Bab V merupakan bab penutup yang meliputi: kesimpulan dan saran-saran
THALAQ DALAM HUKUM ISLAM”
H. Hikmah Talak
3. Macam-macam Urf (adat) a. Urf ditinjau dari segi tema
Urf ditinjau dari beberapa sudut pandang yang berbeda, adakalanya ‘urf ditinjau dari tema, yang mana urf di bagi menjadi dua bagian yaitu ‘urf lafdzi dan
‘urf amali, dan ada juga ‘urf ditinjau dari ruang lingkupnya yang terbagi dua ‘urf amm dan juga urf khas, selajutnya ‘urf ditinjau dari hukum syara’ atau mentiadakan hukum syara’ terbagi atas ‘urf shahiah dan urf fasid.104
Urf ditinjau dari segi tema terbagi menjadi dua ‘urf lafdzi dan ‘urf maknawi:
1. Urf Lafdhi: Sesuatu yang telah menyebar pada masyarakat dalam pengucapan lafal tertentu yang berbeda dengan logat yang dipakai masyarakat lainnya, dan juga hal ini berlaku berlaku pada suatu daerah bukan daerah yang lainnya.
Seperti pengucapan kata lafad dirham dalam pandangan umum. Penggunaan
103 Abd. Rahman Dahlan, Ushul Fiqh, (Jakarta: Amzah, 2010), h 213.
104 Asmawi, Perbandingan Ushul Fiqh. (Jakarta: Amzah,2011) h 161.
lafadz jamak yang digunakan dalam penyebutan dirham dari kata fidhoh. Dan juga kata al-walad ungkapan bagi anak laki-laki, biasanya kata tersebut digunakan untuk anak laki-laki dan juga perempuan. Begitu juga dengan penggunaan lafad daging yang merupakan maksudnya daging sapi dan juga biri-biri atau domba, bukan termasuk untuk binatang seperti daging ikan.105 2. Urf Amali: Ialah sesuatu yang sudah mentradisi dalam masyarakat yang
dilakukan terus-menerus seperti makan dan juga minum, jual beli dengan cicilan dan harga upah. Dalam satu minggu ada libur satu hari, Ghasab dalam masyarakat, mengantarkan dagangan pada orang yang akan membeli. Hakikat dari adanya pembagian urf tersebut untuk memberi kemudahan dan mencapai suatu maslahah dan menerapkan sikap tegas dalam hubungan yang berkomitmen serta mengambil manfaat dalam suatu perkumpulan dan golongan.106
b. Urf ditinjau dari segi diterima atau tidaknya:
1. Urf yang Sahih (baik)
Adalah sesuatu yang sudah dikenal manusia dan tidak bertentangan dengan syara’, tidak menghilangkan kemaslahatan bagi mereka dan juga tidak pula mendatangkan mudharat kepadanya. Dengan kata lainnya tidak menghalalkan yang haram, dan juga tidak membatalkan yang wajib. Seperti, berlaku jujur dalam melakukan dagang, tidak mencampurkan kualitas yang baik
105 Wahbah az-Zuhaili, Ushul Fiqh al-islami,( Damaskus: Darul Fikr, 20011) h 107
106 Ibid 108
dengan kualitas yang tidak baik, melakukan kontrak dalam kerjasama yang baik.107
2. Urf yang fasid (rusak)
Adalah sesuatu yang telah dikenal oleh manusia tetapi bertentangan dengan dalil yang ada dalam syara’ atau menghalalkan yang diharamkan dan membatalkan yang baik. Juga disebut dengan kebiasaan yang berlaku disuatu tempat meskipun merata pelaksanaannya namun bertentangan dengan agama, undang-undang dan sopan santun.108 Contohnya berjudi untuk merayakan peristiwa yang menyenangkan dan juga kemenangan yang di peroleh. Dengan hal demikian Para Ulama sepakat untuk tidak melestarikan bahkan meniadakan Urf seperti ini dengan tidak menganggapnya sebagai sumber hukum Islam, dan juga tidak memasukkannya kedalam istimbat hukum.109
c. Urf ditinjau dari ruang lingkupnya:
1. Urf al-‘aam
Adalah ‘urf yang berlaku di suatu tempat, masa dan keadaan, yang sudah tersebar luas pada mayoritas negara atau pada mayoritas masyarakat, atas perbedaan zaman dan lingkungan. Seperti contoh akad istisna’ (meminta dibuatkan sesuatu) dalam berbagai kebutuhan seperti pakaian, sepatu-sepatu, alat pembersih dan peralatan lain, menyerahkan sebagian mahar pada masa yang akan datang, mendahulukan memuliankan tamu yang datang dalam makanan dan tempat, dan memakan buah-buahan yang jatuh ke jalan dari pohon yang merambat
107 Rahmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqh, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2001) h 128
108 Syarifudin, Ushul Fiqh Jilid 2 (Jakarta: Logos, 1999) h 368
109 Ibid
ke jalan umum.110 Dan juga ada contoh yang lainnya mengibarkan bendera setengah tiang menandakan duka cita adanya kematian orang yang dianggap terhormat.111
2. Urf al-Khas
Adalah kebiasaan yang bersifat khusus yang hanya dikenal dan tersebar disuatu daerah dan masyarakat tertentu. Adapun pengertian lainnya ‘urf khusus adalah kebiasaan yang hanya dikenal sebagian kelompok dan suku bangsa tertentu112 hanya berlaku untuk satu tempat, masa atau keadaan di tempat itu.113 Adapun contohnya seperti mencicipi buah bagi calon pembeli untuk mengetahui rasanya, melaksanakan halal bi halal yang bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia yang beragama Islam pada setiap selesai menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan, sedangkan di negara-negara Islam lain tidak dibiasakan.114Contoh lainnya bagi orang minangkabau adat menarik garis keturunan ibu atau perempuan (matrilineal) dan melalui suku batak berdasarkan bapak (patrilineal)115 4. Syarat-syarat ‘urf
Urf bukan hukum yang berdiri sendiri, melainkan tergantung dengan dalil shara’ maka ada beberapa shara’ yang harus dipenuhi bagi penggunaan ‘urf tersebut diantaranya:
a. Urf harus benar-benar merupakan suatu kebiasaan masyarakat. Artinya kebiasaan sejumlah orang tertentu dalam masyarakat tidak dapat dikatakan urf.
110 Wabah az-Zuhaili, Ushul Fiqh al-Islami, (Darul Fikir: Gema Insani, 2011), h 108
111 Sapiudin Shidiq, Ushul Fiqih, (Jakarta: Kencana, 2017), h 100
112 Firdaus, Ushul Fiqh h 99
113 Ahmad Sanusi dan Sohari, Ushul Fiqh, (Jakarta: Rajawali Pers, 2017) h 82
114 Ibid 83
115 Sapiudin Shidiq, Ushul Fiqih, (Jakarta: Kencana, 2017), h 100
b. Urf itu harus masih tetap berlaku pada saat hukum yang didasarkan pada ‘urf tersebut ditetapkan.
c. Tidak terjadi kesepakatan untuk tidak melakukan urf oleh pihak-pihak yang terlibat didalamnya.
d. Urf tersebut tidak bertentangan dengan nass atau prinsip-prinsip syari’at.116 Kalau terjadi pertentangan ‘urf dengan dalil syara dalam masyarakat:
1. Pertentangan ‘urf dengan nass yang bersifat khusus atau rinci maka urf tersebut tidak dapat diterima, seperti ‘urf pada masa zaman jahiliyah, menyamakan anak kandung dengan anak adopsi dalam masalah warisan harus ditinggalkan.
2. Urf yang terbentuk belakangan umum dari nass umum yang bertentang dengan
‘urf tersebut, maka ulama sepakat mengatakan bahwa ‘urf seperti ini, baik lafzi maupun amali tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Ketika menetapkan hukum shara seperti kebiasaan bagi anak perawan ketika dinikahkan dengan diamnya, maka sesuai dengan perkembangan zaman tidak dapat diterima lagi karena saat sekarang anak-anak sudah berani mengatakan iya atau tidak terhadap perkataan dari orang tuanya.117