• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

C. Madrasah Diniyah

1. Pengertian

Madrasah adalah sekolah yang biasanya dimiliki oleh lembaga Islam. Sedangkan kata Diniyah berasal dari bahasa Arab yang artinya keagamaan. Sebenarnya Madrasah Diniyah tidak jauh berbeda dengan TPQ (Taman Pendidikan Qur’an). Dalam TPQ sendiri mempunyai target dan tujuan yaitu; Dapat membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai dengan ilmu tajwid, dapat melakukan sholat dengan baik, dan terbiasa hidup

dalam suasana Islami, dapat menulis huruf-huruf Al-Qur’an, hafal surat- surat pendek, ayat-ayat pilihan dan doa sehari-hari.17

Madrsah Diniyah merupakan lembaga pendidikan islam yang telah dikenal sejak lama bersamaan dengan masa penyiaran islam di nusantara. Pengajaran dan pendidikan agama Islam timbul secar sangat alamiah melalui proses akulturasi yang berjalan secra halus, perlahan dan damai, sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Para pengajarnya bukanlah terdiri dari para da’i atau para ustadz professional dengan tugas khusus hanya memberikan pengajaran dan pendidikan agama Islam. Masing- masing menyebarkan agama Islam dengan pengetahuan, kemampuan dan waktu luang mereka. Para murid atau santrinya tidak ditentukan jumlahnya maupun usianya. Pada masa penjajahan hamper pada semua desa yang penduduknya mayoritas beragama Islam, terdapat madrasah diniyah, dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain, seperti pengajian, sekolah agama dan lain-lain. Mata pelajaran Agama juga berbeda-beda, yang pada umumnya meliputi aqidah, ibadah, akhlak, membaca Al-Qur’an dan bahasa Arab.

Sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan, madrasah atau sekolah agama perlahan sebagian ada yang berubah kearah sekolah denagn penambahan beberapa mata pelajaran umum yang biasa diberikan di sekoiah, seperti : mata pelajaran sejarah, ilmu bumi, ilmu hayat, bahasa melayu, bahasa asing, dan lain-lain. Sebagian madrasah

1' Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, him.

Diniyah khususnya yang didirikan oleh organisasi -organisasi Islam, memakai nama sekolah Islam, Islamic School, dan sebagainya. Pada zaman penjajahan, Madrasah diniyah dengan berbagai perkembangannya melahirkan banyak pejuangyang anti pemerintahan penjajah, oleh karenanya perkembangan dan kemajuan Madrasah diniyah selalu hamper dihambat dan dihalang-halangi.

Setelah Indonesia merdeka dan berdiri Departemen Agama yang tugas utamanya mengurusi pelayanan keagamaan termasuk pembinaan lembaga-lembaga pendidikan agama, maka penyelenggaraan Madrasah Diniyah mendapat bimbingan dan bantuan Departemen Agama. Keputusan pertama Kementrian Agama adalah Peraturan Menteri agama nomor I tahun 1946 tentang pemberian bantuan bagi Madrasah Diniyah. Untuk memenuhi kebutuhan guru pada madrasah dan guru pada sekolah umum, makla pada tahun 1951 didirikan pendidikan guru agama yang pertama di kota Solo. Namun karena berdirinya yang kebanyakan atas usaha perseoranggna atau organisasi keagamaan yang semata-mata untuk ibadah, maka system pengajaran dan pembelajarannya tergantung pada pengasuhnya. Sehingga pertumbuhan madrasah di Indonesia mengalami banyak corak dan ragamnya. Dalam perkembangannya Madrasah Diniyah yang didalamnya terdapat sejumlah mata pelajaran umum disebut madrasah Ibtidaiyah, sedangkan madrasah diniyah khusus untuk pelajaran Agama.

Seiring dengan munculnya ide-ide pembaharuan pendidikan agama, Madrasah Diniyah pun ikut serta melakukan pembaharuan dari

dalam. Beberapa organisasi penyelenggaraan Madrasah Diniyah

Melakukan modifikasi kurikulum yang dikeluarkan Departemen Agama, Namun disesuaikan dengan kondisi Llingkungannya, sedangkan sebagian Madrasah Diniyah menggunakan kurikulum sendiri menurut kemampuan dan persepsinya masing-masing.

Dalam rangka pembinaan dan bimbingan terhadap Madrasah Diniyah, Departemen Agama menetapkan peraturan Madrasah Diniyah antara lain dijelaskan bahwa Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan agama yang memberikan pendidikan dan pengajaran secara klasikal dalam pengetahuan agama Islam, Pendidikan dan Pengajaran pada madrasah diniyah bertujuan untuk memberikan tambahan dan pendalaman pengetahuan agama islam kepada pelajar-pelajar yang meras kurang menerima pelajaran agama di sekolah umum. Walaupun keadaan Madrasah diniyah telah diatur sedemikian rupa namun keberadaannya belum sebagaimana yang diharapkan.

Keberadaan Madrasah Diniyah masih sangat diperlukan, karena masyarakat merasakan bahwa pendidikan agama yang diperoleh di sekolah umum kurang memadai jumlah jam pelajaran. Sementara itu, kebutuhan akan pembinaan kehidupan beragama dan akhlakul karimah bagi putra dan putrid mereka sangat tinggi. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan merosotnya moral yang melanda kalangan pelajar dan generasi muda akhir-akhir ini.

Para orang tua resah, para pemuka masyarakat gelisah. Mereka mencari solusi atau cara menanggulanginya. Memang di tengah masyakat terkadang terdapat Taman Pendidikan Al-qur’an (TPA) atau pengajian- penagjian. Namun TPA terkesan hanya untuk usia taman kanak-kanak atau siswa usia sekolah dasar pada kelas-kelas awal. Ketika seorang anak mampu membaca Al-Qur’an, mereka mengurangi aktivitasnya di TPA dan ketika masuk SLTP banyak yang keluar dari TPA. Karena itu keberaan Madrasah Diniyah tetap dibutuhkan. Bahkan tidak sedikit yayasan pendidikan yang memadukan penyelenggaraan TPA dan Madrasah Diniyah.

2. Tingkatan Madrasah Diniyah

Madrasah diniyah adalah salah satu lembaga pendidikan keagamaan pada jalur luar sekoiah yang diharapkan mampu secara terus menerus memberikan pendidikan agama Islam kepada anak didik yang tidak terpenuhi pada jalur sekolah yang melalui system klasikal serta menerapkan jenjang pendidikan yaitu :

a. Madrasah Diniyah Awaliyah

1. Pengertian

Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) adalah satuan pendidikan keagamaan jalur luar sekolah yang menyelenggarakan pendidikan

agama Islam tingkat dasar dengan masa belajar 4 (empat) tahun, dan jumlah jam belajar 18 jam pelajaran seminggu.18

2. Tujuan

Tujuan Madrasah Diniyah Awaliyah adalah untuk memberikan

bekal kemampuan dasar kepada warga belajar untuk

mengembangkan kehidupannya sebagai warga muslim yang beriman, bertaqwa dan beramal shaleh sertra berakhlak mulia, warga Negara Indonesia yang berkepribadian, percaya kepada diri sendiri, serta sehat jasmani dan rokhani, membina warga belajar agar memiliki pengalaman, pengetahuan, ketrampilan beribadah, dan sikap terpuji yang berguna bagi pengembangan pribadinya, mempersiapkan warga belajar untuk dapat megikuti pendidikan agama islam pada madrasah Diniyah Wustha.19

b. Madrasah Diniyah Wustho

1. Pengertian

Madrasah Diniyah Wustho adalah satuan pendidikan

keagamaan jalur luar sekolah yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam tingkat menengah pertama sebagi pengembangan pengetahuan yang diperoleh pada Madrasah Diniyah Awaliyah,

iSDirektorat Pendidikan keagamaan, Pedoman Penyelenggaraan dan Pembinaan Madrasah Diniyah, Tahun 2003, hal 02.

masa belajar 2 tahun dengan jumlah jam belajar 18 jam seminggu.20 21

2. Tujuan

Tujuan Madrasah Diniyah Wustho adalah untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar agama Islam yang diperoleh pada m Madrasah Diniyah Awaliyah kepada warga belajar untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi muslim yang bertaqwa dan beramal shaleh, sertra berakhlak mulia, warga Negara Indonesia yang berkepribadian, percaya kepada diri sendiri, serta sehat jasmani dan rokhani, membina warga belajar agar memiliki pengalaman, pengetahuan, ketrampilan beribadah, dan sikap terpuji yang berguna bagi pengembangan pribadinya, membina warga belajar agar memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas hidupnya dalam masyarakat dan berbakti kepada Aliah SWT guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Mempersiapkan warga belajar untuk dapat mengikuti pendidikan agama Islam pada Madrasah Diniyah U llya/1

c. Madrasah Diniyah Ulya

1. Pengertian

Madrasah Diniyah Ullya adalah satuan pendidikan keagamaan jalur luar sekolah yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam tingkat menengah atas dengan melanjutkan dan menegmbangkan

20 Ibid, him. 09

pendidikan agama Islam yang diperoleh pada jenjang pendidikan Madrasah Diniyah Wustho, masa belajar 2 tahun dengan jumlah jam belajar 18 jam seminggu.

2. Tujuan

Tujuan Madrasah Diniyah Ullya adalah untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar agama Islam yang diperoleh pada m Madrasah Diniyah Awaliyah kepada warga belajar untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi muslim yang bertaqwa sertra berakhlak mulia, warga Negara Indonesia yang berkepribadian, percaya kepada diri sendiri, serta sehat jasmani dan rokhani, membina warga belajar agar memiliki pengalaman, pengetahuan, ketrampilan beribadah, dan sikap terpuji yang berguna bagi pengembangan pribadinya, membina warga belajar agar memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas hidupnya dalam masyarakat dan berbakti kepada Allah SWT guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Mempersiapkan warga belajar untuk dapat mengikuti pendidikan agama Islam pada jenjang yang lebih tinggi/3

Secara hi^oris agak sulit untuk melacak kapan mulai berdirinya Madrasah Diniyah sebagai sebuah institusi pendidikan di Indonesia ini.

Kesulitan ini disebabkan karena langkanya referensi yang menjelaskan 22

22 Ibid, him. 11

eksistensi Madrasah Diniyah dalam konstelasi perkembangan institusi- institusi pendidikan Islam. Secara sosiologis madrasah diniyah didirikan untuk memfasilitasi masyarakat yang hendak menyekolahkan anaknya agar mau mempelajari ilmu-ilmu keislaman dan berharap agar anaknya

berperilaku dengan akhlak-al-karimah (akhlak mulia).

Pendidikan di Madrasah ada perbedaannya dengan pendidikan di sekolah umum. Di Madrasah Diniyah sistemnya islami, maka murid- muridnya harus menjadi muslim yang sempurna. Bila disederhanakan maka tujuan pendidikan madrasah hampir sama dengan tujuan sekolah tetapi dengan keimanan yang tahan banting. Dalam realitanya masih sering orang-orang mengatakan kalau anak sekolah umum nakal hal itu biasa; akan tetapi anak Madrasah tidak boleh nakal, karena sistem islami itu tidak mungkin memberi peluang muridnya nakal. Pada kenyataannya masih banyak pula orang yang bertanya apakah madrasah lebih baik dari pada sekolah? Karena madrasah dapat menjamin muridnya tidak nakal. Bila prestasi di bidang pengetahuan umum sama dengan sekolah, apalagi lebih baik, sementara kenakalan lebih kecil kemungkinannya di madrasah, tentu saja orang tua murid akan memasukkan anaknya ke madrasah. Tidak ada orang tua murid yang ingin anaknya nakal. Jadi kuncinya ialah: mutu pendidikan umum sama dengan sekolah, lebihnya ialah ada jaminan tidak nakal.

Perbincangan tentang madrasah sesungguhnya sudah banyak sekali dilakukan di berbagai tempat dan kesempatan berbeda-beda, tidak

terkecuali menyangkut aspek manajemennya. Pengamatan serta analisis tajam telah banyak dihasilkan. Begitu pula pikiran-pikiran cerdas untuk membangun konsep dan rancangan pengembangan madrasah sudah banyak dipublikasikan. Madrasah diyakini menjadi lembaga pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik pada ranah yang lebih komprehensif, meliputi aspek-aspek intelektual, moral, spiritual dan ketrampilan secara padu.24 Madrasah diyakini mampu mengintegrasikan kematangan religius dan keahlian ilmu modern kepada peserta didik sekaligus. Itulah yang sesungguhnya menjadikan orang-orang yang memahami dunia madrasah menjadi begitu gigih memperjuangkan eksistensi madrasah. Selain itu, para peminat lembaga pendidikan madrasah juga didorong oleh nilai-nilai idealisme. Semestinya madrasah mampu menampilkan diri sebagai representasi ajaran Islam yang agung, indah dan sempurna. Akan tetapi, pada kenyataannya, madrasah masih sangat jauh dari idealisme itu. Jauh panggang dari api. Konsep-konsep idial Islam, seperti suasana kebersamaan, kerja keras, disiplin, optimisme yang menjauhkan dari sifat putus asa, mudah menyerah, selalu menjaga kebersihan baik lahir maupun batin, dan seterusnya, ternyata belum terwujud dalam aktivitas madrasah. Sebagian besar Madrasah Diniyah masih diliputi oleh suasana dan semangat tradisional, seperti manajemen “seadanya”, kurang disiplin dan juga apa adanya.

Madrasah Diniyah, jika dilihat dari sisi etos kerja, semangat atau motivasi para pengelolanya, sudah sangat luar biasa tingginya.25 Dalam hal membangun madrasah, bagi masyarakat tertentu, mereka tidak pernah membayangkan akan memperoleh keuntungan yang bersifat materi. Bahkan mereka mampu menunjukkan kesadaran akan betapa pentingnya lembaga pendidikan Islam ini melalui pengorbanan berupa apa saja yang mereka miliki. Tidak jarang kita temui, orang yang bersedia menjual tanah atau hewan ternak untuk membiayai pembangunan Madrasah. Jiwa berkorban seperti ini, agaknya sulit ditemui, justru di lingkungan masyarakat yang menamakan diri telah memasuki dunia modem. Jiwa berkorban yang tinggi juga tidak jarang ditunjukkan oleh guru. Selain mereka bersedia menjalankan tugas-tugas kependidikan semampunya, mereka sanggup menambah pengetahuan dengan biaya sendiri, dengan cara patungan. Hal itu berbeda dengan mereka yang berjiwa pegawai, baru mau menambah dan atau mengimplementasikan konsep baru jika telah tersedia dana proyek yang dibutuhkan. Nyata sekali bahwa pada satu sisi, madrasah sekalipun kondisinya memprihatinkan tetapi menyandang jiwa pejuang, sedangkan di tengah-tengah banyak pihak berkekurangan itu justru tumbuh sebagian orang yang pada diri mereka tumbuh jiwa

pegawai. Oleh karena itu nyata sekali b ah w a dalam manajemen

pendidikan di tanah air ini terjadi diskriminatif, ketidak adilan dan kurang mencerminkan kebhinekaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Hal itu

mengakibatkan sebagian lembaga pendidikan yang kebanyakan berstatus swasta.

Membaca fenomena Madrasah sebagaimana dikemukakan di atas, maka upaya menumbuh-kembangkannya harus dibedakan antara Madrasah yang sudah kuat hidup atau survival sebagaimana contoh madrasah unggulan di muka dan mereka yang masih perlu dibantu kehidupannya sebagaimana yang banyak terdapat di pedesaan. Bagi madrasah yang sudah survival maka yang diperlukan adalah peningkatan kemampuan manajerial dan leadership madrasah, peningkatan kemampuan guru baik menyangkut penguasaan metodologi maupun materi bidang keilmuan, administrasi madrasah dan sejenisnya. Akan tetapi, bagi madrasah yang masih berjuang untuk hidup yang jumlahnya amat besar, yang diperlukan dan cukup mendesak bagi mereka adalah bagaimana agar kebutuhan hidup minimal para guru terpenuhi. Jika hal ini saja tidak dapat dipenuhi maka sulit diharapkan madrasah mampu mengembangkan diri, apalagi peningkatan mutu hasil pendidikannya.

Di sisi baiknya, Madrasah Diniyah mampu membagi waktu dalam pembelajarannya yaitu pembelajaran dimulai dari siang hingga sore hari. Pemanfaatan waktu siang sampai dengan sore hari itu bukan tanpa alasan karena Madrasah Diniyah melayani pendidikan anak-anak yang dipagi harinya ber-sekolah formal. Sebagai institusi pendidikan Islam kerakyatan, peran Madrasah Diniyah dalam proses internalisasi ajaran-ajaran Islam

dan tradisi-tradisi keagamaan dalam sebuah komunitas masyarakat muslim tidak dapat diabaikan begitu saja.

3. Fungsi dan keberadaan

Tujuan Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan yang berkesadaran dan bertujuan, Allah telah menyusun landasan pendidikan yang jelas bagi seluruh umat manusia melalui Syariat Islam, termasuk tentang tujuan pendidikan agama Islam. Para ahli mengemukakan pendapatnya tentang tujuan pendidikan agama Islam sebagai berikut :

a. Imam al-Ghazali berpendapat bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah membina insan paripurna yang bertaqarrub kepada Allah, bahagia di dunia dan di akhirat. Tidak dapat dilupakan pula bahwa orang yang megikuti pendidikan akan memperoleh kelezatan ilmu yang dipelajarinya dan kelezatan ini puia yang dapat mengantarkannya kepada pembentukan insan paripurna.

b. M Athiyah al-Abrasy. mengemukakan bahwa tujuan Pendidikan dan pengajaran.27 adalah sebagai berikut:

1. Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia.

2. Pendidikan dan pengajaran bukanlah sekedar memenuhi otak anak

didik dengan segala macam ilmu yang belum m ereka ketahui,

tetapi mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa luaniiah (keutamaan),

/0 Direktorat Pendidikan keagamaan. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Madrasah Diniyah, Tahun 2003, hal. 31

3. Membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya, ikhlas, dan jujur.

4. Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat.

5. Pendidikan Islam memiliki dua orientasi yang seimbang, yaitu memberi persiapan bagi anak didik untuk dapat menjalani kehidupannya di dunia dan juga kehidupannya di akhirat.

6. Persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan.

7. Pendidikan Agama Islam tidak bersifat spiritual, ia juga memperhatikan kemanfaatan duniawi yang dapat diambil oleh siswa dari pendidikannya.

8. Menumbuhkan roh ilmiah (scientific spirit) pada pelajar dan

memuaskan keinginan hati untuk mengetahui (curiosity) dan

memungkinkan ia mengkaji ilmu sebagai sekedar ilmu. Dengan demikan, Pendidikan Agama Islam tidak hanya memperhatikan pendidikan agama dan akhlak, tapi juga memupuk perhatian kepada sains, sastra, seni, dan lain sebagainya, meskipun tanpa unsur-unsur keagamaan didalamnya.

9. Menyiapkan pelajar dari segi profesinal, tekhnis, dan dunia kerja supaya ia dapat menguasai profesi tertentu.

c. Ada dua macam tujuan, yaitu tujuan sementara dan tujuan akhir 1. Tujuan sementara. Yaitu sasaran sementara yang harus dicapai oleh

umat Islam yang melaksanakan pendidikan Islam. Tujuan sementara artinya tercapainya berbagai kemampuan seperti kecakapan jasmaniah, pengetahuan membaca, menulis, dan ilmu- ilmu lainnya.

2. Tujuan akhir. Yaitu terwujudnya kepribadian muslim yang

mencakup aspek-aspeknya untuk merealisasikan atau

menceminkan ajaran agama Islam.

d. Zakiah Darajat membagi tujuan Pendidikan Agama Islam menjadi 4 (empat) macam28 29, yaitu :

1. Tujuan umum. Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain.

2. Tujuan akhir. Tujuan akhir adalah tercapainya wujud kamil, yaitu orang yang telah mencapai ketakwaan dan menghadap Allah dalam ketakwaannya.

3. Tujuan sementara. Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.

4. Tujuan operasional. Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.

28 http://starawaji.wordpress.com

Tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan takwa dan akhlak serta menegakan kebenaran dalam rangka membentuk manusia berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam.” Dari uraian diatas dapat di simpulkan bahwa pendidikan Islam mempunyai tujuan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial yang menghamba kepada khaliknya dengan dijiwai oleh nilai-nilai ajaran agama. Oleh karena itu pendidikan Islam bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera. Pendidikan ini harus melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspek, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, maupun aspek ilmiah, (secara perorangan maupun secara berkelompok). Dan pendidikan ini mendorong aspek tersebut ke arah keutamaan serta pencapaia kesempurnaan hidup. Tujuan ini merupakan cerminan dan realisasi dari sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara perorangan, masyarakat, maupun sebagai umat manusia keseluruhannya. Sebagai hamba Allah yang berserah diri kepada Khaliknya, ia adalah hamba-Nya yang berilmu pengetahuan dan beriman secara bulat.

Dalam kaitannya di atas Madrasah Diniyah berfungsi sebagai lembaga nonformal agar tidak terjadi kemerosotan agama dan generasi Qur’ani. Kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an merupakan indikator kualitas kehidupan beragama seorang muslim. Oleh karena itu, gerakan baca dan tulis Al-Qur’an merupakan langkah strategis dalam

rangka meningkatkan kualitas ummat khususnya ummat Islam dan keberhasilan pembangunan di bidang agama/0 Karena Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada ummatnya sebagai petunjuk manusia untuk kehidupan dunia dan akhirat. Karena manusia hidup di dunia pasti mempunyai tujuan-tujuan yang baik dan selalu mengharapkan Ridho Allah SWT. Dan Al-Qur’an mengarahkan manusia pada jalan yang benar dan

lurus, sehingga bisa mencapai kesempurnaan manusiawi yang

merealisasikan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

30

A. Profil Madrasah Diniyah Desa Karanglangu

L Informasi Tentang Madrasah Diniyah Desa Karanglangu

Madrasah Diniyah desa Karanglangu terletak di desa Karanglangu RT 04 / RW 02 Kec. Kedungjati Kab. Grobogan. Madrasah Diniyah Desa Karanglangu berdiri pada tanggal 15 juli 1988. Ketika itu masyarakat desa Karanglangu, khususnya yang belum beranjak dewasa sangat minim pengetahuan tentang keagamaan. Salah satu tokoh masyarakat/ ustadz mempunyai inisiatif untuk mendirikan Madarasah Diniyah yang didalamnya mengajarkan ilmu-ilmu agama dan kemudian mendapatkan persetujuan dari Departemen Agama Kab. Grobogan. Pada awalnya Madrasah Diniyah ini belum mempunyai tempat atau lokasi sendiri, masih bertempat di masjid desa Karanglangu. Setelah adanya kegiatan belajar mengajar di Madrasah Diniyah masyarakat setempat sangat mendukung aktivitas itu dan masyarakat mengusahakan tanah untuk bangunan Madrasah Diniyah sendiri. Mulai saat itu Madrasah Diniyah ini mempunyai tempat dan gedung sendiri.

S a a t in i M a d r a s a h D i n iy a h Desa Karanglangu mempunyai murid (Santri) Sebanyak 59 santri dan 4 orang pengajar.

Madrasah ini lebih mengutamakan materi tentang membaca dan menulis arab dan mengetahui makna dan isinya.

2. Fasilitas Madrasah Diniyah Desa Karanglangu

Di setiap institusi, terutama institusi pendidikan harus mempunyai fasilitas yang memadai dan bisa mendukung proses belajar mengajar. Madrasah Diniyah desa Karanglangu hanya mempunyai fasilitas yang sangat sederhana dan hanya bisa mendukung proses belajar mengajar saja. Seperti contoh; gedung madrasah, papan tulis, bangku, kapur dan buku panduan materi pelajaran.

3. Keadaan siswa di Madrasah Diniyah Desa Karanglangu

Dari hasil pengamatan peneliti, keadaan siswa (santri) Madrasah Diniyah Desa Karanglangu Kec. Kedungjati Kab. Grobogan cukup baik. Sebagian siswa (santri) berasal dari desa Karanglangu dan juga ada yang dari desa tetangga. Di tahun ini siswa (santri) madrasah diniyah di desa karanglangu mencapai 59 (lima puluh sembilan) siswa. Sebagian besar siswa (santri) Madrasah diniyah desa karanglangu kec. Kedungjati kab. Grobogan adalah anak usia 7-15 tahun (Seusia sekolah dasar / SD). Para siswa tersebut di ajarkan ilmu-ilmu agama, baca tulis Al-Qur’an, membaca

dan menulis arab dan juga diajarkan untuk memahami dari bacaan

berbahasa arab tersebut.

Sebagian siswa sudah ada yang cukup trampi! menghafal bacaan-

Dokumen terkait