• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : LANDASAN TEORI

B. Mahasiswa Pecandu NAPZA

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mahasiswa didefinisikan sebagai orang yang belajar di perguruan tinggi. Direktorat Kemahasiswaan Ditjen Perguruan Tinggi dan Departemen P & K (dalam Sarwono, dkk, 1991)

mendefinisikan mahasiswa sebagai golongan pemuda (usia 18 – 30 tahun) yang secara resmi terdaftar pada salah satu Perguruan Tinggi dan aktif didalamnya.

2. NAPZA

Secara umum, diketahui NAPZA merupakan akronim dari narkotika, psikotropika, dan zat aditif lainnya. Akronim ini memberikan istilah terhadap bahan atau zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan atau psikologi seseorang (pikiran, perasaan dan perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi. Pengertian lain dari NAPZA adalah zat kimia yang apabila dimasukkan dalam tubuh baik diminum, dihirup, dihisap, disedot, maupun disuntikkan dapat mempengaruhi pikiran, suasana hati atau perasaan dan perilaku seseorang (Buku pegangan Peer Helper, 2002).

Berdasarkan jenisnya NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya) dapat digolongkan sebagai berikut:

a. Narkotika

Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika terdiri dari 3 golongan:

1) Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan

pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.

Contoh: Heroin, Kokain, Ganja.

2) Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan

sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.

3) Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak

digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Codein.

b. Psikotropika

Menurut UU RI No 5/1997, Psikotropika adalah: zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Psikotropika terdiri dari 4 golongan :

1) Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan

ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: Ekstasi.

2) Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat

digunakan dalan terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: Amphetamine.

3) Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: Phenobarbital.

4) Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat

luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: Diazepam, Nitrazepam (BK, DUM).

c. Zat Adiktif lainnya

Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah: bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi:

1) Minuman alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh

menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol :

a. Golongan A : kadar etanol 1 – 5 % (Bir).

b. Golongan B : kadar etanol 5 – 20 % (Berbagai minuman anggur)

c. Golongan C : kadar etanol 20 – 45 % (Whisky, Vodca, Manson

House, Johny Walker).

2) Inhalasi (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap

keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan adalah: Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.

3) Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat

luas di masyarakat.

Dalam upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.

Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi 3 golongan :

1) Golongan Depresan (Downer). Adalah jenis NAPZA yang berfungsi

mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri. Contohnya: Opioda (Morfin, Heroin, Codein), sedative (penenang), Hipnotik (obat tidur) dan Tranquilizer (anti cemas).

2) Golongan Stimulan (Upper). Adalah jenis NAPZA yang merangsang

fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh: Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.

3) Golongan Halusinogen. Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan

efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Contoh: Kanabis (ganja).

(dalam http://zenc.wordpress.com) 3. Pecandu NAPZA

Pecandu NAPZA atau drug addicted adalah orang-orang yang telah benar-benar kecanduan (addicted) dan menjadi sangat tergantung pada penggunaan NAPZA setiap saat tanpa mengenal situasi (Joewana, 1989). Selain pola penggunaan NAPZA yang bersifat patologik, mereka mengalami toleransi (peningkatan dosis) dan sindroma putus obat jika tidak menggunakan NAPZA.

Secara sederhana, seorang pecandu adalah seorang pria atau wanita yang kehidupannya dikendalikan olah NAPZA. Sebagai pecandu, mereka adalah orang-orang yang menggunakan zat pengubah pikiran dan suasana hati, dimana zat tersebut telah menyebabkan masalah di setiap segi kehidupan mereka. Adiksi atau kecanduan merupakan suatu penyakit yang melibatkan lebih dari sekedar penggunaan NAPZA sendiri, karena pecandu telah mengisolasi dirinya dari orang-orang kecuali pada saat pecandu mendapatkan, menggunakan dan mencari cara serta alat untuk mengkonsumsi NAPZA tersebut. Salah satu aspek dari kecanduan adalah ketidakmampuan pecandu untuk menghadapi kehidupan sebagaimana kehidupan adanya. Pecandu memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan yaitu adiksi atau kecanduan. Penyakit ini kronis, progresif dan mematikan (Narcotics, Anonymous, 1999).

Berdasarkan Narcotics Educational Foundation of America

(www.cnoa.org), komponen-komponen yang terdapat pada perilaku kecanduan adalah sebagai berikut :

a. Kompulsi/paksaan

1) Kehilangan kendali

2) Dipaksa menggunakan narkoba

3) Kompulsi yang tidak rasional

4) Tidak merencanakan untuk menjadi kompulsi

b. Melanjutkan penggunaan narkoba meskipun dengan konsekuensi yang

buruk. Pecandu adalah orang yang tahu bahwa menggunakan narkoba akan menyebabkan masalah, tetapi tetap saja mengkonsumsi narkoba tersebut tanpa mempedulikan akibat dari pemakaian narkoba tersebut.

c. Keinginan-keinginan kembali untuk memakai narkoba (craving)

1) Gejala sehari-hari dari penyakit (kecanduan) ini adalah pengalaman

yang sering dialami pecandu tentang kebingungannya untuk dapat mendapatkan dan menggunakan narkoba.

2) Keinginan-keinginan untuk menggunakan narkoba kembali adalah

dysphoric, hasutan dan hal-hal seperti ini sangat tidak menyenangkan.

d. Penolakan

1) Penyimpangan persepsi yang disebabkan oleh keinginan-keinginan

untuk menggunakan narkoba kembali (craving)

2) Penggunaan narkoba yang sering berada di bawah tekanan craving,

secara bertahap dibutakan pada resiko dan konsekuensi penggunaan.

Dokumen terkait