• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Gunung Parakasak 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Profil Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Gunung Parakasak 2014"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

BLHD Propinsi Banten ii

PENYUSUNAN PROFIL KEANEKARAGAMAN HAYATI

(KEHATI) GUNUNG PARAKASAK

Dalam Rangka Konservasi dan Rehabilitasi Kerusakan

Sumberdaya Alam

Propinsi Banten

PENYUSUN :

1. Dr. Yaya Rayadin

2.

Adi Nugraha, SP.

BADAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

PROPINSI BANTEN

2014

(3)

BLHD Propinsi Banten iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-NYA yang tiada henti tim penyusun dapat menyelesaikan dokumen Penyusunan Profil Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Gunung Parakasak dalam rangka Program Konservasi dan Rehabilitasi Kerusakan Sumberdaya Alam di Propinsi Banten. Kegiatan penyusunan profil ini terselenggara atas kerjasama BLHD Propinsi Banten selaku pemberi kegiatan dan PT ECOSITROP selaku penyedia jasa konsultansi.

Tim menyadari dokumen yang disusun ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga masukan dan saran serta koreksi yang diberikan akan menjadi sangat berarti demi penyempurnaan dokumen ini. Dalam penyusunan dokumen Profil Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Gunung Parakasak tim penyusun mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak dalam tercapainya target kegiatan selama di lapangan dan penyelesaian dokumen tersebut.

Desember, 2014

Tim Penyusun

(4)

BLHD Propinsi Banten iv

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... iii

Daftar Tabel ... v

Daftar Gambar ... vi BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... I.1 B. Tujuan ... I.2 C. Output ... I.2

BAB II METODE

A. Waktu Pelaksanaan ... II.1 B. Lokasi Pelaksanaan ... II.1 C. Alat dan Bahan ... II.3 D. Metode Inventarisasi dan Identifikasi Flora ... II.5 D.1. Inventarisasi Flora ... II.5 D.2. Identifikasi Jenis ... II.6 D.3. Analisis Data ... II.7 E. Metode Inventarisasi dan Identifikasi Fauna Kelompok Mamalia .... II.8 F. Metode Inventarisasi dan Identifikasi Fauna Kelompok Burung ... II.8 G. Metode Penyusunan Profil Tutupan Lahan ... II.9

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI KAJIAN

A. Letak, Luas, dan Batas ... III.1 B. Aksesibilitas ... III.1 C. Gambaran Umum Gunung Parakasak ... III.2

BAB IV PROFIL VEGETASI GUNUNG PARAKASAK

A. Kehadiran dan Keragaman Jenis Tanaman ... IV.1

(5)

BLHD Propinsi Banten v B. Kehadiran dan Keragaman Jenis Tanaman HTR (Hutan Tanaman

Rakyat) ... IV.2

BAB V PROFIL SATWALIAR GUNUNG PARAKASAK

A. Kehadiran Satwaliar Kelompok Mamalia ... V.1 B. Kehadiran Satwaliar Kelompok Burung ... V.8

BAB VI PROFIL TUTUPAN LAHAN

A. Kondisi Kekinian dan Status Kawasan Gunung Aseupan ... VI.1 B. Tata Guna Lahan dan Fungsi Kawasan ... VI.4

BAB VII PENUTUP

A. Kesimpulan ... VII.1 B. Rekomendasi ... VII.2

DAFTAR PUSTAKA ... VIII.1 LAMPIRAN

(6)

BLHD Propinsi Banten vi

DAFTAR TABEL

Tabel II-1. Tata waktu pekasanaan kegiatan survei di Gunung

Parakasak Kabupaten Pandeglang, Banten ... II.1

Tabel II-2. Alat yang digunakan beserta kegunaanya ... II.3 Tabel II-3. Kategori pohon dalam kegiatan survei dan identifikasi

vegetasi ... II.6

Tabel IV-1. Hasil Eksplorasi vegetasi pada lokasi studi hutan alam

Gunung Parakasak ... IV.1

Tabel IV-2. Jenis Tanaman HTR yang berada di lokasi studi di

Gunung Parakasak ... IV.4

Tabel IV-3. Komposisi jenis penyusun HTR parakasak berdasarkan

familinya ... IV.5

Tabel V-1. Kehadiran satwaliar kelompok mamalia di kawasan

Gunung Parakasak ... V.1

Tabel V-2. Klasifikasi jenis mamalia berdasarkan kelas makan, waktu

aktif dan stratifikasi ekologi ... V.3

Tabel V-3. Keragaman jenis burung yang ditemukan pada kawasan

Gunung Parakasak, Banten ... V.9

(7)

BLHD Propinsi Banten vii

Tabel VI-1. Status kawasan dan luas kawasan Gunung Parakasak

serta wilayah administarinya berdasarkan SK Menhut

No.195/Kpts-II/2003 ... VI.2

Tabel VI-2. Sebaran tata guna lahan pada setiap fungsi kawasan di

Gunung Parakasak berdasarkan analisis citra Landsat ... VI.4

(8)

BLHD Propinsi Banten viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1. Lokasi kajaian penyusunan profil keanekaragaman

hayati dan kerusakan lahan di kawasan Gunung Parakasak ... II.2

Gambar II.2. Peralatan dan bahan yang digunakan dalam melakukan

kajian biodiversiti dan kerusakan lahan di Gunung

Parakasak, Pegunungan Akarsari, Banten ... II.4

Gambar II.3. Desain metode inventarisasi jenis vegetasi

menggunakan metode eksplorasi. Kegiatan eksplorasi

dilakukan pada kanan dan kiri dari jalur pengamatan ... II.5

Gambar II.4. Gambaran kategori pohon; a) Semai, b) Pancang, dan c)

Pohon ... II.6

Gambar II.5. Salah satu teknik yang digunakan dalam invetarisasi

dan identifikasi tumbuhan yang berada jauh dari jangkauan. Identifikasi menggunakan teropong dan pengambilan gambar untuk memperjelas morfologi

tumbuhan dari kejauhan untuk diidentifikasi ... II.7

Gambar II.6. Pengamatan kondisi tutupan Gunung Parakasak secara

langsung di lapangan, hasil pengamatan akan di padu

(9)

BLHD Propinsi Banten ix serasikan dengan citra Landsat yang diperoleh dari

hasil interpretsi satelit ... II.9

Gambar II.7. Bagan alir pemetaan landuse dan tutupan lahan

kawasan Gunung Parakasak, Banten ... II.10

Gambar II.8. Global Positioning System (GPS) yang digunakan untuk

menentukan titik koordinat saat survei lapangan

dilakukan ... II.10

Gambar III.1. a) Gunung Parakasak dilihat dari Kampung Cibarunai

Kecamatan Ciomas Kab. Serang dan b). Tim mengunakan motor menuju kawasan Gn. Parakasak melewati Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang dan

Kecamatan Padarincang Kab. Serang ... III.3

Gambar III.2. a) Pemukiman warga Kampung Wangun (± 343 mdpl)

di lereng Gn. Parakasak dan b) Potongan kayu banyak

dijumpai di sekitar Kampung Wangun ... III.4

Gambar III.3. a) Akses menuju Kampung Wangun Atas (± 497 mdpl),

kampung ini adalah kampung terdekat dengan puncak Gn. Parakasak (±300 mdpl) dan b) Pondok Pesantren

Nurunnajat yang ada di Kampung Wangun Atas ... III.5

(10)

BLHD Propinsi Banten x

Gambar III.4. a) Persawahan di lereng Gn. Parakasak dan b) Hewan

ternak yang dipelihara warga dan digunkan untuk

membajak sawah ... III.6

Gambar III.5. a) Struktur tutupan tanaman perkebunan masyarakat

yang menutupi Gn. Parakasak dan b) Tanaman perkebunan seperti pisang, cengkeh, kopi dan pohon durian yang dibudidayakan oleh masyarakat sekitar

Gn. Parakasak ... III.7

Gambar III.6. a) Gambaran tegakan Hutan Tanaman Rakyat (HTR)

yang ada di lereng Gn. Parakasak dari mahoni serta campuran tanaman buah durian dan b) Gambaran

tegakan tanaman HTR dari jenis sengon ... III.8

Gambar III.7. a) Tim survei vegetasi dan tutupan lahan melakukan

identifikasi kondisi vegetasi dan tutupan lahan terkini Gn. Parakasak dan b) Tim melakukan diskusi dan

perencanaan sebelum menuju lokasi studi ... III.9

Gambar III.8. a) Foto bersama setelah melakukan wawancara dengan

warga Kampung Malang Nengah (salah satu kampung di lereng Gn. Parakasak ± 269 mdpl) dan b) Tim sedang

melihat peta tutupan lahan Gn. Parakasak ... III.10

(11)

BLHD Propinsi Banten xi

Gambar III.9. a) Tanaman cengkeh, melinjo, pisang dan coklat adalah

tanaman penyangga kehidupan masyarakat sekitar Gn. Parakasak dan b) Kondisi kanan kiri jalan setapak menuju Gn. Parakasak hampir semua berupa kebun

warga ... III.11

Gambar III.10. a) Gunung Parakasak adalah salah satu gunung yang

dipakai oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk latihan perang, terlihat pada gambar di belakang rumah warga Desa Cikoneng dan b) Foto tim survei

biodiversity dan tutupan lahan di Gn. Parakasak ... III.12

Gambar IV.1. Perbandingan Jumlah vegetasi jenis MPTS, pertukangan dan perkebunan di lokasi studi hutan

alam Gunung Parakasak ... IV.3

Gambar IV.2. Perbandingan Jenis Pohon Penyusun HTR Berdasarkan

Familinya pada lokasi studi Gunung Parakasak ... IV.7

Gambar V.1. Keragaman satwaliar kelompok mamalia berdasarkan

famili di kawasan Gunung Parakasak ... V.2

Gambar V.2. (a) Kehadiran satwa berdasarkan kelas makan, (b)

Kehadiran satwa berdasarkan waktu aktif, dan (c)

Kehadiran satwa berdasarkan stratifikasi ekologi ... V.4

(12)

BLHD Propinsi Banten xii

Gambar V.3. Sisa pakan jenis Hystrix brachyura ditemukan di

kawasan Gunung Parakasak ... V.6

Gambar V.4. Bekas jejak dan sisa pakan jenis Sus barbatus ditemukan

di kawasan Gunung Parakasak ... V.7

Gambar V.5. Jenis Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang

ditemukan pada kawasan Gunung Parakasak ... V.10

Gambar V.6. Jenis Anthreptes singalensis yang ditemukan pada

kawasan Gunung Parakasak ... V.11

Gambar V.7. Jenis Bubulcus ibis yang ditemukan pada kawasan

Gunung Parakasak ... V.12

Gambar VI.1. Kondisi tutupan lahan Gunung Parakasak secara

umum merupakan kebun campuran dan ladang ... VI.1

Gambar VI.2. Peta status kawasan Gunung Parakasak berdasarkan

SK Menhut No.195/Kpts-II/2003 ... VI.3

Gambar VI.3. Kawasan Gunung Parakasak bagian utara yang

sekitarnya dikelilingi oleh pemukiman dan areal

pertanian masyarakat ... VI.6

Gambar VI.4. a) Lahan pertanian berupa sawah di sekitar Gunung

Parakasak dan b) Ladang masyarakat pada wilayah

Gunung Parakasak ... VI.7

(13)

BLHD Propinsi Banten xiii

Gambar VI.5. a) Struktur tegakan pada kebun campuran di Gunung

Parakasak dan b) Tutupan lahan berupa kebun

campuran dilihat dari ketinggian ... VI.8

Gambar VI. 6. a) Puncak Gunung Parakasak memiliki angka

kemiringan yang terjal dan b) Lereng Gunung Parakasak yang mengalami erosi/longsor ditunjukkan

oleh lingkaran merah ... VI.9

Gambar VI.7. Kondisi tutupan lahan Gunung Parakasak menurut

citra Landsat liputan tahun 2014 ... VI.10

Gambar VI.8. Hasil analisis tutupan dan tata guna lahan Gunung

Parakasak berdasarkan citra Landsat liputan tahun

2014 ... VI.11

(14)

BLHD Propinsi Banten xiv

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Maraknya kegiatan pertanian dan perkebunan pada wilayah Gunung Parakasak menyebabkan terjadiya gangguan terhadap potensi biodiversity pada kawasan tersebut. Seiring dengan bertambahnya luasan kawasan budidaya, maka potensi biodiversity baik flora maupun fauna berangsur akan mengalami penurunan baik kualitas maupun kuantitasnya. Kegiatan pemanfaatan ruang untuk keperluan budidaya pertanian dilatarbelakangi oleh semain meningkatnya jumlah masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Parakasak yang berakibat pada semakin tingginya kebutuhan pokok masyarakat, sehingga pembukaan kawasan hutan di sekitar Gunung Parakasak tidak bisa dihindari. Kawasan yang semestinya berupa hutan dan berfungsi sebagai kawasan perlindungan mengalami penurunan bagi dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Berdasarkan SK Menhut No.195/Kpts-II/2003 Tentang Penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan Propinsi Banten, kawasan Gunung Parakasak terdiri atas kawasan Hutan Produksi dan Hutan Produksi Terbatas. Meski demikian, pengelolaan wilayah Gunung Paraksak lebih banyak dikerjakan oleh masyarakat. Status kawasan berupa Hutan Produksi dan Hutan Produksi Terbatas semestinya dikelola oleh pemerintah, dalam hal ini adalah Perum Perhutani KPH Banten. Wilayah Gunung Parakasak saat ini mengalami perubahan tutupan lahan karena pengelolaan kegiatan pertanian dan perkebunan yang diusahakan oleh masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Pengeloaan

(15)

BLHD Propinsi Banten xv tersebut menyebabkan terjadinya perubahan fungsi lahan yang semula hutan menjadi kebun campuran yang diusahakan oleh masyarakat. Pengelolaan oleh masyarakat tetap diharapkan tidak mengganggu fungsi kawasan Gunung Parakasak sebagai habitat flora dan fauna di dalamnya, begitu pula dengan fungsi lindung dari gunung tersebut, sehingga menjadi penting untuk melakukan kajian penyusunan profil tutupan lahan dan biodiversity (keanekaragaman hayati) pada kawasan Gunung Parakasak.

B.

Tujuan

Adapun tujuan dari kegiatan penysunan profil landuse dan keanekaragaman hayati di Gunung Parakasak adalah untuk

1. Mengetahui keanekaragaman jenis flora di kawasan Gunung Parakasak, 2. Mengetahui keanekaragaman jenis fauna kelompok mamalia dan burung

di kawasan Gunung Parakasak, dan

3. Mengetahui kondisi kekinian tutupan lahan dan kerusakan lahan di

kawasan Gunung Parakasak.

C.

Output

Output yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah :

1. Profil flora tingkat pohon, pancang, semai, herba, dan liana di Gunung Parakasak,

(16)

BLHD Propinsi Banten xvi 2. Profil fauna untuk kelompok mamalia dan burung di Gunung Parakasak,

dan

3. Profil kerusakan lahan kawasan Gunung Parakasak.

(17)

BLHD Propinsi Banten xvii

BAB II METODE

A.

Waktu Pelaksanaan

Kajian profil keanekaragaman hayati dan dan kerusakan tutupan lahan di kawasan Gunung Parakasak dilaksanakan selama 60 hari kerja, yaitu tanggal 08 September 2014 s.d 06 November 2014. Tata waktu pelaksanaan kegiatan penyusunan profil keanekaragman hayati dan kerusakan lahan di kawasan Gunung Aseupan ditampilkan pada tabel berikut.

Tabel II-1. Tata waktu pekasanaan kegiatan survei di Gunung Parakasak

Kabupaten Pandeglang, Banten.

No Kegiatan Juni Minggu ke Juli Minggu ke I II III IV I II III IV 1 Persiapan Kegiatan dan Perlengkapan

2 Orientasi Lapangan dan Lokasi studi 3 Survei lapangan

4 Analisis Data

5 Penulisan draft laporan 6 Diseminasi Kegiatan 7 Penulisan Laporan Akhir

(18)

BLHD Propinsi Banten xviii

B.

Lokasi Pelaksanaan

Lokasi yang menjadi tempat kajian keanekargaman hayati dan kerusakan lahan kawasan Gunung Parakasak dilaksanakan di kawasan Gunung Parakasak dan sekitarnya yang secara administrasi termasuk dalam dua kabupaten, yaitu Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang Propinsi Banten. Fokus area survei tim adalah wilayah bagian Timur Gunung Parakasak yang termasuk dalam Kecamatan Ciomas, bagian utara dan barat yang termasuk dalam Kecamatan Padarincang. Dua kecamatan tersebut termasuk dalam Kabupaten Serang. Gambaran lokasi kajian ditampilkan pada gambar berikut.

(19)

BLHD Propinsi Banten xix

Gambar II.1. Lokasi kajaian penyusunan profil keanekaragaman hayati dan

kerusakan lahan di kawasan Gunung Parakasak.

(20)

BLHD Propinsi Banten xx

C.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini secara detail dapat dilihat pada Tabel II-2 dan Gambar II.2.

Tabel II-2. Alat yang digunakan beserta kegunaanya.

No Nama Alat/bahan Kegunaan

1 Peta kawasan survei Sebagai panduan dalam menentukan posisi plot pengamatan vegetasi

2 Parang Untuk pembuatan jalan/jalur plot 3 Kompas Untuk penentuan arah jalur survei

4 Klinometer Untuk mengukur tingkat kemiringan/kelerangan 5 Meteran (20 m) Sebagai panduan ukuran dalam pembuatan plot 6 Pita survei (merah) Untuk penanda batas/posisi plot

7 Spidol permanen Untuk penanda batas/posisi plot 8 Tally sheet Vegetasi Tabel data isian

9 Phi-band Untuk mengukur diameter pohon

10 Camera Trap Untuk menangkap gambar satwaliar kelompok mamalia terrestrial

11 Mist Net Untuk menjerat satwaliar kelompok burung 12 Monocular, Binocular Untuk pengamatan burung

13 Global Position System Untuk menandai titik koordinat wilayah target penelitian dan tracking jalur survei/plot

14 Photo Camera Untuk mendokumentasikan satwaliar yang telah dijerat/ditangkap.

15 Handling tools (Gunting, cutter, kaos tangan, dll) Alat bantu lapangan 16 Umpan ( Durian, sarden, buah-buahan, dll)

17 Baterai Lithium Sumber energy camera trap dan lampu senter 18 Buku Panduan

Identifiksi Mamalia

Untuk membantu mengidentifikasi fauna kelompok mamalia

19 Buku Panduan Identifiksi Burung

Untuk membantu mengidentifikasi fauna kelompok burung

20 Buku Panduan

Identifiksi Tumbuhan Untuk membantu mengidentifikasi flora kategori pohon, herba, dan liana 21 Alat Tulis dan

Tallyheet Mencatat data yang diperoleh di lapangan

(21)

BLHD Propinsi Banten xxi

Gambar II.2. Peralatan dan bahan yang digunakan dalam melakukan kajian biodiversiti dan kerusakan lahan di Gunung Parakasak, Pegunungan Akarsari, Banten.

(22)

BLHD Propinsi Banten xxii

D.

Metode Inventarisasi dan Identifikasi Flora

D.1. Inventarisasi Flora

Pengumpulan data atau inventarisasi jenis flora di kawasan Gunung

Parakasak dilakukan dengan menggunakan metode eksplorasi. Metode eksplorasi digunakan untuk mengidentitikasi jenis flora baik kelompok pohon, herba dan liana yang terdapat disepanjang jalur eksplorasi. Panjang jalur eksplorasi umunya berkisar anatara 500 m s/d 1.000 m dan lebar jalur eksplorasi adalah 20 meter di kanan dan kiri jalur. Gambaran metode eksplorsi tertera pada gambar berikut.

Gambar II.3. Desain metode inventarisasi jenis vegetasi menggunakan metode

eksplorasi. Kegiatan eksplorasi dilakukan pada kanan dan kiri dari jalur pengamatan.

Jalur eksplorasi / jalan 500 m – 1000 m

20 m 20 m

Metode Eksplorasi

(23)

BLHD Propinsi Banten xxiii Seluruh jenis yang merupakan kategori pohon dikelompokkan berdasarkan kelasnya. Kategori pohon diukur kemudian dicatat nama jenis dan familinya ke dalam talysheet. Kelas pohon dicatat nama jenis, famili, diameter (DBH) ≥ 10 cm, serta tinggi pohonnya. Sementara kelas pancang dan semai hanya dituliskan nama jenis, famili, dan jumlahnya saja. Keterangan kategori/tingkatan pohon (seedling, sapling, tree) dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel II-3. Kategori pohon dalam kegiatan survei dan identifikasi vegetasi.

No Kategori Pohon Keterangan

1 Semai (Seedling) Tinggi ≤ 2 m

2

Pancang (Sapling) Tinggi ≥ 2 m DBH ≤ 10 cm

3 Pohon (Tree) DBH ≥ 10 cm

Catatan : DBH = Diameter Setinggi Dada

Gambar II.4. Gambaran kategori pohon; a) Semai, b) Pancang, dan c) Pohon.

a b c

(24)

BLHD Propinsi Banten xxiv

D.2. Identifikasi Jenis

Identifikasi jenis flora dilakukan oleh peneliti pengenal jenis tumbuan dan pengambilan bagian dari tumbuhan khususnya daun dari jenis tumbuhan yang tidak dikenal. Daun diambil dari lapangan dan diberi label (tanda) pengenal jenis kemudian diidentifikasi dengan panduan identifikasi jenis tumbuhan.

D.3. Analsis Data

Kajian identifikasi dan inventarisasi jenis tumbuhan yang dilakukan di Gung Parakasak dianalisis dengan pengelompokkan jenis berdasarkan peruntukkannya, yaitu jenis flora kelompok tanaman pertukangan, tanaman MPTS, dan tanaman perkebunan. Analisis dititikberatkan pada kelompok tanaman perkebunan (tanaman HTR) dengan mencari jenis yang dominan berdasarkan tingkat perjumpaan tertinggi (frekuensi ditemukan).

Gambar II.5. Salah satu teknik yang digunakan dalam invetarisasi dan

identifikasi tumbuhan yang berada jauh dari jangkauan.

(25)

BLHD Propinsi Banten xxv

E.

Metode Inventarisasi dan Identifikasi Fauna Kelompok

Mamalia

Metode transek merupakan metode pengamatan langsung yang sering digunakan untuk melihat satwa mamalia. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah mencatat semua satwa yang dijumpai sepanjang jalur menuju fokus area studi. Selain pencatatan kehadiran mamalia secara langsung, tanda-tanda kehadiran satwa secara tidak langsung juga dicatat, seperti tanda-tanda kehadiran berupa jejak kaki, kotoran, bekas cakaran, suara, bau, sarang, dan tanda kehadiran lainnya. Jejak kaki satwa merupakan petunjuk yang baik bagi kehadiran satwaliar di lokasi penelitian. Selain pada transek pengamatan dapat dilakukan pula pada beberapa daerah yang diperkirakan sering dikunjungi oleh satwaliar, seperti daerah tepi sungai, daerah tepi hutan, sekitar pohon pakan, maupun pada daerah yang memiliki tutupan vegetasi yang rapat. Kehadiran mamalia secara tidak langsung juga diidentifikasi berdasarkan informasi maysarakat setempat yang diperoleh melalui wawancara.

F.

Metode Inventarisasi dan Identifikasi Fauna Kelompok

Burung

Pengamatan langsung dilakukan dengan mengidentifikasi burung yang hadir dalam lokasi kajian. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan teropong (binocular) dan monocular. Seluruh jenis burung yang hadir dan teramati sepanjang jalur menuju puncak Gunung Aseupan dicatat ke dalam tallysheet. Jenis burung yang ditemukan kemudian diidentifikasi menggunkan buku panduan lapangan

(26)

BLHD Propinsi Banten xxvi burung SKJB (Sumatera Kalimantan Jawa Bali). Kehadiran kelompok burung juga bisa diidentifikasi berdasarkan tanda jejak seperti bekas kotoran dan sarang burung. Selain pengamatan secara visual, kehadiran burung juga bisa diidentifikasi berdasarkan suara.

G.

Metode Penyusunan Profil Tutupan Lahan

Survei tutupan lahan di Gunung Parakasak dilakukan untuk mengetahui kondisi kekinian serta kerusakan lahan yang terjadi. Metode yang digunakan untuk mengetahui kerusakan lahan di kawasan tersebut dilakukan cengan dua cara, yaitu : 1) analisis berdasarkan citra satelit dan pemetaan menggunaan software GIS dan; dan 2) survei lapangan (groundchecking) untuk mengetahui kondisi riil kerusakan lahan di lapangan (Gambar II.6). Kedua metode ini kemudian digabungkan untuk memperoleh data dan informasi yang akurat berdasarkan hasil padu serasi (overlay) pemetaan di lapangan dengan citra satelit landsat. Tahapan survei tutupan lahan tersebut di gambarkan seperti pada bagan alir Gambar II.7.

(27)

BLHD Propinsi Banten xxvii

Gambar II.6. Pengamatan kondisi tutupan Gunung Parakasak secara langsung

di lapangan, hasil pengamatan akan di padu serasikan dengan citra Landsat yang diperoleh dari hasil interpretsi satelit.

(28)

BLHD Propinsi Banten xxviii

Gambar II.7. Bagan alir pemetaan landuse dan tutupan lahan kawasan Gunung

Parakasak, Banten.

Citra landsat liputan terbaru

Survei Lapangan (ground checking)

Peta kerusakan lahan dan tutupan lahan Gunung Parakasak - Banten

Peta Interprestasi Landuse sementara

Klasifikasi Landuse

Analisis dan perbaikan Peta Interprestasi

Landuse sementara Data penunjang:

 Peta Status Kawasan Hutan

 Peta RTRW Provinsi Banten Interprestasi Landuse berdasarkan rona, warna,

tekstur, dan resolusi menggunakan software GIS

Data Survei Lapangan (ground checkig)

(29)

BLHD Propinsi Banten xxix

Gambar II.8. Global Positioning System (GPS) yang digunakan untuk

menentukan titik koordinat saat survei lapangan dilakukan.

(30)

BLHD Propinsi Banten xxx

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI KAJIAN

A.

Letak, Luas, dan Batas

Gunung Parakasak secara administrasi berada pada dua kabupaten, yaitu Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang Propinsi Banten. Berdasarkan kajian tim Ecositrop 2014, letak astronomis Gunung Parakasak berada pada 6012’35’’ s/d 6016’15” LS dan 105057’37” s/d 105057’51” BT. Hasil analisis Tim

Eositrop tahun 2014 terhadap citra Landsat menunjukkan bahwa kawasan Gunung Parakasak memiliki luas 1.252 hektar. Batas wilayah Gunung Parakasak terdiri dari :

Sebelah Utara : Kec. Padarincang Kab. Serang

Sebelah Selatan : Kec. Ciomas Kab. Serang dan Kec. Mandalawangi Kab. Pandeglang

Sebelah Barat : Kec. Padarincang Kab. Serang dan Kec. Mandalawangi Kab. Pandeglang

Sebelah Timur : Kec. Ciomas Kab. Serang

B.

Aksesibilitas

Aksesibilitas menuju Gunung Parakasak bisa ditempuh dari dua arah, yaitu arah utara dan arah selatan. Arah utara ditempuh dari Kota Jakarta menggunakan jalan darat menuju Kota Serang Propinsi Banten. Seterusnya dari arah Serang perjalanan dilanjutkan menggunakan jalan darat, menuju wilayah bagian utara Gung Parakasak Parakasak memasuki Kabupaten Serang melalui jalan Pusat Pemerintahan Kota Banten (PPKB) di Kecamata Palima dan seterunya

(31)

BLHD Propinsi Banten xxxi ke aah Kecamatan Padarincang. Akses menuju wilayah bagian selatan Gunung Parakasak bisa ditempuh dari arah Kota Pandeglang melewati jalan raya Pandeglang-Labuan melewati Kecamatan Mandalawangi kemudian ke arah timur menuju Kecamatan Ciomas Kabupaten Serang. Desa terdekat dengan kawasan Gunung Parakasak di bagian timur adalah Desa Cibarunai yang merupakan akses terdekat ke Gunung Parakasak.

C.

Gambaran Umum Gunung Parakasak

Secara umum Gunung Parakasak merupakan ekosistem yang berupa pegunungan, namun kondisi terkini ekosistem Gunung Parakasak berupa kebun campuran yang dikelola oleh masyarakat setempat. Gunung Parakasak terletak di Propinsi Banten, kawasannya terbagi ke dalam dua wilayah administrasi yaitu Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang. Berdasarkan peta status kawasan hutan Departemen Kehutanan, kawasan Gunung Parakasak terdiri atas Hutan Produksi dan Hutan Produksi Terbatas. Pada wilayah kaki gunung di sekelilingnya banyak dijumpai lahan pertanian seperti sawah dan ladang serta kebun masyarakat. Masyarakat yang tinggal baik di dalam maupun di sekitar kawasan Gunung Parakasak sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani. Jenis tanaman pertanian yang banyak dijumpai adalah tanaman melinjo dan berbagai macam sayuran. Selain jenis-jenis tersebut, masyarakat juga mengelola kawasan Gunung Parakasak dengan mebudidayakan jenis tanaman pertanian yang dikombinasikan dengan berbagai jenis tanman kayu keras seperti Sengon (paraseriarenthes falcataria), Suren (Toona sureni), Jabon (Neolamarckia cadamba), Mahoni (Swietenia macrophylla), dan berbagai jenis tanamn kayu

(32)

BLHD Propinsi Banten xxxii lainnya. Tanaman buah-buahan juga menjadi jenis tanamn yang dikombinasikan dengan tanaman palawija. Tanaman buah yang banyak dijumpai adalah Mangga (Mangifera sp.), Nangka (Artocarpus heterophyllus), Durian (Durio Sp.), Pete (Parki speciosa), dan berbagai jenis bauh lainnya.

(33)

BLHD Propinsi Banten xxxiii

Gambar III.1. a) Gunung Parakasak dilihat dari Kampung Cibarunai Kecamatan

Ciomas Kab. Serang dan b). Tim mengunakan motor menuju kawasan Gn. Parakasak melewati Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang dan Kecamatan Padarincang Kab. Serang.

a

b

(34)

BLHD Propinsi Banten xxxiv

Gambar III.2. a) Pemukiman warga Kampung Wangun (± 343 mdpl) di lereng

Gn. Parakasak dan b) Potongan kayu banyak dijumpai di sekitar Kampung Wangun.

a

b

(35)

BLHD Propinsi Banten xxxv

Gambar III.3. a) Akses menuju Kampung Wangun Atas (± 497 mdpl), kampung

ini adalah kampung terdekat dengan puncak Gn. Parakasak (±300 mdpl) dan b) Pondok Pesantren Nurunnajat yang ada di Kampung Wangun Atas.

a

b

(36)

BLHD Propinsi Banten xxxvi

Gambar III.4. a) Persawahan di lereng Gn. Parakasak dan b) Hewan ternak yang

dipelihara warga dan digunkan untuk membajak sawah. a

b

(37)

BLHD Propinsi Banten xxxvii

Gambar III.5. a) Struktur tutupan tanaman perkebunan masyarakat yang

menutupi Gn. Parakasak dan b) Tanaman perkebunan seperti pisang, cengkeh, kopi dan pohon durian yang dibudidayakan oleh masyarakat sekitar Gn. Parakasak.

a

b

(38)

BLHD Propinsi Banten xxxviii

Gambar III.6. a) Gambaran tegakan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang ada di

lereng Gn. Parakasak dari mahoni serta campuran tanaman buah durian dan b) Gambaran tegakan tanaman HTR dari jenis sengon.

a

b

(39)

BLHD Propinsi Banten xxxix

Gambar III.7. a) Tim survei vegetasi dan tutupan lahan melakukan identifikasi

kondisi vegetasi dan tutupan lahan terkini Gn. Parakasak dan b) Tim melakukan diskusi dan perencanaan sebelum menuju lokasi studi.

a

b

(40)

BLHD Propinsi Banten xl

Gambar III.8. a) Foto bersama setelah melakukan wawancara dengan warga

Kampung Malang Nengah (salah satu kampung di lereng Gn. Parakasak ± 269 mdpl) dan b) Tim sedang melihat peta tutupan lahan Gn. Parakasak.

a

b

(41)

BLHD Propinsi Banten xli

Gambar III.9. a) Tanaman cengkeh, melinjo, pisang dan coklat adalah tanaman

penyangga kehidupan masyarakat sekitar Gn. Parakasak dan b) Kondisi kanan kiri jalan setapak menuju Gn. Parakasak hampir semua berupa kebun warga.

a

b

(42)

BLHD Propinsi Banten xlii

Gambar III.10. a) Gunung Parakasak adalah salah satu gunung yang dipakai oleh

Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk latihan perang, terlihat pada gambar di belakang rumah warga Desa Cikoneng dan b) Foto tim survei biodiversity dan tutupan lahan di Gn. Parakasak. a

b

(43)

BLHD Propinsi Banten xliii

BAB IV PROFIL VEGETASI GUNUNG PARAKASAK

A. Kehadiran dan Keragaman Jenis Tanaman

Pada lokasi gunung parakasak, tidak dilakukan pembuatan plot vegetasi dan hanya dilakukan kegiatan eksplorasi. Terdapat dua jenis tumbuhan yang diperoleh, yakni Ficus benjamina dan Syzygium sp. Kedua jenis ini umum ditemukan pada hutan bekas tebangan dan hutan sekunder. Salah satu jenisnya seperti Ficus benjamina termasuk dalam jenis kunci atau keystone species yang memiliki pengaruh besar terhadap penyediaan pakan bagi makhluk hidup lain, karena mampu berbuah sepanjang tahun. Sama halnya seperti jenis Ficus benjamina, jenis lainnya yakni jambu-jambuan (Syzygium sp.) juga memiliki peran dalam penyediaan sumber pakan bagi satwa dan masyarakat sekitar. Posisi gunung parakasak yang memiliki ketinggian 996 m dpl juga merupakan habitat yang cocok bagi jenis Syzygium sp. untuk dapat berkembang dan bereproduksi, karena umumnya jenis ini mampu beradaptasi pada ketinggian dan tanah yang keras. Jenis ini umumnya ditanam sebagai penahan dan penyedia air bagi lingkungannya. Berdasarkan Tabel IV-1 khusus untuk family Myrtaceae, umum dimanfaatkan masyarakat sebagai kayu bakar dan buahnya dimakan, sehingga ditanam dalam skala besar.

Tabel IV-1. Hasil Eksplorasi vegetasi pada lokasi studi hutan alam Gunung

Parakasak.

No Nama Jenis Famili 1 Ficus benjamina Moraceae 2 Syzygium sp. Myrtaceae

(44)

BLHD Propinsi Banten xliv

B. Kehadiran dan Keragaman Jenis Tanaman HTR (Hutan

Tanaman Rakyat)

Pada lokasi Gunung Parakasak, terdapat pula hutan tanaman rakyat (HTR). Hutan tanaman rakyat ini umumnya ditanami oleh jenis memiliki tanaman yang memiliki kemampuan beradaptasi diberbagai kondisi tapak, cepat tumbuh, dan menghasilkan banyak produk, seperti kayu bakar berkualitas tinggi, kayu pertukangan berdiameter kecil, dan pakan ternak seperti Sengon (Paraserianthes falcataria), Mahoni (Swietenia mahagoni), Jati (Tectona grandis), Mindi (Melia azedarach ) dan Suren (Toona sinensis).

Dalam hutan tanaman rakyat Parakasak, pemanfaatan lahan dioptimalkan oleh masyarakat dengan menerapkan pengelolaan hutan secara tumpangsari (agroforestry) dengan menggabungkan tanaman hutan dengan tanaman perkebunan seperti Cengkeh (Syzygium aromaticum) dan Kopi (Coffea robusta). Pemanfaatan lahan ini dilakukan masyarakat agar memiliki tabungan dalam menunggu pohon hingga panen dan agar dapat memenuhi kebutuhan harian.

Berdasarkan data eksplorasi pada HTR Parakasak, ditemukan pula jenis pohon yang termasuk dalam kelompok MPTS ( Multi Purpose Trees Spesies) yang dapat dimanfaatkan buah, getah, kulit atau bagian tanaman lainnya. Beberapa jenis yang termasuk dalam kelompok MPTS ini Sukun (Artocarpus communis), Nangka (A. heterophyllus), Cempedak (A. integer), Sawo Manila (Achras zapota), Duku (Lansium domesticum), Mangga (Mangifera indica), Rambutan (Nephelium lauranum), Petai (Parkia speciosa) dan Kedondong (Spondias pinnata). Sehingga komposisi jenis penyusun pada hutan tanaman rakyat Parakasak terbagi menjadi kelompok jenis kayu pertukangan, kelompok jenis tanaman perkebunan dan

(45)

BLHD Propinsi Banten xlv kelompok jenis MPTS. Besarnya perbandingan kelompok penyusun jenis dapat dilihat pada Gambar IV.1 dibawah ini.

Gambar IV.1. Perbandingan Jumlah vegetasi jenis MPTS, pertukangan dan

perkebunan di lokasi studi hutan alam Gunung Parakasak.

Dari gambar diatas dapat dilihat, bahwa pemilihan jenis pohon terbesar yang ada di HTR Parakasak lebih mengutamakan pemanfaatan ganda, yakni kayu dan buah. Meski begitu, manfaat ekologi yang terdapat pada HTR Parakasak khususnya bagi vegetasi sekitar adalah sebagai sumber nutrisi bagi tanaman hutan, pelindung tanah hutan, penambahan jumlah spesies baik penyebaran structural maupun spesifik serta adanya daya lenting dan ketahanan pada alam. Sebaran jenis penyusun HTR Parakasak menurut kelompoknya dapat dilihat pada

Tabel IV-2 dibawah ini.

69,05 19,05 11,90

Komposisi Jenis

MPTS Pertukangan Perkebunan

(46)

BLHD Propinsi Banten xlvi

Tabel IV-2. Jenis Tanaman HTR yang berada di lokasi studi di Gunung

Parakasak.

No Nama Daerah Nama Jenis Famili Keterangan

1 Sawo Manila Achras zapota Sapotaceae MPTS

2 Buah Maja Aegle marmelos Rutaceae MPTS

3 Sukun Artocarpus communis Moraceae MPTS

4 Nangka Artocarpus heterophyllus Moraceae MPTS

5 Cempedak Artocarpus integer Moraceae MPTS

6 Belimbing Telunjuk Averrhoa bilimbi Oxalidaceae MPTS 7 Mata Pelanduk Baccaurea motleyana Euphorbiaceae MPTS 8 Gandaria Bouea macrophylla Anacardiaceae MPTS

9 Jeruk Sambal Citrus limonia Rutaceae MPTS

10 Jeruk Bali Citrus x paradisi Rutaceae MPTS

11 Sawo Duren Crateva religiosa Sapotaceae MPTS

12 Durian Durio zibethinus Bombaceae MPTS

13 Manggis Garcinia mangostana Guttiferae MPTS 14 Asam Kandis Garcinia xanthochymus Guttiferae MPTS

15 Melinjo Gnetum gnemon Gnetacea MPTS

16 Duku Lansium domesticum Meliaceae MPTS

17 Mangga Mangifera indica Anacardiacea MPTS

18 Mindi Melia azedarach Meliaceae MPTS

19 Tanjung Mimusops elengi Sapotaceae MPTS

20 Pala Myristica fragrans Myristicaceae MPTS

21 Rambutan Nephelium lappaceum Sapindaceae MPTS

22 Petai Parkia speciosa Fabaceae MPTS

23 Alpukat Persea americana Lauraceae MPTS

24 Jengkol Pithecellobium jiringa Fabaceae MPTS

25 Jambu Biji Psidium guajava Myrtaceae MPTS

26 Kedondong Spondias pinnata Anacardiaceae MPTS

27 Jambu Air Syzygium aqueum Myrtaceae MPTS

(47)

BLHD Propinsi Banten xlvii Tabel IV-2. Lanjutan

No Nama Daerah Nama Jenis Famili Keterangan

28 Jambu Bol Syzygium malaccense Myrtaceae MPTS

29 Coklat Theobroma cacao Malvaceae MPTS

30 Kesemek Diospyros lotus Ebenaceae Pertukangan 31 Jabon Neolamarckia cadamba Rubiaceae Pertukangan 32 Sengon Paraserianthes falcataria Fabaceae Pertukangan 33 Banitan Polythia glauca Annonaceae Pertukangan

34 Trembesi Samanea saman Fabaceae Pertukangan

35 Mahoni Swietenia mahagoni Meliaceae Pertukangan

36 Jati Tectona grandis Lamiaceae Pertukangan

37 Suren Toona sinensis Meliaceae Pertukangan

38 Kapuk Randu Ceiba petandra Bombaceae Perkebunan

39 Kopi Coffea robusta Rubiaceae Perkebunan

40 Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae Perkebunan 41 Cengkeh Syzygium aromaticum Myrtaceae Perkebunan 42 Jamblang Syzygium cumini Myrtaceae Perkebunan

Selain itu, HTR Parakasak juga terdiri dari komposisi jenis yang beragam, terhitung pada hutan tanaman rakyat parakasak terdiri dari 20 famili dan beberapa diantaranya adalah Myrtaceae, Fabaceae, Meliaceae, Anacardiaceae, Moraceae, Rutaceae, Sapotaceae dan Ebenaceae. Komposisi jenis penyusun HTR Parakasak berdasarkan familinya dapat dilihat pada Tabel IV-3 berikut ini.

(48)

BLHD Propinsi Banten xlviii

Tabel IV-3. Komposisi jenis penyusun HTR parakasak berdasarkan familinya.

No Nama Daerah Nama Jenis Famili

1 Mangga Mangifera indica Anacardiacea

2 Gandaria Bouea macrophylla Anacardiaceae

3 Kedondong Spondias pinnata Anacardiaceae

4 Banitan Polythia glauca Annonaceae

5 Kapuk Randu Ceiba petandra Bombaceae

6 Durian Durio zibethinus Bombaceae

7 Kesemek Diospyros lotus Ebenaceae

8 Mata Pelanduk Baccaurea motleyana Euphorbiaceae

9 Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae

10 Sengon Paraserianthes falcataria Fabaceae

11 Petai Parkia speciosa Fabaceae

12 Jengkol Pithecellobium jiringa Fabaceae

13 Trembesi Samanea saman Fabaceae

14 Melinjo Gnetum gnemon Gnetacea

15 Manggis Garcinia mangostana Guttiferae

16 Asam Kandis Garcinia xanthochymus Guttiferae

17 Jati Tectona grandis Lamiaceae

18 Alpukat Persea americana Lauraceae

19 Coklat Theobroma cacao Malvaceae

20 Duku Lansium domesticum Meliaceae

21 Mindi Melia azedarach Meliaceae

22 Mahoni Swietenia mahagoni Meliaceae

23 Suren Toona sinensis Meliaceae

24 Sukun Artocarpus communis Moraceae

25 Nangka Artocarpus heterophyllus Moraceae

26 Cempedak Artocarpus integer Moraceae

27 Pala Myristica fragrans Myristicaceae

(49)

BLHD Propinsi Banten xlix Tabel IV-3. Lanjutan

No Nama Daerah Nama Jenis Famili

28 Jambu Biji Psidium guajava Myrtaceae

29 Jambu Air Syzygium aqueum Myrtaceae

30 Cengkeh Syzygium aromaticum Myrtaceae

31 Jamblang Syzygium cumini Myrtaceae

32 Jambu Bol Syzygium malaccense Myrtaceae 33 Belimbing Telunjuk Averrhoa bilimbi Oxalidaceae

34 Kopi Coffea robusta Rubiaceae

35 Jabon Neolamarckia cadamba Rubiaceae

36 Buah Maja Aegle marmelos Rutaceae

37 Jeruk Sambal Citrus Limonia Rutaceae

38 Jeruk Bali Citrus x paradisi Rutaceae

39 Rambutan Nephelium lappaceum Sapindaceae

40 Sawo Manila Achras zapota Sapotaceae

41 Sawo Duren Crateva religiosa Sapotaceae

42 Tanjung Mimusops elengi Sapotaceae

Dari data diatas, famili Myrtaceae hadir dengan 5 jenis tanaman yakni Psidium guajava, Syzygium aqueum, Syzygium aromaticum, Syzygium cumini dan Syzygium malaccense. Dari kelima jenis diatas, terdapat salah satu komoditas utama yang umum dijual masyarakat dipasar, yakni Cengkeh (Syzygium aromaticum). Selain itu, terdapat pula masing-masing 4 jenis dari famili Fabaceae dan Meliaceae yang diantaranya terdapat pohon inti dalam usaha HTR di Parakasak, yakni Sengon (Paraserianthes falcataria). Secara detil perbandingan jenis pohon penyusun HTR parakasak dapat dilihat pada Gambar IV.2 dibawah ini.

(50)

BLHD Propinsi Banten l

Gambar IV.2. Perbandingan Jenis Pohon Penyusun HTR Berdasarkan Familinya

pada lokasi studi Gunung Parakasak.

0 1 2 3 4 5 6 Myrtaceae Fabaceae Meliaceae Anacardiaceae Moraceae Rutaceae Sapotaceae Bombaceae Euphorbiaceae Guttiferae Rubiaceae Annonaceae Ebenaceae Gnetacea Lamiaceae Lauraceae Malvaceae Myristicaceae Oxalidaceae Sapindaceae Jumlah Jenis Fa mi li

(51)

BLHD Propinsi Banten li

BAB V PROFIL SATWALIAR GUNUNG PARAKASAK

A.

Kehadiran Satwaliar Kelompok Mamalia

Kawasan Gunung Parakasak memiliki luas mencapai 1.252 ha, namun areal yang berhutan hanya tersisa < 1%. Areal hutan di Gunung Parakasak telah berubah fungsi menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena bukaan tajuk yang berlebihan dapat menimbulkan masalah regenerasi, terutama pada kondisi yang sangat terbuka sehingga tanah cepat mengering dan unsur hara hilang karena aliran permukaan yang deras (Meijaard dkk, 2006). Keanekaragaman satwaliar sangat erat kaitannya dengan kondisi hutan. Rayadin dkk, (2010) mengatakan dalam teori satwaliar bahwa setiap jenis mamalia memiliki daerah penyebaran tertentu berdasarkan kondisi geografis dan ekologis. Penyebaran jenis mamalia berdasarkan faktor ekologi sangat dipengaruhi oleh komposisi vegetasi suatu tipe habitat. Namun, kondisi kawasan hutan yang bagus dengan komposisi vegetasi yang cenderung beragam belum cukup untuk mengundang satwaliar hadir di kawasan tersebut. Untuk mengetahui penyebaran satwaliar khususnya kelompok mamalia pada kawasan Gunung Parakasak perlu dilakukan pengamatan terhadap satwaliar. Tabel V.1 menunjukkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dengan menggunakan beberapa metode.

(52)

BLHD Propinsi Banten lii

Tabel V-1. Kehadiran satwaliar kelompok mamalia di kawasan Gunung

Parakasak.

No Nama Jenis Family Metode pengamatan

Nama Lokal Nama Ilmiah

1 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis Cercopithecidae Pengamatan, Suara 2 Kijang muntjak Muntiacus muntjak Cervidae Jejak

3 Pelanduk Tragulus sp Tragulidae Jejak

4 Babi hutan Sus barbatus Suidae Pengamatan, Sarang 5 Tenggalung Malaya Viverra tangalunga Viverridae Pengamatan

6 Musang galling Paguma larvata Viverridae Pengamatan 7 Landak raya Hystrix brachyura Hystricidae Sisa Pakan 8 Bajing Callosciurus sp Sciuridae Pengamatan

9 Tikus Rattus sp Muridae Pengamatan,

Berdasarkan data pada Tabel V-1 menunjukkan bahwa terdapat 9 jenis satwaliar kelompok mamalia yang berhasil teridentifikasi. Pada dasarnya satwaliar mamalia dapat dibedakan melalui berat tubuh yaitu mamalia besar dan mamalia kecil. Menurut batasan International Biological Program, yang dimaksud mamalia kecil adalah jenis mamalia yang memiliki berat badan dewasa yang kurang dari lima kilogram, sedangkan selebihnya termasuk ke dalam kelompok mamalia besar (Amir, 1978). Kehadiran satwaliar kelompok mamalia di kawasan Gunung Parakasak didominansi oleh kelompok mamalia besar. Kelompok mamalia kecil yang berhasil teridentifikasi yaitu jenis Callosciurus sp dan Rattus sp. Kondisi ini dikarenakan luasnya lahan yang terbuka dan aktivitas manusia cukup intensif sehingga dapat mengurangi kemampuan mamalia kecil dalam

(53)

BLHD Propinsi Banten liii melarikan diri dari pemangsa akibatnya jenis-jenis mamalia kecil menjadi mangsa utama bagi predatornya.

Mamalia dapat dibedakan berdasarkan familinya (suku). Secara umum, pengelompokkan jenis-jenis mamalia dilakukan berdasarkan kriteria yang sama misalnya berdasarkan makanan, perilaku aktif, susunan gigi, dan kriteria-kriteria lainnya. Apabila dilihat dari jumlah famili (suku) terdapat 7 famili satwa kelompok mamalia yang dapat dilihat pada Gambar V.1 berikut.

Gambar V.1. Keragaman satwaliar kelompok mamalia berdasarkan famili di

kawasan Gunung Parakasak.

Berdasarkan data pada Gambar V.1 dapat dilihat bahwa terdapat 8 famili mamalia. Komposisi jenis terbanyak dalam satu famili yaitu famili Viverridae.

0 1 2 3 4 5 Juml ah Jeni s Famili

(54)

BLHD Propinsi Banten liv Kondisi ini sangat beralasan karena satwa-satwa famili Viverridae merupakan satwa yang bersifat generalis atau mamalia yang mampu bertahan hidup pada kondisi habitat yang terdegradasi. Seiring berjalannya waktu, pembukaan areal hutan dapat menyebabkan ledakan populasi. Kondisi ini dapat terlihat dari kehadiran jenis musang-musangan (famili Viverridae). Secara umum, jenis jenis musang-musangan (famili Viverridae) merupakan pemangsa oportunis yang meskipun status taksonominya adalah karnivora, namun beberapa jenis musang-musangan ini secara eksklusif memakan buah, umumnya buah yang berkadar gula tinggi dan berdaging lembut (Meijaard dkk. 2006). Selain perilaku jenis musang-musangan, perilaku satwaliar lainnya juga dapat diamati pada Tabel V-2 berikut ini.

Tabel V-2. Klasifikasi jenis mamalia berdasarkan kelas makan, waktu aktif dan

stratifikasi ekologi.

No Nama Ilmiah Family Kelas Makan Waktu aktif Stratifikasi Car Her Omn Diu Noc Met Arb Ter

1 Macaca fascicularis Cercopithecidae √ √ √

2 Muntiacus muntjak Cervidae √ √ √

3 Tragulus sp Tragulidae √ √ √

4 Sus barbatus Suidae √ √ √

5 Viverra tangalunga Viverridae √ √ √

6 Paguma larvata Viverridae √ √ √ √

7 Hystrix brachyura Hystricidae √ √ √

8 Callosciurus sp Sciuridae √ √ √ √

9 Rattus sp Muridae √ √ √ √

*keterangan : Car = Carnivora, Her = Herbivora, Omn = Omnivora, Diu = Diurnal, Noc = Nocturnal, Met = Metaturnal, Arb = Arboreal, Ter = Terresterial

(55)

BLHD Propinsi Banten lv Berdasarkan data pada Tabel V-2 menunjukkan bahwa terdapat berbagai perilaku satwaliar seperti perilaku makan, waktu aktif dan stratifikasi ekologi. Mamalia umumnya merupakan obyek utama pengamatan perilaku dalam dunia satwa. Alikodra (1990) menyatakan bahwa perilaku ialah kebiasaan-kebiasaan satwaliar dalam aktifitas hidupnya, seperti sifat mengelompok, waktu aktif, wilayah pergerakan, cara mencari makan,cara dan aktivitas-aktivitas lainnya.

Gambar V.2. Grafik kehadiran satwaliar kelompok mamalia yang ditemukan di

kawasan Gunung Parakasak berdasarkan kelas makannya.

(56)

BLHD Propinsi Banten lvi

Gambar V.3. Grafik Kehadiran satwaliar kelompok mamalia yang ditemukan

di kawasan Gunung Parakasak berdasarkan waktu aktifnya.

Gambar V.4. Grafik Kehadiran satwaliar kelompok mamalia yang ditemukan

di kawasan Gunung Parakasak berdasarkan stratifikasi ekologi.

(57)

BLHD Propinsi Banten lvii Berdasarkan data pada Gambar V.2 menunjukkan bahwa terdapat mamalia pemakan tumbuuhan (heerbivora). Bila dibandingkan dengan kelas makan omnivora, jumlah kelas makan herbivora lebih sedikit. Kondisi dapat disebabkan oleh berkurangnya sumber pakan bagi beberapa jenis tertentu, sehingga hanya satwa-satwa tertentu yang mampu bertahan hidup pada habitat yang terganggu seperti jenis Tragulus sp. Secara umum, jenis tersebut merupakan jenis yang dapat ditemukan diberbagai tipe hutan seperti hutan dataran tinggi, hutan sekunder dan terkadang ditemukan di kebun-kebun. Jenis Tragulus sp sangat bergantung terhadap buah-buahan yang jatuh. Makanan utamanya meliputi buah-buahan yang jatuh, tunas daun dan vegetasi lainnya (Charles, 2008).

Berdasarkan Gambar V.3 terdapat mamalia yang cenderung aktif pada siang hari dan malam hari (metaturnal). Salah satu jenis yang termasuk metaturnal adalah jenis Muntiacus muntjac. Makanan Muntiacus muntjac diperkirakan mengandung sejumlah besar tumbuhan hijau. Kondisi tersebut dapat menjelaskan mengapa jenis tersebut mampu bertahan di kawasan hutan yang terdegradasi (Meijaard dkk, 2006).

Secara umum, perubahan kelimpahan spesies ungulata (jenis Tragulus sp dan Muntiacus muntjac) ditentukan oleh perburuan. Selain pembukaan lahan yang menyebabkan habitat satwa terganggu, ancaman terhadap jenis ini sangat besar terutama ancaman perburuan karena areal di sekitar kawasan Gunung Parakasak sudah berubah fungsi menjadi pemukiman masyarakat sehingga baik kebutuhan ekonomi maupun kebutuhan protein hewani semakin hari semakin meningkat.

(58)

BLHD Propinsi Banten lviii Selain itu, meskipun pada beberapa areal terbuka dapat memberikan makanan bagi jenis-jenis tersebut peningkatan aksesibilitas akibat adanya aktivitas perkebunan juga dapat menyebabkan tingginya tekanan perburuan (Meijaard dkk, 2006).

Beberapa mamalia agak mirip dengan tipe binatang lain dan mungkin membingungkan. Misalnya jenis Hystrix brachyura agak mirip reptilia karena bersisik dan lidahnya panjang, tetapi sisiknya sebenarnya dibentuk dari rambut-rambut yang mengumpul (Payne dkk ,2000). Secara umum, mamalia jenis Hystrix brachyura merupakan salah satu jenis satwa yang bersifat generalis. Meskipun secara Nasional jenis tersebut dilindungi namun, pada beberapa penelitian yang dilakukan oleh Rayadin dkk (2013 dan 2014) menunjukkan bahwa satwa tersebut mampu bertahan hidup pada kondisi habitat yang terdegradasi. Satwa tersebut dapat ditemukan pada kawasan hutan alam atau hutan sekunder, perkebunan sawit bahkan di wilayah pertambangan di Kalimantan Timur. Sumber pakannya meliputi buah-buahan yang jatuh termasuk kelapa sawit, kulit pohon, akar-akaran hingga umbi-umbian (Charles, 2008).

(59)

BLHD Propinsi Banten lix

Gambar V.5. Sisa pakan jenis Hystrix brachyura ditemukan di kawasan Gunung

Parakasak.

Sedangkan jenis Paguma larvata dapat dijumpai pada malam hari dan siang hari, pada umumnya jenis ini merupakan satwa yang hidup di atas permukaan tanah (terrestrial), tetapi kadang memanjat ke atas pohon. Jenis ini memakan beberapa jenis buah-buahan dan berbagai invertebrata dan vertebrata kecil yang diperoleh terutama dari lantai hutan (Rayadin dkk, 2013).

(60)

BLHD Propinsi Banten lx

Gambar V.6. Bekas jejak dan sisa pakan jenis Sus barbatus ditemukan di

kawasan Gunung Parakasak.

Jenis ungulata yang lebih bersifat generalis dan opportunis, yaitu Sus barbatus, terdapat di seluruh lokasi pengamatan. Frekuensi pemanfaatan kawasan perkebunan sebagai tempat mencari makanan ditunjukkan dari temuan jejak kaki dan bekas-bekas tempat mencari makan berupa akar-akar tumbuhan dan hewan-hewan tanah (rooting sign). Sus barbatus sering pula ditemukan dalam kelompok dan berkeliaran di jalan-jalan kebun (Rayadin dkk, 2013).

(61)

BLHD Propinsi Banten lxi

B.

Kehadiran Satwaliar Kelompok Burung

Untuk pengamatan dan identifikasi keragaman jenis burung di Gunung Parakasak dilakukan secara langsung yaitu dengan menggunakan teropong binocular, monocular dan juga menggunakan kamera jarak jauh. Sedangkan untuk pengamatan dengan menggunakan metode secara tidak langsung yaitu dengan cara mendengarkan suara burung, khususnya jenis burung dengan suara yang khas misalnya burung jenis gagak (Corvus enca).

Dalam penelitian ini mencoba mencatat dan merekam sebanyak mungkin jenis burung yang ditemukan, baik melalui metode pengamatan dan penangkapan maupun identifikasi lewat suara. Pada daerah dengan ketinggian hingga 1.000 meter dari permukaan laut seperti kawasan di Gunung Parakasak pada umumnya akan didapat keragaman jenis yang optimal, walaupun pada kenyataannya memperlihatkan bahwa penyebaran keanekaragaman di dalam hutan tropis juga ada kecenderungan tidak merata.

Beberapa jenis burung yang hadir di lokasi pengamatan pada umumnya adalah jenis-jenis yang termasuk ke dalam kelompok pemakan serangga (Insectivore) dan atau campuran antara serangga dan buah-buahan (Frugivore). Jenis-jenis yang memiliki variasi makanan yang cukup luas (generalist) umumnya adalah jenis yang mampu bertahan hidup lebih baik terhadap lingkungan dibandingkan dengan jenis-jenis yang terspesialisasi kepada satu jenis makanan tertentu saja. Secara ekologis tentu sangat menarik melihat kehadiran dari jenis-jenis burung yang ada kaitannya dengan keberadaan jenis-jenis makanan yang tersedia di dalam kawasan tersebut.

(62)

BLHD Propinsi Banten lxii

Tabel V-3. Keragaman jenis burung yang ditemukan pada kawasan Gunung

Parakasak, Banten.

No Nama Jenis Famili Kelas

Makan

Status Nasional

Lokal Latin

1 Elang Hitam Ictinaetus malayensis Accipitridae R D 2 Kuntul Kerbau Bubulcus ibis Ardeidae Insec/Pisc 3 Raja Udang Meninting Alcedo meninting Alcedinidae Insec/Pisc D 4 Udang Api Ceyx erithacus Alcedinidae Insec/Pisc D 5 Layang-layang Rumah Delichon dasypus Alaudidae

6 Delimukan Zamrud Chalcophaps indica Columbidae AF TD 7 Tekukur Biasa Streptopelia chinensis Columbidae AFGI

8 Perkutut Jawa Geopelia striata Columbidae AFGI 9 Cica daun kecil Chloropsis cyanopogon Chloropseidae AFGI

10 Gagak Hutan Corvus enca Corvidae AFGI

11 Bubut Alang-alang Centropus bengalensis Cuculidae AFGI 12 Bentet kelabu Lanius schach Laniidae

13 Burung madu gunung Aethopyga eximia Nectariniidae NIF D 14 Burung madu belukar Anthreptes singalensis Nectariniidae NIF D 15 Burung madu kelapa Anthreptes malacensis Nectariniidae NIF D 16 Pijantung Kecil Arachnothera longirostra Nectariniidae NI D 17 Pjantung Besar Arachnothera robusta Nectariniidae NI D

18 Gelatik jawa Padda oryzivora Ploceidae TF TD

19 Bondol Rawa Lonchura malacca Ploceidae TF TD

20 Empuloh Irang Alophoixus phaeocephalus Pycnonotidae AFGI/F 21 Cucak Kutilang Pycnonotus aurigaster Pycnonotidae AFGI/F

22 Merbah Kaca Mata Pycnonotus erythrophthalmos Pycnonotidae AFGI/F TD 23 Cucak Kuricang Pycnonotus atriceps Pycnonotidae AFGI/F

24 Empuloh janggut Alophoixus bres Pycnonotidae AFGI/F 25 Merbah Cerukcuk Pycnonotus goavier Pycnonotidae AFGI/F 26 Cinenen Pisang Orthotomus sutorius Silviidae AFGI 27 Cinenen Jawa Orthotomus sepium Silviidae AFGI

28 Cinenen Kelabu Orthotomus ruficeps Silviidae AFGI TD 29 Cinenen Merah Orthotomus sericeus Silviidae AFGI TD 30 Kacamata biasa Zosterops palpebrosus Zosteropidae

Keterangan :

A = arboreal; F = frugivore; G = generalist; I = insectivore; N = nectivore; T = terrestrial; R = raptor; Insec = insectivore; Pisc = pisces;

D = Dilindungi; TD = Tidak Dilindungi

(63)

BLHD Propinsi Banten lxiii Daftar jenis berikut (Tabel V-3) memperlihatkan jenis-jenis yang berhasil diidentifikasi dengan menggunakan kombinasi metode yang dilakukan lengkap dengan famili, nama lokal dan latin serta kelas makannya.

Berdasarkan Tabel V-3 di atas diketahui bahwa secara umum jenis burung yang berhasil diidentifikasi di Gn. Parakasak merupakan jenis pemakan serangga maupun biji-bijian/buah-buahan, hal ini menunjukkan bahwa kawasan hutan Gunung Parakasak masih memiliki sumberdaya makanan yang cukup banyak.

Pada pengamatan di hutan Gunung Parakasak berhasil mengidentifikasi jenis-jenis yang sering ditemukan di dalam hutan tropis, baik itu melalui pengamatan langsung, ataupun dengan suara. Umumnya bila terdengar suaranya akan segera dibuktikan dengan terlihatnya jenis tersebut setelah beberapa saat kemudian. Jenis-jenis tersebut diantaranya adalah Arachnothera longirostra, dan Pycnonotus aurigaster.

Cucak-cucakan adalah suatu famili dengan jumlah jenis besar dan terkait dengan pilihan habitat yang bervariasi. Kelompok jenis ini merupakan kelompok yang sangat sering ditemui. Pada pengamatan di kawasan hutan Gunung Parakasak berhasil mengkonfirmasi kehadiran jenis Cucak kuricang (Pycnonotus atriceps). Jenis ini merupakan jenis yang hanya ditemukan pada wilayah-wilayah yang masih memiliki tutupan tajuk yang relatif rapat atau dengan kata lain wilayah hutan yang masih baik.

(64)

BLHD Propinsi Banten lxiv

Gambar V.7. Jenis Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang ditemukan pada

kawasan Gunung Parakasak.

Selain jenis yang telah disebutkan di atas, beberapa jenis yang teramati antara lain Pycnonotus aurigaster (Cucak Kutilang), Alophoixus phaeocephalus (Empuloh Ireng), dan Pycnonotus erythrophthalmos (Merbah Kaca Mata). Melimpahnya jenis cucak-cucakan terutama di lokasi pengamatan. Cukup beralasan, mengingat burung ini termasuk kelompok spesies generalist frugivore/insectivores dan memakan buah-buahan jenis-jenis pionir dan spesies ini memainkan peranan yang penting dalam mempercepat proses penyebaran jenis-jenis pionir pada hutan-hutan bekas tebangan.

Jenis dari suku ini dapat dikenali dengan baik dari paruh panjangnya yang melengkung. Jenis ini pada umumnya merupakan pemakan nektar dan sari

(65)

BLHD Propinsi Banten lxv bunga, tetapi ada juga yang memakan serangga. Jenis-jenis dalam famili ini lebih menyukai semak dan menghisap madu tumbuh-tumbuhan bawah. Semua jenis ini bersifat aktif, tidak kenal lelah dan bergerak terus menerus mencari makan (MacKinnon, J. dkk. 2000).

Gambar V.8. Jenis Anthreptes singalensis yang ditemukan pada kawasan

Gunung Parakasak.

Jenis Arachnothera longirostra merupakan jenis burung pemakan nektar dan serangga kecil yang umum ditemukan di areal hutan yang sudah sedikit terbuka, bekas tebangan, bekas terbakar atau pun bekas perladangan dengan skala yang kecil. Berbeda dengan burung madu belukar (Anthreptes singalensis) dan burung madu kelapa (Anthreptes malacensis), kedua jenis ini merupakan pemakan nektar, serangga maupun buah-buahan jenis-jenis pionir seperti Loranthus sp, Musa sp.

(66)

BLHD Propinsi Banten lxvi dan Hybiscus sp. (MacKinnon, J. dkk. 2000). Jenis ini juga termasuk dalam status sering ditemukan (common spesies), walaupun secara hukum semua jenis dalam famili Nectariidae (penghisap madu) termasuk dalam jenis yang dilindungi.

Jenis yang memanfaatkan kawasan perairan, sungai kecil maupun persawahan yang ada di kawasan hutan Gunung Parakasak, yaitu jenis Bubulcus ibis (kuntul kerbau). Jenis ini merupakan jenis yang umum dijumpai dan biasa terlihat berjalan sendirian maupun berkelompok di sekitar tepian sungai besar, anak sungai maupun persawahan. Namun demikian jenis ini dikenal sebagai jenis yang memang suka menetap cukup lama di satu daerah dan kemudian berpindah ke tempat lain untuk juga menetap cukup lama.

Gambar V.9. Jenis Bubulcus ibis yang ditemukan pada kawasan Gunung

Parakasak.

(67)

BLHD Propinsi Banten lxvii

BAB VI PROFIL TUTUPAN LAHAN

A.

Kondisi Kekinian dan Status Kawasan Gunung Parakasak

Kondisi tutupan lahan Gunung Parakasak didominasi oleh kebun campuran. Selain kebun campuran juga terdapat sawah dan ladang serta sedikit area berupa hutan. Tutupan lahan tersebut dianalisis berdasarkan pada warna yang ditampilkan pada citra Landsat 7 liputan tahun 2014. Sawah dan ladang tersebar hampir di seluruh wilayah Gunung Parakasak, kecuali bagian selatan yang termasuk dalam Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang. Menurut SK Menhut No.195/Kpts-II/2003 Tentang Penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan Propinsi Banten, Gunung Parakasak terbagi atas kawasan Hutan Produksi dan Hutan Produksi Terbata. Hasil analisis terhadap citra Landsat menunjukkan bahwa kawasan Gunung Parakasak memiliki luas 1.252 hektar (Ecositrop 2014). Kawasan Gunung Parakasak secara umum merupakan kebun campuran yang dikelola oleh masyarakat setempat, terutama yang berada di Kecamatan Padarincang dan Ciomas Kabupaten Serang. Berikut adalah gambaran umum kondisi kekinian tutupan lahan di Gunung Parakasak (Gambar VI.1).

(68)

BLHD Propinsi Banten lxviii

Gambar VI.1. Kondisi tutupan lahan Gunung Parakasak secara umum

merupakan kebun campuran dan ladang.

Hasil analisis citra Landsat menunjukkan bahwa luas kawasan Gunung Parakasak terdiri 93 hektar Hutan Produksi (HP) dan 1.159 hektar Hutan Produksi Terbatas (HPT). Kawasan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah administrasi, yaitu Kabupten Pandeglang dan Kabupaten Serang Propinsi Banten. Luas masing-masing kawasan dan wilayah administrasi Gunung Paraksak secara detail ditampilkan pada tabel berikut.

(69)

BLHD Propinsi Banten lxix

Tabel VI-1. Status kawasan dan luas kawasan Gunung Parakasak serta wilayah

administarinya berdasarkan SK Menhut No.195/Kpts-II/2003.

No

Kabupaten Status Kawasan Luas (Ha) Persentase

(%)

1

Pandeglang Hutan Produksi 14 1,1

Hutan Produksi Terbatas 362 28,9

Sub total 376 30,0

2

Serang Hutan Produksi 79 6,3

Hutan Produksi Terbatas 797 63,7

Sub total 876 70,0

Total 1.252 100,0

Table VI-1 menjelaskan kawasan Gunung Parakasak terbagi dalam dua

wilayah administrasi, yaitu Kabupaten Pandeglang dan Serang. Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan Produksi (HP) terdapat di dua kabupaten. Gunung Parakasak tidak memiliki kawasan dengan status Hutan Lindung. Sebagian besar wilayah hutan terdapat di Kabupaten Serang dengan persentase 70,0% (876 hektar) dan kawasan hutan terluas memiliki status HPT dengan persentase 63,7% (797 hektar), sementara HP memiliki persentase 6,3% (79 hektar) dari total luas seluruh kawasan. Kawasan Gunung Parakasak yang terdapat di Kabupaten Pandeglang memiliki persentase 30,0% (376 hektar), yang terdiri dari HPT dengan persentase 28,9% (362 hektar) dan HP dengan persentase 1,1% (14 hektar). Gambaran status kawasan Gunung Parakasak dan wilayah administrasinya ditampilkan pada gambar berikut.

(70)

BLHD Propinsi Banten lxx

Gambar VI.2. Peta status kawasan Gunung Parakasak berdasarkan SK Menhut

No.195/Kpts-II/2003.

(71)

BLHD Propinsi Banten lxxi

B. Tata Guna Lahan dan Fungsi Kawasan

Berdasarkan analisis citra lansat, tata guna lahan kawasan Gunung Parakasak terdiri atas kebun campuran, sawah/ ladang, dan hutan. Pada areal pertanian yang berupa ladang atau sawah juga terdapat pemukiman, namun pemukiman tersebut tidak membentuk sebuah hamparan yang luas sehingga dalam penentuan tata guna lahan pada proses padu serasi (overlay) area pemukiman masyarakat pada kawasan Gunung Parakasak berupa titik saja. Saha halnya dengan area terbuka berupa jalan yang digambarkan dalam peta berupa garis. Tata guna lahan Gunung Parakasak yang dihasilkan merupakan analisis pada citra Lansdsat yang ditunjukkan oleh Band5, Band4, dan Band2, dimana setiap Band tersebut diinterpretasikan dengan warna yang menunjukkan kategori masing-masing fungsi kawasan seperti merah untuk tanah (Band5), hijau untuk vegetasi (Band4), dan biru untuk air (Band2). Berdasarkan analisis Band tersebut, sebagian besar kawasan Gunung Parakasak memiliki warna yang didominasi olah Band4 dengan kecenderungan warna hijau muda. Hasil surevei yang dilakukan di lapangan (groundchecking), pada lokasi tersebut merupakan kebun campuran masyarakat, sehingga dengan menggabungkan dua metode tersebut dapat ditentukan kawasan Gunung Parakasak sebagian besar berupa kebun campuran. Tabel berikut (Tabel VI-2) adalah hasil analisis tata guna lahan dan fungsi kawasan Gunung Aseupan yang diperoleh dari citra Landsat.

(72)

BLHD Propinsi Banten lxxii

Tabel VI-2. Sebaran tata guna lahan pada setiap fungsi kawasan di Gunung

Parakasak berdasarkan analisis citra Landsat.

NAMA GUNUNG TATAGUNA LAHAN SEBARAN LAHAN (Ha) TOTAL HL HP HPT Ha % Gunung Parakasak Hutan 0 0 9 9 0,74 Kebun Campuran 0 90 1.105 1.195 95,46 Ladang 0 3 45 48 3,80 Total 0 93 1.159 1.225 100,00 Keterangan

HL : Hutan Lindung HPT : Hutan Produksi Terbatas HP : Hutan Produksi Ha : Hektar (satuan luas)

Hasil analisis yang disajikan pada tabel di atas menunjukkan kondisi kekinian dari tata guna lahan Gunung Parakasak dan sebaran wilayah menurut fungsi kawasannya. Gunung Parakasak tidak memiliki status kawasan yang berfungsi sebagai Hutan Lindung (HL). Kawasan tersebut terdiri atas Hutan Produksi (HP) dan Hutan Produksi Terbatas (HPT). Kebun campuran pada kawasan Gunung Parakasak tersebar pada HP dan HPT dengan luas masing-masing 90 hektar dan 1.105 hektar. Total luas kebun campuran adalah 1.195 hektar atau sekitar 95,46% dari luas total seluruh kawasan. Luas kawasan pertanian yang berupa ladang dan persawahan adalah 48 hektar, lahan tersebut tersebar pada kawasan HP dengan luas 3 hektar dan pada kawasan HPT dengan luas 45 hektar. Persentase luas ladang dan sawah adalah 3,80% dari total seluruh kawasan. Hutan merupakan area yang memiliki luas paling sedikit, yaitu 9 hektar dengan persentase 0,74% dan hanya tersebar di kawasan HPT.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis fitokimia terhadap 25 sampel tanaman dari kawasan hutan lindung Gunung Simpang telah dilakukan untuk memperoleh data mengenai kandungan metabolit sekunder golongan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi keanekaragaman jenis burung di lereng selatan Gunung Merapi dan mengetahui kualitas modul yang disusun dari hasil

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi penutupan lahan pada Kawasan Hutan Lindung Gunung Naning yang berada di wilayah Kabupaten Sekadau Provinsi Kalimantan Barat

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelas tutupan lahan yang ada di DAS Wampu dan untuk mengetahui perubahan tutupan lahan yang terjadi di DAS Wampu antara tahun

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelas tutupan lahan yang ada di DAS Wampu dan untuk mengetahui perubahan tutupan lahan yang terjadi di DAS Wampu antara tahun

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelas tutupan lahan yang ada di DAS Wampu dan untuk mengetahui perubahan tutupan lahan yang terjadi di DAS Wampu antara tahun

Konflik antara manusia dengan harimau (Panthera tingris sumatrae) di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kecamatan Bahorok terjadi di tutupan lahan perkebuan

Informasi dari masyarakat juga menjadi bahan yang penting untuk mengetahui adanya kehadiran burung pada wilayah kajian. Tim melakukan pengamatan burung secara