• Tidak ada hasil yang ditemukan

Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi

Dalam dokumen SKRIPSI INDAH KHAIRUNNISA HARAHAP (Halaman 43-0)

BAB II. LANDASAN TEORI

2.4. Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tebing Tinggi berdiri pada tahun 2009 dan mendapat SK penegerian pada tanggal 19 Juni 2009 serta mendapatkat Akreditas B pada tahun 2017. MAN Tebing Tinggi beralamat di Jl. Baja Kel.

Tebing Tinggi Kec. Padang Hilir dan dipimpin oleh Bapak Henri Sasti, S.Ag, M.Sc. Status kepemilikan tanah adalah hak pakai dan luas tanah 31,358 m.

Adapun Misi MAN Tebing Tinggi adalah, sebagai berikut:

1. Meningkatkan kualitas pendidikan agama dan sains

2. Meningkatkan kualitas tenaga pendidikan dan kependidikan 3. Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan

4. Meningkatkan penghayatan moral dan etika keagamaan 5. Meningkatka tata kelola managemen yang baik

6. Menciptakan suasana lingkungan madrasah yang bersih dan asri Visi MAN Tebing Tinggi sebagai berikut:

1. Mampu menjadi muslim sejati yaitu yang mampu menjalankan perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya, menyuruh kepada yang Ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar.

2. Menguasai kecakapan aademik yang berguna untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi atau untuk hidup di tengah masyarakat.

3. Menguasai keterampilan dan kecakapan non akademis sesuai dengan minat dan bakatnya.

4. Dikenal oleh masyarakat umum sehingga menjadi ikon dan penggerak dalam masyarakat.

Visi tersebut di atas mencerminkan cita-cita Madrasah yang berorientasi ke depan dengan memperhatikan potensi kekinian, sesuai dengan norma dan harapan masyarakat.

2.5 Dinamika antara coping dengan persepsi terhadap pembelajaran matematika pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.

Sudah tidak asing bahwa matematika dianggap merupakan salah satu pelajaran yang sulit dipecahkan, menakutkan, penuh dengan lambang-lambang serta rumus-rumus yang sulit dan membutuhkan konsentrasi tinggi untuk dapat

mengerti pelajaran matematika. Ada dua faktor masalah dalam pemebelajaran matematika, yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Pujadi, 2007). Adapun faktor internal tersebut berasal dalam diri anak tersebut dan hal itu menghambat pemahaman anak terhadap matematika. Hal-hal yang termasuk dalam faktor internal tersebut antara lain sikap negatif terhadap kemampuan diri sendiri (Shen

& Talavera, 2003). Sikap yang negatif dari diri sendiri terhadap kemampuan matematika tersebut dapat disebut persepsi negatif. Persepsi yang negatif tentang matematika pada para siswa akan memunculkan rasa tidak suka pada pelajaran tersebut (Effendy, Ediati & Dewi, 2012). Jadi, meskipun kecerdasan seseorang berada pada level normal, namun bila ia mempunyai persepsi negatif, kecemasan tinggi, dan tidak yakin dengan kemampuan nya sendiri, maka prestasi dalam bidang matematika tersebut akan cenderung rendah.

Slameto (2003) menyatakan persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan dan informasi di dalam otak manusia. Informasi dan pesan yang diterima tersebut muncul dalam bentuk stimulus yang merangsang otak untuk mengolah lebih lanjut yang kemudian mempengaruhi seseorang dalam berperilaku. Irwanto (2002) mendefinisikan persepsi sebagai rangsangan-rangsangan yang diterima dan yang menyebabkan kita mempunyai suatu pengertian terhadap lingkungan. Fenomena bahwa siswa memiliki persepsi yang tidak baik terhadap pembelajaran matematika, ternyata dapat memiliki dampak buruk bagi individu siswa sendiri dan hasil akademik di sekolah.

Siswa yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang relatif sulit dan membentuk kesan dan pengalaman secara negatif terhadap matematika

umumnya berdampak buruk baik bagi motivasi belajar matematika maupun penyesuaian akademik di sekolah (Restati, 2017). Kemudian dalam penelitian Sitopu (dalam Ali dkk, 2015) juga menunjukan ada pengaruh yang signifikan antara sikap dalam pembelajaran terhadap hasil belajar matematika siswa. Hasil penelitian tersebut menyarankan perlunya pembentukan sikap siswa agar diperoleh hasil belajar matematika yang lebih baik. Semakin positif sikap siswa terhadap pelajaran matematika semakin tinggi pula hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika dan sebaliknya, semakin negatif sikap siswa terhadap pelajaran matematika, maka hasil belajar matematika akan semakin rendah.

Dapat diambil kesimpulan bahwa, ketika siswa memiliki persepsi negatif terhadap pembelajaran matematika hal tersebut mempengaruhi pendidikan matematika dan hasil akademik mereka disekolah. Dalam upaya meminimalkan persepsi negatif siswa, mereka perlu upaya untuk mengatasi hal tersebut. Usaha untuk mengontrol, mengurangi, atau belajar untuk menoleransi ancaman dan masalah disebut sebagai coping. Lazarus dan Folkman (1984) menyebutkan bahwa coping adalah upaya perubahan kognitif dan perilaku secara konstan untuk mengelola tekanan eksternal dan internal yang dianggap melebihi batas kemampuan individu. Adapun fungsi dalam coping terbagi dua yaitu problem focused coping dan emotion focused coping. Dari dua fungsi tersebut, terbagi cara-cara yang digunakan individu dalam melakukan coping.

Cara yang terbagi dari fungsi problem focused coping dapat dilakukan yaitu dengan mencari dukungan secara langsung kepada orang lain (seeking social support), menganalisi situasi permasalahan yang ada kemudian mengatasinya

(plantful problem solving), dan mengambil tindakan tegas dalam mengatasi permasalahan (confrontive coping). Cara yang terbagi dari fungsi emotion focused coping dapat dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran diri dalam permasalahan yang dihadapi (accepting responsibility), menjaga jarak agar tidak terbelenggu oleh permasalahan (distancing), mengontrol perasaan atau tindakan (self-control), mengambil tindakan untuk menghindar dari masalah (escape-avoidance) dan mencoba menciptakan makna positif dalam setiap permasalahan (possitive reappraisal). Penjelasan lebih lanjut mengenai cara-cara coping akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya mengenai cara-cara untuk coping.

Ketika coping berhasil dilakukan terhadap siswa yang memiliki persepsi negatif terhadap pembelajaran matematika, maka reaksi-reaksi negatif yang muncul dari persepsi tersebut akan dapat di minimalkan. Cara memandang situasi yang sedang terjadi dapat menunjukkan apakah orang tersebut merupakan orang optimis atau pesimis. Cara pandang yang positif terhadap suatu peristiwa akan menimbulkan rasa mampu menghadapi peristiwa tersebut. Sedangkan cara pandang yang negatif akan menimbulkan rasa tidak mampu dan tidak berdaya pada individu tersebut. Individu yang optimis melihat masalah sebagai hal yang biasa, individu cenderung dapat mengendalikan masalah dan hanya terjadi pada situasi tertentu sebaliknya bagi orang yang pesimis memiliki keyakinan jika masalah yang menghinggapi mereka akan terjadi terus menerus dan menjadi tidak terkendali (Gerrig, dkk dalam Suwarsi dan Handayani, 2017).

Seligmann (dalam Suwarsi dan Handayani, 2017) menyatakan bahwa sudut pandang seseorang dalam melihat suatu masalah tergantung bagaimana

persepsi seseorang tersebut jika dihadapkan pada masalah yang sama (explanatory style). Oleh karena itu bisa dirumuskan jika individu yang optimis akan selalu memiliki pola pikir bahwa setiap kejadian yang negatif yang terjadi pada dirinya terjadi karena faktor dari luar dan sifatnya sementara. Sebaliknya bagi individu yang pesimis akan berpikir jika semua hal negatif yang terjadi pada dirinya karena dari dirinya sendiri dan bersifat menetap.

2.6 Hipotesa Penelitian

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka hipotesis alternatif yang di ajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara coping dengan Persepsi pembelajaran matematika pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.

(2012) penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikal yang diolah dengan metode statistika. Pada dasarnya penelitian kuantitatif dilakukan pada penelitian inferensial (dalam rangka pengujian hipotesis) dan menyandarkan kesimpulan akhrinya pada suatu probabilitas kesalahan penolakan hipotesis nihil.

Adapun jenis penelitian kuantitatif ini dengan menggunakan metode korelasional. Menurut Suryabrata (2008) metode korelasional ialah metode penelitian yang dilaksanakan dengan tujuan mencari tahu sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan (berkorelasi) dengan satu atau lebih faktor lain.

Pada penelitian ini, metode korelasi digunakan untuk mendapatkan jawaban tentang ada atau tidaknya hubungan satu faktor dengan faktor lain, yaitu hubungan antara persepsi terhadap pembelajaran matematika dengan coping.

3.1.Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2012). Identifikasi variabel-variabel utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a) Variabel bebas : Coping

b) Variabel Terikat : Persepsi pembelajaran matematika

3.2. Definisi Operasional Variabel Penelitian

3.2.1.Definisi operasional persepsi pembelajaran matematika

Persepsi pembelajaran matematika adalah pandangan siswa terhadap pembelajaran matematika serta bagaimana mereka mengartikan dan menafsirkan matematika tersebut dalam bentuk respon positif ataupun negatif. Dalam penelitian ini Persepsi terhadap pembelajaran matematika diukur dengan menggunakan Aspek persepsi yang disampaikan oleh Sobur (2003) yang dikaitkan dengan pembelajaran matematika. Persepsi subyek dilihat dari skor total yang diperoleh pada skala Persepsi. Semakin tinggi skor skala yang diperoleh akan semakin menunjukkan tingginya persepsi yang dimiliki siswa dan begitu juga sebaliknya.

3.2.2.Definisi operasional coping

Coping adalah upaya yang dilakukan siswa dalam mengurangi atau menghilangkan stimulus negatif atau situasi yang dianggap menekan dengan menghadapi masalah secara langsung, mencari dukungan sosial, membuat perencaraan sebelum melakukan sesuatu, memberi penilaian positif, bertanggung jawab dan penuh pengendalian diri dalam suatu masalah, serta membuat jarak dan penghindaraan dalam upaya memodifikasi fungsi emosi dalam suatu keadaan yang menekan. Coping diungkap menggunakan skala coping yang di sampaikan oleh Lazarus dan Folkman (1984) berdasarkan fungsi problem focused coping dan emotion focused coping yang dibagi menjadi delapan cara untuk coping yaitu plantful problem solving, confrontive coping, seeking social support, accepting responsibility, distancing, escape-avaidance, self-control, dan positive

reappraisal. Skor coping dihitung berdasarkan skor total, semakin tinggi nilai skor maka semakin cenderung tinggi seseorang melakukan coping.

3.3.Populasi Dan Sampel Penelitian 3.3.1. Populasi penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2011). Populasi harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subjek yang lain. Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Sebanyak 403 siswa.

3.3.2. Sampel

Mengingat adanya keterbatasan peneliti dalam menjangkau seluruh area populasi, maka peneliti hanya akan meneliti sebagian dari populasi yang dijadikan subjek penelitian. Maka, berdasarkan pada populasi yang telah ditentukan maka akan diambil wakil dari populasi yang disebut sampel penelitian. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2011). Penarikan sampel didasarkan tabel Issac dan Michael dalam Sugiyono (2011) dengan taraf kesalahan 5%. Maka sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 186 dari 403 siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.

3.3.3. Teknik pengambilan sampel

Teknik pengambilan sampel merupakan teknik yang digunakan untuk memilih sampel dari populasi dalam suatu penelitian (Sugiyono,2011). Cara

pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling atau nonprobability sampling. Adapun alasan dalam pemilihan metode sampling ini adalah dikarenakan pemilihan sampel yang ditetapkan oleh pihak kepala sekolah sehingga peneliti hanya dapat mengambil sampel yang sesuai dengan kebetulan yang ada.

3.4.Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data hendaknya disesuaikan dengan tujuan penelitian dan bentuk data yang akan diambil dan diukur. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan skala. Skala yang merupakan suatu mekanisme pengumpulan data melalui tulisan-tulisan tentang pertanyaan atau pernyataan untuk mengukur variabel tertentu. Skala psikologi merupakan pernyataan atau pertanyaan yang tidak langsung mengungkapkan atribut yang akan diukur melainkan mengungkapkan indikator perilaku dari atribut tersebut (Azwar, 2012).

Skala yang digunakan pada penelitian ini adalah skala Likert. Skala ini merupakan model skala pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai sikap (Azwar,2010). Skala disusun sendiri oleh peneliti dari aspek-aspek yang membangun variabel tersebut. Skala yang digunakan terdiri dari skala untuk mengukur coping dan skala untuk mengukur persepsi terhadap pembelajaran matematika. Aitem-aitem dalam skala ini merupakan pernyataan dengan empat pilihan jawaban, yaitu:

SS = Sangat Setuju S = Setuju

STS = Sangat Tidak Setuju

Skala disajikan dalam bentuk pernyataan favorable dan unfavorable. Skor yang diberikan bergerak dari 1 sampai 4. Penilaian untuk favorable bernilai 4 untuk alternatif "SS", bernilai 3 untuk alternatif "S", bernilai 2 untuk alternatif

"TS", dan bernilai 1 untuk alternatif "STS". Penilaian untuk unfavorable bernilai 1 untuk alternatif "SS", bernilai 2 untuk alternatif "S", 3 untuk alternatif "TS", dan 4 untuk alternatif "STS".

3.4.1. Rancangan skala persepsi

Skala persepsi disusun dari ketiga aspek persepsi yang di kaitkan dengan pembelajaran matematika. Rancangan alat ukur persepsi dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel.1. Rancangan alat ukur persepsi

No. Aspek Indikator Aitem Jumlah

1,2,13,14,25,26 7,8,19,20,31,32 12

2. Interpretasi Pengartian informasi oleh individu terhadap

3.4.2.Rancangan skala coping

Skala coping disusun berdasarkan beberapa cara untuk coping menurut yang sampaikan oleh Lazarus dan Folkman (1984). Alat ukur coping dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel.2. Rancangan alat ukur coping

No Fungsi coping

Cara-cara untuk coping

Indikator Aitem Jumlah

Aitem terjadi dan mengambil hikmah atas apa yang terjadi

4,5,6 10,11,12 6

Accepting responsibility

Menerima tugas dalam keadaan apapun saat

Distancing Menjauhkan diri dari teman-teman dan

Total Keseluruhan 60

3.5.Uji Coba Alat Ukur 3.5.1. Uji validitas

Validitas alat ukur adalah sejauh mana alat ukur tersebut dapat menghasilkan data yang akurat dan cermat sesuai dengan tujuan ukurnya. Suatu alat ukur dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila alat ukur tersebut menghasilkan data yang relevan dengan tujuan pengukuran. (Azwar, 2012).

Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity), yaitu sejauh mana alat tes yang digunakan dapat mewakili aspek-aspek dalam kawasan isi objek yang hendak diukur dan sejauh mana aitem-aitem didalamnya dapat benar-benar menggambarkan indikator perilaku yang hendak diukur. Teknik yang digunakan untuk melihat validitas isi dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan professional judgement yaitu dengan cara meminta pendapat profesional yang diperoleh dengan cara berkonsultasi dengan dosen pembimbing dan juga dosen maupun pihak-pihak lain.

3.5.2. Uji daya beda aitem

Uji daya beda aitem dilakukan untuk mengetahui sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok yang memiliki atribut dengan yang tidak memiliki atribut yang akan diukur. Uji daya beda aitem ini dilakukan dengan cara memilih aitem-aitem yang fungsi ukurnya selaras atau seusai dengan fungsi ukur tes (Azwar, 2012). Pengujian daya beda aitem ini dilakukan dengan komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor pada setiap aitem dengan suatu kriteria yang relevan yaitu distribusi skor skala itu sendiri.

Komputasi ini menghasilkan koefisien korelasi aitem total yang dapat dilakukan dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson Product Moment yang dianalisis dengan menggunakan komputerisasi SPSS 20.0 for windows.. Prosedur pengujian ini akan menghasilkan koefisien korelasi aitem total yang dikenal dengan daya beda aitem. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.30 daya pembedanya dianggap memuaskan (Azwar, 2102).

3.5.3. Uji reliabilitas

Reliabilitas alat ukur menunjukkan derajat sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya dan konsisten. Reliabilitas alat ukur yang dapat dilihat dari koefisien reliabilitas merupakan indikator konsistensi aitem-aitem yang dalam menjalankan fungsi ukurnya secara bersama-sama. Uji reliabilitas alat ukur menggunakan pendekatan konsistensi internal dengan prosedur hanya memerlukan satu kali penggunaan tes kepada sekelompok individu sebagai subjek (Azwar, 2010). Pendekatan konsistensi internal dalam estimasi dimaksudkan untuk menghindari masalah-masalah yang biasanya ditimbulkan oleh pendekatan tes ulang. Koefisien reliabilitas yang mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya koefisien reliabilitas yang mendekati angka 0,00 berarti semakin rendah reliabilitasnya. Teknik yang digunakan adalah teknik reliabilitas Alpha Cronbach (Azwar, 2012). Pengujian reliabilitas dilakukan dengan mengolah data-data pada program SPSS 20.0 for Windows.

3.6. Hasil Uji Coba Alat Ukur

3.6.1. Uji coba alat ukur/try out alat ukur

Menurut Azwar (2010) tujuan melakukan uji coba alat ukur adalah guna untuk melihat seberapa jauh alat ukur dapat mengukur dengan tepat apa yang hendak diukur dan seberapa jauh alat ukur menunjukkan ketepatan pengukuran.

Pada tahap ini peneliti melakukan try out atau uji coba alat ukur yang telah selesai di perbaiki. Peneliti melakukan try out kepada 85 siswa/siswi sekolah Madrasah Aliyah Negeri 1 Deli Serdang.

3.6.2.Hasil uji coba skala persepsi terhadap pembelajaran matematika

Dari 36 butir aitem yang diuji, di dapatkan 30 aitem yang memiliki daya diskriminasi aitem melebihi 0,30 dengan nilai reliabilitas 0,943. 30 aitem inilah yang akan di gunakan dalam penelitian. Hasil uji coba skala persepsi terhadap pembelajaran matematika menunjukkan daya beda aitem 0,400 hingga 0,757.

Aitem yang tidak melewati 0,30 dapat di lihat pada angka yang ditebalkan. Blue print setelah puji coba dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel. 3.Blue print skala persepsi terhadap pembelajaran matematika setelah try Out berdasarkan informasi yang masuk dari individu.

1,2,13,14,25, 26

7,8,19,20,31,32 12

2. Interpretasi Pengartian informasi oleh individu terhadap

Respon yang muncul berupa sikap

17,18,30 23,24,36 6

Total Keseluruhan 36

*Keterangan: angka yang di tebalkan merupakan aitem yang gugur

Tabel.4.Blue print penomoran ulang skala persepsi terhadap pemebelajaran matematika berdasarkan informasi yang masuk dari individu.

1,2,13,14,24 7,8,19,20, 9

2. Interpretasi Pengartian informasi oleh individu terhadap

3.6.3. Hasil uji coba skala coping

Dari 60 butir aitem yang diuji, didapatkan 45 aitem yang memiliki daya diskriminasi aitem melebihi 0,30 dengan nilai reliabilitas 0,933. 45 aitem inilah yang akan digunakan dalam penelitian. Hasil uji coba skala coping menunjukkan daya beda aitem yang bergerak 0,301 sampai 0,725. Aitem yang tidak melebihi 0,30 dapat dilihat pada tinta merah. Blue Print setelah dilakukan uji coba bisa dilihat pada tabel berikut:

Tabel.5.Blue print skala coping setelah try out

No Fungsi coping

Cara-cara untuk coping

Indikator Aitem Jumlah

Aitem

Distancing Menjauhkan diri dari teman-teman dan

*Keterangan: angka yang di tebalkan merupakan aitem yang gugur

Tabel.6. Blue print penomoran ulang skala coping

No Bentuk coping

Cara-cara untuk coping

Indikator Aitem Jumlah

Aitem

Distancing Menjauhkan diri dari teman-teman dan

3.7. Prosedur Pelaksanaan Penelitian 3.6.1. Tahap persiapan penelitian

a. Rancangan Alat dan Instrumen Penelitian.

Pada tahap ini, peneliti mulai mengonstruksi alat ukur dalam bentuk skala yang terdiri dari skala persepsi dan coping yang pembuatannya mengacu pada teori yang telah diuraikan sebelumnya. Penyusunan skala dilakukan dengan membuat blue print dan kemudian dioperasionalisasikan dalam bentuk aitem-aitem pertanyaan.

b. Uji Coba Alat Ukur

Setelah alat ukur disusun, maka tahap selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan uji coba alat ukur. Uji coba alat ukur dilakukan pada tanggal 22 Agustus 2019 dan di berikan pada 85 orang siswa kelas 10, 11, dan 12 Madrasah Aliyah Negeri 1 Deli Serdang. Setelah Peneliti melakukan uji coba alat ukur, maka peneliti menguji validitas dan reliabilitas skala dengan menggunakan koefisien reliabilitas Cronbach Alpha dengan bantuan aplikasi program SPSS 20.0 for Window. Setelah diketahui aitem-aitem yang memenuhi validitas dan reliabilitasnya, maka kemudian peneliti menyusun aitem-aitem tersebut menjadi alat ukur yang digunakan untuk mengambil data penelitian.

3.6.2. Tahap pelaksanaan penelitian

Setelah melakukan uji coba, merevisi dan menyusun kembali aitem-aitem yang telah sesuai, kemudian dilakukan pengambilan data dengan menyebarkan skala coping dan persepsi pembelajaran matematika kepada sampel penelitian.

Peneliti melakukan pengambilan data pada Madrasah Aliyah Negeri Tebing

Tinggi pada tanggal 11 September 2019. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan skala persepsi dan coping yang telah direvisi kepada responden sebanyak jumlah sampel yang telah ditentukan. Berdasarkan teknik yang digunakan peneliti yaitu menggunakan Cara pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling atau nonprobability sampling.

3.6.3. Pengolahan data

Setelah diperoleh hasil skor skala persepsi dan coping pembelajaran matematika maka dilakukan pengolahan data. Pengolahan ini dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS 20.0 for windows.

3.7. Metode Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses lanjutan dari proses pengolahan data untuk melihat bagaimana menginterpretasikan data, kemudian menganalisis data dari hasil yang sudah ada pada tahap hasil pengolahan data. Metode analisa data yang digunakan untuk pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah analisa statistika, yaitu analisis Kolerasi product moment, karena data yang diperoleh merupakan data interval. Sebelum dilakukan analisis korelasi pearson product moment terlebih dahulu akan diuji normalitas dan uji linearitas dengan menggunakan uji statistik.

3.7.1. Uji normalitas

Uji normalitas adalah pengujian bahwa sampel yang dihadapi adalah berasal dari populasi yang terdistribusi normal (Sugiyono, 2011). Uji normalitas ini dilakukan dengan menggunakan uji one sample kolmogorov-smirnov dengan

aplikasi SPSS 20.0 for windows. Kaidah normal yang digunakan adalah jika nilai signifikansi lebih besar sama dengan 0,05 maka dinyatakan normal dan sebaliknya jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka dinyatakan tidak normal (Sugiyono, 2011).

3.7.2. Uji linearitas

Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah garis regresi antara variabel bebas dan variabel terikat membentuk garis linear atau tidak. Apabila tidak memenuhi asumsi linearitas maka analisa regresi tidak dapat dilanjutkan (Sugiyono, 2011). Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan uji test for linerarity dengan menggunakan bantuan SPSS 20.0 for windows. Kaidah yang digunakan untuk mengetahui linier atau tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung adalah jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka hubungannya antara variabel bebas dengan variabel tergantung dinyatakan linier, sebaliknya jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 berarti hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung dinyatakan tidak linier (Sugiyono, 2011).

dimulai dengan memberikan gambaran umum subjek penelitian kemudian dilanjutkan dengan hasil penelitian, uji asumsi dan uji hipotesis, gambaran coping

dimulai dengan memberikan gambaran umum subjek penelitian kemudian dilanjutkan dengan hasil penelitian, uji asumsi dan uji hipotesis, gambaran coping

Dalam dokumen SKRIPSI INDAH KHAIRUNNISA HARAHAP (Halaman 43-0)

Dokumen terkait