HASIL DAN PEMBAHASAN
5. Luas Pertumbuhan Koloni G. boninense
Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa toksin trichodermin berpengaruh sangat nyata terhadap luas pertumbuhan koloni G. boninense. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1 (Lampiran 3-5).
Tabel 1. Uji beda rataan luas pertumbuhan koloni pada 1 – 4hsi (cm2)
Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom menyatakan tidak berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5%.
hsi = hari setelah inokulasi
Tabel 1 menunjukkan bahwa luas pertumbuhan koloni G. boninense tertinggi (55.129 cm2) pada 10 hsi terdapat pada perlakuan T01
(tanpa toksin dan tanpa fungisida). Sedangkan luas pertumbuhan koloni G. boninense terendah (33.916 cm2) terdapat pada TX-1 (Trichodermin 10-1).
Kemampuan trichodermin menghambat pertumbuhan G. boninense dapat dilihat dari terhambatnya luas pertumbuhan G. boninense secara in vitro, ini membuktikan bahwa trichodermin merupakan toksin atau senyawa racun (antibiotik) yang dihasilkan oleh agen antagonis yang dapat menekan atau menghambat pertumbuhan patogen. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Wahyudi (2011) yang menyatakan bahwa trichoderma menghasilkan antibiotik yang termasuk kelompok furanon yang dapat menghambat pertumbuhan spora
Perlakuan Pengamatan
1 hsi 2 hsi 3 hsi 4 hsi
T01 3.539 24.806a 48.161a 55.129a
T02 1.815 12.793bc 35.730bc 48.469bc
TX-1 0.925 10.470c 25.151c 33.916c
TX-2 2.867 11.523c 30.395c 38.343c
dan hifa mikroba patogen dan menghasilkan toksin trichodermin., sehingga toksin dapat menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora pathogen disekitarnya.
Berdasarkan hasil uji beda rataan diketahui bahwa luas pertumbuhan pada perlakuan T02 (diberi fungisida heksakonazol 200 ppm) berbeda nyata dengan luas pertumbuhan koloni pada perlakuan T01 (tanpa toksin dan tanpa fungisida). Ini menunjukkan bahwa heksakonazol dapat menghambat pertumbuhan G. boninense. Hal ini disebabkan heksakonazol sebagai fungisida sistemik menghasilkan racun yang dapat mengganggu metabolisme di dalam sel jamur G. boninense. Sesuai dengan hasil penelitian Nordkanalstr (2009) menyatakan bahwa fungisida spektrum luas yang menghambat biosintesis ergosterol.
2. Persentase Percepatan Tumbuh
Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa trichodermin berpengaruh terhadap rataan persentase percepatan tumbuh G. boninense. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2 (Lampiran 6-9).
Tabel 2. Uji beda rataan persentase percepatan tumbuh pada 1 – 4 hsi (%) Perlakuan Pengamatan
2 hsi 3 hsi 4 hsi
T02 96.428a 67.960a 64.883abcd
TX-1 76.053bc 57.823abc 86.066ab TX-2 81.058ab 42.587bcd 84.055abc TX-3 73.453bcd 60.483ab 88.848a
Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom menyatakan tidak berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5%. hsi = hari setelah inokulasi
Dari data pengamatan 4 hsi menunjukkan bahwa perlakuan TX-3 memperkecil percepatan tumbuh G. boninense. Hal ini disebabkan trichodermin merupakan senyawa racun terhadap jamur patogen. Sesuai dengan penelitian Chen et.al (2008) dinyatakan bahwa jamur endofit trichoderma dapat menghasilkan suatu senyawa aktif untuk.
Dari hasil pengamatan pada Tabel 2 terlihat perbedaan persentase percepatan tumbuh antara perlakuan T02 (diberi fungisida heksakonazol 200 ppm), TX-1 (Trichodermin 10-1), TX-2 (Trichodermin 10-2), dan TX-3 (Trichodermin 10-3). Tidak terlihat perbedaan nyata akibat perbedaan konsentrasi pada perlakuan TX-1 (Trichodermin 10-1), TX-2 (Trichodermin 10-2) dengan T02 (diberi fungisida heksakonazol 200 ppm), tetapi berbeda nyata pada TX-3 (Trichodermin 10-3). Hal ini disebabkan adanya perbedaan kepekatan toksin. Pemberian toksin trichodermin yang tepat yang dapat mempengaruhi percepatan tumbuh G. boninense. Semakin pekat toksin maka percepatan tumbuh jamur pathogen semakin kecil. Semakin encer toksin maka percepatan tumbuh pathogen semakin besar.
3. Persentase Penghambatan
Analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa persentase penghambatan yang ditimbulkan oleh trichodermin terhadap G. boninense terdapat perbedaan pada tingkat konsentrasi. Hasil uji beda rataan persentase penghambatan dapat dilihat pada Tabel 3 (Lampiran 10-13).
Tabel 3. Uji beda rataan persentase penghambatan pada 1 – 4hsi (%) Perlakuan Pengamatan
T02 3.573d 35.118a 32.040abcd
TX-1 23.948a 13.945abc 42.178a
TX-2 18.943abc 15.945a 65.560a
TX-3 26.548a 11.153d 39.725a
Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom menyatakan tidak berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5%.
hsi = hari setelah inokulasi
Hasil pengamatan diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara perlakuan T02 (diberi fungisida heksakonazol 200 ppm) dengan perlakuan TX-3 (Trichodermin 10-3). Ini menunjukkan bahwa heksakonazol sebagai fungisida sistemik mampu menetralisasi enzim atau toksin yang terkait dalam invasi dan kolonisasi jamur. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Djunaedy (2008) yang menyatakan bahwa menghambat system enzim jamur, terjadinya presipitasi kimia, terjadinya antimetabolisme dan mempengaruhi sintesis asam nukleat dan protein.
Persentase penghambatan pertumbuhan G. boninense pada TX-1 (Trichodermin 10-1), TX-2 (Trichodermin 10-2), dan TX-3 (Trichodermin 10-3) menunjukkan perbedaan dengan T02 (diberi fungisida heksakonazol 200 ppm). Dikarenakan Trichodermin merupakan senyawa racun yang dapat menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Wahyudi (2011) yang menyatakan bahwa toksin yaitu Trichoderma viridae menghasilkan antibiotik gliotoksin dan viridin yang dapat melindungi bibit tanaman dari serangan penyakit rebah kecambah. Jamur T. harzianum dalam menekan pertumbuhan patogen mampu memproduksi senyawa racun (antibiotik) berupa trichodermin, trichodermol dan chrysophanol yang dapat menyebabkan lisis pada hifa jamur lain.
4. Perbandingan Percepatan Tumbuh
Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa toksin trichodermin berpengaruh sangat nyata terhadap perbandingan percepatan tumbuh G. boninense. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4 (Lampiran 32).
Tabel 4. Uji beda rataan perbandingan percepatan tumbuh pada 4 hsi (cm) Perlakuan Pengamatan 4 hsi
T01 1a
T02 0.928e
TX-1 0.925cd
TX-2 0.967ab
TX-3 0.950bc
Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom menyatakan tidak berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5%.
hsi = hari setelah inokulasi
Tabel 4 menunjukkan bahwa perbandingan percepatan tumbuh G. boninense tertinggi (1 cm) terdapat pada perlakuan T01 (tanpa toksin dan tanpa
fungisida). Sedangkan perbandingan percepatan tumbuh G. boninense terendah (0,925 cm) terdapat pada TX-1 (Trichodermin 10-1).
Kemampuan trichodermin memperkecil percepatan tumbuh jamur patogen menunjukkan bahwa G. boninense tertekan pertumbuhaanya, karena trichodermin mengeluarkan enzim yang mampu merombak dinding sel mikroba patogen, sehingga patogen mati. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian PPPTP (2011) menyatakan bahwa mekanisme kerja jamur trichodermin aktivitas antagonis yang dimaksud dapat meliputi persaingan, parasitisme, predasi, atau pembentukkan toksin seperti antibiotik. Sehingga dapat menghambat bahkan mematikan patogen lain.
Penghambatan pertumbuhan G. boninense oleh fungisida heksakonazol dikarenakan fungisida ini menghasilkan senyawa kimia yang bersifat toksik terhadap jamur patogen. Fungisida heksakonazol mampu mentransfer energi dengan cepat sehingga dapat mengganggu kerja enzim dan menurunkan fungsi haustoria. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Djunaedy (2008) yang menyatakan bahwa mekanisme kerja fungisida sistemik salah satunya dengan penghambatan sistem enzim jamur, sehingga mengganggu terbentuknya buluh kecambah, apresorium dan haostorium.