• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI STUDI KASUS

B. Lokasi Studi Kasus

Lokasi studi kasus adalah menjelaskan tempat atau lokasi tersebut dilakukan (Notoadmojo, 2010). Lokasi yang dipakai dalam pengambilan kasus ini adalah di Puskesmas Gatak 1 Sukoharjo.

C. Subyek Studi Kasus

Subyek studi kasus adalah sumber utama dari studi kasus, yaitu orang yang dijadikan sebagai responden (Notoadmojo, 2010). Subjek studi kasus tidak hanya terbatas pada penderita, tetapi juga keluarga penderita termasuk orang tua, saudara, dan kerabat dekat, atau orang-orang yang dianggap menimbulkan

penyakit (Budiarto, 2004). Subyek yang digunakan pada studi kasus ini adalah Ny. P P2A0 Umur 28 Tahun akseptor KB IUD type copper T dengan erosi portio.

D. Waktu Studi Kasus

Waktu studi kasus dalam kapan pelaksanaan pengambilan studi kasus dilaksanakan (Notoadmojo, 2010). Studi kasus ini dilakukan pada tanggal 13 - 23 Desember 2013.

E. Instrumen Studi Kasus

Merupakan alat - alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data (Notoadmojo, 2010). Pada studi kasus ini penulis menggunakan instrumen wawancara dan format asuhan kebidanan 7 langkah Varney pada akseptor KB untuk pengumpulan data dasar sampai dengan evaluasi dan penyusunan data perkembangan dengan menggunakan SOAP.

F. Teknik Pengumpulan Data

Adalah suatu prosedur yang berencana, yang antara lain meliputi melihat dan mencatat jumlah dan taraf aktifitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti (Notoadmojo, 2010).

Adapun teknik pengumpulan data pada akseptor KB type Copper T dengan erosi portio adalah sebagai berikut :

1. Data Primer

Adalah suatu objek atau dokumen original-material mentah dari perilaku yang disebut ‘’first hand information’’ (Notoadmojo, 2010).

Data Primer meliputi : a. Pemeriksaan Fisik

1) Inspeksi

Adalah proses observasi. Perawat menginspeksi bagian tubuh untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanda fisik yang signifikan (Potter and Perry, 2006). Pada kasus Akseptor KB type Copper T dengan erosi portio dilakukan pemeriksaan inspekulo dengan menggunakan spekulum, pada pemeriksaan ini dideskripsikan pada erosi portio terdapat sekitar portio uterus sekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerah-merahan yang sulit dipisahkan secara jelas dari epitel portio (Winkjosastro, 2005).

2) Palpasi

Palpasi adalah pengkajian lebih lanjut dilakukan dengan indra perabaan, melalui palpasi tangan dapat dilakukan pengukuran yang lembut dan sensitive terhadap tanda fisik, termasuk ketahanan, kekenyalan, kekasaran, tekstur, dan morbilitas

(Potter and Perry, 2005).

Pada kasus Akseptor KB IUD type Copper T dengan erosi portio dilakukan pemeriksaan palpasi untuk mengetahui keadaan

perut bagian bawah atau suprapubik atau kelainan seperti nyeri tekan (Winkjosastro, 2005).

3) Perkusi

Adalah tindakan dengan pengetukan tubuh dengan ujung-ujung jari guna mengevaluasi ukuran, batasan, dan konsistensi organ-organ tubuh dan menemukan adanya cairan di dalam rongga tubuh (Potter and Perry, 2005).

Pada kasus akseptor KB IUD type Copper T dengan erosi portio tidak dilakukan perkusi.

4) Auskultasi

Auskultasi adalah mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh. Beberapa bunyi dapat didengar dengan dengan telinga dan beberapa dapat didengar dengan stetoskop

(Potter and Perry, 2006).

Pada kasus akseptor KB IUD type Copper T dengan erosi portio tidak dilakukan pemeriksaan auskultasi.

b. Wawancara

Pola komunikasi yang dilakukan untuk tujuan spesifik dan difokuskan pada area dengan isi yang spesifik (Potter and Perry, 2006).

Pada kasus erosi portio dilakukan wawancara dengan bidan dan Ny. P P2A0 Umur 28 Tahun Akseptor KB IUD type Copper T dengan erosi portio di Puskesmas Gatak 1 Sukoharjo.

c. Pengamatan (observasi)

Yaitu suatu hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan (Notoadmojo, 2010).

Pada kasus Ny. P P2A0 Umur 28 Tahun Akseptor KB IUD type Copper T dengan erosi portio dilakukan pengamatan langsung. Observasi yang dilakukan berupa pemeriksaan langsung meliputi pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi, pengeluaran pervaginam dan erosi portio.

2. Data sekunder

Adalah data yang dikumpulkan dari tangan kedua atau dari sumber-sumber lain yang telah tersedia sebelum penelitian dilakukan (Notoadmojo, 2010).

Data Sekunder yang diperoleh : a. Studi Dokumentasi

Adalah sumber informasi yang berhubungan dengan dokumen, baik dokumen resmi ataupun tidak resmi. Diantaranya biografi dan catatan harian (Notoadmojo, 2010). Dalam kasus ini dilakukan dengan pengumpulan data diambil dari catatan rekam medik.

b. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan yaitu memperoleh berbagai informasi baik berupa teori-teori generalisasi maupun konsep yang dikembangkan oleh berbagai ahli dan sumber-sumber buku yanga ada (Notoadmojo, 2010).

Bahan pustaka dalam kasus ini penulis mengambil referensi dari buku-buku kesehatan dari tahun 2004-2012.

G. Alat-Alat yang Dibutuhkan

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pengambilan data yaitu : 1. Alat dan bahan pengambilan data

a. Format asuhan Kebidanan Paka Akseptor KB IUD (Askeb) b. Buku tulis

c. Alat tulis

2. Alat dan bahan dalam melakukan pemeriksaan fisik dan observasi a. Sphignomanometer

b. Stetoskop c. Thermometer

d. Timbangan berat badan e. Kom berisi betadin f. Speculum

g. Tampon Tang h. Tenakulum

i. Kassa steril/kapas steril j. Lampu sorot

k. Albotyl konsentrasi 36%

l. Handscoon m. Bengkok n. Nitrat o. Betadine

BAB IV

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A. TINJAUAN KASUS

Hari / Tanggal : Selasa, 13 Desember 2013

Jam : 09.30 WIB

Tempat : Puskesmas Gatak 1, Sukoharjo

1. PENGKAJIAN

Tanggal : 13 Desember 2013 Pukul : 09.30 WIB a. Identitas Paien Identitas Suami

1) Nama : Ny. P Tn. A

2) Umur : 28 tahun 35 tahun

3) Agama : Islam Islam

4) Suku Bangsa : Jawa/Indonesia Jawa/ Indonesia

5) Pendidikan : SMA SMA

6) Pekerjaan : IRT Wiraswasta

7) Alamat : Trangsan 3/5, Gatak, Sukoharjo b. Anamnesa (Data Subjektif)

1) Alasan utama pada waktu masuk : Ibu mengatakan merasa keputihan, mengeluarkan flek dari jalan lahirnya dan nyeri saat berhubungan suami istri sejak 1 bulan yang lalu.

2) Riwayat Perkawinan : Ibu mengatakan menikah 1 kali dan sah selama 7 tahun, menikah saat umur ibu 21 tahun, dan umur suami 28 tahun.

3) Riwayat menstruasi

a) Menarche : Ibu mengatakan menstruasi pertama saat berumur 14 tahun

b) Siklus : Ibu mengatakan jarak

menstruasinya kurang lebih 28 hari

c) Lama : Ibu mengatakan lama

menstruasinya kurang lebih 5-6 hari

d) Banyaknya : Ibu mengatakan saat menstruasi ganti pembalut kurang lebih 2-3 kali dalam 1 hari

e) Teratur / tidak teratur : Ibu mengatakan menstruasinya teratur

f) Sifat darah : Ibu mengatakan darah menstruasinya berwarna merah dan encer

g) Dismenorhoe : Ibu mengatakan saat menstruasi kadang merasa nyeri perut tetapi tidak menggangu aktivitasnya.

4) Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu kelahiran anak pertamanya menggunakan alat kontrasepsi kalender dengan keluhan merasa ragu dengan masa suburnya sehingga terjadi kehamilan anak kedua, lalu setelah kelahiran anak kedua sampai sekarang (4 tahun) menggunakan alat kontrasepsi spiral, dengan keluhan merasa keputihan, mengeluarkan flek darah dari jalan lahir dan nyeri saat berhubungan suami istri.

c) Keluhan selama pemakaian : Ibu mengatakan selama 1 bulan ini merasa keputihan, mengeluarkan flek darah dari jalan lahir dan nyeri saat berhubungan suami istri.

6) Riwayat penyakit

a) Riwayat penyakit sekarang : Ibu mengatakan keluar flek darah berwarna kecoklatan dan keputihan dari jalan lahir, dan merasa nyeri saat berhubungan seksual.

b) Riwayat penyakit sistemik

(1) Jantung : Ibu mengatakan tidak pernah merasa nyeri pada dada sebelah kiri dan tidak pernah berkeringat dingin ditelapak tangan.

(2) Ginjal : Ibu mengatakan tidak pernah nyeri pada pinggang kanan ataupun kiri dan tidak pernah saat BAK

(3) Asma : Ibu mengatakan tidak perah esak nafassampai mengeluarkan bunyi mengi.

(4) TBC : Ibu mengatakan tidak pernah batuk berkepanjangan yang lebih dari 2 minggu

(5) Hepatitis : Ibu mengataka tidak pernah menderita penyakit kuning, pada mata dan kukunya jga tidak bewarna kuning.

(6) DM : Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit gula, dan tidak pernah sering lapar ataupun haus juga tidak pernah sering BAK yang lebih dari 6-7 pada malam hari.

(7) Hipertensi : Ibu mengatakan tidak pernah pusing yang menetap.

(8) Epilepsi : Ibu mengatakan tidak pernah kjang sampai mengeluarkan busa dari mulutnya

(9) Lain – lain : Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit apapun seperti HIV/AIDS.

c) Riwayat penyakit keluarga : Ibu mengatakan dari keluarganya ataupun keluarga suaminya tidak ada yang menderita penyakit menular ( TBC, Hepatitis) ataupun penyait menurun (Hipertensi, asma, DM)

d) Riwayat keturunan kembar : Ibu mengatakan dari keluarganya ataupun kluarga suaminya tidak ada riwayat keturunan kembar

e) Riwayat operasi : Ibu mengatakan tidak pernah melakukan operasi

7) Kebiasaan sehari-hari a) Nutrisi

Sebelum sakit : Ibu mengatakan makan 3 kali sehari dengan jenis nasi, sayur dan lauk pauk. Dan minum 8-9 gelas sehari dengan jenis air putih dan teh. Dan tidak ada pantangan makanan apapun.

Selama sakit : Ibu mengatakan tidak ada perbedaan dalam pola makan sebelum dan selama sakit, tetap makan 3 kali

sehari dengan jenis nasi, sayur dan lauk pauk. Dan minum 8-9 gelas sehari dengan jenis air putih dan teh. Dan tidak ada pantangan makanan apapun.

b) Eliminasi

Sebelum sakit : Ibu mengatakan dalam sehari BAK 6-7 kali dengan konsistensi kuning jernih, dan BAB 1-2 kali sehari dengan konsistensi kuning lembek.

Selama sakit : Ibu mengatakan sebelum dan selama sakit tidak ada perbedaan dalam BAK dan BAB yaitu tetap sehari BAK 6-7 kali dengan konsistensi kuning jernih, dan BAB 1-2 kali sehari dengan konsistensi kuning lembek.

c) Istirahat

Sebelum sakit : Ibu mengatakan dalam sehari tidur siang 1-2 jam sehari dan tidur malam 8-9 jam sehari.

Selama sakit : Ibu mengatakan sebelum dan selama sakit tidak ada perbedaan dalam istirahat, tetap sehari tidur siang 1-2 jam sehari dan tidur malam 8-9 jam sehari.

d) Seksualitas

Sebelum sakit : Ibu mengatakan melakukan hubungan suami istri 3-4 kali dalam seminggu.

Selama sakit : Ibu mengatakan sela sakit melakukan hubungan suami istri 1-2 kali dalam seminggu, karena merasa nyeri saat berhubungan suami istri.

e) Personal Hygiene

Sebelum sakit : Ibu mengatakan mandi 2 kali dalam sehari, gosok gigi 2 kali sehari dan ganti pakaian dalam maupun dalam 1 kali sehari.

Selama sakit : Ibu mengatakan selama sakit mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali sehari dang anti pakaian luar maupun dalam 2 kali sehari

f) Aktifitas

Sebelum sakit : Ibu mengatakan bekerja dan melakukan pekerjaan rumah.

Selama sakit : Ibu mengatakan sebelum dan selama sakit tidak ada perbedaan dalam beraktifitas, tetap melakukan bekerja dan melakukan pekerjaan rumah.

8) Data Psikologis

Ibu mengatakan khawatir dengan keaadaannya dan tidak nyaman karena keluar flek darah berwarna kecoklatan dan keputihan.

c. Pemeriksaan Fisik (Data Obyektif) 1) Status generalis

a. Keadaan Umum : Baik

b. Kesadaran : Composmentis

c. TTV : TD : 120/80 mmhg R: 24 x/menit N : 80 x/menit S: 36,5 C

c. TB : 165 cm

d. BB : 59 kg

2) Pemeriksaan Sistematis a) Kepala

1) Rambut : Bersih, tidak berketombe, berwarna hitam, tidak mudah rontok

2) Muka : Bersih, tidak oedema dan tidak ada cloasma

3) Mata

(1) Oedema : Tidak oedema

(2) Conjungtiva : Berwarna merah muda (3) Sklera : Berwarna putih

4) Hidung : Bersih, tidak ada sekret dan tidak ada benjolan

5) Telinga : Bersih, tidak ada serumen 6) Mulut / gigi / gusi : Mulut bersih tidak ada

stomatitis, gigi tidak ada caries, gusi tidak mudah berdarah

b) Leher

1) Kelenjar Gondok : Tidak ada pembesaran

2) Tumor : Tidak ada benjolan

3) Pembesaran Kelenjar Limfe : Tidak ada benjolan

c) Dada dan Axilla 1) Mammae

(a) Membesar : Normal

(b) Tumor : Tidak ada benjolan

(c) Simetris : Mammae kanan dan kiri simetris

2) Axilla

(a) Benjolan : Tidak ada benjolan (b) Nyeri : Tidak ada nyeri tekan d) Abdomen

1) Pembesaran Perut : Tidak ada pembesaran perut 2) Pembesaran hati : Tidak ada pembesaran 3) Benjolan/Tumor : Tidak ada benjolan 4) Nyeri tekan : Tidak ada nyeri tekan 5) Luka bekas operasi : Tidak ada luka bekas operasi e) Anogenital

1) Vulva Vagina

(a) Varices : Tidak ada varices (b) Luka : Tidak ada luka (c) Kemerahan : Tidak ada kemerahan (d) Nyeri : Tidak ada nyeri (e) Kelenjar Bartolini : Tidak ada pembesaran (f) PPV : Flour albus

2) Inspeculo

(a) Portio/servik : Lunak, berwarna merah menyala

(b) Erosi : Ada

3) Pemeriksaan dalam

(a) Posisi Uterus : Antefleksi (b) Tumor/Benjolan : Tidak ada

(c) Nyeri : Ada

4) Anus

(a) Haemorhoid : Tidak ada (b) Keluhan lain : Tidak ada f) Ekstremitas

1) Varices : Tidak ada varices 2) Oedema : Tidak ada oedema 3) Reflek Patella : Positif kanan dan kiri 1. Pemeriksaan Penunjang

a) Pemeriksaan Laboratorium : Tidak dilakukan b) Pemeriksaan penunjang lain : Tidak dilakukan

2. Interpretasi Data

Tanggal 13 Desember 2013 Pukul 09.45 WIB a. Diagnosa Kebidanan

Ny. P P2A0 umur 28 tahun akseprtor KB IUD type copper T dengan erosi portio

Data Dasar : DS :

1) Ibu mengatakan bernama Ny. P dan berumur 28 tahun

2) Ibu mengatakan sudah melahirkan 2 kali, dan tidak pernah keguguran

3) Ibu mengatakan sudah memakai alat kontrasepsi IUD selama 4 tahun

4) Ibu mengatakan merasa keputihan, mengeluarkan flek darah dari jalan lahir dan nyeri saat bersenggama selama 1 bulan

DO :

1) Keadaan Umum : Baik

2) TTV : TD : 120/80 mmhg

R : 24 x/menit N : 80 x/menit S : 36,5 C 3) TB : 165 cm

4) BB: 59 kg

5) PPV : flek darah berwarna kecoklatan dan fluor albus

6) Pemeriksaan Inspeculo

Terdapat benang IUD, fluor albus, pada portio terdapat erosi sebagian berwarna merah menyala

b. Masalah

Ibu merasa khawatir dan cemas dengan keadaannya dan tidak nyaman karena keluar flek darah berwarna kecoklatan dan keputihan.

c. Kebutuhan

Penjelasan tentang efek samping dan komplikasi dari pemakaian KB IUD

3. Diagnosa Potensial

PID (Pelvic Inflamatory Deases)

4. Tindakan Segera

Tindakan mandiri dan pemberian terapi obat yang meliputi : a. Doxiciclin 500 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 2x1 b. Metronodazole 500 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 3x1 c. Vitamin C 250 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 1x1

d. Pemberian albothyl 36% dengan 2 kali usapan pada lokasi erosi

5. Rencana Tindakan

Tanggal : 13 Desember 2013 Pukul : 09.50 WIB a. Beritahu ibu hasil pemeriksaannya

b. Beritahu ibu efek samping dan komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi IUD

c. Beri pengobatan pada erosi dengan memberikan albothyl 36 %

Beritahu ibu untuk menjaga kebersihannya terutama di organ genetalianya (vulva hygiene) dengan cara membersihkan daerah kemaluannya sehabis buang air besar dan buang air kecil yaitu disiram dari arah depan ke belakang dan dikeringkan.

d. Beri ibu support mental

e. Anjurkan ibu untuk tidak melakukan hubungan seksual terlebih dahulu

f. Beri ibu terapi obat

Doxiciclin 500 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 2x1 Metronodazole 500 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 3x1 Vitamin C 250 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 1x1

g. Anjurkan ibu untuk kontrol 6 hari lagi ataua sewaktu-waktu ada keluhan

6. Implementasi / Pelaksanaan

Tanggal : 13 Desember 2013 Pukul : 09.55 WIB a. Pukul : 09.55 WIB

Memberitahu hasil pemeriksaannya bahwa ibu saat ini mengalami peradangan pada mulut rahim atau yang sering disebut erosi portio .

b. Pukul 10.00 WIB

Memberitahu ibu efek samping dari pemakaian alat kontrasepsi IUD antara lain : Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan), haid lebih lama dan banyak, perdarahan (spotting) antar menstruasi dan erosi portio. Dan memberitahu ibu komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi IUD antara lain : Merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan, perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang mungkin menyebabkan anemia, perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar).

c. Pukul 10.10 WIB

Memberi pengobatan pada daerah yang terkena erosi dengan menggunakan albothyl 36 %.

d. Pukul 10.20 WIB

Memberitahu ibu untuk membersihkan daerah kemaluannya sehabis buang air besar dan buang air kecil yaitu disiram dari arah depan ke belakang dan dikeringkan.

e. Pukul 10.23 WIB

Memberikan ibu support mental bahwa keadaannya akan baik-baik saja dan akan sembuh bila sudah mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan, dan menganjurkan ibu untuk tenang dan jangan cemas karena akan mempengaruhi kesembuhannya.

f. Pukul 10.27 WIB

Menganjurkan ibu untuk tidak melakukan hubungan seksual terlebih dahulu selama erosi belum sembuh

g. Pukul 10.30 WIB

Memberi terapi obat pada ibu

Doxiciclin 500 mg sebanayak 10 tablet dan diminum 2x1 Metronodazole 500 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 3x1 Vitamin C 250 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 1x1 10. Pukul 10.33 WIB

Menganjurkan ibu untuk kontrol 6 hari lagi atau sewaktu-waktu ada keluhan

7. Evaluasi

Tanggal : 13 Desember 2013 Pukul : 10.35 WIB a. Ibu sudah diberitahu bahwa dirinya mengalami peradangan

b. Ibu sudah mengetahui efek samping dan komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi IUD

c. Erosi sudah dideep menggunakan albothyl 36%

d. Ibu bersedia untuk menjaga kebersihan daerah kemaluannya e. Ibu sudah tidak cemas dengan keadaannya

f. Ibu bersedia untuk tidak melakukan hubungan seksual terlebih dahulu g. Ibu sudah diberi terapi obat

Doxiciclin 500 mg sebanayak 10 tablet dan diminum 2x1

Metronodazole 500 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 3x1 Vitamin C 250 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 1x1

h. Ibu bersedia untuk kontrol 1 minggu lagi atau sewaktu-waktu ada keluhan

DATA PERKEMBANGAN Tanggal : 23 Desember 2013

Pukul : 08.30 WIB

Tempat : Puskesmas Gatak 1, Sukoharjo

S : Subjektif

1 Ibu mengatakan ingin kontrol

2 Ibu mengatakan sudah tidak keputihan dan tidak mengeluarkan flek darah dari jalan lahir

3 Ibu mengatakan sudah mengkonsumsi obat yang sudah diberikan bidan dan sudah habis

4 Ibu sudah menjaga kebersihan daerah genetalianya

5 Ibu mengatakan tidak melakukan hubungan seksual selama pengobatan berlangsung

O : Objektif

1. Pemeriksaan Umum

a. Keadaan Umum : Baik

b. kesadaran : Composmentis c. Vital Sign

TD : 120/80 mmhg R : 24 x/menit N : 80 x/menit S : 36,5

2. Pemeriksaan Inspekulo : Portio berwarna merah jambu dan sudah tidak terlihat adanya erosi dan tampak adanya benang IUD

3. Pengeluaran Pervaginam : Tidak ada A : Assesment

Ny P umur 28 tahun P2A0 akseptor KB IUD type Copper T dengan riwayat erosi portio

P : Planning

Tanggal : 23 Desember 2013 1. Pukul : 08.45 WIB

Memberitahu ibu terhadap hasil pemeriksaannya 2. Pukul : 08.47 WIB

Menganjurkan ibu untuk tetap menggunakan alat kontrasepsi IUD 8. Pukul : 08.49 WIB

Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kebersihan kemaluannya 9. Pukul : 09.01 WIB

Memberikan multivitamin pada ibu yaitu Vitamin B12 200 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 1x1

10. Pukul : 09.03 WIB

Menganjurkan ibu untuk melakukan hubungan suami istri seperti biasanya

11. Pukul : 09.05 WIB

Menganjurkan ibu untuk kontrol 2 minggu lagi atau sewaktu-waktu ada keluhan

EVALUASI

Tanggal : 23 Desember 2013 Pukul : 09.10 WIB

1. Ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaannya, bahwa erosi sudah sembuh

2. Ibu bersedia tetap menggunakan alat kontrasepsi IUD 3. Ibu bersedia untuk menjaga kebersihan kemaluannya 4. Multivitamin sudah diberikan

Vitamin B12 200 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 1x1

5. Ibu bersedia untuk melakukan hubungan suami istri seperti biasanya 6. Ibu bersedia kontrol 2 minggu lagi atau sewaktu-waktu ada keluhan

B. PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini penulis akan menjelaskan antara teori dan praktek yang dilakukan dilahan. Dalam menjelaskan kesenjangan tersebut, penulis menggunakan menejemen 7 langkah varney yaitu pengkajian, intepretasi data, diagnosa potensial, antisipasi tindakan segera, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk dapat mengambil kesimpulan dan menentukan pemecahan masalah dari kesenjangan yanga ada , sehingga dapat digunakan sebagai tindak lanjut sebagai penerapan asuhan kebidanan yang tepat, efektif dan efisien khususnya pada Ny. P Umur 28 tahun P2A0

akseptor KB IUD Copper T dengan erosi portio.

1. Pengkajian

Keluhan utama pada kasus erosi portio adalah adanya sekret darah setelah bersenggama, adanya rasa nyeri, perdarahan kontak (metrorhagia), dan secret bercampur nanah (Winkjosastro, 2005). Dan data objektif untuk erosi portio adalah keadaan umum baik, kesadaran composmentis, pada saat pemeriksaan inspekulo ostium uteri eksternum tampak berwarna merah dan keluar fluor albus dan saat pemeriksaan dalam pasien merasa sakit (Fery, 2005). Pemeriksaan penunjang pada kasus Akseptor KB IUD type Copper T dengan erosi portio adalah PAP Smear (Santoso, 2008).

Pada saat anamnesa diperoleh data subjektif yaitu ibu mengatakan merasa mengeluarkan flek darah berwarna kecoklatan dan keputihan dari jalan lahir dan merasa nyeri saat berhubungan seksual. Dan saat pemeriksaan didapatkan hasil Keadaan Umum : baik, TD : 120/80 mmhg R : 24 x/menit, N : 80 x/menit, S: 36,5 C, TB : 165 cm, BB : 59 kg.

Pengeluaran pervaginam berupa flek darah berwarna kecoklatan dan keputihan. Saat pemeriksaan Inspeculo didapatkan hasil terdapat erosi pada portio servik uteri dan terdapat nyeri. Pada pasien dengan erosi portio tidak dilakukan pemeriksaan penunjang seperti PAP Smear dikarenakan derajat erosi masih dalam derajat 2, sehingga tidak diperlukan adanya PAP Smear.

Pada langkah ini tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus.

2. Interpretasi Data

Diagnosa kebidanan yang ditegakkan dalam erosi portio adalah Ny. X P…A… Umur… Tahun Akseptor KB IUD type Copper T dengan erosi portio (Varney, 2011). Masalah yang ditemukan pada akseptor KB IUD type Copper T dengan erosi portio yaitu ibu merasa cemas (Santoso, 2008). Kebutuhan untuk kasus erosi portio antara lain : penjelasan tentang efek samping dan komplikasi dari pemakaian KB IUD type Copper T (Hartanto, 2004).

Pada Ny. P dapat ditegakkan diagnosa kebidanan dengan Ny. P P2A0 Umur 28 Tahun akseptor KB IUD type Copper T dengan erosi

portio. Masalah yang timbul pada kasus ini adalah pasien merasa khawatir dengan keadaannya karena keluarnya keputihan dan flek yang berwarna kecoklatan dari jalan lahirnya. Dan kebutuhan dari kasus tersebuat adalah memberikan support pada ibu dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Pada langkah ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus.

3. Diagnosa Potensial

Diagnosa potensial untuk kasus Akseptor KB IUD type Copper T dengan erosi portio adalah PID (Pelvic Inflamatory Deases) (Santoso, 2008). Pada Ny. P tidak terjadi diagnosa potensial karena dapat ditangani dengan baik maka tidak terjadi PID (Pelvic Inflamatory Deases). Sehingga tidak terjadi kesenjangan antara teori dan kasus.

4. Antisipasi

Pada akseptor KB IUD type Copper T dengan erosi portio harus melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter SpOG setelah melakukan pemasangan KB IUD type Copper T apabila merasakan adanya keluhan seperti terjadinya infeksi. Tindakan yang dilakukan oleh bidan adalah screening calon akseptor yang baik, pemberian antibiotik profilaksis pada tempat insersi, amphicilin 500 mg/oral tiap 6 jam dan metronidazol 3x500 mg/oral selama 3 hari, pemberian nasehat untuk kebersihan (Vulva Hygiene) (Hartanto, 2004). Erosi portio dilakukan pemeriksaan penunjang dengan melakukan PAP Smear (Santoso, 2008).

Pada Ny. P dilakukan antisipasi dengan tindakan mandiri dan pemberian terapi obat seperti Doxiciclin 500 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 2x1, Metronodazole 500 mg sebanyak 10 tablet dan diminum 3x1, Vitamin C 250 mg sebanyak 10 tablet dan diminum1x1, dan Albothyl 36% dengan 2 kali usapan pada lokasi erosi. Pada Ny. P tidak dilakukan PAP Smear dikarenakan masih dalam derajat 2. Pada langkah ini tidak terjadi kesenjangan antara teori dan praktek.

5. Rencana Tindakan

Rencana tindakan yang dilakukan pada Ny. P Akseptor KB IUD Type Copper T dengan erosi portio adalah jelaskan efek samping dan komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi IUD, jelaskan sebab terjadinya, berikan informasi vulva hygiene dari hubungan seksual, berikan terapi albothyl konsentrasi 36% yang dioleskan pada luka erosi.

Rencana tindakan yang dilakukan pada Ny. P Akseptor KB IUD Type Copper T dengan erosi portio adalah jelaskan efek samping dan komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi IUD, jelaskan sebab terjadinya, berikan informasi vulva hygiene dari hubungan seksual, berikan terapi albothyl konsentrasi 36% yang dioleskan pada luka erosi.

Dokumen terkait