• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna ikon, indeks dan simbol dalam scene-scene pada episode

D. Sinopsis Serial Kartun Nussa dan Rara

2. Makna ikon, indeks dan simbol dalam scene-scene pada episode

a. Belajar Ikhlas Scene dua:

Tabel 5.1

Makna Ikon, Indeks dan Simbol pada Scene Dua Epiosode Belajar Ikhlas

Makna Ikon, Indeks dan meja belajar, buku PR yang sedang dikerjakan oleh

75Mazayasyah, Mendulang Hikmah dalam Setiap Keadaan dan Waktu (Darul Hikmah, 2016) h. 248

82

Indeks: kaki palsu adalah tanda ketidaksempurnaan fisik Nussa sebagai

tunadaksa (kelainan tubuh).

Kelainan indera penglihatan (tuna netra), kelainan pendengaran (tunarungu), kelainan bicara (tunawicara), dan tuna ganda termasuk dalam kategori penyandang disabilitas secara fisik.

Simbol: dari ikon dan tanda verbal yang ada terkandung pesan simbolik dari kaki palsu Nussa tersebut bahwa Nussa bisa ikhlas dan menerima dengan kondisi dan takdir yang Allah berikan yang terjadi pada kaki kirinya tanpa pernah protes kepada Allah.

b. Nussa Bisa Scene dua:

Tabel 5.2

Makna Ikon, Indeks dan Simbol Pada Scene Dua Episode Nussa Bisa

Makna Ikon, Indeks dan Simbol

Scene/Adegan

Ikon: berupa gambar Nussa yang berdiri dan Anta duduk di kasur Nussa diatas selimut yang bermotif bintang. Pada kamar Nussa terlihat tas yang sudah berisi barang-barang perlengkapan untuk

mengikuti kompetisi bola serta terlihat pada dinding kamar Nussa gambar planet, bintang dan lainnya yang berkaitan dengan luar angkasa. Pada gambar tersebut Nussa menanyakan soal Umma kepada Anta dengan raut wajah yang kebingungan.

Indeks: tas adalah barang mati yang dapat membawa barang-barang yang kita perlukan sesuai dengan ukuran tasnya karena besar tas Nussa maka kapasitas barang yang dibawa semakin banyak. Penuh

84

dengan perlengakapan Nussa untuk mengikuti kompetisi sepak bola. Diibaratkan tas dengan perlengkapan Nussa itu Umma karena Umma selalu berusaha menjaga Nussa sejak kecil dengan selalu mengawasi Nussa bermain kapanpun. Namun karena Nussa ingin pergi ikut kompetisi sepak bola dan Umma tidak bisa dekat menjaga Nussa, maka dari itu Umma mengingatkan dan menyiapkan semua

perlengkapan untuk dibawa oleh Nussa seperti tas dalam gambar tersebut.

Simbol: Dari ikon dan verbal yang ada terkandung pesan simbolik dari adegan tersebut bahwa tas tersebut

menandakan Umma sangat khawatir dengan Nussa karena mengikuti kompetisi sepak bola dengan kondisi

fisik Nussa dan Nussa sangat bingung dengan sikap Umma yang sangat khawatir

kepadanya.

Scene tiga:

Tabel 5.3

Makna Ikon, Indeks dan Simbol Pada Scene Tiga Episode Nussa Bisa

Makna Ikon, Indeks dan Simbol

Scene/Adegan

Ikon: pada gambar tersebut terlihat Umma yang

menarik tangan kanan Nussa dengan raut wajah yang cemas dan Nussa yang ingin pergi untuk mengikuti kompetisi sepak bola dengan wajah yang senang. Terlihat di gambar tersebut terdapat lukisan yang menggantung di dinding, meja yang diatasnya terdapat bunga, kipas angin, dan pintu

86

kamar yang tertutup.

Indeks: Umma yang menarik tangan Nussa seperti tidak boleh pergi karena Umma sangat merasa cemas dengan kondisi fisik Nussa takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Simbol: dalam ikon dan tanda verbal yang ada terkandung pesan simbolik dari adegan tersebut bahwa kekurangan fisik tidak bisa mengahalangi mimpi seseorang.

Scene empat:

Tabel 5.4

Makna Ikon, Indeks dan Simbol Pada Scene Empat Episode Nuss Bisa

Makna Ikon, Indeks dan Simbol

Scene/Adegan

Ikon: pada gambar tersebut terlihat Umma yang sedang menangis dipelukan abba karena melihat kondisi fisik Nussa yang memiliki satu kaki sejak kecil.

Indeks: Umma sangat merasa sedih dan menangis melihat kodisi Nussa yang berusaha ditenangkan oleh abba.

Simbol: dari ikon dan pesan non verbal yang ada terkandung pesan simbolik pada gambar tersebut bahwa Umma sangat sedih dan terpuruk saat

melahirkan Nussa.

88

Scene lima:

Tabel 5.5

Makna Ikon, Indeks dan Simbol Pada Scene Lima Episode Nussa Bisa

Makna Ikon, Indeks dan Simbol

Scene/Adegan

Ikon: pada gambar tersebut terlihat Nussa yang sedang tertidur lelap dan dijagai oleh Umma.

Indeks: saat Umma menidurkan Nussa tak sengaja Nussa

membalikkan badan dan terlihat kaki kirinya yang tidak ada Simbol: dari ikon dan tanda verbal yang ada terkandung pesan simbolik bahwa Nussa adalah penyandang disabilitas dan Umma tidak bisa menahan air mata karena melihat kaki kiri Nussa.

Scene tujuh:

Tabel 5.6

Makna Ikon, Indeks dan Simbol Pada Scene Tujuh Episode Nussa Bisa

Makna Ikon, Indeks dan Simbol

Scene/Adegan

Ikon: pada gambar tersebut terlihat Nussa yang sedang belajar berjalan di kamarnya karena baru dipakaikan kaki palsu pada kirinya dengan raut wajah yang sangat senang dan Umma yang mendampingin dengan raut wajah cemas.

Indeks: Nussa sangat senang dan semangat belajar berjalan.

Simbol: dari ikon dan tanda verbal yang ada terkandung pesan simbolik bahwa orang yang memiliki keterbatasan pun dapat melakukan kegiatan seperti manusia normal lainnya

90

Scene delapan:

Tabel 5.7

Makna Ikon, Indeks dan Simbol Pada Scene Delapan Episode Nussa Bisa

Makna Ikon, Indeks dan Simbol

Scene/Adegan

Ikon: pada gambar tersebut terlihat Nussa sangat senang yang sedang bermain sepak bola di dalam rumahnya. Pada gambar tersebut juga terdapat kipas angin dan mainan Nussa di dalam kardus.

Indeks: Nussa hobbi sekali bermain sepak bola sejak kecil.

Simbol: dari ikon dan tanda non verbal yang ada terkandung pesan simbolik bahwa seorang penyandang disabilitas juga dapat melakukan apapun yang ia inginkan.

Scene sembilan:

Tabel 5.8

Makna Ikon, Indeks dan Simbol Pada Scene Sembilan Epiosode Nussa Bisa

Makna Ikon, Indeks dan Simbol

Scene/Adegan

Ikon: pada gambar tersebut terlihat Umma yang

memegang formulir

pendaftaran tim sepak bola punya Nussa dan Umma melihat kepada kaki kiri Nussa.

Indeks: Umma tidak mengizinkan Nussa karena tidak setuju melihat kondisi kaki kiri Nussa.

Simbol: dari ikon dan tanda non verbal yang ada

terkandung pesan simbolik bahwa kekurangan fisik dapat membuat seseorang ragu dan khawatir.

92

Scene sepuluh:

Tabel 5.9

Makna Ikon, Indeks dan Simbol Pada Scene Sepuluh Episode Nussa Bisa

Makna Ikon, Indeks dan Simbol

Scene/Adegan

Ikon: pada gambar tersebut terlihat Nussa bermain sepak bola di halaman belakang rumahnya dengan Anta.

Indeks: sepak bola ada salah satu olahraga yang mengunakan bola yang ditendang

menggunakan kaki.

Simbol: dari ikon dan tanda verbal yang ada bahwa dengan keterbatasan fisik tidak

menghalangi kegigihan

seseorang atau membuat putus asa dalam menggapai mimpi.

Scene dua belas:

Tabel 5.10

Makna Ikon, Indeks dan Simbol Pada Scene Dua Belas Episode Nussa Bisa

Makna Ikon, Indeks dan Simbol

Scene/Adegan

Ikon: pada gambar tersebut terlihat Rara, Anta dan Umma dengan raut wajah yang cemas karena melihat Nussa yang terjatuh sampai kaki palsunya lepas dan Nussa pun

memasangkannya kembali.

Indeks: Umma, Rara dan Anta melihat kaki palsu Nussa lepas karena terjatuh

Simbol: dari ikon dan tanda verbal yang ada terkandung bahwa Nussa tidak apa-apa karena terjatuh sampai kaki palsunya lepas. Setelah itu ia melanjutkan latihan sepak bola karena memiliki sikap yang pantang menyerah.

94

Scene tiga belas:

Tabel 5.11

Makna Ikon, Indeks dan Simbol Pada Scene Tiga Belas Episode Nussa Bisa

Makna Ikon, Indeks dan Simbol

Scene/Adegan

Ikon: pada gambar tersebut terlihat raut wajah Nussa yang sedang berusaha

membangunkan Umma dan memindahkan ke tempat tidur.

Karena Umma terjatuh di kamarnya.

Indeks: ekspresi Nussa mewakili bahwa Nussa anak yang pantang menyerah walapun dengan keterbatasn fisik yang ia punya.

Simbol: pada ikon dan tanda non verbal yang ada terkadung pesan simbolik bahwa orang yang memiliki keterbatasan fisik juga dapat membuktikan bahwa ia bisa membantu orang seperti manusia normal lainnya.

Scene empat belas:

Tabel 5.12

Makna Ikon, Indeks dan Simbol Pada Scene Empat Belas Episode Nussa Bisa

Makna Ikon, Indeks dan Simbol

Scene/Adegan

Ikon: pada gambar tersebut terlihat Umma yang memberi dukungan kepada Nussa yang ingin ikut kompetisi sepak bola di sekolahnya. Pada gambar tersebut juga terlihat payung di dalam tempatnya, meja yang di atasnya terdapat bunga berwarna merah, dan terdapat lukisan yang menggantung di dinding.

Indeks: dukungan yang Umma berikan pada Nussa berarti bahwa Umma telah setuju dan percaya bahwa Nussa bisa

Simbol: dari ikon dan pesan verbal yang ada terkandung pesan simbolik bawa

penyandang disabilitas pun dapat menggapai impiannya. Jika

96

Allah berkehendak, dengan usaha dan doa yang tidak

mungkin akan menjadi mungkin.

97

Kesimpulan, Implikasi, Saran A. Kesimpulan

a. Berdasarkan pembahasan dan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka menarik kesimpulan bahwa representasi penyandang disabilitas karakter Nussa dalam Serial Kartun Nussa dan Rara mengarah kepada representasi yang positif. Tokoh Nussa digambarkan sebagai penyandang disabilitas tunadaksa (kelainan tubuh) karena memakai kaki palsu pada kaki kirinya sejak kecil, tak hanya itu Nussa direpresentasikan sebagai kaka yang baik untuk adiknya, seorang pemimpin untuk keluarganya, patut dijadikan panutan, pandai ilmu agama, dan dapat diandalkan, representasi tersebut berbanding terbalik dengan representasi penyandang disabilitas dalam media dan film pada umumnya cenderung mengarah pada stereotip negatif.

b. Berbagai tanda yang terdapat pada Serial Kartun Nussa dan Rara mulai dari ikon, indeks, dan simbol baik secara verbal maupun non verbal merupakan rangkaian tanda yang bermakna bahwa seorang penyandang disabilitas dapat melakukan kegiatan sehari-hari seperti manusia normal yang berhak memiliki sebuah mimpi dan ketidak sempurnaan tidak menjadi penghalang seseorang untuk dapat

98

mewujudkannya. Pada Serial Kartun Nussa dan Rara tiga macam tanda yaitu ikon, indeks dan simbol sebagai berikut:

a. Ikon pada serial kartun ini adalah visualisasi (non verbal) pada setiap adegan atau scenenya, terutama setiap adegan yang ada tokoh Nussa, Rara dan Umma.

b. Percakapan yang dilakukan Nussa, Rara dan Umma, serta keberadaan Nussa, Rara dan Umma yang selalu terlihat pada setiap scene atau adegan menjadi indeks bahwa mereka saling menyayangi, peduli dan mendukung satu sama lain. Dialog-dialog dan scenenya memunculkan simbolisasi tertentu.

c. Karakter Nussa dengan kaki kiri palsunya menjadi simbol tidak ada yang tidak mungkin bagi seseorang penyandang disabilitas sekalipun jika ia berusaha dan pantang menyerah niscaya semua impian akan terwujud.

B. Implikasi

Serial Kartun Nussa dan Rara mengandung makna nilai human interest karena serial ini diangkat dari cerita kehidupan sehari-hari seorang adik kakak yang dimana kakanya adalah Nussa sebagai penyandang disabilitas tunadaksa (kelainan pada tubuh). Dibalik Serial kartun ini, penonton dapat memperoleh berbagai pesan positif representasi makna nilai-nilai dakwah islam di dalamnya

baik secara eksplisit maupun secara implisit/tersirat.

Sebagai pembelajaran tentang belajar ikhlas, selalu bersyukur dengan apa yang diberikan Allah, pantang menyerah, tak mudah putus asa, dan memiliki semangat yang kuat karena kekurangan secara fisik atau apapun tidak menghalangi mimpi seseorang selagi gigih dan berdoa pasti akan tercapai. berdasarkan hasil penelitian ini, penulis menilai bahwa Serial Kartun Nussa dan Rara dapat menjadi sebuah tuntunan bagi penonton terutama bagi anak-anak dan penyandang disabilitas di luar sana yang mengudukasi bahwasannya penyandang disabilitas juga sama seperti manusia lainnya dan memotivasi penyandang disabilitas agar tetap semangat dalam menjalankan hidup serta meraih keinginannya.

Penelitian ini menggunakan Semiotika Sanders Pierce.

Maka pendekatan ini menggunakan unsur ikon, indeks dan simbol.Sehingga penelitian ini sangat rentan dengan subyektifitas penulis. Sebagai upaya meminimalisir keterbatasan penulis dalam menganalisa, maka penulis menggunakan wawancara narasumber kepada pihak yamg ingin diteliti agar obyektifitas.

C. Saran

Berikut ini adalah beberapa masukan yang harus diperhatikan mengenai representasi penyandang disabilitas pada Serial Kartun Nussa dan Rara sebagai berikut:

100

a. Diharapkan Serial Kartun Nussa dan Rara dapat mempertahankan memberikan nilai-nilai positif kepada penontonnya dan serial kartun karya anak bangsa ini menjadi tolak ukur agar serial kartun lainnya bukan hanya menghibur tapi juga mengedukasi penontonnya serta menggunakan bahasa isyarat dalam tayangannya agar penyandang tunarungu dapat memahaminya.

b. Skripsi ini masih terdapat banyak kesalahan. Maka dari iti penulis menghimbau kepada mahasiswa yang berminat meneliti sebuah film dan memakai teori semiotik hendaknya lebih memahami dua konsep tersebut sehingga dalam menganalisa data dapat menghasilkan data yang akurat.

c. Kepada penonton diharapkan menjadikan serial kartun ini bukan hanya sekedar tontonan tapi juga tuntunan sebagai rujukan untuk menyamakan dan tidak memandang sebelah mata serta memperlakukan penyandang disabilitas dengan baik.

d. Untuk para penikmat serial kartun, dapat memilah serial kartun yang patut untuk ditonton. Karena saat ini banyak serial kartun yang bertema beragam dan tidak memberikan nilai positif. Cobalah untuk melestarikan menonton karya anak bangsa karena banyak yang bagus dan dapat mengambil hal positif dari film tersebut. Salah satunya adalah Serial Kartun Nussa dan Rara.

e. Tokoh Nussa dalam serial kartun ini dapat menjadi motivasi penyandang disabilitas yang kuat dan pantang menyerah dalam menjalankan hidup.

102

DAFTAR PUSTAKA

Amrullah, Abdul Malik bin Abdul Karim. 1983. “Tafsir Al-Azhar juzu‟ xvii. Surabaya: Pustaka Islam.

Arbi, Armawati. 2019. Komunikasi Intrapribadi. Jakarta:

Kencana.

Bambang Q-Anees, Elvaniaro Ardianto. 2009. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Birowo, M. Antonius. 2004. Metode Penelitian Komunikasi:

Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Gitanyali. cet.1.

Bungin, Burhan. 2009.Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial. Jakarta:

Prenada Media Group.

Danesi, Marcel. 2010. Pengantar Memahami Semiotika Media.

Yogyakarta: Jalasutra.

Danesi, Marcel. 2012. Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi.

Yogyakarta: Jalasutra.

Departemen Agama RI. 1994. Al-Qur’an dan Terjemahannya:

Juz 1-30. Jakarta: PT. Kumudasmoro Grafindo Semarang.

Effendi, Onong Uchjana. 2000. Ilmu Teori dan Filsafah Komunikasi. Bandung: CitraAditya Bhakti.

Eriyanto. 2001.Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media.

Yogyakarta: Lkis

Fiske, John. 2014. Cultural and Communication Studies Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.

Gunawan, Imam. 2013. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara.

Gede K, Karuniasih Wahyu. 2017. Tinjauan Fenomologi Atas Stigmatisasi Penyandang Disabilitas Tunarungu. Bali:

Universitas Udayana. Vol. 1 No. 1.

Geof Mercer, Colin Barnes. 2006. Disabilitas. Jakarta: IAIN Indonesia Social Equity Project.

Hall, Stuart. 1997. Culture, the Media and the Ideological Effect.

London: Mass Communication & Society.

Hall, Stuart. 1997. Representation: Culutural Representation and Sygnifying Practices. London: Mass Communication &

Society.

Hoed, Benny H. 2014. Semiotik Dinamika dan Sosial Budaya.

Depok: Komunitas Bambu.

Irawanto, Budi. 2017. Film, Ideologi dan Militer. Yogyakarta:

Media Pressindo.

J Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

104

McQuail, Dennis. 2003. Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.

Mazayasyah. 2016. Mendulang Hikmah dalam Setiap Keadaan dan Waktu. Darul Hikmah.

Mulyana, Deddy. 2004. Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu sosial lainnya. Bandung:

PT. Remaja Rodaskarya.

Niyu. 2017. Representasi Disabilitas dalam Iklan We’re The Superhumans. Tangerang: Universitas Pelita Harapan.

Vol. 4 No. 1

Nurudin. 2011. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Pengelompokan penyandang cacat pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dibagi menjadi penyandang cacat mental, penyandang cacat fisik dan penyandang cacat mental dan fisik, Pasal 1 ayat (1).

Reefani, Nur Kholis. 2013. Panduan Anak Berkebutuhan Khusus.

Yogyakarta: Imperium.

Santosa, Puji. 1931. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Bandung: Angkasa.

Sobur, Alex. 2012. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sobur, Alex. 2009. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Undang-undang Republik Indonesia. Nomor 8 Tahun 2016.

tentang Penyandang Disabilitas

Vera, Nawiroh. 2015. Semiotika dalam Riset Komunikasi. Bogor:

Ghalia Indonesia.cet. Ke-2.

Wibowo, Indira Seto Wahyu. 2013. Semiotika Komunikasi – Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi.

Jakarta: Mitra Wacana Media.

Yusuf, A. Muri. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan penelitian gabungan. Jakarta: Kencana.

Skripsi

Lionda, M. Risha Glamora. 2019. Analisis Semiotika Representasi Citra Islam Dalam Film Dokumenter Salam Neighbor.

Subari, Nurrahmatul Amaliyah. 2019. Disabilitas Dalam Konsep Al-Qur’an.

http://digilib.unila.ac.id/59088/10/3.%20SKRIPSI%20FULL%20 TANPA%20BAB%20PEMBAHASAN.pdf

Internet

106

Cinta Quran TV diakses pada 06 April 2020 Hijab Alila diakses pada 26 April 2020

https://radarmalang.id/5-fakta-tentang-nussa-seri-animasi-karya-anak-bangsa/ diakses pada 06 April 2020

https://www.liputan6.com/showbiz/read/4085453/kisah-inspiratif-animasi-nussa-di-indosiar-setiap-pagi https://www.boombastis.com/animasi-nussa-dan-rara/191498 TV Alfatih diakses pada 06 April 2020

https://www.muslimahdaily.com/entertainment/film/item/2009 mengintip-dapur-%E2%80%9Cnussa-dan

rara%E2%80%9D,-film-animasi-anak-muslim-yang tengah-naik-daun.html diakses pada 06 April 2020

https://islam.nu.or.id/post/read/83401/pandangan-islam-terhadap-penyandang-disabilitas diakses pada 06 April 2020

LAMPIRAN-LAMPIRAN

108

TRANKIP WAWANCARA PENELITIAN

Nama Narasumber: Yuni Lestari Jabatan: Sekretaris The Little Giantz

Lokasi Wawancara: The Little Giantz Animation Studio

(Jl. MPR X, No.12, RT.1/RW.11, Cilandak Barat, Kota Jakarta Selatan)

Hari/Tanggal Wawancara: Kamis, 06 Agustus 2020 Waktu Wawancara: 14:00-14:30 WIB

1. Apa alasan yang melatarbelakangi pembuatan Serial Kartun Nussa dan Rara?

Jadi kalau secara keseluruhan atau globalnya itu memang kan The Little Giantz sendiri berdiri dari tahun 2016, 2016 itu The Little Giantz ngerjain projek-projek animasinya tapi dari client namanya kita sebut services jadi kalau ditanya TLG itu apa adalah studio 3D animation yang memang saat sebelum buat Nussa kita ngerjainnya services gitu, cuman setelah berjalannya beberapa projek, kan projeknya juga dari luar negeri kaya lego Star Wars, Rabbit itu kan kita ada kontribusinya.

Nah cuman ko dilihat kita kontribusinya buat luar negeri terus dan buat bangsa ini tuh apa? Kaya gitu, dan akhirnya

kita coba pikir yu kita buat karya buat masyarakat lokal.

Jadi kita buat memang untuk lokal. Nah, terus poinnya yang kedua adalah ada kecemasan sih setelah kita riset, kita lihat, ada kecemasan bahwasannya ko kayanya hiburan untuk anak-anak ini makin minim, untuk koten yang positifnya belum banyak. Sementara arus informasi, arus teknologi itu kan berkembang cepat, new media aja nambah terus. Nah, tapi perkembangan teknologi dan informasinya tidak sejalan lurus dengan konten-konten positif gitu. Apalagi untuk anak-anak kan kita tau ya, dari kecil ketika mereka nonton apa, itu yang mereka serap dan itu yang mereka lihat kan tertanam ke otak dan itu bisa berpengaruh ke sikap mereka. Jadi kita lihat karena ada kecemasan juga bahwasannya konten positifnya minim, terus memang juga kan tim kita kebanyakan udah punya anak ya, nah jadi kecemasan pribadi juga nih orang tua gimana sih caranya biar kita ngasih tontonan anak-anak tapi ga perlu kita kaya ditungguin banget. Karena kan sekartun-kartunnya kartun pasti ada sesuatu yang ini mereka kaya gini karena ini loh, tetap harus dibimbing.

Makanya kita buat Nussa Rara karena itu.

2. Tema apa yang ingin disampaikan dalam Serial Kartun Nussa dan Rara?

Oke, kalau temanya sebenarnya simple si, kita mau ada cerita keseharian adik dan kaka. Makanya kalau kalian tonton kan bahasanya sehari-hari banget, terus ceritanya juga cerita yang sering kejadian di rumah. Nah,

110

jadi temanya itu keseharian adik dan kakak aja, tapi kalau secara garis besarnya kita mau ngasih sesuatu konten itu bukan hanya menghibur tapi juga mendidik gitu. Maka dari itu kenapa Nussa disebut edutement series. Jadi bukan hanya nentertaiment tapi juga mengedukasi.

3. Mengapa Nussa digambarkan sebagai penyandang disabilitas?

Sebelumnya Nussa itu digambarkan sempurna.

Waktu pertama kali digambar itu sempurna. Pernah ada kakinya dua, tangan dan normal pada umumnya. Nah, terus kata tim gimana nih gambarnya. Kebetulan yang menggambar pak Adit sendiri. Wah keren dan segala macem pujian dari tim. Lucu, gemes dan segala macem, terus akhirnya pak Adit tiba-tiba kok kayanya pujiannya ada sesuatu yang kurang ya gitu, kok ngerasa kaya pujian doang gitu yang kita kasih ke orang itu apa? Akhirnya secara mendadak pak Adit hapus kakinya. Terus nanya gimana kalu kakinya dihapus kaya gini? Sempet kaget kan tim, kok dihapus si udah bagus, udah lucu tinggal dinaikin. Ternyata kita juga melihat ada temen-temen dan ada juga kelompok yang engga sempurna juga. Bukan cuman masalah kaki, mungkin ada organ badan lainnya dan terus keterbatasan itu bukan cuman ketika orang lain kehilangan anggota tubuhnya. Namun juga ada keterbatasan ekonomi dan keterbatasan segala macam.

Nah si Nussa ini menggambarkan ada sesuatu yang kurang, namun bukan itu yang haru kita lihat. Bukan

hanya kekurangannya, tapi usahanya dan kesempatannya.

Jadi kenapa digambarkan Nussa disabilitas karena kita ingin merangkul semua dan kita ingin teman-teman semua

Jadi kenapa digambarkan Nussa disabilitas karena kita ingin merangkul semua dan kita ingin teman-teman semua

Dokumen terkait