(Kasus: Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara)
SKRIPSI
OLEH :
NURHAJIJAH TANJUNG 110304067
AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
Nurhajijah Tanjung (110304067) dengan judul “ Analisis Pengaruh Bantuan Pemerintah Dalam Usaha Kecil Hasil Olahan Laut Terhadap Pendapatan”
di Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara dibawah bimbingan Bapak Dr.Ir.Bgd.H.Hasman Hasyim,Mdl,M.Si sebagai ketua komisi pembimbing dan Bapak Ir.Sinar Indra Kesuma, M.Si Sebagai anggota komisi pembimbing.
Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan bantuan program pemerintah dalam usaha kecil hasil olahan laut terhadap pendapatan di Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara dan menganalisis pengaruh karakteristik sosial ekonomi terhadap pendapatan dalam usaha kecil hasil olahan laut di Kota Sibolga.
Metode Penelitian daerah ditentukan secara sengaja (purposive sampling), Metode pengumpulan data terdiri data primer dan data sekunder, Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif, metode regresi linier berganda dan uji beda rata – rata (compare means) dengan menggunakan alat bantu SPSS 22.00
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada usaha kecil hasil olahan laut di Kota Sibolga mulai berkembang setelah adanya program bantuan diberikan pemerintah yang berpengaruh signifikan pada usaha kecil hasil olahan laut terhadap pendapatan yang berada Di Kota Sibolga dan merupakan variabel yang dominan mempengaruhi pendapatan usaha kecil hasil olahan laut dengan melihat nilai taraf signifikansi lebih kecil dari signifikansi 0,05. Pengaruh karakteristik sosial ekonomi pengusaha kecil hasil olahan laut juga berpengaruh nyata secara serempak terhadap pendapatan. Lama usaha, jumlah tanggungan keluarga, luas/lahan usaha berpengaruh nyata secara parsial terhadap pendapatan dengan melihat pengaruh yang signifikan pada usaha kecil hasil olahan laut terhadap pendapatan dengan nilai signifikansi lebih kecil dari nilai taraf signifikansi 0,05.
Secara parsial variabel bebas adalah bantuan pemerintah berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.
Kata kunci : Bantuan pemerintah, Karakteristik sosial ekonomi, dan Pendapatan
Nurhajijah Tanjung (110304067) with the thesis of title is “ Analysis the effect of government assistance in small businesses processed by the sea on income in the city of Sibolga North Sumatera ” the guidance of Bapak Dr.Ir.Bgd.H.
Hasman Hasyim, Mdl, M.Si a chairman of the commission supervising and Bapak Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si as the supervising commission members.
The research purpose was conducted to analyze the assistance of goverment programs in small processed marine product to income in the city of Sibolga North Sumatera province and to analyze the influence of the socio economic character of income on small processed marine product in city Sibolga.
The regional research methods area determined intentionally (purposive sampling), data collection methods consist of primary data and secondary data, the analytical methods used in this study are the descriptive analysis method, multiple linier regression methods and the average difference test (compare means) by using the tool SPSS 22.00
The result of this study indicates that the small processed marine products in Sibolga City began to develop after the assitance program provided by the government has a significant effect on small –scalle processed marine products on the revenue in Kota Sibolga and is the dominant variable affeting the processed small – business revenue sea by looking at the value of the significance level smaller than significance of 0,05. Partially the independent variable is goverment assistance that has a significant effect on the dependent variable.
Keywords : Government assistance, Sosio economic characteristics, and income
Nurhajijah Tanjung, lahir di Sibolga pada tanggal 10 Agustus 1993. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Hulmansyah Tanjung (Alm) dan ibu Derliana Lubis.
Pendidikan Formal yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut : 1. Tahun 1999 masuk SD Negeri 087084 Sibolga lulus tahun 2005
2. Tahun 2005 masuk SMP Negeri 6 Sibolga lulus tahun 2008
3. Tahun 2008 masuk SMA Negeri 2 Sibolga lulus tahun 2011
4. Tahun 2011 menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
5. Mengikuti Prakterk kerja Lapangan (PKL) di Desa Silaubuttu Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara Agustus 2015 – September 2015.
6. Melaksanakan Penelitian Di Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara pada bulan agustus 2018.
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia – Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Judul Skripsi ini adalah “ Analisis Pengaruh Bantuan Pemerintah Dalam Usaha Kecil Hasil Olahan Laut Terhadap Pendapatan “ (Kasus : Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara). Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pembuatan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa dukungan, motivasi, bimbingan, dan pengarahan, serta kritikan membangun yang disampaikan kepada Penulis.
Untuk itu dalam kesempatan ini dengan setulus hati, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada :
1. Bapak Dr.Ir.Bgd.H.Hasman Hasyim, Mdl,M.Si selaku ketua komisi pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengajari penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
2. Bapak Ir.Sinar Indra Kesuma, M.si selaku anggota komisi pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing , mengajari dan membantu penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.
3. Bapak Ir. M. Jufri, M.Si selaku anggota komisi pembimbing pada sidang meja hijau.
4. Bapak Ir. Thomson Sebayang, MT Selaku anggota komisi pembimbing pada sidang meja hijau.
5. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, MEc dan Bapak Ir. M. Jufri, M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
kegiatan perkuliahan dan kegiatan lainnya.
7. Orangtua tercinta Ayahanda Hulmansyah Tanjung (Alm) dan Ibunda Derliana Lubis yang selalu mendoakan dan memberi semangat dalam menjalani perkuliahan.
8. Abangda Ali Usman Tanjung dan Adinda Patimah Meliana yang selalu menjadi penyemangat dalam menjalani perkuliahan .
9. Teman – teman Agribisnis Angkatan 2011, Khususnya Indah Situmorang SP, SH, Irmalia Sutanti SP, Yuni Pratimi SP terima kasih yang setulusnya penulis ucapkan yang telah banyak memberi dukungan dan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung.
10. Sahabat – sahabat tercinta Fadhilla Dzikra,Asri Putri,Desi Ratnayanti,Aisyah Andriany,Melda Irwana,Puli anggraini yang telah memberikan dukungan sehingga penulis berhasil memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua, Aamiin yaa rabbal ` aalamiin.
Medan, Agustus 2019
Penulis
ABSTRAK... i
RIWAYAT HIDUP... ii
KATA PENGANTAR... iii
DAFTAR ISI... v
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR... viii
DAFTAR LAMPIRAN... ix
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1Latar Belakang... 1
1.2 Identifikasi Masalah...3
1.3 Tujuan Penelitian... 4
1.4 Kegunaan Penelitian... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 5
2.1 Hasil Olahan Laut...6
2.2 Bantuan Pemerintah... 6
2.1.1 Pemasaran...6
2.1.2 Pelatihan...7
2.1.3 Peralatan ...7
2.3 Landasan Teori ... 8
2.3.1 Produksi...8
2.3.2 Pendapatan...9
2.4 Faktor – faktor Sosial Ekonomi... 9
2.4.1 Umur...9
2.4.2 Lamanya Usaha...10
2.4.3 Jumlah Tanggungan Keluarga...11
2.4.4 Luas Usaha...12
2.5 Penelitian Terdahulu... 13
2.6 Kerangka Pemikiran... 18
2.7 Hipotesis Penelitian... 20
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian... 21
3.2 Metode PenentuanSampel... 21
3.6 Batasan Oprasional...27
BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian ...28
4.1.1 Luas Wilayah dan Letak Geografis...28
4.1.2 Keadaan Penduduk...29
4.1.3 Karakteristik Pengusaha Kecil...29
4.1.3.1 Umur...30
4.1.3.2 Lama Usaha...30
4.1.3.3 Jumlah Tanggungan Keluarga...31
4.1.3.4 Luas Usaha...32
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengaruh Bantuan Pemerintah...35
5.2 Pengaruh Karakteristik Sosial Ekonomi...38
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan... ...51
6.2 Saran...51
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
vii
No Uraian Hal
2.1 Penelitian Terdahulu 13
4.1 Umur Pengusaha Kecil Hasil Olahan Laut 30 4.2 Lamanya Berusaha Pengusaha Kecil Hasil Olahan Laut 31
4.3 Jumlah Tanggungan Keluarga 31
4.4 Luas Lahan Usaha Responden 32
5.1 Uji Asumsi Normalitas dengan Menggunakan Uji 36
Kolmogorov – Smirnov Test (OS –KS)
5.2 Nilai Tolerance dan VIF Pengusaha Hasil Olahan Laut 37
5.3 Persamaan Analisis Regresi Linier Berganda 39
5.4 Analisis Uji t (Uji Parsial) 42
5.5 Uji t (Uji Parsial) Variabel Dominan 44
5.6 Uji F (Secara Simultan) 45
viii
Nomor Judul Halaman
1. Skema Kerangka Pemikiran 20
2. Pengujian Heteroskedastisitas 38
ix
No Judul
1 Kuisioner Pengaruh Bantuan Pemerintah Dalam Usaha Kecil Hasil Olahan Laut Terhadap Pendapatan
2 Hasil Analisis Pengaruh Bantuan Pemerintah Dalam Usaha Kecil Hasil Olahan Laut Terhadap Pendapatan
x
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki wilayah perairan laut terluas didunia. Luas wilayah Indonesia pada dasarnya menyimpan berbagai sumber daya alam yang dapat dijadikan modal pembangunan nasional. Karena itu, berbagai kegiatan ekonomi yang berbasis kelautan dapat dikembangkan, dalam rangka membangun masyarakat indonesia yang sejahtera. Kondisi ini merupakan anugerah yang sangat besar bagi pembangunan sektor kelautan dan perikanan.
Indonesia merupakan negara maritim dengan luas lautan mencapai 5,8 juta km yang terdiri dari perairan teritorial, perairan laut 12 mil dengan perairan ZEE (Perairan Zona Ekonomi Eksklusif) indonesia. Indonesia juga memiliki 17.504 buah dengan panjang garis pantai 104.000 km (Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), 2013).
Sesuai dengan letak geografis dan potensi alamnya, pengembangan perikanannya diarahkan kepada pengembangan penangkapan ikan, budidaya laut, pengolahan perikanan. Sebagai salah satu daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara, yang terletak di tepi pantai dan berhadapan dengan Samudera Indonesia memprioritaskan pembangunan ekonominya dari subsektor perikanan.
Pembangunan subsektor perikanan ini lebih difokuskan dengan melakukan pengembangan terhadap pengolahan ikan yang memberikan nilai tambah optimal kepada nelayan masyarakat, yakni dengan meningkatkan keterampilan terutama kepada kelompok-kelompok binaan pengolahan ikan dan bantuan teknologi serta Bantuan Pemerintah
Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor ekonomi yang memiliki peranan dalam pembangunan ekonomi nasional, khususnya dalam penyediaan bahan pangan protein, perolehan devisa, dan penyediaan lapangan kerja. Pada saat krisis ekonomi, peranan sektor perikanan semakin signifikan, terutama dalam hal mendatangkan devisa. Akan tetapi ironisnya, sektor perikanan selama ini belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah dan kalangan pengusaha, padahal bila sektor perikanan dikelola secara serius akan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pembangunan ekonomi nasional serta dapat mengentaskan kemiskinan masyarakat indonesia terutama masyarakat nelayan dan petani ikan (Mulyadi, 2005).
Untuk menunjang hal tersebut, maka dilakukan pemberdayaan masyarakat melalui kelompok binaan bahan hasil olahan laut yang berada dibawah naungan pemerintah. Hal ini disebabkan karena wilayah kota sibolga terletak di tepi pantai yang kaya dengan ikan. Demikian juga halnya dengan bidang industri pengolahan, pemasaran, dan fasilitas penunjang lainnya perlu diberdayakan dan ditingkatkan peranannya.
Sebagai sebuah sistem dari keseluruhan potensi laut yang ada tersebut, bidang perikanan dapat dijadikan sebagai indikator yang baik bagi pengelolaan laut. Dikarenakan disektor tersebut terdapat sumber daya ikan yang sangat besar.
Sehingga perikanan sebagai salah satu SDA yang mempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan perekonomian nasional terutama dalam meningkatkan perluasan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan taraf hidup bangsa pada umumnya, nelayan kecil, pembudidaya ikan kecil dan pihak-pihak
pelaku usaha dibidang perikanan dengan tetap memeliraha dengan lingkungan, kelestarian dan ketersediaan sumber daya (Danuri, 2009).
Adapun manfaat pantai bagi kehidupan manusia terutama didaerah tropis pantai dapat dimanfaatkan sebagai :
1. Areal tambak garam.
2. Daerah pertanian pasang surut.
3. Wilayah perkebunan kelapa dan pisang.
4. Objek pariwisata.
5. Lapangan pekerjaan.
Pengembangan sektor kelautan dan perikanan berjalan lambat, karena kebijakan pembangunan lebih berorientasi kepada pengembangan kegiatan didarat dibandingkan dikawasan pesisir laut. Sehingga eksploitasi dan eksploirasi sumber daya pesisir dan kelautan terabaikan, dan sebagian besar masyarakat pesisir yang bekerja sebagai nelayan masih hidup dibawah garis kemiskinan (Serdiati, 2002).
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh bantuan program pemerintah pada usaha kecil hasil olahan laut terhadap pendapatan di Kota Sibolga ?
2. Bagaimana Pengaruh karakteristik sosial ekonomi pada usaha kecil hasil olahan terhadap pendapatan laut di Kota Sibolga ?
1.3. Tujuan penelitian Tujuan penelitian adalah :
1. Untuk menjelaskan pengaruh bantuan pemerintah pada usaha kecil hasil olahan laut terhadap pendapatan di Kota Sibolga
2. Untuk menganalisis pengaruh karakteristik sosial ekononomi pada usaha kecil hasil olahan laut terhadap pendapatan di Kota Sibolga
1.4. Kegunaan Penelitian Kegunaan Penelitian ini adalah :
1. Sebagai informasi bagi pengusaha kecil demi meningkatkan pendapatan.
2. Sebagai bahan atau masukan dari pemerintah dan lembaga-lembaga terkait dalam pengadaan kebijakan untuk program peningkatan pendapatan.
3. Sebagai bahan informasi untuk penelitian selanjutunya yang berhubungan dengan program peningkatan pendapatan pengusaha kecil hasil olahan laut.
2.1. Hasil Olahan Laut
Hasil Olahan Laut atau lebih detailnya misalnya seperti ikan, merupakan jenis makanan sehat yang rendah lemak jenuh, tinggi protein, dan merupakan sumber penting asam lemak omega 3. Ikan baik untuk tambahan diet karena kaya akan vitamin, mineral, dan nutrisi yang dibutuhkan agar tubuh tetap sehat. Orang yang sering makan ikan cenderung mengkomsumsi lebih sedikit daging dan keju.
Beberapa cara sehat untuk memasukkan ikan dalam program diet anda diantaranya bisa dengan cara dipanggang, rebus, an dikukus, dengan manfaat kesehatan yang kompleks. Komsumsi makanan merupakan salah satu faktor yang secara langsung berpengaruh terhadap status gizi seseorang, keluarga dan masyarakat. Rendahnya konsumsi pangan atau kurang seimbangnya masukan zat- zat gizi dari makanan yang dikonsumsi mengakibatkan terlambatnya pertumbuhan organ-organ dan jaringan tubuh, terjadinya penyakit dan atau lemahnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit serta menurunnya kemampuan kerja.
Timbulnya kurang energi protein tidak hanya disebabkan makanan yang kurang, tetapi juga karena penyakit. Anak yang mendapatkan makanan yang cukup baik, tetapi sering diserang diare atau demam pada akhirnya dapat menderita kurang energi protein. Sebaliknya anak yang sering makan tidak cukup baik daya tahan tubuhnya dapat melemah. Dalam keadaan demikian anak tersebut mudah diserang infeksi, kurang nafsu makan, dan akhirnya mudah terkena kurang energi protein (Soekirman, 1999).
Peranan Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam perekonomian Indonesia sudah terlihat besar sejak dulu, namun dengan adanya krisis ekonomi yang melanda dunia, yang juga berimbas ke Indonesia, UKM semakin menunjukkan betapa penting keberadaan mereka sebagai pilar penopang perekonomian Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa persentase jumlah UKM dibandingkan total semua unit usaha pada tahun 2001 adalah 99,90, kemudian pada tahun yang sama, jumlah tenaga kerja yang diserap oleh sektor ini (UKM) mencapai 99,4% dari total angkatan kerja, demikian juga sumbangannya pada Produk Domestik Bruto (PDB), lebih dari separuh ekonomi kita (59,3%) didukung oleh produksi UKM.
Peranan dari UKM yang sangat sentral dalam perekonomian Indonesia ternyata tidak dibarengi dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang maksimal kepada mereka, yang paling mendasar dapat dilihat dari definisi yang berbeda dengan tentang UKM oleh masing-masing instansi pemerintahan, padahal UKM sendiri masih memiliki banyak permasalahan yang perlu dapat penanganan seperti mengatasi akses ke kredit bank maupun sumber permodalan lain dan akses pasar.
Selain itu organisasi, manajemen, maupun penguasaan teknologi juga perlu pembenahan, dan masih banyak permasalahan yang dihadapi UKM, membuat kemampuan UKM berkiprah dalam perekonomian nasional tidak maksimal.
2.2 Bantuan Pemerintah 2.2.1. Pemasaran
Pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran dengan merencanakan, menenutkan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang
dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial. Pemasaran juga dianggap sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat pencipta dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain (Philip, 2008)
2.2.2. Pelatihan
Pelatihan adalah suatu kegiatan untuk mencapai kemampuan kerja seseorang dalam kaitannya dengan ekonomi. Tujuan pelatihan adalah untuk membantu seseorang dalam memahami suatu pengetahuan praktis dan penerapannya, guna meningkatkan keterampilan, kecakapan sikap yang diperlukan oleh organisasi guna mencapai tujuan dengan lebih efisien dan efektif (Heidjrachman, 1996).
Pelatihan juga berhubungan dengan penambahan pengetahuan dan kecakapan untuk melaksanakan suatu jenis pekerjaan tertentuyang mana sangat tergantung dari organisasi atau kelompok usaha didalam mana jenis pekerjaan itu didapat dengan kesimpulan pelatihan sangat berguna untuk mengembangkan keahlian sehingga pekerjaan dapat lebih cepat dan efektif.
2.2.3. Peralatan
Peralatan adalah suatu alat ataupun benda bisa berbentuk tempat yang gunanya adalah untuk mengerjakan sesuatu untuk mempermudah pekerjaan dan mendukung berjalannya suatu usaha. Peralatan pada umumnya lebih tahan lama (masa manfaatnya atau masa pemakaiannya lebih dari 1 tahun) serta digunakan untuk pekerjaan atau kegiatan tertentu (Wibowo, 2018).
2.3. Landasan Teori 2.3.1. Produksi
Produksi adalah suatu proses merubah kombinasi sebagai input menjadi output. Pengertian produksi tidak hanya terbatas pada proses pembuatan saja
tetapi juga penyimpanan, distribusi, pengangkutan, pengemasan kembali hingga pemasaran hasilnya. Istilah produksi berlaku untuk barang maupun jasa. Bahkan sebenarnya perbedaan antar barang dan jasa itu sendiri, dari sudut pamdamg ekonomi sangat tipis. Keduanya sama – sama dihasilkan dengan mengerahkan modal dan tenaga kerja. Setiap produsen dalam melakukan kegiatan produksi diasumsikan dengan tujuan memaksimumkan keuntungan ( Pracoyo dan Antyo, 2006).
Dalam menunjang keberhasilan agribisnis, maka tersedianya bahan baku pertanian secara berkelanjutan dalam yang tepat sangat diperlukan. Tersedianya produksi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain macam komoditi (X1), luas lahan (X2), tenaga kerja (X3), modal (X$0, manajemen (X5), iklim (X6), dan faktor sosial ekonomi produsen (X7). Secara matematis pernyataan ini dapat ditulis sebagai berikut :
Y = f(X1 ,X2, X3, X4, X5, X6, X7)... (1)
Berdasarkan persamaan (1) maka dapat dilihat besar kecilnya produksi sangat tergantung dari peranan (X1) sampai (X7) dan faktor – faktor lain yang tidak terdapat dalam persamaan (1). Namun patut diperhitungkan bahwa besar kecilnya Y juga sangat dipengaruhi oleh kondisi setempat mengingat sifat
pertanian yang adaptasinya tergantung pada kondisi setempat (local spesific) (Soekartawi, 1993).
2.3.2. Pendapatan
Pada umumnya jika tingkat pendapatan naik, jumlah dan jenis makanan cenderung membaik juga, tingkat pendapatan yang nyata dari keluarga menentukan jumlah dan kualitas makanan yang diperoleh. Pada tingkat pendapatan yang rendah sumber energi utama diperoleh dari padi-padian, umbi- umbian dan sayur – sayuran ( Suhardjo, 2008).
Pendapatan rumah tangga sangat besar pengaruhya terhadap jumlah konsumsi. Biasanya makin baik (tinggi) tingkat pendapatan, jumlah konsumsi semakin tinggi, karena ketika tingkat pendapatan meningkat, kemampuan rumah tangga untuk membeli aneka kebutuhan konsumsi menjadi semakin besar atau mumgkin juga pola hidu makan konsumtif, setidak – tidaknya semakin menuntut kualitas yang baik. Contoh yang amat sederhana adalah jika pendapatan sang ayah masih sangat rendah, biasanya beras yang dipilih untuk konsumsi juga beras kelas rendah/menengah (Khoirina, 2011).
2.4. Faktor-Faktor Sosial Ekonomi
Ada beberapa karakteristik faktor sosial ekonomi yang diuraikan sebagai berikut:
2.4.1. Umur
Umur pada umumnya sangat berhubungan terhadap aktivitas sehari-hari.
Tenaga kerja dalam usia sangat produktif (22-65 tahun) memiliki potensi kerja dalam usia sangat produksi (Anonimous, 1991).
Umur seseorang menentukan prestasi kerja atau kinerja orang tersebut.
Semakin berat pekerjaan fisik maka semakin tua tenaga kerja akan semakin turun
pula prestasinya. Namun, dalam hal tanggung jawab semakin tua umur tenaga kerja maka semakin semakin berpengalaman (Suratiyah, 2009).
Umur adalah salah satu faktor yang berkaitan erat dengan kenanpuan kerja dalam melaksanakan kegiatan usaha, umur dapat dijadikan tolak ukur dalam melakukan aktivitas seseorang dalam bekerja bilamana dalam kondisi umur yang masih produktif maka kemungkinan besar seseorag dapat bekerja dengan baik dan maksimal.
2.4.2. Pendidikan Formal
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup. Arti penting pendidikan semakin terasa, terutama dalam menghadapi era globalisasi dan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Pendidikan merupakan salah satu syarat utama guna masuk kepasar kerja dan menciptakan SDM yang handal, oleh karena itu pendidikan masyarakat harus ditingkatkan sehingga kulaitas penduduk dapat meningkat (Amnesi, 2013).
Pendidikan sangat berhubungan dengan perilaku seorang pengusaha.
Tetapi apabila ini terlalu ditekankan, maka akan dapat menyebabkan kesulitan dikemudian harinya. Karena seorang pengusaha yang memiliki pendidikan yang tinggi belum tentu memiliki kemampuan bertani yang baik (Suhardiyono, 1992).
Banyaknya atau lamanya sekolah/pendidikan yang diterima seseorang akan berpengaruh terhadap kecakapan dalam pekerjaaan tertentu. Sudah tentu kecakapan tersebut akan mengakibatkan kemampuan yg lebih besar dalam menghasilkan pendapatan dalam rumah tangga. Tingkat pendidikan formal yang
dimiliki akan memajukan tingkat pengetahuan serta wawasan yang luas untuk menerapkan apa yang diperoleh untuk penigkatan usahanya. Pendidikan rendah mengakibatkan kurangnya pengetahuan dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia (Anonimous, 2013).
2.4.3. Lamanya Berusaha
Lamanya usaha merupakan lamanya pedagang berkarya pada usaha perdagangan yang sedang dijalan saat ini. Lamanya suatu usaha dapat menimbulkan pengalaman berusaha, dimana pengalam dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam bertingkah laku. Lama pembukaan usaha dapat mempengaruhi tingkat pendapatan, lama seseorang pelaku bisnis menekuni bidang usahanya akan mempengaruhi produktivitasnya (kemampuan profesionalnya/keahliannya), sehingga dapat menambah efisiensi dan mampu menekan biaya produksi lebih kecil daripada biaya penjualan. Semakn lama menekuni bidang usaha perdagangan akan meningkatkan pengetahuan tentang selera atatupun perilaku konsumen.
Pengalaman seseorang dalam berusaha berpengaruh dalam menerima inovasi dari luar. Bagi yang mempunyai pengalaman yang sudah cukup lama akan lebih mudah menerapkan inovasi daripada pemula (Soekartawi, 1999).
Pengalaman seseorang dalam bekerja menurut (Anonimous, 2013), berpengaruh dalam menerima inovasi dari luar. Lamanya bekerja untuk setiap orang berbeda-beda, oleh karena itu lamanya bekerja dapat dijadikan bahan pertimbangan agar tidak melakukan kesalahan yang sama sehingga dapat dilakukan hal yang baik untuk waktu berikutnya.
Lama waktu bekerja seseorang dipengaruhi oleh seseorang tersebut.
Seseorang yang tidak dalam keadaan cacat atau sakit secara normal mempunyai kemampuan untuk bekerja. Waktu maksimal seseorang bekerja selama 7 jam per hari (Suratiyah, 2009).
Pengalaman bekerja biasanya dihubungkan dengan lamanya seseorang bekerja dalam bidang tertentu ( misalnya lamanya seseorang bekerja sebagai pengusaha) hal ini disebabkan karena semakin lama orang tersebut bekerja, berarti pengalaman bekerjanya tinggi sehingga secara langsung akan mempengaruhi pendapatan (Suwita, 2011).
2.4.4. Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan merupakan beban yang harus dipikul atau ditanggung oleh nelayan dalam keluarga. Menurut Hasyim (2006). Jumlah tanggungan keluarga adalah salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan pendapatan demi memenuhi kebutuhannya. Banyak jumlah tanggungan keluarga akan mendorong pengusaha untuk melakukan banyak aktivitas terutama dalam mencari dan menambah pendapatan keluarganya.
Semakin banyak jumlah tanggungan keluarga berarti beban ekonomi yang ditanggung oleh keluarganya tersebut semakin berat. Kondisi ini memacu semangat perempuan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. (Amnesi, 2013).
2.4.5. Luas Usaha/Lahan
Luas usaha merupakan sesuatu yang sangat penting dalam proses produksi ataupun usahatani dan usaha pertanian. Dalam usahatani misalnya pemilikan atau
penguasaan lahan sempit sudah pasti kurang efisien dibanding lahan yang lebih luas. Semakin sempit lahan usaha, semakin tidak efisisien usahatani yang dilakukan kecuali bila usahatani dijalankan dengan tertib. Luas lahan kepemilikan atau penguasaan berhubungan dengan efisiensi usahatani. Penggunaan masukan akan semakin efisien bila luas lahan yang dikuasai semakin besar.
Luasnya lahan mengakibatkan upaya melakukan tindakan yang mengarah pada segi efisiensi akan berkurang karena hal berikut :
a. Lemahnya pengawasan pada faktor produksi seperti bibit, pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja.
b. Terbatasnya persediaan tenaga kerja disekitar daerah itu yang pada akhirnya akan mempengauhi efisiensi usaha pertanian tersebut.
c. Terbatasnya persediaan modal untuk membiayai usaha pertanian dalam skala luas tersebut (Daniel, 2002).
Disamping perluasan usaha dapat dicerminkan oleh peningkatan hasil produksi, Menurut Bungaran Saragih (1982) dapat dihubungkan dengan biaya produksi rata-rata. Karena Skala usaha (return to scale) menunjukkan hubungan antara biaya produksi rata-rata dengan perubahan dalam ukuran (size) usaha. Jadi bila luas usaha bertambah, tetap atau berkurang gilirannya dapat pula dicerminkan bahwa perluasan usaha tersebut diikuti oleh biaya produksi rata-rata yang menurun, tetap atau bertambah. Dengan demikian peningkatan efisiensi dan atau pemaksimuman keuntungan (profit) suatu usaha perorangan ataupun industri dapat dicari dengan dua cara. Pertama, pengusaha berupaya memaksimumkan hasil produksi (out put) dengan biaya (cost) tertentu (given) atau diistilahkan dengan “Constraid output maximization”. Kedua, pengusaha dalam
14
meminimumkan biaya produksi dengan tingkat output tertentu diistilahkan dengan dengan “constraid cost minimization”. Jadi peningkatan efisiensi ini berkait erat dengan kemampuan pengusaha dalam meminimasi biaya input dan memaksimisasi tingkat output.
2.5. Penelitian Terdahulu Tabel.1. Penelitian Terdahulu
N o.
Nama Peneliti
Nama Penelitian dan Judul Penelitian
Perumusan Masalah
Variabel Pengamatan
Metode Analisis
Kesimpulan
1. Juwita S Manullang (2015)
Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Terhadap Pendapatan Hasil Laut
1.Apa saja kegiatan pelelangan ikan di daerah penelitian ? 2.Berapa pendapatan pedagang hasil laut di daerah penelitian ? 3.Bagaiman a pengaruh factor social ekomomi (umur, pendidikan formal, pengalaman , jumlah tanggungan keluarga, modal) terhadap pendapatan pedagang di daerah penelitian?
4. Apa kendala atau hambatan pedagang hasil laut di daerah penelitian ?
1.kegiatan pelelangan
ikan di
daerah penelitian.
2.pendapatan pedagang hasil laut di daerah penelitian.
3.pengaruh faktor sosial ekonomi(um ur,pendidikan formal,pengal aman,jumlah tanggungan keluarga, modal) terhadap pendapatan pedagang di daerah penelitian.
4.kendala atau hambatan pedagang yang ada di daerah penelitian
Di analisis secara deskriptif dengan mrendeskrip sikan per kasus data- data yang telah di kumpulkan
1. Kegiatan Pelelangan di TPI dimulai pagi hari sampai dengan sore hari. Para pedagang yang berkecimpung dalam kegiatan pelelangan terdiri dari pedagang pengumpul dan pedagang besar.
2. Rata – rata pendapatan bersih pedagang adalah Rp.5.238.212 > Rp.
2.015.000 ini artinya Total pendapatan bersih pedagang lebih tinggi dari Upah Minimum Kabupaten Deli Serdang.
(Pendapatan > UMK Deli Serdang).
3. Dari F tabel dapat diperoleh hasil F hitung dan F tabel yaitu 3,655 < 2,621 maka H1 diterima.
Berpengaruh nyata terhadap pendapatan pedagang hasil laut.
Nilai signifikansi >α yaitu 0,0013 >
0,05.Berdasarkan Uji t variabel yang berpengaruh secara nyata secara parsial terhadap hasil laut adalah variabel biaya.
Berdasarkan Uji R- square di dapat bahwa adanya pengaruh sebesar 43,2%
terhadap variabel
terikat.
4. Beberapa hambatan atau kendala yang dihadapi pedagang hasil laut adalah merupakan sepinya pelanggan pada hari biasa, ikan merupakan komoditi yang mudah busuk sehingga beresiko tinggi bagi pedagang dan adanya biaya pemasaran yang tinggi dikarenakan tata niaga yang kurang efisien.
16
2. Johannes P Munthe (2015)
Analisis Faktor- Faktor Yang Mempenga ruhi Pendapatan dan Persepsi Nelayan Terhadap Program Peningkata n
Pendapatan
1.Bagaima na pengaruh modal kerja , jumlah tenaga kerja, pengalama n kerja, teknologi, jarak tempuh melaut dan harga jual terhadap pendapatan nelayan di Desa Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang?
2. Apa saja program pemerintah yang pernah dilaksanka n di Desa Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang?
3.
Bagaimana persepsi nelayan terhadap program peningkata n
pendapatan yang dilakukan pemerintah di Desa Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang?
1.Pengaruh modal kerja , jumlah tenaga kerja, pengalaman kerja, teknologi, jarak tempuh melaut dan harga jual terhadap pendapatan nelayan di Desa Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.
2.Program pemerintah yang pernah dilaksankan
di Desa
Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.
3.Persepsi nelayan terhadap program peningkatan pendapatan yang dilakukan pemerintah di Desa Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.
Mengguna kan metode slovin dan dianalisis mengguna kan regresi linier berganda, deskriptif dan skala likert.
1.Teknologi dan jarak tempuh berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan nelayan di Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.
Modal, jumlah tenaga kerja, pengalaman kerja, harga jual, tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan nelayan.
2.Program pemerintah yang ada di Desa Percut untuk meningkatkan pendapatan nelayan adalah Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Perikanan Tangkap (PUMP PT).
3.Dari 10 sampel nelayan yang tidak mendapatkan program PUMP, 9 nelayan atau 90
% memiliki persepsinegatif dan 1 nelayan (10%) memiliki persepsi positif terhadap PUMP, Sedangkan
!) nelayan yang mendapat program PUMP, & nelayan (70%) memiliki persepsi positif terhadap program PUMP, dan 3 nelayan (30%) memiliki persepsi negatif terhadap program PUMP, Secara keseluruhan, Nelayan di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan memiliki persepsi negatif terhadap program PUMP.
3. Asido Roy Sianturi (2014)
Analisis Faktor- Faktor yang Mempenga ruhi Pendapatan Serta
1.Bagaima na pengaruh modal, tenaga kerja, pengalama n, teknologi,
1.Pengaruh modal, tenaga kerja, pengalaman, teknologi, dan harga jual terhadap pendapatan
Metode deskriftif, skala likert dan analisis regresi linier berganda
1.Teknologi dan jarak tempuh berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan nelayan di Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.
Modal, jumlah tenaga kerja, pengalaman kerja, harga
Lanjutan Tabel 1. Penelitian Terdahulu
17
Persepsi Nelayan Terhadap Program Peningkata n
Pendapatan Nelayan Oleh Pemerintah
dan harga jual terhadap pendapatan nelayan di kelurahan Bagan Deli kecamatan Medan Belawan?
2.Bagaima na persepsi nelayan terhadap program peningkata n
pendapatan yang dilaksanak an pemerintah
?
nelayan di kelurahan Bagan Deli kecamatan Medan Belawan 2.Persepsi nelayan terhadap program peningkatan pendapatan yang dilaksanaka n
pemerintah
jual, tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan nelayan.
2.Program pemerintah yang ada di Desa Percut untuk meningkatkan pendapatan nelayan adalah Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Perikanan Tangkap (PUMP PT).
3.Dari 10 sampel nelayan yang tidak mendapatkan program PUMP, 9 nelayan atau 90
% memiliki persepsinegatif dan 1 nelayan (10%) memiliki persepsi positif terhadap PUMP, Sedangkan
!) nelayan yang mendapat program PUMP, & nelayan (70%) memiliki persepsi positif terhadap program PUMP, dan 3 nelayan (30%) memiliki persepsi negatif terhadap program PUMP, Secara keseluruhan, Nelayan di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan memiliki persepsi negatif terhadap program PUMP.
4. Deni Kurniawa n (2012)
Pengaruh kegiatan penunjang agribisnis terhadap pendapatan usahatani padi sawah
1.Bagaima na pelaksana kegiatan penunjang agribisnis didaerah penelitian?
2.Bagaima na pengaruh kegiatan penunjang agribisnis (bantuan input produksi, kredit usaha tani dalam PUAP, penyuluh pertanian dan pupuk bersubsidi) terhadapa pendapatan usahatani sawah?
3.Apakah ada perbedaan pada pendapatan
1.Pelaksana an kegiatan penunjang agribisnis didaerah penelitian.
2.Kegiatan penunjang agribisnis (bantuan input produksi, kredit usaha tani dalam PUAP, penyuluh pertanian dan pupuk bersubsidi) terhadapa pendapatan usahatani sawah.
3. perbedaan pada pendapatan usahatani padi sawah sebelum ada kegiatan penunjang agribisnis dan sesudah ada kegiatan
1. Analisis Deskriptif, metode regresi linier berganda dan metode dependent sample test (paired sample T- test).
1.Hasil penelitian menggunakan model CIPP (context, input, process, product) bahwa pelaksanaan kegiatan penunjang agribisnis didaerah penelitian diperoleh sebesar 89,24%.
Artinya pelaksanaan kegiatan penunjang agribisnis didaerah penelitian sudah berjalan dengan baik.
2.Hasil analisis linear berganda diperoleh koefisien determinasi sebesar 0,469.
Koefisien deteminasi tersebut menunjukkan informasi bahwa 46,9%
pendapatan usahatani padi sawah telah dapat dijelaskan oleh variabel “bantuan input produksi, kredit usahtani dalam usaha PUAP, frekuensi mengikuti penyuluhan dan pupuk bersubsidi” atau dengan kata lain sebesar 46,9% keempat variabel tersebut mempengaruhi pendapatan usahatani sebsar 46,9 % dan sisanya sebesar 53,1 % dipengaruhi oleh variabel lain.
3.Berdasarkan uji signifikan simultan (uji F-statistik)
Lanjutan tabel 1. Penelitian Terdahulu
17
usahatani padi sawah sebelum ada kegiatan penunjang agribisnis dan sesudah ada kegiatan penunjang agribisnis didaerah penelitian?
penunjang agribisnis didaerah penelitian.
secara serempak kegiatan penunjang agribisnis yaitu : bantuan input produksi, kredit usahatani dalam PUAP, frekuensi mengikuti penyuluhan dan pupuk bersubsidi memiliki pengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani padi sawah.
4.Berdasarkan uji signifikansi parameter individual (uji t-statistik) secara parsial variabel bebas yaitu : pupuk bersubsudi berpengauh nyata terhadap pedapatan usahatnai padi sawah, sedangkan pada variabel bebas bantuan input produksi, kredit usahtani dalam PUAP, frekuensi mengikuti penyuluhan tidak berpengaruh nyata terhadap pendaptan usahatani padi sawah.
5.Ada perbedaan yang nyata pada pendapatan usahatani padi sawah sebelum ada kegiatan penunjang agribisnis dan sesudah adanya kegiatan penunjang agribisnis.
6.Masalah-masalah yang dihadapi petani padi sawah dalan kegiatan penunjang agribisnis didaerah penelitian adalah :
-Petani tidak mendapatkan bantuan input produksi dari pemerintah secara merata -Belum semua petani padi sawah mendapatkan pinjaman PUAP.
7.Upaya-upaya yang
dilakukan dalam
memecahkan masalah kegiatan penunjang agribisnis didaerah penelitian adalah :
-Petani menggunakan dana pribadi untuk memenuhi kebutuhan input produksi dalam melancarkan kegiatan usahataniinya.
-Gapoktan akan melakukan sistem bergulir dalam peminjaman dana PUAP.
5. Hotmaida Sihombing Ulima (2010)
Peranan Kelompok Tani Dalam Peningkata n Status
1) kegiatan yang dilakukan kelompok tani dalam peningkata
1. kegiatan kelompok tani dalam peningkatan status sosia petani
Data primer yang telah diperoleh terlebih dahulu ditabulasi
1.Ada perbedaan antara produktifitas petani sebelum menjadi anggota kelompok tani
dengan sesudah menjadi anggota kelompok tani.
Dimana produktifitas petani
Sosial Ekonomi Petani Padi Sawah (Studi Kasus Desa Rumah Pilpil, Keca.
Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang
n status sosial ekonomi petani, 2) perbedaan tingkat kosmopolit an, perbedaan tingkat adopsi teknologi padi sawah petani, 3) perbedaan produktifit as petani, perbedaan pendapatan petani, 4) perbedaan perubahan pola konsumsi petani sebelum dan sesudah menjadi anggota kelompok tani Rumah Pilpil I selama 3 tahun terakhir, 5) kendala yang dihadapi petani dalam menjalanka n usaha tani serta upaya- upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah
2. perbedaan tingkat kosmopolita n, perbedaan tingkat adopsi teknologi 3.produktivita s
4. pola konsumsi 5. kendala petani
kemudian dianalisis dengan uji statistik yang sesuai, dan kemudian mengguna kan analisis deskriftif.
padi sawah sebelum menjadi anggota kelompok tani lebih rendah dibanding
produktifitas petani padi sawah sesudah menjadi anggota kelompok tani.
2.Pengeluaran untuk tiap jenis pola konsumsi pangan sebelum menjadi anggota kelompok tani lebih rendah yaitu Rp 354.986 dari pada pengeluaran untuk tiap jenis pola konsumsi pangan sesudah menjadi anggota kelompok tani yaitu Rp 521.588,3. Sedangkan rata -rata untuk pengeluaran tiap jenis pola konsumsi non pangan sebelum menjadi anggota kelompok tani lebih rendah yaitu sebesar Rp581.033,3 dari pada rata -rata pengeluaran untuk tiap jenis pola konsumsi non pangan sesudah menjadi anggota kelompok tani yaitu sebesar Rp 967.600. Ada perbedaan perubahan pola konsumsi petani sebelum dan sesudah menjadi anggota kelompok tani
2.6. Kerangka Pemikiran
Pengusaha kecil yang tangguh dalam berusaha adalah pengusaha yang mempunyai kemampuan untuk melihat tantangan dan peluang kedepan. Komdisi tersebut dapat dicapai bila pengusaha diberi kekuatan sehingga mampu mengendalikan masa depannya dalam meningkatkan taraf hidupnya. Melalui bantuan dari pemerintah seperti bantuan peralatan, pemasaran dan pelatihan, maka pengusaha kecil dapat belajar melihat potensi yang ada pada dirinya. Pengusaha kecil berperan dan berfungsi sebagai perantara dalam mengelola hasil olahan laut dengan dibantu oleh bantuan program pemerintah.
Berdasarkan pada uraian sebelumnya maka kerangka pemikiran peneliti dalam penelitian ini adalah perkembangan produksi dan pendapatan kelompok usaha kecil hasil olahan laut yang bertujuan untuk membantu meningkatkan pendapatan dan untuk melihat ada tidaknya pengaruh terhadap pendapatan.
Bantuan program pemerintah yang diberikan tersebut berupa bantuan peralatan, bantuan pelatihan, dan bantuan pemasaran. Pendapatan pengusaha kecil hasil olahan laut juga dipengaruhi oleh karakteristik faktor sosial ekonomi terhadap bantuan program pemerintah pada usaha hasil olahan laut. Secara skematis penjelasan diatas dapat dilihat dari kerangka pemikiran berikut :
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran Analisis Pengaruh Bantuan Pemerintah Dalam Usaha Kecil Hasil Olahan Laut Terhadap Pendapatan
Bantuan Pemerintah 1. Bantuan Peralatan 2. Bantuan Pelatihan 3. Bantuan Pemasaran Karakteristik Sosial
Ekonomi 1. Umur
2.Luas Usaha
3.Jumlah Tanggungan keluarga
4. Lama Usaha
Perkembangan Produksi Usaha Kecil Hasil
Olahan Laut
2.7. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bantuan program pemerintah berpengaruh signifikan terhadap pendapatan masyarakat pada usaha kecil hasil olahan laut di Kota Sibolga.
2. Karakteristik sosial ekonomi yaitu pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, lam usaha dan luas lahan usaha secara parsial dan secara serempak berpengaruh signifikan pada usaha kecil hasil olahan laut terhadap pendapatan.
3.1. Penentuan Daerah Penelitian
Penentuan daerah penelitian ditentukan secara purposive sampling, artinya daerah penelitian dipilih secara sengaja di Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara.
Alasan memilih daerah penelitian di Kota Sibolga karena daerah tersebut terdapat program bantuan pemerintah dalam kegiatan binaan usaha kecil hasil olahan laut.
3.2 Metode Penentuan Sampel
Populasi penelitian adalah anggota pengusah kecil hasil olahan laut yang berada Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara, merupakan lokasi penelitian yang memiliki usaha kecil hasil olahan laut. Besarnya jumlah populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengusaha kecil hasil olahan laut yang berada di Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara yang berjumlah 20 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu sample dipilih dengan pertimbangan tertentu (disengaja) dimana sample yang akan diambil sudah tertentu yaitu pengusaha kecil hasil olahan laut yang berada di Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara, merupakan lokasi penelitian yang memiliki usaha kecil hasil olahan laut.
Metode penentuan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik Sampling Jenuh atau istilah lain adalah metode sensus. Metode sensus adalah teknik penentuan jumlah sampel dimana semua anggota populasi yang digunakan pada saat pra survey adalah sebanyak 20 responden pengusaha kecil hasil olahan laut.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari responden melalui pengamatan serta melalui wawancara langsung kepada sampel dan menggunakan beberapa daftar pertanyaan (kuisioner) yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari lembaga dan instansi yang terkait dengan melakukan studi kepustakaan terhadap bahan – bahan publikasi secara resmi, buku- buku yang berhubungan dengan penelitian.
3.4 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Untuk membuktikan hipotesis satu (!), digunakan analisis deskriptif dengan memberikan pertanyaan kepada pengusaha kecil mengenai pengaruh bantuan pemerintah dalam usaha kecil hasil olahan laut terhadap pendapatan didaerah penelitian. Kemudian jawaban dari petani sampel tersebut di skoringkan dengan cara menggambarkan secara rinci data yang diperoleh dengan membuat tabulasi hasil jawaban responden kemudian dipresentasikan berdasarkan survey langsung dilapangan.
Untuk membuktikan hipotesis dua (2), digunakan metode analisis regresi linier berganda untuk menguji faktor karakteristik sosial ekonomi (umur, pendidikan formal, lamanya usaha, jumlah tanggungan keluarga dan luas usaha) dengan bantuan pemerintah dalam usaha kecil hasil olahan laut.
Persamaan regresi linier berganda secara sistematis dapat ditulis sebagai berikut :
Y = β0 + β1X1 + β2 X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 + μ
Dimana:
Y = Pendapatan Masyarakat β0 = Koefisien intercept β1,β2,β3 = Koefisien regresi X1 = Bantuan Pemerintah X2 = Lamanya berusaha (tahun)
X3 = Jumlah tanggungan keluarga (orang) X4 = Luas Usaha (m²)
μ = Error
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini meliputi uji statistik :
Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit) 1. Uji Koefisien Determinasi (R²)
Koefisien determinasi R2 merupakan suatu nilai statistik yang dihitung dari data sampel. Koefisien ini menunjukkan persentase variasi seluruh variabel terikat yang dapat dijelaskan oleh perubahan variabel bebas (explanatory variables). Koefisien ini merupakan suatu ukuran sejauh man variabel bebas dapat
merubah variabel terikat dalam suatu hubungan ( Supriana, 2013)
Nilai koefisien determinasi (R2) berkisar antara 0 < R2 < 1, dengan kriteria pengujiannya adalah R2 yang semakin tinggi (mendekati 1) menunjukkan model yang terbentuk mampu menjelaskan keragaman dari variabel terikat, demikian pula sebaliknya.
2. Uji Secara Serempak (Uji f-test statistik)
Uji F adalah uji secara serempak (simultan) signifikan pengaruh perubahan variabel indepeden terhadap variabel dependen. Artinya parameter X1, X2, X3, X4, dan X5 secara bersamaan di uji apakah memilki signifikan atau tidak.
Kriteria pengujian :
Jika sig. F ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima Jika sig. F > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak.
Jika H0 diterima artinya X1, X2, X3, X4 dan X5 secara serempak tidak berpengaruh nyata terhadap Y ( Bantuan pemerintah).
Jika H1 diterima artinya X1, X2, X3, X4 dan X5 secara serempak berpengaruh nyata terhadap Y ( Bantuan pemerintah).
3. Uji Secara parsial (Uji t-test statistik)
Uji t adalah uji secara parsial penagruh variabel independen terhadap variabel dependen digunakan untuk mengetahui apakah ada variabel bebas secara parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel terikat. Taraf signifikan ( ) yang digunakan dalam ilmu sosial adalah 5% (Supriana.2013)
Kriteria Pengujian :
Jika sig. t ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima Jika sig. t > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak.
Jika H0 diterima artinya X1, X2, X3, X4 dan X5 secara serempak tidak berpengaruh nyata terhadap Y ( Bantuan pemerintah).
Jika H1 diterima artinya X1, X2, X3, X4 dan X5 secara serempak berpengaruh nyata terhadap Y ( Bantuan pemerintah).
4. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linier berganda yang berbasis Ordinary Least Square (OLS). Pada prinsipnya model regresi linier yang dibangun sebaikmya tidak boleh menyimpang dari asumsi BLUE (Best, Linier, Unbiased, Estimator). Ada tiga uji asumsi klasik yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain uji normalitas, heterokedastisitas, multikolinieritas (Supriana, 2013).
4.1. Uji Normalitas
Uji Normalitas adalah uji yang digunakan untuk mengetahui apakah distribusi data mendekati distribusi normal. Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji Kolmogorov Smirnov, digunkan untuk menguji null hipotesis suatu sampel atas suatu distribusi tertentu (Supriana, 2013)
4.2. Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk melihat apakah didalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain dalam model regresi. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut heteroskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.
Peneltian ini menggunakan uji Park sebagai penguji heteroskedastisitas, dengan melihat nilai segnifikasi.
Sig > 0,05 = Homokedastisitas ( tidak terjadi masalah heterokedastisitas)
sig < 0,05 = Heteroskedastisitas
c. Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas adalah adanya hubungan linier (kolerasi) yang sempurna atau pasti diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan model regresi.
Data yang digunakan adalah penggunanaan faktr yang dilogaritmakan. Model regresi yang baik harusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel independent.
Ada atau tidaknya multikolinieritas pada model regresi terlihat dari tolerance dan VIF (Variance Inlaction Factor).
1. Jika nilai VIF < 10, maka model tidak mengalami Multikolinieritas.
2. Jika nilai VIF > 10, maka model mengalami multikolinieritas (Supriana, 2013).
3.5. Definisi Operasional Variabel Penelitian
1. Hasil Olahan Laut adalah komoditi yang dipilih untuk diolah menjadi produk makanan yang berasal dari berbagai jenis ikan kemudian dijual kepada konsumen.
2. Pendapatan dalam penelitian ini adalah pendapatan yang diteriman oleh usaha kecil hasil olahan laut.
3. Bantuan pemerintah adalah bantuan peralatan, bantuan pelatihan dan bantuan pemasaran (Rp).
4. Karakteristik sosial ekonomi dalam penelitian ini adalah umur, pendidikan formal, lamanya berusaha, jumlah tanggungan keluarga, luas usaha, dan modal.
5. Umur dalam penelitian adalah umur pekerja (tahun).
6. Pendidikan adalah tingkat pendidikan formal yang telah dijalani pengusaha kecil, yang diukur berdasarkan tingkat pendidikan SD, SMP, SMA/Sederajat, Perguruan Tinggi (Diploma dan Sarjana) (tahun).
7. Lamanya berusaha dalam penelitian ini adalah jangka waktu yang dilakukan pengusaha kecil sebagai tolak ukur pengalaman dalam berusaha (tahun).
8. Jumlah tanggungan keluarga dalam penelitian ini adalah jumlah anggota keluarga yang dibiayai (jiwa).
9. Luas usaha dalam penelitian ini adalah luas usaha pengusaha kecil yang dipakai dalam mengelola usahanya (Ha).
10. Pendapatan adalah selisih antara total penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan (Rp).
3.6 Batasan Operasional
1. Lokasi penelitian dilakukan di Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara.
2. Penelitian dilakukan pada tahun 2018.
3. Pengusaha kecil Binaan Bahan Olahan adalah sampel yang akan dijadikan dalam penelitian sebanyak 20 orang.