SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh:
INDAH KHAIRUNNISA HARAHAP 151301120
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
ABSTRAK
Upaya perubahan kognitif dan perilaku secara konstan untuk mengelola tekanan secara eksternal dan internal yang dianggap melebihi batas kemampuan individu disebut sebagi coping. Persepsi yang negatif terhadap pembelajaran matematika siswa yang dimana berdampak negatif terhadap hasil akademik disekolah, maka akan dapat diminimalisir dengan adanya coping yang dilakukan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara coping dengan persepsi pembelajaran matematika siswa Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.
Subjek pada penelitian ini berjumlah 186 siswa pada sekolah tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Teknik penarikan sampling yang digunakan adalah accidental sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan alat ukur berupa skala coping yang disusun berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Lazarus & Folkman (1984) dengan nilai reliabilitas alat ukur 0,933. Kemudian skala ersepsi disusun berdasarkan teori Sobur (2003) dengan nilai reliabilitas alat ukur 0,943. Data dianalisis secara statistik dengan menggunakan analisa korelasi Pearson. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak sehingga penelitian ini menemukan ada hubungan antara coping dengan persepsi pembelajaran matematika siswa Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tingi.
Kata Kunci: Coping, Persepsi, Pembelajaran matematika
ABSTRACT
Efforts to change cognitive and challenges to overcome external and internal stresses that are considered to limit the individual abilities are called overcoming.
Negative perceptions of mathematics learning which have a negative impact on academic results at school, it will be minimized by the presence of coping by students.This research aims to determine the relationship between coping and perception of mathematics learning of Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.
This research of this study were 186 students at the school. Quantitative approach was used in this research. The sampling technique used is accidental sampling.
Data was collected using a measuring instrument in the form of a scale. The coping scale was based on the theory by Lazarus & Folkman (1984) with the value of reliability scale 0,933. The perception scale was based on the theory by Sobur (2013) with the value of reliability scale 0,943. Data was analyzed statistically using Pearson correlation analysis. The results of statistical analysis showed that accepts Ha and rejects Ho, so this study found that there was relationship between coping and perception of mathematics learning of Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.
Keyword: Coping, Perception, Mathematics learning
Antara Coping dengan Persepsi Pembelajaran Matematika Siswa Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi”.
Pembuatan Skripsi ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang telah memberi dukungan dan bimbingannya kepada peneliti, khususnya kedua orangtua, Mama, Papa dan Abang serta keluarga besar yang selama ini telah menjadi salah satu pemberi motivasi terbesar kepada peneliti agar tetap semangat dan berjuang tanpa lelah untuk menyelesaikan tanggung jawab sebagai mahasiswa dan tanggung jawab sebagai anak dan juga adik yang ingin membanggakan keluarganya, doa, kasih sayang, cinta, dukungan dan perhatian yang telah diberikan.
Pada kesempatan ini peneliti juga ingin memberikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu selama peneliti melakukan proses pengerjaan skripsi ini. Dengan segala kerendahan hati, peneliti mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Zulkarnain, Ph. D, Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi USU 2. Ibu Ika Sari Dewi, M.Pd, Psikolog selaku dosen pembimbing akademik
yang telah memberikan nasehat dan motivasi disetiap semesternya dalam menjalankan perkuliahan dan pengerjaan skripsi.
3. Ibu Rr.Lita Hadiati Wulandari, M.Pd, Psikolog selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia membimbing peneliti dengan sabar dan selalu
5. Teman-teman Cemut, yang merupakan teman terdekat peneliti selama berada di dunia perkuliahan. Nindya, Icak, Purwa, Decik, Shella, Widy dan Sheila, yang selalu bersama peneliti dari awal masa perkuliahan hingga saat ini, yang selalu memberikan dukungan semangat dan doa, yang selalu mendengarkan keluh kesah peneliti selama masa perkuliahan, serta memberikan hiburan-hiburan tawa dan canda ketika peneliti merasa sedih dan jenuh dalam menjalankan perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.
6. Teman-teman terdekat peneliti sedari SMA, Nanda, Kak Dinda, Yasira, Drei, Cici, dan Bella yang sampai saat ini masih setia menjadi teman terbaik yang sejak dahulu sampai sekarang selalu ada dalam setiap peneliti membutuhkan bantuan dan motivasi.
7. Sahabat-sahabat kecil peneliti sejak SMP, Farrah, Stek, dan Ayuni yang selalu hadir dalam memberikan dukungan kepada peneliti.
8. Dimas Agung Widodo, salah satu support system peneliti. Terima kasih untuk setia mendengarkan keluh kesah peneliti selama pengerjaan skripsi, mendukung, membantu, dan memberikan semangat di setiap harinya untuk tetap semangat mengerjakan skripsi ini. Terima kasih atas kasih sayang, kesabaran, dan kedewasaanya dalam menyikapi tingkah laku peneliti yang terkadang selalu merepotkan karena permasalahan skripsi ini.
memberikan motivasi dan semangat untuk tidak malas dalam pengerjaan revisi.
10. Pihak-pihak yang membantu dalam pengerjaan skripsi ini, Uti, Lana, dan Dekcik yang menjadi teman berbagi dan bertanya peneliti dikala peneliti merasa bingung.
11. Terima kasih kepada Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi yang telah memberikan izin dan waktunya untuk penulis melaksanakan penelitian ini.
12. Semua pihak-pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan semangat dan bantuannya kepada peneliti.
Medan, Oktober 2019
Indah Khairunnisa Harahap
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1.Latar Belakang Masalah ... 1
1.2.Rumusan Masalah ... 13
1.3.Tujuan Penelitian ... 13
1.4.Manfaat Penelitian ... 14
1.5.Sistematika Penulisan... 15
BAB II. LANDASAN TEORI ... 16
2.1. Persepsi ... 16
2.1.1.Pengertian persepsi... 16
2.1.2. Aspek-aspek persepsi ... 17
2.1.3.Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi... 17
2.1.4.Proses pembentukan persepsi ... 18
2.1.5.Persepsi positif dan negatif ... 20
2.2.Matematika ... 21
2.2.1.Definisi matematika ... 21
2.3.2.Coping berdasarkan fungsinya ... 24
2.3.3.Cara-cara untuk coping ... 26
2.3.4.Faktor-faktor yang mempengaruhi coping ... 27
2.4. Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi ... 29
2.5. Dinamika Antara Coping dengan Persepsi Pembelajaran Matematika ... 31
2.6.Hipotesa Penelitian... 34
BAB III. METODE PENELITIAN ... 35
3.1. Identifikasi Variabel ... 35
3.2. Definisi Operasional Variabel ... 36
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 37
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 38
3.5. Uji Coba Alat Ukur ... 41
3.6. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 43
3.7. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 47
3.8. Metode Analisa Data ... 48
BAB IV. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ... 50
4.1.Gambaran Umum Subjek Peneltian ... 50
4.1.1.Gambaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin ... 50
4.1.2. Gambaran subjek berdasarkan kelas ... 51
4.2. Hasil Penelitian ... 51
4.3. Hasil Analisa Tambahan ... 53
4.4. Pembahasan ... 57
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 62
5.1. Kesimpulan ... 62
5.2. Saran ... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 63
Tabel 1. Rancangan alat ukur persepsi terhadap pembelajaran matematika ... 38
Tabel 2.Rancangan alat ukur coping ... 39
Tabel 3. Blue print skala persepsi terhadap pembelajaran matematika setelah try out ... 42
Tabel 4. Blue print penomoran ulang skala persepsi terhadap pembelajaran matematika ... 43
Tabel 5. Blue print skala coping setelah try out ... 44
Tabel 6. Blue print penomoran ulang skala coping ... 45
Tabel 7. Gambaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin ... 49
Tabel 8. Gambaran subjek penelitian berdasarkan kelas ... 50
Tabel 9. Uji normalitas ... 50
Tabel 10. Uji linearitas ... 51
Tabel 11. Uji korelasi ... 52
Tabel 12. Nilai empirik dan nilai hipotetik coping ... 52
Tabel 13. Kategorisasi skor coping ... 53
Tabel 14. Kategorisasi coping subjek ... 53
Tabel 15.Nilai empirik dan nilai hipotetik persepsi terhadap pembelajaran matematika ... 54
Tabel 16. Kategorisasi skor persepsi terhadap pembelajaran matematika ... 55
Tabel 17. Kategorisasi persepsi terhadap pembelajaran matematika subjek ... 55
Gambar 2. Pandangan siswa terhadap pembelajaran matematika ... 5
Gambar 3. Coping siswa terhadap pembelajaran matematika ... 10
Gambar 4. Kategorisasi coping subjek ... 54
Gambar 5. Kategorisasi persepsi terhadap pembelajaran matematika subjek ... 56
Lampiran 3. Hasil Penelitian ... 76
xi
Pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan individu untuk memajukan dan mencerdaskan sumber daya manusia. Pendidikan sudah seharusnya di dapatkan oleh setiap lapisan masyarakat agar pembangunan suatu bangsa dan negara itu dapat berjalan dengan baik. Hal tersebut juga terlihat dalam UUD 1945 pasal 31 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan (Amandemen UUD 1945, tentang Pendidikan dan Kebudayaan). Siswa di tuntut untuk belajar berbagai bidang ilmu dan memecahkan setiap persoalan dalam proses pendidikan. Berbagai ilmu di pelajari di dalam dunia pendidikan salah satu nya yaitu matematika. Matematika merupakan ilmu mengenai pola-pola abstrak yang memiliki karakteristik sebagai alat untuk memecahkan masalah, sebagai pondasi kajian ilmiah dan teknologi, serta dapat memberikan cara-cara untuk memodelkan situasi dalam kehidupan nyata (Chambers, 2008).
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan disetiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi (PT).
Hal ini menunjukkan bahwa matematika merupakan ilmu yang sangat penting di dalam kehidupan (Puspita, dkk 2017). Pemfokusan pembelajaran matematika merupakan dasar untuk mengembangkan ilmu, sehingga diperlukan tenaga yang terampil untuk memperoleh generasi yang berkualitas di masa yang akan datang (Nawangsari, 2000). Namun ternyata di balik pentingnya pembelajaran
matematika dalam pendidikan, tidak jarang diketahui bahwa siswa memiliki pandangan tersendiri terhadap mata pelajaran tersebut.
“Karena dari awal udah gak tertarik sama pelajaran matematika jadi di fikiran itu pasti nganggapnya semua sulit jadinya kalau bisa di bilang pasti selalu ada rasa males gitu mau ngerjainnya”
Wawancara Personal dengan L, 2 April, 2019
“Menurut saya sih kalau di bandingkan dengan pelajaran-pelajaran yang lain ya terbilang sulit pasti. Soalnya karena matematika ini pakai rumus- rumus jadi butuh konsentrasi dan butuh niat lebih untuk ngapalin rumus.
Kalau udah gak paham dari awal pasti jadinya salah keseluruhan, ujungnya males mau nyelesaikannya”
Komunikasi personal dengan A, 2 April 2019 Sudah tidak asing siswa menganggap bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran yang sulit dipecahkan, menakutkan, penuh dengan lambang- lambang serta rumus-rumus yang sulit dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk dapat memahami pelajaran matematika. Matematika sejak dulu memang dianggap oleh siswa sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan. Karakteristik matematika yang abstrak dan sistematis menjadi salah satu alasan sulitnya siswa mempelajari matematika serta menjadikan siswa kurang berminat dalam mempelajarinya (Nawangsari 2007). Matematika telah di beri label negatif dikalangan siswa, yaitu sebagai pelajaran yang sulit, menakutkan, dan membosankan, sehingga menimbulkan minat yang rendah untuk belajar (Fatmawati, 2005). Anggapan-anggapan seperti itulah banyak menyebabkan siswa tidak minat dan percaya dengan kemampuannya dalam matematika, bahkan menganggap pelajaran matematika adalah pelajaran yang menakutkan.
“Bisa sampai keringat dingin terus sakit perut tiba-tiba gitu lah kak.
Kadang kan pasti ada kuis di sekolah yang jawabin satu-satu ke depan gitu, nah pasti perasaan itu udh campur-campur. Kalaupun hapal rumus tapi
rumusnya lupa. Apalagi kuis pasti masukin ke nilai jadi pasti ada rasa marah sama diri sendiri kalau gabisa dapat nilai.”
Komunikasi Personal dengan D, 2 April 2019.
Menurut Santrock (2003) faktor yang mempengaruhi permasalahan remaja dapat ditinjau dari dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi faktor biologis, kognitif, dan emosi. Faktor lain yang menjadi sumber masalah bagi remaja adalah faktor eksternal. Faktor eksternal yang mempengaruhi remaja bermasalah adalah kondisi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Sekolah diharapkan dapat menjadi tempat bagi remaja untuk belajar. Namun disisi lain di sekolah pula remaja dapat memperoleh masalah. Ketika siswa tidak dapat menyelesaikan sebuah permasalahan, kondisi ini akan membuat siswa tidak nyaman dalam mengikuti pelajaran dan tertekan hingga memunculkan reaksi negatif dari diri siswa. Sekolah, disamping keluarga, merupakan sumber stres atau tekanan yang utama bagi anak (Desmita, 2009).
“Memang jika dilihat dari tingkat minat siswa disekolah ini sama pelajaran matematika mungkin memang belum dapat dibilang bagus kaliya. Untuk lomba-lomba khusus matematika pun masih jarang yang bisa ada wakilin. Padahal jika dibandingkan dengan jam belajar dengan pelajaran lain, matematika termasuk pelajaran yang cukup besar waktunya, tapi siswa masih belum apa namanya itu, belum optimal lah.”
Komunikasi Personal dengan Ibu K, 19 Oktober 2019.
“ya kalau anggapan susah ke matematika pasti banyaklah yakan siswa berpendapat gitu, sudah biasa itu malahan kan. Nanti guru yang ajarin dah maksimal pun tapi masih ada juga siswa yang tidak antusias ikutin pelajaran, begitulah dek, namanya juga anak-anak sekolah.
Komunikasi Personal dengan Ibu R, 19 Oktober 2019.
Saat ini anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Madrasah Aliyah Negeri atau MAN Tebing Tinggi merupakan salah satu sekolah menengah atas negeri atau aliyah yang sama dengan sekolah menengah atas lainnya yaitu
memiliki mata pelajaran matematika. Di balik beragamnya mata pelajaran yang di ajarkan, matematika merupakan salah satu pelajaran yang tidak disukai, paling membuat para siswanya beranggapan bahwa pelajaran tersebut merupakan pelajaran yang sulit dan sering menganggap bahwa mereka tidak mampu untuk mengerjakan persoalan dalam pembelajaran tersebut. Dalam hal ini, peneliti melakukan survey pada tanggal 25 Juni 2019 mengenai hasil akademik siswa di Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi pada pelajaran matematika. Survey nilai ini di dapat oleh peneliti melalui hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 pada pelajaran matematika semester gajil tahun ajaran 2018.
Gambar 1. Nilai matematika murni siswa
23%
77%
Nilai Matematika Murni Siswa
>75 < 75
Berdasarkan diagram di atas dapat dilihat bahwa siswa dengan nilai murni di atas 75 atau di atas nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sekolah, hanya sebesar 23% atau sebanyak 7 dari 31 siswa. Sedangkan sebesar 77% atau sebanyak 24 dari 31 siswa mendapatkan nilai murni di bawah KKM. Kemudian peneliti melakukan survei lanjutan kembali untuk melihat gambaran secara umum kondisi siswa di Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi terhadap respon mereka
pada pelajaran matematika. Survei ini di berikan kepada 62 siswa dari kelas X IPA 2 dan XI IPA 2 Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.
Gambar 2.Pandangan siswa terhadap pembelajaran matematika
Peneliti memberikan survey berupa pernyataan yang sesuai dan tidak sesuai mengenai pendapat dan keadaan siswa dalam pembelajaran matematika.
Hasil yang didapatkan peneliti dari survey terhadap 62 siswa kelas X IPA 2 dan XI IPA 2 Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi bahwa ;a. pernyataan pertama sebanyak 44 dari 62 siswa mengatakan setuju untuk tidak menyukai pelajaran matematika. b.pernyataan kedua sebanyak 38 dari 62 siswa menyatakan tidak yakin dengan kemampuan mereka dalam hal matematika. c.Pernyataan ketiga sebanyak 33 dari 62 siswa mengatakan selalu merasa takut ketika pelajaran matematika di mulai. d.Pernyataan keempat sebanyak 50 daro 62 siswa mengatakan merasa pusing ketika banyak mengerjakan soal pada pelajaran matematika. e.Pernyataan kelima sebanyak 35 dari 62 siswa mengatakan
0 10 20 30 40 50 60
Tidak Menyukai pelajaran matematika
Tidak yakin dengan kemampuan
dalam hal matematika
Merasa Takut Merasa Pusing Merasa Berkeringat
dingin
Merasa Mules
Pandangan Siswa terhadap Pelajaran Matematika
Setuju Tidak Setuju
seringkali berkeringat dingin ketika pelajaran matematika di mulai dan, f.Pernyataan terakhir sebanyak 36 dari 62 siswa mengatakan selalu merasakan mules ketika pelajaran matematika di mulai.
Berdasarkan data fenomena siswa MAN Tebing tinggi di atas, dapat di lihat bahwa siswa senantiasa memberikan anggapan negatif terhadap pembelajaran matematika. Anggapan tersebut merupakan bentuk persepsi yang mereka berikan terhadap pembelajaran matematika. Menurut Triato dan Titik (dalam Athirah, 2014) Persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera. Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu.
Sedangkan menurut Slameto (2010) persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia yang diperoleh dari luar dirinya. Dengan pesepsi akan tejadi suatu hubungan secara terus-menerus antara manusia dengan lingkungannya. Segala hubungan ini dilakukan melalui alat indra manusia.
Matematika telah di beri label negatif di kalangan siswa, yaitu sebagai pelajaran yang sulit, menakutkan, dan membosankan, sehinga memunculkan persepsi negatif untuk belajar (Syarifah & Handayani 2015). Pengalaman sebelumnya terhadap matematika merupakan prediktor yang sangat kuat terhadap kesuksesan di masa berikutnya (Gurganus, 2010). Oleh karena itu, sikap yang positif terhadap matematika yang terbentuk sejak awal, merupakan faktor penting kesuksesan belajar pada mata pelajaran yang sulit khususnya matematika.
Persepsi yang negatif tentang matematika pada para siswa akan memunculkan rasa tidak suka pada pelajaran tersebut (Effendy, Ediati & Dewi, 2012). Siswa yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang relatif sulit dan membentuk kesan dan pengalaman secara negatif terhadap matematika umumnya berdampak buruk baik bagi motivasi belajar matematika maupun penyesuaian akademik di sekolah (Restati, 2017).
Terlihat bahwa ketika siswa memiliki persepsi yang negatif maka hasil akademik juga menjadi pengaruhnya. Fenomena pada siswa Madrasah Aliyah Negeri yang menyatakan pesepsi negatif mereka terhadap pembelajaran matematika, di dukung pula dengan hasil nilai KKM yang rendah pada pembelajaran matematika. Jika siswa mempersepsikan pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit sehingga membuat siswa jadi malas, merasa jenuh, dan bosan saat pelajaran berlangsung maka akan menimbulkan dampak pada hasil belajar siswa (Suprijono, 2013). Oleh karena itu, sikap yang positif terhadap matematika yang terbentuk sejak awal merupakan faktor penting pada kesuksesan belajar pada mata pelajaran yang sulit, khususnya matematika.
Hasil penelitian Puspita, Monawati, dan Elly (2017) tentang korelasi persepsi siswa terhadap pembelajaran matematika dengan hasil belajarnya di kelas V SD Negeri 1 Pagar Air Aceh Besar, menghasilkan hubungan yang positif yaitu ketika persepsi siswa terhadap pembelajaran matematika postif maka akan menghasilkan hasil belajar yang baik pula. Kemudian juga hasil penelitian Azka (2019) tentang hubungan motivasi belajar dan persepsi siswa terhadap gaya mengajar guru dengan prestasi belajar matematika, menghasilkan hubungan yang
positif yaitu bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara motivasi belajar dan persepsi siswa terhadapa gaya mengajar guru secara bersama-sama dengan prestasi belajar matematika siswa. Pada saat siswa mempresepsikan sesuatu dengan positif maka berpengaruh positif juga dengan hasil belajar dan prestasi belajar siswa.
Usaha untuk mengontrol, mengurangi, atau belajar untuk menoleransi ancaman dan masalah disebut sebagai coping. Menurut Silvana (dalam Bakhtiar dan Asriani, 2915) coping berasal dari kata to cope yang berarti mengatasi kesukaran atau usaha meniadakan atau membebaskan diri dari rasa tidak enak karena permasalahan atau tantangan dan stres. Coping bertujuan untuk mengatasi situasi dan tuntutan yang dirasa menekan, menantang, membebani dan melebihi sumberdaya (resources) yang dimiliki. Cohen dan Lazarus (Folkman, 1984) mengemukakan tujuan adanya perilaku coping, yaitu untuk mengurangi kondisi lingkungan yang menyakitkan bagi individu, menyesuaikan dengan peristiwa- peristiwa atau realita yang sifatnya negatif, mempertahankan keseimbangan emosi, mempertahankan self image yang positif serta untuk meneruskan suatu interaksi yang memuaskan dengan masyarakat luas.
Sumberdaya coping yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi strategi coping yang akan dilakukan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan (Maryam, 2017). Terkait permasalahan persepsi siswa yang negatif tentang pembelajaran matematika menyebabkan pandangan yang negatif pula terhadap pembelajaran matematika tersebut. Sehingga memicu permasalahan akademik siswa. Permasalahan terkait persepsi negatif siswa pada pembelajaran matematika
ini, dapat dilakukan dengan mrmunculkan coping. Lazarus dan Folkman (1984) juga secara umum membagi coping menjadi dua macam bentuk; problem focused coping dimana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres. Kemudian bentuk emotional focused coping dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Individu cenderung untuk menggunakan problem focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurut individu tersebut dapat dikontrolnya. Sebaliknya, individu cenderung menggunakan emotional focused coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurutnya sulit untuk dikontrol (Lazarus & Folkman, 1984). Terkadang individu dapat menggunakan kedua strategi tersebut secara bersamaan, namun tidak semua strategi coping pasti digunakan oleh individu (Taylor, 2009).
Gambar.3. Coping siswa terhadap pembelajaran matematika
45
35
49
60 55
33 17
27
13
2 7
27
0 10 20 30 40 50 60 70
walaupun menganggap
sulit namun tetap merasa
tertantang
ketika ada tugas akan berusaha
untuk mengerjakannya
sendiri
walaupun sulit tetapi tetap mau
berusaha untuk mengerjakan
dan menyelesaian soal matematika
berusaha untuk meminta bantuan dari teman ketika tidak paham
bertanya kepada guru ketika tidak
memahami
mengikuti kursus matematika diluar sekolah
Gambaran Hasil Survey Coping Siswa
Ya Tidak
Survey berikutnya dilakukan peneliti untuk melihat bagaimana gambaran coping yang dilakukan kepada 62 siswa kelas X IPA 2 dan XI IPA2 Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi dalam pembelajaran matematika berdasarkan beberapa pernyataan. Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa ; a.pada pernyataan pertama terlihat sebanyak 45 dari 62 siswa memang menganggap pelajaran matematika sulit namun ternyata mereka tetap merasa tertantang dengan matematika. b. sebanyak 35 dari 62 siswa tetap berusaha mengerjakan tugas matematika sendiri walaupun mereka memang merasa sulit. c. kemudian sebanyak 49 dari 62 siswa mengatakan tetap mau berusaha untuk mengerjakan dan menyelesaikan soal matematika walaupun terbilang sulit. d.sebanyak 60 dari 62 siswa akan berusaha meminta bantuan dari teman mereka ketika mereka
mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika. e.pada pernyataan kelima, sebanyak 55 dari 62 siswa mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada guru ketika merasa kesulitan dan kurang paham dengan pembelajaran matematika dan, f. terakhir, yaitu sebanyak 33 dari 62 siswa mengikuti kegiatan kursus diluar sekolah guna menambah penguasaan dalam pembelajaran matematika mereka.
Dalam coping terdapat sebuah keterampilan yaitu kemampuan untuk meminimalisasi dan menurunkan pengaruh permasalahan yang dapat memberikan efek negatif kekuatan psikis. Coping menunjukkan usaha kognitif dan perilaku yang dilakukan oleh individu tersebut. Usaha untuk mengatur tuntutan tersebut meliputi usaha untuk menurunkan, meminimalisasi dan menahan (Harber dalam Purwandhani dkk, 2003). Seperti yang terlihat pada hasil survey siswa Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi. Bahwa dibalik adanya persepsi yang negatif terhadap pembelajaran matematika di sekolah sehingga menimbulkan pengaruh terhadap hasil akademik mereka, ternyata mereka juga masih dapat melakukan coping. Harber (dalam Purwandhani dkk, 2003) menyatakan coping juga melibatkan kemampuan-kemampuan khas manusia seperti pikiran, perasaan, pemrosesan informasi, belajar, mengingat dan sebagainya. Implikasi proses coping tidak terjadi begitu saja, tetapi juga melibatkan pengalaman atau proses berpikir seseorang.
Pearling dan Schooler (dalam DJ dkk, 2015) menyatakan coping yang cukup baik ditandai dengan kemampuan seseorang untuk dapat tetap berdiri sendiri dalam menghadapi krisis hidup dan mengendalikan stres yang muncul dari masa krisis tersebut. Maka dari itu, terkait dengan walapun hasil persepsi siswa
terhadap matematika menunjukkan sisi negatif, namun disisi lain setiap siswa mampu memiliki adanya coping karena siswa masih memiliki proses berfikir dimana mereka tetap harus berusaha agar pembelajaran matematika yang mereka lakukan di sekolah tetap berjalan dengan baik.
Moos (dalam Sholichatun, 2011) menyatakan dalam inventori respon coping nya, beragam bentuk strategi kognitif maupun perilaku, baik yang berfokus emosi maupun berfokus masalah. Pada coping yang berfokus pada masalah yaitu usaha untuk bertindak mengatasi masalah secara langung masalah yang terjadi, melibatkan diri dalam aktivitas pengganti dan menciptakan sumber- sumber kepuasan baru. Menurut Lazarus (dalam Santrock, 2003) bahwa problem focused coping dianggap lebih dapat memberikan manfaat kepada individu untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Muta’adin dalam (Isdaryanti, 2008) menyatakan sejumlah struktur psikologis seseorang dan sumber-sumber untuk melakukan coping akan berubah menurut perkembangan usia dan akan membedakan seseorang dalam merespons tekanan.
Pada usia muda individu akan cenderung menggunakan problem focused coping, sedangkan pada usia yang lebih tua akan menggunakan emotional focused coping. Hal ini disebabkan pada orang yang lebih tua memiliki anggapan bahwa dirinya tidak mampu melakukan perubahan mulai dari masalah yang dihadapi sehingga akan bereaksi dengan mengatur emosinya daripada pemecahan masalah.
Terlihat dari hasil survey yang ada bahwa kebanyakan dari siswa menggunakan coping yang lebih mengarah kepada coping langsung.
Adapun problem focused coping atau coping langsung ditandai dengan kegiatan individu dalam melakukan tugas-tugas seperti mencari informasi tentang hal terkait permasalahan, belajar keterampilan yang baru, dan semacamnya (Slamet, 2012). Hasil penelitian Leksonoputro (2015) tentang hubungan strategi coping dengan stres siswa menghasilkan hubungan yang negatif, dimana siswa berhasil melakukan coping dan mengurangi stres. Dalam penelitian tersebut pribadi individu dan lingkungan mempengaruhi strategi coping apa yang akan di gunakan. Individu yang menilai sumber daya yang dimilikinya memadai untuk menghadapi semua situasi yang menekan akan cenderung menggunakan pendekatan coping yang lebih aktif. Hal ini karena individu tersebut percaya bahwa mereka dapat berhasil mengendalikan situasi menekan tersebut (Safaria, 2006). Bergerak dari fenomena dan teori di atas, maka peneliti tertarik untuk melihat bagaimana sebenarnya Hubungan antara Coping dengan Persepsi Siswa dalam Pembelajaran Matematika pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.
1.2. Rumusan Masalah
Apakah terdapat Hubungan Antara Coping dengan Persepsi Pembelajaran Matematika pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan antara Hubungan Antara Coping dengan dengan Persepsi Pembelajaran Matematika pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.
1.4. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya temuan-temuan psikologi khususnya di bidang pendidikan tentang coping dan persepsi terhadap pembelajaran matematika
b. Penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai tambahan informasi bagi peneliti selanjutnya dalam bidang psikologi pendidikan mengenai coping dan persepsi terhadap pembelajaran matematika.
2. Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan informasi tentang bagaimana persepsi terhadap pembelajaran matematika terutama bagi Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi yang memiliki persepsi negatif matematika yang tinggi.
b. Hasil penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat bagi staff pengajar dalam rangka melakukan pembinaan bagi siswa terutama dalam meminilkan persepsi siswa yang negatif terhadap pembelajaran matematika
1.5. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. BAB I - Pendahuluan
Pendahuluan berisi latar belakang masalah dalam penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan yang ingin di capai dalam penelitian, manfaat penelitian dan hasil, serta bagaimna sistematika penulisan dalam penelitian.
2. BAB II - Landasan Teori
Pada bab ini berisikan teori-teori kepustakaan yang digunakan dan berkaitan sebagai landasan dalam penelitian, apa faktor-faktor dan aspeknya dan apa hipotesis yang ditarik oleh peneliti.
3. BAB III - Metodologi Penelitian
Pada bab ini berisikan penjelasan tentang metode penelitian yang digunakan yang mencakup metode penelitian kuantitatif, yaitu: identifikasi variabel, definisi operasional variabel, populasi dan teknik pengambilan sampel, metode pengumpulan data, uji coba alat ukur, prosedur pelaksanaan penelitian, dan metode analisis data.
4. BAB IV- Analisa Data dan Pembahasan
Pada bab ini akan dilakukan analisa data dan pembahasan terkait hasil penelitian.
5. BAB V- Kesimpulan dan Saran
Pada bab ini akan ditarik sebuah kesimpulan dan saran terkait peneliti
2.1.Persepsi
2.1.1. Pengertian persepsi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Pengertian persepsi secara etimologis adalah berasal dari bahasa Inggris yaitu perception atau bahasa Latin yaitu perceptio dari kata percipare yang artinya menerima atau mengambil (Sobur, 2003). Lahey (2007) juga mengemukakan pengertian persepsi, yaitu proses mengorganisasi dan menginterpretasikan informasi yang diterima dari dunia luar. Menurut Slameto (2010) persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi dalam otak manusia secara terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya melalui indranya, yaitu indra penglihatan, pendengaran, peraba, perasa dan penciuman. Salah satu alasan mengapa persepsi demikian penting dalam hal menafsirkan keadaan sekeliling kita adalah bahwa kita masing-masing mempersepsi, tetapi mempersepsi secara berbeda, apa yang dimaksud dengan sebuah situasi ideal.
Irwanto (2002) mendefinisikan persepsi sebagai rangsangan-rangsangan yang diterima dan yang menyebabkan kita mempunyai suatu pengertian terhadap lingkungan. Proses diterimanya rangsang itu disadari dan dimengerti, karena persepsi bukan sekedar penginderaan, maka ada penulis yang menyatakan persepsi sebagai the interpretation of experience (penafsiran pengalaman).
Rakhmat (2004) menjelaskan persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa, atau hubungan yang di peroleh dengan menyimpulkan infromasi dari menafsirkan pesan. .Menurut Leavit dalam Sobur (2003) persepsi dalam arti sempit adalah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas persepsi adalah pandangan atau pengertian yaitu sebagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.
2.1.2. Aspek-aspek persepsi
Menurut Sobur (2003), Ada tiga aspek-aspek dalam persepsi, yaitu:
1. Seleksi adalah proses penyaringan oleh indra trhadap rangsangan dari luar, intensitas, dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.
2. Interpretasi, yaitu proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang. Interpretasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dianut, motivasi, kepribadian, dan kecerdasan. Interpretasi juga bergantung pada kemampuan seseorang untuk mengadakan pengategorian informasi yang diterimanya, yaitu proses mereduksi informasi yang kompleks menjadi sederhana.
3. Interpretasi dan persepsi kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi. Jadi proses persepsi adalah melakukan seleksi, interpretasi, dan pembalutan terhadap informasi yang sampai.
2.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi
Karena persepsi lebih bersifat psikologis daripada merupakan proses penginderaan saja, maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi (Irwanto,2002).
1. Perhatian yang selektif
Dalam kehidupan manusi setiap saat akan menerima banyak sekali rangsang dari lingkungannya. Meskipun demikian ia tidak harus menanggapi semua rangsang yang diterimanya. Untuk itu, individunya memusatkan perhatiannya pada rangsang-rangsang tertentu saja. Dengan demikian, objek-objek atau gejala-gejala lain tidak akan tampil ke muka sebagai objek pengantar.
2. Ciri-ciri rangsang
Rangsang yang bergerak diantara rangsang yang diam akan lebih menarik perhatian. Demikian juga rangsang yang paling besar diantara yang kecil; yang kontras dengan latar belakanganya dan intensitas rangsangnya paling kuat.
3. Nilai-nilai dan kebutuhan individu
Seorang seniman tentu punya pola dan cita rasa yang berbeda dalam pengamatannya dibanding seorang bukan seniman. Penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak dari golongan ekonomi rendah melihat koin (mata uang logam) lebih besar dibanding anak-anak orang kaya.
4. Pengalaman terdahulu
Pengalaman-pengalaman terdahulu sangat mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsi dunianya. Cermin bagi kita tentu bukan barang baru, tetapi lain halnya bagi orang-orang Mentawai di Pedalaman Siberut atau saudara- saudara kita di pedalaman Irian.
2.1.4.Proses pembentukan persepsi
Persepsi itu bersifat kompleks. Tidak ada hubungan satu lawan satu antara pesan yang terjadi di “luar sana”. Apa yang terjadi di luar sangat berbeda dengan
apa yang mencapai otak kita. Mempelajari bagaimana dan mengapa pesan-pesan ini berbeda sangat penting untuk memahami komunikasi. Kita dapat mengilustrasikan cara persepsi bekerja dengan menjelaskan tiga langkah yang terlibat dalam proses ini. Adapun proses persepsi menurut DeVito (dalam Sobur, 2003):
1. Terjadinya stimulasi alat indra (sensory stimulation)
Pada tahap pertama ini, alat-alat indra distimulasi (dirangsang): kita mendengar suara musik. Meskipun memiliki kemampuan pengindraan untuk merasakan stimulus (rangsangan), kita tidak selalu merasakannya. Sebagai contoh, apabila melamun dikelas, anda tidak mendengar apa yang dikatakan dosen sampai ia memanggil nama anda. Barulah anda sadar. Anda tahu bahwa anda mendengar nama anda disebut, tetapi anda tidak tahu sebabnya. Hal ini merupakan contoh jelas bahwa kita akan menangkap yang tampaknya tidak bermakna.
2. Stimulasi terhadap alat indra diatur
Pada tahap kedua, rangsangan terhadap alat indra diatur menurut berbagai prinsip. Salah satu prinsip yang sering digunakan adalah prinsip proksimitas (proximity), atau kemiripan: orang atau pesan yang secara fisik mirip satu sama lain, dipersepsikan bersama-sama, atau sebagai satu kesatuan (unity). Sebagai contoh ketika kita mempersepsikan pesan yang datang segera setelah pesan yang lain sebagai satu unity dan menganggap bahwa keduanya tentu saling berkaitan.
Kita menyimpulkan bahwa kedua pesan tersebut berkaitan menurut pola yang sudah tertentu.
Prinsip lain yaitu kelengkapan (closure): kita memandang atau mempersepsikan suatu gambar atau pesan yang dalam kenyataan tidak lengkap sebagai gambar atau pesan yang lengkap. Sebagai contoh kita mempersepsikan gambar setengah lingkaran dengan sebuah lingkaran penuh meskipun sebagian dari gambar tersebut tidak ada. Kemiripan dan kelengkapan hanyalah dua diantara banyak prinsip pengaturan yang akan kita singgung. Dalam membayangkan prinsip-prinsip ini, hendaklah kita ingat bahwa apa yang kita persepsikan, juga kita tata ke dalam suatu pola yang bermakna bagi kita. Pola ini belum tentu benar atau logis dari segi objektif tertentu.
3. Stimulasi alat indra ditafsirkan-dievaluasi
Langkah ketiga dalam proses perseptual adalah penafsiran-evaluasi. Kita menggabungkan kedua istilah ini untuk menegaskan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan. Langkah ketiga ini merupakan proses subjektif yang melibatkan evaluasi pada pihak penerima. Penafsiran-evaluasi kita tidak semata-mata didasarkan pada rangsangan luar, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan, keinginan, sistem nilai, keyakinan tentang yang seharusnya, keadaan fisik dan emosi pada saat itu, dan sebagainya yang ada pada kita.
2.1.5 Persepsi positif dan negatif
Menurut Robbins (2002) bahwa persepsi positif merupakan penilaian individu terhadap suatu objek atau informasi dengan pandangan yang positif atau sesuai dengan yang diharapkan dari objek yang dipersepsikan atau dari aturan yang ada. Sedangkan, persepsi negatif merupakan persepsi individu terhadap objek atau informasi tertentu dengan pandangan yang negatif, berlawanan dengan
yang diharapkan dari objek yang dipersepsikan atau dari aturan yang ada.
Penyebab munculnya persepsi negatif seseorang dapat muncul karena adanya ketidakpuasan individu terhadap objek yang menjadi sumber persepsinya, adanya ketidaktahuan individu serta tidak adanya pengalaman inidvidu terhadap objek yang dipersepsikan dan sebaliknya, penyebab munculnya persepsi positif seseorang karena adanya kepuasan individu terhadap objek yang menjadi sumber persepsinya, adanya pengetahuan individu, serta adanya pengalaman individu terhadap objek yang dipersepsikan
2.2 MATEMATIKA 2.2.1. Definisi matematika
Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik serta matematika juga merupakan pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan. Selain dari pada itu matematika yaitu sekumpulan fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk. struktur-struktur yang logik serta pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat (Soedjadi, 2000).
Sebagai Ilmu pengetahuan, matematika memiliki karakteristik yaitu, memiliki objek kajian yang abstrak , bertumpu pada kesepakatan, berpola pikir deduktif, memiliki simbol yang kosong dari arti, memperhatikan semsta pembicaraan, dan konsisten dalam sistemnya (Soedjadi, 2000). Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hakikat matematika merupakan sebuah ilmu pengetahuan eksak yang terorganisir secara sistematik dan memiliki tujuan yang abstrak, bertumpu pada kesepakatan serta pola pikir yang deduktif.
2.2.2. Persepsi siswa terhadap pembelajaran matematika
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Menurut Soedjadi (2000) hakikat matematika yaitu memiliki objek tujuan yang abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa hakikat matematika merupakan sebuah ilmu pengetahuan eksak yang teroganisir secara sistematik dan memiliki tujuan yang abstrak, bertumpu pada kesepakatan serta pola pikir yang deduktif. Maka, persepsi terhadap pembelajaran matematika yaitu proses yang menyangkut masuknya pesan dan informasi dalam hal ini yaitu informasi terkait matematika. Informasi dan pesan yang diterima tersebut muncul dalam bentuk stimulus yang merangsang otak untuk mengolah lebih lanjut yang kemudian menghasilkan stimulus yang berupa respon postifi atau negatif.
2.3. COPING
2.3.1.Pengertian coping
Lazarus dan Folkman (1984) menyebutkan bahwa coping adalah upaya perubahan kognitif dan perilaku secara konstan untuk mengelola tekanan eksternal dan internal yang dianggap melebihi batas kemampuan individu.
Adapun fungsi coping tersebut adalah menjelaskan perbedaan kepercayaan antara coping secara langsung melalui tindakan dan coping yang meregulasi respon emosi pada individu. Coping adalah untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh episode-episode penuh tekanan dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya ini disebut alat mengatasi, dan termasuk pengendalian diri, humor,
menangis, bersumpah, membual, membicarakannya, memikirkannya, dan menghilangkan energi. Untuk memahami coping, dan untuk mengevaluasinya, kita perlu tahu apa yang orang tersebut hadapi. Semakin sempit konteksnya, semakin mudah untuk menghubungkan pemikiran koping tertentu atau tindakan dengan permintaan kontekstual. Berbicara tentang proses koping berarti berbicara tentang perubahan dalam pemikiran koping dan bertindak sebagai pertemuan yang menegangkan. Coping dengan demikian merupakan proses pergeseran di mana seseorang harus, pada waktu-waktu tertentu, lebih bergantung pada satu bentuk coping, katakanlah strategi defensif, dan pada waktu lain pada strategi penyelesaian masalah, ketika status hubungan orang-lingkungan berubah.
Menurut Taylor (2009) coping didefenisikan sebagai pikiran dan perilaku yang digunakan untuk mengatur tuntutan internal maupun eksternal dari situasi yang menekan. Menurut Baron & Byrne (1991) menyatakan bahwa coping adalah respon individu untuk mengatasi masalah, respon tersebut sesuai dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan untuk mengontrol, mentolerir dan mengurangi efek negatif dari situasi yang dihadapi. Menurut MacArthur & MacArthur (dalam Slamet, 2012) mendefinisikan coping sebagai upaya-upaya khusus, baik behavioral maupun psikologis, yang digunakan orang untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau meminimalkan dampak sebagai upaya yang dilakukan oleh individu untuk mengelola tuntutan eksternal dan internal yang dihasilkan dari sumber stres.
Berdasarkan beberapa pengertian mengenai coping di atas dapat disimpulkan bahwa coping adalah upaya-upaya yang dilakukan individu dalam
menghadapi situasi penuh tekanan atau yang mengancam dirinya baik itu permasalahan yang berasal dari luar diri (lingkungan) atau dari dalam diri individu dengan menggunakan sumber daya yang ada untuk mengurangi tingkat stres atau tekanan yang dialami.
2.3.2. Coping berdasarkan fungsinya
Lazarus dan Folkman (1984), membedakan coping berdasarkan fungsinya menjadi dua bentuk, yaitu coping yang diarahkan untuk mengelola atau mengubah masalah dan coping yang diarahkan untuk mengatur respons emosional terhadap masalah tersebut. Adapun yang pertama adalah problem focused coping dan kedua emotion focused coping:
1. Problem focused coping
Problem focused coping adalah suatu tindakan yang diarahkan kepada pemecahan masalah. Individu akan cenderung menggunakan perilaku ini bila dirinya menilai masalah yang dihadapinya masih dapat dikontrol dan dapat diselesaikan. Perilaku coping yang berpusat pada masalah cenderung dilakukan jika individu merasa bahwa sesuatu yang kontruktif dapat dilakukan terhadap situasi tersebut atau ia yakin bahwa sumberdaya yang dimiliki dapat mengubah situasi. Adapun dalam problem focused coping terdapat beberapa cara penggunaan yang dapat dilakukan individu. Cara-cara tersebut dapat dilakukan dengan mencari dukungan secara langsung kepada orang lain (seeking social support), menganalisi situasi permasalahan yang ada kemudian mengatasinya (plantful problem solving), dan mengambil tindakan tegas dalam mengatasi permasalahan (confrontive coping).
2. Emotion focused coping
Emotional focused coping adalah melakukan usaha-usaha yang bertujuan untuk memodifikasi fungsi emosi tanpa melakukan usaha mengubah stressor secara langsung. Perilaku coping yang berpusat pada emosi cenderung dilakukan bila individu merasa tidak dapat mengubah situasi yang menekan dan hanya dapat menerima situasi tersebut karena sumberdaya yang dimiliki tidak mampu mengatasi situasi tersebut. Adapun dalam emotion focused coping terdapat beberapa cara penggunaan yang dapat dilakukan individu. Cara-cara tersebut dapat dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran diri dalam permasalahan yang dihadapi (accepting responsibility), menjaga jarak agar tidak terbelenggu oleh permasalahan (distancing), mengontrol perasaan atau tindakan (self-control), mengambil tindakan untuk menghindar dari masalah (escape-avoidance) dan mencoba menciptakan makna positif dalam setiap permasalahan (possitive reappraisal). Penjelasan lebih lanjut mengenai cara-cara coping akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya mengenai cara-cara untuk coping.
Dodds (1993) mengemukakan bahwa coping yang lebih dapat menyesuaikan dengan keadaan individu adalah problem focussed coping. Dimana problem focused coping lebih berhasil dalam jangka panjang sedangkan emotion focussed coping dapat digunakan hanya apabila masalah yang dihadapi tidak dapat di atasi secara memuaskan. Individu cenderung untuk menggunakan problem focussed coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurut individu tersebut dapat dikontrolnya. Sebaliknya, individu cenderung
menggunakan emotional focussed coping dalam menghadapi masalah masalah yang menurutnya sulit untuk dikontrol (Lazarus & Folkman, 1984).
2.3.3. Cara-cara untuk coping
Beberapa cara yang umum digunakan untuk coping yang diidentifikasi oleh Lazarus & Folkman (1984) adalah sebagai berikut.
a. Planful problem solving (problem-focused) yaitu menganalisis situasi untuk sampai pada solusi dan kemudian mengambil tindakan langsung untuk memperbaiki masalah.
b. Confrontive coping (problem- focused) yaitu mengambil tindakan tegas, sering melibatkan kemarahan atau pengambilan risiko, untuk mengubah situasi.
c. Seeking social support (problem-focused) yaitu mencoba memperoleh dukungan informasi atau emosional. Dukungan yang dicari merupakan dukungan sosial secara instrumental, artinya individu akan mencari dukungan dari orang disekitar untuk mendapatkan nasihat, informasi, atau bimbingan.
d. Accepting responsibility (emotion-focused) yaitu bereaksi dengan menumbuhkan kesadaran akan peran diri dalam permasalahan yang dihadapi, dan berusaha mendudukkan segala sesuatu sebagaimana mestinya
e. Distancing (emotion-focused) yaitu melakukan upaya kognitif untuk melepaskan diri dari situasi atau menciptakan pandangan positif dengan cara menjaga jarak agar tidak terbelenggu oleh permasalahan.
f. Escape-avoidance (emotion-focused) yaitu memikirkan angan-angan tentang situasi atau mengambil tindakan untuk melarikan diri atau menghindarinya.
g. Self-control (emotion-focused) yaitu mencoba memodulasi perasaan atau tindakan seseorang dalam kaitannya dengan masalah dan selalu berfikir sebelum berbuat sesuatu atau menghindari untuk melakukan sesuatu tindakan secara tergesa-gesa.
h. Positive reappraisal (emotion-focused) yaitu mencoba menciptakan makna positif dari situasi dalam hal pertumbuhan pribadi, kadang-kadang dengan nada religius.
Adapun jika individu telah melakukan salah satu atau beberapa dari cara di atas, maka individu telah melakukan dua fungsi coping. Untuk fungsi problem focused coping, maka individu melakukan cara-cara pada poin a,b,dan c. Kemudian untuk fungsi emotion focused coping, maka individu melakukan cara-cara pada poin d,e,f,g, dan h.
2.3.4.Faktor-faktor yang mempengaruhi coping
Coping dipengaruhi oleh penilaian kognitif pada setiap individu. Coping diperlukan untuk mengatasi stres dari eksternal maupun dari internal.
Antonovsky, 1979 (dalam Lazarus & Folkman, 1984) menggunakan metode generalisasi untuk menggambarkan sumber karakteristik resisten pada individu dalam mengelola stres. Karakteristiknya yaitu, fisik, biokimia, kognitif, emosional, sikap, interpersonal, makro sosi2al budaya. Menurut Lazarus &
Folkman (1984), faktor-faktor yang mempengaruhi coping adalah:
a. Kesehatan dan Energi (health and energy)
Kesehatan dan energi mempengaruhi berbagai macam bentuk coping pada individu dan juga stres. Apabila individu dalam keadaan rapuh, sakit, lelah, lemah, tidak mampu melakukan coping dengan baik. Sehingga kesehatan fisik menjadi faktor penting dalam menentukan strategi coping pada individu.
b. Keyakinan yang positif (positive beliefs)
Penilaian diri secara positif dianggap sebagai sumber psikologis yang mempengaruhi coping pada individu. Setiap individu memiliki keyakinan tertentu yang menjadi harapan dan upaya dalam melakukan coping pada kondisi apapun.
Sehingga penilaian mengenai keyakinan yang positif merupakan sumber coping.
c. Kemampuan Pemecahan Masalah (problem solving skill)
Kemampuan pemecahan masalah pada individu meliputi kemampuan mencari informasi, menganalisis situasi yang bertujuan mengidentifikasi masalah untuk menghasilkan alternatif yang akan digunakan pada individu, mempertimbangkan alternatif yang akan digunakan, mempertimbangkan alternatif dengan baik agar dapat mengantisipasi kemungkinan yang terburuk, memilih dan menerapkan sesuai dengan tujuan pada masing-masing individu, hal ini merupakan faktor yang mempengaruhi coping.
d. Keterampilan sosial (social skills)
Keterampilan sosial merupakan faktor yang penting dalam coping karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial, sehingga individu membutuhkan untuk bersosialisasi. Keterampilan sosial merupakan cara untuk menyelesaikan masalah dengan orang lain, juga dengan keterampilan sosial yang
baik memungkinkan individu tersebut menjalin hubungan yang baik dan kerjasama dengan individu lainya, dan secara umum memberikan kontrol perilaku kepada individu atas interaksi sosialnya dengan individu lain.
e. Dukungan sosial (social support)
Setiap individu memiliki teman yang dekat secara emosional, pengetahuan, dan dukungan perhatian yang merupakan faktor yang mempengaruhi coping pada individu dalam mengatasi stres, terapi perilaku, epidemologi sosial.
f. Sumber material (material resources)
Sumber material salah satunya adalah keuangan, keadaan keuangan yang baik dapat menjadi sumber coping pada individu. Secara umum masalah keuangan dapat memicu stres individu yang mengakibatkan meningkatnya pilihan dalam coping untuk bertindak. Salah satu manfaat material bagi individu mempermudah individu dalam kepentingan hukum, medis, keuangan dan lain- lain.
2.4 Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tebing Tinggi berdiri pada tahun 2009 dan mendapat SK penegerian pada tanggal 19 Juni 2009 serta mendapatkat Akreditas B pada tahun 2017. MAN Tebing Tinggi beralamat di Jl. Baja Kel.
Tebing Tinggi Kec. Padang Hilir dan dipimpin oleh Bapak Henri Sasti, S.Ag, M.Sc. Status kepemilikan tanah adalah hak pakai dan luas tanah 31,358 m.
Adapun Misi MAN Tebing Tinggi adalah, sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas pendidikan agama dan sains
2. Meningkatkan kualitas tenaga pendidikan dan kependidikan 3. Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan
4. Meningkatkan penghayatan moral dan etika keagamaan 5. Meningkatka tata kelola managemen yang baik
6. Menciptakan suasana lingkungan madrasah yang bersih dan asri Visi MAN Tebing Tinggi sebagai berikut:
1. Mampu menjadi muslim sejati yaitu yang mampu menjalankan perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya, menyuruh kepada yang Ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar.
2. Menguasai kecakapan aademik yang berguna untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi atau untuk hidup di tengah masyarakat.
3. Menguasai keterampilan dan kecakapan non akademis sesuai dengan minat dan bakatnya.
4. Dikenal oleh masyarakat umum sehingga menjadi ikon dan penggerak dalam masyarakat.
Visi tersebut di atas mencerminkan cita-cita Madrasah yang berorientasi ke depan dengan memperhatikan potensi kekinian, sesuai dengan norma dan harapan masyarakat.
2.5 Dinamika antara coping dengan persepsi terhadap pembelajaran matematika pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.
Sudah tidak asing bahwa matematika dianggap merupakan salah satu pelajaran yang sulit dipecahkan, menakutkan, penuh dengan lambang-lambang serta rumus-rumus yang sulit dan membutuhkan konsentrasi tinggi untuk dapat
mengerti pelajaran matematika. Ada dua faktor masalah dalam pemebelajaran matematika, yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Pujadi, 2007). Adapun faktor internal tersebut berasal dalam diri anak tersebut dan hal itu menghambat pemahaman anak terhadap matematika. Hal-hal yang termasuk dalam faktor internal tersebut antara lain sikap negatif terhadap kemampuan diri sendiri (Shen
& Talavera, 2003). Sikap yang negatif dari diri sendiri terhadap kemampuan matematika tersebut dapat disebut persepsi negatif. Persepsi yang negatif tentang matematika pada para siswa akan memunculkan rasa tidak suka pada pelajaran tersebut (Effendy, Ediati & Dewi, 2012). Jadi, meskipun kecerdasan seseorang berada pada level normal, namun bila ia mempunyai persepsi negatif, kecemasan tinggi, dan tidak yakin dengan kemampuan nya sendiri, maka prestasi dalam bidang matematika tersebut akan cenderung rendah.
Slameto (2003) menyatakan persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan dan informasi di dalam otak manusia. Informasi dan pesan yang diterima tersebut muncul dalam bentuk stimulus yang merangsang otak untuk mengolah lebih lanjut yang kemudian mempengaruhi seseorang dalam berperilaku. Irwanto (2002) mendefinisikan persepsi sebagai rangsangan- rangsangan yang diterima dan yang menyebabkan kita mempunyai suatu pengertian terhadap lingkungan. Fenomena bahwa siswa memiliki persepsi yang tidak baik terhadap pembelajaran matematika, ternyata dapat memiliki dampak buruk bagi individu siswa sendiri dan hasil akademik di sekolah.
Siswa yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang relatif sulit dan membentuk kesan dan pengalaman secara negatif terhadap matematika
umumnya berdampak buruk baik bagi motivasi belajar matematika maupun penyesuaian akademik di sekolah (Restati, 2017). Kemudian dalam penelitian Sitopu (dalam Ali dkk, 2015) juga menunjukan ada pengaruh yang signifikan antara sikap dalam pembelajaran terhadap hasil belajar matematika siswa. Hasil penelitian tersebut menyarankan perlunya pembentukan sikap siswa agar diperoleh hasil belajar matematika yang lebih baik. Semakin positif sikap siswa terhadap pelajaran matematika semakin tinggi pula hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika dan sebaliknya, semakin negatif sikap siswa terhadap pelajaran matematika, maka hasil belajar matematika akan semakin rendah.
Dapat diambil kesimpulan bahwa, ketika siswa memiliki persepsi negatif terhadap pembelajaran matematika hal tersebut mempengaruhi pendidikan matematika dan hasil akademik mereka disekolah. Dalam upaya meminimalkan persepsi negatif siswa, mereka perlu upaya untuk mengatasi hal tersebut. Usaha untuk mengontrol, mengurangi, atau belajar untuk menoleransi ancaman dan masalah disebut sebagai coping. Lazarus dan Folkman (1984) menyebutkan bahwa coping adalah upaya perubahan kognitif dan perilaku secara konstan untuk mengelola tekanan eksternal dan internal yang dianggap melebihi batas kemampuan individu. Adapun fungsi dalam coping terbagi dua yaitu problem focused coping dan emotion focused coping. Dari dua fungsi tersebut, terbagi cara-cara yang digunakan individu dalam melakukan coping.
Cara yang terbagi dari fungsi problem focused coping dapat dilakukan yaitu dengan mencari dukungan secara langsung kepada orang lain (seeking social support), menganalisi situasi permasalahan yang ada kemudian mengatasinya
(plantful problem solving), dan mengambil tindakan tegas dalam mengatasi permasalahan (confrontive coping). Cara yang terbagi dari fungsi emotion focused coping dapat dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran diri dalam permasalahan yang dihadapi (accepting responsibility), menjaga jarak agar tidak terbelenggu oleh permasalahan (distancing), mengontrol perasaan atau tindakan (self-control), mengambil tindakan untuk menghindar dari masalah (escape- avoidance) dan mencoba menciptakan makna positif dalam setiap permasalahan (possitive reappraisal). Penjelasan lebih lanjut mengenai cara-cara coping akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya mengenai cara-cara untuk coping.
Ketika coping berhasil dilakukan terhadap siswa yang memiliki persepsi negatif terhadap pembelajaran matematika, maka reaksi-reaksi negatif yang muncul dari persepsi tersebut akan dapat di minimalkan. Cara memandang situasi yang sedang terjadi dapat menunjukkan apakah orang tersebut merupakan orang optimis atau pesimis. Cara pandang yang positif terhadap suatu peristiwa akan menimbulkan rasa mampu menghadapi peristiwa tersebut. Sedangkan cara pandang yang negatif akan menimbulkan rasa tidak mampu dan tidak berdaya pada individu tersebut. Individu yang optimis melihat masalah sebagai hal yang biasa, individu cenderung dapat mengendalikan masalah dan hanya terjadi pada situasi tertentu sebaliknya bagi orang yang pesimis memiliki keyakinan jika masalah yang menghinggapi mereka akan terjadi terus menerus dan menjadi tidak terkendali (Gerrig, dkk dalam Suwarsi dan Handayani, 2017).
Seligmann (dalam Suwarsi dan Handayani, 2017) menyatakan bahwa sudut pandang seseorang dalam melihat suatu masalah tergantung bagaimana
persepsi seseorang tersebut jika dihadapkan pada masalah yang sama (explanatory style). Oleh karena itu bisa dirumuskan jika individu yang optimis akan selalu memiliki pola pikir bahwa setiap kejadian yang negatif yang terjadi pada dirinya terjadi karena faktor dari luar dan sifatnya sementara. Sebaliknya bagi individu yang pesimis akan berpikir jika semua hal negatif yang terjadi pada dirinya karena dari dirinya sendiri dan bersifat menetap.
2.6 Hipotesa Penelitian
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka hipotesis alternatif yang di ajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara coping dengan Persepsi pembelajaran matematika pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.
(2012) penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikal yang diolah dengan metode statistika. Pada dasarnya penelitian kuantitatif dilakukan pada penelitian inferensial (dalam rangka pengujian hipotesis) dan menyandarkan kesimpulan akhrinya pada suatu probabilitas kesalahan penolakan hipotesis nihil.
Adapun jenis penelitian kuantitatif ini dengan menggunakan metode korelasional. Menurut Suryabrata (2008) metode korelasional ialah metode penelitian yang dilaksanakan dengan tujuan mencari tahu sejauh mana variasi- variasi pada suatu faktor berkaitan (berkorelasi) dengan satu atau lebih faktor lain.
Pada penelitian ini, metode korelasi digunakan untuk mendapatkan jawaban tentang ada atau tidaknya hubungan satu faktor dengan faktor lain, yaitu hubungan antara persepsi terhadap pembelajaran matematika dengan coping.
3.1.Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2012). Identifikasi variabel- variabel utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a) Variabel bebas : Coping
b) Variabel Terikat : Persepsi pembelajaran matematika
3.2. Definisi Operasional Variabel Penelitian
3.2.1.Definisi operasional persepsi pembelajaran matematika
Persepsi pembelajaran matematika adalah pandangan siswa terhadap pembelajaran matematika serta bagaimana mereka mengartikan dan menafsirkan matematika tersebut dalam bentuk respon positif ataupun negatif. Dalam penelitian ini Persepsi terhadap pembelajaran matematika diukur dengan menggunakan Aspek persepsi yang disampaikan oleh Sobur (2003) yang dikaitkan dengan pembelajaran matematika. Persepsi subyek dilihat dari skor total yang diperoleh pada skala Persepsi. Semakin tinggi skor skala yang diperoleh akan semakin menunjukkan tingginya persepsi yang dimiliki siswa dan begitu juga sebaliknya.
3.2.2.Definisi operasional coping
Coping adalah upaya yang dilakukan siswa dalam mengurangi atau menghilangkan stimulus negatif atau situasi yang dianggap menekan dengan menghadapi masalah secara langsung, mencari dukungan sosial, membuat perencaraan sebelum melakukan sesuatu, memberi penilaian positif, bertanggung jawab dan penuh pengendalian diri dalam suatu masalah, serta membuat jarak dan penghindaraan dalam upaya memodifikasi fungsi emosi dalam suatu keadaan yang menekan. Coping diungkap menggunakan skala coping yang di sampaikan oleh Lazarus dan Folkman (1984) berdasarkan fungsi problem focused coping dan emotion focused coping yang dibagi menjadi delapan cara untuk coping yaitu plantful problem solving, confrontive coping, seeking social support, accepting responsibility, distancing, escape-avaidance, self-control, dan positive
reappraisal. Skor coping dihitung berdasarkan skor total, semakin tinggi nilai skor maka semakin cenderung tinggi seseorang melakukan coping.
3.3.Populasi Dan Sampel Penelitian 3.3.1. Populasi penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2011). Populasi harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subjek yang lain. Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Sebanyak 403 siswa.
3.3.2. Sampel
Mengingat adanya keterbatasan peneliti dalam menjangkau seluruh area populasi, maka peneliti hanya akan meneliti sebagian dari populasi yang dijadikan subjek penelitian. Maka, berdasarkan pada populasi yang telah ditentukan maka akan diambil wakil dari populasi yang disebut sampel penelitian. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2011). Penarikan sampel didasarkan tabel Issac dan Michael dalam Sugiyono (2011) dengan taraf kesalahan 5%. Maka sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 186 dari 403 siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Tebing Tinggi.
3.3.3. Teknik pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel merupakan teknik yang digunakan untuk memilih sampel dari populasi dalam suatu penelitian (Sugiyono,2011). Cara