• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Gaya Kepemimpinan

3. Macam-macam Gaya Kepemimpinan

Karena gaya adalah sebuah cara, dan gaya adalah karakteristik seseorang, maka gaya kepemimpinan adalah cara/karakteristik yang digunakan oleh seorang pemimpin untuk mempengaruhi orang lain. Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin sangat beraneka ragam, tergantung cara seorang pemimpin dalam mempengaruhi orang lain. Menurut Pandji Anoraga, “untuk memilih gaya yang akan digunakan, perlu dipertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhinya, yaitu : faktor dalam organisasi, faktor pimpinan, faktor bawahan, dan faktor situasi.”14

Semua faktor tersebut yang harus diperhatikan dalam memilih gaya kepemimpin yang akan digunakan dalam memimpin sebuah sekolah. Faktor-faktor tersebut yang nantinya akan menciptakan gaya kepemimpinan apa yang akan digunakan

13

Hendayat Soetopo, Perilaku Organisasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), h. 232-233

14

untuk mempengaruhi para bawahannya agar mereka bersedia mengikuti semua arahannya.

Dalam buku T. Hani Handoko disebutkan bahwa “terdapat dua gaya kepemimpinan : gaya dengan orientasi tugas dan gaya dengan orientasi karyawan. Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yang diinginkannya.”15

Pemimpin yang berorientasi pada tugas lebih memperhatikan tugas yang dikerjakan. Pemimpin tersebut mengawasi dan mengarahkan para bawahannya untuk bekerja sesuai dengan pekerjaannya tujuannya berjalan dengan efektif dan efisien. Pemimpin ini kurang memperhatikan hubungannya dengan para bahwahan, ia lebih mementingkan tugas yang dilaksanakan para bawahan. Ia hanya teruju pada tugas yang dikerjakan oleh para pegawai. Biasanya pemimpin ini sangat tegas dan serius dalam bekerja, ia menganggap keberhasilan sebuah organisasi yang ia pimpin adalah terletak pada tugas-tugas yang dikerjakan oleh bawahannya. Lain halnya dengan pemimpin yang berorientasi pada hubungan manusia atau orientasi pada karyawan.

Akhmad Sudrajat menyebutkan bahwa “dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.16 Menurutnya terdapat dua gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah, yaitu gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas, dan hubungannya dengan para bawahan, dan dijelaskan pula oleh T. Hani Handoko bahwa “manajer berorientasi karyawan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka.”17 Pemimpin mendorong para anggota kelompok untuk melaksanakan

15

T. Hani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE, 1999), h. 299 16

Akhmad Sudrajat, Kompetensi Guru Dan Peran Kepala Sekolah, diakses pada tanggal 13 april 2013, (http://makalah-pendidikan.blogspot.com/search?q=kepuasan+kerja+guru)

17

tugas-tugas dengan memberikan motivasi, dan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok. Pemimpin ini lebih mementingkan hubungannya dengan para bawahan. Menurutnya, kesuksesan sebuah organisasi tergantung dengan hubungan yang baik antara atasan-bawahan dan antar rekan kerja. Pemimpin membangun hubungan yang baik terhadap semua anggotanya, dan menurutnya dengan memiliki hubungan yang baik akan dengan mudah dapat mempengaruhi bawahannya.

Menurut Hendayat Soetopo “Gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas, yaitu kepemimpinan yang lebih menaruh perhatian pada perilaku pemimpin yang mengarah pada penyusunan rencana kerja, penetapan pola organisasi, adanya saluran komunikasi, metode kerja, dan prosedur pencapaian tujuan yang jelas. Dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan antar manusia, yaitu kepemimpinan yang lebih menaruh perhatian pada perilaku pemimpin yang mengarah pada hubungan kesejawatan, saling mempercayai, saling menghargai, dan penuh kehangatan hubungan antara pemimpin dengan stafnya.”18

Pemimpin yang berorientasi pada tugas lebih mementingkan tugas yang dikerjakannya. Menurutnya, organisasi akan berjalan dengan efektif dan efisien tergantung bagaimana tugas dikerjakan. Jadi menurut pemimpin ini, struktur organisasi yang jelas, dan metode kerja yang baik akan sangat berpengaruh terhadap ketercapaian tujuan organisasi. Penyusunan program kerja yang baik dan mendapat arahan dari kepala sekolah dapat menjadi program tersebut baik dan sesuai dengan tujuan sekolah. Pemimpin yang berorientasi pada tugas, akan lebih mengutamakan tugas-tugas yang dikerjakan oleh para bawahan. Penetapan pola

18Hendayat Soetopo,

Perilaku Organisasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), h. 232

organisasi sangat berpengaruh terhadap ketercapaian tujuan sebuah organisasi.

Pemimpin memberikan tugas kepada bawahannya sesuai dengan jabatan yang dipegang dalam organisasi. Pelaksanaan tugas yang sesuai dengan jabatan seseorang akan memudahkan ketercapaian tujuan. Tugas-tugas yang diberikan harus sesuai dengan keahlian dan sesuai dengan jabatan yang diduduki oleh seseorang dalam sebuah organisasi, dan dalam organisasi harus tercipta saluran organisasi yang baik. Komunikasi yang baik antar atasan-bawahan atau antar sesama rekan memudahkan seseorang dalam bekerja. Dengan saluran komunikasi yang baik, para anggota dapat dengan leluasa mengeluarkan keluhan-keluhan yang selama ini ia rasakan. Metode kerja atau cara kerja yang ditunjukan dan dengan bimbingan pemimpin akan menghasilkan hasil kerja yang maksimal. Pemimpin dalam hal ini mengutamakan kinerja para pegawainya oleh sebab itu metode kerja harus sesuai dengan arahan pemimpin. Arahan mengenai cara kerja yang baik dari pemimpin bertujuan agar organisasi semakin baik dan tujuan dari organisasi tersebut berjalan dengan efektif dan efisien.

Dan pemimpin yang berorientasi pada hubungan antar manusia adalah pemimpin yang lebih mementingkan hubungan antar manusia. Ia menganggap bahwa dengan memiliki hubungan yang baik antara atasan dan bawahan, maka ia akan dengan mudah mempengaruhi para bawahannya dan akan lebih mudah mengontrol, mengawasi dan mengevaluasi para bawahannya. Menurutnya dengan mempunyai hubungan yang baik antara atasan dengan bawahan, maka tugas-tugas dapat berjalan dengan efektif dan efisien sehingga tujuan dapat berjalan dengan baik. Pemimpin dalam hal ini mempercayai bahwa para pekerjanya mampu menjalankan pekerjaan tanpa bantuan dan arahan yang keras darinya, dalam memimpin ia tidak memaksakan kehendaknya dan

ia menghargai setiap pendapat dan gagasan dari para bawahannya untuk kebaikan organisasi.

Pemimpin yang berorientasi pada hubungan juga dengan leluasa memberikan kesempatan kepada para pegawai untuk menyumbangkan ide-ide dan mengajak pegawainya untuk ikut andil dalam menentukan jawaban dari setiap permasalahan yang ada disekolah. Pemimpin dalam hal ini mengutamakan hubungan yang baik antara atasan-bawahan dan antar sesama rekan kerja. Pemimpin ini mengutamakan kenyamanan para bawahan dalam bekerja.

Pada dimensi struktur tugas, Fiedler berpendapat bahwa apabila tugas-tugas tersebut telah jelas, mutu daripada penyelenggaraan kerja akan lebih mudah dikendalikan dan anggota-anggota kelompok dapat lebih jelas pertanggungjawabannya dalam pelaksanaan kerja, daripada apabila tugas-tugas itu tidak jelas/kabur.19

Tugas yang diberikan oleh pemimpin harus jelas karena ketepatan pekerjaan yang dilakukan oleh para pegawai akan berpengaruh terhadap ketercapaian tujuan organisasi. Tugas-tugas yang jelas, arahan dan pengontrolan yang baik dari pemimpin akan sangat membantu memaksimalkan kinerja para pegawai.

Gaya kepemimpinan berorientasi tugas dan gaya kepemimpinan yang berorientasi hubungan digunakan secara efektif apabila hubungan pemimpin dengan anggotanya, struktur tugas dan posisi kekuasaan sebagai berikut :

19Soewarno Hendayaningrat,

Pengantar Studi Ilmu Administrasi Dan Manajemen, (Jakarta: PT Dharma Karsa Utama, 1990), h. 79

Hubungan pemimpin dengan anggotanya + Struktur tugas + Posisi kekuasaan Gaya kepemimpinan Yang efektif

: Gaya yang berorientasi pada tugas

: Gaya yang berorientasi pada hubungan

Gambar 2.1 Kombinasi Variabel Situasional

Pemimpin yang berorientasi pada tugas berhasil dengan efektif menyelesaikan tugas-tugasnya dalam situasi yang menguntungkan (kolom 1, 2, 3) dan dalam situasi yang paling tidak menyenangkan (kolom 8). Pada kolom situasi 1, 2, dan 3; situasi sangat menyenangkan, suasana kelompok baik, dan tuigas-tugas terstruktur; pemimpin dihormati, pelaksanaan tugas

1 2 3 4 5 6 7 8 Baik Tinggi Kuat Baik Tinggi Lemah Baik Rendah Kuat Baik Rendah Lemah Buruk Tinggi Kuat Buruk Tinggi Lemah Buruk Rendah Kuat Buruk Rendah Lemah T T T H H H H T Menu ju

T

H

yang ada memungkinkan kebebasan untuk memberi hadiah dan hukuman kepada bawahan tertata dengan jelas dan spesifik.20 Pada situasi yang tidak menyenangkan (kolom 8), posisi kekuasaan pemimpin rendah. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas akan berjalan dengan baik jika pemimpinnya memiliki profesionalisme tinggi.

Gaya yang berorientasi pada hubungan akan efektif digunakan dalam situasi yang relatif menyenangkan (kolom 4, 5, 6, dan 7). Kolom 5, pemimpin tidak disukai oleh anggota kelompok karena kondisi tugas yang terstruktur. Kolom 4, pemimpin disukai oleh anggota kelompoknya tetapi tugas-tugas tidak terstruktur. Pemimpin yang berorientasi pada hubungan dapat bekerja dengan efektif apabila mendapat dukungan dari kelompoknya. Tugas seorang pemimpin yang berorientasi pada hubungan adalah dengan menjaga hubungan baik antar kelompok.

Menurut Hersey dan Blanchard, hubungan antara pimpinan dan anggotanya mempunyai empat tahap/fase yang diperlukan bagi pimpinan untuk mengubah gaya kepemimpinan, yaitu :

a. Pada kesiapan awal perhatian pimpinan pada tugas sangat tinggi, anggota diberi instruksi yang jelas dan dibiasakan dengan peraturan, struktur dan prosedur kerja.

b. Tahap selanjutnya adalah dimana anggota sudah mampu menangani tugasnya, perhatian pada tugasnya sangat penting karena bawahan belum dapat bekerja tanpa struktur. Kepercayaan pimpinan pada bawahan semakin meningkat.

c. Tahap ketiga dimana anggota mempunyai kemampuan lebih besar dan motivasi berprestasi mulai tampak dan mereka secara aktif mencari tanggung jawab yang lebih besar, pemimpin masih harus mendukung dan memberikan perhatian, tetapi tidak perlu lagi memberikan pengarahan. d. Tahap yang terakhir adalah tahap dimana anggota mulai

percaya diri, dapat mengarahkan diri dan berpengalaman,

20Abi Sujak,

pemimpin dapat mengurangi jumlah perhatian dan pengarahan.21

Tinggi

Tingkah laku hubungan

(memberikan tingkah laku untuk mendukung)

Rendah

Tingkah laku tugas

(Memberikan pedoman/pengarahan)

Gambar 2.2 Model Kepemimpinan Situasional Hersey-Blanchard22

Pada model 1 pemimpin memberikan pengarahan yang baik terhadap tugas para bawahannya agar mereka maksimal dalam mengerjakan pekerjaannya, ia memotivasi para bawahannya dengan baik sehingga pekerjaan menjadi lebih baik. Tetapi dalam model ini, antara pemimpin dengan bawahannya tidak memiliki hubungan yang baik, ia lebih mementingkan pekerjaannya daripada hubungannya dengan para bawahan.

Pada model 2 pemimpin memberikan pengarahan yang baik terhadap tugas-tugas yang ia berikan, pemimpin memotivasi para bawahan dengan baik agar pekerjaannya lebih baik, anggota diberikan instruksi yang baik oleh pemimpin, dan dalam model ini antara pemimpin dengan para bawahannya memiliki hubungan yang baik, ia menaruh kepercayaan kepada para bawahannya

21

Veithzal Rivai, Deddy Mulyadi, Kepemimpinan Dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), h. 16

22Ibid Hubungan tinggi dan tugas rendah (3) Tugas tinggi dan hubungan tinggi (2) Hubungan rendah dan tugas rendah (4) Tugas tinggi dan hubungan rendah (1)

dengan baik, dan percaya terhadap para bawahannya bahwa mereka mampu dan bisa mengerjakan semua pekerjaannya.

Pada model 3 hubungan antara pemimpin dengan anggotanya berjalan dengan baik, pemimpin memotivasi para bawahan dengan baik, pemimpin memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk ikut andil dalam mengeluarkan pendapat yang positif untuk kemajuan organisasi. Tetapi dalam model ini pemimpin kurang memberikan pengarahan yang baik terhadap para bawahannya mengenai tugas yang diberikan.

Pada model 4 hubungan antara pemimpin dengan para anggotanya rendah, dan dalam model ini pemimpin tidak memberikan pengarahan yang baik terhadap para bawahan. Pemimpin dalam model ini tidak memperdulikan hubungannya dengan para bawahan, dan tidak memperdulikan bagaimana kinerja para pegawai.

Pada dimensi hubungan pemimpin dan anggota kelompok, fiedler menganggap sangat penting dari sudut pandangan seorang pemimpin, apabila kekuasaan atas dasar kedudukan/jabatan dan struktur tugas dapat dikendalikan secara lebih luas dalam suatu badan usaha/organisasi dan selama anggota kelompok suka melakukan dan penuh kepercayaan terhadap pemimpinnya dan suka mengikuti kepemimpinannya.23 Fiedler memberikan perhatian mengenai pengukuran orientasi kepemimpinan dari seorang individu. Ia mengembangkan Least-Preferred Co-Worker (LPC) Scale untuk mengukur dua gaya kepemimpinan :

a. Gaya berorientasi tugas, yang mementingkan tugas atau otoritatif.

b. Gaya berorientasi hubungan, yang mementingkan hubungan kemanusiaan.

Sedangkan kondisi situasi terdiri dari dua faktor utama, yaitu :

23Soewarno Hendayaningrat,

Pengantar Studi Ilmu Administrasi Dan Manajemen,

a. Hubungan pemimpin-anggota, yaitu derajat baik/buruknya hubungan antara pemimpin dan bawahan.

b. Struktur tugas, yaitu derajat tinggi/rendahnya strukturisasi, standardisasi dan rincian tugas pekerjaan.24

Hubungan antar manusia yang baik adalah landasan penting untuk terciptanya sebuah organisasi yang baik. Hubungan yang baik antara kepala sekolah dengan guru akan memperbaiki tugas dan kualitas pekerjaan para guru. Guru tidak sungkan mengeluarkan pendapatnya dalam berbagai forum sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas sekolah dan memberikan pendapatnya agar kualitas sekolah semakin meningkat. Jika tidak ada hubungan yang baik antara guru dengan kepala sekolah, para guru takut untuk mengeluarkan pendapat mereka dan pikiran mereka tidak berkembang karena pemimpin tidak memberikan kebebasan kepada para guru untuk mengeluarkan pendapat mereka. hubungan antara kepala sekolah dengan guru yang baik, menjadikan kualitas sekolah lebih baik.

Kepala sekolah yang memiliki kedekatan dan memiliki hubungan yang baik dengan para guru, ia akan dengan gampang mempengaruhi kinerja para guru, mengontrol setiap pekerjaan para guru dengan efektif. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja guru adalah hubungan yang baik antara kepala sekolah dengan guru, karena dengan hubungan yang baik maka akan tercipta iklim organisasi yang baik. Guru yang memiliki kedekatan hubungan yang baik dengan kepala sekolah akan merasa senang bekerja, karena kepala sekolah memberikan motivasi agar pekerjaannya lebih baik, kepala sekolah mendorong para guru untuk bekerja lebih baik dari sebelumnya.

24Veithzal Rivai, Deddy Mulyadi,

Kepemimpinan Dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), h. 12

Telaah kepemimpinan yang dilakukan pada pusat riset Universitas of Michigan, melalui penelitian ini mengidentifikasikan dua gaya kepemimpinan yang berbeda, disebut sebagai job-centered yang berorientasi pada pekerjaan dan employee-centered yang berorientasi pada karyawan.

a. Pemimpin yang job-centered

Pemimpin yang berorientasi pada tugas menerapkan pengawasan ketat, sehingga bawahan melakukan tugasnya dengan menggunakan prosedur yang telah ditentukan. b. Pemimpin yang berpusat pada bawahan

Mendelegasikan pengambilan keputusan pada bawahan dan membantu pengikutnya dalam memuaskan kebutuhannya dengan cara menciptakan lingkungan kerja yang suportif.25 Sama halnya dengan pendapat-pendapat yang sebelumnya bahwa pemimpin yang berorientasi pada tugas sangat memperhatikan tugas-tugas para bawahannya. Pemimpin ini menerapkan pengawasan yang ketat, mengandalkan hukuman kepada para pekerja yang tidak melaksanakan tugasnya sesuai dengan prosedur. Menurutnya perhatian terhadap para pekerja adalah sesuatu yang mewah. Jika pemimpin yang berorientasi terhadap hubungan manusia, ia lebih memperhatikan hubungan yang baik dan lingkungan atau iklim organisasi yang baik, karena menurutnya dengan mempunyai hubungan kerja yang baik dengan para bawahan, maka akan sangat mudah untuk mempengaruhi dan mengevaluasi pekerjaan para bawahan. Ia mendelegasikan pengambilan keputusan kepada bawahannya, karena ia ingin para anggotanya ikut andil dalam mengeluarkan pendapat demi ketercapaian tujuan organisasi yang efektif dan efisien.

Sondang. P. Siagian dalam bukunya, dari sudut gaya manajerialnya, para pemimpin dalam berbagai bentuk organisasi dapat digolongkan dalam :

a. Tipe paternalistik b. Tipe Demokratik26

25 Ibid

Terdapat beberapa macam tipe pemimpin menurut Sondang. P. Siagian dari sudut pandang gaya manajerialnya, yaitu tipe paternalistik yaitu tipe pemimpin yang terlalu melindungi karena ia menganggap bawahannya adalah makhluk yang tidak dewasa, dan tipe pemimpin ini, ia tidak memberikan kesempatan kepada para bawahannya untuk mengambil keputusan karena ia menganggap dirinyalah yang paling tahu. Pemimpin ini jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi mereka, jarang memberikan kesempatan para bawahannya untuk mengeluarkan pendapat bahkan ia tidak mengajak para bawahannya untuk ikut andil dalam memutuskan jawaban dari setiap persoalan dalam organisasi. ia juga tidak memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan potensi dirinya dalam organisasi. Ia menganggap dirinyalah yang paling tahu, maka dari itu ia tidak memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk maju.

Lain halnya dengan tipe demokratis, pada tipe ini ia senang menerima pendapat dari para bawahannya, ia dengan bebas memberikan kesempatan kepada para bawahannya untuk mengeluarkan pendapatnya untuk kebaikan dan kemajuan organisasi. Ia selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses darinya. Ia mengarahkan para bawahannya untuk berani bertindak walaupun mungkin berakibat pada kesalahan agar para bawahannya tidak melakukan kesalahan yang sama. Pemimpin ini memberikan kesempatan maju untuk para bawahannya. Ia juga berusaha mengembangkan dirinya menjadi lebih baik. Dalam hal ini, pemimpin tidak memaksakan kehendaknya, ia selalu mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan tujuan pribadi para bawahannya, dan ia selalu memberikan

26

masukan-masukan atas keluhan-keluhan yang dialami oleh bawahannya. ia senang menerima pendapat bahkan kritikan dari bawahannya, ia menganggap dengan kritikan dan pendapat ia dapat menjadi lebih baik dan organisasi juga dapat berjalan dengan baik bahkan dapat lebih berkembang.

Graves di Stanford University memberikan laporan “Group Processes In Training Administrations” laporannya dalah

mengenai 4 tipe kepemimpinan yang antara lain terdiri dari :

a. Tipe Autorian b. Tipe Laizzes-faire c. Tipe demokratis

d. Tipe pseudo demokratis27

Dalam bukunya, Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto berpendapat bahwa ada 4 tipe kepemimpinan berdasarkan laporan

“Group Process in Training Administration yaitu tipe autorian,

yaitu seorang pemimpin yang bersifat ingin berkuasa, dan tidak memberikan kesempatan kepada para anggota untuk ikut andil dalam memutuskan persoalan. Lain halnya dengan tipe laizzes faire, tipe ini segala peraturan, kebijaksanaan suatu institusi berada di tangan anggota. Jika tipe demokratis, pemimpin dalam tipe ini menghargai seluruh masukan dari para anggotanya, tetapi keputusan tetap berada di tangan seorang pemimpin. Jika tipe pseudo demokratis, pemimpin ini adalah pemimpin demokrasi yang semu, pemimpin ini memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk ikut serta dalam mengambil keputusan, tetapi sebenarnya hal ini memanipulasi agar pendapatnya yang disetujui.

27 Hendiyat Soetopo, Wasty Soemanto,

Kepemimpinan Dan Supervisi Pendidikan,

Tannenbaum dan Schmidt dalam artikel mereka yang dimuat dalam majalah Havard Bussiness Review : “How To Choose a

Leadership Pattern”, berargumen bahwa gaya kepemimpinan otokratis dan demokratis, keduanya merupakan gaya kepemimpinan, dan oleh karenanya dapat didudukkan dalam suatu kontinum dari perilaku pemimpin yang sangat otokratis pada suatu ujung sampai pada perilaku pemimpin yang sangat demokratik pada ujung yang lain :

a. Gaya kepemimpinan kontinum

Menurut Robert Tannenbaum dan Warren Schmidt ada dua bidang pengaruh yang ekstrem. Pertama,

bidang pengaruh pimpinan dan kedua, bidang pengaruh kebebasan bawahan.

b. Gaya managerial Grid

Dalam pendekatan ini manager berhubungan dengan dua hal, yakni produksi disatu pihak dan orang-orang dipihak lain. Dalam hal ini ada gaya yang efektif dan tidak efektif, yaitu :

1) Gaya efektif a) Eksekutif

b) Pencinta pengembangan c) Otokratis yang baik hati d) Birokrat

2) Gaya tidak efektif

a) Pencinta kompromi b) Missionari

c) Otokrat

d) Lari dari tugas (Deserter).28

Dalam bukunya terdapat dua gaya kepemimpinan, yaitu gaya kepemimpinan kontinum dan gaya kepemimpinan managerial grid. Gaya kepemimpinan kontinum yang pertama adalah bidang pengaruh pimpinan dalam hal ini pemimpin menggunakan otoritasnya dalam memimpin, dengan kata lain pada gaya yang pertama adalah gaya kepemimpinan yang bersifat otoriter, ia menggunakan otoritasnya untuk memimpin, seluruh anggotanya harus melaksanakan apa yang ia perintahkan, dan dalam pengambilan keputusan ia bersikap otoriter, keputusan berada

28

ditangannya, dan tidak memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk memberikan pendapatnya. Lain halnya dengan yang kedua, yaitu bidang pengaruh kebebasan bawahan. Dalam hal ini pemimpin bersikap demokratis, ia mau menerima pendapat dari para bawahannya, ia memberikan kebebasan kepada para bawahan untuk mengeluarkan pendapatnya. Pemimpin mengarahkan para bawahan untuk mengeluarkan pendapatnya.

Gaya yang kedua adalah gaya managerial grid dalam pendekatan ini ada dua hal yaitu bagaimana seorang pemimpin memikirkan mengenai produksi dan hubungan antar personal. Dalam gaya ini ia harus mempertimbangkan berapa banyak produksi yang harus dihasilkan dengan tidak mengurangi hubungannya dengan para bawahan. Ia harus benar-benar mempertimbangkan keputusan yang akan ia ambil, memahami prosedur, melakukan penelitian dan harus memiliki pemikiran yang kreatif, dengan tidak lupa memperhatikan kualitas pelayanan para bawahan, dan menjadikan pekerjaannya berjalan dengan efektif dan efisien.

Dalam gaya manajerial grid terbagi menjadi dua gaya kepemimpinan, yaitu gaya kepemimpinan efektif dan tidak. Gaya kepemimpinan yang tergolong efektif yang pertama adalah gaya eksekutif yaitu gaya yang banyak memberikan perhatian kepada tugas dan hubungan kerja. Ada pula gaya pecinta pengembangan, yaitu gaya yang memberikan banyak perhatian terhadap hubungan kerja tetapi minim terhadap tugas-tugas pekerjaan. Gaya otokratis yang baik hati, yaitu kebalikan dari gaya pencinta pengembangan, gaya ini lebih banyak memperhatikan pekerjaan dan tugas-tugas yang dilaksanakan, daripada hubungan kerja. Dan yang terakhir adalah gaya birokrat, yaitu gaya ini mempunyai perhatian yang minim kepada tugas yang dikerjakan, maupun hubungan kerja.

Ada pula gaya yang tidak efektif. Yang pertama adalah gaya pencinta kompromi, yaitu gaya ini memberikan perhatian yang besar terhadap tugas yang dikerjakan dan hubungan kerja yang menekankan pada kompromi, apapun yang dilakukan harus berdasarkan kompromi. Gaya yang kedua adalah gaya missionari

Dokumen terkait