• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : Anton Purba, S.H., LL.M

MAHKAMAH AGUNG

Di tingkat Kasasi, Mahkamah Agung memutuskan pada pokoknya adalah sebagai berikut:

· Menghukum Tergugat II dan Tergugat III membayar hutangnya kepada BPD SUMUT

· Menyatakan Tergugat I (PT. TWIN JAYA STEEL) bukan sebagai Badan Hukum, karena belum memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman RI

· Menyatakan Hutang/kredit dimaksud bukan hutang/kredit Tergugat I (PT. TWIN JAYA STEEL)

· Menyatakan Tergugat IV (Penjamin) Tidak turut bertanggung jawab terhadap pelunasan hutang/kredit dimaksud.

· Menyatakan Penyerahan Tanah dan Surat Pernyataan Melepaskan Hak Atas Tanah oleh Tergugat IV (penjamin) terhadap pelunasan hutang/kreditTergugat I (PT.TWIN JAYA STEEL) tidak mempunyai kekuatan hukum

Komentar Hukum :

Komentar Hukum yang setidaknya dapat kami tarik dalam perkara ini, pihak Bank (BPD SUMUT) selaku kreditur memberikan pinjaman kredit kepada badan hukum perseroan “Perseroan Terbatas”/ PT. Twin Jaya Steel. Dalam perjanjian pinjaman kredit tindakan ini diwakili oleh Direktur Utama dan Komisarisnya (Tergugat II dan III). Terhadap Pinjaman Kredit tersebut Pihak Tergugat II dan III memberikan jaminan tanah milik Pihak Ketiga (dalam perkara ini selaku Tergugat IV) sebagai “Penjamin” (Avalist). Karena PT. Twin Jaya Steel selaku Debitur tidak membayar lunas hutangnya tersebut (cidera- janji), maka tanggungjawab membayar hutang tersebut, ada pada Direktur Utama dan Komisarisnya secara pribadi (personal responsibility) dan bukan menjadi tanggungjawab hukum dari PT. Twin Jaya Steel selaku Badan Hukum, karena Fakta Hukum yang terjadi “Perseroan Terbatas” (PT. Twin Jaya Steel) tersebut, sejak didirikan 1985 sampai diterimanya pinjaman dari Bank tahun 1991, ternyata masih belum memperoleh pengesahan dari Departemen, Kehakiman dan HAM sebagai suatu Badan Hukum.

Apabila kita menganalisis perkara ini, majelis Hakim Tingkat Pertama dan Terakhir pada hakikatnya telah memberikan pertimbangan hukum yang baik berdasarkan hukum Perseroan Terbatas (PT) memiliki dua sisi, yaitu pertama sebagai suatu badan hukum dan kedua pada sisi yang lain adalah wadah atau tempat diwujudkannya kerja sama

antara para pemegang saham atau pemilik modal. Hal ini terlihat jelas dari ketentuan umum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UUPT).

Terlihat dari ketentuan Pasal 1 butir 1 UUPT di atas, bahwa PT memperoleh status badan hukum berdasarkan sistem tertutup (de gesloten systeem van rechtspersonen), di mana suatu perbuatan perdata semata-mata tidak dapat dijadikan suatu organisasi menjadi badan hukum, tetapi harus berdasarkan undang-undang atau dengan undang-undang-undang-undang. Hal ini membedakannya dengan yayasan yang menjadi badan hukum berdasarkan sistem terbuka (het open systeem van rechtspersonen), yaitu tidak berdasarkan undang atau dengan undang-undang, melainkan berdasarkan kebiasaan, doktrin, dan mungkin didukung oleh yurisprudensi.

Mengenai sifat Penjaminan (avalist) yang dilakukan oleh Pihak ketiga (Tergugat IV) dari Suatu Utang (antara Kreditur dan Debitur), beberapa ketentuan yang diatur dalam KUHPerdata, mengatur unsur-unsur formal yang melekat pada perjanjian pemberian jaminan ialah bahwa penjamin menjamin dipenuhinya perikatan pihak ketiga. Isi perjanjian itu sendiri bisa beraneka ragam. Namun esensi perjanjian pemberian jaminan itu adalah bentuknya, yakni suatu kewajiban accessoir bagi pemenuhan suatu perikatan pihak lain yang timbul dari perjanjian lain.

Perjanjian pemberian jaminan juga dapat disebut sebagai perjanjian accessoir karena perjanjian itu tidak mungkin berdiri sendiri. Keberadaannya bergantung pada suatu perjanjian pokok, karena pada prinsipnya tiada suatu perjanjian jaminan tanpa suatu perjanjian pokok.

Ketentuan terhadap lepasnya tanggungjawab Pihak Penjamin seiring dengan dengan Pasal 1820 KUHPerdata berbicara perihal pemenuhan perikatan dan tidak berbicara perihal pemenuhan tanggung jawab. Dengan demikian isi prestasi seorang Penjamin adalah sama dengan isi prestasi yang harus dipenuhi oleh Debitur. Secara yuridis kontruksinya adalah sebagai berikut : apabila si Penjamin memenuhi prestasinya sesuai isi perjanjian pemberian jaminan, maka pada saat bersamaan ia memenuhi juga prestasi (membayar hutang) orang yang dijamin. Kontruksi sedemikian ini hanya dimungkinkan, apabila isi prestasi dari kedua perjanjian itu sama.

Dalam praktek, sifat accessoir dari suatu perjanjian pemberian jaminan telah kehilangan artinya. Hal ini disebabkan karena dalam hampir semua perjanjian pemberian jaminan Penjamin mengesampingkan haknya agar kreditur menuntut pembayaran terlebih dahulu dari debitur.

Selanjutnya Pasal 1931 KUHPerdata menyatakan bahwa Penjamin tidak wajib membayar kepada Kreditur kecuali jika Debitur lalai membayar hutangnya; dalam hal itupun barang kepunyaan Debitur harus

disita dan dijual terlebih dahulu untuk melunasi hutangnya.

Akibat juridis selanjutnya Penjamin (Avalist) tidak dapat dituntut untuk melaksanakan kewajiban hukum sebagai “Penjamin/Avalist” membayar hutang “PT. Twin Jaya Steel” yang belum berstatus sebagai Badan Hukum tersebut,

disamping tidak memenuhi kewajiban pembayaran hutang (pemenuhan perikatan). Maka sesuai dengan UUPT Pemegang Saham dan Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas segala perbuatan hukum termasuk hutang terhadap Bank (BPD SUMUT) yang dilakukan perseroan.

Dalam Cakrawala Hukum kali ini Redaksi menyampaikan 2 (dua) topik yang berhubungan dengan perkembangan hukum perbankan dan kebanksentralan, yaitu Seminar Nasional “Mencari Solusi Pembiayaan Bagi Hasil Perbankan Syariah” yang diselenggarakan pada tanggal 11 Oktober 2004 di Jakarta dan Sidang Ke 44 Pokja IV Electronic Commerce – United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL) yang diselenggarakan di Wina, Austria pada tanggal 11-22 Oktober 2004.

I. Seminar Nasional “Mencari Solusi Pembiayaan Bagi Hasil Perbankan Syariah”

Pokok-pokok pembahasan dalam seminar meliputi :

1. Skim pembiayaan bagi hasil (Mudharabah dan Musyarakah) merupakan pilar dari perbankan syariah yang mengandung nilai kejujuran dan keadilan ekonomi. Skim pembiayaan ini juga dapat mengatasi problem asymmetric information yaitu permasalahan perbedaan informasi yang diterima antara perbankan dengan nasabahnya (perbankan sebagai pemberi pinjaman tidak sepenuhnya menguasai informasi permasalahan yang dihadapi oleh nasabah mengenai prospek usahanya,

sedang nasabah juga tidak mengetahui secara persis informasi apa yang dapat mendukung segala aspek dan prospek usahanya).

2. Kendala yang dihadapi dalam menerapkan skim pembiayaan bagi hasil diantaranya adalah : kendala resiko, kendala kepercayaan, kendala administratif, kendala teknis, kendala biaya, dan kendala psikis nasabah. 3. Tingkat penggunaan skim pembiayaan

bagi hasil ini, secara nasional, berdasarkan data statistik yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) per Juni 2004 mencapai 30 % terhadap total portofolio pembiayaan. Selain itu, industri perbankan syariah perlu melakukan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi dominasi pembiayaan non bagi hasil di perbankan syariah Indonesia, sehingga dapat mengambil policy action yang tepat untuk mengatasi masalah yang ada sesuai target yang diinginkan.

4. Menurut hasil penelitian PPSK BI, penyebab rendahnya pembiayaan bagi hasil di perbankan syariah adalah : internal, nasabah, regulasi, pemerintah dan institusi lain. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan kesadaran dari pihak terkait untuk mengatasi permasalahan ini secara

Dokumen terkait