Sasaran Pembelajaran
Memahami kedudukan da wewenang mahkamah pelayaran dalam menjalankan aturan UUD pelayaran dan kewenangan yang melekat pada mahkamah pelayaran Metode Pembelajaran
Minggu ke XIV dan XV Metode :
1. Presentase kelompok dan berdiskusi antar kelompok
2. Membaca dan mendalami aturan dan UUD yang digunakan oleh mahkamah pelayaran
Uraian Bahan Pembelajaran
IX.1. Mahkamah Pelayaran
Kedudukan:
1. Merupakan lembaga pemerintah yang berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Perhubungan.
2. Berkedudukan di ibu kota negara RI.
Tugas pokok:
- Tiap-tiap badan pemerintah wajib melakukan pemeriksaan terhadap setiap kecelakaan yang terjadi di setiap kapal dari kapal-kapal miliknya yang tunduk pada ketentuan-ketentuan konvensi
- Tiap-tiap pemerintah wajib menyampaikan kepada organisasi keterangan yang luas mengenai hasil-hasil yang diperoleh dari pemeriksaan itu
Fungsi
1. Melaksanakan penelitian sebab-sebab kecelakaan kapal dan penentuan ada atau tidak adanya kesalahan dan atau kelalaian dalam penerapan standard profesi kepelautan yang dilakukan oleh nakhoda atau pemimpin kapal dan atau perwira kapal atas terjadinya kecelakaan kapal
2. Penjatuhan sanksi administratif, berupa: a. peringatan
b. pencabutan sementara sertipikat keahlian pelaut
Tujuan
‡ Terwujudnya penegakan hukum dalam bidang keselamatan pelayaran yang dapat memenuhi nilai filosofis yang berintikan rasa keadilan dan kebenaran serta nilai yuridis yang sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.
‡ Melaksanakan kegiatan administrasi umum dan pemeliharaan sarana dan prasarana
Admiralty Court
‡ Khusus mengadili perkara-perkara yang timbul dari perselisihan dalam hukum maritim, atau perkara-perkara sebagai akibat pelanggaran terhadap hukum (publik) maritim
‡ Perlu ada batasan apa yang disebut hukum maritim untuk menentukan yurisdiksi pengadilan umum atau pengadil an khusus
Pemeriksaan Kecelakaan Kapal
Syahbandar:
‡ Dasar Hukum:
- pasal 25 Ordonansi Kapal 1935
- peraturan 21 Solas 1974
- UU 21 1992 tentang Pelayaran
‡ Flag state wajib melakukan pemeriksaan terhadap kecelakaan kapal dan melaporkan ke IMO
‡ Syahbandar sangat berkepentingan untuk mendapatkan data-data teknis kapal dan tingkat pengetahuan keterampilan awak kapal dalam melakukan olah gerak kapal
‡ Terhukum: tersangkut yang dijatuhi sanksi administratif berdasarkan hasil keputusan Sidang Majelis Mahkamah Pelayaran
‡ Pemeriksaan kecelakaan kapal dilakukan terhadap semua kecelakaan kapal yang terjadi di wilayah perairan Indonesia dan kecelakaan kapal berbendera Indonesia yang terjadi di luar wilayah perairan Indonesia.
‡ Jenis kecelakaan kapal: a. kapal tenggelam; b. kapal terbakar; c. kapal tubrukan;
d. kecelakaan kapal yang menyebabkan terancamnya jiwa manusia dan kerugian harta benda;
e. kapal kandas.
‡ Pemeriksaan kecelakaan kapal:
a. pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal; b. pemeriksaan lanjutan kecelakaan kapal.
‡ Pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal dilaksanakan atas dasar laporan kecelakaan kapal.
‡ Pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal dilaksanakan untuk mencari keterangan dan/atau bukti-bukti awal atas terjadinya kecelakaan kapal.
‡ Hasil pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal dituangkan dalam bentuk berita acara pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal.
‡ Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal, Menteri berpendapat adanya dugaan kesalahan dan/atau kelalaian dalam menerapkan standar profesi kepelautan yang dilakukan oleh Nakhoda atau
a. meneliti sebab-sebab kecelakaan kapal dan menentukan ada atau tidak adanya kesalahan atau kelalaian dalam penerapan standar profesi kepelautan yang dilakukan oleh Nakhoda atau pemimpin kapal;
b. menjatuhkan sanksi administratif kepada Nakhoda atau pemimpin kapal dan/atau perwira kapal yang memiliki sertifikat keahlian pelaut yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam menerapkan standar profesi kepelautan.
IX.2. Tanggung Jawab Keamanan
Contracting Government (Negara-Negara Peserta)
Bahwa negara-negara peserta wajib menetapkan, tingkat-tingkat keamanan dan memberikan bimbingan untuk berlindung dari insiden keamanan (A/4.1).
Jika negara peserta telah menetapkan keamanan tingkat - 3, maka wajib mengeluarkan instruksi dan informasi kepada kapal (A/4.2).
Negara peserta dapat mendelegasikan tugas-tugas tertentu menyangkut keamanan kepada organanisasi yang telah diakui kecuali dalam hal-hal khusus (A/4.3).
Negara peserta wajib melakukan pengujian sepanjang dianggap perlu terhadap rancangan keamanan baik kapal maupun pelabuhan.(A/4.4)
Dalam melaksanakan tugasnya, negara peserta dapat mengangkat atau menetapkan otoritas yang ditunjuk di dalam pemerintahannya dan mengijinkan organisasi yang telah diakui melaksanakan pekerjaan tertentu kecuali tangung jawab yang tidak dapat didelegasikan.(B/1.7)
Negara peserta harus dapat memastikan tentang kerahasian penilaian dan menentukan tindakan yang tepat untuk mencegah adanya pembongkaran kerahasiaan (B/4.1).
Recognized Security Organizations (Organisasi Keamanan yang Terdaftar/ Diakui)
Negara peserta dapat memberikan kewenangan kepada organisasi yang telah diakui untuk melakukan kegiatan keamanan meliputi: (B/4.3)
- Persetujuan terhadap rancangan keamanan; - Verifikasi dan Sertifikasi ketaatan kapal;
- Penilaian keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan.
Bahwa operator fasilitas pelabuhan dapat ditunjuk sebagai organisasi yang sudah sejauh mana mempunyai keahlian yang tepat dalam melaksanakan keamanan (B/4.7).
Obligation of Company (A/6) (Kewajiban Perusahaan)
Ship Security (Keamanan Kapal) (A/7)
Bahwa kapal dapat bertindak sesuai tingkat keamanan yang ditentukan negara peserta. Pada keamanan tingkat-1 (satu) harus melaksanakan aktivitas:
- Memastikan pelaksanaan tugas keamanan;
- Mengawasi akses ke kapal, orang dan bawaan serta penanganan muatan dan gudang;
- Monitor area terbatas hanya orang yang diberi hak yang mempunyai akses;
- Monitor area di geladak dan sekeliling kapal;
- Memastikan komunikasi siap tersedia.
Pada keamanan tingkat-2 tindakan penegasan tambahan dan pada keamanan tingkat-3 khusus dan lebih lanjut.
Jika kapal berada pada suatu pelabuhan atau wilayah. Apabila wilayah suatu negara peserta telah menetapkan keamanan tingkat-2 atau 3 maka kapal harus mengikuti instruksi ini dan menginformasikan kepada petugas fasilitas pelabuhan. Jika kapal diwajibkan menetapkan tingkat keamanan yang lebih tinggi oleh administrasi di bandingkan dengan wilayah dimana kapal tersebut berada maka harus memberi tahu pejabat yang berwenang di dalam wilayah lokasi pelabuhan.
Dalam situasi demikian petugas keamanan kapal bertindak sebagai penghubung. Rancangan kapal harus dapat menjamin bahwa kapal dapat beroperasi pada keamanan tingkat 1, 2 dan 3. Kapal harus membawa sertifikat keamanan internasional (ISSC). Kapal harus membawa informasi keamanan kapalnya.
- Mengawasi akses masuk, kegiatan bongkar muat dan penanganan pergudangan di pelabuhan;
- Monitor fasilitas pelabuhan, termasuk area lego jangkar dan orang yang diberi hak.
Melakukan tindak pencegahan untuk keamanan tingkat 2 dan 3 dengan aktivitas yang lebih terperinci. Apabila kapal mengalami kesulitan dalam memenuhi persyaratan dalam menerapkan prosedur pada keamanan tingkat- 3, maka petugas keamanan kapal harus berhubungan dan berkoordinasi.
Petugas keamanan pelabuhan, melaporkan kepada pejabat yang berwenang bila suatu kapal berada pada tingkat keamanan yang lebih tinggi. Penilaian keamanan fasilitas pelabuhan diberikan kepada masing-masing Negara peserta yang melayani pelabuhan Internasional, hal ini juga dapat dilakukan kepada otoritas yang ditunjuk atau organisasi yang ditunjuk.
Penilaian keamanan fasilitas pelabuhan di tujukan untuk menganalisa resiko terhadap semua aspek operasional pelabuhan. Penilaian tersebut har us meliputi:
- Ancaman yang dianggap membahayakan instalasi dan infrastruktur pelabuhan
- Potensi yang rapuh yang teridentifikasi
- Perhitungan frekwensi-frekwensi insiden.
Rancangan keamanan fasilitas pelabuhan harus menunjukkan langkah keamanan operasional dan phisik untuk mamastikan pelabuhan beroperasi dalam keadaan
Petugas Keamanan Kapal (SSO) Harus Ditunjuk Untuk Setiap Kapal.
SSO Yang ditunjuk untuk kapal yang bersangkutan mempunyai tugas dan tanggung jawab pada kapal tersebut akan tetapi tugas tersebut tidak terbatas. Tugas dimaksud adalah:
- Melakukan pemeriksaan keamanan kapal secara regular;
- Memelihara dan sebagai supervisi pelaksanaan SSP;
- Berkoordinasi aspek keamanan dengan personil kapal dan PFSO dalam hal pengamanan muatan dan perbekalan kapal;
- Mengusulkan modifikasi SSP;
- Melaporkan ke perusahaan kekurangan dan NC pada saat internal audit, review, inspeksi keamanan, verifikasi ketidaksesuaian serta pelaksanaan tindakan perbaikan;
- Peningkatan kepedulian dan kewaspadaan keamanan dikapal;
- Pelaksanaan pelatihan dan gladi diatas kapal;
- Melaporkan insiden diatas kapal jika ada;
- Mengkoordinasikan pelaksanaan SSP kepada CSO dan PFSO;
- Memastikan bahwa perlengkapan keamanan yang dioperasikan telah diuji, dikalibrasi dan terpelihara dengan baik;
- Permintaan khusus dari Perusahaan.
Petugas Keamanan Perusahaan (Company Security Officer)
- Perusahaan harus mengangkat petugas keamanan perusahaan.
‡ Memastikan pengembangan, pengesahan dan setelah itu pelaksanaan serta mempertahankan SSP;
‡ Memastikan bahwa SSP telah dimodifikasi untuk memperbaiki kekurangan dan untuk memenuhi persyaratan sesuai dengan kapal itu sendiri;
‡ Mempersiapkan internal audit dan review dari aktivitas keamanan kapal;
‡ Initial & subsequent verifikasi;
‡ Deviciency (NC);
‡ Meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan keamanan;
‡ Melaksanakan pelatihan kepada personel yang bertanggung jawab pada keamanan;
‡ Menjalin komunikasi kerjasama keamanan antara SSO & PFSO;
‡ Konsisten thdp keselamatan & keamanan;
‡ Sister Ship;
‡ Alternatif Arrangement antar kapal atau grup telah dilaksanakan dan dipertahankan;
‡ Permintaan lain dari perusahaan.
Petugas Keamanan Fasilitas Pelabuhan (PFSO)
- Petugas keamanan pelabuhan ditunjuk untuk masing-masing fasilitas pelabuhan.
- Seorang petugas keamanan fasilitas pelabuhan dapat ditunjuk untuk keamanan satu fasilitas pelabuhan atau lebih.
‡ Melakukan pemeriksaan keamanan terhadap fasilitas pelabuhan secara teratur untuk memastikan tindakan yang sesuai dan berkelanjutan;
‡Merekomendasikan dan menyelaraskan sebagaimana mestinya, modifikasi terhadap rancangan keamanan fasilitas pelabuhan dalam rangka mengoreksi kekurangan-kekurangan dan memperbaharui rancangan keamanan fasilitas pelabuhan dalam rangka menyesuaikan perubahan fasilitas pelabuhan yang terkait;
‡ Meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan personil keamanan fasilitas pelabuhan;
‡ Memastikan bahwa pelatihan yang cukup telah diberikan kepada personil yang bertanggung jawab untuk keamanan fasili tas pelabuhan;
‡ Melaporkan kepada otoritas yang terkait dan memelihara semua catatan kejadian yang mengancam keamanan fasilitas pelabuhan;
‡Berkordinasi dengan CSO dan SSO dalam rangka mengimplementasikan keamanan fasilitas pelabuhan;
‡ Berkoordinasi dengan penyedia jasa keamanan terkait sebagaimana mestinya;
‡ Memastikan bahwa personil yang bertanggung jawab keamanan fasilitas pelabuhan memenuhi standard yang ditentukan;
‡ Memastikan bahwa peralatan keamanan bila ada, dapat dioperasikan, telah diuji, telah dikalibrasi, dan terpelihara;
‡ Membantu SSO jika diminta, dalam mencari bahan/barang yang dianggap mencurigakan.
‡ Pengetahuan tentang karakteristik dan pola tingkah laku manusia yang cenderung membahayakan keamanan;
‡ Teknik yang digunakan untuk menghindari tindakan keamanan;
‡ Manejemen mengatasi kerusuhan dan teknik pengendaliannya;
‡ Komunikasi Keamanan;
‡ Pengetahuan tentang Prosedur darurat dan penanganan keadaan darurat;
‡ Pengoperasian peralatan dan system keamanan;
‡ Pengujian kalibrasi dan pemeliharaan peralatan serta system keamanan dilaut;
‡ Teknik-teknik pemeriksaan pengawasan, dan pemantauan;
‡ Metode penggeledahan phisik terhadap manusia, barang pribadi, bagasi, barang muatan dan barang persediaan untuk keperluan kapal.
Referensi:
‡ Balai Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran, (2010), ³Security Responsibilities (Tanggungjawab Keamanan ´ , Jakarta.
‡ Sanusi Setrodjijo, (2010), ³Mahkamah Pelayaran´.
Evaluasi Pembelajaran
1. Penilaian bobot tugas kelompok dan hasil diskusi 2. Pengayaan materi dengan berdiskusi