BAB IV TIDAK BERHELM; REPRESENTASI RESISTENSI MAHASISWA
B. Papua Dan Poskolonialitas
Dalam perspektif poskolonial, persoalan yang terjadi di Papua pada
masa pemerintahan Soeharto merupakan apa yang diistilahkan oleh Leela
Gandhi (1998) sebagai suatu “new colonialism” (penjajahan baru).14 Setelah
kerajaan Belanda menduduki Papua15 kurang lebih 25 tahun (1937-1962)
sebelum dan sesudah perang dunia II, kerajaan Belanda yang saat itu tengah
mempersiapkan sebuah kemerdekaan bagi orang Papua menjadi kandas oleh
karena beberapa usaha aneksasi yang diwacanakan Sukarno (1942) dan
selanjutnya diterapkan oleh Suharto (1962).
P.J Drooglever menulis bahwa diawal tahun 1940-an (setelah
perang dunia II), kerajaan Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal
Van Echoud sedang mempersiapkan orang Papua dari segi ilmu
pemerintahan, militer, dan keagamaan – agar dikemudian hari mereka dapat
menentukan nasib mereka sendiri.16
“Wilayah Papua bergabung, atau menurut orang Papua “dipaksakan” bergabung, ke dalam Negara Indonesia setelah 24 tahun lamanya Indonesia merdeka. Satu hal yang harus diketahui yaitu, dalam 24 tahun tersebut kerajaan Belanda telah, dan sudah mempersiapkan sebuah “kemerdekaan” bagi rakyat Papua. Belanda berharap
14
Laela Ghandi. Hal. 143
15
Di akhir perang dunia II, kolonialisasi dikecam keras oleh PBB. Dan setiap negara di dunia diminta melepaskan daerah jajahan tersebut. Pada saat itu, Papua merupakan daerah jajahan Hindia Belanda, yang struktur pemerintahannya langsung berada di bawah kerajaan Ratu Belanda. Suryawan. Hal. 5
1S
99
orang Papua akan menentukan nasib mereka sendiri dikemudian hari.”17
Motivasi pemerintah Indonesia saat itu tidak lain merupakan usaha
mengklaim Papua sebagai bagian dari wilayahnya dengan direkayasanya
PEPERA18. Pemerintahan orde baru (Suharto) tidak hanya melanggengkan
suatu bentuk imperialisme saja dengan rencana-rencana mengeruk kekayaan
alam Papua, tetapi juga berambisi menduduki Papua dan secara sadar
melakukan suatu bentuk kolonialisme.
Relasi kekuasaan antara pemerintah orde baru (pemerintah
Indonesia) dan orang Papua yang saat itu sedang berusaha menentukan
identitas nasionalnya, menghasilkan berbagai wacana baru. Tidak hanya
pemerintah Indonesia, para pejuang nasional Papua19 yang paham akan
persoalan tipu muslihat PEPERA, secara bersama-sama menciptakan
berbagai usaha untuk membela diri di depan dewan internasional (PBB). Para
pejuang Papua tidak berhenti menyuarakan bentuk aspirasi dan berbagai
usaha (yudisial dan non-yudisial)20, sedangkan pemerintah Indonesia di depan
ranah internasional menunjukkan beberapa ‘itikad baik’ untuk mengambil
alih Papua serta berjanji mensejahterakannya. Apalagi saat itu, pemerintahan
Indonesia telah memegang sebuah ‘kunci ajaib’ (putusan PEPERA) yang oleh
PBB telah dianggap sah.
Upaya pemerintah Indonesia mengambil alih Papua merupakan
sebuah upaya pengambilalihan secara paksa. Tentu saja tindakan ini ditentang
17
Oktovianus Pogau dalam Suryawan. Hal. 5
18
Lihat Dualisme Narasi Sejarah Papua
19
Merupakan kelompok pejuang kemerdekaan Papua, mereka merupakan kelompok masyarakat asli yang tidak menerima begitu saja hasil kesepakatan PEPERA. Suryawan. Hal 4
100
oleh dewan PBB. Maka sebagai upaya menutupi tindakan ilegal tersebut,
pemerintah Indonesia menggulirakan berbagai macam wacana, salah satunya
adalah - yang oleh Leela Ghandi disebut sebagai civilising mission (misi
pemberadaban)21. Misi pemberadaban yang saat itu dikenal sebagai ‘Program
Pensejahteraan” merupakan suatu usaha pengalihan perhatian terhadap semua
bentuk kolonialisme yang dilakukan pemerintah Indonesia.
Pada era poskolonial banyak tulisan-tulisan yang mengkritik
tindakan bangsa Eropa yang seolah telah memperadabkan bangsa Timur,
bangsa yang katanya perlu diperadabkan. Leela Gandhi dalam tulisannya
tentang Ilmu Kemanusiaan Baru, mendeskripsikan bentuk-bentuk tulisan para
cendikia poskolonial yang bernafaskan kritik politik. Beberapa tulisan-tulisan
itu tampak sedikit “malu-malu” dan terkesan bersembunyi di balik
karya-karya sastra, tetapi tidak sedikit yang secara terang-terangan membongkar aib
para pelaku kolonial. Tulisan-tulisan itu merupakan “suara” para simpatisan
poskolonial seperti misalnya Edward Said dan orientalisme-nya, Gayatri
Spivak dan teori hibriditasnya, Frans Fanon dan ‘curhatannya’ tentang politik
warna kulit dan masih banyak simpatisan lainnya yang memang peduli
terhadap hak-hak bangsa terjajah, bahkan tidak sedikit mereka adalah rakyat
jelata yang menjadi korban kolonialisme itu sendiri.
Wacana (bahkan hingga implementasi) tentang misi pemberadaban
atau sering dikenal sebagai “pendidikan modern” telah diprakarsai sejak lama
oleh kerajaan Belanda (selanjutnya Amerika dan Australia)22 melalui zending
protestan dan misi Katolik Roma. Masyarakat Papua yang konon telah
21
Leela Ghandi. Hal. 144
22
101
terlebih dahulu menjadi Kristen lewat perjuangan penginjilan Carl Ottow dan
Johan Geissler pada tahun 1855 menerima dengan sukacita agama tersebut,
dan terus menjalar ke seluruh pelosok di Papua. Ottow dan Geissler yang
mendarat pertama kali di pulau Mansinam (selatan Manokwari), terpaksa
bertindak sebagai pedagang sebagai pendekatan yang cukup ampuh terhadap
penduduk pribumi. Dua puluh tahun kemudian tepatnya pada 1882, seorang
misionaris, pater Yesuit Le Cocq d’Armandville, mendirikan sebuah pos misi
Katolik-Roma di Tual, ibukota kepulauan Kei. Ia dikatakan bekerja dengan
“penuh semangat petualangan”, bahkan menurut berita ia telah
“mempermandikan”23 64 (enam pulih empat) penduduk pribumi menjadi
Katolik dalam selang hanya beberapa hari. Tetapi beberapa tahun kemudian
ia meninggal dunia dengan isu pembunuhan saat hendak melebarkan sayap
misi ke daerah Fak-Fak (daerah yang lebih dahulu telah menjadi Islam)24 Saat
itu banyak sekali wujud yang kelihatan dari usaha para zendeling25 dan misionaris dengan terbangunnya berbagai organisasi kegerejaan seperti
Gereja Kristen Injili (GKI) di bawah payung Nederlanse Hervormde Kerk,
Gereja Protestan Hindia Belanda yang disingkat Gereja Hindia di bawah
payung Indische Kerk, dan GIDI (Gereja Injili di Indonesia) yang merupakan
gereja lokal bentukan pemerintahan Belanda dan bertahan hingga kini, serta
23
Permandian juga sama artinya dengan sakramen Pembabtisan (dengan air) yang terdapat dalam ritual keagamaan Kristen dan Katolik. Bermakna sebagai proses kelahiran kembali. https://id.wikipedia.org/wiki/Sakramen_%28Katolik%29#Pembaptisan (diakses 24 Okt 2015)
24
Dari sumbersumber Barat diperoleh catatan bahwa pada abad ke XVI sejumlah daerah di Papua bagian barat, yakni wilayahwilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati tunduk kepada kekuasaan Sultan Bacan di Maluku. Berdasarkan cerita populer dari masyarakat Islam Sorong dan Fakfak, agama Islam masuk di Papua sekitar abad ke 15 yang dilalui oleh pedagang– pedagang muslim. Perdagangan antara lain dilakukan oleh para pedagang–pedagang suku Bugis melalui Banda (Maluku Tengah) dan oleh para pedagang Arab dari Ambon yang melalui Seram Timur. https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Papua (diakses 24 Okt 2015)
101
yang tak kalah besarnya yaitu Gereja Serikat Hati Kudus, di bawah payung
Gereja Katolik Roma.
Seluruh niat yang tampak dari kegiatan zending dan misi di Papua
saat itu tak lain merupakan sebuah usaha yang bermuara pada
“diperadabkannya orang Papua yang terbelakang”26. Kesimpulan semacam
ini selalu muncul karena alasan yang begitu konkrit dan sangat terlihat. Tidak
dapat dipungkiri kondisi orang Papua saat itu yang memang lebih ketinggalan
ketimbang daerah lain di Indonesia. Misi pemberadaban yang semula
bernafaskan agama, berkembang menjadi pola-pola baru yang sekalian
memperadabkan tidak hanya soal agama, tetapi juga pendidikan dan
pengetahuan akan moral, etika hingga idealimse Barat. Pola-pola itu mudah
sekali terlihat dari beberapa “monumen-monumen”27 yang terus terwariskan
hingga kini.
“Orang tidak berhenti sampai di situ! Satu momen penting adalah didirikannya sebuah sekolah guru (kweekschool) untuk generasi muda Papua, yang pada tahun 1924 ditempatkan di Miei dan berkembang di situ di bawah pemerintahan guru yang penuh energi dan kompeten I.S. Kijne. Tiap tahun beberapa ratus pemuda Papua menikmati pendidikan lanjutan ini, di mana diletakkan benih bagi pertumbuhan satu elite, yang dapat melihat jauh melampaui batas-batas suku. Dengan demikian, sudah di tahun-tahun sebelum Perang Dunia orang-orang Papua pertama berpartisipasi aktif di dalam karya pendidikan dan evangelisasi/penginjilan.”28
Dari kutipan di atas, saya menggarisbawahi beberapa hal. Pertama,
pendidikan dan pengetahun diartikan sebagai suatu produk untuk
mencerdaskan. Produk dalam konteks ini lebih merupakan sesuatu yang
16
Ibid. Hal. 341
17 Monumen berupa bangunan, lembaga, organisasi, hingga ideologi. Ibid. Hal. 55 18
103
tampaknya lebih pantas dinikmati (enjoying) ketimbang dimiliki (own).
Mereka menganggap sekolah-sekolah yang mereka hadirkan menjadi sesuatu
yang memberikan hiburan tersendiri bagi orang Papua, yang boleh jadi bukan
merupakan apa yang mereka butuhkan. Kedua, pendidikan dan pengetahuan
di Papua dihadirkan untuk membentuk satu elite atau kelompok yang
berderajat tinggi. Dalam pengertian ini, pemuda-pemuda Papua diibaratkan
sebagai benih yang dipersiapkan untuk terciptanya suatu generasi yang seolah
lebih berderajat ketimbang sebelumnya. Ketiga, melalui pendidikan dan
pengetahuan konsep tentang suku-suku menjadi sangat terbatas. Pemahaman
tentang suku dari perspektif barat selalu dianalogikan sebagai ‘keprimitifan’.
Mereka, para pemuda Papua seoalah sedang dibawa keluar dari batas-batas
suku yang selama ini dianggap mengikat mereka.
Orang Papua dianggap perlu untuk dicerdaskan, orang Papua
dianggap perlu untuk dididik, orang Papua dianggap perlu untuk diberi
pengetahuan moral, orang Papua perlu untuk di “manusiakan”. Mungkinkah
mereka beranggapan jika sebelumnya orang Papua tidak cerdas, tidak
terdidik, tidak bermoral, sehingga mereka perlu di “manusiakan”. Pertanyaan
semacam ini dapat dipakai untuk membongkar berbagai pandangan yang
selama ini tidak pernah disadari oleh orang Papua terhadap fakta semacam
itu. Realitas dan eksistensi kolonialisme selalu bersembunyi dalam
pemahaman tentang Eropa (barat) yang superior. Mereka merasa perlu untuk
“memajukan” manusia lain.
Gagasan mengenai misi pemberadaban mula-mula diwacanakan di
104
umum. Saat itu bangsa Eropa merasa perlu untuk “memajukan” manusia lain.
Mereka merasa mesti keluar membawa tugas untuk memperadabkan
bangsa-bangsa lain sesuai standar Eropa. Satu alasan berkedok moral yang
dilanggengkan para penguasa kolonial adalah untuk memberadabkan
bangsa-bangsa yang belum beradab. Banyak disinyalir oleh para pemerhati
poskolonial, bahwa fokus dari proyek moral yang digencarkan bangsa Eropa
adalah untuk memerangi budaya keterbelakangan moral dan sifat primitif
yang dimiliki bangsa-bangsa timur. Itulah sebabnya dalam bukunya tentang
Orientalisme, Edward Said memberikan tawaran sudut pandang yang berbeda
kepada dunia untuk meneropong kehidupan di Timur. Segala pernak-pernik
budaya milik bangsa timur – yang meskipun dimata Eropa saat itu berbau
irasional, direpresentasikan oleh Said sebagai suatu Orientalisme.
Pada tahun 1950-an tepatnya di kabupaten Jayawijaya, para
misionaris Belanda mengkampanyekan penggunaan celana pendek bagi kaum
laki-laki pribumi yang masih menggunakan koteka29. Ketelanjangan yang
merupakan salah satu tradisi masyarakat suku Dani di Lembah Baliem30
dianggap merupakan tradisi primitif yang perlu moderenkan. Pada saat itu
beberapa kebudayaan asli suku Dani merupakan kebudayaan yang bagi
misionaris Belanda terkesan sangat primitif. Pandangan itu dicirikan dengan
habitus budaya seperti perang suku, ketelanjangan, kekotoran, budaya potong
19
Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan lakilaki dalam budaya sebagian penduduk asli pedalaman Papua. Koteka terbuat dari kulit labu air, Lagenaria siceraria. Isi dan biji labu tua dikeluarkan dan kulitnya dijemur. Secara harfiah, kata ini bermakna "pakaian", berasal dari bahasa salah satu suku di Paniai. Sebagian suku pegunungan Jayawijaya menyebutnya Holim atau Horim. https://id.wikipedia.org/wiki/Koteka (diakses 15 Okt 1015)
30
Salah satu julukan untuk kabupaten Jayawijaya, karena daerah itu berbentuk lembah yang dikelilingi gugusan gununggunung tertinggi di Indonesia.
105
jari31 dan beberapa tradisi lainnya yang oleh misionaris Belanda dianggap
“irasional” dan “amoral”.
Pada tahun 1964 jauh setelah Belanda meninggalkan Papua,
Indonesia melalui gubernur Papua Frans Kaisepo, menggalakkan kembali
kampanye ‘celana’ yang sebelumnya telah diprakarsai oleh pemerintah
Belanda. Kampanye celana saat itu sangat dikenal dengan sebutan “operasi
koteka”. Melalui operasi tersebut, sebagian diantara kaum laki-laki pribumi
telah meninggalkan koteka dan mulai mengenakan celana. Sementara
sebagian kaum laki-laki tetap memilih menggunakan koteka karena beberapa
hal. Lelaki suku Dani menganggap celana sebagai pakaian yang sangat
merepotkan, karena berbeda dengan koteka yang mudah dibersihkan, celana
perlu dicuci ketika kotor atau ketika mulai berbau. Apalagi ketika keharusan
menggunakan sabun mulai diperkenalkan di daerah itu. Keterbatasan produk
sabun membuat kebanyakan lelaki suku Dani enggan mencuci celana mereka.
Hal ini membuat sebagian mereka terjangkit penyakit kulit, hingga mereka
meninggalkan celana dan kembali menggunakan koteka.
Dari kisah di atas, saya jadi teringat dengan pengalaman pribadi
saya pada tahun 2003 silam. Saat itu saya terlibat dalam sebuah panitia natal
gereja lokal di Wamena32. Salah satu program natal saat itu adalah untuk
mengunjungi masyarakat di kampung Mbua distrik Napua, Wamena Barat.
Kampung itu dijuluki “belantara” oleh karena lokasinya yang sangat terpencil
31
Salah satu tradisi pengorbanan diri untuk menunjukkan rasa dukacita yang mendalam oleh keluarga atau orangorang yang ditinggal mati terlebih khusus wanita. Mereka akan memotong jarinya sendiri atau meminta bantuan orang lain. Muller Kal. Highlands of Papua. Newyork: DW Books. 1009. Hal. 71
31
Gereja Pantekosta Di Indonesia (GPdI) yang kemudian berubah menjadi Gereja Pantekosta di Papua (GPiP) hadir sejak tahun 1981 dan berubah keorganisasian pada tahun 1001.
106
dan jarang dikunjungi pemerintah. Hampir sebagian besar kaum laki-laki di
kampung itu masih menggunakan koteka, sementara kaum perempuan hanya
menggunakan Sali33 tanpa ada penutup payudara seperti kutang. Salah satu tujuan kami ke kampung tersebut adalah untuk membawa pakaian bekas
dengan harapan mereka dapat belajar menggunakan pakaian. Saya ingat
persis pada hari dimana kami melakukan semacam upacara pertukaran
pakaian dan koteka secara simbolis. Makna dari upacara tersebut adalah
membangun komitmen para masyarakat untuk meninggalkan koteka dan
beralih kepada pakaian. Siang itu, 10 (sepuluh) orang laki-laki dan 10
(sepuluh) orang perempuan berdiri mewakili seluruh masyarakat yang ada di
kampung Mbua untuk menerima pakaian bekas yang kami bawa. Para
laki-laki diminta melepas koteka mereka dan seorang pendeta kami memakaikan
celana kepada kesepuluh perwakilan masyarakat laki-laki, sementara ibu
pendeta memakaikan kutang kepada kesepuluh perwakilan masyarakat
perempuan. Hal ini diharapkan menjadi contoh bagi seluruh masyarakat di
kampung Mbua agar mulai memakai pakaian. Upacara tersebut tampak
sangat lucu dan menggelitik bagi sebagian kami. Oleh karena posisi upacara
tersebut berada pada batas antara telanjang yang memalukan bagi kami dan
telanjang yang biasa bagi masyarakat Mbua. Ketika malam hari tiba,
keduapuluh orang tadi masih terlihat menggunakan pakaian yang telah
dipakaikan kepada mereka. Tetapi ternyata itu tidak bertahan sampai
keesokan harinya. Pagi hari ketika kami bangun dari tidur, beberapa (bahkan
33
Sali merupakan pakaian adat suku Dani berbentuk rok. Pakaian ini terbuat dari rumbairumbai salah satu tumbuhan rawa yang dipipihkan dan dikeringkan. Pakaian ini hanya menutupi mulai dari pinggang hingga ke lutut, atau pakaian ini difungsikan untuk menutup wagian kemaluan wanita. Ibid. Hal. 71
101
hampir semua) dari keduapuluh orang tadi kembali menggunakan koteka dan
yang perempuan kembali bertelanjang dada. Ketika kami bertanya mengapa
mereka tidak memakai pakaian yang kami berikan, mereka ada yang
menjawab bahwa pakaian itu terasa aneh ditubuh mereka dan membuat
mereka tidak dapat tidur semalaman. Selain itu, mereka juga beralasan tidak
memiliki uang untuk membeli sabun di kota dimana pakaian tersebut sayang
jika tidak dicuci.
Suatu ketika saat masih di SMA, saya pernah mengobrol dengan
beberapa teman Papua yang datang dari pedalaman. Mereka bercerita
bagaimana orang-orang dikampung enggan menggunakan pakaian karena
pakaian sangat merepotkan. Sebenarnya mereka sudah memahami makna dan
fungsi pakaian untuk menutup kemaluan dan menghangatkan tubuh34, tetapi
oleh karena pakaian jika lama tidak dicuci akan menimbulkan bau tak sedap.
Dari obrolan ini saya memahami bahwa sebenarnya pandangan tentang orang
Papua yang “bau”, merupakan hal yang sangat disadari oleh mereka. Mereka,
orang-orang dikampung sangat paham bahwa mempunyai pakaian maka
wajib pula mempunyai sabun untuk mencucinya.
Dari konteks di atas, saya hendak kembali kepada gagasan tentang
standar “Eropa” yang diwacanakan kaum kolonial. Kekotoran, ketelanjangan,
irasional, amoral merupakan elemen-elemen khas kelompok atau bangsa
primitif yang patut peradabkan. Kees Van Dijk (2011) dalam bukunya
Cleanliness Culture and Indonesian History, membahas sebuah kontroversi
mengenai standar kebersihan bangsa Eropa yang katanya perlu ditiru oleh
34
Wamena merupakan kabupaten dengan suhu sangat dingin, biasanya mencapai 14 derajat Celsius. https://id.wikipedia.org/wiki/Wamena,_Jayawijaya (diakses 16 Oktober 2015)
108
bangsa-bangsa lain. Standar berkulit putih merupakan bentuk diskriminasi
rasial terhadap orang-orang berkulit hitam seperti di Afrika, Asia dan
negara-negara Timur lainnya. Di sana, ia mendokumentasikan iklan produk-produk
pemutih kulit di Eropa sejak produk tersebut ditemukan dan mulai
diperkenalkan pada pertengahan abad 19.
Vissia Ita Yulianto dalam bukunya Pesona Barat; Analisis
Kritis-Historis Tentang Kesadaran Warna Kulit di Indonesia, mempersoalkan
bagaimana kolonialisme secara historis berhasil menciptakan produk kultural
yang melahirkan konsensus sosial mahadasyat atas warna kulit di dunia
(2007:1). Buku ini mengkaji sebuah sikap ambivalensi masyarakat bangsa
timur, khususnya Indonesia yang secara sadar mengagumi sosok
kebertubuhan yang berciri kulit putih atau terang, yang dimiliki
bangsa-bangsa barat yang notabene merupakan pelaku kolonial, tetapi di sisi yang
berbeda memiliki pandangan sinis terhadap perilaku kolonialisme itu sendiri.
Dalam kajiannya, buku ini mempersoalkan ‘keharusan’ budaya kulit putih
yang melanda kaum perempuan di Indonesia. Sikap mengagumi tersebut
lambat laun menciptakan keinginan atau hasrat untuk menjadi perempuan
yang putih, yang katanya lebih cantik dan populer.
Sebuah puisi berjudul The White Man’s Burden karya Rudyard
Kipling (1899)35 menunjukkan secara gamblang motivasi orang-orang Eropa
yang sangat antusias memperkenalkan peradaban mereka yang lebih maju dan
lebih bermoral. Orang-orang Afrika dan sebagian orang-orang di Asia yang
cenderung berkulit gelap diasosiasikan dari perspektif kolonial sebagai
35
109
kelompok yang bukan atau belum menjadi Eropa. Tidak heran mengapa Frans
Fanon (1967:83) dalam bukunya yang terkenal “Black Skin, White Mask”
mengkritik wacana perbedaan warna kulit sebagai dasar menentukan tingkat
peradaban seseorang. Ia yang seorang kulit hitam ketika hadir di Perancis
dengan mayoritas orang Eropa berkulit putih merasa sangat terdiskriminasi.
Ia hanya dipandang sebagai “berkulit hitam”. Mirip halnya dengan
orang-orang Papua yang bercirikan kulit hitam, seolah tampak merupakan kelompok
masyarakat yang seolah “derajatnya lebih rendah” dan oleh pemerintah
Indonesia dianggap perlu untuk diperadabkan.
Membincangkan tentang “kemerdekaan” Papua, paling tidak terdapat
dua kejadian yang tidak dapat diabaikan, yaitu pendudukan oleh Belanda dan
upaya pengintegrasian oleh Indonesia. Realitas itu dapat dilihat dari sengketa
memperebutkan Papua antara Belanda dengan Indonesia. Kehadiran Belanda di
Papua disertai dengan upaya untuk melakukan pemaksaan terhadap orang asli
Papua untuk memahami, menghayati dan menyebarkan pandangan (ideologi)
mereka ke seluruh pelosok tanah Papua. Bangsa eropa pada masa itu mempunyai
tiga misi untuk menguasai dunia yaitu penjajahan, ekonomi, mengajarkan ajaran
agama (Slemet Mudjiana, 2008).
Berkaitan dengan tiga misi itu, yang paling populer sepanjang zaman
adalah mengajarkan ajaran Agama (Kristen maupun Katolik). Penyebaran
ideologi (agama) di Papua, menyadarkan masyarakat pribumi. Ini meruapakan
tradisi atau kebiasaan orang Eropa, menyebarkan ke seluruh dunia. Dampak dari
penyebaran agama di papua, bisa mengenal dunia luar. Selain itu, kebiasaan
110
sekian kelebihan dan kekurangannya juga telah memperkenalkan agama Kristen
(Gereja Injili di Indonesia-GIDI) yang merupakan agama yang baru bagi orang
Papua.
Demikian juga kehadiran Indonesia di Tanah Papua. Bangsa Indonesia
menguasai bangsa Papua Barat melalui berbagai cara antara lain dengan mengirim
ribuan transmigran dengan berbagai tujuan. Para transmigran sebagai orang lain
baru bagi orang Papua juga tidak kalah pengaruhnya dalam menggerus budaya
orang Papua. Kehadiran transmigran bagi Orang Papua bukan hanya membuka
ruang isolasi, tapi juga telah mendistorsi adat istiadat dan kebudayaan orang
Papua36