• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V merupakan bab penutup yang meliputi: kesimpulan dan saran-saran

THALAQ DALAM HUKUM ISLAM”

C. Syarat dan Rukun Thalaq

C. Syarat dan Rukun Thalaq

Rukun talak adalah unsur pokok yang harus ada dalam talak dan terwujudn ya talak tergantung ada dan lengkapnya unsur-unsur yang dimaksud. Rukun talak ada empat:32

1.) Suami

31 Dahlan, Fikih Munakahat Cet I, (Yogyakarta: CV BUDI UTAMA, 2015), h 118

32 Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat. Cet II, (Jakarta: Kencana, 2003) h,201

Suami adalah yang memiliki hak talak dan yang berhak menjatuhkan, selain dari suaminya tidak ada yang berhak menjatuhkannya. Karena hal tersebut talak bersifat menghilangkan ikatan perkawinan maka talak tidak mungkin terwujud kecuali setelah nyata adanya akad perkawinan yang sah.

Adapun petunjuk-petunjuk syari’ah tentang gambaran suami yang baik, yaitu: suami hendaknya orang yang mendapat persetujuan seorang istri, mampu menunaikan hak nafkah secara baik, bisa menghormati lawan jenis, suami selalu dalam keadaan baik dan indah dipandang mata, suami juga bisa memenuhi kebutuhan istri, seperti makanan, minuman, pakaian, dan juga rumah kediaman yang layak. Dan suami juga memiliki rasa kasih sayang kepada istri dan sabar ketika ada kekeliruan dalam keluarga.33

Untuk sahnya talak suami yang menjatuhkan talak disyariatkan:

a) Berakal / Mukallaf

Mukallaf yang dimaksud adalah orang yang berakal dan baliqh. Tidak sah talak seorang yang masih kecil, gila, mabuk dan juga tidur, baik yang menggunakan kalimat yang tegas maupun bergantung. Seperti anak kecil “ Jika engkau baliqh isteriku tercerai atau juga seperti kata orang gila “Jika aku sadar maka engkau akan tercerai”. Perceraian ataupun talak tidak akanlah terjadi walaupun anak kecil yang sudah baliqh dan orang gila yang sudah sadar. Talak mereka yang sedang berada dalam keadaan seperti itu tidak pernah diterima, kalaupun talak tersebut diterima maka sama saja halnya membenarkan perlakuan

33 Satria Efendi, Problematika Hukum Islam Kontenporer, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grou, 2010) h 50

mereka.34 Jadi talak yang sah dan diterima adalah talak orang yang berakal, baliqh dan pilihannya sendiri untuk melakukan talak.

َ عِ فَ ر ْ نَ ع َ و َ ظِ قْ يَ تْسَ ي ىَّ تَ ح ِمِ ءاَّ نلا ْ نَ ع ٍ ةَ ثَلَ ث ْ نَ ع ُ مَ لَ ق

ُ هاَ وَ ر( َ لِ قْ عَ ي ىَّ تَ ح ِ هْ وُ تْ عَ م ْ لا ْ نَ عَ و َّ بِ شَ ي ىَّ تَ ح ِ يِبَّصلا )ْيِ ذِ مرِ تل ْ ا

Artinya: terangkat pena dari tiga orang: orang yang tidur hingga bangun, anak kecil sampai bermimpi keluar air sperma (baliqh), dan orang gila sampai berakal. (HR At-Tirmidzi).

Orang yang mabuk juga tidak bisa diterima talaknya karena ia mengetahui bahwa mabuk tersebut salah namun ia masih saja melakukan hal tersebut dengan minum khamar. Maksud dari mabuk ialah pemabuk yang pemulanya mabuk dan ia masih ada akal. Mabuk yang dilakukan dengan sengaja berarti sudah tidak dianggap bahwa iya tidak sengaja, seperti halnya seseorang yang dianggap. Jika seorang pemabuk yang sudah sadar berkata bahwa aku minum khamar karena ia sudah dipaksa untuk melakukannya dan disertai dengan bukti bahwa ia dipaksa dengan diadakan dengan cara meminta sumpah.35

b) Pilihan Sendiri

Adanya kehendak pada diri suami untuk menjatuhkan talak terhadap istri sendiri bukan dari paksaan orang lain. Tidak sah talak seseorang yang dipaksa tanpa adanya dasar yang membenarkan dengan alasan karena sesuai dengan sabda Nabi yang berbunyi: 36

34 Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqih Muanakahat, (Jakarta : Amzah, 2015) h 261

35 Ibid 263

36 Ibid 263

َ عِ فُ ر اَ مَ و ُ ن اَ يْسِ نلاَ وُ ءاَّ طَخلا ْيِ تَّ مُ أ ْ نَ ع

ِ هْ يَ لَ ع اْ وُ هَ رْ كَ تْسا

Artinya: Terangkat dari ummatku kesalahan, lupa, dan dipaksa.

Paksaan adalah ungkapan yang tidak benar, serupa dengan kufur.

2.) Istri.

Masing-masing suami harus hanya berhak untuk mentalak istrinya sendiri.

Tidak dipandang jatuh talaknya jika suami menjatuhkan talak bukan pada istrinya sendiri.

a) Istri itu masih tetap berada dalam perlindungan kekuasaan suami. Istri yang masih menjalani masa iddah talak raj’i dari suaminya oleh hukum Islam dipandang masih dalam perlindungan kekuasaan suami. Karena jika masa iddah talak suami menjatuhkan talak lagi dipandang jatuh talaknya sehingga menambah jumlah talak yang dijatuhkan dan mengurangi hak talak yang dimiliki suami.

b) Kedudukan istri yang ditalak harus sesuai dengan akad perkawinan yang sah.

3.) Shighat talak

Shighat talak adalah kata-kata yang diucapkan oleh suami terhadap istrinya yang menunjukkan talak, baik talak yang jelas (sharih) maupun (sindiran) kinayah, baik berupa ucapan atau lisan, tulisan, isyarat bagi suami tuna wicara ataupun dengan suruhan orang lain.37 Jumhur Ulama juga berpendapat bahwa talak terjadi jika suami yang ingin mentalak istrinya mengucapkan ucapan tertentu yang menyatakan bahwa istrinya itu sudah lepas dari wilayahnya. Jadi jika

37 Rahman Ghazali, Op Cit 201-204

seorang suami yang punya niat untuk mentalak istrinya jika belum ia sampaikan maka talakyna tersebut belum jatuh. Adapun syarat shiqat diantaranya adalah:

a. Penggunaan lafal talak memiliki makna, yakni dapat dimengerti dan dipahami baik secara bahasa, tradisi, tulisan, atau dengan isyarat.

b. Orang yang melafalkan talak harus paham dengan makna yang dilafalkannya, meskipun dengan bahasa asing ia sampaikan. Jadi jika seseorang yang mengatakan talak dengan bahasa asing talaknya jatuh terhadap dirinya.

c. Talak yang diucapkan disandarkan kepada istri secara bahasa, sifat, nama panggilan atau dengan isyarat. Misalnya dengan berkata “istriku tertalak” atau di isyaratkan kepada istri dengan mengucapkan “kamu ditalak’.

d. Jangan sampai istri ragu dengan jumlah talak atau lafal yang disampaikan.38 Dan talak yang diucapkan tersebut tidak boleh keliru, misalnya seorang mengatakan: Anti thaahiru, engkau suci, kseleo dalam mengucapkannya anti thaliqun, engkau tertalak, dalam keadaan seperti ini talknya tidak jatuh.39 4.) Qashdu (sengaja)

Menyatakan bahwa ucapan talak tersebut dimaksudkan oleh yang

mengucapkannya untuk talak, bukan untuk maksud yang lainnya.40 Jadi karena hal itu jika salah ucap yang yang dimaksud untuk talak dipandang tidak jatuh talak.41

Adapun syarat-syarat talak diantaranya:

38 Wahbah az- Zuhaili, al-fiqh al-Islami wa adilatuhu jilid 7 cet III (Bandung: Darul Fikr) h 366

39 Djaman Nur, Fiqh Munakahat, (Semarang : Dina Utama Semarang, 1993), h 143

40 Rahman Gahazali, Fiqih Munakahat (Cet II; Jakarta : Prenada Media Group, 2003) h 205

a. Saksi dalam talak

Mengenai saksi dalam talak, Ulama terbagi menjadi dua golongan. Satu golongan berkata bahwa saksi merupakan syarat sahnya talak dan satu golongannya lagi mengatakan bahwa saksi dalam talak bukan termasuk kedalam syarat sahnya talak. Alasan tersebut berpegang kepada surah At- Thalaq ayat: 2

Artinya: Apabila mereka telah bmendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. (QS. At-Thalaq ayat 2) 42

Ayat diatas menurut sebagian Ulama memahami bahwa saksi merupakan syarat sah dari rujuk dan juga talak. Sebab itu menurut pendapat ini talak tidak sah kecuali dengan adanya dua orang saksi yang adil dan berkumpul saat menjatuhkan talak.43

b. Kondisi suami saat menjatuhkan talak

Ketika suami menjatuhkan talak kepada istrinya suami dituntut sehat akalnya, tidak ada paksaan dari orang lain dan juga tidak dalam keadaan mabu,

42 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an Terjemah h 945

43 Amru Abdul Mu’in Salim, Fiqih Thalaq Berdsarkan Al- Qur’an dan Sunnah, (Jakarta:

Pustaka Azzam, 2005) h 44

tidak marah. Ulama sepakat bahwa syarat sahnya talak suami harus dalam keadaan sadar, sehat akal dan tidak ada paksaan. Menurut ulama Syafi’iyah yang disebutkan dalam Fathul Mu’in apabila seorang suami mabuk karena disengaja, kemudian ia mentalak istrinya maka jatuh talak atas istri. Jika orang sedang mabuk tidak disengaja maka talak tersebut tidak di anggap sebagai talak.44

Mengenai talak tidak boleh dalam keadaan marah Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menyebutkan bahwa talak yang dijatuhkan suami ketika ia marah tidak sah, tidak dianggap jatuh karena talak tersebut bukan maksud dari orang yang menjatuhkan talaknya.45 Wabah az-Zuhaili menyebutkan bahwa marah yang menyebabkan talak suami tidak diakui keabsahannya adalah marah yang yang sampai menyebabkan seseorang tidak sadar dengan ucapannya, apabila marahnya hanya dalam tingkatan yang biasa saja tetap dianggap keabsahannya.

c. Kondisi Istri Saat Terjadi Talak

Sebagian ulama mensyaratkan bahwa saat suami mengucapkan talak selain ia harus memperhatikan kondisinya ia juga harus memperhatikan kondisi istrinya saat mentalaknya. Karena hal itu suami yang mentalak istriya maka harus menunggu istrinya dalam keadaan suci dan belum digauli.46

D. Macam-macam Thalaq

Dalam hukum Islam macam-macam talak juga diatur diantaranya ada bebera:

1. Pembagian Talak dari segi waktu penjatuhannya:

44 Zainudin bin Abdul Aziz Al- Malibari, Fathul Mu’in, (Al- Harmain : ) h 112

45 Sayyid Sabbiq, Fiqih SunnahJilid 3, (Alih bahas: PT Tinta Abadi Gemilang, Cet I 2013) h 536

46 Sajuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, (Jakarta: UI Press, 1986) h 103

1) Talak Sunnah

Adalah yang dilakukan sesuai dengan ketentuan syari’at Islam, talak yang mana seorang suami boleh rujuk kembali kepada bekas istrinya dengan tidak

Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, Maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Maksudnya, talak yang sesuai dengan ajaran syari’at Islam adalah dengan cara menjatuhkannya satu kali talak, kemudian dilanjutkan dengan rujuk satu algi.

Setelah itu jika seorang suami yang ingin menceraikan isterinya setelah rujuk yang kedua, maka seorang suami bisa memilih untuk terus mempertahankan istrinya dengan baik atau bisa juga melepaskannya dengan cara yang baik.

Dan juga terdapat dalam surat At Thalak ayat: 1



47 Rifa’i, Fiqih Islam Lengkap, (Semarang: PT Karya Toha Putra Raja Semarang, 2014) h 456

Artinya: “ Hai nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu menceraikannya mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya ( yang wajar). “48

Sesuai dengan ayat yang diatas bahwa jika ingin menceraikan seorang isteri maka waktu untuk menceraikannya adalah menjelang masa iddah dan juga boleh diceraikan pada masa setelah ia suci dari haid, nifas atau belum disetubuhi. Hal tersebut bertujuan agar ia bisa menyambut masa iddah, setelah dari haid masa iddahnya lebih lama, disebabkan karena sisa masa haid tidak dapat dihitung sebagai masa iddah. Jika seorang isteri ditalak pada saat suci dari haidnya, tetapi disetubuhi pada saat suci tersebut maka, saat seorang isteri dalam keadaan seperti itu tidak dapat diketahui bahwa ia sedang hamil atau tidak. Karena cara menghitung iddah dapat diketahui apakah dia boleh menjalani iddah setelah bersih dari haid atau setelah ia melahirkan anak.

Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar ra. Bahwa Abdullah bin Umar menalak istrinya ketika isterinya sedang haid semasa hidup Rasulullah Saw. Umar kemudian menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw, Rasulullah menjawab,

‘Perintahkan kepadanya agar ia merujuk kembali, kemudian dia mesti tetap mempertahankan isterinya hingga tiba masa sucinya, kemudian dia haid dan sici lagi. Setelah itu ia boleh mempertahankan isterinya atau menceraikan isterinya dengan mentalaknya, tapui belum disetubuhi. Secara zahirnya bahwa talak yang dilakukan pada masa suci setelah haid yang pada saat itu talak dijatuhkan, maka itu dianggap sebagai talak sunnah (talak yang dilakukan sesuai dengan ajaran Rasulullah saw). Pendapat Abu Hnaifah yang melarang tentang menjatuhkan talak

48 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan. h 445

ketika isteri sedang haid. Jadi kesimpulannya adalah talak yang jika seorang perempuan telah suci dari haidnya berarti larangan tersebut sudah tidak berlaku baginya, karena talak pada saat perempuan dalam keadaan suci, maka itu dibolehkan.49

Dikatakan talak Sunni jika memenuhi empat syarat diantaranya:

a) Istri yang ditalak sudah pernah digauli. Bila talak yang dijatuhkan terhadap istri yang belum pernah digauli, tidak termasuk talak sunni

b) Istri dapat segera untuk melakukan iddah suci setelah ditalak yaitu dalam keadaan suci dari haid. Menurut ulama Syafi’iyah, perhitungan iddah bagi wanita yang berhaid ialah tiga kali suci, bukan tiga kali haid.

c) Suami tidak pernah menggauli istri selama masa suci dimana talak yang dijatuhkan. Talak yang dijatuhkan oleh suami ketika isteri dalam keadaan suci haidh tetapi pernah digauli, tidak termasuk kedalam talak sunni.

d) Suami tidak pernah menggauli selama masa suci dimana talak itu dijatuhkan.

Talak yang dijatuhkan oleh suami ketika istri dalam keadaan suci dari haid pernah digauli, tidak termasuk talak sunni.

e) Menalak istri harus bertahap (dimulai dengan talak satu, dua dan tiga) dan diselingi dengan rujuk.50

2) Talak Bid’ah

Talah Bid’ah adalah talak yang tidak sesuai dengan ketentuan Syari’at Islam51 seperti seseorang suami yang mentalak isteri sebanyak tiga kali talak dengan satu kali ucapan talak, atau menalak tiga kali secara terpisah-pisah

49 Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah, Op Cit h 48

50 Tp, Ensiklopedia Hukum Islam, (Cet. IV: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2003), 1783

51 ABD. Rahman Ghazaly, Fiqih Munakahat cet II (Jakarta: Kencana, 2003) h 194

”Engkau ditalak, engkau ditalak, engkau ditalak”, atau seorang suami menalak isterinya saat isterinya sedang dalam keadaan haid, sedang nifas atau ketika sedang suci tapi sudah disetubuhi pada masa suci tersebut.52 Bentuk talak bid’i diantaranya:

a) Apabila seorang suami menceraikan istrinya ketika sedang haid atau sedang dalam keadaan nifas.

b) Ketika dalam keadaan suci sedang ia telah menyetubuhinya pada masa suci tersebut, padahal kehamilan masih belum jelas.

c) Seorang suami yang mentalak tiga istrinya dengan tiga kalimat dalam satu waktu (mentalak tiga sekaligus). Seperti dengan mengatakan “ia telah aku talak, lalu aku talak dan selanjutnya aku talak.53

2. Talak ditinjau dari segi pengucapannya sebagai berikut:

1) Talak Sharih

Talak sharih yaitu, talak yang dilakukan oleh suami kepada istrinya dengan menggunakan ucapan yang tegas dan jelas. Seorang suami yang telah mengucapkan talak dengan sengaja walapun hatinya tidak ada niat untuk melakukan talak yang sebenarnya kepada istrinya, maka talak jatuhlah talak tersebut.

2) Talak Kinayah

Talak Kinayah adalah talak yang disampaikan dengan cara melafazkan yang maknanya untuk menyampaikan talak dan sejenisnya. Misalnya perkataan suami “saya melepaskan kamu, kamu saya lepaskan atau saya meninggalkan

52 Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqih Munakahat. (Jakarta: Amzah, 2005) h 195

53 Syaikh Khamil Muhammad ‘uwaidah, Fiqih wanita edisi lengkap, (Cet 1: Jakarta Pustaka Al-Kautsar, 1998) h 439

kamu atau kamu saya tinggalkan atau kamu pulang saja kerumah orang tuamu”.

Apabila lafal-lafal keluar dari mulut seorang suami disertai dengan niat talak maka jatuhlah talak bagi sang istri. Jika talak tidak disertai dengan niat maka talaknya tidak jatuh.54

Talak yang diungkapkan dengan terus terang dianggap sah tanpa disertai dengan niat. Jika ada seeorang yang mengatakan bahwa ia tidak bermaksud untuk mentalak istrinya dan ia berkata ”Saya sebenarnya tidak ingin menceraikan, tapi saya ingin ada makna lain dari yang saya keluarkan ini, maka dengan pengakuan yang seperti ini talaknya tetap sah. Jika seseorang mengatakan kata sindiran, namun bermakna untuk makna yang lain, kemudian ia berkata “Saya sebenarnya tidak ingin mengatakan talak namun yang saya ingin adalah untuk makna yang lain” maka pengakuan yang seperti ini bisa diterima dan talaknya tetap dianggap sah. Namun jika seseorang yang mengatakan kalimat sindiran yang dapat diartikan sebagai talak dan juga bisa diartikan sebagai makna yang lainnya.

Namun, maksudnya bukan untuk mengatakan talak” maka pengakuannya dapat dibenarkan dan talaknya dapat untuk ditarik, karna kalimat sindiran bisa diartikan dengan talak dan juga makna yang lain. Jadi yang dapat menentukan makna dari kalimat yang diucapkan dengan sindiran tergantung dengan niat untuk apa tujuan kalimat tersebut.

Adapun pendapat yang dikeluarkan imam Malik dan Imam Syafi’i sebagai dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan yang lain dari Aisyah ra, ‘Sesungguhnya putri al-Jaun itu, ketika dia dimasukkan ke rumah

54 Kamal As-Sayyid Salim, Fiqhus Sunnah Lin Nisa cet I. (Jakarta: Tiga Pilar, 2007) h 629

Rasulullah saw, dan beliau menghampirinya, tiba-tiba putri Al-Jaun berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu”. Maka Rasulullah saw, berkata, ‘Engakau berlindung dengan menyebut55

3. Adapun pembagian talak berdasarkan segi bekas suami atas sitri:

1) Talak Raj’ i

Talak Raj’i adalah talak satu atau talak dua yang dijatuhkan suami pada istri yang sudah digauli tanpa adanya ganti rugi. Dengan kondisi seperti ini suami berhak untuk rujuk dengan istrinya tanpa adanya akad dan mahar yang baru selama rujuk itu dilakukan dalam masa iddah. Adapun akibat dari talak Raj’i menurut Ulama fiqih diantaranya:

a) Membuat bilangan talak menjadi berkurang

b) Perkawinan berakhir setelah masa iddah habis jika suami tidak rujuk lagi c) Suami dibolehkan merujuk istri selagi dalam masa iddah istri baik disetujui

istri ataupun tidak, Karena rujuknya tersebut tidak memerlukan persetijuan dari istri

d) Perempuan tersebut berhak mendapakan nafkah dari suaminya selama masa iddah

e) Anak yang lahir dalam masa iddah tetap bernasab kepada suami yang menalaknya

f) Pendapat Ulama Syafi’i dan Maliki mengatakan haram bagi suami untuk melakukan hubungan suami istri dalam masa iddah sebelum rujuk, karena dari pendapat mereka tersebut sudah terjadi talak dengan ucapan talak tersebut

55 Ibid 263

sudah memutuskan hubungan perkawinan. Yang awaknya hubungan pernikahan halal dengan adanya ucapan talak dari suami membuat hubungan tersebut menjadi haram setelah akad nikahnya putus.56

2) Talak Ba’in

Talak Ba’in merupakan talak yang dijatuh oleh suami terhadap istri untuk yang ketiga kalinya, sama dengan talak yang dijatuhkan suami kepada istrinya sebelum ada persetubuhan antara suami istri, atau juga bisa disebut dengan talak yang membayar tebusan yang diserahkan oleh istrinya kepada suami. Adapun dalam Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusd berkata, Ulama sepakat bahwa talak ba’in hanya dilakukan terhadap istri yang ditalak sebelum di setubuhi, dan talak untuk yang ketiga dan talak dengan membayar tebusan yang diserahkan istri kepada suaminya atas khulu’ yang diajukannya. Namun dalam permasalahan khuluk mereka berbeda pendapat antara khulu’ dan fasakh. Selain dari itu semua Ulama sepakat bahwa jumlah talak yang membolehkan talak Ba’in adalah sebanyak tiga kali talak yang diucapkan oleh suami yang tidak dalam tekanan dan tempat yang berbeda antara satu ucapan talak dfengan ucapan talak yang selanjutnya.57

Para Ulama berbeda pendapat tentang talak tiga yang diucapkan dalam satu kali ucapan, tidak diucapkan pada tempat dan juga waktu yang berbeda antara talak satu dengan talak yang selanjutnya. Ibnu Hazm juga berpendapat bahwa

“Talak ba’in merupakan talak pada kali yang ketiganya atau talak yang dilakukan kepada istri sebelum ada persetubuhan.”58

Talak Ba’in terbagi dua diantaranya:

56 Ensiklopedia Hukum Islam , Cet IV: PT Ichtiar Baru , 2003) h 1789

57 Moh Rifa’i, Fiqih Islam Lengkap, Semarang: PT Toha Putra Semarang,2014) h 456

58 Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah, Jilid III (Jakarta : Kencana , 2005) h 51

a) Talak ba’in shuqra,

Yaitu memutuskan ikatan perkawinan antara pasangan suami istri secara langsung dengan mengucapkan talak. Dengan mengucapkan talak tersebut mengakibatkan putusnya ikatan perkawinan, dengan demikian istri yang di talak menjadi orang lain bagi suaminya, karena dengan ucapan talak yang di ucapkan suaminya memutuskan ikatan pernikahan. Suami tidak boleh damenyetubuhi dan juga mewarisi, seandainya jika ada yang meninggal dunia sebelum atau sesudah masa iddah berakhir. Dan istri berhak menerima dari sisa pembayaran mahar yang belum diterima, sisa mahar yang belum dibayarkan suami kepada istri bisa diberikan kepada istri kapan saja selama suami belum meninggal dunia dan belum menalaknya.

Seandainya suami telah merujuknya kembali, maka dia hanya memiliki sisa talak yang belum dijatuhkan kepada mantan istri, Jika suami sebelum itu menalak istri sebanyak satu kali, amak dia masih memiliki dua kali talak setelah merujuk istrinya, namun jika suami telak menalak istrinya dua kali talak maka dia hanya memiliki satu kali talak.59

Talak yang berakibat hilangnya hak bekas suami untuk merujuki bekas istrinya baik dalam masa iddah, kecuali dengan akad nikah dan mahar baru.

Adapun yang termasuk kedalam talak ba’in shugra adalah talak yang dijatuhkan oleh seorang suami terhadap istri yang diantaranya belum pernah ada dukhul (setubuh). Sebagai mana yang terdapat dalam Al-Quran Surah Al- Ahzab ayat: 49

59 Ibid 53

ٱ ُ مُ تۡحَكَ ن اَ ذِإ ْآ وُ نَ ماَ ء َ نيِ ذ َّ لٱ اَ هُّ يَ أٓ ي َٰ َ

perempuan-perempuan mukmin, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka tidak ada masa iddah atas mereka yang perlu kamu perhitungkan. Namun berilah mereka Mut’ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya.60

b) Talak Ba’in Kubra

Yaitu talak yang mengakibatkan hilangnya hak rujuk kepada bekas istri walaupun kedua bekas suami istri itu ingin melakukannya, baik di waktu ‘iddah atau yang sesudahnya. Adapun yang termasuk talak ba’in kubra adalah talak yang ketiga dari talak–talak yang telah dijatuhkan oleh suami kepada istri.61

Jadi suami tidak bisa merujuk isrtrinya jika bekas istri belum menikah dengan laki-laki laindan pernah melakukan hubungan intim dengan suami barunya tersebut. Pernikahan yang dilakukan juga tidak disertai dengan niat untuk

Artinya Kemudian jika si suami menalaknya sesudah talak yang kedua, maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain.”(Al- Baqarah: 230)63

Jadi kesimpulannya jika seorang suami yang sudah menalak tiga istrinya, maka istrinya tidak boleh dinikahi lagi oleh suami pertama sebelum mantan istrinya menikah dengan orang lain, dan setelah itu bercera. Berdasarkan pada sabda Rasulullah saw. Yang disampaikan kepada istri Rifa’ah yang berbunyi:”

Jadi kesimpulannya jika seorang suami yang sudah menalak tiga istrinya, maka istrinya tidak boleh dinikahi lagi oleh suami pertama sebelum mantan istrinya menikah dengan orang lain, dan setelah itu bercera. Berdasarkan pada sabda Rasulullah saw. Yang disampaikan kepada istri Rifa’ah yang berbunyi:”