• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.4. Faktor-Faktor Sosial Ekonomi

2.4.5. Luas Usaha/Lahan

Luas usaha merupakan sesuatu yang sangat penting dalam proses produksi ataupun usahatani dan usaha pertanian. Dalam usahatani misalnya pemilikan atau

penguasaan lahan sempit sudah pasti kurang efisien dibanding lahan yang lebih luas. Semakin sempit lahan usaha, semakin tidak efisisien usahatani yang dilakukan kecuali bila usahatani dijalankan dengan tertib. Luas lahan kepemilikan atau penguasaan berhubungan dengan efisiensi usahatani. Penggunaan masukan akan semakin efisien bila luas lahan yang dikuasai semakin besar.

Luasnya lahan mengakibatkan upaya melakukan tindakan yang mengarah pada segi efisiensi akan berkurang karena hal berikut :

a. Lemahnya pengawasan pada faktor produksi seperti bibit, pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja.

b. Terbatasnya persediaan tenaga kerja disekitar daerah itu yang pada akhirnya akan mempengauhi efisiensi usaha pertanian tersebut.

c. Terbatasnya persediaan modal untuk membiayai usaha pertanian dalam skala luas tersebut (Daniel, 2002).

Disamping perluasan usaha dapat dicerminkan oleh peningkatan hasil produksi, Menurut Bungaran Saragih (1982) dapat dihubungkan dengan biaya produksi rata-rata. Karena Skala usaha (return to scale) menunjukkan hubungan antara biaya produksi rata-rata dengan perubahan dalam ukuran (size) usaha. Jadi bila luas usaha bertambah, tetap atau berkurang gilirannya dapat pula dicerminkan bahwa perluasan usaha tersebut diikuti oleh biaya produksi rata-rata yang menurun, tetap atau bertambah. Dengan demikian peningkatan efisiensi dan atau pemaksimuman keuntungan (profit) suatu usaha perorangan ataupun industri dapat dicari dengan dua cara. Pertama, pengusaha berupaya memaksimumkan hasil produksi (out put) dengan biaya (cost) tertentu (given) atau diistilahkan dengan “Constraid output maximization”. Kedua, pengusaha dalam

14

meminimumkan biaya produksi dengan tingkat output tertentu diistilahkan dengan dengan “constraid cost minimization”. Jadi peningkatan efisiensi ini berkait erat dengan kemampuan pengusaha dalam meminimasi biaya input dan memaksimisasi tingkat output. terdiri dari pedagang pengumpul dan bersih pedagang lebih tinggi dari Upah

Nilai signifikansi >α yaitu 0,0013 >

0,05.Berdasarkan Uji t variabel yang berpengaruh secara nyata secara parsial terhadap hasil laut adalah variabel biaya.

Berdasarkan Uji R-square di dapat bahwa adanya pengaruh sebesar 43,2%

terhadap variabel

terikat.

4. Beberapa hambatan atau kendala yang dihadapi pedagang hasil laut adalah merupakan sepinya pelanggan pada hari biasa, ikan merupakan komoditi yang mudah busuk sehingga beresiko tinggi bagi pedagang dan adanya biaya pemasaran yang tinggi dikarenakan tata niaga yang kurang efisien.

16

1.Teknologi dan jarak tempuh berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan nelayan di Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.

Modal, jumlah tenaga kerja, pengalaman kerja, harga jual, tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan nelayan.

2.Program pemerintah yang ada di Desa Percut untuk meningkatkan pendapatan nelayan adalah Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Perikanan Tangkap (PUMP PT).

3.Dari 10 sampel nelayan yang tidak mendapatkan program PUMP, 9 nelayan atau 90

% memiliki persepsinegatif dan 1 nelayan (10%) memiliki persepsi positif terhadap PUMP, Sedangkan

!) nelayan yang mendapat program PUMP, & nelayan (70%) memiliki persepsi positif terhadap program PUMP, dan 3 nelayan (30%) memiliki persepsi negatif terhadap program PUMP, Secara keseluruhan, Nelayan di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan memiliki persepsi negatif terhadap program PUMP. tempuh berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan nelayan di Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.

Modal, jumlah tenaga kerja, pengalaman kerja, harga

Lanjutan Tabel 1. Penelitian Terdahulu

17

jual, tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan nelayan.

2.Program pemerintah yang ada di Desa Percut untuk meningkatkan pendapatan nelayan adalah Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Perikanan Tangkap (PUMP PT).

3.Dari 10 sampel nelayan yang tidak mendapatkan program PUMP, 9 nelayan atau 90

% memiliki persepsinegatif dan 1 nelayan (10%) memiliki persepsi positif terhadap PUMP, Sedangkan

!) nelayan yang mendapat program PUMP, & nelayan (70%) memiliki persepsi positif terhadap program PUMP, dan 3 nelayan (30%) memiliki persepsi negatif terhadap program PUMP, Secara keseluruhan, Nelayan di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan memiliki persepsi negatif terhadap program PUMP. menggunakan model CIPP (context, input, process, product) bahwa pelaksanaan kegiatan penunjang agribisnis didaerah penelitian diperoleh sebesar 89,24%.

Artinya pelaksanaan kegiatan penunjang agribisnis didaerah penelitian sudah berjalan dengan baik.

2.Hasil analisis linear berganda diperoleh koefisien determinasi sebesar 0,469.

Koefisien deteminasi tersebut menunjukkan informasi bahwa 46,9%

pendapatan usahatani padi sawah telah dapat dijelaskan oleh variabel “bantuan input produksi, kredit usahtani dalam usaha PUAP, frekuensi mengikuti penyuluhan dan pupuk bersubsidi” atau dengan kata lain sebesar 46,9% keempat variabel tersebut mempengaruhi pendapatan usahatani sebsar 46,9 % dan sisanya sebesar 53,1 % dipengaruhi oleh variabel lain.

3.Berdasarkan uji signifikan simultan (uji F-statistik)

Lanjutan tabel 1. Penelitian Terdahulu

17

usahatani

secara serempak kegiatan penunjang agribisnis yaitu : bantuan input produksi, kredit usahatani dalam PUAP, frekuensi mengikuti penyuluhan dan pupuk bersubsidi memiliki pengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani padi sawah.

4.Berdasarkan uji signifikansi parameter individual (uji t-statistik) secara parsial variabel bebas yaitu : pupuk bersubsudi berpengauh nyata terhadap pedapatan usahatnai padi sawah, sedangkan pada variabel bebas bantuan input produksi, kredit usahtani dalam PUAP, frekuensi mengikuti penyuluhan tidak berpengaruh nyata terhadap pendaptan usahatani padi sawah.

5.Ada perbedaan yang nyata pada pendapatan usahatani padi sawah sebelum ada kegiatan penunjang agribisnis dan sesudah adanya kegiatan penunjang agribisnis.

6.Masalah-masalah yang dihadapi petani padi sawah dalan kegiatan penunjang agribisnis didaerah penelitian adalah :

-Petani tidak mendapatkan bantuan input produksi dari pemerintah secara merata

-Petani menggunakan dana pribadi untuk memenuhi kebutuhan input produksi dalam melancarkan kegiatan usahataniinya.

-Gapoktan akan melakukan sistem bergulir dalam peminjaman dana PUAP.

1.Ada perbedaan antara produktifitas petani sebelum menjadi anggota kelompok tani

dengan sesudah menjadi anggota kelompok tani.

Dimana produktifitas petani

Sosial

padi sawah sebelum menjadi anggota kelompok tani lebih rendah dibanding

produktifitas petani padi sawah sesudah menjadi anggota kelompok tani.

2.Pengeluaran untuk tiap jenis pola konsumsi pangan sebelum menjadi anggota kelompok tani lebih rendah yaitu Rp 354.986 dari pada pengeluaran untuk tiap jenis pola konsumsi pangan sesudah menjadi anggota kelompok tani yaitu Rp 521.588,3. Sedangkan rata -rata untuk pengeluaran tiap jenis pola konsumsi non pangan sebelum menjadi anggota kelompok tani lebih rendah yaitu sebesar Rp581.033,3 dari pada rata -rata pengeluaran untuk tiap jenis pola konsumsi non pangan sesudah menjadi anggota kelompok tani yaitu sebesar Rp 967.600. Ada perbedaan perubahan pola konsumsi petani sebelum dan sesudah menjadi anggota kelompok tani

Dokumen terkait