BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.3 Lokasi Penelitian
Menjelaskan tentang lokasi dari penelitian yang dilakukan
3.4 Penomena yang diamati
Menjelaskan mengenai konsep yang dilakukan oleh penelitian serta definisi operasional yang peneliti gunakan.
3.5 Intrumen Penelitian
Menjelaskan tentang instrument penelitian yang dipakai oleh peneliti dalam melakukan penelitian. Dalam penelitian ini instrument penelitian yang digunakan adalah wawancara.
3.6 Informan penelitian
Sub bab ini menjelaskan tentang orang yang dijadikan sumber untuk mendapatkan data dan sumber yang diperlukan dalam penelitian. Dapat diperoleh dari kunjungan lapangan yang dilakukan di lokasi penelitian, dipilih secara purposive dan bersifat snowball sampling.
3.7 Teknik Pengolahan Dan Analisis Data
Sub bab ini menggambarkan tentang proses penyederhanaan data ke dalam formula yang sederhana dan mudah dibaca serta mudah diinterpretasi, maksudnya analisis data di sini tidak saja memberikan kemudahan interpretasi, tetapi mampu memberikan kejelasan makna dari setiap fenomena yang diamati, sehingga implikasi yang lebih luas dari hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan simpulan akhir penelitian. Analisis data dapat dilakukan melalui pengkodean dan berdasarkan kategorisasi data.
3.8 Jadwal Penelitian
Menjelaskan tentang tempat dan waktu penelitian diadakan mulai dari pelaksanaan penelitian sampai penelitian tersebut berkhir.
BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Deskripsi Objek Penelitian
Menjelaskan tentang objek penelitian yang meliputi lokasi penelitian secara jelas, struktur organisasi dari populasi atau sampel yang telah ditentukan serta hal lain yang berhubungan dengan objek penelitian.
4.2 Informan Penelitian
Menjelaskan mengenai data yang menjadi sumber untuk mendapatkan data lapangan dalam penelitian.
4.3 Deskripsi Dan Analisi Data
Menjelaskan data yang sudah di dapat palam observasi dan kangket lalu menganalsis data tersebut agar mudah untuk di pahami
4.4 Pembahasan Dan Hasil Penelitian
Membahas hasil penelitian dengan membentuk atau membuat sebuah hasil akhir yang nantinya menghasilkan sebuah teori atau pernyataan baru mengenai penelitian yang dilakukan.
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Menjelaskan rangkaian tentang penelitian dari BAB I samapai IV dalam hal ini menarik kesimpulan bagaimana hasil dari dengan ditetapkannya Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana implementasi kebijakan dan kendala pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.
5.2 Saran
Berisi rekomendasi dari peneliti terhadap tindak lanjut dari sumbangan penelitian terhadap bidang yang diteliti baik secara teoritis maupun praktis. Dalam hal ini merupakan saran dalam implementasi
kebijakan dan kendala pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.
DAFTAR PUSTAKA
Memuat daftar referensi (literatur lainnya) yang digunakan dalam penyusunan skripsi, daftar pustaka hendaknya menggunakan literatur yang mutakhir.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Memuat tentang hal-hal yang perlu dilampirkan untuk menunjang penyusunan laporan penelitian maupun penyususnan skripsi, seperti Lampiran tabel-tabel, Lampiran grafik, lampiran peraturan-peraturan, Instrumen penelitian, Lampiran dokumentasi, Riwayat hidup peneliti.
41 BAB II
DESKRIPSI TEORI DAN KERANGKA TEORI DAN ASUMSI DASAR
2.1Deskripsi Teori
Sugiyono (2009:58), deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti, berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan/dideskripsikan akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup keduanya dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Landasan teori ini dimaksudkan untuk memberi jawaban atas pertanyaan dalam rumusan masalah sebelumnya. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut perlu membedah kembali tentang beberapa konsep yang telah diklarifikasikan oleh penulis. Dalam penelitian ini, peneliti mengklarifikasikan teori ke dalam beberapa teori yakni, Teori Kebijakan Publik, Teori Implementasi Kebijakan Publik, kemudian penjelasan mengenai Kawasan Ekonomi Khusus Menurut Undang-Undang, dan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung.
2.1.1 Kebijakan Publik
Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2012 Tentang Penetapan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung, merupakan salah satu kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk mengatur berbagai hal mengenai penetapan Kawasan Ekonomi KhususPariwisata Tanjung Lesung. Dalam rangka mempercepat pembangunan perekonomian kawasan Tanjung Lesung dan untuk menunjang percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi nasional. Oleh karena itu perlu kiranya mengetahui dan memahami terlebih dahulu mengenai kebijakan publik itu sendiri.
Secara etimologis istilah kebijakan publik terdiri dari dua suku kata yaitu kebijakan dan publik. Setiap kata memiliki pengertiannya masing-masing. Kata kebijakan atau policy (1984:138): diartikan dengan beberapa makna, diantaranya adalah pimpinan dan cara bertindak mengenai pemerintahan, kepandaian, kemahiran dan kebijaksanaan. Berdasarkan definisi yang terdapat dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) kebijakan diartikan sebagai berikut:
“Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (pemerintah, organisasi dan sebagainya); pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran".
Makna kebijakan dalam Bahasa Inggris modern dalam Wicaksono (2006:53) adalah : "a coursef action or plan, a set of political purposes as opposed to administration" (Seperangkat aksi atau
rencana yang mengandung tujuan politik yang berbeda dengan makna administrasi).
Berbeda dengan pandangan Dunn (2003:51), mendefinisikan kata kebijakan dari asal katanya. Secara etimologis, istilah policy atau kebijakan berasal dari bahasa Yunani, Sanksekerta dan Latin, akar kata dalam bahasa Yunani dan Sanksekerta yaitu polis (Negara-Kota) dan pur
(Kota).
Anderson (1975) dalam Sutopo dan Sugiyanto (2001:4) mengemukakan bahwa kebijakan publik adalah kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan penjabat-penjabat pemerintah. Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Anderson, definisi Kebijakan Publik menurut Heinz Eulan dan Kenneth Prewitt dalam Agustino (2012:6) yaitu: “Keputusan tetap yang dicirikan dengan konsistensi dan pengulangan tingkah laku dari mereka yang membuat dan alat dari mereka yang mematuhi keputusan tersebut”. Yang maksudnya adalah keputusan yang dibuat untuk dilakukan secara berkesinambungan dan kebijakan publik juga harus dipatuhi oleh semua elemen di masyarakat, tidak terkecuali mereka yang membuat kebijakan tersebut.
Hogwood dan Gunn dalam Wicaksono (2006:53) menyebutkan sepuluh penggunaan istilah kebijakan dalam pengertian modern, diantaranya:
1. Sebagai label untuk sebuah bidang aktivitas (as a label for a field of activity).
Contohnya: statemen umum pemerintah tentang kebijakan ekonomi, kebijakan industry, atau kebijakan hukum dan ketertiban.
2. Sebagai ekspresi tujuan umum atau aktivitas negara yang diharapkan (as expression of general purpose or desired state of affairs).
Contohnya: untuk menciptakan lapangan kerja seluas mungkin atau pegembangan demokrasi melalui desentralisasi.
3. Sebagai proposal spesifik (as specific proposal).
Contohnya: membatasi pemegang lahan pertanian hingga 10 hektar atau menggratiskan pendidikan dasar.
4. Sebagai keputusan pemerintah (as decisions of government). Contohnya: keputusan kebijakan sebagaimana yang diumumkan Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden.
5. Sebagai otorisasi formal (as formal authorization).
Contohnya: tindakan-tindakan yang diambil oleh parlemen atau lembaga-lembaga pembuat kebiijakan lainnya.
6. Sebagai sebuah program (as a programe).
Contonya: sebagai ruang aktivitas pemerintah yang sudah didefinisikan, seperti program reformasi agrarian atau program peningkatan kesehatan perempuan.
7. Sebagai output(as output).
Contohnya: apa yang secara aktual telah disediakan, seperti sejumlah lahan yang diredistribusikan dalam program reformasi agraria dan jumlah penyewa yang terkena dampaknya.
8. Sebagai hasil (as outcome).
Contohnya: apa yang secara aktual tercapai, seperti dampak terhadap pendapatan petani dan standar hidup dan output agricultural dari program reformasi agararia.
9. Sebagai teori atau model (as a theory or model).
Contohnya apabila kamu melakukan x maka akan terjadi, misalnya apabila kita meningkatkan insentif kepada industri manufaktur, maka
output industry akan berkembang. 10.Sebagai sebuah proses (as a process)
Sebagai sebuah proses yang panjang yang dimulai dengan issues lalu bergerak melalui tujuan yang sudah di (setting), pengambilan keputusan untuk implementasi dan evaluasi.
W.F. Baber sebagaimana telah dikutip oleh Massey dalam Wicaksono (2006:30) berpendapat bahwa sektor publik memiliki 10 ciri yang membedakan dengan sektor swasta, diantaranya adalah:
1. Sektor publik lebih kompleks dan mengemban tugas-tugas yang lebih ambigu;
2. Sektor publik lebih banyak menghadapi problem dalam mengimplementasikan keputusan-keputusannya;
3. Sektor publik memanfaatkan lebih banyak orang yang memiliki motivasi yang sangat beragam;
4. Sektor publik lebih banyak memperhatikan usaha mempertahankan peluang dan kapasitas;
5. Sektor publik lebih banyak memperhatikan kompensasi atas keegagalan pasar;
6. Sektor publik lebih banyak melakukan aktivitas yang memiliki signifikasi simbolik;
7. Sektor publik lebih ketat dalam menjaga standar komitmen dan legalitas; 8. Sektor publik mempunyai peluang yang lebih besar dalam merespon
isu-isu keadilan dan kejujuran;
9. Sektor publik harus beroperasi demi kepentingan publik, dan
10.Sektor publik harus mempertahankan level dukungan publik minimal di atas level yang dibutuhkan dalam industri swasta.
Dye dalam Wicaksono (2006:64) mengatakan bahwa Public policy is whats government do, why they do it, and what different it make. Sementara Wicaksono(2006:63)menyebutkan bahwa (public policy is whatever governments choose to do or not to do). Lain halnya dengan Laswelldalam Nugroho (2004:4) salah seorang pakar kebijakan yang telah mendirikan think-tank awal di Amerika yang dikenal dengan nama
American Policy Commission mendefinisikan “Public policy is a projected program of goals, values and practices.”
Definisi lain dari Anderson dalam Agustino (2012:7) memberikan pengertian atas definisi kebijakan publik sebagai berikut:
“Serangkaian kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang aktor atau sekelompok aktor yang berhubungan dengan suatu permasalahan atau suatu hal yang diperhatikan.”
WI Jenkinsdalam Wahab(1997:4) mengatakan bahwa kebijakan sebagai, ”(A set interrelation decisions taken by a political actor or group of actors concerning the selection of goals and the means of achieving them within a specified situation where these decisions should, in principle, be within the power of those actors to achieve).
Definsi kebijakan publik menurut Friedrich dalam Agustino (2012:7) “Kebijakan adalah serangkaian tindakan atau kegiatan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat hambatan-hambatan (kesulitan-kesulitan) dan kemungkinan-kemungkinan (kesempatan-kesempatan) dimana kebijakan tersebut diusulkan agar berguna dalam mengatasinya untuk mencapai tujuan yang dimaksud.”
Friedrich menambahkan ketentuan bahwa kebijakan tersebut berhubungan dengan penyelesaian beberapa maksud atau tujuan. Meskipun maksud atau tujuan dari kegiatan pemerintah tidak selalu mudah untuk dilihat tetapi ide bahwa kebijkan melibatkan perilaku yang mempunyai maksud, merupakan bagian penting dari kebijakan.
Anderson dalam Tangkilisan& Nogi (2003:2) menjelaskan pendapatannya tentang kebijakan publik:
“Kebijakan publik adalah kebijakan-kebijakan yang dibangun oleh badan-badan dan penjabat-penjabat pemerintah dimana implikasinya dari kebijakan itu adalah: kebijakan publik memiliki tujuan tertentu, berisi tindakan-tindakan pemerintah, merupakan hal yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah bukan apa yang masih dimaksudkan untuk dilakukan, bisa bersifat positif (tindakan pemerintah mengenai segala sesuatu masalah tertentu) dan bersifat negatif (keputusan pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu). Kebijakan publik yang bersifat positif setidak-tidaknya disarankan pada peraturan perundang-undangan yang bersifat mengikatdan memaksa”.
Jones dalam Tangkilisan & Nogi (2003:3) menyatakan bahwa:
“Kebijakan publik adalah proses-proses dalam ilmu politik, seperti bagaimana masalah-masalah itu sampai pada pemerintah, bagaimana pemerintah mendefinisikan masalah itu dan bagaimana tindakan pemerintah. Refleksi tentang bagaimana seseorang bereaksi terhadap masalah-masala, kebijakan Negara dan memecahkannya”
Nugroho (2011:96) merumuskan definisi kebijakan publik, bahwa: “Kebijakan publik adalah keputusan yang dibuat oleh negara, khususnya pemerintah, sebagai strategi untuk merealisasikan tujuannegara yang bersangkutan, kebijakan publik adalah strategi untuk mengantar masyarakat pada masa awal, memasuki masyarakat pada masa transisi, untuk menuju masyarakat yang dicita-citakan”.
Dalam berbagai definisi kebijakan publik yang dikutip dari tokoh di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebijakan publik adalah suatu tindakan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan oleh pemerintah dengan pilihan-pilihan alternatif, dengan maksud dan tujuannya adalah untuk menyelesaikan masalah-masalah di suatu lingkungan tertentu.
Konsep kebijakan ini menitikberatkan pada apa yang sesungguhnya dikerjakan dari pada apa yang diusulkan atau dimaksudkan, dan hal inilah yang membedakan kebijakan dari suatu keputusan yang merupakan pilihan diantara beberapa alternatif yang ada. Dalam kaitannya dengan definisi–definisi tersebut diatas maka dapat disimpulkan beberapa karakteristik utama dari suatu definisi kebijakan publik.
Menurut Agustino (2012:8) beberapa karakteristik utama dari suatu kebijakan publik adalah sebagai berikut:
1. Pada umumnya kebijakan publik perhatiannya ditunjuk pada tindakan yang mempunyai maksud atau tujuan tertentu dari pada perilaku yang berubah atau acak.
2. Kebijakan publik pada dasarnya mengandung bagian atau pola kegiatan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah dari pada keputusan yang terpisah-pisah. Misalnya, suatu kebijakan tidak hanya meliputi keputusan untuk mengeluarkan peraturan tertentu tetapi juga keputusan berikutnya yang berhubungan dengan penerapan dan pelaksanaannya.
3. Kebijakan publik merupakan apa sesungguhnya dikerjakan oleh pemerintah dalam mangatur perdagangan, mengontrol inflasi, atau menawarkan perumahan rakyat, bukan apa maksud yang dikerjakan atau apa yang akan dikerjakan. Kebijakan publik memperlihatkan apa yang kemudian akan atau dapat terjadi setelah kebijakan itu diimplementasikan.
4. Kebijakan publik dapat terbentuk positif maupun negatif. Secara positif kebijakan melibatkan beberapa tindakan penerintah yang jelas dalam menangani suatu permasalahan. Secara negatif, kebijakan publik dapat melibatkan suatu keputusan pejabat pemerintah untuk tidak melakukan suatu keputusan pejabat pemerintah atau tidak mengerjakan apapun padahal dalam konteks tersebut keterlibatan pemerintah amat diperlukan. 5. Kebijakan publik, paling tidak secara positif didasrkan pada hukum dan
merupakan tindakan yang bersifat memerintah.
Dari beberapa karakteristik mengenai kebijakan publik diatas dapat kita anaisis bahwa kebijakan publik dibuat didasarkan karena mempunyai maksud atau tujuan tertentu didalam membuat sebuah kebijakan, dan kebijakan publik mengandung makna bukan hanya membuat sebuah kebijakan akan tetapi sampai kepada penerapan dan pelaksanaan dari kebijakan.
Caiden dalam Thoha (2003:74-85) menjelaskan beberapa lingkup studi kebijakan publik meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Adanya partisipasi masyarakat (public participation).
Ruang lingkup kebijakan publik yang pertama adalah membangkitkan adanya partisipasi masyarakat untuk bersama-sama memikirkan cara-cara untuk mengatasi persoalan-persoalan masyarakat. Tanpa adanya
partisipasi masyarakat maka kebijakan publik kurang bermakna. Dalam masyarakat yang tradisional, pemerintah dan urusan-urusan politik menjadi tanggung jawab elit, masyarakat pada umumnya tidak tahu apa yang dikerjakan oleh pemerintah. Akan tetapi dalam masyarakat modern, demokratis dan yang kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, maka partisipasi dari masyarakat sangat penting dalam urusan-urusan pemerintahan termasuk di dalamnya urusan kebijakan publik. Itulah sebabnya partisipasi merupakan kajian ruang lingkup kajian dalam kebijakan publik.
2. Adanya kerangka kerja kebijakan (policy framework).
Kerangka kerja disini dimaksudkan untuk memberikan batas kajian yang dilakukan. Faktor-faktor yang membentuk kerangka kerja kebijakan didalamnya adalah sebagai berikut:
1) Apakah tujuan yang ingin dicapai dari kebijakan yang akan dicapai? 2) Bagaimana dan apakah nilai-nilai yang perlu dipertimbangkan dalam
kebijakan publik?
3) Apakah sumber-sumber yang mendukung kebijakan tersedia dan dapat dimanfaatkan?
4) Siapakah pelaku-pelaku yang terlibat, dan apakah mereka mampu mau melaksanakannya?
5) Bagaimana faktor lingkungan yang mempengaruhi kebijakan yang akan dibuat, mendukung, menolak atau pasif?
6) Bagaimanakah strategi yang harus dijalankan dalam membuat, melaksanakan dan mengevaluasi kebijakan publik?
7) Banyak lagi yang dapat dimasukkan kedalam kerangka kerja ini, seperti faktor waktu atau lainnya.Kerangka kerja ini merupakan suatu checklist
yang memberikan dasar untuk menguji secara empiris, membangun kerangka teori dan memperlakukan masa berlakunya.
3. Adanya strategi- strategi kebijakan (policy strategies).
Sesungguhnya kebijakan yang terbaik adalah kebijakan yang berlandaskan akan strategi yang tepat yang pemecahannya berkaitan dengan wilayah persoalannya dan sama sekali tidak menghilangkan struktur kekuasaan dan instrument-instrumen inovatif yang ada untuk pelaksanaan kebijakan publik.
4. Adanya kejelasan tentang kepentingan masyarakat (public interst). Public interest merupakan suatu objek kepentingan yang setiap orang merasa memberikan andil bersama-sama dengan orang lain dalam suatu negara untuk menentukan kepentingan bersama yang didasarkan atas pemikiran rasional dan adanya saling bertukar pikiran antara orang yang satu dengan yang lainnya.
5. Adanya pelembagaan lebih lanjut dari kemampuan kebijakan publik. Kelembagaan disini adalah diadakannya suatu lembaga riset yang independen tentang kebijakan publik untuk menggali implikasi jangka panjang dari policy dengan menggambarkan pernyataan gambar masa depan, membuat unit baru pembuat kebijakan, merancang kembali
organisasi yang menangani program, penilaian dan evaluasi dari kebijakan yang telah ada dan lain dan sebagainya.
6. Adanya isi kebijakan dan evaluasi.
Isi kebijakan mengamati tentang pelaku-pelaku kebijakan, hubungan-hubungan di antara mereka, strategi kebijakan dan hasil yang dapat mempengaruhi sistem sosial dan tujuan yang akan
Ada beberapa tahapan dalam proses kebijakan publik. Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga tahapan kebijakan publik yaitu:
1. Perumusan kebijakan 2. Implementasi kebijakan 3. Evaluasi kebijakan
Anderson dalam Sutopo dan Sugiyanto (2001:4) mengelompokan jenis-jenis kebijakan publik sebgai berikut:
a. Subtantive and procedural policie
b. Distributive, redistributive, and regulatory policies c. Material policy
d. Public goods and private goodspolicies
Mengenai tingkat-tingkat kebijakan publik ini, Lembaga Administrasi Negara (1997) dalam Sutopo dan Sugiyanto (2001:6) mengemukakan sebagai berikut:
a. Lingkup Nasional 1) Kebijakan Nasional
kebijakan nasional adalah kebijakan negara yang bersifat fundamental dan srategis dalam mencapai tujuan nasional/negara sebagaimana tertera dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
kebijakan umum adalah kebijakan persiden sebagai pelaksana Undang-Undang Dasar, TAP MPR, Undang-Undang-Undang-Undang, untuk tujuan nasional. 3) Kebijakan Pelaksana
kebijakan pelaksanaan adalah merupakan penjabaran dari kebijakan umum sebagai startegi pelaksanaan tugas dibidang tertentu.
b. Lingkup Wilayah Daerah 1) Kebijakan Umum
kebijakan umum pada lingkup daerah adalah kebijakan pemerintah daerah sebagai pelaksana azas desentralisasi dalam rangka mengatur urusan rumah tangga daerah.
2) Kebijakan Pelaksana
kebijakan pelaksana pada lingkup wilayah/daerah ada tiga macam: a) kebijakan pelaksana dalam rangka desentaralisasi merupakan realiasi
pelaksanaan Peraturan daerah
b) kebijakan pelaksana dalam rangka dekonsentarsi merupakan pelaksanaan kebijakan nasional di daerah
c) kebijakan pelaksana dalam rangka tugas pembantu merupakan pelaksana tugas pemerintah pusat di darah yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah.
Bridgeman dan Davis dalam Suharto (2011:5) menerangkan bahwa kebijakan publik sedikitnya memiliki tiga dimensi yang saling bertautan, yakni sebagai tujuan (objektive), sebagai pilihan tindakan yang legal atau sah secara hukum (outhorlitative choice), dan sebagai sebagai hipotesis (hypotesis).
1. Kebijakan Publik Sebagai Tujuan
kebijakan publik apada akhirnya menyangkut pada tujuan publik. Artinya, kebijakan publik adalah seperangkat tindakan pemerintah yang di desain untuk mencapai hasil-hasil tertentu yang diharapkan oleh publik sebagai konsituen pemerintah.
2. Kebijakan Publik Sebagai Pilihan Tindakan Yang Legal
pilihan tindakan dalam kebijakan bersifat legal atauotoritatif karena dibuat oleh lembaga yang memiliki legitimasi dalam sistem pemerintah. 3. Kebijakan Publik Sebagai Hipotesis
kebijakan dibuat berdasarkan teori, model atau hipotesis mengenai sebab akibat. Kebijakan-kebijakan senantiasa bersandar pada asumsi-asmusi mengenai perilaku.
2.1.2 Implementasi Kebijakan
Studi Implementasi merupakan suatu kajian mengenai studi kebijakan yang mengarah pada proses pelaksanaan dari suatu kebijakan. Dalam praktiknya implmentasi kebijakan merupakan suatu proses yang begitu kompleks bahkan tidak jarang bermuatan politis dengan adanya intervensi berbagai kepentingan . untuk melukiskan kerumitan dalam proses implementasi tersebut dapat dilihat pada pernyataan yang dikemukakan oleh seorang ahli studi kebijakan Eugene Berdach (1991) dalam Agustino (2012:138), yaitu:
“adalah cukup untuk membuat sebuah program dan kebijakan umum yang kelihatannya bagus diatas kertas. Lebih sulit lagi merumuskannya dalam kata-kata dan slogan-slogan yang kedengarannya mengenakan bagi telinga para pemimpin dan para pemilih yang mendengarkannya. Dan lebih sulit lagi untuk melaksanakannya dalam bentuk cara yang memuaskan semua orang termasuk mereka anggap klien.”
Dalam drajat lain Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier dalam Agustino (2012:139) mendefinisikan kebijakan sebagai:
“Pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau keputusan-keputusan badan peradilan. Lazimnya, keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah yang ingin dibatasi, menyebutkan secara tegas tujuan atau sasaran yang ingin dicapai, dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau mengatur proses implementasinya”
Sedangkan, Van Meter dan van Horn dalam Agustino (2012:139) mendefinisikan implementasi Kebijakan, sebagai:
“tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang
diarahkan pada tercapainnya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan”
Dari tiga definisi tersebut diatas dafat diketahui bahwa implementasi kebijakan menyangkut tiga hal, yaitu: (1) Adanya tujuan atau sasaran kebijakan; (2) Adanya aktivitas atau kegiatan pencapaian tujuan; dan (3) Adanya hasil kegiatan.
Berdasrkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa implementasi kebijakan terdiri dari tujuan atau sasaran kebijakan, aktivitas, atau kegiatan pencapaian tujuan, dari hasil kegiatan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa implementasi merupakan suatu proses yang dinamis, dimana pelaksana kebijakan melakukan suatu aktivitas atau kegiatan, sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri. Keberhasilan suatu