• Tidak ada hasil yang ditemukan

Macam-macam Sungai di Kota Pematangsiantar

BAB I EKOSISTEM SUNGAI

B. Macam-macam Sungai di Kota Pematangsiantar

Sungai Bah Bolon merupakan sungai yang mengalir di sepanjang Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dengan memiliki panjang ± 118 km dan lebar antara 20-25 m (BPS, 2014). Secara ekologi, Sungai Bah Bolon merupakan habitat bagi berbagai jenis organisme perairan. Salah satu organisme perairan yang terdapat di Sungai Bah Bolon adalah ikan. Hal ini dapat terlihat dari hasil tangkapan nelayan di Sungai Bah Bolon seperti ikan batak, ikan gabus, ikan lele, dan ikan jenis lainnya.

Sungai Bah Bolon dapat mengalami perubahan ekologis perairan,dimana hal tersebut juga akan berdampak langsung terhadap keanekaragaman biota yang hidup di Sungai Bah Bolon termasuk ikan.Ikan merupakan salah satu organisme akuatik yang rentan terhadap perubahan lingkungan terutama yang diakibatkan oleh aktivitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Limbah-limbah bahan buangan yang dihasilkan oleh berbagai aktivitas manusia tersebut mempengaruhi kualitas perairan baik fisik, kimia, dan biologis.

Keanekaragaman dan kelimpahan ikan ditentukan oleh karakteristik habitat perairan (Ross, 1997 dalam Yustina, 2001). Di sepanjang Sungai Bah Bolon banyak dijumpai aktifitas masyarakat sekitar seperti kegiatan rekreasi,

6 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

pemandian, sumber irigasi, pengerukan pasir dan batu, rumah sakit, pabrik es dan aktifitas lainnya. Berbagai jenis kegiatan yang terdapat disepanjang sungai Bah Bolon menimbulkan dampak berupa pencemaran dan perusakan lingkungan, baik itu secara langsung maupun tidak langsung, yaitu dengan adanya limbah yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan tersebut. Suatu limbah yang berupa bahan pencemar masuk ke suatu lokasi perairan sungai maka akan terjadi perubahan pada perairan tersebut.

Perubahan dapat terjadi pada organisme yang hidup pada lokasi tersebut juga pada lingkungan perairan itu sendiri yaitu berupa faktor fisika dan kimianya (Suin, 1994). Limbah yang dihasilkan dari berbagai kegiatan rumah tangga maupun industri ini akan dibuang ke badan sungai. Pembuangan limbah secara terus-menerus dalam jumlah yang berlebih tentunya akan mempengaruhi terhadap kualitas perairan seperti faktor fisik, kimia dan biologi perairan, khususnya ikan.

7 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

Gambar: Sungai Bah Bolon Kota Pematangsiantar 2. Sungai Bah Kapul

Sungai Bah Kapul merupakan salah satu sungai yang terdapat di Pematangsiantar. Sungai ini mengalir di dua kecamatan yaitu Kecamatan Siantar Sitalasari dan Kecamatan Siantar Martoba dengan panjang sungai induk 10.471,5 meter.

Sungai ini mengalir sepanjang tahun yang aliran muaranya sampai ke Sungai Bah Bolon yang terdapat di Kabupaten Simalungun. Sungai Bah Kapul dimanfaatkan warga sekitar untuk mandi dan mencuci pakaian, dibidang pertanian air sungai digunakan untuk mengairi sawah (irigasi) dan sungai juga digunakan sebagai tempat pembuangan limbah oleh penduduk dan pabrik tepung tapioka. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga sekitar Sungai Bah Kapul, sebelum padatnya penduduk dan sebelum berdirinya industri air sungai masih jernih dan digunakan sebagai sumber air minum.

8 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

Semenjak berdirinya pabrik tepung tapioka tahun 1982 masyarakat sekitar Sungai Bah Kapul tidak menggunakan air sungai sebagai sumber air minum serta diikuti dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk yang menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga di dua kecamatan yaitu Kecamatan Siantar Sitalasari dan Kecamatan Siantar Martoba.

Selain itu masih adanya persepsi dari sebagian masyarakat bahwa pengelolaan limbah bukan menjadi kebutuhan yang mendesak sehingga air limbah langsung dibuang ke sungai (Dokumen SPPIP,2012). Berdasarkan survei awal, kondisi air sungai sudah dalam keadaan keruh dan berubah warna yang diindikasikan akibat kegiatan industri di sekitar sungai yang membuang limbah, permukiman di sekitar sempadan sungai, pembuangan limbah masyarakat ke sungai dan kegiatan pertanian menjadi faktor yang diduga menjadi penyebab menurunnya kualitas air Sungai Bah Kapul.

Untuk mengetahui pengaruh aktivitas manusia sekitar Sungai Bah Kapul maka perlu dilakukannya pengkajian kualitas air Sungai Bah Kapul dengan menggunakan parameter kualitas air yaitu fisik dan kimia.

Sungai Bah Kapul dijadikan sebagai daerah penelitian karena Kota Pematangsiantar adalah kota yang sedang berkembang menjadi kota industri dan jasa, maka sungai sebagai salah satu sumberdaya alam yang terdapat di Kota Pematangsiantar memiliki peran dalam menunjang pembangunan yang perlu dipertahankan kualitasnya. Untuk itu, perlu dilakukan pengkajian untuk mengetahui kualitas air

9 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

Sungai Bah Kapul. Kualitas air akan dilihat dari dua paramater yaitu fisik dan kimia dilihat dari PP No 82 Tahun 2001.

10 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

11 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar BAB 2

KUALITAS PERAIRAN SUNGAI

A. Kualitas Air Sungai

Air mempunyai fungsi sebagai media untuk ikan baik media internal maupun eksternal. Sebagai media internal, air berfungsi sebagai bahan baku untuk reaksi di dalam tubuh, pengangkutan bahan makanan keseluruhan tubuh, pengangkutan sisa metabolisme dan pengaturan atau penyangga suhu tubuh. Fungsi eksternal air yaitu sebagai habitatnya. Oleh karena peranan air sangat esensial maka kualitas dan kuantitasnya pun harus dijaga sesuai kebutuhan ikan (Lloyd, 1980). Berikut ini beberapa sifat Fisik-Kimia air yang berperan menentukan kualitas perairan.

B. Temperatur

Boyd dan Kopler (1979) menyatakan di perairan tropis ikan akan tumbuh dengan baik pada kisaran temperatur 25-32 oC, tetapi ikan memiliki toleransi yang berbeda-beda terhadap temperatur. Temperatur mempunyai pengaruh besar terhadap kelarutan oksigen di dalam air, dimana apabila temperatur naik, maka kelarutan oksigen dalam air menurun. Bersamaan dengan itu terjadi peningkatan aktivitas metabolisme organisme akuatik, sehingga kebutuhan akan oksigen juga akan meningkat (Sastrawijaya, 1991).

12 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

Temperatur air merupakan pembatas utama pada suatu perairan karena organisme akuatik seringkali mempunyai toleransi yang sempit terhadap perubahan-perubahan temperatur. Menurut hukum Vant’s Hoffs, kenaikan temperatur sebesar 10 0C akan menaikkan metabolisme 2-3 kali lipat. Akibat meningkatnya laju respirasi akan menyebabkan konsumsi oksigen meningkat. Naiknya temperatur akan menyebabkan kelarutan oksigen dalam air menjadi berkurang (Barus, 1996).

C. Kecerahan

Kecerahan air adalah bentuk pencerminan daya tembus atau intensitas cahaya yang masuk dalam perairan. Kecerahan perairan juga dapat ditentukan karena adanya fitoplankton atau tumbuhan air lainnya yang terdapat dalam perairan.

Kecerahan air dapat diukur apabila kedalaman tembus cahaya matahari ke dalam kolam minimum 40 cm. Pengukuran kecerahan dapat digunakan untuk menentukan besarnya produktifitas primer dalam perairan (Odum, 1994).

Kecerahan adalah ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara visual dengan menggunakan “Secchi disk”.

Nilai kecerahan dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan dan padatan tersuspensi serta posisi orang dalam melakukan pengukuran. Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter. Kecerahan dapat dihubungkan dengan tipe kesuburan perairan. Cole (1983) menjelaskan perairan yang kecerahannya lebih 6 m merupakan kesuburan perairan oligotrofik, kecerahan antara 3-6 m disebut

13 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

mesotrofik dan kurang dari 3m dikenal sebagai perairan eutrofik.

D. Intensitas Cahaya Matahari

Intensitas cahaya berfungsi sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidupan organisme air dalam habitatnya.

Apabila intensitas matahari berkurang, hewan ini akan dirangsang untuk melakukan gerakan lokomotif untuk keluar dari tempat perlindungannya yang terdapat pada bagian bawah dari bebatuan didasar perairan. Mereka akan bergerak menuju kebagian atas dari bebatuan tersebut yang merupakan tempat untuk mencari makan (Barus, 2004)

Cahaya merupakan unsur penting dalam kehidupan ikan, cahaya dibutuhkan ikan untuk mengejar mangsa, menghindarkan diri dari predator, membantu dalam penglihatan dan proses metabolisme. Secara tidak langsung peranan cahaya matahari dalam kehidupan ikan adalah melalui rantai makanan (Rifai et al., 1983).

E. Arus

Arus sangat dipengaruhi oleh sifat air itu sendiri, gravitasi bumi, keadaan dasar perairan, dan gerakan rotasi bumi. Sirkulasi arus pada permukaan perairan terutama disebabkan oleh adanya wind stress. Jadi arus air yang ada dalam suatu perairan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor dari parameter kualitas air itu sendiri. Disamping itu arus juga dapat berdampak pada kandungan oksigen yang ada dalam air tersebut melalui proses difusi secara langsung dari udara.

14 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

Pola arus dan asal arus diperairan umum (danau, sungai, dan resevoir) berbeda dengan di laut. Pada perairan umum yang mengalir (lotic system) misal sungai, air berasal dari tiga sumber, yaitu mata air, hujan, dan aliran permukaan.

Aliran sungai dipengaruhi oleh adanya dua kekuatan yaitu gravitasi dan hambatan (friksi). Oleh karena itu, kekuatan arus di sungai tergantung pada letak daerahnya. Pada daerah hulu, kecepatan arusnya tinggi, sedangkan di daerah hilir kecepatan arusnya menurun (Barus, 2004). Menurut Hutabarat (2000), kecepatan arus di perairan umum yang tergenang (lentic water bodies) misal danau dan reservoir pada umumnya lebih rendah daripada kecepatan arus di laut ataupun sungai.

F. Derajat keasaman (pH)

Nilai pH menyatakan nilai konsentrasi ion Hidrogen dalam suatu larutan. Air yang bersih jumlah konsentrasi ion H+ dan OH- berada dalam keseimbangan sehingga air yang bersih akan bereaksi netral. Organisme akuatik dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah dan basa lemah. pH yang ideal bagi kehidupan organisme akuatik umumnya berkisar antara 7-8,5.

Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat yang bersifat toksik (Barus, 1996). Nilai pH air dapat mempengaruhi jenis dan susunan zat dalam lingkungan perairan dan mempengaruhi ketersediaan unsur

15 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

hara serta toksisitas dari unsur renik (Barus, 2004). pH merupakan suatu ekspresi dari konsentarsi ion hidrogen (H+ ) di dalam air. Biasanya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentasi ion H, pH sangat penting sebagai parameter kualitas air, karena pH mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain ikan, organisme akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu. Sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan organisme air (Rifai et al., 1983).

Organisme dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi asam lemah sampai basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup oraganisme, karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi (Barus, 2004).

G. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen-DO)

Kelarutan Oksigen (DO) merupakan salah satu faktor terpenting dalam setiap sistem perairan yang diperlukan organisme untuk melakukan respirasi. Sumber utama oksigen terlarut berasal dari atmosfir dan proses fotosintesis dan dari tumbuhan air lainnya. Oksigen dari udara diserap dengan difusi langsung permukaan air oleh angin dan arus. Jumlah oksigen terlarut di suatu ekosistem sungai dipengaruhi oleh faktor temperatur. Kelarutan oksigen dalam air akan

16 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

meningkat apabila temperatur air menurun dan begitu juga sebaliknya (Michael, 1994).

H. Nitrat dan Fosfat

Nitrogen di perairan terdapat dalam bentuk gas N2, NO2 - , NO3 - dan NH4+ serta sejumlah N yang berikatan dalam organik kompleks. Sumber nitrogen terbesar berasal dari udara, sekitar 80 % dalam bentuk nitrogen bebas yang masuk melalui sistem fiksasi biologis dalam kondisi aerobik.

Keberadaan nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. Nitrogen anorganik terdiri atas ion nitrit (NO2 - ), ion nitrat (NO3 - ), ammonia (NH3), ion ammonium (NH4 + ) dan molekul N2 yang larut dalam air, sedangkan nitrogen organik berupa protein, asam amino dan urea akan mengendap dalam air (Chester, 1990).

Nitrat merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk dapat tumbuh dan berkembang, Keberadaan nitrat di perairan sangat dipengaruhi oleh buangan yang dapat berasal dari industri, bahan peledak, dan pemupukan Secara alamiah kadar nitrat biasanya rendah namun kadar nitrat dapat menjadi tinggi sekali dalam air tanah di daerah yang diberi pupuk nitrat (Alaert et al., 1987). Nitrogen dan Fosfor sangat berperan dalam proses terjadinya eutrofikasi di suatu ekosisten air. Seperti diketahui bahwa fitoplankton dan tumbuhan air lainnya membutuhkan nitrogen dan fosfor sebagai sumber nutrisi utama bagi pertumbuhannya. Dengan demikian maka peningkatan unsur nitrogen dan fosfor dalam

17 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

air akan dapat meningkatkan populasi alga secara massal yang menimbulkan eutrofikasi dalam ekosistem air (Barus, 2004).

I. BOD (Biochemical Oxygen Demand)

Menurut Michael (1994), BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme di dalam lingkungan air untuk mendegradasi bahan buangan yang ada dalam air lingkungan. Pada umumnya air lingkungan atau air dalam mengandung mikroorganisme yang dapat memakan, memecah, menguraikan bahan buangan organik. Penguraian bahan organik melalui proses oksidasi oleh mikroorganisme di dalam air lingkungan adalah proses alamiah yang mudah terjadi apabila air lingkungan mengandung oksigen yang cukup. Selanjutnya Michael (1994) menyatakan nilai konsentrasi BOD5 menunjukkan kualitas suatu perairan masih tergolong baik apabila konsumsi O2 selama 5 hari berkisar sampai 5 mg/l.

18 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

19 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar BAB 3

PLANKTON

A. Plankton

Mikroorganisme dalam suatu lingkungan akuatik mungkin terdapat pada semua kedalaman, berkisar dari permukaan sampai kedasar parit-parit yang paling dalam didasar lautan.Mikroorganisme yang menghuni lapisan teratas dan sedimen dasar terutama di perairan dalam salah satunya adalah plankton.

Menurut Irianto plankton adalah kumpulan organisme hidup yang sebagian besar terdiri dari mikroorganisme yang terapung dan hanyut pada permukaan ekosistem akuatik.4 Dalam bahasa Yunani plankton mempunyai arti

“mengembara”.Plankton merupakan istilah untuk organisme baik hewan maupun tumbuhan yang hidup dalam perairan.5

Menurut Yazwar plankton adalah organisme baik tumbuhan maupun hewan yang umumnya berukuran relatif kecil (mikro), hidup melayang-layang di air,ada yang tidak memiliki daya gerak dan adapula yang memiliki daya gerak namun daya geraknya relatif lemah sehingga distribusinya sangat dipengaruhi oleh daya gerak air, seperti arus dan lainnya.

20 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

Plankton adalah mikroorganisme yang melayang diperairan, mempunyai gerak sedikit sehingga mudah terbawa arus, artinya biota ini tidak dapat melawan arus.Secara sederhana plankton diartikan sebagai hewan dan tumbuhan renik yang terhanyut di laut.7 Istilah plankton pertama kali diterapkan untuk organisme di laut oleh Victor Hensen direktur Ekspedisi Jerman pada tahun 1889, yang dikenal dengan “Plankton Expedition” yang khusus dibiayai untuk menentukan dan membuat sitematika organismelaut.8

B. Peran dan Manfaat Plankton diPerairan

Kecilnya ukuran plankton bukan berarti mereka tidak memiliki suatu peranan. Plankton memiliki peranan sangat penting terutama dalam ekosistem perairan, karena plakton merupakan produsen primer untuk memenuhi kebutuhan energi bagi mahluk hidup lain.

Keberadaan plankton sangat mempengaruhi kehidupan perairan karena plankton memegang peran penting sebagai makanan bagi berbagai organisme laut, jika jumlah keberadaan plankton di suatu perairan mengalami penurunan maka akan berdampak pula pada organisme-organisme lain yang tinggal di perairan serta dapat menurunkan kualitas perairan tersebut. Salah satu penyebab berubahnya kualitas suatu perairan yaitu karena berubahnya fungsi perairan.Perubahan ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam maupun aktivitas manusia seperti adanya peningkatan yang signifikan dari konsentrasi unsur hara secara sporadis. Dengan demikian, hal ini dapat

21 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

menimbulkan peningkatan nilai kuantitatif plankton melampaui batas normal yang dapat ditolerir oleh organisme hidup lainnya

Peranan Positif Plankton

Melalui penelitian-penelitian tentang plankton yang telah dilakukan terungkap manfaat-manfaat plankton bagi suatu perairan.Plankton adalah pakan alami bagi biota air karena mengandung banyak karbohidrat dan protein untuk pertumbuhannya.Sebagai produsen utama diperairan adalah fitoplankton, sedangkan organisme konsumen adalah zooplankton, larva, udang, kepiting dan sebagainya.

Fitoplankton dapat menambah kadar oksigen terlarut dalam air (DO) yang diberikan melalui proses fotosintesis, sehingga kadar oksigen terlarut bertambah. Plankton dapat menjaga kestabilan suhu air, karena plankton hidup mengambang dan juga plankton tersebut menutupi permukaan perairan sehingga biota laut didalamnya terlindungi karena fitoplankton membutuhkan sinar matahari untuk proses fotosintesis sehingga sinar matahari tidak langsung masuk kedalam air, jadi suhunya dapatdistabilkan.

Menurut Zainudin dalam penelitiannya yang berjudul Keanekaragaman Plankton Sebagai Indikator Kualitas Air Sungai Brantas bahwa plankton merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat dijadikan sebagai indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai. Plankton yang mempunyai sifat selalu bergerak dapat juga dijadikan indikator pencemaran perairan. Akhir-akhir ini pemantauan dengan biota lebih diperhatikan, mengingat lebih tegas dalam

22 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

mengekspresikan kerusakan sungai, karena bisa terpengaruh langsung ke sungai dalam jangkapanjang.

Peranan Negatif Plankton

Selain mempunyai dampak positif, planktonpun memiliki dampak negatif yang merugikan bagi perairan seperti banyaknya bangkai zooplankton yang mengendap didasar tanah dapat menjadi racun karena ketika bangkai zooplankton tersebut terurai maka akan menghasilkan H2S dan NH3. Plankton dari jenis Heterosigma Akashiwa dapat membuat pernafasan ikan menjadi tersendat karena plankton ini menempel di insang.Fitoplankton dapat menyebabkan blooming.Blooming merupakan fenomena yang terjadi akibat ledakan perkembangan yang begitu cepat dari jenis fitoplankton.Biasanya dari kelompok Dinoflagellata.Blooming mengakibatkan penurunan produktifitas perairan dan kematian padaikan.

C. Klasifikasi Plankton

Berdasarkan klasifikasinya plankton dibedakan dalam dua kategori utama yaitu fitoplankton yang meliputi semua tumbuhan renik dan zooplankton yang meliputi hewan yang umumnya renik.

Adapun susunan klasifikasi plankton dalam taksonomi di mulai dari Kingdom (Kerajaan) -Phylum/Divisi - Kelas - Ordo (bangsa) - Familia (suku) - Genus (jenis) – Spesies.

1. Fitoplankton

Fitoplankton memiliki karakteristik yang khas yaitu memiliki pigmen- pigmen fotosintesis yang menyebabkan

23 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

timbulnya kenampakan warna yang berbeda dari setiap jenisnya. Adanya perbedaan dalam zat warna/pigmen fotosintesis ini dijadikan sebagai dasar dari klasifikasifitoplankton.

Berikut adalah klasifikasi fitoplankton menurut Philips Sze (1993):

Tabel 2.1 Klasifikasi Fitoplankton BerdasarkanPigmen PIGMEN FOTOSINTESIS DIVISI

Klorofil-a dan klorofil-b Chlorophyta (Green Algae)

Klorofil-a,phycocianobilin, phycoerythrobilin Cyanophyta (Blue Green Algae)

Klorofil-a, C1 dan C2, fucoxanthin Chrysophyta/

Bacillariophyta Klorofil-a, C2 dan peridinin Pyrrophyta/Dinoflag

ellata klorofil-a, C2,Phycocianobilin atau

phycoerythrobilin

Cryptophyta

Klorofil-a dan klorofil-b Euglenophyta

Klorofil-a, phycoerythrobilin Rhodophyta (Red Alge)

Beberapa pigmen yang dimiliki masing-masing divisi tersebut menampakkan warna yang berbeda.Klorofil menimbulkan kenampakan warna hijau, phycocianobilin menampakkan warna biru, phycoerythrobilin menampakkan warna kemerahan dan fucoxanthin menampakkan warna kekuningan. Fitoplankton terbagi

24 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar menjadi beberapa Divisi, antara lain :

a. Divisi Chlorophyta

Alga hijau memiliki karakteristik kloroplast yang berwarna hijau, mengandung korofil-a dan klorofil-b serta karotenoid dan zantophylls. Pada kloropas terdapat pirenoid, hasil asimilasi berupa tepung dan lemak. Kloroplas dapat berbentuk, pita, lempeng mangkok, jaringan, cakram dan lainnya.

Terdapat 14 ordo dari divisi Chlorophyta yaitu, Bolbocales, Aerosiphonales, Chlorococcales, Zy gnematales, Siphonales, Ulotrchales, Cladophorales, Chaetophorales, Sphaeropleales, Dasycladalcs, Ulvales, Oedogoniales, Siphonocladales, dan Desmikiales.

b. Divisi Cyanophyta

Alga biru/gangang lendir (Cyanophyta), karakteristik dari kelompok Cyanophyta ini adalah, Selnya bersifat Prokarion (tidak memiliki inti sejati ), Warna sel biru hijau atau hitam, thallus berbentuk sel bulat, silinder yang sering dijumpai membentuk koloni, bentuk benang atau filamen. Cyanophyta dibagi menjadi 2 kelas, yaitu Chroococcopytceae dan Hormogoniophyceae. Kelas Chroococcopytceae terbagi menjadi 3 Ordo, yaitu Chroococcales, Chamaesiphonales, dan Pleurocapsales. Sedangkan Kelas Hormogoniophyceae hanya terdiri dari 1 Ordo yaitu Stigonematales.

25 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar 1) Chrysophyta/Bacillariophyta

Bersel tunggal, dengan ciri khas dinding yang mengandung silikat, dan sel terdiri dari 2 bagian (cawan) zat warna berupa klorofil – a dan c, b- karoten, fucoxatin, diatoxanthin, diadinoxanthin.

Talus disebut frustula yang terdiri dari valve (atas) dan girdle (bawah).Divisi ini terbagi menjadi 2 Ordo, yaitu Centrales dan Pennales.

2) Pyrrophyta(Dinoflagellata)

Thallus / tubuh terdiri dari sel tunggal, memiliki 2 flagel heterocontac (tidak sama panjang) keluar dari sisi perut dalam suatu saluran. Kloroplas berbentuk cakram, pigmen fotosintesis berupa khlorofil-a, khlorofill-c, b- carotene, xantophylls, peridinin, dinoxanin.Tubuh terbagi dua bagian (Epicone dan Hipocone), beberapa generasi

mengalami reduksi pada bagian

epicone(Amphidinium sp).

Divisi ini terdiri dari dua kelas yaitu Desmophyceae dan Dinophyceae. Kelas Desmophycea terdiri atas 3 Ordo, yaitu Procentrales, Desmocapsales, dan Protospidales.

Kelas Dinophyceae terdiri atas 3 Ordo, yaitu Gymnodiniales, Peridiniales, dan Nocticuales.

3) Cryptophyta(Chryptomonads)

Merupakan kelompok alga berflagel yang bentuknya menyerupai pita. Beberapa jenis berwarna merah ( diduga karena adanya pigmen

26 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

phycosianin dan phycoeritrin) disamping klorofil-a, b dan c. Contoh : Cryptomonas, Rhodomonas, dan Nephroselmis.

4) Euglenophyta

Organisme dengan karakteristik memiliki flagel dibagaian anterior, bentuk sel bulat memanjang, pigmen fotosintesis berupa chlorphyl-a, dan chloropyl-b , b-carotene, neoxanthin, asthaxanthin dan antheraxtaxantin.

Divisi ini terdiri atas satu kelas, yaitu Euglenaceae. Kelas Euglenaceae terdiri atas 3 Ordo, yaitu: Eutroptiales, Euglenales, Heteronematales.

Rhodophyta (RedAlge)

Tabel 2.2 Fitoplankton dan klasifikasinya

No Gambar Klasifikasi :

Gambar 2.1 Fitoplankton dari jenis A. pellucida

Deskripsi :

Katup linier-lanset sampai sedikit belah ketupat dengan ujung akut, dibulatkan. Striae sangathalus

27 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

2

Gambar 2.2 Fitoplankton dari jenis Anabaena affinis

Klasifikasi:

Kingdom: Plantae Phylum: Cyanophyta Kelas: Cyanophyceae

Bersel satu, berbentuk benang (filamen), pada umumnya tidak bergerak, berbentuk koloni bola lendir yang saling menempel sehingga membentuk filamen lingkaran tunggal seperti rantai kalung.

3

Gambar 2.3 Fitoplankton dari jenis A.Spiroides

Klasifikasi: Kingdom : Plantae Phylum: Cyanophyta

28 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar

Deskripsi:

Bersel satu, berbentuk benang (filamen), berbentuk koloni yang saling menempel sehingga membentuk filamen lingkaran tunggal.

4

Gambar 2.4 Fitoplankton dari jenis Bacteriastrum sp

Klasifikasi:

Kingdom: Plantae Phylum : Bacillariophyta

Kingdom: Plantae Phylum : Bacillariophyta

Dokumen terkait