• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mata pencaharian utama masyarakat di kampung Susweni adalah sebagai petani dan nelayan. Namun antara masyarakat pribumi (Papua dan Papua Barat) dengan masyarakat yang berasal dari luar kedua provinsi tersebut terdapat perbedaan dalam kegiatan pertanian. Masyarakat pribumi mengusahakan tanaman-tanaman yang dapat menunjang kebutuhan pangan mereka dan dalam skala yang kecil. Tanaman-tanaman pertanian yang diusahakan oleh petani pribumi adalah ubi jalar, keladi, dan ubi kayu. Sedangkan petani non Papua dan Papua Barat mengusahakan tanaman-tanaman komersial seperti cabe, tomat, sawi, jagung, bayam, kacang, dan ketimun. Luas lahan untuk pengusahaan kegiatan pertanian di kampung ini dapat dilihat pada gambar berikut.

Luas Lahan Pertanian Masyarakat di Kampung Susweni

30%

60% 10%

< 0.5 ha < 1 ha > 1 ha

Gambar 10. Luas Lahan Pertanian Masyarakat Kampung Susweni

Hasil pertanian yang dihasilkan oleh masyarakat ini dijual ke pasar terdekat seperti pasar Sanggeng dan pasar Wosi. Namun kadangkala mereka juga menjual kepada para pedagang pengumpul. Apabila dijual ke pasar, masyarakat akan mendapat keuntungan yang lebih besar dibandingkan jika dijual ke pedagang pengumpul. Rata-rata pendapatan masyarakat di kampung Ayambori per bulannya adalah sebesar Rp. 289 050,-.

Interaksi masyarakat pribumi (Papua dan Papua Barat) dengan masyarakat pendatang (non Papua dan Papua Barat) dalam kegiatan pertanian sangat berpengaruh terhadap peningkatan produksi pertanian masyarakat pribumi secara umum. Dimana masyarakat pribumi mulai mengusahakan tanaman bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan konsumtif saja tetapi juga untuk komersial. Selain itu masyarakat pendatang juga memperoleh pengetahuan tentang kondisi alam di sekitar kampung ini sehingga dalam menentukan waktu tanam dilakukan dengan tepat.

Permasalahan yang ada dikampung ini adalah tidak adanya bangunan sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Sehingga anak-anak usia sekolah harus bersekolah ke kampung-kampung tetangga seperti Ayambori, Anggori atau Aipiri. Sedangkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maka harus melanjutkan sekolah ke kota Manokwari yang jaraknya sekitar 30 km atau ke kelurahan Amban yang jaraknya 15 km.

6.1.3 Kampung Manggoapi

Masyarakat di kampung Manggoapi terdiri dari berbagai suku seperti suku Dowansiba, Jawa, Toraja, Biak, Serui, Ambon, Nabire, dan Sorong. Menurut penuturan Kepala Kampung Kampung Manggoapi (Kosmadi) bahwa ada masyarakat dari Anggi dan Minyambow yang membuka lahan di dalam kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja. Jumlah mereka sebanyak lima keluarga namun pada waktu-waktu tertentu jumlah mereka banyak karena ada kunjungan keluarga mereka dari daerah asalnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa pembukaan lahan di kawasan ini menyebabkan debit air mulai menurun. Penurunan debit air dirasakan setelah tahun 2000 dimana masyarakat mulai menebang pohon-pohon besar di dalam kawasan ini. Hal ini disebabkan adanya tuntutan masyarakat adat terhadap ganti rugi kawasan ini.

Mata pencaharian utama masyarakat di kampung ini adalah pada sektor informal atau jasa seperti kios, bengkel, supir taxi, tukang kayu, tukang bangunan, dan penyewaan rumah kos. Selain itu ada beberapa masyarakat yang masih menggantungkan hidup mereka pada sektor pertanian. Namun kegiatan pertanian yang diusahakan masih bersifat konsumtif. Apabila ada kelebihan dari pemenuhan kebutuhan konsumtif mereka maka kelebihan tersebut akan dijual. Luas lahan pertanian masyarakat di kampung ini sangat terbatas karena sudah ditentunkan oleh pemilik ulayat.

Luas Lahan Pertanian Masyarakat di Kampung Manggoapi 40% 40% 20% < 0.5 ha < 1 ha > 1 ha

Gambar 11. Luas Lahan Pertanian Masyarakat Kampung Manggoapi

Kegiatan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat banyak yang diusahakan diluar kampung Manggoapi seperti daerah Pantai Utara kabupaten Manokwari, Anggori maupun di daerah Rumah Bencana. Rata-rata pendapatan masyarakat di kampung ini dari sektor pertanian adalah Rp. 143 650,- per bulan.

Masyarakat yang berasal dari Anggi dan Minyambow mulai melakukan migrasi pada tahun 2000, hal ini dapat dilihat dari rata-rata lama tinggal masyarakat di daerah ini adalah 7 (tujuh) tahun. Alasan mereka melakukan migrasi adalah untuk memasarkan hasil pertanian dan untuk pendidikan anak-anak mereka. Berdasarkan hasil wawancara dengan kelompok masyarakat yang berasal dari Anggi dan Minyambow mengatakan bahwa ijin untuk memanfaatkan lahan di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja diperoleh dari salah seorang pemilik hak ulayat (Esau Mandacan) dan setelah dikonfirmasikan dengan pemilik hak ulayat ternyata hal itu benar karena adanya hubungan kekerabatan antara pemilik hak ulayat dengan masyarakat yang berdiam di kawasan tersebut.

6.1.4 Kampung Fanindi (Bengkel Tan)

Kampung Fanindi merupakan wilayah yang tidak terlalu luas dengan beragam suku. Suku mayoritas di kampung ini adalah suku Toraja yang memiliki mata pencaharian di sektor swasta (tukang kayu dan tukang bangunan). Selain itu suku-suku lain yang terdapat di kampung ini adalah suku Biak, Serui, Manado, Jawa, Maluku dan Bugis.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Kampung Fanindi (Yakobus Banga) mengatakan bahwa ketergantungan masyarakat di daerah ini terhadap Taman Wista Alam Gunung Meja hanya berupa air bersih yang diperoleh dari

sumur galian dan mata air. Lebih lanjut dikatakan bahwa ada beberapa warga masyarakat yang membuka lahan di dalam kawasan ini yang berasal dari Anggi namun mereka tidak pernah melapor ke kepala RT. Mereka membuka lahan mulai tahun 2000 saat dimulainya tuntutan ganti rugi terhadap kawasan ini. Kondisi ini menyebabkan konflik antara warga lama dan warga baru. Persoalan utamanya adalah air, dimana warga baru (masyarakat Anggi) mulai membuka lahan di daerah sekitar mata air yang selama ini digunakan oleh warga lama untuk kebutuhan air bersih. Untuk menyelesaikan masalah ini maka pihak aparat kampung dan masyarakat lama memberikan kompensasi berupa uang kepada pemilik hak ulayat agar kawasan mata air tersebut tidak diberikan kepada masyarakat dari Anggi untuk dijadikan kebun.

Kondisi bangunan di kampung ini ada yang permanen dan semi permanen namun masih terdapat rumah kaki seribu (masyarakat Anggi). Lahan yang dimiliki oleh masyarakat digunakan untuk membangun rumah dan tidak untuk kegiatan pertanian.

Rata-rata masyarakat di kampung Fanindi telah tinggal selama 23 tahun dengan tingkat pendidikan terendah adalah SD dan yang tertinggi adalah perguruan tinggi. Berdasarkan hasil wawancara dengan aparat kampung mengatakan bahwa hampir 50% masyarakat di kampung ini bekerja di sektor swasata, 30% bekerja sebagai PNS, dan sisanya sebagai petani, dan Polisi/TNI serta pensiunan PNS. Masyarakat yang berasal dari Anggi memiliki mata pencaharian sebagai petani. Rata-rata pendapatan masyarakat di kampung Fanindi (Bengkel Tan) dari sektor pertanian adalah Rp. 244 500,- per bulan.

6.1.5 Kampung Brawijaya

Letak kampung ini sangat dekat dengan kota Manokwari sehingga kehidupan masyarakat di daerah ini mencirikan kehidupan daerah perkotaan, dimana sektor pertanian tidak lagi mendominasi mata pencaharian mereka. Selain itu keragaman suku di kampung ini sangat tinggi mulai dari masyarakat asli Manokwari (suku Mandacan dan Dowansiba), masyarakat Papua (Biak, Serui, Sorong, Nabire dan Jayapura), dan masyarakat non Papua (Jawa, Bugis, Toraja, Ambon dan Manado).

Masyarakat di kampung telah menetap selama kurang lebih 39 tahun sehingga mereka mengetahui secara jelas perubahan-perubahan yang terjadi di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja. Ketergantungan masyarakat terhadap kawasan ini hanya sebagai sumber air bersih. Selain itu ada beberapa masyarakat yang masih memanfaatkan ranting-ranting kayu sebagai kayu bakar. Menurut hasil diskusi dengan kepala kampung Brawijaya (Sudargo) di dapat bahwa ada rumah penduduk yang telah melanggar pal batas yang telah ditentukan oleh pemerintah. Rumah-rumah yang melanggar pal batas tersebut dulunya merupakan rumah jaga untuk tempat pembibitan kehutanan. Namun setelah tempat pembibitan tidak lagi digunakan maka rumah jaga tersebut dijadikan sebagai tempat tinggal permanen oleh masyarakat. Lebih lanjut dikatakan bahwa penebagangan kayu di sekitar kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja dilakukan oleh masyarakat pada saat masa transisi11. Penebangan tersebut merupakan bentuk tindakan masyarakat agar proses ganti rugi yang diusulkan dapat dipercepat realisasinya. Selain itu, pohon juga ditebang oleh masyarakat sekitar kawasan karena ada ketakutan jika pohon tersebut rubuh ditiup angin maka akan mengenai rumah mereka.

Luas lahan lahan yang dimiliki masyarakat di kampung ini digunakan untuk bangunan rumah dan pekarangan. Sedangkan untuk kegiatan pertanian yang diusahakan beberapa masyarakat ada yang berada di luar kawasan. Mereka yang melakukan kegiatan pertanian memiliki kebun di daerah Susweni maupun di daerah Sowi.

Bentuk bangunan yang dimiliki oleh masyarakat di kampung Brawijaya adalah permanen dan semi permanen. Sedangkan untuk rumah kaki seribu yang merupakan rumah khas masyarakat Arfak tidak ditemui lagi di kampung ini. Mata pencaharian utama masyarakat di kampung ini adalah pada sektor jasa dan pemerintahan, dimana rata-rata mereka bekerja sebagai PNS, TNI/Polri, membuka kios, warung makan, bengkel, ojek dan pertukangan.

Dokumen terkait