• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa transisi merupakan masa antara pengajuan tuntutan ganti rugi Taman Wisata Alam Gunung Meja dengan relisasi pembayaran (Januari – Agustus tahun 2000).

6.1.6 Kampung Misi

Kampung Misi memiliki keragaman suku yang cukup tinggi yang dilihat dari beragamnya suku yang tinggal di kampung ini. Suku-suku yang berdiam di kampung ini antara lain suku Arfak, Biak, Serui, Nabire, Sorong, Jawa, Toraja, Bugis, dan Ambon. Komposisi antara masyarakat asli Papua dengan masyarakat pendatang menurut kepala kampung Misi (Paulus Suprihari) adalah 60%:40%.

Mata pencaharian utama masyarakat di kampung Misi adalah dibidang pemerintahan dan jasa. Untuk bidang pemerintahan mereka bekerja sebagai guru SD, SMP dan SMA yang ada di kampung ini. Sedangkan untuk sektor jasa mereka mendirikan kios, warung makan, ojek, penjual pinang, dan sebagai penjual sayur. Selain itu menurut kepala kampung Misi bahwa ada masyarakat dari Paniai dan Ayamaru yang melakukan kegiatan pertanian di dalam kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja. Hanya saja jumlah mereka sedikit dan masyarakat tersebut tidak terdaftar sebagai penduduk di kampung ini. Rata-rata penghasilan masyarakat dari sektor pertanian di kampung Misi per bulannya adalah Rp. 192 100,-.

Ketergantungan masyarakat terhadap kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja hanya berupa ketersediaan air bersih. Ketergantungan ini sudah berlangsung lama dimana bak air yang ada di kampung ini telah dibangun sejak pemerintahan Belanda tetapi kondisinya kini memprihatinkan. Selanjutnya dikatakan bahwa sebelum tahun 2000 masyarakat di kampung Misi berkelimpahan air tetapi saat ini jika musim kemarau maka debit air menurun. Menurut kepala kampung Misi bahwa masyarakat sering bertengkar karena persoalan air, dimana masyarakat ada yang mendapatkan air dan ada yang tidak tetapi persoalan ini telah diatasi dengan membuat jaringan aliran air baru berdasarkan kesepakatan bersama.

6.1.7 Kampung Ambon Atas

Masyarakat yang tinggal di kampung ini memiliki keragaman suku yang sangat tinggi. Kampung ini dihuni oleh anggota Polisi/TNI yang berasal dari suku-suku seperti suku Jawa, Bugis, Sorong, Biak, Nabire, Serui, Jayapura,

Manado, Ambon dan Toraja. Rata-rata lama tinggal masyarakat di kampung Ambon Atas yaitu 23 (duapuluh tiga) tahun.

Ketergantungan masyarakat terhadap kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja hanya berupa sumber air bersih. Hal ini menyebabkan tingkat pembukaan lahan untuk kegiatan pertanian masyarakat di sekitar kampung ini sangat kecil. Pemanfaatan lahan untuk kegiatan pertanian di kampung ini dilakukan oleh masyarakat yang tidak terdaftar dalam kampung ini.

Mata pencaharian masyarakat di kampung Ambon Atas rata-rata adalah TNI dan ada sebagian masyarakat yang masih bergerak di sektor informal (kios) dan pertanian. Rata-rata penghasilan masyarakat dari sektor pertanian di kampung Ambon Atas per bulannya adalah Rp. 250 000,-.

6.2 Kelembagaan Kepemilikan Lahan (Land Tenure) di Taman Wisata Alam Gunung Meja.

6.2.1 Kearifan Lokal Masyarakat Adat Arfak Dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan di Taman Wisata Alam Gunung Meja

Masyarakat suku Hatam, Sough, Moile dan Meyakh merupakan kelompok sosial yang terbiasa tinggal di tengah hutan. Suku-suku ini sering disebut dengan suku besar Arfak. Dalam pandangan masyarakat Arfak, hutan merupakan ”ibu” yang dengan tulus senantiasa menyediakan makan bagi kehidupan anak-anaknya. Sehingga hutan menjadi tempat untuk menggantungkan hidup terutama dalam penyedia kebutuhan primer mereka. Kehidupan masyarakat Arfak tidak dapat dipisahkan dengan hutan dan sepenuhnya sangat bergantung pada alam. Pohon, sungai, dan binatang memiliki makna sebagai sumber kehidupan.

Sistem pertanian masyarakat adat Arfak sangat tergantung pada siklus ekologis karena mereka tidak banyak terlibat secara insentif dalam proses perladangan. Setelah lahan disipakan dan bibit ditanam, mereka tinggal menunggu kemurahan alam yang memberikan buah dari bibit-bibit yang ditanamnya. Binatang buruan seperti babi hutan, rusa, kuskus dan burung merupakan pelengkap gizi bagi mereka. Sehingga pengetahuan terhadap apa yang disediakan oleh alam menjadi sangat berarti bagi kehidupan masyarakat Arfak.

Siklus kehidupan masyarakat Arfak ini ternyata berlanjut ketika mereka melakukan migrasi ke kota Manokwari. Mereka memanfaatkan Taman Wisata

Alam Gunung Meja untuk tempat tinggal dan kegiatan pertanian. Kawasan ini mereka sebut dengan istilah Ayamfos dalam bahasa Meyakh berarti Ayambori. Dimana Ayambori merupakan salah satu kampung yang berada di dalam kawasan ini.

Hingga kini, masyarakat Arfak di sekitar Taman Wisata Alam Gunung Meja masih mempraktekkan cara-cara tradisional dalam melakukan pengelolaan sumber daya hutan, khususnya sumber daya lahan. Praktek tradisioal tersebut tercermin dari aktivitas ekonomi masyarakat yang masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan subsisten saja. Mereka sangat mengandalkan sumber daya hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama untuk kebutuhan pangan yang diperoleh dari kegiatan berladang, berburu dan meramu. Dalam melakukan pengelolaan sumber daya hutan, masyarakat Arfak di sekitar kawasan ini menggunakan konsep ruang yaitu dengan mengklasifikasikan kawasan dalam empat jenis yaitu ampiabea (daerah lembab), nuhim (antara panas dan dingin), reshim (daerah pasang), dan mukti (pesisir)12. Dari konsep ruang ini maka kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja menurut masyarakat adat Arfak dibagi menjadi beberapa wilayah. Pertama, bahamti yaitu wilayah hutan primer yang lokasinya tidak boleh untuk mendirikan kebun ataupun membuat rumah. Pada wilayah ini masyarakat hanya diperbolehkan mengambil kayu untuk membuat rumah, mecari kulit kayu untuk dinding rumah dan mencari tali untuk pengikat tiang rumah. Wilayah kedua adalah nimahamti. Wilayah ini merupakan kawasan yang sangat lembab dan banyak lumut yang tumbuh di tanah serta menempel di pohon dan secara geografis wilayah ini sangat sulit dijangkau dan suhunya dingin sehingga tidak semua tanaman dapat tumbuh subur. Wilayah ketiga disebut dengan susti. Wilayah susti merupakan hutan sekunder, yaitu hutan yang sebelumnya sudah pernah dibuka untuk membuat kebun namun sudah ditinggalkan.

Selain itu mereka juga mengenal konsep ”igya ser hanjop”13 yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah konservasi. Sejak dahulu masyarakat

Dokumen terkait