BAB 4 SISTEM PRODUKSI PT. KATSUSHIRO INDONESIA
4.2 Second Process
4.2.3 Machining
Machining atau proses permesinan merupakan bagian proses yang
dilakukan setelah dilakukan proses cutting , chamfering, dan bending atau dilakukan sebelum proses welding. Machining dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Pre machining yaitu proses permesinan yang dilakukan setelah proses cutting dan sebelum dilakukannya welding
2. Assy machining yaitu proses permesinan yang dilakukan sebelum barang semifinsih masuk bagian finishing (shot blasting/painting) Perbedaan ini menyebabkan beberapa perbedaan perlakuan pada barang dan jenis permesinan.
1. Pre Machining
Beberapa kategori komponen yang masuk kedalam pre machining antara lain :
1. Proses permesinan yang dilakukan sebagian besar dalam hal pembuatan lubang (boring)
2. Barang semifinish belum mengalami proses pengelasan
3. Barang semifinish hanya mengalami proses sederhana sebelum pengiriman (hanya mengalami proses pemotongan dan second
process)
Pada bagian ini terdapat 8 mesin dengan jenis yang sama, namun memiliki ukuran jarak pergerakan spindel yang berbeda-beda. Beberapa jarak pergerakan spindel itu antara lain :
a. Mesin dengan jarak pergerakan spindel 750 mm (1 mesin) b. Mesin dengan jarak pergerakan spindel 1250 mm (1 mesin) c. Mesin dengan jarak pergerakan spindel 1600 mm (6 mesin)
BAB. IV SISTEM PRODUKSI PT. KATSUSHIRO INDONESIA
Gambar 4.13 Mesin Radial Vertikal
Kedelapan mesin tersebut merupakan mesin manual yang termasuk jenis radial drilling dengan arah pemotongan vertikal. Mesin ini digunakan untuk proses drilling (pembuatan lubang),
tapping (pembuatan ulir), dan spot patching (pembuatan lubang
untuk kepala baut). Diameter yang dapat dibor berkisar antara 2.6 mm – 70 mm. Proses permesinan yang dilakukan pada bagian ini biasanya memiliki
toleransi ketelitian pemotongan maksimal 0.5 mm. Langkah kerja dengan menggunakan mesin ini :
1. Setelah menerima barang semifinish maka dilihat pada gambar teknik perlakuan permesinan apa yang harus dilakukan
2. Menghidupkan mesin
3. Mengecek barang semifinish dan melihat bentuknya, mencari
template yang sesuai untuk alat bantu.
4. Memasang barang semifinish yang akan diproses dan dilakukan penumpukan untuk barang yang dapat ditumpuk. Banyaknyan penumpukan disesuaikan dengan ketebalan material dan kedalaman mata bor dalam memotong.
5. Melakukan proses pengeboran dengan menggerakkan handle untuk menggerakkan mata bor. Selama pengeboran dibantu
BAB. IV SISTEM PRODUKSI PT. KATSUSHIRO INDONESIA
dengan cairan pendingin berupa oli sintetik agar hasil pengeboran tidak rusak karena panas yang dihasilkan.
6. Setelah selesai melakukan pemotongan maka dilakukan sample
check untuk melihat hasil pemotongan apakah sesuai dengan
gambar dan mengunakan alat bantu ukur berupa caliper atau
special gauge.
7. Setelah dilakukan pemotongan maka dapat dilakukan finishing untuk memperhalus permukaan. Finishing yang dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan bor lagi untuk membuang sisa pemotongan akibat pengeboran. Selain dengan menggunakan bor juga dapat menggunakan chamfer manual untuk membersihkan sisa pemotongan ini.
2. Assy Machining
Kategori barang semifinish yang mengelami proses assy machining adalah komponen yang akan mengalami proses finishing dan telah melalui proses welding. Pada bagian ini proses permesinan yang dilakukan antara lain membubut, mengebor, tapping, dan milling. Pada bagian assy machining juga terdapat satu bagian khusus untuk melakukan proses produksi mulai dari perataan pelat (dengan
bending ), chamfering, boring, dan tapping. Bagian ini dibuat untuk
menangani pembuatan produk dari konsumen OMRON yang melakukan pemesanan khusus dan dalam jumlah yang konstan.
Mesin yang terdapat pada bagian assy machining dapat dibagi berdasarkan cara kerjanya, yaitu :
1 Mesin konvensional yang tidak memiliki program komputer untuk melakukan setting dan pengaturan melainkan secara manual. Dalam 1 mesin dapat melakukan beberapa proses permesinan antara lain milling, drilling, boring, tapping dan bubut). Jumlah mesin jenis ini ada sebanyak 3 buah dengan 2 mesin memiliki arah gerak pemotongan vertikal dan 1 mesin
BAB. IV SISTEM PRODUKSI PT. KATSUSHIRO INDONESIA
memiliki arah gerak potong horizontal. Langkah kerja dengan menggunakan mesin manual antara lain :
1. Setelah menerima barang semifinish maka dilihat pada gambar teknik perlakuan permesinan apa yang harus dilakukan
2. Menghidupkan mesin
3. Mengecek barang semifinish dan melihat bentuknya, mencari template yang sesuai untuk alat bantu.
4. Melakukan setting mesin dan memasang mata bor sesuai dengan kebutuhan lalu mensetting posisi barang semifinish 5. Melakukan proses permesinan dengan menggerakkan
handle Selama proses dibantu dengan cairan pendingin
berupa oli sintetik agar hasil tidak rusak karena panas yang dihasilkan.
6. Setelah selesai melakukan pemotongan maka dilakukan
sample check untuk melihat hasil pemotongan apakah
sesuai dengan gambar dan mengunakan alat bantu ukur berupa bor gauge, calliper atau special gauge.
7. Setelah dilakukan pemotongan maka dapat dilakukan
finishing untuk memperhalus permukaan. Finishing yang
dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan gerinda halus dan menggunakan reamer untuk memperhalus lubang.
2 Mesin CNC yang menggunakan komputer untuk menjalankan proses permesinan. Mesin ini terbagi lagi menjadi :
a. Mesin lathe atau mesin bubut. Mesin ini mempunyai kapasitas maksimal membubut dengan diameter 300 mm dan panjang benda kerja 250 mm. Mesin bubut ini memiliki arah pemotongan vertikal dan horizontal yang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan pemotongan.
BAB. IV SISTEM PRODUKSI PT. KATSUSHIRO INDONESIA
b. Mesin milling centre yang memiliki kemampuan untuk melakukan proses milling, drilling, boring, dan tapping. Terdapat 6 jenis mesin milling seperti ini dengan 1 mesin merupakan mesin milling multi centre dimana arah gerak pemotongan dapat berupa horizontal dan vertikal.
Gambar 4.14 Mesin Multi Centre
4.2.4. Perawatan Mesin
Pemeliharaan pada bagian second process secara berkala dilakukan oleh bagian maintenance terutama untuk mesin-mesin otomatis dan robot. Pemeliharaan dilakukan oleh maintenance dikarenakan operator belum mengetahui bagaimana melakukan pemeliharaan secara mendalam, melainkan hanya mengetahui bagaimana mengoperasikan mesin. Oleh karena itu pemeliharaan yang biasanya dilakukan operator adalah menjaga kebersihan mesin dan daerah kerja.
4.2.5. Permasalahan
Permasalahan yang biasa terjadi antara lain masalah kelistrikan yang menyebabkan mesin tidak beroperasi, selain itu untuk mesin robot chamfering kerusakan yang terjadi antara lain CPU rusak sehingga tidak dapat menginput data, atau bearing yang
BAB. IV SISTEM PRODUKSI PT. KATSUSHIRO INDONESIA
terdapat pada rel pecah, sehingga robot tidak dapat berjalan pada rel. Perbaikan untuk CPU yang rusak bisa diselesaikan dengan membaca instruksi pada manual book sedangkan penggantian
bearing dikerjakan oleh bagian maintenance. Kerusakan yang
biasa terjadi pada mesin manual chamfering antara lain soket putus atau sekering putus sehingga mesin tidak dapat beroperasi. Perbaikannya dapat dilakukan oleh leader dari bagian ini sendiri dengan cara melakukan solder. Sedangkan untuk mesin CNC pada bagian machining kerusakan yang terjadi antara lain terjadi kerusakan pada program sehingga program perlu dibuat ulang. Bila ternyata terjadi kerusakan didalam mesinnya maka perlu memanggil teknisi dari luar.
Selain permasalahan kerusakan pada mesin pada bagian ini juga pernah terjadi kecelakaaan karena kelalain operator pada saat melakukan material handling, sehingga operator kejatuhan benda
semifinish