• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTEPRETASI DATA

4.3. Hasil Interpretasi Data

4.3.1. Makna Perkawinan Pada Masyarakat Batak Toba

Perkawinan pada hakikatnya merupakan bentuk kerjasama kehidupan antara pria dan wanita di dalam suatu masyarakat yang di bawah suatu peraturan khusus yang diperhatikan baik oleh agama, negara maupun adat. Artinya bahwa dari peraturan tersebut betujuan untuk mengumumkan status baru kepada orang lain sehingga suatu pasangan dapat diterima dan diakui statusnya sebagai

pasangan yang sah menurut hukum, baik agama, Negara dan adat. Menurut pandangan orang Batak Toba, kebudayaannya memiliki sistem nilai budaya yang amat penting,yang menjadi tujuan dan pandangan hidup mereka secara turun-temurun yakni kekayaan (hamoraon) , banyak keturunan (hagabeon), dan kehormatan (hasangapon). Yang dimaksud kekayaan ialah harta milik berujud materi maupun non-materi yang diperoleh melalui usaha atau melalui warisan. Keturunan juga termasuk ke dalam kategori kekayaan. Banyak keturunan ialah mempunyai banyak anak, cucu, cicit dan keturunan-keturunannya termasuk pemilikan tanaman serta ternak. Kehormatan merupakan pengakuan dan penghormatan orang lain atas wibawa dan martabat seseorang. Batak Toba adalah salah satu sub suku Batak yang memiliki kebudayaan yang unik dan khas di antara suku batak yang lain. Sistem kepemimpinan sosial, yakni harajoan mih mereka jaga hingga sekarang. Realitas ini menunjukkan bahwa kebudayaan batak toba masih di jadikan panduan hidup masyarakatnya. Dalam konteks untuk tetap menjaga kearifan lokal, kebudayaan Batak Toba penting untuk dikaji dan di dokumentasikan. Tanda kebesaran kebudayaan orang Batak Toba paling penting adalah pernah diberlakukannya berbagai hukum adat. Berdasarkan hukum adat kehidupan sosial orang Batak Toba diatur dalam sebuah bingkai kebudayaan tradisi. Dengan begitu, kebudayaan Batak Toba akan terus ada dan tidak punah di telan zaman. Beberapa hukum adat ini, hingga kini masih berlaku,akan tetapi beberapa sudah tidak di berlakukan dengan baik dikarenakan ketidaksiapan pemiliknya (orang Batak Toba) maupun akibat campur tangan penguasa. Hukum adat yang berlaku di masyarakat Batak Toba antara lain hukum adat perkawinan, yakni yang berkaitan dengan ketentuan perkawinan, pertunangan,

maskawin, hingga perceraian. Hukum adat warisan, hukum adat pemilikan tanah, hukum adat utang-piutang, hukum adat pelanggaran dan hukum dalam menyelesaikan perselisihan di masyarakat.

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara hukum agama, hukum negara, dan hukum adat. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi anatar bangsa, suku satu dan yang lain pada satu bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula. Pernikahan juga suatu hal yang sakral dan penting dalam kehidupan dua insan yang bertukar ikrar, termasuk keluarga mereka yang akan menyatu melalui kedua mempelai. Saat memutuskan untuk mengarungi kehidupan pernikahan, umumnya, kedua orangtua mempelai akan menyematkan harap untuk kedua mempelai. Setiap suku memiliki adat dan kebiasaan masing-masing. Tak terkecuali dalam adat Batak. Dalam pernikahan adat Batak, ada banyak tata aturan dan simbol. Dalam simbol-simbol tersebut, tersemat harap dan doa dari keluarga, kerabat, dan handai taulan.

Berikut ini pernyataan informan mengenai pandangan masyarakat tentang perkawinan sebagaimana dikemukakan oleh :

Informan L.T (Pr, 51 Tahun)

“Perkawinan dapat menyatukan laki-laki dan perempuan dalam ikatan resmi sebagai suami dan istri, perkawinan juga dapat meneruskan keturunan, serta juga dapat memberikan status sosial dalam masyarakat.” Menurut Informan S.S (Pr, 34 Tahun)

Perkawinan juga sebagai penerus keturunan, selain itu juga sebagai tanda bahwa kita sudah bias mempertanggungjawabkan sendiri didepan masyarakat secara sosial.”

Menurut Informan E.S (Pr, 24 Tahun)

“Perkawinan itu cara kita mengikat hubungan yang resmi sebagai suami istri. Perkawinan juga untuk meneruskan garis keturunan kita.”

Perkawinan adalah masalah yang pokok dalam kehidupan manusia , karena dengan perbuatan itu mempunyai pengaruh yang besar terhadap roda penghidupannya. Demikian juga halnya pada masyarakat Batak Toba, masalah perkawinan adalah masalah yang berpengaruh besar didalam hidupnya dan malah kadang-kadang merupakan fase yang menentukan didalam perjalanan hidup seseorang. Perkawinan atau pernikahan didefinisikan sebagai kegiatan seksual antara dua orang yang mendapat pengakuan dan persetujuan masyarakat (Giddens, ibid., dan Persell, 1987: 296) melalui lembaga resmi pernikahan, semacam Kantor Urusan Agama untuk Indonesia. Melalui pernikahan, suami istri akan membentuk sanak keluarga (kinship) yang lebih luas. Dengan pernikahan, terbentuklah institusi keluarga yang memiliki sejarah panjang mengenai fungsi tradisional yang ia jalankan. Dalam suku Batak Toba yang menganut sistem patrilinial yang lebih mengutamakan kedudukan anak laki-laki , apabila seorang isteri telah melahirkan anak laki-laki maka posisinya sudah kuat didalam keluarga, akan tetapi jika hanya ada anak perempuan maka keluarga itu dianggap punah karena tidak ada anak laki-laki yang meneruskan marga ayahnya.

Berikut adalah pendapat dari informan lain mengenai perkawinan, seperti : Informan N.M (Pr, 45 Tahun)

“Kata orang batak, menikah itu harus.. supaya ada keturunan yang melanjutkan di masa depan.”

Informan yang lainnya yaitu S.T (Pr,40 Tahun) mengatakan “Supaya ada status di masyarakat yang sah menjadi suami istri, supaya ada keturunan atau anak.”

Masyarakat Batak Toba memiliki sistem sosial budaya yang khas dan hanya terdapat dimasyarakat Batak saja yaitu yang disebut dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu meupakan ikatan kekerabatan adat istiadat pada suku Batak . Dalihan Na Tolu disebut juga Tungku Nan Tiga yang artinya adalah merupakan ungkapan yang menyatatakan kesatuan hubungan kekeluargaan pada suku Batak.

Dalihan Na Tolu terdiri dari :

1. Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak). Sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula).

2. Dongan Tubu/Kahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya kadang-kadang saling gesek. Namun pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun demikian kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu.

3. Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai

'parhobas' atau pelayan baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun burfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru. Hula-hula. Hula-hula ini memaksudkan keluarga dari istri (pemberi isteri), yakni orang tua kandung dari isteri dan juga semua orang Batak Toba yang memiliki marga yang sama dengan nama marga dari istri. Hal ini dimaksudkan dengan tetap mengingat bahwa suku Batak Toba adalah penganut konsep patrilineal. Sehingga, Hula-hula yang dimaksud adalah setiap orang (tentunya adalah laki-laki) yang memiliki marga yang sama dengan marga dari istri, yakni orang tua, kakak atau adik laki-laki dari istri serta semua orang Batak Toba yang memiliki marga yang sama dengan nama marga dari istri. Mereka itulah yang dimaksud dengan Hula-hula. Dalam hal ini juga, anak laki-laki dari suatu keluarga juga ikut ber-Hula-hula-kan setiap orang yang memiliki nama marga yang sama dengan nama marga dari ibu mereka. Hula-hula ini memiliki posisi dan fungsi yang paling tinggi dalam sistem kekerabatan orang Batak Toba. Hula-hula disebut juga sebagai Raja dan memiliki posisi yang sangat tinggi karena mereka “diyakini” sebagai manifestasi, pancaran (emanasi) dari Debata Mulajadi Nabolon. Oleh karena itu, Hula-hula itu harus dihormati, dihargai, dijunjung tinggi dan bahkan “disembah”. Sikap terhadap Hula-hula ini dirangkum dalam ungkapan “somba marhula-hula.” Ungkapan somba marhula-hula memaksudkan sikap sujud, tunduk, dan loyal terhadap Hula-hula. Sikap-sikap ini secara pasti ditujukan dan dilakukan oleh pihak Boru kepada pihak Hula-hula. Sikap sujud semacam ini merupakan semacam imbalan dari perlakuan sayang yang senantiasa

diberikan oleh pihak Hula-hula kepada Boru nya. Orang Batak Toba menyakini bahwa Hula-hula itu merupakan “pipa”/sarana penyalur berkat dan bahkan disebut sebagai “Tuhan yang kelihatan”. Dari dan melalui mereka (Hula-hula), berkat akan mengalir atau tersalurkan. Akan tetapi, sekalipun mereka (Hula-hula) dikatakan sebagai yang memiliki posisi dan fungsi yang paling tinggi dalam sistem kekerabatan budaya orang Batak Toba, bukan berarti bahwa orang lain itu lebih rendah dalam arti harkat dan martabatnya. Sebab pada saat yang sama, orang lain itu juga memiliki dan mengemban posisi sebagai Hula-hula dalam lingkup keluarganya dengan orang lain. Sehingga, setiap orang itu adalah hula-hula di dalam konteks dan lingkup keluarganya masing-masing.

Dongan Tubu. Dongan Tubu merupakan kerabat langsung dari setiap orang Batak Toba yang berasal dari ayah yang sama dan atau yang memiliki marga yang sama sekali pun tidak berasal dari ayah yang sama. Dongan Tubu merupakan kelompok yang terdiri atas orang-rang yang memiliki satu marga yang sama. Dapat dikatakan, mereka ini adalah kumpulan abang-adik atau adik-kakak. Sistem kekerabatan ini secara normatif dihayati sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam umpasa khas Batak Toba, yakni : “manat mardongan tubu” (berhati-hati dalam bersaudara). Dalam proses interaksi satu sama lain, mereka dituntut untuk selalu “berhati-hati”. Berhati-hati bukan berarti seseorang itu harus ditakuti. Melainkan lebih menekankan suatu sikap seia-sekata, seperasaan, sepenanggungan, sehina-semalu dan saling menghargai satu sama lain. Pada prinsipnya mereka itu adalah sederajat atau sama dalam hal posisi dan fungsi di dalam adat dan kehidupan bersama. Di dalam sistem kekerabatan, posisi Dongan Tubu ini tidak mau menunjukkan suatu degradasi yang lebih tinggi ataupun yang

lebih rendah. Yang membedakannya adalah apakah dia sebagai kakak atau adik berdasarkan urutan keturunan dari leluhur (marga pertama).

Boru. Secara harafiah, Boru adalah anak perempuan. Dalam konteks ini, Boru tidak diartikan semata-mata hanya sebagai penunjuk jenis kelamin, tetapi ingin menunjukkan pihak yang mempersisteri anak perempuan (putri) dari setiap keluarga orang Batak Toba. Dengan kata lain, pihak yang memperisteri anak perempuan keluarga lain (orang Batak Toba) adalah disebut Boru. Secara sederhana, Boru itu adalah setiap orang yang memperisteri saudari perempuan kita atau saudari perempuan dari pihak ayah. Pada umumnya, Boru adalah kelompok orang-orang yang posisinya "di bawah". Artinya, pihak Boru selalu tampil sebagai pelayan atau orang yang selalu sibuk dan siap sedia mempersiapkan segala sesuatu dalam setiap acara atau kegiatan adat maupun dalam pertemuan-pertemuan formal lainnya. Khususnya, jika perhelatan atau pesta (adat) itu adalah perhelatan atau pesta dari pihak hula-hula. Pihak Boru harus memiliki penghormatan yang tinggi terhadap pihak Hula-hula. Orang Batak Toba menyakini bahwa sikap hormat dari pihak Boru kepada Hula-hula akan membuahkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Sebab Hula-hula adalah “pipa penyalur” berkat atau bahkan dapat disebut sebagai emanasi dari Debata Mulajadi Nabolon. Posisi “di bawah” tidak menunjuk pada suatu garis komando atau menunjuk pada posisi yang bersifat sub-ordinatif, tetapi lebih ingin menunjuk pada suatu sikap yang mengingatkan setiap orang harus menjadi pelayan bagi sesamanya. Oleh karena itu, pihak boru harus diperhatikan dan disayang sekalipun memiliki posisi di bawah. Sebab, setiap orang Batak Toba pasti memiliki dan mengemban posisi tersebut. Sikap yang semestinya diperbuat kepada pihak Boru

adalah loyal dan berbelas kasih. Mereka itu harus disayang dan diperhatikan. Sikap ini termuat dalam ungkapan Elek Marboru. Elek Marboru artinya memiliki sikap lemah lembut, penuh kasih dan perhatian terhadap keluarga dari anak perempuan atau saudari perempuan kita (Boru). Elek marboru juga diartikan sebagai sikap penuh kasih sayang yang tidak disertai maksud tersembunyi (vested interest) dan pamrih.

Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual. Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raja ni Dongan Tubu dan Raja ni Boru.