Luasan dan Pengerjaan Areal Penambangan PTBA PTBA Area of Mining and Workmanship
dalam ha in ha
Uraian 2013 2012 2011 2010 Description
Luas IUP 15.421 15.421 15.421 15.421 Area of Mining Permit
Luas Bukaan (kumulatif ) 4.858,72 4.740,83 4.604,08 4.515,38 Area of Openings
Luas Area yang telah selesai
direvegetasi (kumulatif ) 2.306,26 2.231,73 2.128,99 2.047,45
Re-vegetated Area (Cumulative)
Luas Pinjam Pakai Kawasan
Hutan Produksi 3.453 3.453 3.453 3.453
Area of Production Forest Borrow-Use
Management of Acid Mine Drainage (AMD)
Acid Mine Drainage (AMD) is a natural phenomenon, where rocks containing sulfur (acidic rocks) are oxidized in the open air, and if exposed to water will become acidic water. PTBA has specific procedures in the disposal of acidic rocks and Acid Mine Drainage. The purpose to manage acidic rocks and AMD is to prevent the water that comes out of the mining areas from being acidic because it can be detrimental to health and the environment.
Acid Mine Drainage is processed by PTBA through active treatments in the mud settling ponds and passive treatments in the swamp (wetland) which are overgrown with plants absorbing heavy metals. Active treatment is conducted by neutralizing the acid water using calcium oxide to reduce the acidity of the water, while in the passive treatment; water is flowed into the wetland area of 1.5 to 2 ha. The wetland pond is overgrown with Salvania Natans, Thypa Angustifolia and Eleocharis Dulcis which
Pengelolaan Air Asam Tambang
Air Asam Tambang (AAT) adalah fenomena alamiah, di mana batuan yang mengandung belerang (Batuan yang Bersifat Asam) teroksidasi pada udara terbuka, dan jika terkena air akan menjadi air yang bersifat asam. PTBA memiliki prosedur yang spesifik yang mengatur pembuangan Batuan yang Bersifat Asam dan Air Asam Tambang. Tujuan pengelolaan keduanya adalah agar air yang keluar dari kawasan penambangan tidak bersifat asam yang dapat merugikan kesehatan dan lingkungan. Air Asam Tambang diolah oleh PTBA melalui perlakuan aktif di kolam-kolam pengendap lumpur dan perlakukan pasif di rawa (wetland) yang ditumbuhi tanaman penyerap logam berat. Perlakuan aktif dilakukan dengan cara menetralkan air asam dengan menggunakan kapur tohor untuk menurunkan keasaman dalam air, sedangkan pada perlakuan pasif air limpasan dialirkan ke wetland seluas 1,5 hingga 2 ha. Kolam wetland ini ditumbuhi oleh Kiambang (Salvania natans), Thypa Angustifolia dan Eleocharis
have the ability of phytoremediation by absorbing metals in water. The water that has completed the treatments and assessed to have met the Liquid Waste Quality Standard for Coal Mining (South Sumatra Governor Regulation No. 8 Year 2012) is then flowed into the Enim River.
Dulcis yang memiliki kemampuan fitoremediasi dengan menyerap logam dalam air. Air yang telah mengalami perlakuan hingga memenuhi Baku Mutu Limbah Cair Pertambangan Batubara (Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No. 8 Tahun 2012) kemudian dialirkan ke Sungai Enim.
Penanganan AAT dengan metode aktif (Pengapuran)
AMD handling with active treatments (Calcification)
Kiambang merupakan nama umum bagi paku air dari genus Salvinia. Kiambang dapat menurunkan partikel tersuspensi secara biokimiawi (berlangsung agak lambat) dan mampu menyerap logam-logam berat seperti Cr, Pb, Hg, Cd, Cu, Fe, Mn, Zn dengan baik, kemampuan menyerap logam persatuan berat kering kiambang lebih tinggi pada umur muda dari pada umur tua. Kiambang mampu menyerap 91,76% kadar besi dan 39,96% kadar mangan dalam air. (Anonim, 2011)
Kiambang is the common name for water fern from the genus Salvinia. Kiambang can reduce suspended particles biochemically (slowly) and is able to well absorb heavy metals such as Cr, Pb, Hg, Cd, Cu, Fe, Mn, Zn. The ability to absorb heavy metals per dry unit og Kiambang is higher in the younger age rather than the old age. Kiambang is able to absorb 91.76% of iron content and 39.96% of manganese content in water. (Anonymous, 2011)
Penanganan AAT dengan metode pasif (Wetland)
AMD handling with passive treatments (Wetland)
Typha angustifolia merupakan tanaman rumput-rumputan, tanaman rhizomatous dengan batang yang panjang, hijau dan ramping. Typha angustifolia biasanya hidup di air yang lebih dalam dibandingkan dengan Typha latofolia. (Stefanie Miklovic, 2000)
Tanaman ini sangat banyak dijumpai di daerah rawa, bahkan tetap hidup pada perairan yang ber pH asam sekalipun.
Typha angustifolia is a herbaceous plant, a rhizomatous plant with long, green and lean stems. Typha angustifolia usually lives in deeper water than Typha latofolia. (Stefanie Miklovic, 2000)
This plant is commonly found in swamps, and even lives in acidic water.
Upaya pencegahan pencemaran dan pengurangan beban lingkungan terhadap air permukaan dilakukan PTBA dengan membangun sistem pengolah air tertutup, di mana setiap timbulan air larian dari tambang disalurkan ke kolam-kolam pengendapan lumpur sebagai bagian dari kegiatan reklamasi tambang untuk diolah. Semua air yang dibuang dari areal penambangan diuji setiap bulan untuk memastikan kualitasnya agar sesuai dengan Baku Mutu Kualitas Air yang berlaku.
Penurunan beban lingkungan juga dicapai dengan mengurangi kadar limbah dalam air limbah. Pada proses operasi PTBA, Penurunan beban pencemaran per tahun yaitu Kekeruhan (TSS) rata-rata 0,62 Kg/ton batubara, Besi (Fe) rata-rata 0,27 Kg/ton batubara dan Mangan (Mn) rata-rata 0,09 Kg/ton batubara dengan penerapan inovasi metode wetland.
Volume Air Limbah yang Dibuang ke Lingkungan menurut Badan Air Penerima
The Volume of Wastewater Discharged into the Environment According to the Receiver
m3 m3
Badan Air Penerima 2013 2012 2011 2010 Receiver
Sungai Enim 31.350.091,03 35.600.256,00 34.997.184,00 37.041.748,40 Enim River
Sungai Lawai 10.228.032,00 20.391.037,57 25.500.374,71 31.241.397,28 Lawai River
Sungai Tabu 11.429.777,29 3.622.752,00 1.448.928,00 768.744,00 Tabu River
Sungai Klawas 10.979.741,79 6.166.368,00 11.016.684,00 7.328.633,14 Klawas River
Sungai Kiahan 70.515.373,45 7.379.424,00 10.767.168,00 26.092.905,20 Kiahan River
Efforts to prevent water pollution is conducted by constructing a closed water processing system, in which water from the mine is piped into the mud settling ponds to be processed as part of the mining reclamation activities. All water discharged from the mining areas are tested every month to ensure the quality so as to match the applicable Water Quality Standard.
Reduction of environmental damage is also achieved by reducing the level of waste in the waste water. Within the operations of PTBA, through the application of the wetland method, pollution reduction per year is: turbidity (TSS) with the average number of 0.62 Kg/ton of coal, Iron (Fe) with the average number of 0.27 Kg/ton of coal and manganese (Mn) with the average number of 0.09 Kg/ton of coal.
PT Bukit Asam (Persero) Tbk – 2013 Sustainability Report 121 Kelestarian Lingkungan untuk Keberlanjutan Meningkatkan Pertumbuhan Negeri
Bukit Asam Peduli Penghasil Energi yang Bertanggung Jawab
Menjaga Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Referensi Silang dengan GRI-G4
Management of Over Burden
On newly cleared land, the top layer of soil is usually a layer of fertile soil in the form of humus, this layer of soil with the thickness of 40-60 cm is called the top soil. The entire top soil is taken carefully with heavy equipment and stored in the top soil bank. The top soil in the top soil bank is preserved from erosion and damage through cover crop planting. In the reclamation area that has been formed through landscaping, top soil is re-deployed as thick as 50 cm. Thus the reclaimed land is ready to be planted for revegetation and rehabilitation.
Over burden is the layer of soil between the top soil and the coal seam. The over burden is moved from the mine site to be stored outside the pit and into the pit previously mined. Over burden which is estimated to be acid (potentially acid formation) are treated specifically according to the Standard Operating Procedures of PTBA. This type of cover soil is stored in a specially prepared area and is calcified so as not to cause environmental damage.
Pengelolaan Tanah Penutup (Over Burden)
Pada lahan yang baru dibuka, lapisan tanah yang paling atas biasanya merupakan lapisan subur berupa humus, lapisan setebal 40-60 cm ini disebut tanah pucuk (top soil). Tanah pucuk diambil seluruhnya dengan hati-hati dengan alat berat dan ditimbun di lokasi penimbunan tanah pucuk (top soil bank). Tanah pucuk di lokasi penimbunan dipelihara dari erosi dan kerusakan dengan penanaman
cover crop. Di areal reklamasi yang telah selesai dibentuk dengan penataan lahan, tanah pucuk tadi dihamparkan kembali setelah 50 cm. Dengan demikian lahan reklamasi tadi siap ditanami untuk proses revegetasi dan rehabilitasi.
Batuan penutup adalah lapisan tanah antara tanah pucuk dan lapisan batubara dipindahkan dari lokasi penambangan untuk ditimbun di luar lubang tambang dan ke dalam lubang tambang di areal yang sudah sudah selesai di tambang. Tanah penutup yang diperkirakan bersifat asam (potentially acid formation) diperlakukan secara khusus sesuai Prosedur Operasi Standar PTBA. Tanah penutup jenis ini ditimbun di areal yang khusus dipersiapkan dan dilakukan pengapuran, sehingga tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Volume Tanah Penutup (Over Burden) Berdasarkan Areal
Penambangan The Volume of Over Burden Based on the Mining Area
bcm bcm
Areal Penambangan 2013 2012 2011 2010 Mining Area
Tambang Air Laya 32.760.119 20.807.003 19.092.292 22.257.503 Tambanga Air Laya
Muara Tiga Besar 14.710.133 11.997.982 17.189.237 14.011.122 Muara Tiga Besar
Banko Barat 14.908.810 18.877.321 16.056.704 5.346.194 Banko Barat
13.799 – – –
Jumlah 62.392.861 51.682.306 52.338.232 41.614.819 Total
Volume Pengambilan Tanah Pucuk The Volume of Top Soil
m3 m3
Kegiatan 2013 2012 2011 2010 Activity Pengambilan Tanah
Pucuk 892.251 947.663,73 965.878,00 554.832,5 Top Soil Extraction
Penghamparan Tanah Pucuk dan Pengapuran
825.236 886.892,13 946.855,8 353.894,3 Top Soil Spreading and
Calcification