• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI METODE 5R PADA AREA OFFICE DI PT. TIRTA INVESTAMA KLATEN JAWA TENGAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI METODE 5R PADA AREA OFFICE DI PT. TIRTA INVESTAMA KLATEN JAWA TENGAH"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user LAPORAN KHUSUS

IMPLEMENTASI METODE 5R PADA AREA OFFICE DI PT. TIRTA INVESTAMA KLATEN

JAWA TENGAH

Istaufa Nikmah R.0008113

PROGRAM DIPLOMA III HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Surakarta 2011

(2)

commit to user

(3)

commit to user

iii

(4)

commit to user ABSTRAK

IMPLEMENTASI METODE 5R PADA AREA OFFICE DI PT. TIRTA INVESTAMA KLATEN

Istaufa Nikmah1, Lusi Ismayenti2, Devi Aliyani 3

Tujuan: Setiap perusahaan pasti mengharapkan suatu lingkungan kerja yang selalu bersih, rapi dan masing-masing orang mempunyai konsistensi dan disiplin diri, sehingga mampu mendukung terciptanya tingkat efisiensi dan produktifitas serta tingkat keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi di perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tentang implementasi metode 5R pada area office di PT. Tirta Investama Klaten.

Metode: Kerangka pemikiran ini dilaksanakan secara deskriptif berdasarkan observasi dan wawancara kemudian dianalisa atau dievaluasi kemudian dianalisa menggunakan teknik analisa data, dan dibandingkan dengan standart aturan 5R di PT. Tirta Investama Klaten dan dibandingkan dengan data penilaian PT. Tirta Investama Klaten bulan Mei 2010

Hasil: Penelitian ini dilaksanakan penelitian ini dilaksanakan yaitu dengan memberikan gambaran mengenai implementasi penerapan 5R di PT Tirta Investama Klaten serta dilakukan penilaian untuk mengetahui tingkatan 5R sesuai dengan standart.

Simpulan: Simpulan penelitian bahwa implementasi metode 5R di PT Tirta Investama Klaten telah diterapkan dengan hasil dapat memelihara tingkat keselamatan dan kesehatan kerja melalui penjagaan housekeeping dengan metode 5R.

Kata kunci : Implementasi penerapan metode 5R.

Kepustakaan : 8, 1980-2007

1. Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

2. Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

3. Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

(5)

commit to user

v

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmannirahim Assalamuaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah, rahmat, karunia, kesehatan, kekuatan dan kemudahan dalam pelaksanaan magang dan penyusunan laporan Tugas Akhir dengan judul “Implementasi Metode 5R pada Area Office di PT. Tirta Investama Klaten Jawa Tengan”.

Laporan ini disusun dan diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan di Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Di samping itu magang ini dilaksanakan untuk membina dan menambah wawasan guna mengenal, mengetahui dan memahami mekanisme serta mencoba mengaplikasikan pengetahuan penulis dan mengamati permasalahan dan hambatan yang ada tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di perusahaan.

Dalam pelaksanaan magang dan penyusunan laporan ini penulis telah dibantu dan dibimbing oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati perkenankan penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Zainal Arifin Adnan dr, Sp.PD-KR-FINASIM, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

2. Bapak Sumardiyono, SKM., M.Kes, selaku Ketua Program Diploma III Hiperkes dan Keselamtan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Ibu Lusi Ismayenti, ST, M.Kes., selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan saran dalam penyusunan laporan ini.

4. Ibu Devi Aliyani, SKM, selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan saran dalam penyusunan laporan ini.

5. Bapak Budi Hartono, selaku Kepala Pabrik PT. Tirta Investama Klaten yang telah memberikan ijin dan dukungan selama pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan.

(6)

commit to user

6. Bapak Jatmiko Hadi dan Aris Wahyudi selaku Pembimbing Lapangan yang telah memberikan bimbingan serta arahan kepada penulis yang telah memberikan ijin pada penulis untuk melaksanakan kerja praktek.

7. Bapak dr. Haryanto selaku dokter dan bapak Syamsul selaku paramedis perusahaan di PT. Tirta Investama Klaten.

8. Keluarga yang selalu memberikan dukungan baik secara moril dan doa kepada penulis.

9. Sahabat-sahabat ( Dewi Krisnawati, Diana Megawati, Anita Prasetyaningrum) yang selalu mendengarkan curhatan penulis suka maupun duka.

10. Semua teman angkatan 08, 07 dan 10 yang selalu ada untuk membantu dan saling bertukar ilmu.

11. Serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun laporan ini masih banyak kekurangan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dan kesempurnaan laporan ini.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Surakarta, 25 Mei 2011 Penulis,

Istaufa Nikmah

(7)

commit to user

vii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN PERUSAHAAN ... ii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN... xi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II. LANDASAN TEORI ... 7

A. Tinjauan Pustaka ... 7

B. Kerangka Pemikiran... 19

BAB III. METODE PENELITIAN ... 20

A. Metode Penelitian... 20

B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ... 20

C. Objek dan Ruang Lingkup Penelitian ... 20

(8)

commit to user

D. Sumber Data... 21

E. Teknik Pengumpulan Data... 21

F. Pelaksanaan ... 22

G. Analisa Data... 22

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23

A. Hasil Penelitian ... 23

B. Pembahasan ... 38

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN... 69

A. Simpulan ... 69

B. Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 71 LAMPIRAN

(9)

commit to user

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Standart Ringkas ... 13

Tabel 2. Standart Rapi... 15

Tabel 3. Standart Resik ... 16

Tabel 4. Standart Rawat ... 17

Tabel 5. Standart Rajin... 18

Tabel 6. Hasil Penilaian PT. Tirta Investama bulan Mei 2010 ... 29

Tabel 7. Hasil Penilaian Peneliti bulan Maret 2011... 32

Tabel 8. Perbandingan penilaian... 36

(10)

commit to user DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Pemikiran... 19

(11)

commit to user

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Keterangan Magang.

Lampiran 2. Form Team 5R.

Lampiran 3. Aturan Area Kerja.

Lampiran 4. Tag register

Lampiran 5. Dokumentasi Foto 5R

(12)

commit to user BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahan, landasan kerja dan lingkungan kerja serta cara-cara melakukan pekerjaan dan proses produksi.

Keselamatan kerja merupakan tugas semua orang yang berada di dalam perusahaan tersebut. Dengan demikian jelas bahwa keselamatan kerja adalah merupakan sarana utama untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan kerugian yang berupa luka atau cidera, cacat atau kematian, kerugian harta benda, dan kerusakan peralatan atau mesin dan lingkungan kerja secara luas. (Suma’mur, 1996)

Setiap perusahaan pasti mengharapkan suatu lingkungan kerja yang selalu bersih, rapi dan masing-masing orang mempunyai konsistensi dan disiplin diri, sehingga mampu mendukung terciptanya tingkat efisiensi dan produktifitas serta tingkat keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi di perusahaan. Namun pada kenyataannya kondisi ini sulit terjadi di perusahaan.

Banyak perusahaan mengeluh bagitu sulitnya dan banyak membuang waktu hanya untuk mencari data dan atau sarana yang lupa penempatannya. Tidak hanya itu, seringkali kita kurang nyaman dengan kondisi berkas kerja yang berantakan dan tidak jarang memicu kondisi emosional. (Hirano, 2002)

(13)

commit to user

Dalam bahasa Inggris housekeeping mempunyai arti: house yang berarti rumah, bangunan, wisma tempat menginap atau hotel, sedangkan keeping adalah menjaga, merawat, mengatur, memelihara. Definisi housekeeping adalah bagian dari departemen yang bertanggung jawab mengatur atau menata peralatan, menjaga kebersihan dan kenyamanan, memperbaiki kerusakan dan memberi dekorasi dengan tujuan agar tempat tersebut tampak rapi, bersih, menarik dan menyenangkan bagi penghuninya. Fungsi housekeeping dalam operasional suatu perusahaan sangat penting.

Housekeeping dianggap sebagai kegiatan yang bersifat preventif sekaligus sebagai upaya pengendalian. Housekeeping yang baik perlu diterapkan sejak awal mulai dari rancangan suatu proses, dikembangkan sesuai dengan perubahan yang terjadi, dipantau dan dievaluasi secara terus menerus melalui dukungan dan kerjasama semua pihak terkait seperti pihak manajemen, pekerjadan para profesional dibidangnya masing-masing. Prinsip umum housekeeping bukan sekedar kebersihan tempat kerja melainkan juga mengupayakan penempatan peralatan yang tepat, sesuai dan benar, mengutamakan proses kerja berlangsung aman dan agar kegiatan dapat berlangsung optimal, efisien dan efektif. (Hirano, 2002)

Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan sebuah sistem yang telah banyak dikembangkan oleh industri di Jepang dan Korea, dimana sistem ini telah menjadi standart industri kelas dunia yang diterapkan di seluruh dunia.

Sistem ini menjawab tantangan penjagaan housekeeping sebagai upaya pengendalian kondisi lingkungan kerja dan dapat menjadi pedoman untuk

(14)

bisa mengatur kebiasaan manusia di lingkungan kerja dengan penekanan pada aspek moral. Sistem ini juga dapat menjawab tuntutan pasar dunia dari sudut pandang ekonomi. Sistem ini adalah rangkaian sebuah tahapan yang dalam pelaksanaannya memerlukan kontinuitas dan komitmen dari seluruh lini perusahaan, yang terkenal dengan nama 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) atau yang dalam bahasa Indonesia diadopsi dengan nama 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin).

5R merupakan budaya tentang bagaimana seseorang memperlakukan tempat kerjanya secara benar. Bila tempat kerja tertata rapi, bersih, dan tertib, maka kemudahan bekerja perorangan dapat diciptakan, dan dengan demikian 4 bidang sasaran pokok industri, yaitu efisiensi, produktivitas, kualitas, dan keselamatan kerja dapat lebih mudah dicapai

Demikian halnya dengan kondisi lingkungan kerja yang terdapat pada office di PT. Tirta Investama Klaten yang memiliki karyawan yang berlatar belakang berbeda, baik secara kecerobohan maupun kelalaian. Keberagaman sumber daya manusia yang dimiliki tersebut, PT. Tirta Investama Klaten di area office terdapat banyak peralatan yang digunakan untuk menunjang dalam pekerjaan contohnya pengaturan meja kerja yang baik, jika perilaku manusia yang tidak memperhatikan tuntutan teknologi terus dipelihara dan tanpa pencegahan, maka akan mengarah pada tindakan tidak aman yang biasa disebut unsafe act. Faktor ini merupakan pemicu utama yang paling besar menyumbangkan kontribusinya jika terjadi sebuah kecelakaan kerja.

Penyebab yang kedua setelah tindakan tidak aman adalah kondisi lingkungan

(15)

commit to user

kerja yang tidak aman (unsafe condition) contohnya atap plafon yang bocor, faktor ini menggambarkan situasi lingkungan kerja yang tidak teratur dan jauh dari kondisi normal.

Dari latar belakang yang ada di PT. Tirta Investama Klaten. Maka penulis mencoba melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Metode 5R pada Area Office di PT. Tirta Investama Klaten ”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut maka dapat disusun rumusan masalah adalah “Bagaimana implementasi metode 5R pada area office di PT. Tirta Investama Klaten”

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan laporan ini adalah untuk:

1. Untuk mengetahui perbandingan penilaian 5R yang dilaksanakan PT. Tirta Investama tahun 2010 dengan pendataan primer tahun 2011.

2. Untuk mengetahui program penerapan 5R di area office di PT. Tirta Investama Klaten.

3. Untuk mengetahui tingkat penerapan 5R pada area office di PT. Tirta Investama Klaten.

(16)

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti

a. Dapat mengetahui sejauh mana penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT. Tirta Investama melalui metode 5R.

b. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT. Tirta Investama Klaten.

c. Dapat memahaman tentang ilmu-ilmu yang telah didapatkan dari bangku kuliah dengan memahaminya melalui program-program yang telah diterapkan oleh perusahaan.

2. Bagi Perusahaan

a. Dapat menerapkan 5R dalam pemeliharaan housekeeping.

b. Dapat mencapai tingkat keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi.

c. Dapat menurunkan resiko kecelakaan kerja atau hampir celaka.

d. Dapat meningkatkan pula tingkat produktivitas perusahaan sebagaimana yang menjadi salah satu tujuan perusahaan dalam penerapan 5R.

3. Bagi Diploma.III Hiperkes dan Keselamatan Kerja.

a. Menambah wacana bagi Program D.III Hiperkes dan Keselamatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta dalam meningkatkan kualitas mahasiswanya sehingga dapat meluluskan mahasiswa yang bermutu dan mampu bersaing di dunia kerja.

b. Memberikan tambahan dan wawasan tentang perkembangan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di perusahaan.

(17)

commit to user

c. Menambah referensi buku di perpustakaan kampus D.III Hiperkes dan Keselamatan Kerja.

d. Sebagai jembatan penghubung antara dunia pendidikan tinggi dengan dunia kerja.

(18)

commit to user BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Metode 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) a. Pengertian 5R

5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) adalah teknik untuk menjaga mutu lingkungan kerja dalam sebuah perusahaan atau institusi dengan cara mengembangkan keterorganisirannya. Teknik yang dimaksud ini melibatkan 5 langkah yang dikerjakan secara berurutan dan dapat dilakukan dimanapun dengan penerapan secara menyeluruh.

Walaupun penerapannya telah sukses, perusahaan masih harus berfokus untuk melakukan peningkatan secara terus menerus, karena dengan jalan inilah peningkatan mutu bias tercapai. 5R pada dasarnya merupakan proses perubahan sikap dengan menerapkan penataan dan kebersihan tempat kerja. (Hirano, 2002)

Perusahaan yang bisa melakukan 5R dengan baik juga dapat melakukan praktek apa saja dengan baik. Perusahaan yang bahkan tidak bisa menerapkan prinsip dasar 5R tidak akan mampu untuk melakukan hal-hal lain yang dibutuhkan oleh organisasi yang kompetitif. (Osada, 2004).

Kondisi tempat kerja mencerminkan perlakuan seseorang terhadap pekerjaannya dan perilakuan terhadap pekerjaan ini mencerminkan

(19)

commit to user

sikapnya terhadap pekerjaan. Bahkan, 5R dapat dilihat sebagai kegiatan pertama untuk membiasakan diri bekerja dengan standar. Dengan menerapkan prinsip “a place for everything, and everything in its place” maka setiap anggota organisasi dibiasakan bekerja dalam lingkungan kerja dengan “standar tempat” yang jelas. 5R merupakan konsep yang sangat mendasar, sehingga banyak orang beranggapan bahwa sikap kerja yang produktif dan tempat kerja yang tertata rapi ada dengan sendirinya. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa hal itu masih harus diciptakan. (Hirano, 2002)

b. Penerapan 5R

Menurut Bird dan Germain (1990) penerapan 5R mengarah pada tempat kerja yang semestinya dapat dikelola dengan baik dan untuk mencapai hal tersebut dapat digunakan metode penerapan pendekatan yang biasa digunakan oleh perusahaan sebagai landasan membangun budaya industri yang berkelas dunia. Sasaran dalam penerapan 5R adalah : mengubah budaya perilaku lingkungan setempat dengan hasil yang dicapai, adapun yang akhirnya dicapai sebagai berikut:

1) Tempat kerja yang bersih, aman, nyaman, dan menyenangkan 2) Peralatan dan kelengkapan serta bangunan yang terawat selama

proses kerja.

3) Disiplin dibutuhkan untuk mencapai standar kerja

4) Keselamatan dan kestabilan kerja selama pelayanan kesehatan berlangsung

(20)

5) Perbaikan mutu kerja

6) Suasana kerja di setiap bagian

Menurut Bird dan Germain (1990) penerapan housekeeping yang baik akan dicapai hal-hal sebagai berikut:

1) Dapat mengurangi adanya penyebab kecelakaan dan akibat kecelakaan (kebakaran/tergores/terjepit,dll)

2) Mencegah pemborosan dan pembuangan energy 3) Menjaga ruangan/tempat kerja lebih longgar/luas 4) Menjamin tempat kerja kelihatan lebih baik 5) Menumbuhkan semangat kerja yang lebih baik

6) Membudayakan kebiasaan yang baik antara tenaga kerja yang satu dengan yang lain

7) Menciptakan suasana yang baik dalam bekerja

Menurut Bird and Germain (1990) suatu pemeriksaan terhadap lingkungan kerja sangat dibutuhkan untuk mengetahui keadaan yang tidak semestinya di tempat kerja antara lain:

1) Keadaan yang kacau dengan susunan yg buruk

2) Adanya bangunan dan bahan yang berbahaya dengan susunan yang tidak rapi

3) Adanya barang yang sudah lama atau jarang sekali digunakan 4) Jalanan yang tidak lancar, terhalang atau tertutup

5) Bahan yang tersimpan penuh dalam wadah dan akhirnya tumpah

(21)

commit to user

6) Mengganti tempat atau wadah untuk menyimpan bahan yang dengan tempat atau wadah yang tidak semestinya

7) Wadah yang rusak

8) Bahan/benda yang kotor dan berkarat serta jarang digunakan 9) Menyimpan benda yang melebihi batas penyimpanan

10) Adanya samapah yang menumpuk 11) Adanya tumpuka bahan di tempat kerja

c. Metode Evaluasi

Metode Evaluasi adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat keberhasilan program. Mengevaluasi hasil pelaksanaan dari program K3 yang sudah direncanakan untuk dilaksanakan apakah hasilnya efektif dan efisien dan apakah menimbulkan dampak improvement, dalam hal penerapan K3 dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran atau pemantauan terhadap kinerja penerapan program. Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan. Adapun yang menjadi titik awal dari kegiatan evaluasi adalah keingintahuan penyusun program ataupun pihak lain untuk melihat apakah tujuan program sudah tercapai atau belum, jika sudah tercapai bagaimana kualitas pencapaian tersebut, dan jika belum tercapai bagian manakah dari rencana tersebut yang belum tercapai dan apakah penyebabnya. Untuk menentukan seberapa jauh target program sudah tercapai, yang menjadi tolak ukur adalah tujuan yang sudah

(22)

dirumuskan dalam tahap perencanaan kegiatan sebelumnya. (Arikunto dalam Fahrul, 2007)

Menurut Hirano (2002) empat bidang sasaran industri untuk mencapai tujuan penerapan 5R sebagai berikut:

1) Effisiensi kerja

Mengurangi kebutuhan sumber daya untuk menghasilkan hasil yang sama.

2) Produktivitas kerja

Kegiatan kerja dengan nilai tambah.

3) Kualitas kerja

Kualitas kerja yang baik berarti sesuai dengan kebutuhan pelanggan 4) Keselamatan kerja

Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja.

Menurut Hirano (2002) tujuan penerapan 5R yang belum tercapai akan terjadi pemborosan, pemborosan tersebut antara lain :

1) Produksi yang berlebihan

Produksi tidak tepat waktu dan melebihi dari yang dibutuhkan.

2) Waktu menunggu

Menunggu sesaat untuk bekerja dan menunggu ketika material dipindahkan.

3) Transportasi

Menaikkan, menurunkan, memindahkan, membawa, menempatkan kembali asal tempatnya

(23)

commit to user 4) Proses Kerja

5) Persediaan

Banyak masalah yang disembunyikan karena adanya persediaan, persediaan yang berlebihan menimbulkan biaya yang tidak diperlukan.

6) Gerakan

Gerakan yang tidak memberi nilai tambah.

7) Produk cacat

Bahan cacat, proses cacat, inspeksi cacat.

d. Penilaian 5R

PT. Tirta Investama Klaten memiliki standar dan langkah-langkah 5R terhadap hal hal yang diperiksa dan ditetapkan oleh perusahaan.

Selanjutnya, semua langkah yang dikembangkan oleh PT. Tirta Investama Klaten harus berpedoman pada standart dan langkah 5R untuk dilakukan penilaian. Berikut adalah penjabaran standar 5R menurut buku pedoman keselamatan kerja AQUA:

1) R1 (Ringkas)

Barang yang ada di area kerja jumlahnya tidak berlebihan dan tidak ada barang yang tidak diperlukan berada di area kerja kita.

Langkah-langkah menuju Ringkas (R1) adalah : a) Penyeragaman pengertian

(1) Pengertian barang berguna dan tidak berguna.

(2) Peranan anda dalam ringkas

(24)

(3) 5R adalah program bersama (4) Penjelasan yang rinci

(5) Tempat pembuangan sampah, label ringkas, batas waktu b) Kegiatan meringkas

(1) Pelaksanaan serempak

(2) Menyingkirkan barang yang tidak diperlukan.

(3) Jangan ragu-ragu (4) Mintalah dikoreksi c) Pemeriksaan berkala

(1) Menghindari munculnya kembali barang yang tidak berguna.

(2) Melakukan koreksi atau penilaian (3) Memberi umpan balik

d) Pelembagaan Ringkas

(1) Menjamin pemeriksaan berkala (2) Memudahkan jadwal piket

(3) Memudahkan pembagian tanggung jawab Tabel 1. Standart Ringkas

Hal hal yang diperiksa Standart

Barang dalam proses Tidak ada barang yang tidak berhubungan dengan proses

Stop barang untuk proses Jumlah barang untuk proses tidak terlalu berlebihan.

Perlengkapan pribadi Tidak ada perlengkapan pribadi dan makanan di tempat kerja.

Barang yang tak berguna Barang yang tak berguna telah disingkirkan.

(25)

commit to user 2) R2 (Rapi)

Semua barang mempunyai tempat yang jelas dan mempunyai status sehingga mudah ditemukan bila diperlukan.

Langkah-langkah menuju Rapi (R2) adalah : a) Pengelolaan barang

(1) Pola uniform : barang yang sama dikelompokkan pada tempat yang sama.

(2) Pola fungsional : barang yang fungsinya sama dikelompokkan pada tempat yang sama.

b) Persiapan tempat

(1) Pertimbangan volume : dimensi ruang yang dibutuhkan.

(2) Frekuensi : sering tidaknya penggunaan barang dalam proses kerja.

(3) Keselamatan dan kesehatan kerja.

(4) Minimalisasi gerakan operator (5) Kenyamanan lingkungan c) Tanda batas

(1) Untuk membatasi barang (2) Mempercepat penemuan barang d) Tanda pengenal barang atau label

(1) Berisi : nama atau kode barang, lokasi, jumlah barang, no., rak.

(2) Label sebaiknya tercantum atau tertempel pada barang.

(26)

e) Peta peletakan barang

(1) Standart peletakkan barang (2) Mempercepat proses pencarian (3) Setiap orang tahu letak dari barang.

Tabel 2. Standart Rapi

Hal hal yang diperiksa Standart

Tempat penyimpanan barang

Semua tempat penyimpanan barang dan barang yang disimpan diberi tanda yang jelas dan mudah diidentifikasi.

Garis batas dan sekat yang jelas sertaada rambu rambu

Ada garis batas atau sekat untuk membedakan peletakkan atau penyimpanan dan pengelompokan barang. Ada rambu yang jelas (peringatan, larangan, dll)

Penyimpanan dokumen

Adanya sistem penyimpanan dokumen yang baik jika diperlukan cepat untuk mendapatkannya, ada daftar dokumen ditempat penyimpanan.

Peralatan kantor dan kerja Ditempatkan teratur, berfungsi dan berbentuk sebagaimana mestinya tidak diplester, dilakban, dll

3) R3 ( Resik)

Membersihkan, memeriksa dan menghilangkan sumber penyebab kotor.

Langkah-langkah menuju Resik (R3) adalah : a) Sarana kebersihan di tempat kerja

Sarana kebersihan harus anda anggap sebagai alat kerja karena dengan alat ini produktivitas, kualitas dan kesehatan kerja akan meningkat

(27)

commit to user b) Kegiatan pembersihan

(1) Diterapkan dengan pola gotong royong dan serempak (2) Melakukan secara periodik

(3) Melakukan sistem piket c) Peremajaan tempat kerja

(1) Sebelum pengecetan dilakukan harus dipastikan bahea memang itu diperlukan

(2) Harus sudah ditemukan tatacara untuk merawatnya.

(3) Anda lakukan setelah sumber kotor berhasil ditangani.

d) Pelestarian resik di tempat kerja

(1) Pemeriksaan berkala dan evaluasi resik

(2) Melakukan piket bergantian dengan yang lain.

(3) Kontes kebersihan antar bagian Tabel 3. Standart Resik

Hal hal yang diperiksa Standart

Lantai, dinding, atap, kaca pintu atau jendela

Bersih tidak ada debu/lumpur/noda, tidak ada sawang, atap tidak bocor, kaca tidak pecah dan tidak bernoda.

Debu dan kotoran Tidak ada debu atau kotoran pada jendela, meja, rak, loker barang/alat.

Tanggung jawab kebersihan dan kebiasaan membersihkan

Ada sistem tanggung jawab kebersihan yang jelas untuk kebersihan. Menyapu dan mengelap dianggap sebagai kegiatan rutin.

Tempat sampah Ada tempat sampah yang bersih dan ada plastik penampungan.

(28)

commit to user 4) R4 (Rawat)

Menjaga dan melaksanakan apa yang sudah menjadi ketentuan dan ketetapan bersama.

Langkah-langkah menuju Rawat (R4) adalah : a) Merawat ringkas

(1) Melaksanakan aturan dan tata tertib ringkas.

(2) Opersi buka : lemari, loker dan laci

(3) Menyederhanakan prosedur kerja dengan sasaran menghemat waktu.

b) Merawat rajin

(1) Melaksanakan aturan dan tata tertib rajin.

(2) Menurunkan sediaan atau stock di tempat kerja.

(3) Operasi kelengkapan label.

Tabel 4. Standart Rawat

Hal hal yang diperiksa Standart

Aturan dan tata tertib Adanya aturan dan tata tertib yang harus di taati.

Dokumen

Grup kerja memiliki persetujuan terdokumentasi mengenai : control secara visual, pemberian label, dan jumlah

Grup Kerja Grup kerja melakukan pemeriksaan harian pada

tempat kerja sesuai pembagiaannya

5) R5 (Rajin)

Mematuhi semua ketentuan dan standart yang sudah ditetapkan.

Langkah-langkah menuju Rajin (R5) adalah : a) Pembiasaan merawat ringkas, rapi dan resik.

(29)

commit to user Tabel 5. Standart Rajin

Hal hal yang diperiksa Standart

Target 5R Target 5R sudah ditentukan dan hasil pencapaian 5R didokumentasikan serta ditempelkan di area kerja.

Grup Kerja Grup kerja memeriksa area kerja secara rutin untuk

memastikan standard 5R yang telah disepakti bersama dilaksanakan dengan baik.

Dokumen

Sumber dan frekuensi dari masalah-masalah 5R telah terdokumentasi, penyebab utama diidentifikasi dan rencana perbaikan dikembangkan.

2. Tempat Kerja.

Tempat kerja adalah setiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan diman terdapat summber-sumber bahaya, pernyataan ini tercantum dalam Undang- Undang No. 01 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Termasuk tempat kerja adalah semua ruangan, lapangan, halaman, dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau berrhubungan dengan tenpat kerja.

Dengan perumusan tersebut di atas, ruang lingkup bagi berlakunya Undang-Undang No. 01 tahun 1970 ini jelas ditentukan oleh 3 faktor yaitu tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha, adanya tenaga kerja yang bekerja dan adanya bahaya di tempat kerja (Suma’mur, 1996).

Untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan sejahtera diperlukan upaya untuik mengenal dan mengetahui potensi bahaya yang

(30)

ada di tempat kerja kemudian diambil langkah pengendalian (Sahab, 1997).

B. Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Tempat Kerja

Penerapan 5R

Penilaian dan Tinjauan ulang

Metode Evaluasi

5R Tidak terkendali

Terkendali

Pemborosan Tujuan 5R

Tercapai

(31)

commit to user BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Jenis penelitiian yang digunakan oleh penulis adalah penelitian deskriptif, yaitu dengan cara memberikan gambaran yang jelas dan tepat di PT. Tirta Investama Klaten sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya terhadap objek penelitian serta data yang diperoleh digunakan sebagai bahan dalam penyusunan laporan ini.

B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di PT Tirta Investama, dengan alamat di Desa Wangen, Kecamatan Polanharji, Kabupaten Klaten. di area office yang dilaksanakan selama 2 bulan yang terhitung mulai tanggal 1 Februari sampai dengan 1 April 2011.

C. Obyek dan Ruang Lingkup Penelitian

Mengingat banyaknya dan luasnya permasalahan serta agar tujuan pembahasan lebih terarah, maka dalam penelitian untuk Tugas Akhir ini dilakukan pembatasan obyek dan ruang lingkup penelitian sebagai berikut : 1. Obyek penelitian terbatas pada area office.

2. Ruang lingkup penelitian terbatas mengenai housekeeping di area office di PT. Tirta Investama Klaten.

20

(32)

3. Obyek penelitian ini adalah manusia, peralatan, atau mesin di lingkungan sebagai sumber bahaya.

D. Sumber Data 1. Data Primer

Sumber data ini diperoleh dari observasi lapangan dan tanya jawab dengan karyawan PT. Tirta Investama Klaten.

2. Data Sekunder

Sumber ini diperoleh dari data yang ada pada dokumen dan catatan perusahaan yang berhubungan dengan K3.

E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi lapangan

Teknik pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung, sekaligus survey ke lapangan untuk mengetahui sistem operasional dan proses produksi, serta mencari potensi dan faktor bahaya yang ada.

2. Wawancara

Suatu teknik pengumpulan data dengan tanya jawab secara langsung dengan karyawan yang berwenang dan berkaitan langsung dengan masalah K3.

3. Kepustakaan

Membaca buku-buku serta laporan-laporan penelitian yang sudah ada dan sumber-sumber lain yang ada kaitannya dengan topik magang.

(33)

commit to user 4. Dokumentasi

Dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan mempelajari dokumen- dokumen terkendali maupun yang tidak terkendali serta catatan-catatan perusahaan yang berhubungan dengan obyek penelitian.

F. Pelaksanaan

Magang ini dilakukan mulai tanggal 1 Februari 2011 sampai 1 April 2011 dengan waktu antara pukul 08.00-15.00. Kegiatan yang dilaksanakan adalah observasi lapangan dan wawancara.

G. Analisis Data

Data yang diperoleh akan dilakukan analisis secara deskriptif. Hasil yang didapat akan disajikan dalam bentuk narasi dan akan dianalisis untuk menarik simpulan. Dari semua data yang diperoleh akan dianalisa dan dibandingkan dengan penilaian yang dilakukan PT. Tirta Investama Klaten tahun 2010 dan standar aturan 5R yang dibuat oleh PT. Tirta Investama Klaten.

(34)

commit to user BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran umum perusahaan pada area office

PT. Tirta Investama Klaten khususnya pada area office memiliki 21 ruangan yang mana setiap ruangan tersebut memiliki tingkat penerapan 5R yang berbeda-beda. 21 ruangan tersebut adalah: ruang Ka. Pabrik digunakan untuk aktivitas kepala pabrik, ruang adm. Laboratorium digunakan untuk penyimpanan dokumen yang ada di laboratorium, ruang HR digunakan untuk aktivitas karyawan menunjang memajukan pabrik, ruang adm. Gudang material digunakan untuk penyimpanan dokumen tentang bahan yang ada di gudang material, ruang adm. Plant/K3/IF/CSR digunakan untuk penyimpanan dokumen tentang Plant/K3/IF/CSR, ruang makan digunakan untuk menjamu tamu luar seperti auditor, ruang finance digunakan untuk pengolahan semua dana perusahaan, ruang poliklinik sebagai sarana kesehatan, ruang meeting 1/2/3/4 digunakan untuk pertemuan rapat karyawan, lobby sebagai tempat menunggu bagi tamu, toilet sebagai tempat buang air besar dan kecil, ruang pantry digunakan sebagai dapur kecil, janitor sebagai tempat pengawasan mutu produk, loker digunakan untuk penyimpanan tas dan helm, ruang HPU digunakan untuk penyimpanan sampel produk yang sudah dilakukan pemeriksaan,

(35)

commit to user

laboratorium mikrobiologi/kemasan/fisika kimia digunakan untuk pemeriksaan kadar kelayakan produk.

Dari 21 area tersebut pada ruang meeting 1 dan ruang HR yang memiliki ruangan terluas dan pada toilet memilki ruang tersempit diarea office.

2. Program Penerapan 5R

Dalam penerapan 5R, PT. Tirta Investama Klaten telah melakukan beberapa metode untuk bisa melakukan dan menerapkan praktek-praktek 5R di pabriknya. Beberapa hal yang telah dihasilkan oleh kegiatan- kegiatan untuk menuju 5R sesuai dengan Standar 5R yang telah ditetapkan oleh PT. Tirta Investama Klaten adalah sebagai berikut :

a. Yellow Tag atau Label Kuning

Dalam penerapannya, yellow tag yang digunakan untuk mengatur area kerja dapat mengatur dan mengingatkan pengguna area untuk mengembalikan, menempatkan barang yang telah digunakan ke tempat yang semula seperti yang telah dibatasi oleh yellow tag. Akan sangat terlihat jika penempatan barang yang telah selesai digunakan tidak tepat seperti posisi yang telah ditandai oleh marker atau bahkan jika barang atau benda tidak dikembalikan pada tempatnya. Misal pada penggunaan dan pengembalian kursi pada saat setelah digunakan.

Yellow tag di PT. Tirta Investama Klaten pada lantai seperti penempatan tempat sampah, kursi dan meja sedang yellow tag diatas meja biasanya penempatan komputer dan perangkatnya kurangnya

(36)

perhatian dan dilaksanakan. Red tag pada lantai digunakan untuk mengatur lalu lintas orang atau barang dengan kendaraan. Sangat ada batas yang jelas dan tegas ketika red tag diterapkan pada area pabrik.

Dimana jalan untuk para pejalan kaki (pedestrian), dimana area untuk penyimpanan atau peletakan barang dan dimana sarana lalu lintas barang dan kendaraan.

Kedua penanda visual ini bisa mengatur siapapun yang berada pada area yang tersentuh atau terdesain dengan penanda visual ini. Kejelasan dan keteraturan bisa sangat tercipta dengan metode ini.

Penanda visual ini juga akan terbaca oleh aspek keselamatan kerja.

Adanya simbol atau penanda tentang fungsi dari sebuah area akan menyampaikan kepada para pengguan area untuk menaatinya. Dimana pengguna area harus menyimpan barang, di sisi mana mereka harus berjalan kaki, dan pada bagian mana sebuah area tidak boleh atau dilarang untuk dimasuki atau diakses oleh sembarangan orang dengan bebas, dimana jika area tersebut tetap diakses dengan bebas maka akan berpotensi menimbulkan bahaya.

Penanda dimana area yang bisa digunakan untuk area penyimpanan barang juga akan sangat membantu upaya keselamatan kerja. Dengan adanya bahan kimia yang digunakan oleh PT. Tirta Investama Klaten, area penyimpanan material pun juga sangat harus diperhatikan. Bahan- bahan kimia ini adalah bahan kima yang sangat sensitif terhadap lingkungan yang berada di sekitarnya. Suhu lingkungan, kelembapan

(37)

commit to user

ruangan, dan cara perlakuan terhadap bahan kimia akan sangat mempengaruhi. Oleh karena itu dengan adanya pembagian atau pengaturan area diharapkan dapat meminimalisir adanya bahaya yang disebabkan oleh sifat dari bahan kimia yang sangat sensitif. Peledakan atau bahkan kebakaran akan sangat mungkin terjadi jika penyimpanan bahan kimia tidak diperhatikan dengan baik.

Penandaan visual ini juga akan digunakan untuk menunjukkan larangan untuk memasuki suatu area. Area tersebut dinyatakan berbahaya karena adanya potensi bahaya yang besar , baik yang berasal dari bahan kimia, sifat elektrik atau dari mesin yang bertegangan tinggi atau dengan pola operasi yang membutuhkan keahlian untuk mengoperasikannya, oleh karena itu tidak setiap orang bisa dan boleh untuk mengakses area tersebut. Penanda visual sangat berperan dalam hal ini, tanda yang menyatakan ketidakbolehan untuk memasuki area ini akan menjaga keselamatan para pekerja dan bahan produksi serta keamanan pabrik dari bahaya yang dihasilkan dari faktor-faktor bahaya tersebut.

b. Penanda visual berupa tulisan

Penanda visual jenis ini digunakan untuk memudahkan proses identifikasi sebuah barang yang secara visual warna dan gambar belum bisa teridentifikasi dengan jelas, atau digunakan untuk menandai barang-barang yang tidak bisa diperjelas dengan warna atau gambar.

Barang atau tempat yang biasa menggunakan penanda visual berupa

(38)

tulisan sangat mudah ditemui. Ketika berada pada area kantor (office area), jika tidak ada keterangan berupa tulisan, maka akan sangat sulit menemukan barang yang kita cari atau yang tersimpan di dalam locker.

Secara sepintas ataupun pada saat pencarian kita tidak akan tahu apa yang sebenarnya berada di dalam locker tersebut, apakah barang yang kita cari berada di locker tersebut atau tidak. Itu adalah contoh kecil ketika kita mencari barang-barang yang sifatnya kecil lalu bagaimana jika kita mencari suatu dokumen perusahaan yang bersifat sangat urgent atau bagaimana jika kita lupa menyimpan bahan kimia berbahaya yang telah kita letakkan pada suatu tempat.

c. Peraturan 5R

Peraturan 5R berisi tentang gambaran pembagian tugas atas benda atau barang yang menjadi tanggung jawab setiap anggota team 5R.

(form team 5R pada lampiran 2).

Apa yang harus dilakukan dengan barang yang menjadi tanggung jawabnya dijelaskan dengan lengkap pada penanda visual ini, sesuai dengan standard yang telah disepakati untuk dilaksanakan. Peraturan ini bukan hanya mengatur tentang responsibilitas benda yang menjadi tanggungan setiap anggota team tetapi juga berisi tentang standard pelaksanaan 5R, seluruh item 5R. Selain itu juga berisi tentang

“punishment” jika salah satu anggota team tidak melaksanakan 5R yang menjadi tanggung jawabnya. Peraturan ini diterapkan pada office area.

Selain itu ada juga peraturan yang ditempel di depan koridor pintu area

(39)

commit to user

kerja, peraturan tersebut berisikan tentang bagaimana dan persyaratan masuk area kerja tersebut. (contoh aturan area lampiran 3)

d. Kampanye 5R

Penulis mendapatkan keadaan bahwa semua karyawan khususnya bagian office mengenal dan memahami tentang pelaksanaan 5R. Hal ini akan cukup memperlancar penerapan 5R. Sudah dilakukan pemasangan poster tentang 5R, slogan-slogan 5R yang ditempelkan pada papan pengumuman atau pada tempat yang memungkinkan untuk menempelkan gambar atau tulisan, namun belum aktif dalam kegiatan dokumentasi foto sebelum dan sesudah 5R akan juga memberi informasi setiap orang betapa banyak efek positif yang dihasilkan dari proyek percontohan dari departemen yang telah menerapkan 5R.

e. Training 5R

Training 5R adalah cara yang paling bisa memberi pemahaman baik secara konsep maupun teknis pelaksanaan 5R di area kerja. PT Tirta Investama Klaten memiliki beberapa persiapan training 5R sebagai berikut:

1) Peta area 2) Standar

3) Checklist atau audit sheet seperti tag register lampiran 4 4) Aturan 5R

5) 5R board

(40)

3. Penilaian 5R a. Tahap I

Penilaian pada tahap I dilakukan pada bulan Mei 2010 yang dilakukan oleh PT. Tirta Investama Klaten dan penilaian ini dilakukan pada semua area office yaitu 21 ruangan dan hanya melakukan penilaian pada 3R (ringkas, rapi, resik). Hasil penilaian dapat dilihat pada tabel 6 :

Tabel 6. Hasil penilaian area office

S

Sumber : PT. Tirta Investama Klaten, Mei 2010 Keterangan penilaian :

1. Kondisi sangat kurang 2. Kondisi kurang 3. Kondisi cukup 4. Kondisi baik

Lokasi

Nilai

No R1 R2 R3 Total Rata-rata

1 Ruang Ka. Pabrik 4 4 4 12 4

2 Ruang Adm. Lab 3 3 3 9 3

3 Ruang HR 3 3 3 9 3

4 Ruang Adm. Gudang

material 4 4 3 11 3,7

5 Ruang Adm. Plant, K3,

IF, CSR 4 4 3 11 3,7

6 Ruang makan 4 4 4 12 4

7 Ruang finance 3 4 3 10 3,3

8 Ruang poliklinik 4 4 3 11 3,7

9 Ruang meeting 1 4 4 4 12 4

10 Ruang meeting 2 4 4 4 12 4

11 Ruang meeting 3 4 4 4 12 4

12 Ruang meeting 4 4 4 4 12 4

13 Lobby 4 4 4 12 4

14 Toilet 4 4 4 12 4

15 Pantry 4 3 3 10 3,3

16 Janitor 3 3 4 10 3,3

17 Loker 3 3 3 9 3

18 Ruang HPU 3 3 4 10 3,3

19 Lab. Mikro 4 3 4 11 3,7

20 Lab. Fiskim 3 3 4 10 3,3

21 Lab. Kemasan 3 3 4 10 3,3

Rata-rata 3,6 3,6 3,6 3,4

(41)

commit to user

Penilaian yang dilakukan didapatkan rata-rata untuk R1=3.6, R2=3.6 dan R3=3,6. Pada penilaian tahap I untuk 3R pada area office mendapatkan hasil sebagai berikut :

1) Ringkas

Pada tahap ringkas di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. gudang material, ruang Adm. plant, K3, IF, CSR, ruang makan, ruang poliklinik, ruang meeting 1/2/3/4, lobby, toilet, pantry laboratorium mikro memiliki tingkat pemilahan yang baik karena “Tidak ada barang yang tidak berhubungan dengan proses, jumlah barang untuk proses tidak terlalu berlebihan, tidak ada perlengkapan pribadi dan makanan di tempat kerja, barang yang tak berguna telah disingkirkan”. Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang finance, loker, janitor, loker memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “Ada perlengkapan pribadi dan makanan di tempat kerja, dan ada barang yang tidak berhubungan dengan proses”.

2) Rapi (R2)

Pada tahap rapi di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. gudang material, ruang Adm. Plant/K3/IF/CSR, ruang makan, ruang finance, ruang poliklinik, ruang meeting 1/2/34, lobby dan toilet memiliki tingkat penataan yang baik karena “Semua tempat penyimpanan barang dan barang yang disimpan diberi tanda yang jelas atau mudah di identifikasi, ada garis batas untuk membedakan

(42)

peletakkan, adanya sistem penyimpanan dokumen yang baik jika diperlukan cepat untuk mendapatkannya, ditempatkan yang teratur/berfungsi/berbentuk sebagaimana mestinya tidak dilakban”.

Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang pantry, ruang janitor, loker, janitor, ruang HPU, Lab. Mikro, Lab. Fiskim dan Lab. Kemasan memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “ditempatkan kurang teratur/berfungsi/berbentuk sebagaimana mestinya”.

3) Resik (R3)

Pada tahap resik di ruang Ka. Pabrik, ruang makan, ruang meeting 1/2/34, lobby, toilet, janitor, ruang HPU, Lab. Mikro, Lab fiskim, Lab. Kemasan memiliki tingkat kebersihan yang baik karena

“Bersih tidak ada debu, tidak ada sawang, atap tidak bocor, kaca tidak pecah dan tidak bernoda, tidak ada debu pada jendela, meja, rak, loker barang/alat, ada system tanggung jawab kebersihan yang jelas dan ada tempat sampah yang bersih dan ada plastik penampungan”. Sedangkan pada ruang Adm. Gudang material, ruang Adm Lab, ruang HR, , ruang Adm. Plant, K3, IF, CSR, ruang finance, ruang poliklinik, pantry, loker memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “Ada sedikit debu atau kotoran pada jendela dan loker barang atau alat”.

(43)

commit to user b. Tahap II

Penilaian pada tahap II dilakukan pada bulan Maret 2011 yang dilakukan oleh peneliti dan penilaian ini dilakukan pada semua area office yaitu 21 ruangan dan sudah melakukan penilaian pada 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin). Hasil penilaian dapat dilihat pada tabel 7:

Tabel 7. Hasil penilaian area office

Lokasi

Nilai

No R1 R2 R3 R4 R5 Total Rata-rata

1 Ruang Ka. Pabrik 4 4 4 4 4 20 4

2 Ruang Adm. Lab 3 3 3 3 3 15 3

3 Ruang HR 3 3 3 3 3 15 3

4 Ruang Adm.

Gudang material

4 4 4 4 4 20 4

5 Ruang Adm. Plant,

K3, IF, CSR 4 3 3 4 4 18 3,6

6 Ruang makan 4 4 4 4 4 20 4

7 Ruang finance 3 3 3 3 3 15 3

8 Ruang poliklinik 4 4 3 3 3 17 3,4

9 Ruang meeting 1 4 4 4 4 4 20 4

10 Ruang meeting 2 4 4 4 4 4 20 4

11 Ruang meeting 3 4 4 4 4 4 20 4

12 Ruang meeting 4 4 4 4 4 4 20 4

13 Lobby 4 4 4 4 4 20 4

14 Toilet 4 4 4 4 4 20 4

15 Pantry 4 3 3 4 3 17 3,4

16 Janitor 3 3 4 4 3 17 3,4

17 Loker 3 3 3 3 3 15 3

18 Ruang HPU 4 4 3 4 3 18 3,6

19 Lab. Mikro 4 4 4 3 4 19 3,8

20 Lab. Fiskim 4 3 4 3 4 18 3,6

21 Lab. Kemasan 4 3 4 3 3 17 3,4

Rata-rata 3,8 3,6 3,7 3,6 3,6 3,6

Sumber : Pendataan pada bulan Maret 2011 Keterangan penilaian :

1. Kondisi sangat kurang 2. Kondisi kurang 3. Kondisi cukup 4. Kondisi baik

(44)

Penilaian yang dilakukan didapatkan rata-rata untuk R1=3.8, R2=3.6, R3=3.7, R4=3.6 dan R=3.6. Pada penilaian tahap II untuk 5R pada area office mendapatkan hasil sebagai berikut :

a) Ringkas (R1)

Pada tahap ringkas di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. gudang material, ruang Adm. Plant/K3/IF/CSR, ruang makan, ruang poliklinik, ruang meeting 1/2/3/4, lobby, toilet, pantry, ruang HPU, Lab. Mikro, Lab. Fiskim, Lab. Kemasan memiliki tingkat pemilahan yang baik karena “Tidak ada barang yang tidak berhubungan dengan proses, jumlah barang untuk proses tidak terlalu berlebihan, tidak ada perlengkapan pribadi dan makanan di tempat kerja, barang yang tak berguna telah disingkirkan”. Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang finance, loker, janitor, loker memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “Ada perlengkapan pribadi dan makanan di tempat kerja, dan ada barang yang tidak berhubungan dengan proses”.

b) Rapi (R2)

Pada tahap rapi di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. gudang material, ruang makan, ruang poliklinik, ruang meeting 1/2/3/4, lobby dan toilet ruang HPU dan Lab. Mikro memiliki tingkat penataan yang baik karena “Semua tempat penyimpanan barang dan barang yang disimpan diberi tanda yang jelas atau mudah di identifikasi, ada garis batas untuk membedakan peletakkan, adanya sistem penyimpanan

(45)

commit to user

dokumen yang baik jika diperlukan cepat untuk mendapatkannya, ditempatkan yang teratur/berfungsi/berbentuk sebagaimana mestinya tidak dilakban”. Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang Adm.

Plant/K3/IF/CSR, ruang finance, ruang HR, loker, janitor, Lab.

Kemasan memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “adanya sistem penyimpanan dokumen yang kurang baik jika diperlukan tidak cepat untuk mendapatkannya, ditempatkan yang teratur/berfungsi/berbentuk sebagaimana mestinya”.

c) Resik (R3)

Pada tahap resik di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. Gudang material, ruang makan, ruang meeting 1/2/3/4, lobby, toilet, janitor, ruang HPU, Lab. Mikro, Lab Fiskim, Lab. Kemasan memiliki tingkat kebersihan yang baik karena “Bersih tidak ada debu, tidak ada sawang, atap tidak bocor, kaca tidak pecah dan tidak bernoda, tidak ada debu pada jendela, meja, rak, loker barang/alat, ada system tanggung jawab kebersihan yang jelas dan ada tempat sampah yang bersih dan ada plastik penampungan”. Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang Adm. Plant/K3/IF/CSR, ruang finance, ruang poliklinik, pantry, loker memiliki tingkat pemilahan yang cukup karena pada ruangan tersebut “Ada sedikit debu atau kotoran pada jendela dan loker barang atau alat”.

(46)

d) Rawat (R4)

Pada tahap rawat di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. Gudang material, ruang Adm. Plant/K3/IF/CSR, ruang makan, ruang meeting 1/2/3/4, lobby, toilet, pantry, janitor dan ruang HPU memiliki tingkat pemantapan yang baik karena “Ada aturan dan tata tertit, team memiliki persetujuan satandart yang terdokumentasi, team melakukan pemeriksaan harian terhadap tempat kerja”, sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang finance, ruang poliklinik, loker , Lab. Mikro, Lab fiskim dan Lab. Kemasan memiliki tingkat pemantapan yang cukup karena pada ruangan tersebut “team belum melakukan pemeriksaan harian terhadap tempat kerja”

e) Rajin (R5)

Pada tahap rajin di ruang Ka. Pabrik, ruang Adm. Gudang material, ruang Adm. Plant/K3/IF/CSR, ruang makan, ruang meeting 1/2/3/4, lobby, toilet, Lab. Mikro, dan Lab fiskim memiliki tingkat pembiasaan yang baik karena “Target 5R sudah ditentukan dan hasil pencapaian 5R didokumenasikan, team memastikan standart 5R yang telah disepakati dilaksanakan dengan baik, sumber-sumber dan frekuensi dari masalah 5R telah terdokumentasikan, penyebab utama diidentifikasi dan rencana perbaikan dikembangkan”. Sedangkan pada ruang Adm Lab, ruang HR, ruang finance, ruang poliklinik, janitor, pantry, ruang HPU, lab. Kemasan dan loker memiliki tingkat pembiasaan yang cukup karena pada ruangan tersebut “team belum

(47)

commit to user

memastikan standart 5R yang telah disepakati bersama dilaksanakan dengan baik serta hasil pencapaian 5R belum ditempel”.

c. Tahap III

Penilaian pada tahap III dilakukan untuk analisa perbandingan penilaian pada bulan Mei 2010 dengan bulan Maret 2011 dan penilaian ini dilakukan pada semua area office yaitu 21 ruangan. Hasil penilaian dapat dilihat pada tabel 8:

Tabel. 8 Perbandingan penilaian di area office

No Lokasi

Nilai Perbandingan

R1 R1 R2 R2 R3 R3 R4 R5

1 Ruang Ka. Pabrik 4 4 4 4 4 4 4 4

2 Ruang Adm. Lab 3 3 3 3 3 3 3 3

3 Ruang HR 3 3 3 3 3 3 3 3

4 Ruang Adm. Gudang

material 4 4 4 4 4 3 4 4

5 Ruang Adm. Plant, K3, IF, CSR

4 4 3 4 3 3 4 4

6 Ruang makan 4 4 4 4 4 4 4 4

7 Ruang finance 3 3 3 4 3 3 3 3

8 Ruang poliklinik 4 4 4 4 3 3 3 3

9 Ruang meeting 1 4 4 4 4 4 4 4 4

10 Ruang meeting 2 4 4 4 4 4 4 4 4

11 Ruang meeting 3 4 4 4 4 4 4 4 4

12 Ruang meeting 4 4 4 4 4 4 4 4 4

13 Lobby 4 4 4 4 4 4 4 4

14 Toilet 4 4 4 4 4 4 4 4

15 Pantry 4 4 3 3 3 3 4 3

16 Janitor 3 3 3 3 4 4 4 3

17 Loker 3 3 3 3 3 3 3 3

18 Ruang HPU 4 3 4 3 3 4 4 3

19 Lab. Mikro 4 4 4 3 4 4 3 4

20 Lab. Fiskim 4 3 3 3 4 4 3 4

21 Lab. Kemasan 4 3 3 3 4 4 3 3

Rata-rata 3,8 3,6 3,6 3,6 3,7 3,6 3,6 3,6

(48)

Keterangan:

R1. Ringkas data penilaian bulan Maret 2011 R1. Ringkas data penilaian bulan Mei 2010 R2. Rapi data penilaian bulan Maret 2011 R2. Rapi data penilaian bulan Mei 2010 R3. Resik data penilaian bulan Maret 2011 R3. Resik data penilaian bulan Mei 2010 R4. Rawat data penilaian bulan Maret 2011 R5. Rajin data penilaian bulan Maret 2011

Warna : peningkatan

Warna : penurunan

Penilaian:

1. Kondisi sangat kurang 2. Kondisi kurang 3. Kondisi cukup 4. Kondisi baik

Dari hasil perbandingan penilaian data di area office, pada bulan Mei 2010 dan bulan Maret 2011 didapat sebagai berikut :

1. Kondisi ruangan yang mengalami peningkatan pada area office yaitu:

a. Tingkat ringkas pada ruang HPU, ruang Lab. Fiskim dan Lab kemasan.

b. Tingkat rapi pada ruang HPU dan ruang lab Mikrobiologi.

c. Tingkat resik pada Adm. gudang material

2. Kondisi ruangan yang mengalami penurunun pada area office yaitu : a. Tingkat ringkas tidak ada yang mengalami penurunan.

b. Tingkat rapi pada Ruang Adm. Plant, K3, IF, CSR dan ruang finance.

c. Tingkat resik pada pada ruang HPU.

(49)

commit to user B. Pembahasan

1. Program Penerapan 5R

Dalam upaya penerapan standard 5R, PT. Tirta Investama Klaten menginisiasi beberapa langkah yang dikembangkan berdasarkan standart atau pedoman yang telah ditetapkan dan disepakati untuk dilaksanakan.

Berikut adalah contoh langkah-langkah yang telah diterapkan PT. Tirta Investama Klaten sebagai upaya pencapaian standard penerapan 5R, yaitu : a. Penerapan Label merah dan kuning

Label merah untuk menandai lokasi, baik yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan atau sebagai pengatur lalu lintas atau sebagai pembagian area. Yellow tag berfungsi sebagai penanda barang yang sedang digunakan. Jika red tag untuk pengaturan area adalah bervisual garis, maka untuk penanda benda adalah bervisual label. Hal ini sudah sesuai dengan standar 5R poin “ada garis batas atau sekat untuk membedakan peletakkan atau penyimpanan dan pengelompokkan barang serta rambu rambu yang jelas”

b. Penandaan visual

Penanda visual digunakan untuk memudahkan proses identifikasi sebuah barang yang secara visual warna dan gambar belum bisa teridentifikasi dengan jelas, atau digunakan untuk menandai barang- barang yang tidak bisa diperjelas dengan warna atau gambar. Hal ini sesuai dengan standart 5R poin rapi “semua tempat penyimpanan barang diberi tanda yang jelas dan mudah di identifikasi”

(50)

c. Peraturan 5R

Peraturan 5R berisi tentang gambaran pembagian tugas atas benda atau barang yang menjadi tanggung jawab setiap anggota team 5R dan peraturan yang dipasang di setiap area berupa tata cara untuk memasuki area tersebut. Hal ini sudah sesuai dengan standar 5R poin rawat

“adanya aturan dan tata tertib yang harus ditaati”.

d. Standart 5R.

Standart 5R digunakan sebagai pedoman yang berisikan kriteria evalusi terhadap hal hal yang akan diperiksa yang ditetapkan oleh perusahaan.

Hal ini sudah sesuai dengan standart 5R untuk semua poin (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin).

e. Organisasi 5R

Organisasi 5R di bentuk berdasarkan per team. Team 5R memilki tugas masing-masing sesuai area kerja. Hal ini sudah sesuai dengan standart 5R poin rawat dan rajin “ grup kerja atau team 5R melakukan pemeriksaan terhadap tempat kerja sesuai dengan pembagiannya dan memastikan standart 5R”

f. Kampanye 5R.

Pemasangan poster tentang 5R, slogan-slogan 5R yang ditempelkan pada papan pengumuman atau pada tempat yang memungkinkan untuk menempelkan gambar atau tulisan. Hal ini sudah sesuai dengan standart 5R poin rawat “aturan dan tata tertib, semua orang memperoleh informasi yang jelas yang dibutuhkan di tempat kerja”

(51)

commit to user g. Training 5R

Training 5R ditujukan kepada team 5R agar team benar-benar paham pentingnya 5R bagi perusahaan guna persaingan dalam kelas dunia. Hal ini sudah sesuai dengan standart 5R untuk semua poin (ringkas, rapi resik, rawat, rajin)

2. Penilaian 5R a. Tahap I

Tahap ini dilakukan oleh PT. Tirta Investama Klaten pada bulan Mei 2010.

1) Ringkas

Untuk mengembangkan tahap ini bisa dilakukan dengan memberi pertanyaan yang bersifat sebagai indicator atau pertanda pelaksanaan ini, misalnya dengan memunculkan pertanyaan seperti

“Apakah barang-barang di tempat kerja berlebihan atau barang yang diperlukan dan tidak diperlukan bercampur di area kerja?”

Jika pertanyaan ini terjawab “tidak” maka kondisi area kerja dalam tingkatan pemilihan yang baik, sedang pada tahap ini PT. Tirta Investama Klaten pada area office termasuk dalam tingkatan yang cukup karena barang ditempat kerja masih sedikit berlebihan meskipun tidak semua area office. Hal ini telah sesuai dengan Standard 5R di PT. Tirta Investama Klaten untuk point ringkas dengan tujuan untuk memisahkan barang yang perlu dan yang tidak perlu di tempat kerja.

(52)

2) Rapi

Untuk mengembangkan tahap ini bisa dilakukan dengan memberi pertanyaan yang bersifat sebagai indicator atau pertanda pelaksanaan ini, misalnya dengan memunculkan pertanyaan seperti “Apakah semua barang mempunyai tempat yang jelas dan mempunyai status sehingga mudah ditemukan bila diperlukan?”.

Jika jawaban “ya” maka tingkat penataa baik sedang pada tahap ini PT. Tirta Investama Klaten pada area office termasuk dalam tingkatan yang cukup karena masih ada sedikit barang ditempat kerja yang tidak mempunyai tempat yang jelas, hal ini telah sesuai dengan standard 5R di PT. Tirta Investama Klaten untuk point Rapi untuk mengevaluasi apakah penempatan barang di area kerja telah teratur atau belum.

3) Resik

Untuk mengembangkan tahap ini bisa dilakukan dengan memberi pertanyaan yang bersifat sebagai indicator atau pertanda pelaksanaan ini, misalnya dengan memunculkan pertanyaan seperti

“Apakah seluruh area kerja terlihat bersih sepanjang waktu dan menghilangkan sumber pengotor?”. Jika jawaban “ya” maka tingkat kebersihan yang baik, sedang pada tahap ini PT. Tirta Investama Klaten pada area office termasuk dalam tingkatan yang baik, penerapan langkah ini telah sesuai dengan Standard 5R yang dinyatakan oleh PT. Tirta Investama Klaten untuk point Resik yang

Referensi

Dokumen terkait

1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja dan sebagian besar telah memenuhi Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas ( Confined Spaces )

BPR Shinta Bhakti Wedi pada tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 terkategorikan sebagai bank yang sehat berdasarkan metode CAMEL; (2) bagaimana perkembangan tingkat kesehatan PT..

Implementasi Tim kesiapsiagaan tanggap darurat diperusahaaan telah dilaksanakan berdasarkan dengan peraturan undang-undang terkait, melakukan upaya pencegahaan keadaan

1) Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sudah berjalan dengan baik dan sesuai dengan peraturan menteri nomor PER 05/MEN/1996.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, karunia, kesehatan, kekuatan dan kemudahan dalam pelaksanaan serta penyusunan laporan tugas akhir

Responden yang paling sedikit adalah responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik tentang metode kontrasepsi pria dan mempunyai sikap yang cukup terhadap keikutsertaan menjadi

Ibu bersalin kala I yang menggunakan metode hypnobirthing sebagian besar tidak mengalami kecemasan baik pada fase laten (87.50 %) maupun aktif (81.25%) dengan rata-rata

Perolehan laba bersih yang dilihat dari laporan keuangan menunjukan laba bersih dari tahun 2013-2017 pada PT.Bank Agris Tbk mengalami penurunan, maka penting untuk melakukan tingkat