Fiskim, Lab. Kemasan memiliki tingkat pemilahan yang baik karena “Tidak ada barang yang tidak berhubungan dengan proses, jumlah barang untuk proses tidak terlalu berlebihan, tidak ada perlengkapan pribadi dan makanan di tempat kerja, barang yang tak berguna telah disingkirkan”. Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang finance, loker, janitor, loker memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “Ada perlengkapan pribadi dan makanan di tempat kerja, dan ada barang yang tidak berhubungan dengan proses”.
b) Rapi (R2)
Pada tahap rapi di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. gudang material, ruang makan, ruang poliklinik, ruang meeting 1/2/3/4, lobby dan toilet ruang HPU dan Lab. Mikro memiliki tingkat penataan yang baik karena “Semua tempat penyimpanan barang dan barang yang disimpan diberi tanda yang jelas atau mudah di identifikasi, ada garis batas untuk membedakan peletakkan, adanya sistem penyimpanan
commit to user
dokumen yang baik jika diperlukan cepat untuk mendapatkannya, ditempatkan yang teratur/berfungsi/berbentuk sebagaimana mestinya tidak dilakban”. Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang Adm.
Plant/K3/IF/CSR, ruang finance, ruang HR, loker, janitor, Lab.
Kemasan memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “adanya sistem penyimpanan dokumen yang kurang baik jika diperlukan tidak cepat untuk mendapatkannya, ditempatkan yang teratur/berfungsi/berbentuk sebagaimana mestinya”.
c) Resik (R3)
Pada tahap resik di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. Gudang material, ruang makan, ruang meeting 1/2/3/4, lobby, toilet, janitor, ruang HPU, Lab. Mikro, Lab Fiskim, Lab. Kemasan memiliki tingkat kebersihan yang baik karena “Bersih tidak ada debu, tidak ada sawang, atap tidak bocor, kaca tidak pecah dan tidak bernoda, tidak ada debu pada jendela, meja, rak, loker barang/alat, ada system tanggung jawab kebersihan yang jelas dan ada tempat sampah yang bersih dan ada plastik penampungan”. Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang Adm. Plant/K3/IF/CSR, ruang finance, ruang poliklinik, pantry, loker memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “Ada sedikit debu atau kotoran pada jendela dan loker barang atau alat”.
d) Rawat (R4)
Pada tahap rawat di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. Gudang material, ruang Adm. Plant/K3/IF/CSR, ruang makan, ruang meeting 1/2/3/4, lobby, toilet, pantry, janitor dan ruang HPU memiliki tingkat pemantapan yang baik karena “Ada aturan dan tata tertit, team memiliki persetujuan satandart yang terdokumentasi, team melakukan pemeriksaan harian terhadap tempat kerja”, sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang finance, ruang poliklinik, loker , Lab. Mikro, Lab fiskim dan Lab. Kemasan memiliki tingkat pemantapan yang cukup karena pada ruangan tersebut “team belum melakukan pemeriksaan harian terhadap tempat kerja”
e) Rajin (R5)
Pada tahap rajin di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. Gudang material, ruang Adm. Plant/K3/IF/CSR, ruang makan, ruang meeting 1/2/3/4, lobby, toilet, Lab. Mikro, dan Lab fiskim memiliki tingkat pembiasaan yang baik karena “Target 5R sudah ditentukan dan hasil pencapaian 5R didokumenasikan, team memastikan standart 5R yang telah disepakati dilaksanakan dengan baik, sumber-sumber dan frekuensi dari masalah 5R telah terdokumentasikan, penyebab utama diidentifikasi dan rencana perbaikan dikembangkan”. Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang finance, ruang poliklinik, janitor, pantry, ruang HPU, lab. Kemasan dan loker memiliki tingkat pembiasaan yang cukup karena pada ruangan tersebut “team belum
commit to user
memastikan standart 5R yang telah disepakati bersama dilaksanakan dengan baik serta hasil pencapaian 5R belum ditempel”.
c. Tahap III
Penilaian pada tahap III dilakukan untuk analisa perbandingan penilaian pada bulan Mei 2010 dengan bulan Maret 2011 dan penilaian ini dilakukan pada semua area office yaitu 21 ruangan. Hasil penilaian dapat dilihat pada tabel 8:
Tabel. 8 Perbandingan penilaian di area office
No Lokasi
Keterangan:
R1. Ringkas data penilaian bulan Maret 2011 R1. Ringkas data penilaian bulan Mei 2010 R2. Rapi data penilaian bulan Maret 2011 R2. Rapi data penilaian bulan Mei 2010 R3. Resik data penilaian bulan Maret 2011 R3. Resik data penilaian bulan Mei 2010 R4. Rawat data penilaian bulan Maret 2011 R5. Rajin data penilaian bulan Maret 2011
Warna : peningkatan
Dari hasil perbandingan penilaian data di area office, pada bulan Mei 2010 dan bulan Maret 2011 didapat sebagai berikut :
1. Kondisi ruangan yang mengalami peningkatan pada area office yaitu:
a. Tingkat ringkas pada ruang HPU, ruang Lab. Fiskim dan Lab kemasan.
b. Tingkat rapi pada ruang HPU dan ruang lab Mikrobiologi.
c. Tingkat resik pada Adm. gudang material
2. Kondisi ruangan yang mengalami penurunun pada area office yaitu : a. Tingkat ringkas tidak ada yang mengalami penurunan.
b. Tingkat rapi pada Ruang Adm. Plant, K3, IF, CSR dan ruang finance.
c. Tingkat resik pada pada ruang HPU.
commit to user B. Pembahasan
1. Program Penerapan 5R
Dalam upaya penerapan standard 5R, PT. Tirta Investama Klaten menginisiasi beberapa langkah yang dikembangkan berdasarkan standart atau pedoman yang telah ditetapkan dan disepakati untuk dilaksanakan.
Berikut adalah contoh langkah-langkah yang telah diterapkan PT. Tirta Investama Klaten sebagai upaya pencapaian standard penerapan 5R, yaitu : a. Penerapan Label merah dan kuning
Label merah untuk menandai lokasi, baik yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan atau sebagai pengatur lalu lintas atau sebagai pembagian area. Yellow tag berfungsi sebagai penanda barang yang sedang digunakan. Jika red tag untuk pengaturan area adalah bervisual garis, maka untuk penanda benda adalah bervisual label. Hal ini sudah sesuai dengan standar 5R poin “ada garis batas atau sekat untuk membedakan peletakkan atau penyimpanan dan pengelompokkan barang serta rambu rambu yang jelas”
b. Penandaan visual
Penanda visual digunakan untuk memudahkan proses identifikasi sebuah barang yang secara visual warna dan gambar belum bisa teridentifikasi dengan jelas, atau digunakan untuk menandai barang-barang yang tidak bisa diperjelas dengan warna atau gambar. Hal ini sesuai dengan standart 5R poin rapi “semua tempat penyimpanan barang diberi tanda yang jelas dan mudah di identifikasi”
c. Peraturan 5R
Peraturan 5R berisi tentang gambaran pembagian tugas atas benda atau barang yang menjadi tanggung jawab setiap anggota team 5R dan peraturan yang dipasang di setiap area berupa tata cara untuk memasuki area tersebut. Hal ini sudah sesuai dengan standar 5R poin rawat
“adanya aturan dan tata tertib yang harus ditaati”.
d. Standart 5R.
Standart 5R digunakan sebagai pedoman yang berisikan kriteria evalusi terhadap hal hal yang akan diperiksa yang ditetapkan oleh perusahaan.
Hal ini sudah sesuai dengan standart 5R untuk semua poin (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin).
e. Organisasi 5R
Organisasi 5R di bentuk berdasarkan per team. Team 5R memilki tugas masing-masing sesuai area kerja. Hal ini sudah sesuai dengan standart 5R poin rawat dan rajin “ grup kerja atau team 5R melakukan pemeriksaan terhadap tempat kerja sesuai dengan pembagiannya dan memastikan standart 5R”
f. Kampanye 5R.
Pemasangan poster tentang 5R, slogan-slogan 5R yang ditempelkan pada papan pengumuman atau pada tempat yang memungkinkan untuk menempelkan gambar atau tulisan. Hal ini sudah sesuai dengan standart 5R poin rawat “aturan dan tata tertib, semua orang memperoleh informasi yang jelas yang dibutuhkan di tempat kerja”
commit to user g. Training 5R
Training 5R ditujukan kepada team 5R agar team benar-benar paham pentingnya 5R bagi perusahaan guna persaingan dalam kelas dunia. Hal ini sudah sesuai dengan standart 5R untuk semua poin (ringkas, rapi resik, rawat, rajin)
2. Penilaian 5R a. Tahap I
Tahap ini dilakukan oleh PT. Tirta Investama Klaten pada bulan Mei 2010.
1) Ringkas
Untuk mengembangkan tahap ini bisa dilakukan dengan memberi pertanyaan yang bersifat sebagai indicator atau pertanda pelaksanaan ini, misalnya dengan memunculkan pertanyaan seperti
“Apakah barang-barang di tempat kerja berlebihan atau barang yang diperlukan dan tidak diperlukan bercampur di area kerja?”
Jika pertanyaan ini terjawab “tidak” maka kondisi area kerja dalam
Jika pertanyaan ini terjawab “tidak” maka kondisi area kerja dalam