Dalam proses reproduksi, payudara, mamma (didalamnya ada kelenjar susu, glandula mammae) berperan sebagai kelenjar asesori sekunder yang tidak ikut dalam proses fertilisasi, implantasi dan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Glandula mammae berperan sangat penting untuk produksi air susu, nutrisi terpenting bagi bayi baru lahir dan bulan bulan pertama kehidupannya. Mamma ikut tumbuh dan berkembang dan sebagian menjadi penanda proses bertambah matangnya perempuan. Pertumbuhan dan perkembangan mamma yang pesat saat pubertas (Telarche) malah dianggap sebagai tanda bahwa seorang gadis mulai akil balig, yang juga bersamaan dengan datangnya menarche, menstruasi yang pertama. Untuk sebagian kelompok masyarakat tertentu, mamma dipakai sebagai simbol sex-appeal yang mempunyai daya tarik terhadap lawan jenis yang merupakan awal dari peristiwa kopulasi yang, bila saatnya sudah tepat, akan membuahkan kehamilan. Disamping fungsi utama sekresi nutrisi utama bagi bayi serta peran estetika, maka glandula mammae pada masa laktasi, dengan persyaratan tertentu, juga dapat memberikan efek kontrasepsi alami
ANATOMI MAMMA
Mamma (dan glandula mammae) pertumbuhannya sudah dimulai saat kehidupan embrio. Pada saat embrio sudah terbentuk putik primer (primary bud) dibagian ventrolateral antara tonjolan ektremitas depan dan belakang yang dalam perkembangan selanjutnya akan menghilang dan hanya tersisa sepasang didaerah dada. Pada saat umur pertengahan kehamilan putik primer tersebut akan berkembang menjadi 15 – 25 putik sekunder (secondary bud) yang nantinya akan menjadi cikal bakal sistem saluran kelenjar glandula mammae di kemudian hari. Tiap putik sekunder akan tumbuh memanjang dan bercabang cabang dan mengalami difrensiasi menjadi lapisan sel – sel kubis yang konsentris dan membentuk lumen sentral. Lapisan yang lebih dalam akan berkembang menjadi epitil sekretoris yang akan memproduksi susu dan lapisan sel yang diluar akan membentuk mioepitil yang berguna untuk kontraksi mengeluarkan air susu ke sistem saluran sir susu. Glandula mammae yang matang terdiri atas 15 – 25 lobus yang berkembang dari pertumbuhan secondary buds. Lobus lobus itu tersusun radier dan dipisahkan satu sama lain oleh jaringan lemak. Tiap lobus terdiri dari banyak lobulus yang selanjutnya akan membentuk alveoli. Produksi susu oleh epitil sekretoris di alveoli akan dikumpulkan dalam duktulus dan selanjutnya mengumpul pada saluran yang lebih besar dan masuk mengumpul di sinus laktiferus yang selanjutnya akan keluar melalui duktus laktiferus yang bermuara di puting susu. Masing masing lobus mempunyai duktulus, duktus dan sinus laktiferus sendiri sendiri. Orientasi lokasi payudara setelah wanita dewasa adalah di sebelah lateral linea mediana diantara kosta II dan VI dan melebar kesamping dari pinggir sternum sampai linea aksilaris medialis. Glandula mamma berada dijaringan
subkutan menutupi otot pektoralis mayor dan sebagian otot serratus anterior dan otot oblikus eksterna. Pada puncak payudara ada bagian yang menonjol dengan warna lebih gelap yaitu puting susu (mammilia) dan kalang susu (areola mammae) yang berisi 20–24 kelenjar Montgomery yang bermuara di kalang susu tersebut untuk kepentingan lubrikasi. Bentuk dan ukuran mamma bervariasi tergantung saat pertumbuhannya seperti misalnya, masa sebelum pubertas, pubertas, adolesen, dewasa, saat menyusui dan pada ibu multipara. Mamma akan berkembang menjadi besar saat hamil dan masa laktasi dan akan mengecil dan kisut menjelang masa menopause. Faktor yang berperan untuk memperbesar ukuran mamma adalah hipertropi pembuluh darah, sel mioepitil, jaringan ikat dan deposit lemak serta retensi cairan dan elektrolit. Saat kehamilan, aliran darah ke mamma dua kali lebih banyak dibandingkan sebelum kehamilan.
PEMBENTUKAN AIR SUSU
Glandula mammae juga dapat dianggap sebagai “cermin” kinerja organ endokrin sebab pada saat laktasi kelenjar ini sangat dipengaruhi oleh hasil interaksi kerja beberapa hormon. Hubungan yang baik poros hipothalamus dan hipofise merupakan persyaratan yang penting. Sebelum dapat berfungsi untuk menghasilkan air susu maka mamma sesungguhnya tumbuh dan berkembang dalam tiga tahapan .
• Tahap mammogenesis : tahap pertumbuhan dan perkembangan mamma. Sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, prolaktin, growth hormone, glukokortikoid dan epithelial growth factor.
• Tahap laktogenesis : awal terbentuknya air susu ibu. Hal ini sangat dipengaruhi oleh hormon prolaktin, menurunnya kadar estrogen dan progesteron serta hPL (human placental lactogen), serta peran glukokortikoid dan insulin.
• Tahap galaktopoesis : tahap mempertahankan produksi air susu tetap ada.yang dipengaruhi oleh : turunnya hormon gonad, isapan puting susu saat menyusui, disamping juga peran growth hormone, glukokortikoid, insulin dan hormon thiroksin dan hormon parathiroid.
Estrogen berperan pada pertumbuhan duktus dan duktulus serta pembentukan alveoli sedangkan progesteron dibutuhkan untuk pematangan secara optimal epitil sekresi alveoli. Perkembangan difrensiasi sel kelenjar menjadi bagian sekresi dan bagian mioepitel ada dibawah pengaruh hormon prolaktin, growth hormone, insulin, kortisol dan epithelial growth factor. Meskipun sel sekretoris alveoli aktif membentuk lemak susu dan protein akan tetapi hanya sedikit saja yang masuk ke lumen duktus. Prolaktin merupakan hormon terpenting untuk inisiasi produksi air susu tetapi tetap membutuhkan suasana rendah estrogen. Estrogen dan progesteron plasenta memblok pengaruh prolaktin terhadap fungsi sekresi epitel kelenjar susu. Itulah sebabnya laktasi belum bisa dimulai kecuali sudah adanya penurunan plasma estrogen, progesteron dan hPL segera setelah persalinan.
Untuk mempertahankan produksi air susu dibutuhkan mekanisme pengisapan puting susu dan proses pengosongan saluran dan alveoli kelenjar susu..
Growth hormone, kortisol, tiroksin serta insulin menyebabkan hal itu mudah terjadi. Prolaktin dibutuhkan saat galaktopoesis akan tetapi bila ibu itu tidak menyusui maka konsentrasinya akan menurun sampai mencapai konsentrasi seperti wanita tidak hamil dalam tiga minggu. pasca kelahiran . Oleh karena itu dengan terus menerus melakukan
menyusui akan merangsang keluarnya perolaktin (prolactin reflex) yang mungkin melakukan inhibisi terhadap dopamine yang diduga sebagai hipothalamic prolactin inhibiting factor (PIF).
Kecupan bayi terhadap puting susu juga akan menimbulkan refleks pelepasan oksitosin yang akan menyebabkan kontraksi uterus dan juga kontraksi sel mioepitil yang terdapat disekitar alveoli dan duktuli sehingga air susu akan muncrat ke luar (let down reflex/milk ejection reflex).
PROSES MENYUSUI DAN RAWAT GABUNG
Untuk kepentingan kesehatan reproduksi maka proses menyusui (laktasi) bayi oleh ibu yang baru melahirkan sangat dianjurkan. Manajemen rawat gabung telah menjadi persyaratan bagi rumah sakit sayang ibu. Hanya dengan menyusui bayi maka prolactin reflex dan milk ejection reflex akan tetap terjaga dan akan menunjang suksesnya masa laktasi. Sebaliknya bayi yang sehat untuk proses menyusuinya telah mempunyai tiga refleks intrinsic yang diperlukan untuk berhasilnya menyusui yaitu : refleks mencari (rooting reflex), refleks mengisap (sucking reflex) dan refleks menelan (swallowing reflex). Ada banyak keuntungan yang didapatkan oleh ibu dan bayi serta rumah sakit yang melaksanakannya. Prinsip rawat gabung adalah pemahaman dan pelaksanaan tentang hal hal sebagai berikut :
Bila tak ada kontra indikasi maka sesegera mungkin ibu menyusui bayi yang baru dilahirkan.
Menyusui tanpa jadwal tertentu tetapi sesuai dengan kebutuhan bayi, makin sering dan makin lama menyusui makin baik
Membersihkan dan merawat payudara dan menyusukan bergantian kanan dan kiri Tidak memakai susu pengganti / susu botol
Melakukannya terus menerus secara eksklusif selama empat bulan
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan let down / milk ejection reflex adalah dengan : ibu melihat bayi, ibu mendengarkan suara bayi, ibu mendekap dan mencium bayi serta ibu memikirkan untuk menyusui bayi.
Sebaliknya ada faktor-faktor yang dapat menghambatnya adalah : ibu yang kacau pikiran, takut atau cemas yang berlebihan.
PENGGUNAAN OBAT SAAT LAKTASI
Sebagian besar obat yang diberikan pada ibu akan masuk ke air susu ibu. Banyak factor yang mempengaruhi ekskresinya antara lain : konsentrasinya dalam plasma, derajat ikatan protein, derajat keasamanplasma, ionisasi, kelarutan lipid dan berat molekul. Secara umum jumlah konsentrasi obat yang masuk ke air susu dan diminum bayi sangat sedikit dan efeknya diabaikan. Akan tetapi ada juga golongan obat obat yang di kontra-indikasikan untuk diminum ibu yang sedang laktasi yaitu : bromokriptin, kokain, siklofospamid, siklosporin, doksorubisin, lithium, methotreksat, pensiklidin, fenindion dan yodium radioaktif.
Oleh karena itu setiap memberikan obat kepada ibu yang sedang laktasi harus dipertimbangkan dengan sangat cermat antara keperlua, keuntungan serta dampak buruknya.
KEUNTUNGAN LAKTASI BAGI IBU DAN BAYI
Disamping sangat ekonomis maka peristiwa menyusui mempunyai keuntungan : • Meningkatkan kontraksi uterus sehingga mempercepat involusi uterus • Meningkatkan jumlah produksi air susu
• Meningkatkan hubungan emosional ibu anak secara lebih sempurna • Secara epidemiologis, ibu menyusui lebih terlindung dari kanker payudara
• Bila dilakukan secara eksklusif selama empat bulan, akan dapat berfungsi sebagai kontrasepsi alamiah.
Sejauh ini tidak dijumpai kerugian menyusui bagi ibu, Cuma diberikan kontra indikasi menyusui untuk ibu yang :
• Mempunyai TBC infeksius • Mastitis yang berat
• Menderita HIV / AIDS • Kanker payudara
• Keadaan umum / gizi yang sangat buruk
• Menderita cytomegalo virus dan hepatitis B, kecuali sudah mendapatkan iminisasi untuk kedua hal tersebut.
• Mengalami psikosis berat
Keuntungan laktasi bagi bayi adalah jelas berupa :
Mendapatkan makanan dengan komponen nutrisi terbaik
Mendapatkan kekebalan pasif non spesifik (berupa : faktor pertumbuhan laktobasilus bifidus, laktoferin, lisozim dan laktoperoksidase) dan kekebalan non spesifik (berupa : sistem komplemen, sitem seluler dan immunoglobulin) dari ibu.
Siap pakai dengan tempratur yang sesuai dan tidak repot. Secara emosional lebih menguntungkan bayi
Secara epidemiologis merangsang lebih aktif sistem kekebalan aktif bayi yang sedang tumbuh.
Kontra indikasi bayi untuk rawat gabung bila :
Lahir asfiksia berat sehingga perlu perawatan intensif
Ada kelainan bawaan daerah mulut yang tak mungkin melakukan laktasi Bayi kejang atau kesadarannya menurun
Bayi dengan kelainan jantung dan paru
Segera melakukan rawat gabung untuk ibu dan anak merupakan kebijakan nasional yang harus dilakukan pada setiap rumah sakit / tempat bersalin yang menyatakan dirinya : sayang bayi. Oleh karena sudah diketahui manfaatnya untuk ibu dan bayinya rawat gabung dapat dilakukan secara temporer maupun kontinyu dan diatur dengan berbagai model sesuai fasilitas yang dipunyai masing masing rumah sakit. Komunikasi , informasi dan edukasi tentang hal ini harus dipahami oleh seluruh petugas kesehatan dan segera
KEPUSTAKAAN
1. Pernoll M.L. ; Benson R.C. The Puerperium in Benson and Pernoll’s Handbook of Obstetrics and
Gynecology, 9th Edition, International Edition 1994, McGraw-Hill Inc. 269 – 288.
2. Kornia Karkata . Rawat Gabung Ibu dan Bayi (aspek pelaksanaannya) dalam Soetjiningsih (Ed) : Seri Gizi Klinik, ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan, Penerbit Buku Kedoktern EGC,1997. 3. American Academy of Pediatrics, Work Group on Breastfeeding. Breastfeeding and the use of
human milk. Pediatrics 100 : 1035, 1997.
4. American College of Obstetricians and Gynecologist : Breast feeding : Maternal and infant aspects. Education Bulletin no. 258, July , 2000.
5. Lawrence, R.A. Breast feeding a guide for medical profession . The C.V.Mosby Company, St.Louis, Toronto, London 1980.p.16.
6. Mc Neilly AS, Robinson ICA, Houston MJ, Howie PW : Release of oxytocin and prolactin in response to suckling. BMJ (Clin Res Ed ) 286: 257, 1983
7. Morgan D : Bromocriptine and post partum lactation suppression .Br J Obstet Gynaecol 102:851, 1995.
8. Yuen BH : Prolactin in human milk : The influence of nursing and the duration of postpartum lactation. Am J Obstet Gynecol 158:583, 1988.
9. Williams obstetrics. F Gary Cunningham et.al, 21th Edition..The Puerperium. Chapter 17, p 403-421.