i
KEANEKARAGAMAN PLANKTON
DI PEMATANGSIANTAR
ii
iii
KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI PEMATANGSIANTAR
Penulis:
Herna Febrianty Sianipar, S.Si., M.Si
iv
KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI PEMATANGSIANTAR
Penulis
Herna Febrianty Sianipar, S.Si., M.Si
Editor
Jandri Fan HT Saragi, S.Pd., M.Pd., MT.
Desain Cover & Penata Isi Tim Penerbit FP. Aswaja
Cetakan Pertama: Desember 2020
Diterbitkan Oleh:
Forum Pemuda Aswaja
Jl. Kamp. Srigangga, Tiwugalih, Praya NTB.
Telp. : 085333011184
E-mail : [email protected] ISBN: 978-623-6636-52-7
Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ke dalam bentuk apapun, secara elektronis maupun mekanis, termasuk fotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya, tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Hak Cipta, Bab XII Ketentuan Pidana, Pasal 72, Ayat (1), (2), dan (6).
v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan anugerahNya yang memberikan kekuatan kepada penulis sehingga buku ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Buku yang berjudul “Keanekaragaman Plankton Di Pematangsiantar”, disusun untuk menambah pengetahuan bagi pembaca secara umum. Penyusunan buku tersebut, dibuat berdasarkan hasil penelitian penulis dan dibantu dari beberapa referensi. Plankton merupakan organisme perairan yang kehadirannya sangat penting, karena akan mempengaruhi ekosistem perairan. Plankton memiliki peran sebagai organisme autotrof, dalam piramida makanan berada pada tingkat trofik 1, plankton juga sebagai pendukung kehidupan organisme perairan.
Dalam penyusunan buku ini, penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menentukan judul, penyusunan hingga menjadi sebuah buku. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
vi
penyusunan buku ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan buku ini masih belum sempurna, oleh karena itu masukan dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi pembaca serta bermanfaat dalam menambah pengetahuan dunia pendidikan, penelitian dan ekosistem perairan.
Pematangsiantar, Desember 2020
Herna Febrianty Sianipar
vii
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi... vii
BAB I EKOSISTEM SUNGAI A. Sungai ... 1
B. Macam-macam Sungai di Kota Pematangsiantar... 5
BAB 2 KUALITAS PERAIRAN SUNGAI A. Kualitas Air Sungai ... 11
B. Temperatur ... 11
C. Kecerahan ... 12
D. Intensitas Cahaya Matahari ... 13
E. Arus ... 13
F. Derajat keasaman (pH) ... 14
G. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen-DO) ... 15
H. Nitrat dan Fosfat ... 16
I. BOD (Biochemical Oxygen Demand) ... 17
BAB 3 PLANKTON A. Plankton... 19
B. Peran dan Manfaat Plankton di Perairan... 20
C. Klasifikasi Plankton ... 22
D. Hubungan Fitoplankton dan Zooplankton ... 52
E. Plankton Sebagai Bioindikator Perairan ... 53
BAB 4 TEKNIK SAMPLING PLANKTON A. Teknik Sampling ... 59
B. Sampling Plankton Secara Kualitatif ... 59
C. Sampling Plankton Secara Kuantitatif ... 59
D. Pengawetan Sampel Plankton ... 63
viii
F. Pencacahan Plankton ... 65
BAB 5 KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI KOTA PEMATANGSIANTAR ... 73 Daftar Pustaka ... 77 Biodata Penulis ... 79
1 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar BAB I
EKOSISTEM SUNGAI
A. Sungai
Sungai sebagai lingkungan hidup manusia merupakan sumberdaya alam yang dapat digunakan untuk kesejahteraan manusia. Sungai mempunyai fungsi yang beranekaragam diantaranya untuk keperluan domestik, pertanian, perikanan, irigasi, perindustrian dan tenaga penggerak turbin (Gonawi, 2009). Pada saat ini sungai menjadi badan air yang cukup penting, karena sungai sebagai ekosistem terbuka lebih mudah mengakumulasi berbagai jenis buangan dan daerah sekitarnya.
Pembersihan lahan dan perubahan penggunaan lahan disepanjang daerah aliran sungai (DAS) akan mempengaruhi kualitas air sungai tersebut. Aktivitas manusia disepanjang daerah aliran sungai secara intensif dan ekstensif, langsung atau tidak langsung, dapat mempengaruhi kelimpahan atau penyebaran biota air yang hidup di dalam sungai tersebut.
Asal-usul terbentuknya sungai (dasar sungai) antara lain dapat melalui proses vulkanik dan glasial. Pada proses vulkanik, aliran lahar membentuk celah yang tidak beraturan yang pada perkembangan selanjutnya membentuk dasar sungai. Proses glasial juga dapat membentuk celah dan lembah yang dapat membentuk dasar sungai. Celah-celah yang terbentuk berkembang menjadi dalam dan lebar melalui
2 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
adanya proses erosi aliran air yang mengalir pada celah tersebut.
Pada umumnya terdapat beberapa kondisi yang membedakan antara ekosistem sungai (lotic) dengan ekosistem danau (lentik), yaitu pada sungaitekanan oksigen seragam dan sedikit sekali atau sama sekali tidak didapatkan stratifikasi suhu atau kimia, arus merupakan faktor pembatas atau pengendali utama, dan proses-proses pertukaran antara tanah dan air relatif lebih intensif di sungai mengakibatkan ekosistem sungai bersifat lebih terbuka dan metabolisme komunitasnya bersifat heterotrofik. Secara fisiografis sungai tergolong dalam perairan air tawar umum.
Perairan air tawar memiliki peranan penting bagi sistem kehidupan karena,
1. Perairan tawar merupakan sumber air rumah tangga yang paling praktis dan murah untuk kepentingan domestik, transportasi maupun industri,
2. Komponen perairan tawar merupakan daerah kritis pada daur hidrologi sebagai bottle neck (penyempitan),
3. Sebagai ekosistem, perairan tawar menawarkan sistem pembuangan yang memadai dan paling murah (Odum, 1994).
Ekosistem sungai (lotic) dibagi menjadi beberapa zona dimulai dengan zona krenal (mata) air yang umumnya terdapat di daerah hulu. Zona krenal dibagi menjadi rheokrenal, yaitu mata air yang berbentuk air terjun biasanya terdapat pada tebing-tebing yang curam, limnokrenal, yaitu
3 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
mata air yang membentuk genangan air yang selanjutnya membentuk aliran sungai yang kecil.
Beberapa mata air akan membentuk aliran sungai di daerah pegunungan yang disebut zona rithral, ditandai dengan relief aliran sungai yang terjal. Zona ritral dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu epirithral (bagian yang paling hulu), metarithral (bagian tengah) dan hyporithral (bagian yang paling akhir). Setelah melewati zona hyporithral, aliran sungai akan memasuki zona potamal, yaitu aliran sungai pada daerah-daerah yang relatif lebih landai dibandingkan dengan zona rithral.
Zona potamal dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu epipotamal , metapotamal dan hypopotamal (Barus, 2004).
Jaringan pada sistem sungai dapat mempengaruhi besar debit aliran sungai yang dialirkan oleh sungai indukannya.
Parameter ini dapat diukur secara kuantitatif dari hubungan percabangan, yaitu perbandingan antara jumlah alur sungai orde tertentu dengan orde sungai satu tingkat di atasnya. Nilai ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nisbah percabangan berarti sungai tersebut memiliki banyak anak-anak sungai dan fluktuasi debit yang terjadi juga semakin besar. Orde sungai adalah posisi percabangan alur sungai di dalam urutannya terhadap induk sungai pada suatu sistem sungai. Orde sungai dapat ditetapkan dengan metode Horton, Strahler, Shreve dan Scheidegger. Namun pada umumnya metode Strahler lebih mudah untuk diterapkan dibandingkan dengan metode yang lainnya.
4 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Berdasarkan metode Strahler, sungai orde 1 adalah anak-anak sungai yang letaknya paling ujung atau yang merupakan aliran langsung dari sumber mata airnya. Segmen sungai sebagai hasil pertemuan dari orde yang setingkat (orde 1) adalah orde 2, demikian seterusnya (Rahayu et al., 2009).
Menurut Odum (1994), Di dalam kolam, sungai, rawa dan danau berdasarkan daerah atau sub habitatnya terdapat tiga zona yaitu, zona littoral, limnetik dan profundal.
1. Zona littoral merupakan daerah perairan yang dangkal dengan penetrasi cahaya sampai dasar.
2. Zona limnetik adalah daerah air terbuka sampai kedalaman penetrasi cahaya yang efektif, pada umumnya tingkat ini berada di mana kedalaman dimana intensitas cahaya penuh.
3. Zona profundal merupakan bagian dasar dan daerah air yang dalam dan tidak tercapai oleh penetrasi cahaya efektif.
Macon (1974) dalam Welch (1996) mengklasifikasikan sungai lebih spesifik lagi berdasarkan kecepatan arus sebagai berikut: 1. Very swift, jika kecepatan arusnya lebih besar dari 100 cm/detik. 2. Swift, jika kecepatan arusnya antara 50-100 cm/detik. 3. Moderate, jika kecepatan arusnya antara 25-50 cm/detik. 4. Slight, jika kecepatan arusnya antara 10-25 cm/detik. 5. Very slight, jika kecepatan arusnya lebih kecil dari 10 cm/detik. Walaupun arus merupakan faktor pembatas utama pada zona deras, namun dasar yang keras dapat menjadi permukaan yang cocok bagi organisme (hewan dan tumbuhan) untuk menempel atau melekat (Odum, 1993).
(Ananthakrishnan dan Viswanathan, 1983 dalam Kurniawati, 2003) menyebutkan bahwa secara biologi, arus air pada
5 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
habitat lotik amat penting artinya bagi kehidupan organisme di dalamnya.
B. Macam-macam Sungai di Kota Pematangsiantar 1. Sungai Bah Bolon
Sungai Bah Bolon merupakan sungai yang mengalir di sepanjang Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dengan memiliki panjang ± 118 km dan lebar antara 20-25 m (BPS, 2014). Secara ekologi, Sungai Bah Bolon merupakan habitat bagi berbagai jenis organisme perairan. Salah satu organisme perairan yang terdapat di Sungai Bah Bolon adalah ikan. Hal ini dapat terlihat dari hasil tangkapan nelayan di Sungai Bah Bolon seperti ikan batak, ikan gabus, ikan lele, dan ikan jenis lainnya.
Sungai Bah Bolon dapat mengalami perubahan ekologis perairan,dimana hal tersebut juga akan berdampak langsung terhadap keanekaragaman biota yang hidup di Sungai Bah Bolon termasuk ikan.Ikan merupakan salah satu organisme akuatik yang rentan terhadap perubahan lingkungan terutama yang diakibatkan oleh aktivitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Limbah-limbah bahan buangan yang dihasilkan oleh berbagai aktivitas manusia tersebut mempengaruhi kualitas perairan baik fisik, kimia, dan biologis.
Keanekaragaman dan kelimpahan ikan ditentukan oleh karakteristik habitat perairan (Ross, 1997 dalam Yustina, 2001). Di sepanjang Sungai Bah Bolon banyak dijumpai aktifitas masyarakat sekitar seperti kegiatan rekreasi,
6 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
pemandian, sumber irigasi, pengerukan pasir dan batu, rumah sakit, pabrik es dan aktifitas lainnya. Berbagai jenis kegiatan yang terdapat disepanjang sungai Bah Bolon menimbulkan dampak berupa pencemaran dan perusakan lingkungan, baik itu secara langsung maupun tidak langsung, yaitu dengan adanya limbah yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan tersebut. Suatu limbah yang berupa bahan pencemar masuk ke suatu lokasi perairan sungai maka akan terjadi perubahan pada perairan tersebut.
Perubahan dapat terjadi pada organisme yang hidup pada lokasi tersebut juga pada lingkungan perairan itu sendiri yaitu berupa faktor fisika dan kimianya (Suin, 1994). Limbah yang dihasilkan dari berbagai kegiatan rumah tangga maupun industri ini akan dibuang ke badan sungai. Pembuangan limbah secara terus-menerus dalam jumlah yang berlebih tentunya akan mempengaruhi terhadap kualitas perairan seperti faktor fisik, kimia dan biologi perairan, khususnya ikan.
7 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Gambar: Sungai Bah Bolon Kota Pematangsiantar 2. Sungai Bah Kapul
Sungai Bah Kapul merupakan salah satu sungai yang terdapat di Pematangsiantar. Sungai ini mengalir di dua kecamatan yaitu Kecamatan Siantar Sitalasari dan Kecamatan Siantar Martoba dengan panjang sungai induk 10.471,5 meter.
Sungai ini mengalir sepanjang tahun yang aliran muaranya sampai ke Sungai Bah Bolon yang terdapat di Kabupaten Simalungun. Sungai Bah Kapul dimanfaatkan warga sekitar untuk mandi dan mencuci pakaian, dibidang pertanian air sungai digunakan untuk mengairi sawah (irigasi) dan sungai juga digunakan sebagai tempat pembuangan limbah oleh penduduk dan pabrik tepung tapioka. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga sekitar Sungai Bah Kapul, sebelum padatnya penduduk dan sebelum berdirinya industri air sungai masih jernih dan digunakan sebagai sumber air minum.
8 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Semenjak berdirinya pabrik tepung tapioka tahun 1982 masyarakat sekitar Sungai Bah Kapul tidak menggunakan air sungai sebagai sumber air minum serta diikuti dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk yang menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga di dua kecamatan yaitu Kecamatan Siantar Sitalasari dan Kecamatan Siantar Martoba.
Selain itu masih adanya persepsi dari sebagian masyarakat bahwa pengelolaan limbah bukan menjadi kebutuhan yang mendesak sehingga air limbah langsung dibuang ke sungai (Dokumen SPPIP,2012). Berdasarkan survei awal, kondisi air sungai sudah dalam keadaan keruh dan berubah warna yang diindikasikan akibat kegiatan industri di sekitar sungai yang membuang limbah, permukiman di sekitar sempadan sungai, pembuangan limbah masyarakat ke sungai dan kegiatan pertanian menjadi faktor yang diduga menjadi penyebab menurunnya kualitas air Sungai Bah Kapul.
Untuk mengetahui pengaruh aktivitas manusia sekitar Sungai Bah Kapul maka perlu dilakukannya pengkajian kualitas air Sungai Bah Kapul dengan menggunakan parameter kualitas air yaitu fisik dan kimia.
Sungai Bah Kapul dijadikan sebagai daerah penelitian karena Kota Pematangsiantar adalah kota yang sedang berkembang menjadi kota industri dan jasa, maka sungai sebagai salah satu sumberdaya alam yang terdapat di Kota Pematangsiantar memiliki peran dalam menunjang pembangunan yang perlu dipertahankan kualitasnya. Untuk itu, perlu dilakukan pengkajian untuk mengetahui kualitas air
9 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Sungai Bah Kapul. Kualitas air akan dilihat dari dua paramater yaitu fisik dan kimia dilihat dari PP No 82 Tahun 2001.
10 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
11 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar BAB 2
KUALITAS PERAIRAN SUNGAI
A. Kualitas Air Sungai
Air mempunyai fungsi sebagai media untuk ikan baik media internal maupun eksternal. Sebagai media internal, air berfungsi sebagai bahan baku untuk reaksi di dalam tubuh, pengangkutan bahan makanan keseluruhan tubuh, pengangkutan sisa metabolisme dan pengaturan atau penyangga suhu tubuh. Fungsi eksternal air yaitu sebagai habitatnya. Oleh karena peranan air sangat esensial maka kualitas dan kuantitasnya pun harus dijaga sesuai kebutuhan ikan (Lloyd, 1980). Berikut ini beberapa sifat Fisik-Kimia air yang berperan menentukan kualitas perairan.
B. Temperatur
Boyd dan Kopler (1979) menyatakan di perairan tropis ikan akan tumbuh dengan baik pada kisaran temperatur 25-32 oC, tetapi ikan memiliki toleransi yang berbeda-beda terhadap temperatur. Temperatur mempunyai pengaruh besar terhadap kelarutan oksigen di dalam air, dimana apabila temperatur naik, maka kelarutan oksigen dalam air menurun. Bersamaan dengan itu terjadi peningkatan aktivitas metabolisme organisme akuatik, sehingga kebutuhan akan oksigen juga akan meningkat (Sastrawijaya, 1991).
12 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Temperatur air merupakan pembatas utama pada suatu perairan karena organisme akuatik seringkali mempunyai toleransi yang sempit terhadap perubahan-perubahan temperatur. Menurut hukum Vant’s Hoffs, kenaikan temperatur sebesar 10 0C akan menaikkan metabolisme 2-3 kali lipat. Akibat meningkatnya laju respirasi akan menyebabkan konsumsi oksigen meningkat. Naiknya temperatur akan menyebabkan kelarutan oksigen dalam air menjadi berkurang (Barus, 1996).
C. Kecerahan
Kecerahan air adalah bentuk pencerminan daya tembus atau intensitas cahaya yang masuk dalam perairan. Kecerahan perairan juga dapat ditentukan karena adanya fitoplankton atau tumbuhan air lainnya yang terdapat dalam perairan.
Kecerahan air dapat diukur apabila kedalaman tembus cahaya matahari ke dalam kolam minimum 40 cm. Pengukuran kecerahan dapat digunakan untuk menentukan besarnya produktifitas primer dalam perairan (Odum, 1994).
Kecerahan adalah ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara visual dengan menggunakan “Secchi disk”.
Nilai kecerahan dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan dan padatan tersuspensi serta posisi orang dalam melakukan pengukuran. Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter. Kecerahan dapat dihubungkan dengan tipe kesuburan perairan. Cole (1983) menjelaskan perairan yang kecerahannya lebih 6 m merupakan kesuburan perairan oligotrofik, kecerahan antara 3-6 m disebut
13 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
mesotrofik dan kurang dari 3m dikenal sebagai perairan eutrofik.
D. Intensitas Cahaya Matahari
Intensitas cahaya berfungsi sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidupan organisme air dalam habitatnya.
Apabila intensitas matahari berkurang, hewan ini akan dirangsang untuk melakukan gerakan lokomotif untuk keluar dari tempat perlindungannya yang terdapat pada bagian bawah dari bebatuan didasar perairan. Mereka akan bergerak menuju kebagian atas dari bebatuan tersebut yang merupakan tempat untuk mencari makan (Barus, 2004)
Cahaya merupakan unsur penting dalam kehidupan ikan, cahaya dibutuhkan ikan untuk mengejar mangsa, menghindarkan diri dari predator, membantu dalam penglihatan dan proses metabolisme. Secara tidak langsung peranan cahaya matahari dalam kehidupan ikan adalah melalui rantai makanan (Rifai et al., 1983).
E. Arus
Arus sangat dipengaruhi oleh sifat air itu sendiri, gravitasi bumi, keadaan dasar perairan, dan gerakan rotasi bumi. Sirkulasi arus pada permukaan perairan terutama disebabkan oleh adanya wind stress. Jadi arus air yang ada dalam suatu perairan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor dari parameter kualitas air itu sendiri. Disamping itu arus juga dapat berdampak pada kandungan oksigen yang ada dalam air tersebut melalui proses difusi secara langsung dari udara.
14 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Pola arus dan asal arus diperairan umum (danau, sungai, dan resevoir) berbeda dengan di laut. Pada perairan umum yang mengalir (lotic system) misal sungai, air berasal dari tiga sumber, yaitu mata air, hujan, dan aliran permukaan.
Aliran sungai dipengaruhi oleh adanya dua kekuatan yaitu gravitasi dan hambatan (friksi). Oleh karena itu, kekuatan arus di sungai tergantung pada letak daerahnya. Pada daerah hulu, kecepatan arusnya tinggi, sedangkan di daerah hilir kecepatan arusnya menurun (Barus, 2004). Menurut Hutabarat (2000), kecepatan arus di perairan umum yang tergenang (lentic water bodies) misal danau dan reservoir pada umumnya lebih rendah daripada kecepatan arus di laut ataupun sungai.
F. Derajat keasaman (pH)
Nilai pH menyatakan nilai konsentrasi ion Hidrogen dalam suatu larutan. Air yang bersih jumlah konsentrasi ion H+ dan OH- berada dalam keseimbangan sehingga air yang bersih akan bereaksi netral. Organisme akuatik dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah dan basa lemah. pH yang ideal bagi kehidupan organisme akuatik umumnya berkisar antara 7-8,5.
Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat yang bersifat toksik (Barus, 1996). Nilai pH air dapat mempengaruhi jenis dan susunan zat dalam lingkungan perairan dan mempengaruhi ketersediaan unsur
15 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
hara serta toksisitas dari unsur renik (Barus, 2004). pH merupakan suatu ekspresi dari konsentarsi ion hidrogen (H+ ) di dalam air. Biasanya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentasi ion H, pH sangat penting sebagai parameter kualitas air, karena pH mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain ikan, organisme akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu. Sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan organisme air (Rifai et al., 1983).
Organisme dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi asam lemah sampai basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup oraganisme, karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi (Barus, 2004).
G. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen-DO)
Kelarutan Oksigen (DO) merupakan salah satu faktor terpenting dalam setiap sistem perairan yang diperlukan organisme untuk melakukan respirasi. Sumber utama oksigen terlarut berasal dari atmosfir dan proses fotosintesis dan dari tumbuhan air lainnya. Oksigen dari udara diserap dengan difusi langsung permukaan air oleh angin dan arus. Jumlah oksigen terlarut di suatu ekosistem sungai dipengaruhi oleh faktor temperatur. Kelarutan oksigen dalam air akan
16 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
meningkat apabila temperatur air menurun dan begitu juga sebaliknya (Michael, 1994).
H. Nitrat dan Fosfat
Nitrogen di perairan terdapat dalam bentuk gas N2, NO2 - , NO3 - dan NH4+ serta sejumlah N yang berikatan dalam organik kompleks. Sumber nitrogen terbesar berasal dari udara, sekitar 80 % dalam bentuk nitrogen bebas yang masuk melalui sistem fiksasi biologis dalam kondisi aerobik.
Keberadaan nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. Nitrogen anorganik terdiri atas ion nitrit (NO2 - ), ion nitrat (NO3 - ), ammonia (NH3), ion ammonium (NH4 + ) dan molekul N2 yang larut dalam air, sedangkan nitrogen organik berupa protein, asam amino dan urea akan mengendap dalam air (Chester, 1990).
Nitrat merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk dapat tumbuh dan berkembang, Keberadaan nitrat di perairan sangat dipengaruhi oleh buangan yang dapat berasal dari industri, bahan peledak, dan pemupukan Secara alamiah kadar nitrat biasanya rendah namun kadar nitrat dapat menjadi tinggi sekali dalam air tanah di daerah yang diberi pupuk nitrat (Alaert et al., 1987). Nitrogen dan Fosfor sangat berperan dalam proses terjadinya eutrofikasi di suatu ekosisten air. Seperti diketahui bahwa fitoplankton dan tumbuhan air lainnya membutuhkan nitrogen dan fosfor sebagai sumber nutrisi utama bagi pertumbuhannya. Dengan demikian maka peningkatan unsur nitrogen dan fosfor dalam
17 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
air akan dapat meningkatkan populasi alga secara massal yang menimbulkan eutrofikasi dalam ekosistem air (Barus, 2004).
I. BOD (Biochemical Oxygen Demand)
Menurut Michael (1994), BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme di dalam lingkungan air untuk mendegradasi bahan buangan yang ada dalam air lingkungan. Pada umumnya air lingkungan atau air dalam mengandung mikroorganisme yang dapat memakan, memecah, menguraikan bahan buangan organik. Penguraian bahan organik melalui proses oksidasi oleh mikroorganisme di dalam air lingkungan adalah proses alamiah yang mudah terjadi apabila air lingkungan mengandung oksigen yang cukup. Selanjutnya Michael (1994) menyatakan nilai konsentrasi BOD5 menunjukkan kualitas suatu perairan masih tergolong baik apabila konsumsi O2 selama 5 hari berkisar sampai 5 mg/l.
18 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
19 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar BAB 3
PLANKTON
A. Plankton
Mikroorganisme dalam suatu lingkungan akuatik mungkin terdapat pada semua kedalaman, berkisar dari permukaan sampai kedasar parit-parit yang paling dalam didasar lautan.Mikroorganisme yang menghuni lapisan teratas dan sedimen dasar terutama di perairan dalam salah satunya adalah plankton.
Menurut Irianto plankton adalah kumpulan organisme hidup yang sebagian besar terdiri dari mikroorganisme yang terapung dan hanyut pada permukaan ekosistem akuatik.4 Dalam bahasa Yunani plankton mempunyai arti
“mengembara”.Plankton merupakan istilah untuk organisme baik hewan maupun tumbuhan yang hidup dalam perairan.5
Menurut Yazwar plankton adalah organisme baik tumbuhan maupun hewan yang umumnya berukuran relatif kecil (mikro), hidup melayang-layang di air,ada yang tidak memiliki daya gerak dan adapula yang memiliki daya gerak namun daya geraknya relatif lemah sehingga distribusinya sangat dipengaruhi oleh daya gerak air, seperti arus dan lainnya.
20 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Plankton adalah mikroorganisme yang melayang diperairan, mempunyai gerak sedikit sehingga mudah terbawa arus, artinya biota ini tidak dapat melawan arus.Secara sederhana plankton diartikan sebagai hewan dan tumbuhan renik yang terhanyut di laut.7 Istilah plankton pertama kali diterapkan untuk organisme di laut oleh Victor Hensen direktur Ekspedisi Jerman pada tahun 1889, yang dikenal dengan “Plankton Expedition” yang khusus dibiayai untuk menentukan dan membuat sitematika organismelaut.8
B. Peran dan Manfaat Plankton diPerairan
Kecilnya ukuran plankton bukan berarti mereka tidak memiliki suatu peranan. Plankton memiliki peranan sangat penting terutama dalam ekosistem perairan, karena plakton merupakan produsen primer untuk memenuhi kebutuhan energi bagi mahluk hidup lain.
Keberadaan plankton sangat mempengaruhi kehidupan perairan karena plankton memegang peran penting sebagai makanan bagi berbagai organisme laut, jika jumlah keberadaan plankton di suatu perairan mengalami penurunan maka akan berdampak pula pada organisme-organisme lain yang tinggal di perairan serta dapat menurunkan kualitas perairan tersebut. Salah satu penyebab berubahnya kualitas suatu perairan yaitu karena berubahnya fungsi perairan.Perubahan ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam maupun aktivitas manusia seperti adanya peningkatan yang signifikan dari konsentrasi unsur hara secara sporadis. Dengan demikian, hal ini dapat
21 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
menimbulkan peningkatan nilai kuantitatif plankton melampaui batas normal yang dapat ditolerir oleh organisme hidup lainnya
Peranan Positif Plankton
Melalui penelitian-penelitian tentang plankton yang telah dilakukan terungkap manfaat-manfaat plankton bagi suatu perairan.Plankton adalah pakan alami bagi biota air karena mengandung banyak karbohidrat dan protein untuk pertumbuhannya.Sebagai produsen utama diperairan adalah fitoplankton, sedangkan organisme konsumen adalah zooplankton, larva, udang, kepiting dan sebagainya.
Fitoplankton dapat menambah kadar oksigen terlarut dalam air (DO) yang diberikan melalui proses fotosintesis, sehingga kadar oksigen terlarut bertambah. Plankton dapat menjaga kestabilan suhu air, karena plankton hidup mengambang dan juga plankton tersebut menutupi permukaan perairan sehingga biota laut didalamnya terlindungi karena fitoplankton membutuhkan sinar matahari untuk proses fotosintesis sehingga sinar matahari tidak langsung masuk kedalam air, jadi suhunya dapatdistabilkan.
Menurut Zainudin dalam penelitiannya yang berjudul Keanekaragaman Plankton Sebagai Indikator Kualitas Air Sungai Brantas bahwa plankton merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat dijadikan sebagai indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai. Plankton yang mempunyai sifat selalu bergerak dapat juga dijadikan indikator pencemaran perairan. Akhir-akhir ini pemantauan dengan biota lebih diperhatikan, mengingat lebih tegas dalam
22 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
mengekspresikan kerusakan sungai, karena bisa terpengaruh langsung ke sungai dalam jangkapanjang.
Peranan Negatif Plankton
Selain mempunyai dampak positif, planktonpun memiliki dampak negatif yang merugikan bagi perairan seperti banyaknya bangkai zooplankton yang mengendap didasar tanah dapat menjadi racun karena ketika bangkai zooplankton tersebut terurai maka akan menghasilkan H2S dan NH3. Plankton dari jenis Heterosigma Akashiwa dapat membuat pernafasan ikan menjadi tersendat karena plankton ini menempel di insang.Fitoplankton dapat menyebabkan blooming.Blooming merupakan fenomena yang terjadi akibat ledakan perkembangan yang begitu cepat dari jenis fitoplankton.Biasanya dari kelompok Dinoflagellata.Blooming mengakibatkan penurunan produktifitas perairan dan kematian padaikan.
C. Klasifikasi Plankton
Berdasarkan klasifikasinya plankton dibedakan dalam dua kategori utama yaitu fitoplankton yang meliputi semua tumbuhan renik dan zooplankton yang meliputi hewan yang umumnya renik.
Adapun susunan klasifikasi plankton dalam taksonomi di mulai dari Kingdom (Kerajaan) -Phylum/Divisi - Kelas - Ordo (bangsa) - Familia (suku) - Genus (jenis) – Spesies.
1. Fitoplankton
Fitoplankton memiliki karakteristik yang khas yaitu memiliki pigmen- pigmen fotosintesis yang menyebabkan
23 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
timbulnya kenampakan warna yang berbeda dari setiap jenisnya. Adanya perbedaan dalam zat warna/pigmen fotosintesis ini dijadikan sebagai dasar dari klasifikasifitoplankton.
Berikut adalah klasifikasi fitoplankton menurut Philips Sze (1993):
Tabel 2.1 Klasifikasi Fitoplankton BerdasarkanPigmen PIGMEN FOTOSINTESIS DIVISI
Klorofil-a dan klorofil-b Chlorophyta (Green Algae)
Klorofil-a,phycocianobilin, phycoerythrobilin Cyanophyta (Blue Green Algae)
Klorofil-a, C1 dan C2, fucoxanthin Chrysophyta/
Bacillariophyta Klorofil-a, C2 dan peridinin Pyrrophyta/Dinoflag
ellata klorofil-a, C2,Phycocianobilin atau
phycoerythrobilin
Cryptophyta
Klorofil-a dan klorofil-b Euglenophyta
Klorofil-a, phycoerythrobilin Rhodophyta (Red Alge)
Beberapa pigmen yang dimiliki masing-masing divisi tersebut menampakkan warna yang berbeda.Klorofil menimbulkan kenampakan warna hijau, phycocianobilin menampakkan warna biru, phycoerythrobilin menampakkan warna kemerahan dan fucoxanthin menampakkan warna kekuningan. Fitoplankton terbagi
24 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar menjadi beberapa Divisi, antara lain :
a. Divisi Chlorophyta
Alga hijau memiliki karakteristik kloroplast yang berwarna hijau, mengandung korofil-a dan klorofil-b serta karotenoid dan zantophylls. Pada kloropas terdapat pirenoid, hasil asimilasi berupa tepung dan lemak. Kloroplas dapat berbentuk, pita, lempeng mangkok, jaringan, cakram dan lainnya.
Terdapat 14 ordo dari divisi Chlorophyta yaitu, Bolbocales, Aerosiphonales, Chlorococcales, Zy gnematales, Siphonales, Ulotrchales, Cladophorales, Chaetophorales, Sphaeropleales, Dasycladalcs, Ulvales, Oedogoniales, Siphonocladales, dan Desmikiales.
b. Divisi Cyanophyta
Alga biru/gangang lendir (Cyanophyta), karakteristik dari kelompok Cyanophyta ini adalah, Selnya bersifat Prokarion (tidak memiliki inti sejati ), Warna sel biru hijau atau hitam, thallus berbentuk sel bulat, silinder yang sering dijumpai membentuk koloni, bentuk benang atau filamen. Cyanophyta dibagi menjadi 2 kelas, yaitu Chroococcopytceae dan Hormogoniophyceae. Kelas Chroococcopytceae terbagi menjadi 3 Ordo, yaitu Chroococcales, Chamaesiphonales, dan Pleurocapsales. Sedangkan Kelas Hormogoniophyceae hanya terdiri dari 1 Ordo yaitu Stigonematales.
25 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar 1) Chrysophyta/Bacillariophyta
Bersel tunggal, dengan ciri khas dinding yang mengandung silikat, dan sel terdiri dari 2 bagian (cawan) zat warna berupa klorofil – a dan c, b- karoten, fucoxatin, diatoxanthin, diadinoxanthin.
Talus disebut frustula yang terdiri dari valve (atas) dan girdle (bawah).Divisi ini terbagi menjadi 2 Ordo, yaitu Centrales dan Pennales.
2) Pyrrophyta(Dinoflagellata)
Thallus / tubuh terdiri dari sel tunggal, memiliki 2 flagel heterocontac (tidak sama panjang) keluar dari sisi perut dalam suatu saluran. Kloroplas berbentuk cakram, pigmen fotosintesis berupa khlorofil-a, khlorofill-c, b- carotene, xantophylls, peridinin, dinoxanin.Tubuh terbagi dua bagian (Epicone dan Hipocone), beberapa generasi
mengalami reduksi pada bagian
epicone(Amphidinium sp).
Divisi ini terdiri dari dua kelas yaitu Desmophyceae dan Dinophyceae. Kelas Desmophycea terdiri atas 3 Ordo, yaitu Procentrales, Desmocapsales, dan Protospidales.
Kelas Dinophyceae terdiri atas 3 Ordo, yaitu Gymnodiniales, Peridiniales, dan Nocticuales.
3) Cryptophyta(Chryptomonads)
Merupakan kelompok alga berflagel yang bentuknya menyerupai pita. Beberapa jenis berwarna merah ( diduga karena adanya pigmen
26 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
phycosianin dan phycoeritrin) disamping klorofil-a, b dan c. Contoh : Cryptomonas, Rhodomonas, dan Nephroselmis.
4) Euglenophyta
Organisme dengan karakteristik memiliki flagel dibagaian anterior, bentuk sel bulat memanjang, pigmen fotosintesis berupa chlorphyl-a, dan chloropyl-b , b-carotene, neoxanthin, asthaxanthin dan antheraxtaxantin.
Divisi ini terdiri atas satu kelas, yaitu Euglenaceae. Kelas Euglenaceae terdiri atas 3 Ordo, yaitu: Eutroptiales, Euglenales, Heteronematales.
Rhodophyta (RedAlge)
Tabel 2.2 Fitoplankton dan klasifikasinya
No Gambar Klasifikasi :
Kingdom: Plantae Phylu: Bacillariophyta Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Naviculales
Family: Amphipleuraceae Genus: Amphipleura Spesies: A.pellucida 1
Gambar 2.1 Fitoplankton dari jenis A. pellucida
Deskripsi :
Katup linier-lanset sampai sedikit belah ketupat dengan ujung akut, dibulatkan. Striae sangathalus
27 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
2
Gambar 2.2 Fitoplankton dari jenis Anabaena affinis
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Cyanophyta Kelas: Cyanophyceae Ordo: Nostocales
Family: Nostocaceae Genus: Anabaena Spesies: Anabaena affinis
Deskripsi:
Bersel satu, berbentuk benang (filamen), pada umumnya tidak bergerak, berbentuk koloni bola lendir yang saling menempel sehingga membentuk filamen lingkaran tunggal seperti rantai kalung.
3
Gambar 2.3 Fitoplankton dari jenis A.Spiroides
Klasifikasi: Kingdom : Plantae Phylum: Cyanophyta
Kelas: Cyanophyceae Ordo: Nostocales Family: Nostocaceae Genus: Anabaena Spesies: A. spiroides
28 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Deskripsi:
Bersel satu, berbentuk benang (filamen), berbentuk koloni yang saling menempel sehingga membentuk filamen lingkaran tunggal.
4
Gambar 2.4 Fitoplankton dari jenis Bacteriastrum sp
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum : Bacillariophyta
Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Centrales
Family: Chaetoceraceae Genus: Bacteriastrum Spesies: Bacteriastrum sp
Deskripsi:
Sel silinder, dengan lebih dari dua setae per
valve, setae sel yang berdekatan menyatu untuk jarak tertentu, membagi lebih jauh dan bercabang (bifurkasi) , kecil dan banyak
kloroplas.
29 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
5
Gambar 2.5 Fitoplankton dari jenisC.bergonii
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Bacillariophyta
Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Centrales
Family: Hemiaulaceae
Genus: Cerataulina Spesies: C.
bergonii
Deskripsi:
Bentuknya seperti batang, tidak mempunyai raphe (lubang yang memanjang dari ujung ke ujung sel.
6
Gambar 2.6 Fitoplankton dari jenis Coleochaete solute
Klasifikasi: Kingdom: Plantae Phylum : Chlorophyta
Kelas: Chlorophyceae Ordo: Coleochaetales Family: Coleochaetaceae Genus: Coleochaete Spesies: Coleochaete solute
Deskripsi:
Berwarna hijau, dinding sel terdiri dari 2 lapis yang concentris.
30 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
7
Gambar 2.7 Fitoplankton dari jenis N. Platystoma
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Bacillariophyta
Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Naviculales Family: Naviculaceae Genus: Navicula Spesies: N. platystoma
Deskripsi:
raphed pennate dengan perahu berbentuk sel
secara tunggal atau pita. Katup yang simetris, bulat, akut, atau berbentuk kepala berakhir.
8
Gambar 2.8 Fitoplankton dari jenis G.sphaerophorum
Sumber: dokumentasi pribadimilik Suci Utami. (2012)
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Bacillariophyta
Kelas: Bacillariophyceae Ordo : Pennales
Family: Gomphonemaceae Genus: Gomphonema Spesies:G. sphaerophorum Deskripsi:
Bentuk melintang simetris. Ada bohlam di setiap akhir dengan midregion diperbesar. Striae yang relatif kasar.
31 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
9
Gambar 2.9 Fitoplankton dari jenis H.hauckii
Sumber: dokumentasi pribadi milik Suci Utami. (2012)
Klasifikasi :
Kingdom: Plantae Phylum:
Bacillariophyta
Kelas: Bacillariophyceae Ordo:Centrales
Family: Hemiaulaceae Genus: Hemiaulus Spesies: H.hauckii
Deskripsi :
Sel-tangga seperti dengan tanduk panjang, katup permukaan datar, lubang besar dan persegi panjang, sel bersatu dalam lurus atau melengkung, rantai sering memutar.
10
Gambar 2.10 Fitoplankton dari jenis
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Chlorophyta
Kelas: Chlorophyceae Ordo: Zygnematales Family: Desmidiaceae Genus: Hyalotheca Spesies: H.undulate
H.Undulate
Deskripsi:
Selnya silindris dan sangat halus terbatas di midregion.
32 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
11
Gambar 2.11 Fitoplankton dari jenis L.confervoides
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Cyanophyta
Kelas: Cyanophyceae Ordo: Oscillatoriales Family: Oscillatoriaceae Genus: Lyngbya
Spesies: L.confervoides Deskripsi :
Berfilamen, biasanya
makroskopik, tidak bercabang atau sedikit palsu bercabang dengan cabang pendek dan sporadical. Trikoma isopolar, 12
Gambar 2.12 Fitoplankton dari jenis Merismopedia sp
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Cyanophyta
Kelas: Cyanophyceae Ordo: Chlorococcales
Family: Merismopediaceae Genus: Merismopedia
Spesies: Merismopediasp Deskripsi:
Berbentuk bulat dan diatur dalam baris dan flat, membentuk koloni persegi diselenggarakan bersama oleh matriks mucilaginous.
33 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
13
Gambar 2.13 Fitoplankton dari jenis N.cryptocephala
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Bacillariophyta
Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Naviculales Family:Naviculaceae Genus: Navicula
Spesies: N. cryptocephala
Deskripsi:
raphed pennate dengan perahu berbentuk sel yang mungkin ada secara tunggal atau pita. Katup yang simetris baik apikal dan transapically, dan mungkin telah bulat, akut, atau berbentuk kepala berakhir.
14 Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Bacillariophyta
Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Naviculales Family: Naviculaceae Genus: Navicula Spesies: N. medisculus
34 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Gambar 2.14 Fitoplankton dari jenis N.medisculus
Deskripsi:
raphed pennate dengan perahu berbentuk sel yang mungkin ada secara tunggal atau pita. Katup yang simetris baik apikal dan transapically, dan mungkin telah bulat, akut, atau berbentuk kepala berakhir.
15
Gambar 2.15 Fitoplankton dari jenis N.oppugnata
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Bacillariophyta
Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Naviculales Family: Naviculaceae Genus: Navicula Spesies: N. oppugnata
35 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Deskripsi:
raphed pennate dengan perahu berbentuk sel yang mungkin ada secara tunggal atau pita.
Katup yang simetris baik apikal dan transapically.
16
Gambar 2.16 Fitoplankton dari jenis Navicula papula
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Bacillariophyta
Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Naviculales Family: Naviculaceae Genus: Navicula
Spesies: Navicula pupula
Deskripsi:
raphed pennate dengan perahu berbentuk sel yang mungkin ada secara tunggal atau pita. Katup yang simetris baik apikal dan transapically, dan mungkin telah bulat, akut, atau berbentuk kepala berakhir.
36 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
17
Gambar 2.17 Fitoplankton dari jenis Netrium digitus )
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Chlorophyta
Kelas: Chlorophyceae Ordo: Zygnematales Family: Mesotaeniaceae Genus: Netrium
Spesies: Netrium digitus
Deskripsi:
Dinding sel jelas terlihat, tidak dibagi dua bagian dan tanpa liang.
Sel tunggal / sendirian, pendek dan kebanyakan tidak cerutan. Dua kloroplas di setiap sel, kloroplas memiliki rabung serat yang memanjang.Uniseluler, banyak spesies
tumbuh sebagai koloni filamen panjang.
18 Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Cyanophyta
Kelas: Cyanophyceae Ordo: Nostocales
37 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Family: Nostocaceae Genus: Nostoc
Spesies: Nostoc linckia
Deskripsi:
Berbentuk koloni terdiri dari filamen sel moniliform dalam selubung gelatin.
19
Gambar 2.19 Fitoplankton dari jenis N.planctonicum
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Cyanophyta
Kelas: Cyanophyceae Ordo: Nostocales Family: Nostocaceae Genus: Nostoc
Spesies: N. planctonicum
Deskripsi:
Berbentuk koloni terdiri dari filamen sel moniliform dalam selubung gelatin.
38 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
20
Gambar 2.20 Fitoplankton dari jenis O.curviceps
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Chyanophyta
Kelas: Chyanophyceae Ordo: Oscillatoriales Family: Oscillatoriaceae Genus: Oscillatoria Spesies: O. curviceps
Deskripsi:
berbentuk silindris dan tidak bercabang, mempunyai satu membran. Trikom sering berada di massa pelampung atau bagian mengkilap pada tanah lembab.
Selnya pendek dan lebar kecuali untuk sel ujungnya yang mungkin tertutup dan tipis.
21
Gambar 2.21 Fitoplankton dari jenis
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Chyanophyta
Kelas: Chyanophyceae Ordo: Oscillatoriales Family: Oscillatoriaceae Genus: Oscillatoria Spesies: O. kawamurae
39 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
O.kawamurae Deskripsi:
berbentuk silindris dan tidak bercabang, mempunyai satu membran. Trikom sering berada di massa pelampung atau bagian mengkilap pada tanah lembab.
Selnya pendek dan lebar kecuali untuk sel ujungnya yang mungkin tertutup dan tipis.
22
Gambar 2.22 Fitoplankton dari jenis Oscillatorialimosa
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum:
Chyanophyta
Kelas: Chyanophyceae Ordo: Oscillatoriales Family: Oscillatoriaceae Genus: Oscillatoria
Spesies: Oscillatoria limosa
Deskripsi :
Berbentuk silindris dan tidak bercabang, mempunyai satu membran. Trikom sering berada di massa pelampung atau bagian mengkilap pada tanah lembab.
Selnya pendek dan lebar kecuali untuk sel ujungnya yang mungkin tertutup dan tipis.
40 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
23
Gambar 2.23 Fitoplankton dari jenis P.simplex
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Chlorophyta Kelas: Chlorophyceae rdo: Chlorococcales Family: Hydrodictyaceae Genus: Pediastrum Spesies: P.simplex
Deskripsi :
Protoplas dari setiap sel indukmemunculkan zoospora biflagellate untuk setiap sel dalam koloniinduknya.
24
Gambar 2.24 Fitoplankton dari jenis P.tenue
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Cyanophyta Kelas: Cyanophyceae Ordo: Oscillatoriales Family: Phormidiaceae Genus: Phormidium Spesies: P. tenue
Deskripsi :
Protoplas alveolair, terdapat vacuolen, lendir tebal.
41 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
25
Gambar 2.25 Fitoplankton dari jenis P.trabecular
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Chlorophyta Kelas: Chlorophyceae Ordo: Zygnematales Family: Desmidiaceae Genus: Pleurotaenium Spesies: P. trabecular
Deskripsi:
Berkembang biak dengan membelah diri, sel sedikit ataulebihcerutan. Sellurus/tegak atau silinder, bundar di bagian persilangan dan cerutan di area tengah biasanya tidak
dalam.
26
Gambar 2.26 Fitoplankton dari jenis Rhopaloideagibba
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Bacillariophyta Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Pennales
Family: Epithemiaceae Genus: Rhopaloidea Spesies: Rhopaloideagibba Deskripsi:
Terdapat raphe (suatu lubang yang memanjang dari ujung ke ujung sel, berlendir.
42 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
27
Gambar 2.27 Fitoplankton dari jenis S.ocuminatus
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Chlorophyta Kelas: Chlorophyceae Ordo: Chlorococcales Family: Scenedesmaceae Genus: Scenedesmus Spesies: S. ocuminatus Deskripsi :
Uniseluler, dinding sel dengan lapisan hemicellulosic dan sporopolleninic, thalli tunggal bersel atau kolonial, tiang sel berbentuk kepala.
28
Gambar 2.28 Fitoplankton dari jenis S.quadricauda
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Chlorophyta Kelas: Chlorophyceae Ordo: Chlorococcales Family: Scenedesmaceae Genus: Scenedesmus Spesies: S. quadricauda Deskripsi :
Uniseluler, dinding sel dengan lapisan hemicellulosic dan sporopolleninic, Sel- sel bersatu dan saling terhubung satu sama lain
43 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
29
Gambar 2.29 Fitoplankton dari jenis S.abundance
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Chlorophyta Kelas: Chlorophyceae Ordo: Chlorococcales Family: Scenedesmaceae Genus: Scenodesmus Spesies: S. abundance
Deskripsi:
Uniseluler, dinding sel dengan lapisan hemicellulosic dan sporopolleninic.
30
Gambar 2.30 Fitoplankton dari jenis Surirella tanera
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Bacillariophyta Kelas: Bacillariophyceae Ordo: Pennales
Family: Surirellaceae Genus: Surirella Spesies: Surirellatenera
Deskripsi :
Selnya tidak berbentuk batang, bentuk tutup atau wadah beraneka macam (pennatae), berwarna hijau kekuning- kuningan (mengandung carotine dan xantophy)l, dinding sel berbahan silikat, flagel-flagelnya tidak sama panjangnya.
44 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
31
Gambar 2.31 Fitoplankton dari jenis Synedra acus
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Bacillariophyta Kelas: Bacillariophyceae Ordo:Pennales
Family: Diatomaceae Genus: Synedra Spesies: Synedraacus Deskripsi :
Sel yang kuat, striae paralel, apikal porefield hadir di masing-masing
tiang,rimoportula
hadir di dekat puncak setiap.
32
Gambar 2.32 Fitoplankton dari jenis Synedra pulhella
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Bacillariophyta Kelas: Bacillariophyceae Ordo:Pennales
Family: Diatomaceae Genus: Synedra
Spesies: Synedra pulchella Deskripsi:
Sel yang kuat, linier untuk berbentuk pisau pembedah dengan dibulatkan menjadi berbentuk kepala ujung, striae paralel , apikal porefield hadir di masing- masing tiang.
45 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Plankton adalah mikroorganisme yang ditemui hidup melayang di perairan, mempunyai gerak sedikit sehingga sudah terbawa arus, artinya biota ini tidak dapat melawan arus. Mikroorganisme ini baik dari segi jumlah dan jenisnya sangat banyak dan sangat beraneka ragam serta sangat padat. Selanjutnya diketahui bahwa plankton merupakan salah satu komponen utama dalam sistem mata rantai makanan (food chain) dan jaring makanan (food web). Mereka menjadi pakan bagi sejumlah konsumen dalam sistem mata rantai dan jaring makanan tersebut (Fachrul, 2007).
Menurut Nybakken (1988), bahwa plankton dapat digolongkan berdasarkan ukuran, penggolongan ini tidak membedakan antara fitoplankton dan zooplankton.
Golongan plankton ini terdiri atas:
33
Gambar 2.33 Fitoplankton dari jenis Synedra ulna
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae Phylum: Bacillariophyta Kelas: Bacillariophyceae Ordo:Pennales
Family: Diatomaceae Genus: Synedra Spesies: Synedra ulna Deskripsi :
Sel yang kuat, striae paralel, apikal porefield hadir di masing-masing tiang.
46 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
a. Megaplankton yaitu plankton yang berukuran 2.0 mm b. Makroplankton yaitu plankton yang berukuran 0.2-2.0
mm.
c. Mikroplankton yaitu plankton yang berukuran 20 μm-0.2 mm.
d. Nanoplankton yaitu plankton yang berukuran 2 μm- 20μm.
e. Ultraplankton yaitu plankton yang berukuran kurang dari 2 μm. Berdasarkan siklus hidupnya plankton dapat dikenal sebagai holoplankton yaitu plankton yang seluruh siklus hidupnya bersifat planktonik dan meroplankton yaitu plankton yang hanya sebagian siklus hidupnya bersifat planktonik. Sebenarnya plankton mempunyai alat gerak (misalnya Flagelata dan Ciliata) sehingga secara terbatas plankton akan melakukan gerakan-gerakan, tetapi gerakan tersebut tidak cukup mengimbangi gerakan air sekelilingnya, sehingga dikatakan bahwa gerakan plankton sangat dipengaruhi oleh gerakan air (Barus, 2004).
Selanjutnya berdasarkan ekologisnya, plankton dibagi menjadi dua bagian yaitu plankton laut (haliplankton) dan plankton air tawar (limnoplankton) yang tinggal di perairan-perairan darat seperti sungai dan danau.
47 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Berdasarkan kedalaman plankton juga dibedakan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut:
a. Pleuston, adalah biota plankton pada permukaan air laut, dimana selalu berhubungan dengan udara. Pergerakan plankton ini banyak dipengaruhi oleh angin. Contohnya : Physalia dan Velella
b. Neuston, adalah biota plankton yang tinggal pada lapisan permukaan dari kedalaman sampai dengan 10 mm c. Epipelagic Plankton, adalah biota plankton yang
menempati lapisan perairan sampai dengan kedalaman 300 m
d. Mesopelagic plankton, adalah biota plankton yang menempati lapisan perairan diantara 300-1000 m
e. Bathypelagic Plankton, adalah biota plankton yang menempati lapisan perairan antara 1000 m sampai dengan dari 3000-4000 m
f. Abyssopelagic plankton, adalah biota plankton yang menempati lapisan perairan lebih dari 3000-4000 m g. Epibentic Plankton adalah biota plankton yang
menempati lapisan perairan mendekati dasar atau secara temporer berkaitan dengan lapisan permukaan dasar.
Fitoplankton dapat digunakan sebagai indikator kualitas lingkungan dengan mengetahui keseragaman jenis atau heterogenitasnya. Komunitas dikatakan memiliki keseragaman tinggi jika kelimpahan masing-masing jenis tinggi. Begitu pula sebaliknya, keanekaragaman jenis rendah jika kelimpahan hanya pada jenis tertentu.
48 Keanekaragaman Plankton di Pematangsiantar
Fungsi fitoplankton di perairan sebagai makanan bagi zooplankton dan beberapa jenis ikan serta larva biota yang masih muda. Fitoplankton juga berperan sebagai produsen utama karena merupakan biota awal yang menyerap energi sinar matahari. Seperti tumbuhan hijau yang lain yang memiliki klorofil, fitoplankton membuat ikatan-ikatan organik yang kompleks dari bahan anorganik sederhana serta melakukan fotosintesis. Maka banyaknya fitoplankton pada jumlah tertentu semakin menyuburkan ekosistem di sekitarnya. Namun pada perairan yang sama, terkadang didapati jumlah fitoplankton yang sama.
Hal itu disebabkan karena fitoplankton berlimpah serta menyebar karena beberapa faktor antara lain angin, unsur hara, kedalaman perairan, dan aktivitas pemangsaan.8 Fitoplankton banyak ditemukan mengapung dalam jumlah besar di permukaan air danau atau laut yang memiliki titik-titik minyak yang kurang padat dibandingkan dengan air untuk mempertahankan diri agar tidak tenggelam.
Kemampuan fitoplankton untuk menghasilkan sumber energi dengan melalui proses fotosintesis. Dapat melakukan proses tersebut fitoplankton membutuhkan cahaya matahari.Sehingga untuk dapat terus berfotosintesis fitoplankton hidup mengapung di permukaan air yang masih dapat tertembus cahaya.
Dalam meningkatkan daya apung, fitoplankton mempunyai berbagai adaptasi morfologis seperti pada jenis dinoflagelat yang memiliki ciri dua bulu cambuk (flagella)