BAB II MAHASISWA PAPUA DALAM BINGKAI YOGYAKARTA
A. Mahasiswa Papua dan Kecenderungan Tak Berhelm
b. Kepolisian Lalulintas Sleman Yogyakarta
c. Orang asli Jogja yang pernah memiliki pengalaman langsung atau
pernah menyaksikan secara langsung perilaku, kehidupan sosial, juga
yang utama adalah pelanggaran tidak berhelm oleh mahasiswa Papua.
2. Data Sekunder
a. Mahasiswa Papua
(Mahasiswa ini terdiri dari seluruh kalangan yang mewakili setiap
daerah/kabupaten di Papua)
b. Kabid Humas Polres Sleman
22 Poorwandari E Kristi. Metode Penelitian Sosial. 1998 Hal. 21
23
c. Ketua Forum Aliansi Mahasiswa Papua
d. Tokoh Adat Yogyakarta
e. Masyarakat Asli Jogja yang berasal dari berbagai kalangan.
H. Analisis Data
Sebagaimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa setiap
faktor-faktor penyebab perilaku tak berhelm orang Papua di lingkungan kota
Yogyakarta, serta mencari hubungan-hubungan empiris antar setiap variabel, maka
penelitian ini pun nantinya diharapkan mampu menjelaskan rumusan masalah. Dalam
menganalisis data ini saya menggunakan tipe penelitian kualitatif dengan analisis data
model komponensial (componencial analisys) menurut Bungin24, teknik analisa data
ini menggunakan “Pendekatan kontras antar elemen“. Teknik ini di gunakan untuk
menganalisa unsur-unsur yang memiliki hubungan-hubungan yang kontras satu sama
lain seperti ironi, paradoks, retakan (cracks) dalam domain-domain yang telah
ditentukan untuk dianalisa secara terperinci. Unsur-unsur atau elemen-elemen yang
kontras akan dipilih dan selanjutnya dicari term-term yang dapat mewadahinya. Pada
akhirnya data yang diperoleh dipergunakan sejelas mungkin untuk menjawab rumusan
masalah. Hasil analisa kemudian disimpulkan sebagai hasil penelitian.
I. Konstruksi Penulisan
Dalam penelitian ini saya mengkonstruksi pembahasan penelitian ke dalam 5
(lima) bab. Diantaranya;
24
24
1. PENDAHULUAN. Bab I menyajikan latar belakang dan beberapa
informasi tentang fenomena tidak berhelm mahasiswa Papua di
Yogyakarta. Dalam bab ini juga ada beberapa sub bab yang akan
mengantar kita kepada serangkaian alur rencana penelititan seperti
rumusan masalah, tujuan penelititan, pentingnya penelitian, kajian pustaka,
landasan teori, konstruksi bab serta yang terakhir metode penelitian yang
diikuti oleh bagaimana data akan dianalisa.
2. MAHASISWA PAPUA DALAM BINGKAI YOGYAKARTA. Bab II
menyajikan beberapa pendekatan yang kemudian akan menjadi sebuah
jembatan untuk memasuki persoalan yang lebih jauh tentang penelititan
ini. Pendekatan ini terdiri dari data-data historis tentang sejak kapan
mahasiswa Papua mulai hadir berbondong-bondong di Yogyakarta.
Kemudian diikuti pula pendekatan untuk menelusuri mobilitas dan
keseharian mahasiwa Papua di Yogyakarta. Yang terakhir dalam bab ini,
akan disajikan sebuah pendekatan historis yang akan memberi informasi
mengenai konteks global kesejarahan orang Papua, di dalamnya terdapat
pembahasan mengenai sejarah nasionalisme orang Papua dan beberapa
pergumulan batin orang Papua, seperti persoalan manipulasi PEPERA, dan
kasus-kasus pelanggaran HAM. Dari beberapa pendekatan di bab II, akan
disimpulkan sebuah temuan mengenai permasalahan kepapuan di
Yogyakarta dalam kaitannya dengan pendekatan di atas. Temuan ini
selanjutnya akan menjadi informasi penting untuk mengidentifikasi
sebesar apa resistensi yang terbentuk pada sebagian mahasiswa Papua di
25
3. P(EM)ANDANGAN TIDAK BERHELM DAN MAHASISWA PAPUA
Dari informasi dan temuan yang telah dihimpun dari bab II, kemudian
akan dipakai untuk menyajikan data-data berupa informasi dari hasil
observasi dan wawancara bada bab III. Pada bab III ini seluruh data akan
disajikan secara berurutan, mulai dari yang paling umum sampai yang
khusus. Sehingga ditemukan fakta-fakta yang akan digunakan sebagai alat
pembuktian sejauh mana pertanyaan pada rumusan masalah di bab I dapat
terjawab.
4. TIDAK BERHELM; REPRESENTASI RESISTENSI MAHASISWA
PAPUA DALAM RUANG PUBLIK KOTA YOGYAKARTA. Pada bab
IV, seluruh temuan fakta yang diperoleh dari hasil penyajian data dari bab
III kemudian dianalisa secara lebih mendalam. Pada bab IV inilah teori
resistensi Foucault akan dipakai untuk mendekati beberapa temuan terkait
persoalan penelitian ini. Dalam bab IV ini juga, akan disajikan berbagai
bentuk kesimpulan dasar.
5. PENUTUP. Bab V merupakan kesimpulan utama dari penelitian ini.
Dalam bab ini akan disajikan seluruh informasi yang merupakan hasil
26 BAB II
Mahasiswa Papua Dalam Bingkai Yogyakarta
Bab ini mula-mula mengetengahkan sejarah singkat kehadiran
orang-orang Papua di Yogyakarta. Kemudian diikuti dengan gambaran umum mengenai
mobilitas keseharian orang-orang Papua di Yogyakarta. Dari sana pembahasan
akan dititikberatkan pada; sejak kapan orang Papua secara berbondong-bondong
mulai hadir di Yogyakarta, motivasi kedatangan serta relasi dengan penduduk
lokal. Selanjutnya bab ini akan membahas konteks global kesejarahan orang
Papua dari perspektif pascakolonial serta dampak-dampaknya yang berhubungan
dengan penelitian ini. Pada bagian akhir bab II ini, akan disajikan sebuah
eksplorasi untuk memahami aspirasi yang melekat dalam diri orang Papua,
ditinjau dari perspektif ekonomi, budaya dan sosial politik orang Papua secara
umum. Tujuannya adalah untuk memberikan latar belakang yang memadai dalam
upaya mendekati persoalan Mahasiswa Papua tidak berhelm. Latar belakang ini
juga dimaksudkan untuk memberikan sebuah alur pemikiran yang berangkat dari
konteks besar kemajemukan di Yogyakarta, kehadiran orang Papua, dan
dampak-dampak yang ditimbulkan. Untuk menggali berbagai informasi dalam bab II, saya
menggunakan beberapa referensi, baik itu berupa buku, makalah, bahkan
informasi elektronik melalui situs-situs media berita, majalah berkala, artikel serta
beberapa informasi yang saya dapatkan melalui tanya jawab dengan tokoh yang
27 A. Sejarah Singkat Orang Papua di Yogyakarta
Saat ini tercatat kurang lebih 6.800 mahasiswa Papua yang tersebar
diseluruh pelosok kota Yogyakarta.1 Tidak diketahui secara pasti kapan
tepatnya tanggal dan bulan, orang Papua mulai hadir berduyun-duyun di
Yogyakarta. Tetapi melalui informasi lisan yang dituturkan beberapa tokoh
masyarakat Yogyakarta dan beberapa orang asli Papua yang tinggal di
Yogyakarta, kehadiran orang Papua dapat dilacak melalui terbentuknya
organisasi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Disinyalir melalui terbentuknya
AMP inilah pertama kali kehadiran orang Papua Yogyakarta secara kolektif
mulai disadari sebagai kelompok perantau yang datang dari Papua. AMP
pertama kali dibentuk oleh mahasiswa asal Papua yang berstudi di pulau Jawa
yaitu kota Daerah Prambanan Yogyakarta, selanjutnya organisasi ini
dideklarasikan dan atau didirikan pada tanggal 30 Mei 1998 di Jl. Guntur
Kawi, Manggarai, Jakarta Selatan2, dengan diketuai oleh Denianus Tari
Wanimbo, dan sekretaris Jenderal Hendrik Ronsumbre.
Argumen lain yang memberi informasi sejak kapan orang Papua
hadir secara bersama-sama di Yogyakarta dituturkan oleh Nikolaus Kondomo
(narasumber 2), seorang tokoh masyarakat asli Papua yang telah lama
berdomisili di Yogyakarta;
“kalau saya berpikir mereka (orang Papua) datang ke Jogja itu untuk belajar. Itu sudah sejak lama. Sewaktu saya datang tahun 2004, orang Papua sudah banyak di Jogja. Dulu kan pemerintah Papua menggalakkan program peningkatan SDM kira-kira tahun sembilan sembilan (1999). Pemerintah beri beasiswa besar-besaran
1
Melalui wawancara dengan Kepala Bidang Pendidikan Tinggi, Hans Hamadi, S.sos. Pada tanggal 18 Juni 2015
2
http://ampjogja.blogspot.co.id/2012/05/gerakanperlawananmahasiswapapua.html (diakses 3 Agustus 2015)
28
kepada anak-anak Papua. mereka diutus ke beberapa daerah di Indonesia. Salah satunya Yogyakarta..”
Menurut Nikolaus, kehadiran orang-orang Papua di Yogyakarta
tidak lain karena tujuan utama untuk memperoleh pendidikan. Selain itu
menurutnya banyak anak-anak Papua yang memang memiliki inisiatif sendiri
untuk datang ke Yogyakarta bersekolah dengan biaya sendiri tanpa beasiswa
dari pemerintah. Sekitar tahun 1999 atau sesudah reformasi, terjadi migrasi
besar-besaran anak-anak Papua ke Yogyakarta sebagai dampak dari program
peningkatan SDM pemerintah Papua. Saat itu banyak sekali anak-anak
Papua, baik itu tamatan SMA, maupun tamatan S1 dikirim dan dibeasiswakan
dibeberapa perguruan tinggi di Yogyakarta, ada yang melanjutkan ke S1 dan
ada juga yang melanjutkan S2. Anak-anak Papua yang datang ke Yogyakarta
berasal dari berbagai kota dan kabupaten di Papua.
Melalui diskusi dengan ketua Aliansi Mahasiswa Papua, Aris Yeimo
(narasumber 3), saya menelusuri beberapa informasi tentang awal mula
hadirnya mahasiswa Papua di Yogyakarta.
“mahasiswa Papua itu mulai banyak sekitar tahun sembilan puluh sampai dua ribu. Kebanyakan masuk di UGM dan beberapa universitas swasta…Asrama mahasiswa juga tambah banyak karna pemerintah sudah mau peduli…Beasiswa dari Freeport dan LSM-LSM pemerintah dan swasta… pokoknya banyak yang memfasilitasi waktu itu”
Menurutnya, kehadiran mereka tentu saja difasilitasi oleh pemerintah
Papua sendiri. Selain pemerintah, ada juga bantuan pendidikan yang
diberikan oleh lembaga-lembaga swasta, lembaga pemerintah, dan PT.
29
masalah tempat tinggal mejadi salah satu tantangan yang dihadapi mahasiswa
Papua. Inisiatif untuk membangun asrama-asrama mahasiswa Papua oleh
pemerintah Papua telah terlaksana tetapi butuh waktu yang lama hingga
bangunan-bangunan tersebut rampung. Oleh karena itu, sebagai salah satu
pemecahan masalah tempat tinggal, pemerintah menyewa rumah-rumah
masyarakat untuk dijadikan asrama mahasiswa Papua sementara. Memasuki
tahun 2001, oleh karena semakin banyaknya jumlah mahasiswa Papua,
asrama-asrama sewaan sudah tidak dapat lagi menampung mereka.
Satu-satunya alternatif bagi mahasiswa Papua yang tidak kebagian tempat adalah
dengan tinggal dikontrakan dan kos-kosan yang disewakan oleh warga lokal.
Hadirnya mereka dalam lingkungan masyarakat lokal secara otomatis
membawa mereka berbaur dalam lingkungan masyarakat.
Seorang teman asli Yogyakarta yang cukup lama saya kenal
(informan) bercerita bagaimana orang Papua yang bekuliah di Yogyakarta
sudah ada sejak ia berada dikelas 5 (lima) sekolah dasar tepatnya tahun 1998.
Lebih jauh ia bercerita tentang pengalamannya ketika pertama kali bertemu
dan berkenalan dengan seorang mahasiswa Papua yang kebetulan satu gereja
dengannya. Perkenalan mereka terjadi ketika dibentuknya sebuah tim koor
paduan suara pada sebuah gereja Katolik di Yogyakarta. Teman saya dan
teman Papuanya menjadi salah satu anggota dalam tim koor dalam rangka
persiapan natal. Teman Papuanya bercerita bagaimana ia hadir di Yogyakarta
untuk berkuliah karena mendapat beasiswa oleh pemerintah kabupaten
Jayapura. Sekitar tahun 2001, beberapa asrama mahasiswa Papua yang
30
Jayapura telah penuh, sehingga ia terpaksa tinggal sementara pada sebuah
asrama Katholik. Selang beberapa bulan, sebuah asrama yang dibangun oleh
pemerintah kabupaten Jayapura telah rampung dan ia segera pindah ke
asrama buatan pemerintah Papua tersebut. Menurutnya, jika ada seorang
mahasiswa Papua yang tidak terdaftar dalam sebuah asrama Papua, maka
bantuan dana pendidikan berupa beasiswa akan dihentikan. Kebijakan ini
tentu saja menjadi pergumulan bagi mahasiswa Papua yang tidak kebagian
tempat dalam asrama yang sudah penuh. Sedapat mungkin mereka mesti
berusaha tinggal ber ‘sempit-sempitan’ dalam satu kamar asrama. Satu kamar
yang lazimnya hanya dapat diisi oleh 2 orang mahasiswa, berubah menjadi
sebuah kamar pengap dengan 5 (lima) orang penghuni, bahkan ada beberapa
ruang bukan kamar dalam asrama tersebut, seperti ruang tamu dan dapur
terpaksa diberi alas tikar atau kasur dan dijadikan kamar tidur sementara.
Keharusan untuk tinggal di asrama-asrama pemerintah Papua
merupakan salah satu persyaratan agar beasiswa yang diberikan tetap terus
mengalir. Pemerintah Papua menggulirkan sebuah peraturan bagi seluruh
mahasiswa Papua yang bersekolah keluar Papua, agar tinggal pada
asrama-asrama mahasiswa yang telah disediakan. Peraturan tersebut pada mulanya
bagi saya tidak memilki alasan yang mendasar dan tidak berpihak kepada
kebebasan mahasiswa Papua untuk tinggal dalam lingkungan heterogen.
Malahan peraturan tersebut seolah memperlakukan mahasiswa Papua secara
diskriminatif. Mereka menjadi eksklusif, terbatas dan seolah dipaksa untuk
31
Melalui wawancara dengan seorang mantan ketua asrama mahasiswa
yang kini telah menetap dan menjadi warga tetap Yogyakarta, saya
mendapatkan informasi bahwa kebijakan pemerintah Papua melalui rapat
pimpinan DPR komisi D Provinsi Papua beserta jajaran Dinas Pendidikan
Provinsi Papua tanggal 21 April 20013 mengenai kewajiban anak-anak Papua
tinggal di asrama punya alasan khusus. Menurutnya, masa setelah reformasi
yang banyak menyebabkan persoalan hingga konflik di beberapa daerah di
Indonesia, ternyata menyisakan persoalan hingga ke Papua. Kebebasan
demokrasi pasca reformasi yang diatur dalam undang undang4, ternyata
disalah mengerti oleh kelompok-kelompok separatis di Papua untuk berjuang
memisahkan diri dari Indonesia. Dampak dari persoalan itu, terjadi konflik
separatis diberbagai kabupaten di Papua5 dan suhu politik serta keamanan di
Papua menjadi memanas. Tidak sedikit pemuda-pemuda Papua yang
merupakan mahasiswa terlibat dalam kasus-kasus tersebut. Untuk
menghindari persoalan-persoalan serupa terjadi di daerah perantauan di mana
terdapat mahasiswa Papua, maka peraturan tersebut diberlakukan.
Berdasarkan wawancara dengan Aris Yeimo, sekitar tahun 2003
setelah Pemerintah Daerah Provinsi Papua menyediakan beberapa fasilitas
3
Melalui wawancara denean mantan Kakanwil Dinas Pendidikan Provinsi Pawua weriode 1999 2004, Drs, Ismu Handono taneeal 8 November 2015.
4
Reformasi yane berlanesune sejak tahun 1998 telah membawa Indonesia memasuki transisi dari Neeara denean sistem otoriter menuju Neeara yane demokratis. 4 (emwat) tahaw Perubahan UUD 1945 telah meletakkan landasan baei kehiduwan banesa yane menerawkan nilainilai dan wrinsiw demokrasi dalam Neeara Kesatuan Rewublik Indonesia berdasar ideoloei Neeara yaitu Pancasila. Reformasi tersebut wada dasarnya menuntut sistem wolitik checks and balances, suwremasi hukum, wenehormatan HAM, meneeaskan kebebasan berwendawat, serta kebebasan berkumwul dan berserikat. httw://www.leimena.ore/id/waee/v/532/kebebasanberserikatdanberkumwul secaradamaisertaimwlikasinya (diakses 24 Okt 2015)
5
Beberawa traeedi berbau sewaratis terjadi di beberawa kabuwaten di Pawua, sewerti kasus Biak berdarah (1998), Wamena berdarah (2000), Abewura Berdarah (2006), dan beberawa kasus lainnya.
32
asrama untuk mahasiswa Papua yang belajar di Yogyakarta, keterbatasan
daya tampung asrama tersebut tidak memungkinkan seluruh mahasiswa
Papua dapat tinggal di dalam asrama. Seperti contohnya sebuah asrama
mahasiswa yang terkenal paling lama di Yogyakarta, Asrama Mahasiswa
Papua Kamasan I, terletak di Jalan Kusuma Negara No. 119 Yogyakarta.
Daya tampung asrama yang berupa satu unit bangunan dengan 2 lantai
tersebut hanya mampu menampung sekitar 400 mahasiswa, sementara jumlah
mahasiswa Papua tiap tahunnya terus bertambah. Apalagi ketika Provinsi
Papua mengalami pemekaran wilayah yang dari semula hanya 9 (sembilan)
kabupaten kini menjadi 28 (dua puluh delapan) kabupaten6, setiap pemerintah
kabupaten di Papua terus menerus menggalakkan program pembiayaan
pendidikan (beasiswa) bagi mahasiswa Papua yang keluar daerah.
Terbatasnya daya tampung asrama mahasiswa Papua memaksa
pemerintah provinsi Papua melakukan berbagai cara untuk menanggulangi
persoalan tersebut. Salah satunya dengan merangkul pemerintah daerah dan
mengarahkan mereka untuk membangun asrama-asrama kabupaten di
beberapa daerah destinasi pendidikan di mana banyak terdapat mahasiswa
Papua. Pemerintah daerahpun segera menindaklanjuti arahan tersebut dan
mulai menyediakan asrama mahasiswa. Berbeda dengan
asrama-asrama provinsi yang merupakan bangunan khusus berbentuk asrama-asrama7 (lihat
6
Sejak tahun 1998 hineea 2013 Pawua menealami fraementasi menjadi dua wrovinsi yaitu Pawua dan Pawua Barat serta terjadi beberawa wemekaran wilayah yane semula hanya terdawat 9 kabuwaten menjadi 28 kabuwaten. (Kum Krinus 2013:1)
7
Baneunan asrama biasanya meruwakan sebuah baneunan denean kamarkamar yane dawat ditemwati oleh beberawa wenehuni di setiaw kamarnya. Asrama wada umumnya menyeruwai bentuk panopticon (baneunan berkeliline) Funesi panopticon dalam konteks asrama adalah aear setiaw wenehuni asrama mudah untuk diawasi.
33
gambar 1), asrama-asrama kabupaten yang terdapat di Yogyakarta
kebanyakan merupakan rumah-rumah sewaan berukuran besar (lihat gambar
2). Rumah-rumah sewaan tersebut direnovasi dengan ditambahkannya
beberapa ruang kamar. Renovasi tersebut biasanya melalui persetujuan
pemilik rumah, dan berdasarkan kesepakatan antar keduah belah pihak,
pemilik dan penyewa.
Gambar 1. Contoh Asrama Provinsi. (Asrama Mahasiswa Papua Kamasan 1)
https://www.academia.edu/6189363/Mahasiswa_dan_Panoptikon_di_Dunia_Kampus (diakses 24 Oktober 2015)
34 Gambar 2. Contoh Asrama Kabupaten (Asrama Biak)
Selain di Yogyakarta, penyediaan asrama-asrama mahasiswa Papua
juga dilakukan dibeberapa provinsi di mana terdapat banyak mahasiswa
Papua yang berstudi, seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, Manado, Malang
dan Makassar. Pola-pola penyediaan asrama di daerah-daerah tersebut juga
tidak jauh berbeda dengan pola yang terjadi di Yogyakarta, dimana selain
asrama provinsi (asrama utama) yang dibangun sendiri, pemerintah daerah
juga menyediakan asrama-asrama kabupaten tetapi biasanya berupa rumah
sewaan berukuran besar dan difungsikan sebagai asrama. Pola ini dilakukan
karena jumlah mahasiswa dari daerah (kabupaten) yang di tempatkan di
asrama kabupaten jauh lebih sedikit. Keharusan untuk tinggal diasrama
provinsi atau kabupaten, bergantung pada rekomendasi dan jenis beasiswa
35
dibeasiswakan dari provinsi, maka ia akan direkomendasikan tinggal di
asrama provinsi, demikian pula sebaliknya.
Dari penuturan beberapa alumni yang sempat saya wawancarai,
peraturan yang diberlakukan pemerintah Papua saat itu mengenai kewajiban
tinggal di asrama-asrama yang telah disediakan, tidak dilakukan sepenuhnya.
Terdapat tidak sedikit mahasiswa yang seolah ‘keras kepala’ dan berinisiatif
untuk keluar dari asrama. Menurut salah seorang kakak senior JW
(narasumber 4), seorang alumni UGM yang kini telah bekerja di Jayapura,
selama masa-masa ia berkuliah pada tahun 2002, ia dan beberapa teman
Papua memilih untuk keluar dari asrama dan tinggal di kos-kosan. Keputusan
ini dipilih karena mereka tidak ingin menjadi eksklusif dalam masyarakat,
dan bagi mereka keluar dari asrama akan membawa mereka memiliki
pengalaman bergaul yang lebih luas.
“kami saat itu bukannya keras kepala.. bagi kami tinggal di asrama sama saja kami hanya berkuliah di Jayapura (Papua).. untuk apa? bagi saya kuliah di Yogya merupakan kesempatan untuk membuka diri.. mencari pengalaman baru dengan orang-orang di Yogya.. belajar dari kemajuan mereka.. saya rasa peraturan pemerintah itu kurang bijak..”
Ketika teman saya tersebut memilih untuk keluar asrama, ia telah
memikirkan kemungkinan bahwa beasiswa yang akan diterimanya akan
dihentikan, tetapi kenyataannya selama 2 (dua) tahun sejak ia keluar dari
asrama, pemerintah terus mengirimkan uang beasiswa kepadanya. Fenomena
ini juga terjadi pada beberapa temannya yang lain, ternyata tidak sedikit
36
yang mungkin dicurigai diketahui oleh banyak mahasiswa Papua, sehingga
banyak dari mereka yang awalnya tinggal di asrama, mulai satu persatu
meninggalkan asrama dan tinggal di kos-kosan.
B. Tidak Berhelm, Mobilitas dan Keseharian
Dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari, terutama yang berkaitan
dengan kegiatan perkuliahan setiap hari, mahasiswa Papua dituntut untuk
mempunyai mobilitas yang tinggi termasuk perjalanan pulang pergi ke dan
dari universitas tempatnya belajar, kegiatan lain yang berhubungan dengan
keperluan belajarnya seperti pergi ke toko buku untuk membeli buku-buku
yang mereka butuhkan, dan kegiatan yang berkaitan dengan kebutuhan sosial
seperti saling berkunjung ke tempat teman-temannya baik sesama pendatang
dari Papua maupun teman-teman dari daerah lain.
Dalam menjalankan aktivitas kegiatannya sehari-hari termasuk pulang
dan pergi ke perguruan tinggi tempat mereka belajar, mahasiswa Papua tentu
memerlukan sarana transportasi. Salah satu sarana transportasi yang banyak
dijadikan pilihan oleh para mahasiswa Papua adalah sepeda motor sehingga
banyak dari para mahasiswa tersebut yang mengusahakan sepeda motor baik
dengan menyewa maupun membeli untuk kelancaran kegiatan mereka
sehari-hari. Seperti tuturan seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta
berikut:
“Saya beli motor dari tempat jualan motor bekas... Saya pakai motor itu kalau pergi kuliah atau ke tempat teman-teman, soalnya kalau naik bis atau ojek kan lebih mahal. kalau tidak ada motor susah..di sini 3 (tiga) juta saja sudah bisa dapat motor bekas yang masih bagus.. kaka coba
37
bayangkan kalau selama kuliah tidak ada motor.. pasti kan biaya hidup tambah mahal” (SY Narasumber 5)
Beberapa narasumber lain memberikan keterangan tidak jauh berbeda
dengan apa yang disampaikan oleh Narasumber 5. Kebanyakan mereka
memang menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi mereka untuk
pergi ke kampus mengikuti perkuliahan. Di sisi lain, perilaku berkendara
mahasiswa Papua tersebut kurang begitu tertib dan taat aturan, seperti
kurangnya penggunaan helm saat berkendara. Helm sebagai salah satu
perangkat keamanan bagi pengendara sepeda motor sampai saat ini masih
belum dianggap sebagai suatu kebutuhan. Mengenakan helm pada saat
mengendarai sepeda motor dengan demikian masih dianggap sebagai suatu
kewajiban semata untuk memenuhi aturan yang berlaku agar terhindar dari
risiko terkena tilang. Dengan kata lain, kebanyakan orang memakai helm
hanya karen takut ditilang polisi. Fenomena ini terjadi hampir di semua
kalangan masyarakat, tidak memandang latar belakang suku maupun
kedaerahan.
Terlepas dari alasan keamanan bagi pengendara sepeda motor itu
sendiri, aturan memakai helm bagi pengendara sepeda motor memiliki dasar
hukum yang jelas, yaitu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun
1999 tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan. Berdasarkan atas aturan
tersebut, maka perilaku tidak memakai helm yang dilakukan oleh pengendara
sepeda motor dapat dikategorikan sebagai perilaku melanggar aturan
lalulintas dan dapat dikenai sanksi pidana. Bentuk tindakan terhadap perilaku