HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Hasil Penelitian
1) Majas Hiperbola
a) Jangan kau kecewakan harapan ibumu yang telah hadir jauh sebelum kau lahir !” ucap beliau dengan nada mengiba. (PPC, 1)
Pemanfaatan gaya bahasa hiperbola tampak pada kalimat tersebut. Harapan ibu dinyatakan dalam kalimat tersebut hadir sebelum anaknya lahir. Harapan ibu pada kalimat tersebut merupakan sesuatu yang dibesar-besarkan.
b) Bener nih, serius!” propaganda adikku berapi-api. (PPC,2)
Hiperbola adalah gaya bahasa yang membesar-besarkan sesuatu dari hal yang sebenarnya. Dalam konteks ini propaganda dikatakan berapi-api,
yang menyangatkan maksud dari propaganda itu. Makna kalimat di atas adalah memberikan propaganda atau pengaruh dengan tanpa henti dan penuh semangat.
c) Apakah mungkin karena aku telah begitu hanyut citra gadis-gadis Mesir Titisan Cleopatra yang tinggi semampai?. (PPC, 3)
Kalimat tersebut mengandung gaya bahasa hiperbola karena mengandung pernyataan yang berlebihan. Makna dari kalimat di atas adalah ketertarikan yang begitu kuat pada seorang gadis cantik seperti Cleopatra.
d) Aura pesona kecantikan gadis-gadis Mesir Titisan Cleopatra sedimikian kuat mengakar dalam otak, perasaan dan hatiku, sedimikian kuat menjajahkan cita- cita dan mimpiku. (PPC, 3)
Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena kata
“sedimikian kuat mengakar” dan “sedimikian kuat menjajahkan” seakan-akan melebih-lebihkan “Aura pesona kecantikan”. Makna kalimat tersebut adalah aura pesona gadis mesir yang dijiwai terlalu dalam.
e) Jika tersenyum, lesung pipinya akan menyihir siapa saja yang melihatnya.
(PPC, 3)
Pemanfaatan gaya bahasa hiperbola tampak pada kalimat tersebut karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan. Pada kalimat di atas dinyatakan “jika tersenyum” akan menyihir siapa saja, maksudnya adalah senyumnya begitu menarik dan menggoda.
f) Terkadang bibit cinta yang kuharapkan itu malah menjelma menjadi tiang gantungan yang mencekam. (PPC, 4)
Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan. Makna kalimat di atas adalah bibit cinta yang membuat seseorang yang mengalaminya tersiksa.
g) Sinar wajah ibu berkilat-kilat, hadir didepan mata duh gusti tabahkan hatiku!. (PPC, 4)
Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan kata “sinar” yang dilebihkan dengan kata “berkilat-kilat”.
Makna dari kalimat di atas adalah wajah teduh, yang penuh dengan harapan.
h) Kulihat Raihana tersenyum manis, tapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta-ronta. (PPC, 5)
Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan perasaan tersiksa karena senyum Rihana. Makna dari kalimat tersebut adalah tersiksa karena hal tersebut tidak seperti dalam kenyataannya.
i) Hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayat Nya, oh, alangkah dahsyatnya sambutan cinta Raihana atas kemesraan yang ku merintih menangisi kebohongan dan kepura-puraanku. (PPC,5) Kalimat tersebut mengandung gaya bahasa hiperbola karena mengandung pernyataan yang berlebihan. alangkah dahsyatnya kata tersebut seolah-olah memberikan makna yang lebih hebat.
j) Yang kurasakan adalah siksaan-siksaan jiwa yang mendera-dera. (PPC, 5) Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola karena mengandung pernyataan yang berlebihan. “siksaan” dilebihkan dengan kata “mendera-dera”. Makna dari kalimat di atas adalah siksaan jiwa yang dirasakan begitu berat.
k) Duhai cintaa hadirlah, hadirlaaaah! Aku ingin merasakan seperti apa indahnya mencintai seorang isteri!” jerit batinku menggedor–gedor jiwa.
(PPC,6)
Pemanfaatan gaya bahasa hiperbola tampak pada kalimat tersebut karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan. Pada kalimat di atas dinyatakan dengan jerit batinku menggedor–gedor jiwa, maksudnya adalah siksaan batin yang begitu dalam.
l) Perasaan itu mencengkeram seluruh raga dan sukma. (PPC, 7)
Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan. Perasaan adalah bagian dari tubuh manusia bagaimana mungkin bagian tubuh bisa mencengkeram raga dan sukma. Makna kalimat di atas adalah perasaan yang mengakibatkan rasa yang membelenggu diri.
m) Duka yang bergejolak-gejolak tiada bisa diredam dengan diam. (PPC, 7) Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola karena melebih-lebihkan keadaan yang sebenarnya. Duka dianggap seperti bergejolak dalam jiwa. Berdasarkan konteksnya makna kalimat di atas adalah duka yang begitu mendalam.
n) Duka yang menganga menebarkan perasaan sia-sia. (PPC, 7)
Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola karena melebih-lebihkan keadaan yang sebenarnya. Duka dianggap seperti bara api yang menganga membakar jiwa. Berdasarkan konteksnya makna kalimat di atas adalah duka yang menyebabkan perasaan menyesal.
o) Di luar hujan deras. Suara guntur menggelegar dan petir menyambar-nyambar. (PPC, 12)
Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan. Suara petir dan guntur dilebih-lebihkan dengan memanfaatkan kata “ menggelegar” dan “menyambar-nyambar”
p) ku punya keponakan cantik namanya mona zaki. Maukah kau berkenalan dengan?” kata Ratu Cleopatra yang membuat hatiku berbunga-bunga luar biasa. (PPC, 12)
Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan. Perasaan senang dilebihkan dengan kata “berbunga-bunga
“ diperkuat dengan kata “ luar biasa”. Dalam konteks tersebut maknanya adalah perasaan senang yang dalam.
q) Hatiku bergetar luar biasa. (PPC, 14)
Pemanfaatan gaya bahasa hiperbola tampak pada kalimat tersebut karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan (Keraf, 2004:135). Pada kalimat di atas dinyatakan hatiku bergetar luar biasa, maksudnya adalah perasaan kagum yang mendalam/ terharu.
r) Hatiku bergetar hebat. (PPC, 14)
Pemanfaatan gaya bahasa hiperbola nampak pada kalimat tersebut karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan (Keraf, 2004:135). Pada kalimat di atas dinyatakan hatiku bergetar hebat, maksudnya adalah perasaan kagum yang mendalam
s) Gelora cinta yang membara tak bisa berbuat apa-apa. (PPC, 18)
Kalimat tersebut di kategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan kata “Gelora cinta” yang diibaratkan membara seperti api yang panas. Makna dari kalimat di atas adalah cinta yang besar.
t) mbak!eh maaf, maksudku D….Di….Dinda hana!” panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. (PPC, 20)
Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan. Makna kalimat di atas adalah suara yang tertahan, seolah-olah sulit untuk berkata.
u) Di samping karena kecantikannya yang menyihir siapa saja yang melihatnya saya juga merasa sangat prestise jika berhasil menyuntingnya. (PPC,32) Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan. Kata “kecantikannya”
dilebihkan dengan memanfaatkan kata “menyihir”. Makna kalimat di atas adalah kecantikan yang memikat siapa saja yang melihatnya.
v) Saya pukul dia habis-habisan. (PPC, 37)
Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan. Kata “pukul” dihiperbolakan dengan “habis-habisan”.
Kalimat tersebut hanya menggambarkan memukul dengan terus menerus , Karena perasaan marah yang begitu hebat.
w) Ia lawan badai derita yang menerpannya dengan doa dan lantunan ayat suci alquran. (PPC, 41)
Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola karena mengandung pernyataan yang berlebihan. Derita dilebihkan dengan memanfaatkan kata
“badai” sehingga menjadi “badai derita”. Berdasarkan konteksnya makna kalimat tersebut adalah penderitaan yang besar atau hebat.
x) Tak terasa air mataku mengalir,dadaku sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisanku meledak. (PPC, 42)
Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan. Makna kalimat di atas adalah airmata yang sudah tidak dapat ditahan lagi.
y) Cahaya Raihana terus berkilat-kilat di mata. (PPC, 43)
Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola karena mengandung pernyataan yang berlebihan. “Cahaya” dilebihkan dengan memanfaatkan kata “berkilat-kilat”. Berdasarkan konteksnya makna kalimat tersebut adalah wajah Rihana selalu terbayang-bayang.
z) Sukmaku menjeri-menjerit, mengiba-iba. (PPC, 42)
Pemanfaatan gaya bahasa hiperbola nampak pada kalimat tersebut karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan. Pada kalimat di atas dinyatakan dengan Sukmaku menjeri-menjerit yang memiliki makna perasaan sakit hati yang dalam.
aa) Hatiku bergetar hebat. (PPC, 44)
Pemanfaatan gaya bahasa hiperbola nampak pada kalimat tersebut karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan. Pada kalimat di atas dinyatakan hatiku bergetar hebat, maksudnya adalah perasaan kagum yang mendalam
bb) Rinduku padanya menggelegak- gelegak. (PPC, 44)
Kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan. Kata “Rinduku” dilebihkan
dengan memanfaatkan kata “menggelegak- gelegak”. Makna kalimat di atas adalah kecantikan yang memikat siapa saja yang melihatnya.
cc) Sukmaku menjerit-jerit, mengiba-iba. Aku ingin Raihana hidup kembali.
(PPC, 45)
Pemanfaatan gaya bahasa hiperbola tampak pada kalimat tersebut karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan (Keraf, 2004:
135). Pada kalimat di atas dinyatakan dengan Sukmaku menjeri-menjerit yang memiliki makna perasaan sakit hati yang dalam.
dd) Seribu doa terpanjatkan agar hatiku terbuka.
Pemanfaatan gaya bahasa hiperbola tampak pada kalimat tersebut karena mengandung pernyataan mengenai suatu hal yang berlebihan (Keraf, 2004:
135). Pada kalimat di atas dinyatakan dengan Seribu doa terpanjatkan yang memiliki makna memanjatkan doa yang terus menerus.