PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap anak yang lahir normal ( fisik-mental ) berpotensi menjadi cerdas. Dengan kecerdasan anak itu, anak akan mengaktualisasikan dirinya di tengah-tengah masyarakat. Diakui bahwa orang yang cerdas banyak sekali jasanya dalam memajukan umat manusia. Dengan karya dan
pandangan-pandangannya yang ilmiah akan mampu membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan ketertinggalan menuju tatanan hidup yang lebih baik dan beradab. 1[1]
Selama manusia berada di bumi, maka selama itu pula manusia akan membicarakan tentang pendidikan, temasuk masalah-masalah pendidikan. Salah satunya masalah pendidikan yang terus dan akan selalu dibicarakan adalah masalah mutu pendidikan yang rendah. Para pakar pendidikan dan psikologi banyak memberikan pandangan dan analisis terhadap mutu pendidikannya, tetapi hingga saat ini tidak pernah tuntas, bahkan muncul masalah-masalah pendidikan yang baru. 2[2]
Masalah mutu pendidikan yang banyak dibicarakan adalah rendahnya hasil belajar peserta didik . padahal kita tahu , bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai factor , antara lain, sikap dan kebiasaan belajar, fasilitas belajar, motivasi, minat, bakat, pergaulan, lingkungan baik lingkungan keluarga, teman maupun lingkungan fisik kelas dan yang tak kalah pentingnyaadalah kemampuan profesional guru dalam melakukan penilaian hasil belajar itu sendiri. 3[3]
Dalam proses belajar seorang anak di sekolah tentunya memiliki daya tangkap ( daya serap ) yang berbeda terhadap setiap pelajaran yang diberikan oleh bapak dan ibu gurunya. Perbedaan daya tangkap inilah yang mempengaruhi penilaian hasil belajar siswa.
Dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) Yyang didasarkan atas Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) ini, akan berdampak pada perubahan dalam paradigm penilaian hasil belajar, pada kurikulum sebelumnya meskipun sudah dimunculkan wacana penilaian proses belajar namun dalam pelaksanaannya penilaian hasil belajar hanyalah dipusatkan pada penilaian hasil belajar yang biasanya dilihat dari perolehan skor ulangan, baik ulangan harian maupun ulangan umum. Dengan perubahan paradigma ini penilaian dipusatkan pada penilaian proses belajar disamping penilaian hasil belajar. 4[4]
Perkembangan konsep penilaian pendidikan yang ada pada saat ini menunjukkan arah yang lebih luas. Konsep-konsep tersebut pada umumnya berkisar pada pandangan sebagai berikut :5[5]
1 2 3 4 5
1. Penilaian tidak hanya diarahkan kepada tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tetapi juga terhadap tujuan-tujuan yang tersembunyi, termasuk efek samping yang mungkin timbul.
2. Penilaian tidak hanya melalui pengukuran perilaku siswa, tetapi juga melakukan pengkajian terhadap
komponen-komponen pendidikan, baik masukan proses maupun keluaran.
3. Penilaian tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan, tetapi juga untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan tersebut penting bagi siswa dan bagaimana siswa mencapainya.
Mengingat luasnya tujuan dan objek penilaian, maka alat yang digunakan dalam penilaian sangat beraneka ragam, tidak hanya terbatas pada tes, tetapi juga alat penilaian bukan tes.
Pertanyaan pokok sebelum melakukan penilaian ialah apa yang harus dinilai itu. Terhadap pertanyaan ini kita kembali pada unsur-unsur yang terdapat dalam proses belajar mengajar. Ada empat unsur utama proses belajar mengajar, yaitu :6[6]
Tujuan adalah arah dari proses belajar mengajar yang pada hakikatnya adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau menempuh pengalaman belajarnya.
Bahan adalah seperangkat pengetahuan ilmiah yang dijabarkan dari kurikulum untuk disampaikan atau dibahas dalam proses belajar mengajar agar sampai kepada tujuan yang telah ditetapkan.
Metode dan alat adalah cara atau teknik yang digunakan dalam mencapai tujuan.
Penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak, yang berfungsi sebagai alat untuk mengetahui keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. dalam menentukan hasil belajar siswa, tentunya ini melalui suatu kegiatan yang dinamakan proses. Dalam proses tersebut juga ada aspek-aspek yang menjadi bahan pertimbangan terhadap penilaian hasil belajar siswa.
Pengertian Proses
Menurut Drs. Rony Gunawan, proses adalah runtunan perubahan peristiwa dan lain-lain.7[7] Menurut Dr. Nana Sudjana, proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan pengajaran.8[8]
6 7 8
Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Howard Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni :
1). Keterampilan dan kebiasaan, 2). Pengetahuan dan pengertian, 3). Sikap dan cita-cita
Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni : 1). Informasi verbal,
2). Keterampilan Intelektual, 3). Strategi kognitif,
4). Sikap, dan
5). Keterampilan Motoris
Benyamin Bloom membaginya dalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Selain dari kategori hasil belajar tersebut, tentunya ada pengaruh-pengaruh yang menjadikan faktor penilaian dari hasil belajar siswa, yaitu faktor kepandaian, teman, faktor pengajar, dan faktor lingkungan tempat siswa tersebut belajar. Penilaian hasil belajar kepada siswa didalam dunia pendidikan merupakan salah satu factor yang sangat penting, karena dengan adanya penilaian hasil belajar maka akan terlihat dengan jelas tingkat keberhasilan suatu penyelenggaraan pendidikan ( sekolah ) dalam mendidik siswanya. Adanya penilaian hasil belajar juga akan memberikan gambaran yang jelas tentang prestasi hasil belajar siswa, baik secara individu ataupun menyeluruh.9[9]
3. Pengertian Penilaian Hasil Belajar
Ditinjau dari sudut bahasa, penilaian diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek. Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Misalnya untuk dapat mengatakan baik, sedang, kurang, diperlukan adanya ukuran yang jelas, bagaimana yang baik, yang sedang dan yang kurang. Ukuran itulah yang dinamakan kriteria. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa cara penilaian adalah adanya objek atau program yang dinilai dan adanya kriteria sebagai dasar untuk membandingkan antara apa yang dicapai dengan kriteria sebagai dasar untuk membandingkan antara apa yang dicapai dengan kriteria yang harus dicapai. Perbandingan bias bersifat mutlak, bisa pula bersifat relatif.10[10]
9 10
BAB II
A. Pengertian
Penialain hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini disyaratkan bahwa objek yang dinilai adalah hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris, oleh sebab itu dalam penilaian hasil belajar rumusan kemampuan dan tingkah laku yang diinginkan dikuasai oleh siswa ( kompetensi ) menjadi unsur penting sebagai dasar dan acuan penilaian. Penilaian proses pembelajaran adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran.11[11]
Lingkungan belajar adalah situasi yang ada di sekitar siswa pada saat belajar. Situasi ini dapat mempengaruhi proses belajar siswa. Bayangkan jika Anda memasuki ruangan kelas yang lantainya bersih, tempat duduk dan alat pelajaran ditata dengan rapi, pajangan diletakkan pada tempat yang tepat, dan ada bunga di meja guru. Apa yang Anda rasakan? Ya.... kita akan dapat mengajar dengan tenang serta menyenangkan. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap proses belajar siswa. Siswa akan belajar dengan tenang dan nyaman.12[12] Dengan demikian siswapun dalam menerima pelajaran akan lebih mudah karena didukung oleh situasi lingkungan yang nyaman, sehingga hasil yang dicapai setelah proses belajar akan lebih maksimal.
Penataan lingkungan yang dimaksud adalah penataan lingkungan fisik kelas. Lingkungan fisik kelas yang baik adakah ruangan kelas yang menarik, efektif, serta mendukung siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Kelas yang tidak ditata dengan baik akan menjadi penghambat bagi siswa dan guru dalam proses pembelajaran, sehingga juga akan berpengaruh pada penilaian hasil belajar siswa.13[13] Menurut Louisell ( 1992 ), ketika menata lingkungan fisik kelas, guru hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:14[14]
1. Keleluasaan Pandangan ( Visilibility )
Artinya penempatan atau penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa sehingga siswa dapat secara leluasa memandang guru serta guru juga dapat memandang semua siswa setiap saat menyajikan materi pelajaran.
2. Mudah Dicapai ( Accessibility )
Meletakkan alat-alat peraga di tempat yang tepat dan mudah dijangkau oleh guru dan siswa.
11 12 13 14
3. Keluwesan ( Flexibility )
Barang-barang yang ada di dalam kelas hendaknya mudah untuk dipindah-pindahkan sehingga mudah ditata sesuai dengan tuntutan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh siswa dan guru.
4. Kenyamanan
Prinsip kenyamanan ini berkaitan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara dan kepadatan kelas. Kenyamanan ruangan kelas akan sangat berpengaruh terhadap konsentrasi dan produktifitas guru dalam kegiatan pembelajaran.
5. Keindahan
Kelas yang indah dan menyenangkan menggambarkan harapan guru terhadap proses belajar yang harus dilakukan dan terhadap tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran.
Penataan lingkungan fisik kelas yang nyaman dan baik tentunya akan memberikan pengaruh yang baik terhadap hasil belajar siswa. Kondisi fisik kelas yang nyaman akan menjadikan pelajaran lebih mudah diterima, dimengerti dan dipahami sehingga hasil belajar siswa akan lebih baik dan maksimal.
B. Prinsip-prinsip Penilaian
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membagi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.15[15]
1. Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual, yang dibagi atas dua aspek, yaitu : - Aspek kognitif tingkat rendah, yang terdiri dari :
Pengetahuan atau ingatan, maknanya tidak sepenuhnya tepat sebab dalam istilah tersebut termasuk pengetahuan hafalan atau untuk diingat seperti rumus, defenisi, pasal dalam undang-undang. Pemahaman, maknanya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri sesuatu yang dibaca atau didengarnya.
Aspek kognitif tingkat tinggi, yang terdiri dari :
Aplikasi, penggunaan abstraksi pada situasi konkret atau situasi khusus. Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petunjuk teknis.
Analisis, usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas hierarkinya dan atau susunannya.
Sintesis, pernyataan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam bentuk menyeluruh.
Evaluasi, pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode dan materi.
2. Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap, yang terdiri dari lima aspek, yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
3. Ranah Psikomotoris
Berkenan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek dalam ranahpsikomotoris, yaitu : Gerakan refleks ( keterampilan pada gerak yang tidak sadar ).
Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar:
Kemampuan perseptual, termasuk didalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motoris, dan lain-lain
Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks
Kemampuan yang berkenan dengan komunikasi non decursive seperti gerakan ekspresif dan interpretatif.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.16[16] Namun tidak berarti bahwa ranah-ranah yang 16
lainnya tidak dipakai dalam menilai hasil belajar siswa, maka untuk bisa mensinergikan ( menyatukan ) ranah-ranah tersebut ada prinsip-prinsip penilaian yang harus diperhatikan, yaitu :17[17]
Dalam menilai hasil belajar hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penelitian. Sebagai patokan atau rambu-rambu dalam merancang penilaian hasil balajar adalah kurikulum yang berlaku dan buku pelajaran yang digunakan.
Penilaian hasil belajar hendaknya menjadi bagian integral dari proses belajar mengajar. Artinya, penilaian senantiasa dilaksanakan pada setiap saat proses belajar mengajar sehingga pelaksanaannya berkesinambungan. “ Tiada proses belajar mengajar tanpa penilaian “ hendaknya dijadikan semboyan bagi setiap guru.
Agar diperoleh hasil belajar yang objektif dalam pengertian menggambarkan perstasi dan kemampuan siswa sebagaimana adanya, penilaian harus menggunakan berbagai alat penelitian dan sifatnya komprehensif. Dengan sifat komprehensif dimaksudkan segi atau abilitas yang dinilainya tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga aspekafektif dan psikomotoris.
Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjutnya. Data hasil penilaian sangat bermanfaat bagi guru maupun bagi siswa. Oleh karena itu, perlu dicatat secara teratur dalam catatan khusus mengenai kemajuan siswa. Demikian juga data hasil penelitian harus dapat ditafsirkan sehingga guru dapat memahami para siswanya terutama prestasi dan kemampuan yang dimilikinya.
Demikianlah prinsip-prinsip yang bisa dijadikan acuan dalam menyatukan penilaian hasil belajar siswa dari ranahafektif, ranah kognitif, dan ranah psikomotoris.
C. Jenis-jenis Tes
1. TES FORMATIF Yaitu tes yang digunakan untuk memperoleh data tingkat keberhasilan proses belajar mengajar guna perbaikan selanjutnya.
2. TES SUMATIF Yaitu tes yang digunakan untuk menilai prestasi / hasil belajar siswa.
D. FUNGSI PENILAIAN PENDIDIKAN:
Adapun fungsi penilaian pendidikan digunakan untuk:
1. Mengukur keberhasilan Siswa belajar.
2. Mengukur tingkat keberhasilan Guru mengajar (Umpan balik).
3. Memperoleh data guna perbaikan Kegiatan Belajar-Mengajar.
4. Untuk pelaporan / informasi efektifitas pendidikan
E. “ALAT UKUR / PENILAIAN” Prestasi Hasil belajar:
Tes Tertulis
Tes Lisan / Wawancara Tugas Observasi
Instrumen Angket / Kuis Penilaian Produk Tes Praktik / unjuk kerja Kerja Proyek Penilaian Afeksi Portofolio Penilaian Diri Dll-nya. F. Alat Penilaian: 1. Tes Tulis a. Subyektif Tes: Soal Uraian Mengarang b. Obyektif Tes: Soal Mengisi Soal Benar-Salah Soal Menjodohkan Soal Pilihan Ganda Soal Jawaban Singkat
c. Instrumen Non Tes: Pengisian Angket, Penilaian Fortofolio, dsb-nya 2. Tes Perbuatan
Tes Praktik / Unjuk kerja Penilaian Produk
Kerja Proyek Tes Simulasi
Tanya – jawab Wawancara
4. Pengamatan Sikap
Penilaian Afeksi (Pengamatan oleh Guru dan Penilaian Diri oleh siswa)
G. Prosedur Pengembangan Sistem Instrusional ( PPSI )
1. Tujuan (Kompetensi)
2. Alat Ukur ( SOAL )
3. Materi(Bahan Ajar)
4. Metode & Pelaks.KBM
5. EVALUASI (penilaian)
H. PENILAIAN
Adapun keriteria penilaian yang baik dan benar adalah sebagai berikut:
1. Soal (alat tes) nya memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi (sesuai dan terpercaya).
2. Pelaksanaannya praktis, efektif, efisien, tertib, adil / setara. 3. Proses penilaiannya obyektif, wajar, adil, teliti, akurat.
4. Penguji / penilainya ahli, kompeten, jujur.
5. Syarat Instrumen Penilaian
6. Terpenuhi Syarat “SUBSTANSI” (Merepresentasikan kompetensi yang hendak dinilai;
7. Terpenuhi syarat “KONSTRUKSI” (bentuk sajian instrumen memenuhi peryaratan teknis sebagai alat
ukur yang tepat);
8. Terpenuhi syarat penggunaan “BAHASA” (bahasa yang digunakan baik, benar,dan komunikatif)
I. Sistem Penilaian (Competency based assessment)
1. Penilaian kompetensi, diarahkan pada aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif secara proporsional dan
terpadu.
2. Peserta didik dpt melanjutkan ke kompetensi (pelajaran) berikutnya setelah dinyatakan lulus (kompeten)
dari kompetensi (pelajaran) sebelumnya.
3. Penilaian diberikan berdasarkan kompetensi yg telah dicapai secara individual (tdk berdasar peringkat /
tdk menentukan posisi peringkat pd kelomp belajar)
4. (Dalam kriteria Kenaikan Kelas) Bila 3 (tiga) mata pelajaran tdk mencapai batas lulus (ketuntasan),
maka peserta didik ybs dinyatakan tdk naik kelas dan harus mengulang secara keseluruhan di tingkat sebelumnya.
J. JENIS PENILAIAN HASIL BELAJAR (sesuai standar Penilaian Pendidikan)
1. Internal
Penilaian Kelas (dilakukan oleh Guru): UL. Harian
UL.tengah Smt UL.akhir Smt
Penilaian Akhir masa belajar (dilakukan oleh Sekolah) U.S.
2. Eksternal
Penilaian Kendali mutu (dilakukan oleh Pemerintah) U.N.
K. Mekanisme & prosedur Penilaian
1. Rancangan strategi Penilaian dilakukan saat menyusun SILABUS, yang selanjutnya dijabarkan dalam
RPP.
2. Ulangan harian dilakukan oleh Guru di bawah kontrol Sekolah
3. Ulangan tengah semester, akhir semester, dan kenaikan kelas dilakukan oleh Guru di bawah koordinasi
Sekolah
4. Ujian Akhir Sekolah diselenggarakan oleh sekolah.
5. Ujian Nasional diselenggarakan oleh BSNP bekerjasama dengan Depdiknas.
L. Prinsip Penilaian Kelas
1. Melaksanakan penilaian berbasis kompetensi.
2. Dilakukan secara ber-sinambungan thd semua kompetensi.
3. Menerapkan berbagai Strategi serta Cara dan alat penilaian yg bervariasi.
4. Mengadakan Ulangan harian setelah selesai beberapa Indikator (tergantung keluasan ruang lingkupnya).
5. Ulangan tengah semester diadakan setelah menyelesaikan beberapa KD di pertengahan semester.
6. Ulangan akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua KD pada semester yang bersangkutan.
7. Ulangan Kenaikan kelas dilakukan pd akhir th. pel. (menilai komp. dasar semester ganjil dan genap)
M. Penyusunan Soal & Penilaian Hasil
Indikator “A” Soal Ulangan: No: 1. ………….. No: 2. ………….. No: 3. …………..
Indikator “B” Soal Ulangan: No: 4. …………. No: 5. ………….
Nilai = ?
Indikator “C” Soal Ulangan: No: 6. …………. No: 7. …………. Dst-nya. Nilai = ? Nilai KD = A + B + C 3
N. Metode Penilaian Berdasarkan kelompok mata pelajaran:
1. Pendd.Agama & Akhlak Mulia
2. Kewarganegaraan & Kepribadian
a. Ulangan (tes) b. Pengamatan (afeksi)
3. Pel. Ilmu Pengetahuan & Teknologi
a. Ulangan (tes) Teori dan praktik / penugasan 4. Estetika, Seni & Budaya
a. Pengamatan (aspek afeksi & ekspresi psikomotorik)
5. Pendd.Jasmani,OR,dan Kesehatan
a. Ulangan (tes)
b. Pengamatan (aspek afeksi& perkemb. psikomotorik
O. Penentuan KKM
Nilai “Kriteria Ketuntasan Minimal” ditentukan oleh Guru berdasarkan aspek:
1. Kompleksitas (kesulitan dan kerumitan) materi pelajaran yg dipelajari atau kompetensi yg harus dikuasai.
2. Intake (tingkat kemampuan) rata-rata peserta didik. 3. Sumber daya pendukung.
Contoh Rentang Nilai Penetapan KKM Kompleksitas
Kompetensi
Kemampuan (intake) rata-rata
Sumberdaya Pendukung Rentang Nilai
1.Kompleksitas rendah. 2.Kompleksitas sedang 3.Kompleksitas tinggi 1.Kemampuan tinggi. 2.Kemampuan sedang. 3.Kemampuan rendah. 1.Sumberdaya tinggi. 2.Sumberdaya sedang. 3.Sumberdaya rendah. 81 – 100 65 – 80 50 – 65 Proses Penetapan KKM: KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
Kom-pleksitas Intake Sumber daya Nilai KKM
1.Menampilkan perilaku ikhlas dlm beribadah seperti terkandung dlm QS Al An’am: 162-163 dan Al-Bayyinah: 5
79,15 (79,0)
Mampu mengidentifikasi perilaku ikhlas dalam beribadah sesuai dengan Q.S Al-An’am: 162-163 85 (rendah) 70 (sedang) 95 (tinggi) 83,3
Mampu menerapkan perilaku ikhlas dalam beribadah sesuai dengan Q.S Al-An’am: 162-163 60 (tinggi) 70 (sedang) 95 (tinggi) 75,0 Dst. nya 85 70 95 83,3 Dst. nya 60 70 95 75,0
DAFTAR NILAI
KD.1 KD.2 KD.3 UL. Smt Raport
N o
Nama siswa NIS Kk=70 Kk=68 Kk=75 Kk=71
N NR N NR N NR N NR
KK=Kriteria Ketuntasan;
N =Nilai Ulangan; NR=Nilai Remedial
P. Langkah Penyusunan SOAL ( Agar Valid dan Reliable )
Soal harus disusun melalui langkah-langkah berikut: - Menetapkan kompetensi yang hendak diuji. - Menetapkan Indikator sbg acuan tes. - Menyusun kisi-kisi soal.
- Menyusun soal dgn memperhatikan kaidah. - Menelaah soal.
- Menyusun / merakit soal.
- Menyusun pedoman/ kriteria penilaian.
Q. “Kompetensi”
Kompetensi adalah: Seperangkat Pengetahuan, Keterampilan, dan Perilaku, Yang Dibutuhkan untuk dapat melakukan Suatu Aktivitas Secara Efektif. (pengetehuan, keterampilan dan sikap).
R. Penilaian “SIKAP”
1. Sikap (attitude) yang berkait mata pelajaran dan prilaku / budi pekerti sehari-hari dalam mengikuti penddidikan.
Penilaian sikap (attitude/karakter) menggunakan:
a. Lembar penilaian diri (siswa menilai diri sendiri); serta,
b. Lembar pengamatan / obsevasi prilaku (penilaian dilakukan oleh guru).
2. Sikap dalam melakukan kegiatan / suatu pekerjaan (performance), yaitu yg berkait dengan kompetensi produktif, mengarah pada sikap professional: Penilaian sikap kinerja (performance) menggunakan lembar penilaian yg menyatu dlm penilaian unjuk kerja kompetensi secara utuh/ terpadu
S. PENILAIAN DIRI
No Aspek Sikap (Attitude) Skor Perolehan
Penilaian Diri Penilaian oleh Guru
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7 Kedisiplinan Kejujuran Tanggung Jawab Kerajinan Kemandirian Ketekunan Kerjasama V V V V V V V V V V V V V V 33 28
Contoh Instrumen Penilaian Afeksi Mata Pelajaran: Pend. Agama Islam Nama Siswa : . . . .
No Aspek Yang Dinilai Nilai Predikat Keterangan 1 Taat beribadah, sholat 5 waktu
3 Jujur dalam kata dan perbuatan 4 Hormat kepada O.T.dan Guru 5 Santun dalam pergaulan
6 Suka beramal,berinfaq/shadaqah.
RATA-RATA NILAI
Contoh (A): “LEMBAR PENILAIAN”
• Mata Pelajaran : Pendd. Agama
• Topik / Kompetensi : Membaca dan memahami Al Qur’an
• Nama Siswa : ………
No Aspek yang dinilai Skor Maks. Perolehan
A
B
C
SIKAP
1. Tampil bersih / telah berwudhu 2. Tertib berpakaian / Tertutup aurat 3. Tampil santun / menghargai Kitab suci PROSES / KETERAMPILAN
1. Makhroj / Fasih 2. Tajwid
3. Keindahan irama dan suara PENGETAHUAN
1. Terjemahan / makna / arti 2. Penjelasan isi kandungan / tafsir
10 10 10 25 20 10 10 5 JUMLAH 100
Contoh Lembar penilaian
Judul Tugas : ……….
Persiapan Proses Hasil
Gambar/rencana kerja dibuat
Alat / bahan disiapkan, lengkap
Metode/Langkah kerjanya benar
Cakap Menggunakan alat
Mentaati keselamatan kerja
Waktu kerja
Bentuk dan ukuran, tepat
Finishing produk baik
Alat dan tempat kerja dirapikan
T. Penilaian Unjuk kerja / Tes Praktik
Penilaian “Unjuk kerja” dilakukan melalui PENGAMATAN, dgn mempertimbangkan dan diarahkan pada:
a. Kinerja / Langkah-langkah kerja suatu kompetensi. b. Kelengkapan dan ketepatan aspek kinerja.
c. Kemampuan-kemampuan khusus yg diperlukan utk menyelesaikan tugas. d. Jumlah kemampuan yg dinilai tdk terlalu banyak shg semua dapat diamati.
e. Penilaian dilakukan thd aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara terpadu dan proposional. f. Kemampuan yg dinilai diurutkan berdasarkan langkah kerjanya.
g. Proses penilaian dilakukan dengan menggunakan lembar (format) penilaian.
U. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia.
Penilaian dilakukan melalui:
1. Pengamatan thd perubahan perilaku dan sikap utk menilai perkembangan afeksi peserta didik; 2. Pemberian ulangan (ujian) dan/atau penugasan utk meng-ukur aspek kognitif peserta didik. 3. Indikator yg dpt dipakai utk menilai perkembangan afeksi a.l.:
a. Taat melaksanakan ibadah;
b. Rajin mengikuti pengajian/ kegiatan keagamaan;
c. Jujur dlm perkataan dan perbuatan;
d. Patuh terhadap peraturan;
e. Hormat kepada O.T. dan guru Dan kriteria lainnya.
V. Penilaian hasil belajar kelompok mata pel. Kewarganegaraan dan Kepribadian
1. Dilakukan melalui pengamatan thd. Perubahan prilaku dan sikap utk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik;
2. Melalui ulangan(ujian) dan/atau penugasan utk mengukur aspek kognitif peserta didik. 3. Indikator yg dpt dipakai utk melakukan penilaian afeksi dan kepribadian a.l.:
a. Menunjukkan kecintaan thd bangsa dan negara,
b. Menunjukkan kemauan belajar yg tinggi,
c. Mematuhi aturan sosial,
d. Pandai bergaul dan bermasyarakat,
e. Pandai bekerjasama,
f. Rajin mengikuti kegiatan upacara bendera dan indikator lainnya
W. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan: Penilaian dilakukan melalui:
1. Pengamatan, dan/atau praktik utk menilai perkembangan psikomotorik dan afeksi peserta didik;
2. Ulangan (ujian), dan/atau penugasan dgn materi berdasarkan kurikulum yg digunakan utk mengukur aspek kognitif ttg OR dan kesehatan.
3. Pengamatan utk menilai aspek afeksi dan psikomotorik dpt menggunakan indikator:
a. keterampilan dalam gerak Olahraga.
b. kerjasama dalam tim olahraga,
c. kebiasaan hidup sehat, tidak merokok.
d. hidup semangat, tidak malas,
e. Dan indikator lainnya.18[18]
X. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran Estetika