• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran

9 LSM/WWF 10 BBKSDA

Pemangku kepentingan (Stakeholder) pemerintah yang terlibat dalam konservasi penyu meliputi pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pemerintah desa. Pemerintah pusat yang mempengaruhi kebijakan konservasi penyu adalah Kementerian Kehutanan (Kemenhut) serta Kementerian kelautan dan perikanan (KemenKP). Kedua kementerian tersebut memiliki tupoksi yang sama dalam mengelola kelompok biota laut yang dilindungi melalui upaya konservasi, baik konservasi kawasan maupun konservasi keanekaragaman hayati. Tugas pokok Kemenhut dalam konservasi penyu diatur dengan PP Nomor 7 tahun 1999, sedangkan tupoksi KKP dalam mengelola konservasi penyu yang termasuk jenis sumberdaya ikan merujuk pada UU Nomor 45 tahun 2009.

Balai besar Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat (BBKSDA Jabar) menyelenggarakan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di kawasan konservasi serta konservasi tumbuhan dan satwa liar di luar kawasan konservasi. Jadi pengelolaan konservasi penyu di pangumbahan merupakan salah satu tugas BBKSDA Jawa Barat.

Dinas Kelautan dan perikanan (DKP) Kabupaten Sukabumi merupakan pengelola KKP pangumbahan, pengelola secara operasional dilaksanakan Unit pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Konservasi Penyu Pangumbahan. Tujuan pengelolaan KKP Pangumbahan adalah : (1) terwujudnya kelestarian penyu dan habitatnya di pantai Pangumbahan dan perairan sekitarnya; (2) meningkatnya pengembangan ekowisata berbasis konservasi penyu: (3)meningkatnya sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar kawasan konservasi (DKP,2011).

Stakeholder lainnya dari pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sukabumi

adalah Dinas Kepariwisataan, Kebudayaan,Kepemudaan dan Olahraga (Dispar) , Dinas Kehutanan dan Perkebunan (dishut), Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Stakeholder dari pemda

adalah perpanjangan tangan Bupati Kabupaten sukabumi untuk melaksanakan misi daerah dalam rangka mencapai visi yang telah ditetapkan yaitu mewujudkan masyarakat kabupaten sukabumi yang berakhlak Mulia, Maju dan Sejahtera.

83

Stakeholder yang terlibat dalam penegakan hukum adalah TNI Angkatan Laut

(TNI AL), Polisi Sektor Kecamatan Ciracap (Polsek) dan Polisi Perairan (Polair). LSM yang turut berperan dalam pengelolaan konservasi penyu di KKP Pangumbahan adalah World Wide Fund for Nature-Indonesia (WWF-Indonesia). WWF Indonesia melakukan kegiatan pelatihan dan mediasi di KKP Pangumbahan. Institut Pertanian Bogor (IPB) merupakan institusi pendidikan yang melakukan banyak kegiatan penelitian di KKP Pangumbahan. Selain penelitian, kegiatan praktek lapangan mahasiswa IPB juga dilakukan di KKP Pangumbahan.

Desa pangumbahan,desa ujung Genteng dan Desa Gunung Batu adalah

Stakeholder pemerintah desa yang memiliki kepentingan yang sangat tinggi

terhadap pengelolaan konservasi penyu di KKP pangumbahan. Kondisi ini disebabkan KKP Pangumbahan berada diwilayah administrasi Desa Pangumbahan, sehingga kepala desa berkewajiban mengembangkan potensi sumberdaya alam dan melestarikan lingkungan hidup yang ada diwilayahnya. Desa ujung Genteng dan desa Gunung Batu merupakan desa penyangga bagi pelaksanaan konservasi penyu. Kedua desa tersebut berperan sangat penting bagi keberhasilan pengelolaan penyu di KKP Pangumbahan yaitu sebagai buffer (daerah penyangga) dalam mengurangi tekanan masyarakat yang berinteraksi tinggi terhadap kawasan dengan memadukan kepentingan konservasi dan perekonomian masyarakat.

Kategorisasi Stakeholder dipetakan dari nilai penting dan pengaruh Stakeholder. Stakeholder yang memiliki nilai penting yang tinggi terhadap kegiatan perlindungan dan pengawetan yaitu, DKP, pemerintah pusat (kemenKP,Kemenhut dan BBKSDA), Desa, Pokmaswas. Kondisi ini mengindikasikan bahwa Stakeholders tersebut memiliki relevansi yang besar

terhadap keberhasilan nilai sosial penyu yaitu kelestarian nilai ekologi dan nilai ilmiah penyu dibandingkan Stakeholder lainnya.

DKP, KemenKP, Kemenhut dan BKSDA merupakan institusi pemerintah yang memiliki kesamaan tugas yaitu melakukan kegiatan perlindungan dan pengawetan penyu yang bertujuan dan habitatnya. Dengan demikian kelestarian penyu merupakan kepentingan utama bagi keempat institusi pemerintah tersebut.

Selain itu Stakeholder yang memiliki nilai penting yang tinggi adalah Pengusaha Hotel/Restoran,Wisatawan. Karena adanya kegiatan ekowisata penyu merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan sehingga menjadi peluang bagi pengusaha hotel/restoran untuk mengembangkan usaha mereka.

Pengaruh Stakeholder mengindikasikan kekuatan Stakeholder dalam mempengaruhi pengelolaan penyu di KKP Pangumbahan. Stakeholder yang

memiliki pengaruh yang tinggi pada kegiatan perlindungan adalah DKP, KemenKP, BBKSDA, Aparat Penegak Hukum, Dispar dan Pemda. Pengaruh yang tinggi bagi Stakeholder tersebut karena memiliki organization power yang tinggi

yaitu memiliki tupoksi, sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas dan jejaring kerja yang luas dalam kegiatan perlindungan penyu.

Selain itu Stakeholder yang memiliki pengaruh yang tinggi adalah WWF.

WWF memiliki organization power yang tinggi disebabkan WWF memiliki visi dan misi dalam pengawetan sesuai tujuan pengelolaan KKP pangumbahan. WWF memiliki SDM yang berkualitas, jejaring kerja nasional dan internasional yang luas dalam konservasi penyu. Sementara itu masyarakat memiliki pengaruh yang rendah. Pengaruh masyarakat yang rendah ini disebabkan masyarakat tidak

84

memiliki kemampuan memberikan sanksi/hukuman yang sepadan terhadap pelanggar, tidak dapat memanipulasi kepercayaan atau pembentukan opini dan informasi, tidak memiliki jejring kerja,kesesuaian bidang tugas atau kontribusi fasilitas.

Analisis Kelembagaan dan Biaya Transaksi KKTP4S Analisis Kelembagaan

Lembaga dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan (working rules) yang digunakan untuk menentukan siapa yang berhak untuk membuat keputusan dalam beberapa arena, tindakan apa yang diikuti atau dibatasi, aturan agregasi apa yang akan digunakan, prosedur apa yang harus diikuti, informasi apa yang harus atau tidak harus diberikan, dan hadiah apa yang akan diberikan kepada individu tergantung pada tindakan mereka (Ostrom 1986a). Aturan ini harus benar-benar digunakan, dipantau, dan ditegakkan ketika individu membuat pilihan tentang tindakan yang akan diambil (Commons 1957).

Aturan (working rules) adalah pengetahuan umum yang dipantau dan

ditegakkan (E. Ostrom, 1990). Aturan ini mungkin atau tidak mungkin sangat mirip dengan hukum formal yang disajikan dalam peraturan perundang-undangan, peraturan administratif, dan keputusan pengadilan. Keputusan yang dibuat di level legislatif nasional dan perundang-undangan berkenaan dengan akses terhadap sumber daya, ketika diberi legitimasi dalam pengaturan lokal dan diimplementasikan, cenderung mempengaruhi aturan operasional yang digunakan di lapangan. Demikian pula, proses konstitusional pilihan formal dan informal dapat terjadi di arena lokal, regional, dan/atau nasional. Hal ini dapat dijelaskan dalam Gambar 36.

Gambar 36 Pendekatan Kelembagaan Pengelolaan Sumberdaya Alam (Sumber : Ostrom 1990)

Kelembagaan Formal

Pengelolaan KKTP4S mengacu pada aturan yang telah disyahkan oleh pemerintah baik di pusat maupun daerah, Beberapa dasar hukum dan peraturan perundang-perundangan yang menjadi acuan dari kegiatan pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (KKTP4S) adalah :

Nasional, regional, local formal collective-chole arenas

Legislatures

Regulatory agencies Courts

Informal collective-choice arenas Informal gatherings Appropriations teams Provate associations

Formal monitoring and enforcement activities

Operational rules in use

Informal monitoring and enforcement activities

85

a. Undang-undang No 31 tahun 2004 tentang Perikanan direvisi dengan Undang-undang No 45 tahun 2009 tentang Perikanan

Undang-undang ini memuat beberapa aturan mengenai pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dengan mengedepankan prinsip-prinsip kelestarian dan keberlangsungan (sustainable), sehingga dapat mewujudkan pembangunan nasional dengan berdasarkan pada asas keadilan dan pemerataan dalam pemanfaatan serta peningkatan taraf hidup nelayan dan petani kecil. Dengan demikian, pola pemanfaatan sumberdaya ikan harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan. UU No 45 Tahun 2009 merupakan revisi terhadap UU No 31 Tahun 2004.

Undang undang ini memuat definisi ikan menurut undang undang tersebut yaitu segala jenis organisme yang sebagian atau seluruh dari siklus hidupnya berada dalam lingkungan perairan.

b. UU No.27 tahun 2007 tentang Pengelolaan di Wilayah Pesisir dan Pulau- pulau Kecil.

Pemerintah pusat dalam mengatur pengelolaan dan menetapkan wilayah pengelolaan kawasan konservasi di KTP4S berdasarkan nomenklatur yang diatur dalam UU No.27 tahun 2007. DKP Kabupaten Sukabumi merupakan pengelola KKTP4S yang secara operasional dilaksanakan oleh UPTD Konservasi Penyu Pangumbahan.

c. UU No 5 tahun 1990, PP No.60 tahun 2007, UU No.32 tahun 2004

Kewenangan dalam pengelolaan penyu terdapat pada tiga kementerian yaitu Kemenhut, KKP dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). UU No 5 tahun 1990 menyatakan bahwa konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dalam konteks peraturan ini adalah kemenhut. Selain itu menurut PP No.60 tahun 2007 konservasi sumberdaya ikan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat. Pemerintah pusat yang dimaksud disini adalah KKP. Selanjutnya menurut UU N0.32 tahun 2004, daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. Untuk menerapkan UU Nomor 32 tahun 2004 maka pantai pangumbahan dikelola oleh pemda Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sukabumi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kewenangan pengelolaan konservasi penyu berada di tingkat pemerintah pusat (KKP dan Kemenhut) serta Pemda.

Kelemahan dari kewenangan yang terdapat pada berbagai lembaga ini menyebabkan sulitnya dalam melakukan koordinasi. Berbagai upaya telah dilakukan diantaranya melakukan kegiatan sinergitas pengelolaan kawasan dengan berbgai stakeholder terkait sebagai salah satu faktor kunci keberhasilan implementasi konservasi penyu khususnya di KKTP4S.

d.

Permen KP No.17 tahun 2008, Permen No. 02/MEN/2009, Permendagri No. 30 tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Sumberdaya di Wilayah Laut

Permen KP No.17 tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau pulau Kecil memuat tujuan pengelolaan KKTP4S yaitu

86

berlandaskan penguatan pengelolaan kawasan konservasi serta peningkatan sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan. Beberapa tujuan pengelolaan telah diimplementasikan ke dalam program dilapangan yaitu program pelestarian populasi penyu dan habitatnya.

Proses penetapan KKTP4S tidak sesuai dengan tahapan dalam Permen KP No.02 tahun 2009 tentang tata cara penetapan Kawasan Konservasi Perairan karena sebelumnya KKTP4S dikelola oleh pihak swasta yaitu CV Daya Bhakti. Mulai bulan agustus 2008 pengelolaan kawasan ini diambil alih oleh Pemda Kabupaten Sukabumi. Pemantapan kawasan dilakukan melalui penataan zonasi. Sistem zonasi tersebut sesuai dengan permen KP no 17 tahun 2008 yaitu sistem zonasi di KKP3K terdiri atas zona inti, zona pemanfaatan terbatas dan/atau zona lainnya sesuai dgn peruntukan kawasan.

e. Perda Kab sukabumi No 5 tahun 2009, Perbup No. 523/kep.639- Dislutkan/2008, Keputusan Bupati Sukabumi, No 523/Kep.638- Dislutkan/2008, Perda No.14 Tahun 2014

Kawasan penyu Pantai Pangumbahan dicadangkan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah pada bulan Desember 2008 berdasarkan SK Bupati Sukabumi Nomor 523/Kep.639-Dislutkan/2008 tentang Pencadangan Kawasan Penyu Pantai Pangumbahan sebagai KKP3K kabupaten Sukabumi dengan status Taman Pesisir. Untuk mempersiapkan penetapannya, DKP ditunjuk sebagai pengelola kawasan berdasarkan SK Bupati Sukabumi Nomor: 523/Kep.638- Dislutkan/2008 tentang Penunjukkan Dinas Kelautan dan Perikanan Sebagai Pengelola Kawasan Penyu Pantai Pangumbahan Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi.

Pemda Kabupaten Sukabumi telah menerbitkan Perda no 5 pada tahun 2009 tentang pelestarian penyu di kabupaten Sukabumi sehingga pengelolaan pantai penyu diarahkan pada pengembangan ekowisata berbasis penyu. Sementara surat edaran Bupati Sukabumi No.523/851.A/Dislutkan-08 tanggal 30 april 2008 perihal Pengelolaan Penyu Pantai Pangumbahan serta Surat Edaran Bupati Sukabumi Nomor 523/932.A/Dislutkan-09 tanggal 16 April 2009 perihal Pengelolaan Konservasi Penyu di Pantai Pangumbahan menjelaskan bahwa pengelolaan konservasi penyu diarahkan pada upaya pengembangan ekowisata berbasis konservasi penyu. Selanjutnya DKP membentuk sebuah unit pengelola kawasan konservasi penyu yang disebut UPTD Konservasi Penyu Pangumbahan.

Aspek Aspek Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumberdaya di KKTP4S

Aturan formal mengatur sekitar sepuluh aspek pengelolaan dalam pengelolaan KKTP4S. Kesepuluh aspek tersebut adalah Pengaturan Pengelolaan Kawasan, Pengaturan Pembinaan dan Pengawasan, Pengaturan Zonasi Kawasan, Pengaturan Kewenangan Pengelolaan Kawasan, Pengaturan Perlindungan Jenis (Penyu) dan Habitatnya, Pengadaan Sapras Kawasan, Menjaga Kelestarian Sumberdaya dan Habitat, Sangsi terhadap Pelanggaran,Pengaturan bentuk bentuk Kegiatan Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Pengaturan Kriteria Kawasan Konservasi Perairan. Kesepuluh aspek tersebut terdapat dalam Tabel 37.

87

No Aspek Pengelolaan Tingkat Keterangan

Pusat Daerah 1 Pengaturan pengelolaan

kawasan

X Mengatur tujuan konservasi dan pengelolaan sumberdaya ikan, mengatur pengelolaan kawasan konservasi pesisir dan pulau pulau kecil.

2 Pengaturan pembinaan dan pengawasan

X Pembinaan telah dilakukan melalui sosialisasi, penyuluhan serta pelatihan kegiatan kegiatan yang mendukung usaha perlindungan. Pengawasan oleh pemerintah dan masyarakat telah dilakukan, tetapi belum maksimal karena keterbatasan sarana dan prasarana pengawasan.

3 Pengaturan zonasi kawasan X Pemantapan kawasan dilakukan melalui penataan zonasi yang merupakan proses penataan runag didalam kawasan. Penataan zonasi kawasan dilapangan belum dilakukan. Pengusulan rencana zonasi telah tertuang didalam rencana pengelolaan KKTP4S tahun 2012 yaitu zona inti, zona penelitian dan pendidikan, zona pemanfaatan wisata daratan, zona pemukiman tradisional, zona pemanfaatan daratan tradisional dan zona pemanfaatan perairan tradisional (sesuai dalam permen KP 17 tahun 2008)

4 Pengaturan kewenangan pengelolaan kawasan

X X Kewenangan pengelolaan penyu ditingkat pusat terdapat pada tiga kementerian yaitu Kemenhut, KKP dan Pemda. Koordinasi antar lembaga terkait sangat diperlukan dalam melakukan kerjasama pengelolaan sebagai salah satu faktor kunci dalam keberhasilan implementasi konservasi penyu. 5 Pengaturan perlindungan

jenis (Penyu) dan habitatnya

X X Ditingkat pusat telah diatur dalam PP No.7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar, PP no.8 tahun 1999 tentang pemanfaatan jenis Tumbuhan dan Satwa Liar serta PP 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan

Sedangkan ditingkat daerah diatur dalam Perda Kab Sukabumi no.5 tahun 2009 tentang pelestarian penyu di kabupaten sukabumi

6 Pengadaan Sapras Kawasan X X Telah diatur dalam aturan formal tingkat pusat dan daerah

7 Menjaga kelestarian sumberdaya dan habitat

X X Sebagian masyarakat pesisir sudah menjaga kelestarian sumberdaya perikanan, akan tetapi masih terdapat beberapa tindakan yang merusak seperti pencurian telur masih terjadi. Selain itu, daerah pantai masih terdapat sampah yang berasal dari wisatawan/pengunjung.

8 Sangsi terhadap pelanggaran X Belum maksimal dalam penegakan hukum disebabkan belum ditetapkannya sangsi minimum terhadap pelanggaran peraturan konservasi . 9 Pengaturan bentuk bentuk

kegiatan pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar

X Telah diatur secara formal ditingkat pusat (PP No.8 tahun 1999 tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar

10 Pengaturan Kriteria Kawasan Konservasi Perairan

X Telah diatur secara formal dalam Peraturan MenKP Nomor PER.02/MEN/2009 tentang tata cara penetapan Kawasan Konservasi Perairan

88

Dari hasil analisis peraturan perundangan tersebut, sudah terlihat bahwa telah ada peraturan formal tentang pengelolaan KKTP4S. Akan tetapi yang menjadi masalah selama ini adalah bukan pada banyaknya peraturan, tetapi pada kepatuhan terhadap aturan-aturan tersebut serta pengetahuan terhadap aturan-aturan yang ada. Biaya Transaksi Pengelolaan KKTP4S

Berdasarkan hasil analisis aktor terlihat bahwa aktor pemain utama dalam kelembagaan pengelolaan di KKTP4S adalah kelompok pemerintah oleh karena itu, analisis biaya transaksi yang dilakukan dalam penelitian ini difokuskan pada kelompok tersebut.

Secara sistematis biaya transaksi yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam pengelolaan KKTP4S dapat dilihat dalam Gambar 37.

Berdasarkan Gambar 34, total biaya transaksi yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam rangka pengelolaan di KKTP4S meliputi : 1) biaya informasi, yaitu biaya pemasangan/pembuatan iklan, biaya pameran, biaya konsultasi masterplan dan biaya tour guide (2) biaya pengambilan keputusan yaitu biaya pertemuan dan biaya sosialisasi dan (3) biaya operasional bersama yaitu biaya pembangunan sarana dan prasarana pada zona pemanfaatan wisata daratan, Biaya Pemeliharaan infrastuktur dan perlindungan habitat, Biaya pembinaan dan pelatihan dan Biaya Patroli dan Pengawasan. Besarnya biaya transaksi yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya perikanan dapat dilihat pada Tabel 38.

Gambar 37 Biaya Transaksi Pemerintah dalam Pengelolaan di KKTP4S

Biaya Biaya Informasi Biaya Operasional Bersama Biaya Pengambilan Keputusan - Biaya Pemasangan/Pem buatan iklan - Biaya Pameran - Biaya Konsultasi Masterplan -Biaya Tourguide Biaya Pertemuan Biaya Sosialisasi Biaya Pemeli haraan infrast uktur dan perlind ungan habitat Biaya Pemban gunan Sapras zona Pemanf aatan Wisata Daratan Biaya pemb inaan dan pelati han Biaya Patroli dan Penga wasan

89

Tabel 38 Biaya Transaksi Pemerintah dalam Pengelolaan KKTP4S

No Komponen Vol Satuan Rp Total (Rp)

Dokumen terkait